LAGI LAGI ULAH AEDES AEGYPTI

Sudah 12 propinsi di Indonesia terserang Demam Berdarah Dengue (DBD). Mulai April 1998 pemerintah mencanangkan kampanye pemberantasan sarang nyamuk Aedes aegypti. Jumlah penderitanya mencapai sekitar 3.993 orang, berarti hampir 40 per 100.000 penduduk DKI. Sampai tulisan ini diturunkan, tercatat 43 warga Jakarta meninggal jadi korban. Tak hanya anak-anak yang terkena, tapi juga orang dewasa. Gejala DBD memang sering rancu dengan demam flu, campak, atau tifus. Namun kalau cepat ditangani, pasti segera dapat diatasi.

Jatuhnya korban yang satu ini agak ironis. Seorang murid SD di kawasan Jakarta Barat, Ari, (bukan nama sebenarnya) meninggal dunia karena penyakit demam berdarah dengue (DBD). Padahal ayahnya seorang dokter. Rupanya jiwa Ari tidak tertolong gara-gara terlambat di bawa ke rumah sakit. Sang ayah sama sekali tidak mencurigai bahwa demam tinggi naik turun selama beberapa hari yang dialami putrinya adalah gejala dini DBD. Dikiranya demam flu lima hari dan selama itu hanya diberikan obat penurun panas serta antibiotik penyerang infeksi. Soalnya, bercak-bercak merah tidak terlihat. Tahu-tahu pada hari ke enam, dari hidungnya keluar darah disertai muntah darah. Keadaannya sudah parah saat dilarikan ke rumah sakit. Jiwanya tak tertolong lagi!

"Gejala DBD memang sulit diduga," komentar seorang dokter hematolog. Bisa saja hasil pemeriksaan darah dari laboratorium yang dilakukan pagi hari belum menunjukkan adanya gejala serius. Namun ketika sore hari diperiksa lagi baru tampak gejalanya. Jadi, kita harus cermat mengamati naik turunnya demam serta gejala yang lain; demam tinggi naik turun selama 2 - 7 hari, pusing, sedikit sakit pada persendian, lesu, dan nafsu makan berkurang.


Kemudian saat suhu badan naik lagi, timbul bercak-bercak merah (perdarahan) di bawah permukaan kulit (petechiae), kalau ditekan tidak mau hilang. Itulah ciri-ciri khas awal penyakit DBD.

Selama bercak-bercak merah belum tampak, kebanyakan kita masih rancu dengan penyakit seperti demam flu lima hari, tifus, campak atau bahkan Hepatitis A. Oleh karena itu tindakan yang paling aman adalah membawa si penderita ke dokter atau rumah sakit, bila demamnya naik turun dan tidak kunjung reda setelah 2 - 3 hari.

Bercak-bercak perdarahan di bawah kulit tadi disebabkan adanya kelainan pada dinding pembuluh kapiler serta menurunnya sel darah pembeku (trombosit). Ini semua merupakan indikasi awal terjadinya kebocoran dinding pembuluh darah. Namun, lewat pemeriksaan laboratorium untuk mengukur jumlah trombosit (bisa lebih dari sekali karena sering hasilnya tidak jelas) penyakit ini segera dapat diketahui.

Cara lain yang lebih sederhana bisa dilakukan dengan uji Tourniquet atau Rumpelleode yakni mengikat kencang tali elastik atau alat pengukur tekanan darah (dipertahankan pada pertengahan tekanan diatolik dan sistolik) pada lengan atas selama lima menit, akan terlihat bercak-bercak merah di bawah kulit. Bila keadaan sudah agak parah, penderita akan mengeluh sakit ulu hati, gelisah, mimisan, berkeringat, nafsu makan hilang, dingin pada kaki dan tangan. Tubuh penderita akan semakin melemah kalau ia tidak mau makan atau muntah berulang kali.

Pada stadium lanjut timbul bercak-bercak perdarahan berupa memar (ecchymosis) atau perdarahan yang nyata dari hidung, gusi, muntah darah, buang air besar berwarna kehitaman. Pada taraf ini dikhawatirkan penderita akan mengalami renjatan (dengue shock syndrome) atau nadi melemah dan tekanan darah tak terukur. Dalam kondisi seperti ini kalau si penderita tidak segera ditolong akibatnya bisa fatal.

Perdarahan hebat terjadi karena mekanismenya semakin rumit, meliputi terganggunya fungsi trombosit dalam sistem pembekuan darah dan berkurangnya zat pembeku darah dalam plasma. Virus lalu merusak limpa dan hati termasuk butir-butir darah merah dan darah putih yang mengalir ke organ tersebut. Turunnya jumlah darah merah menyebabkan darah mengental sehingga pasokan oksigen serta nutrisi makanan yang diperlukan tubuh terhambat. Sementara itu turunnya butir darah putih otomatis menyebabkan turunnya daya tahan tubuh. Keadaan ini menyebabkan renjatan.

Bergeser dari anak ke semua usia
Dikenal dengan sebutan Dengue Hemorrhagic Fever(DHF), penyakit ini pertama kali ditemukan di Indonesia tahun 1968 menyusul meledaknya penyakit ini di Surabaya. Saat itu terdapat 58 kasus dengan 24 anak meninggal. Tahun 1988 mengganas menjadi 45.791 kasus dengan angka kematian 1.432 orang. Di DKI tahun 1988 terdapat 10.647 penderita, tapi tahun 1993 jumlah penderita bisa ditekan sampai 2.268 orang. Tahun lalu meningkat lagi menjadi 5.189 penderita. Menurut Dinas Kesehatan DKI Jakarta (Kompas, 17 April 1998), pertengahan Maret sampai 16 April penderita mencapai 3.993 orang di DKI dan dari angka ini, 43 orang meninggal. Tahun 1994 DBD telah menyebar ke 27 propinsi.

Sejak tahun 1968 rata-rata angka penderita di Indonesia terus meningkat dari 0,05 (1968) menjadi 8,14 (1973). Puncaknya tahun 1988 mencapai 27,09 per 100.000 penduduk dengan jumlah penderita sebanyak 47.573 orang (meninggal 1.527 jiwa). Menurun dari tahun 1990 s.d 1993, kasus DBD naik lagi sejak tahun 1994. Jumlah penderita tahun 1996 nyaris menyamai tahun 1988 yakni 45.548 kasus.

Dilihat dari merebaknya kasus DBD tahun ini ada fenomena menarik, yakni terjadi pergeseran usia penderita. Kalau dulu lebih banyak ditemui pada anak usia pra-sekolah s.d SD, kini golongan usia lain tidak kalah banyak. Mewabah setiap 5 - 6 tahun sekali, Indonesia merupakan negara kedua di Asia Tenggara setelah Thailand dalam jumlah penderitanya.

Timbulnya penyakit di Surabaya tadi merupakan rangkaian penyebaran demam berdarah di wilayah Asia Tenggara yang dimulai tahun 1954 di Manila, Filipina. Kemudian tahun 1958 menyebar ke Vietnam Utara dan Thailand. Tahun 1963 pernah melanda India. Berikutnya, tahun 1971 meluas ke Pasifik Barat seperti Melanesia, Polinesia, Papua Nugini, Kaledonia Baru, Society Island, Gilbert dan Elicew, Fiji dan New Island. Tahun 1972 - 1973 mewabah di Thailand.

Demam dengue yang sudah dikenal sejak abad XVIII terutama di daerah tropis dan subtropis, semula tidak dianggap penyakit berbahaya. Biasanya hanya disebut demam lima hari (panas van der Scheer) atau Knokkel Koorts yang tidak dianggap serius. Baru pada tahun 1954 ketika menelan korban jiwa sejumlah anak di Filipina, penyakit ini menarik perhatian dunia. Rupanya virus yang sama telah berubah sifat (mutasi) menjadi lebih ganas sehingga penanganannya harus lebih serius.

Nyamuk antijorok
Dalam dunia kedokteran dikenal empat macam serotipe virus DBD ini, yakni den -1, den -2, den -3, dan den -4. Yang dapat diisolasi di Indonesia adalah tipe den -2 dan den -3. Sementara di Thailand terbanyak den -2. Den -3 konon lebih ganas dibandingkan dengan den -2.

Nyamuk Aedes aegypti, biang keladi DBD, ditemukan pertama kali oleh seorang ahli Mesir. Itulah sebabnya julukan awal yang disandangnya adalah nyamuk mesir. Tetapi peneliti lain, Dyar pada tahun 1912 dan Christophers pada tahun 1960 mengatakan, nyamuk ini berasal dari Afrika Timur. Kemudian menyebar ke arah timur dan barat ke kawasan tropis dan sub tropis. Namun pada tahun 1970, muncul pendapat lain. Faust Russel dan Yung menemukan fakta bahwa species nyamuk tersebut banyak terdapat di Madagaskar, Irian, Australia Utara, Filipina, dan Hawaii.

Badannya yang berwarna hitam berbintik-bintik putih, lebih kecil dibandingkan dengan nyamuk biasa. Uniknya, yang menggigit manusia hanya nyamuk betinanya saja. Sementara kaum jantan hanya tertarik pada cairan mengandung gula seperti pada bunga atau tumbuh-tumbuhan.

Aedes aegypti biasanya mengggigit pada siang hari saja, khususnya di tempat yang agak gelap. Malam harinya ia lebih suka bersembunyi di sela-sela pakaian yang tergantung atau gorden, terutama di ruang gelap atau lembap. Bagi mereka darah manusia berfungsi untuk mematangkan telur agar dapat dibuahi pada saat perkawinan. Mereka mempunyai kebiasaan menggigit berulang kali. Jadi, sekali menyerbu bisa beberapa orang sekaligus terkena. Nyamuk ini memang tidak suka tempat jorok. Tidak suka air kotor seperti air got atau lumpur kotor, misalnya. Bertelur serta pembiakkannya di atas permukaan air pada dinding yang bersifat vertikal dan terlindung pengaruh matahari langsung.

Tempat-tempat rawan nyamuk ini misalnya, tempayan tandon air yang terbuka, bak mandi, genangan air hujan pada lubang jalanan atau selokan bersih, pot tanaman atau bunga yang diisi air bersih, kaleng bekas yang dipenuhi air hujan, dll.

Aedes aegypti betina hidup rata-rata hanya 10 hari, masa yang cukup untuk pertumbuhan virus dalam tubuhnya yang bersifat infeksius itu. Ia bertelur tiga hari setelah mengisap darah di tempat yang paling disenangi yaitu genangan air bersih dan 24 jam kemudian mengisap darah kembali serta bertelur kembali. Telur yang jumlahnya bisa ratusan bahkan ribuan ini berupa bintik-bintik lembut kehitaman. Biasanya melekat persis di permukaan air yang vertikal (sisi tegak) dinding. Dalam 6 - 8 hari telur berubah menjadi nyamuk. Karena daya terbangnya dalam radius 100 - 200 m saja, ia selalu mencari mangsa yang dekat (dalam rumah atau sekitar rumah). Meski demikian ada pula pendapat yang menyatakan, usia nyamuk bisa sekitar satu bulan, terutama jika berada dalam kondisi udara optimun (24 - 28oC dan kelembapan 60 - 80%).

Sedangkan masa inkubasi (mulai digigit sampai timbul gejala) penyakit ini berlangsung selama dua minggu. Darah penderita sudah mengandung virus, 1 - 2 hari sebelum terserang demam. Virus tersebut berada dalam darah selama 5 - 8 hari. Pada saat itu penderita menjadi sumber penularan. Bila penderita digigit nyamuk, maka virus akan masuk ke dalam lambung nyamuk. Virus ini memperbanyak diri dalam tubuh nyamuk dan tersebar ke seluruh jaringan tubuh nyamuk termasuk dalam kelenjar air liurnya. Bila nyamuk yang tercemar virus ini menggigit orang sehat, ia akan mengeluarkan air liurnya agar darah tidak beku. Bersama air liur

ini ikut ditularkan virus ke dalam pembuluh kapiler.

Selepas masa inkubasi baru timbul manifestasi klinis dan penderita mulai sakit. Menurut Dirjen Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Pemukiman (P2M dan PLP), Depkes, dr. Hadi Marjanto Abednego SKM, virus dengue tergolong self limiting virus (Kompas, 21 April 1998) yang akan mati sendiri setelah tujuh hari. Sedangkan menurut pakar lain, Prof. Sumarmo, begitu gejala klinis demam berdarah mulai muncul, sebenarnya sudah tidak ditemukan lagi virus di dalam tubuh penderita.

Penyakit yang bisa digolongkan penyakit darah ini cenderung meningkat selama musim hujan. Mungkin karena faktor banyak genangan air bersih, populasi nyamuk serta frekuensi gigitan nyamuk meningkat. Seringkali penyakit DBD dikatakan sebagai penyakit wabah kota karena penderitanya banyak ditemukan di kawasan perkotaan yang berpenduduk padat dibandingkan wilayah pedesaan.

Tidak heran kalau jumlah tertinggi penderita DBD kebanyakan anak-anak usia sekolah karena menurut penelitian selama ini tempat tinggal larva terbanyak adalah gedung sekolah serta rumah hunian, apalagi yang kurang diterangi matahari dan tidak dibersihkan secara teratur. Pada pagi hari antara pukul 09.00 - 15.00 anak-anak banyak berada di sekolah atau di dalam rumah (puncak aktif nyamuk pukul 09.00 - 10.00 dan 16.00 - 17.00). Namun tidak terkecuali tempat-tempat umum seperti pasar, rumah sakit, rumah sakit bersalin, gedung perkantoran, dsb.

Pertolongan pertama
Walaupun penderita tidak mempunyai nafsu makan, hendaknya diberikan banyak minum, entah air, air sirup, atau teh agar tubuhnya tidak kekurangan cairan. Sementara itu untuk membantu daya tahan tubuh terhadap demam, kepala dikompres. Di rumah sakit pertolongan pertama adalah memberikan infus berupa larutan berisi elektrolit dan atau plasma ekspander (untuk mempertahankan air dalam pembuluh darah). Diberikan pula obat mencegah pembekuan darah intravaskuler serta obat untuk mengatasi kebocoran dinding pembuluh darah.

Bila terjadi perdarahan hebat mau tak mau harus menjalani transfusi darah (hanya sel pembeku darah atau trombosit). Namun, sebelum transfusi dilakukan jangan lupa menanyakan kepada pihak rumah sakit apakah trombosit sudah dites kebersihannya (bebas dari virus atau kuman). Sebab belakangan beberapa penderita mengeluh, setelah sembuh malah terkena penyakit Hepatitis B atau C gara-gara trombosit yang tercemar.

Sayang vaksin atau obat yang cespleng untuk membasmi penyakit ini belum ada. Jadi, penanganan selama ini hanya mengarah pada penambahan trombosit dan pencegahan kebocoran dinding pembuluh darah. Dengan bantuan WHO pernah diusahakan pembuatan vaksin DBD di Thailand, namun belum bisa diandalkan keberhasilannya. Salah satu kendalanya, menurut dr. Agus Syarurachman, Ph.D., ahli mikrorobiologi FKUI, karena tidak ada binatang model yang bisa digunakan untuk melihat sejauh mana daya proteksi serta efek vaksin tersebut. Pada simpanse, misalnya, hanya menimbulkan demam saja, tidak sampai renjatan. Kendala lain, tak adanya kekebalan silang virus den -1 - den -4. Bahkan infeksi virus berulang bisa fatal. Vaksin yang diberikan hanya bisa menangkal ke empat virus tersebut sekaligus.

Memang, orang yang sudah pernah terkena DBD bukan tidak mungkin tidak akan terkena lagi, kata seorang dokter. Tapi biasanya akan terserang virus dengue jenis serotipe lain. Misalnya seseorang pernah terkena infeksi virus den -1 dengan gejala ringan sehingga tidak perlu dirawat di rumah sakit, tubuhnya akan mengeluarkan zat antibodi untuk mengatasi virus tersebut. Bisa saja penderita yang sama pada suatu waktu terserang DBD virus serotipe den -2 (reaksi imunologis) atau den -3 (infeksi sekunder). Nah, karena timbulnya reaksi antibodi den -1 dengan virus den -2 atau den -3, akibatnya serangan malah bisa lebih berat.

Anehnya lagi, menurut penelitian, mereka yang bergizi baik justru banyak yang menderita DBD lebih parah. Semakin kuat reaksi imunologis serta daya tahan tubuhnya akan semakin besar kemungkinan renjatan terjadi.

Basmi nyamuk dan larvanya
Para dokter lebih menekankan pembasmian nyamuk DBD pada pembasmian larva dibandingkan pembasmian nyamuk betina dewasa. Untuk membasmi nyamuk bisa digunakan pengasapan atau penyemprotan dengan insektisida Malathion 4% dicampur solar pada wilayah radius 100 - 200 m di sekitarnya. Namun, cara pengasapan ini dianggap kurang efektif karena hanya membunuh nyamuk dewasa. Itu pun pengaruhnya tak akan lebih dari tiga hari. Apalagi kalau hanya di halaman saja, tidak disemprot sampai ke dalam rumah. Pengasapan yang paling efektif sebenarnya dilakukan pagi hari saat angin belum banyak bertiup. Sementara pengasapan yang dilakukan secara berulang-ulang dinilai bisa mengganggu keseimbangan ekologi. Apalagi kalau nyamuk menjadi kebal!

Sebab itu Menteri Kesehatan F.A. Moeloek telah mencanangkan kampanye pemberantasan sarang nyamuk (PSM) yang dinilai lebih efektif, dimulai pertengahan April 1998. PSM ini dilakukan serentak sekaligus himbauan 3 M( menutup, mengubur, menguras) tempat-tempat yang memungkinkan perkembangan nyamuk.

Telur, larva, dan jentik paling efektif dibasmi dengan abate 1% dicampur pasir putih (99%) yang ditaburkan ke dalam penampungan air dengan takaran 1 g untuk 10 l air atau 10 g abete untuk 100 l air. Keampuhan abete bisa efektif sampai dua bulan dalam bak yang tidak dikuras. Ulangi setiap 2 - 3 bulan. Barang-barang seperti kaleng bekas, pot tanaman bekas, yang bisa menampung air hujan, dikuburkan. Lalu menimbun lubang pagar dengan tanah atau adukan semen serta selalu menutup tempayan atau drum tempat penampungan air. Bak mandi harus dikuras secara periodik. Hati-hati pula tempat penampungan air di bawah almari es!

Untuk mencegah gigitan, upayakan antara lain dengan memasang kawat nyamuk halus pada pintu, lubang jendela, dan ventilasi. Hindari penggantungan pakaian di kamar mandi atau tempat yang gelap. Namun yang terpenting, selalu menjaga kebersihan lingkungan Anda dan segeralah ke rumah sakit begitu Anda curiga mendapat penyakit yang kini mewabah ini! (Nanny Selamihardja)