PENGAKUAN DI SELEMBAR KERTAS

David Lewis, si pembunuh Pasangan Charles dan Annie Goldmark beserta dua anaknya merupakan cerminan sebuah keluarga bahagia. Charles (41), adalah pria cerdas, bijaksana, dan sukses sebagai pengacara. Sementara Annie (43), istrinya yang asal Perancis, cantik dan menarik. Kesuksesan mereka bukan hanya dalam ukuran materi, melain juga kehidupan rumah tangga. Kedua anaknya menyenangkan dan cerdas. Derek (12) amat berbakat dalam permainan bridge, sedangkan Colin (10) aktif di paduan suara sekolah. Charles sudah lama berkarier di Partai Demokrat. Sebagai penasihat hukum di Washington D.C ia pernah memainkan peranan penting saat kampanye calon presiden Gary Hart.

Kesuksesan Charles agaknya tak jauh dari apa yang sudah dirintis orang tuanya. Ayahnya, John Goldmark dikenal sebagai politikus ulung. Reputasinya membuat John Goldmark sering jadi sasaran kritik lawan politiknya lewat publisitas murahan. Kariernya berakhir tragis menyusul kampanye kotor yang dilancarkan kubu lawan politiknya.

Tahun 1956, setelah mengabdi partai Demokrat puluhan tahun dengan pos terakhir di kawasan peternakan Colville Indian Reservation, negara bagian Washington, John Goldmark terpilih untuk dijagokan sebagai senator. Tapi digagalkan pada pertengahan tahun '60 an sesudah kampanye yang kotor dan penuh intrik. Seseorang dari partai oposisi menebar isu bahwa Sally Ringe, istri Goldmark tidak bersih "lingkungan". Sally dituduh terlibat kegiatan komunis. Masa itu komunis sangat ditakuti. Semua orang yang berbau komunis selalu dipojokkan, ruang geraknya dibatasi, kariernya dihancurkan dengan cara yang amat tidak adil.

Sally, ibu Charles yang energik, sensitif, dan jenius sejak kecil memang suka membantu orang dan selalu memihak kaum lemah. Ia pernah bekerja di National Youth Administration di Washington, tahun 1930-an. Masa itu era pemerintahan Franklin D. Roosevelt mencanangkan program kesejahteraan. Saat itu ia membuat jaringan dengan beberapa lembaga sosial masyarakat untuk membantu memulihkan perekonomian.

Memang, Sally Ringe pernah tercatat sebagai anggota partai komunis tapi hanya ikut-ikutan. Itu pun sudah lama ketika bersama teman-teman sebayanya ia membantu masyarakat. Namun lantaran kecewa atas kinerja kelompok ia lantas keluar. Rupanya namanya yang sempat tercatat di daftar kelompok terlarang itu, dipakai sebagai kartu truf para lawan politik untuk menjatuhkan suaminya. Isu tersebut akhirnya bukan hanya mencoreng muka Goldmark sebagai kandidat senator tetapi sekaligus meruntuhkan nama baik keluarga. Keluarga itu semakin menderita.

Goldmark akhirnya menuntut fitnah itu. Meski kemudian di pengadilan mereka menang, karier politik John Goldmark telanjur kandas. Akhirnya tahun 1965 mereka pindah dari Colville ke Seattle, dimana John Goldmark berpraktek sebagai pengacara.

John Goldmark meninggal tahun 1979. Sally masih hidup sampai 6 tahun kemudian. Ia meninggalkan surat-surat yang penuh kenangan menceriterakan kehidupannya yang menyenangkan bersama keluarga di peternakan itu. Entah, apanya yang salah kalau ternyata kebencian pada John dan Sally itu "terwariskan" pada anaknya, berpuluh-puluh tahun kemudian.

Natal kelabu

Belum genap setahun sepeninggal Sally, sebuah tragedi dahyat menimpa keluarga Charles Goldmark pada malam tanggal 24 Desember 1985. Warga Seattle dan segenap kenalan Charles amat terguncang.

Kasus itu dicatat dengan no. 85-551331 di kepolisian Seattle dan no. H85-365 di bagian unit pembunuhan. Sersan Sanford menugaskan Hank Gruber ke Tempat Kejadian Perkara (TKP) untuk mengusut tindak kriminal tersebut.

Rumah Charles Goldmark berada di distrik Madrona no. 36, Seattle. Suatu kawasan elite dengan pemandangan indah danau Washington terbentang di depan perumahan. Ketika tiba Gruber melihat sudah ada unit patroli polisi. Kerlip cahaya lampu pohon natal terlihat dari jendela depan.

Dane Bean, petugas patroli pertama yang sampai di lokasi, mengaku menerima laporan dari tetangga Charles. Di dalam, mereka menemukan sesuatu yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Keluarga ini dibantai oleh penjahat barbar. Para korban bergeletakan berlumuran darah, bahkan seorang meninggal dunia.

Namun ada banyak hal yang terlihat janggal, tidak seperti ajang pembunuhan. Ruang makan dan dapur, begitu lantai atas, semua terlihat rapi. Sersan Rudy Sutlovich yang datang belakangan segera mengikutinya.

Kamar utama yang berukuran cukup besar sedikit berantakan. Ada lipatan-lipatan kertas, pita, lem, kotak, dan bahan-bahan lain yang belum sempat dibenahi. Permadani mahal itu ternoda percikan darah, sebagian sudah mulai kering. Nampak seorang anak tergeletak. Disampingnya, Anie Goldmark terbaring, tangannya diborgol di belakang. Tali melilit sampai di bagian punggung. Tak ada tanda-tanda perkosaan. Terdapat luka cukup dalam di bagian dada. Bekas pukulan mematikan nampak di bagian kepala. Sebuah gelang emas masih melingkar di tangan Annie dan cincin berlian di jarinya.

Pembunuh rupanya memakai senjata seadanya. Seterika uap dengan pegangan plastik rusak berat, helaian rambut dan darah mengering di bagian logam. Sebuah pisau kecil panjang tergeletak di dekatnya. Empatbelas paramedis, dan anggota pemadam kebakaran bergegas menuju ke rumah Charles. Para medis setengah putus asa menyelamatkan para korban. Mereka berpacu dengan waktu untuk menghentikan pendarahan dari luka yang mengerikan.

Rudy Sutlovich terpana menyaksikan anak-anak Charles yang terbaring dengan cairan otak keluar dari kepalanya. Kemungkinan besar mereka mengalami kerusakan otak berat. Ketika para detektif ke kamar mandi, bak masih basah, lantainya lebih basah lagi. Baju pesta wanita - berada di dipan. Kemungkinan Annie baru saja menggunakan shower dan bersiap mengenakan baju pesta ketika pembunuh masuk dan melukainya.

Menjelang pukul 10:45 Sutlovich, Gruber, dan Sanford bergabung dalam penyelidikan itu bersama detektif Sonny, Davis, Duane Homan, dan Jim Yoshida. Regu penyelidik ini terus mengumpulkan bukti baik di tempat kejadian atau di rumah sakit sampai jam 7 pagi di hari natal. Cuma mereka belum bisa mengorek keterangan dari para korban yang masih dalam kondisi kritis.

Para detektif percaya penyerang masuk dengan leluasa. Ketika mengamati situasi rumah polisi menemukan jalan yang mungkin dipakai keluar pembunuh. Pintu belakang di lantai bawah terbuka. Kuncinya hilang. Mungkin penyerangan dilakukan beberapa saat sebelum para tetangga datang.

Dr. Michael Copass kepala bagian medis melaporkan, Charles tidak hanya dipukul secara berulang-ulang di bagian kepala, tetapi juga dilukai dengan pisau dan mengenai otak. Sementara anaknya pun ditikam di bagian kepala. Mereka semua dalam kondisi sangat kritis.

Dari TKP Charles Sutlovich dan Gruber mengambil apa saja yang ada di kamar yang kemungkinan bisa membantu penyelidikan. Salah satunya saputangan - yang berlumuran darah.

Motif penyerangan masih samar. Tak ada tanda perampokan. Komputer, televisi, senjata antik, lukisan, berlian, dan peralatan elektronik tak disentuh. Satu-satunya yang diambil adalah dompet Charles. Barang itu berada di lantai kamar tidur dengan isi yang sudah berserakan. Siapapun akan terpukul oleh penyerangan yang membabi buta itu. Apalagi korban adalah orang yang terpandang.

Pengakuan para tetangga

Kepala polisi Patrick Fitzsimmonspun berada di ruang tamu RS. Harborview tempat para korban dirawat. Di situ telah berkumpul teman-teman korban. Mereka yakin, rasa-rasanya korban tidak punya musuh. Juga tak pernah ada tekanan, ancaman, ataupun dendam atas kasus hukum yang ditangani Charles.

Salah seorang di antaranya, Janet Lilly sempat mengobrol beberapa kali dengan Annie selama beberapa waktu pada 24 Desember, jam 18.00. Allie Chambers yang sempat membantu Annie mengatur meja bersama sore itu bercerita, "Saya pulang jam lima kurang seperempat untuk berganti pakaian. Waktu itu Charles mengenakan baju merah dan celana jeans. Sementara Annie memakai jeans, sweater merah, dan shal biru. Dia akan berganti dengan baju pesta setelah mandi."

Satu jam lima belas menit sesudah Alie Chambers pulang dia kembali lagi ke rumah Goldmark bersama keluarganya. Dia terkejut lantaran lampu beranda mati. Mereka mengetuk pintu, tetapi tak ada sahutan.

"Saya kira mereka bergurau, lalu kami duduk-duduk di luar. menunggu. Kami akhirnya pulang dan meninggalkan pesan." Sampai di rumah, Allie menelepon Goldmark tetapi tak pernah bisa. Chambers pun kembali ke rumah Goldmark dua puluh menit kemudian. Ia mendengar suara samar-samar lewat lubang intip yang ada di pintu dan memanggil suaminya, Leif dan tetangganya Ben Walkers yang mempunyai kunci duplikat rumah Goldmark.

Dengan kunci itu mereka membuka pintu. Lalu menuju sumber suara yang berasal dari lantai atas di kamar utama. Dengan sangat terkejut mereka menemukan keluarga itu di lantai. Leif mendengar suara Charles memanggil-manggil "Leif ... Leif ... saya terluka ... saya terluka" rintihnya dengan suara gemetar.

Telepon di rumah itu mati. Chambers dan Walker berusaha menutup luka yang ada di tubuh Charles. Mereka juga melihat anaknya tertutup bantal.

Atas permintaan Homan dan Yoshida, Allie Chambers diminta mengingat-ingat sesuatu yang terjadi beberapa jam sebelum pesta. Mereka melihat sebuah pickup truk Datsun hijau tahun 1975 berpenumpang 2 orang yang beberapa kali ke rumah Charles.

Serentetan pertanyaan juga diajukan pada tetangga Charles no.36. Dia membukakan pintu untuk seorang asing malam itu. Pria itu membawa kotak putih, dan mencerca dengan kata-kata, "Charles ..." Wanita itu mengatakan ia tidak mengenal pria itu. Cuma ia ingat, orang itu bertubuh pendek, berambut gelap, dengan mata yang marah. Sebetulnya pengirim paket gampang dilacak. Namun menjadi agak rumit karena banyak orang menerima paket di hari Natal. Para penyelidik menemukan sejumlah paket dengan bungkus putih yang tak jelas dari mana asalnya.

Perayaan Natal di rumah Charles urung sudah. Yang tinggal cuma kesedihan mendalam para tetangga yang menaruh karangan bunga di pintu depan rumah. Semilir angin menambah aroma kesedihan. Polisi memasang pita kuning. Tak seorangpun diijinkan masuk.

Kabar dari RS tidaklah menggembirakan. Charles, Derek, dan Colin dalam keadaan kritis. Hanya keajaiban yang bisa menyelamatkan jiwanya. Otaknya mengalami trauma yang berat.

Para detektif sejauh ini belum bisa mengungkapkan motif dan dalang pembunuhnya. Polisi telah mengambil sidik jari, tetapi itu belum cukup kecuali mereka bisa membandingkan dengan sistem identifikasi otomatis sidik jari. Lantaran pembunuh menggunakan sarung tangan, teka-teki pembunuhan semakin sukar dipecahkan.

Ditemukan tulisan cakar ayam

Sementara itu di distrik Seattle Broadway beberapa kilometer sebelah barat TKP, sesuatu sedang terjadi. Max Stingley penghuni apartemen di Broadway District yang dikenal baik hati, sore-sore kedatangan tamu tak dikenal. Seorang pria setengah baya mengaku bernama David mengetuk pintu. Sang tamu memperkenalkan diri sebagai salah seorang anggota Fox, sebuah LSM yang dikenal beraliran bebas. Mereka sering berdiskusi untuk memperjuangkan kemurnian konstitusi AS. Max tak kuasa menolak David yang ingin menumpang. David nampak pucat dengan noda hitam dibawah matanya. Karena lelah, Stingley menyuruh David untuk segera tidur.

Ketika bangun pagi Stingley terkejut menemukan selembar kertas dengan tulisan cakar ayam yang tidak dimengerti artinya, di kamar tidur David. Tak urung tulisan itu membuat bulu kuduknya meregang.

"Saya adalah orang yang dicari dalam kasus Goldmark. Saya sadar, apa yang telah saya lakukan adalah tindakan yang mengerikan. Itulah sebabnya kini Anda mencari saya.

Saya tegaskan, perbuatan ini tidak melibatkan orang lain. Mereka yang dekat dengan saya pun tidak tidak tahu bahwa saya dicari polisi atas berbagai tuduhan. Ia menerima pesan di mesin penjawab, tetapi saya telah menghapusnya sebelum ia tahu.

Saya tidak menggunakan senjata yang saya beli beberapa minggu lalu. Saya telah membuang senjata itu. Saya mengelabui mereka dengan pistol mainan yang dapat Anda temukan di loker.

Saya harap jangan membawa-bawa orang-orang tak berdosa dalam kasus ini. Apa yang saya lakukan sudah cukup. Mungkin saja saya akan mengatakan, mengapa saya lakukan hal ini. Sehingga Anda tak usah bertanya pada orang lain. Hidup saya kacau sejak ditinggal istri. Sue berusaha menguatkan diri saya, tetapi ..."

Max Stingley belum mendengar kasus pembunuhan Goldmark. Karena selama dua hari ini ia tak sempat baca surat kabar atau melihat berita di TV. Setelah membaca tulisan aneh tersebut, ia kemudian mengamati David yang masih terkantuk-kantuk. Yang dia tahu David memang agak aneh.

David bangun dan segera duduk di depan TV ketika Stingley ke luar membeli rokok. Berita pembantaian keluarga Goldmark dibacanya dari halaman depan koran Post-Intelligencer yang dibelinya dari kios rokok. Seketika perut Stingley mual. Tulisan yang ia temukan di atas meja bukanlah rekaan. Ia tersadar, semalam tidur dengan pembunuh Goldmark. Lewat nomer emergency 911, Max segera mengontak kepolisian setempat. Saat itu pukul 7.00. tanggal 26 Desember.

"Saya segera ke sana," seru Sersan Sutlovich yang menerima teleponnya. Polisi yang penasaran ini langsung meluncur ke bukit Broadway bersama Sonny Davis. "Kau yakin orang itu pembunuhnya?" tanya Sutlovich pada Davis. Yang ditanya hanya mengangkat bahu. Rupanya David Rice sudah mencium tanda bahaya. Ia tahu kalau sedang dikejar polisi. Sebelum petugas masuk ke apartemen, ia kabur ke arah utara menuju Avenue 11. Dalam waktu yang tidak terlalu lama para petugas bisa meringkusnya dan segera membawanya ke kantor polisi. Rudy Sutlovich dan Sonny Davispun segera datang.

Untuk pertamakali Sutlovich melihat orang yang bernama David Lewis Rice.

"Mengapa kamu lari?" tanya Sutlovich.

"Saya tak bisa menjawabnya."

David Rice (27), masih muda, berambut hitam, berkumis, dan bercambang. Dia sebetulnya tampan, meskipun kulitnya pucat, tetapi ada sesuatu yang aneh. Gerakan dan gaya bicaranya kaku, seperti orang yang menderita gangguan psikologis. Sesampainya di kantor polisi Rice menolak didampingi pengacara dalam proses penyidikan. Justru ia sendiri yang akan menceritakan semuanya kepada polisi.

Obsesi antikomunis

Di depan tim penyidik Rice mengakui bahwa kertas selembar dengan tulisan cakar ayam yang ditemukan di apartemen Max Stingley adalah miliknya. Pengakuan selanjutnya direkam dalam pita kaset.

Rice lahir pada 11 November 1958 dan besar di Arizona. Dia mempunyai dua kakak laki-laki dan satu perempuan yang tak pernah cocok. Kakaknya suka mengolok-olok dan mentertawakannya karena ia paling lemah. Ada beberapa kasus psikologis yang pernah dialaminya sewaktu muda. Antara lain ketika berumur sebelas tahun, sang kakak pernah menemukan Rice tergantung di tali tak sadarkan diri di kamarnya. Badannya sudah membiru. Mereka memotong tali itu dan membawanya ke dokter dan selamat.

Untunglah ia kemudian menikah dan mempunyai anak. Rice rupanya tidak bisa bekerja dengan orang lain dan merasa dunia semakin tak berpihak padanya. Pada awal tahun 1980 Rice pindah ke Seattle karena merasa dekat dengan kakaknya yang tinggal di Washington. Kendati saudaranya sering mengejek, tetapi ia masih peduli pada Rice. Selama beberapa waktu ia bekerja sebagai tukang las di perusahaan baja, bahkan sempat punya toko. Tetapi kemudian bisnisnya bangkrut, sementara di tempat kerja ia diwajibkan melunasi hutangnya.

Pelan-pelan semua ketidakadilan itu memicu kebencian dalam diri Rice. Rupanya dalam kondisi emosional itu ia terpengaruh oleh buku dan bacaan yang dibacanya. Tanpa sadar ia menjadi sangat antikomunis. Menurut pemahamannya komunislah yang menyebabkan nasibnya menjadi begitu. Kemampuannya sebagai tukang las tak lagi berarti. Ia gelisah dan lebih suka menganggur. Selama delapanbelas bulan dia cuma berkeliling di Seattle, hidupnya penuh dengan rasa fitnah dan balas dendam. Dia sangat marah pada bekas bossnya yang dianggap telah menyengsarakannya.

Tanpa sengaja, di jalanan pada awal tahun 1985, Rice berjumpa dengan Dr. Suzanne Perreau, seorang ahli tulang. Pengelola lembaga swadaya masyarakat ini mengajak David untuk ikut serta dalam kegiatan kelompoknya. Agaknya dia sangat bersemangat dengan diskusi-diskusi yang diselenggarakan oleh klub itu.

Rice pun mulai akrab dengan senapan, bahan-bahan peledak, aktivitas ketentaraan, dan usaha-usaha melawan komunisme.

Pada saat menganggur itu, Rice membaca artikel yang membahas soal perubahan peta politik dunia. Dia menyimpulkan artikel-artikel itu menunjuk pada sosok politisi Charles Goldmark sebagai pemimpin komunis. Rice agaknya kurang paham sejarah. Karena sebetulnya yang bersangkut paut dengan partai komunis adalah Sally Goldmark, ibu Charles. Itupun puluhan tahun sebelum ia lahir.

"Anda tahu siapa Goldmark? tanya Sonny Davis di ruang pemeriksaan bagian pembunuhan.

"Ya, lewat sejarah," jawab Rice ragu.

"Sejarah yang mana?"

"Dari guntingan-guntingan koran ... " Padahal Charles Goldmark adalah sosok terkemuka dari partai Demokrat. Rupanya daya ingat Rice agak terganggu. Para detektif penyidik itu sangat sedih karena sepertinya Davis salah sasaran. "Charles Goldmark tak pernah melakukan hal itu. Anda keliru sasaran."

"Bagaimana Anda bisa tahu tempat tinggal Goldmark?" tanya Davis

"Dari guntingan koran. Disitu diberitakan dia baru saja pindah di rumah no. 36. "Rice kemudian mengatakan dia membaca berita itu di Seattle Times yang terbit bulan Maret 1983.

"Anda berbicara beberapa tahun lalu. Apakah Anda telah berpikir tentang keberadaan keluarga Goldmark, selama beberapa lama, paling tidak selama 6 bulan terakhir." Rice menjawab kalau ia telah mempersiapkan mental untuk melaksanakan rencananya.

"Apa yang akan Anda lakukan?" tanya Boatman.

"Saya akan membunuh Goldmark."

Pengakuan itu juga menunjukkan pada pertengahan tahun 1985 keputusan untuk membunuh Charles Goldmark telah bulat. Dia berpandangan Goldmark adalah pengikut Yahudi dan Komunis. Padahal dalam kenyataannya Goldmark bukan kedua-duanya. Tetapi bagi Rice, Goldmark adalah musuh besar.

Pistol mainan dan karaben

Kesaksian yang diberikan Dr. Perreau makin memberi gambaran betapa kondisi kejiwaan Rice semakin tidak stabil. Suatu hari lantaran mencuri dan menggadaikan televisi milik Dr. Perreau, Rice diusir dari markas LSM tersebut tanggal 28 Desember.

"Saya perlu uang. TV itu tergadai sepuluh dollar," kilahnya.

Namun lantaran menganggur, kondisi keuangannya semakin memprihatinkan. Kegiatannya cuma mengurung diri dan mencari "musuh" di perpustakaan. Ia semakin gelap mata pada komunisme.

Jawaban dari seluruh persoalannya nampaknya teramat gampang. Ia bermaksud ke rumah Goldmark dan mencuri sebanyak mungkin uang. Dalam pandangannya kesulitan keuangan itu disebabkan oleh Goldmark dan orang-orang yang sepaham dengannya.

Rice sudah bertekad membunuh Goldmark dan istrinya. Dia sangat benci kendati tak pernah bertemu. Ia cuma bermodal nekat karena tak pernah menyelidiki siapa sebenarnya Charles.

Nampaknya dunia telah menipu Rice. Pada hari Natal David pulang ke rumah Dr Perreau untuk menyiram tanaman. Ia mengenakan blue jeans, sweater merah, dan sepatu boots, dan sarung tangan katun.

"Saya juga mengambil pistol mainan, dan membawa senapan, tetapi saya pikir akan berisik jika ditembakkan," begitu pengakuannya saat direkam polisi. Rice mengaku telah membeli karaben M-1 dari pasar senjata gelap. Tapi ia membuangnya 2 minggu sebelum malam natal karena dianggap terlalu besar dan berat.

"Jadi kapan Anda membawa pistol mainan?", tanya Davis.

"Pada malam Natal."

David mengatakan ia membelinya di toko mainan pada malam natal, seharga 3 dollar. Dia juga membeli dua sarung tangan di toko olahraga. Dia memasukkan senapan, sarung tangan, borgol, dan dua botol chloroform pada tas hijau. Dengan bus no 7 ia menuju kota, lalu berganti bus no.3 ke rumah Goldmark.

Dia memasukkan dua botol chloroform karena ia pikir hanya terdapat dua orang tuan dan ny. Goldmark di rumah itu. Hitung-hitung sudah 6 bulan ia menyiapkan rencananya.

"Anda juga memasukkan ny. Goldmark sebagai target?" tanya John Boatman.

"Ya."

"Apakah juga termasuk orang lain yang ada di sana?"

"Ya."

"Bagaimana Anda tahu bus yang menuju ke sana?" tanya Davis.

"Saya sudah ke sana dua kali sebelumnya."

Dipukul dengan seterika uap

Tanpa menyadari bahwa sebenarnya ia salah sasaran, pada minggu pertama bulan Desember dia ke rumah Goldmark dan berharap melihat calon korbannya lewat jendela, tetapi maksudnya gagal karena hari keburu gelap. Dia tetap berada di jalan selama satu jam. Ia takut ketika seseorang mengamatinya, sehingga dia segera ke belakang rumah dimana ada gang kecil dan garasi.

Dia juga mengakui pergi ke kantor Goldmark, tetapi ia tak pernah mau ke ruang tamu.

Pada hari naas itu Rice tiba di rumah Goldmark beberapa menit lewat jam 19.00. Dia mengetuk pintu. Betapa terkejutnya ketia ia tahu yang membukakan pintu seorang bocah, anak Charles Goldmark.

"Saya tak menyangka mereka punya anak kecil. Saya kira di rumah itu hanya tinggal Charles dan istrinya. Tapi saya langsung bilang, 'Saya dari Farm Cab, saya membawa paket untuk Charles.' Anak itu lalu memanggil Charles. Sementara itu Rice mengambil pistol yang disembunyikan di balik kotak.

"Secepat kilat Charles sudah berada di depan saya ... Saya perintahkan Charles menunduk .... Sementara anak itu berlari ke dapur." Rice menutup pintu dengan menendangnya, sehingga tak seorangpun melihat dari luar. Goldmark sangat terkejut, karena ia kira tamu-tamu sudah datang, namun ternyata seorang bersenjata.

Rice meminta Charles memanggil anaknya, dan kemudian membawanya ke lantai atas. Sesampainya di lantai atas Charles meminta istrinya yang sedang mandi keluar.

Keluarga itu digiring ke kamar utama, tempat kedua anaknya berkumpul ketakutan. Semuanya diminta menunduk sehingga mereka tidak melihat pistol mainan yang dibawa Rice. Ia mengikat kedua tangan Charles dan istrinya ke belakang dan dengan muka menempel pada lantai karpet.

"Anda masih ingat baju apa yang dipakai Charles?" tanya Boatman.

"Sweater coklat dan .... baju coklat .... em ... saya pikir pantolan abu."

Untuk kesekian kalinya Rice bingung. Dia beranggapan Charles dan istrinya sudah tua dan tak menduga mereka masih punya anak kecil. "Saya sempat menghentikan niat saya selama beberapa menit. Badan saya gemetaran .... Tapi apa boleh buat, saya telanjur berada di situ. Rencana harus jalan terus."

Mereka semua tak berdaya di lantai kamar tidur utama. Kemudian Rice mengambil chloroform dan memaksa Goldmark membaunya sehingga ia tidak sadarkan diri dan terbaring di dekat Anne.

Sementara itu Rice turun ke dapur mencari pisau. Ia mendapatkan pisau panjang 25 cm. Selanjutnya ia mencari pemukul daging, tapi tak mendapatkannya. Akhirnya ia diambilnya sepotong besi.

Dengan senjata seadanya tersebut, Rice membantai keluarga Charles Goldmark yang tak berdosa. Karena membabi buta, pembunuhan sadis itu telah meninggalkan sisa-sisa darah di mana-mana, termasuk celana dan jaketnya. Sepatu kirinya yang juga ada bekas darah, ia bersihkan dengan bajunya.

Pukul 19.07, ia pergi sebelum para tamu pesta Natal datang. Rice bermaksud mengambil uang, tapi tak ada waktu untuk mencarinya. Yang pasti prioritas menghabisi "pengikut komunis" telah tercapai.

Setelah mematikan lampu, ia keluar lewat gerbang belakang ke arah jalan kecil. Dia bermaksud kembali ke rumah Dr. Perreau dengan berjalan kaki, meski jaraknya cukup jauh 2 km. Padahal dengan pakaian yang penuh darah pasti jadi pertanyaan banyak orang.

"Ditengah jalan saya sadar kalau sarung tangan saya ketinggalan, lalu saya segera pulang ke rumah berganti pakaian dan kembali ke rumah Charles lewat lantai dasar mengambil sarung tangan," akunya.

"Anda kembali lagi ke rumah korban?" tanya Davis heran. Sangat tidak masuk akal. Yang jelas Rice kembali ke tempat pembunuhan antara pukul 8:30 sampai 9:00. Dia mengira tindak kejahatannya belum diketahui orang. Saya tidak melihat mobil polisi. Yang nampak cuma sedikit cahaya lampu dan kerumunan orang.

Gila. Itu artinya ketika para detektif sampai di TKP, mereka tidak menyadari pembunuhnya cuma berada 17m dari tempat itu.

"Saya pikir, saya akan tertangkap .... mereka mendapatkan sidik jari di sarung tangan."

"Anda menyesal atas apa yang Anda lakukan pada keluarga Goldmark?," tanya Sonny Davis.

"Ya. Tapi semuanya telah terjadi. Sudah terlambat."

Pengadilan yang ternoda

Dalam pada itu informasi terakhir tentang para korban yang dirawat di rumah sakit menjadi berita buruk bagi semua orang. Colin Goldmark akhirnya meninggal pada 28 Desember 1985. Tak lama kemudian Charles pada 9 Januari 1986 dan disusul Derek Goldmark pada 30 Januari 1986. Keluarga yang baik dan menyenangkan itu akhirnya pergi meninggalkan semua orang yang dicintainya.

Pengadilan Davis Lewis Rice dimulai pada Mei 1986. Dia didampingi dua pembela Tony Savage dan Bill Lanning. Para pengacara membela Rice yang mereka anggap kurang waras, hingga tidak dapat didakwa bertanggung jawab pada pembunuhan yang dilakukannya. Sementara Bill Downing penuntut perkara menegaskan Rice telah merencanakan penyerangan itu.

Pada tanggal 10 Juni juri mengumumkan Rice divonis hukuman mati. Tetapi kisah pembunuh Goldmark belumlah berakhir sampai akhir tahun 1986, ia masih tetap hidup. Bahkan melalui pengacaranya ia meminta persidangannya dibuka kembali di pengadilan yang lebih tinggi.

Masyarakatpun terkejut ketika pada 6 Agustus 1993 Hakim Jack Tanner dari pengadilan District membatalkan hukuman mati yang dijatuhkan pada Rice. Tanner berpandangan, Rice tidak bisa dijatuhi hukuman mati karena saat keputusan itu dijatuhkan ia tidak berada di ruang sidang. Dua puluh menit sebelum hakim menjatuhkan vonis, Rice terpaksa dilarikan ke rumah sakit. Selidik punya selidik, ternyata beberapa jam seblumnya Rice menelan beberapa bungkus tembakau yang ia campur air. Sehingga ia terpaksa dibawa ke Rumah Sakit Pusat Harborview untuk dipompa perutnya. Suasana pendailan pun geger. Sampai kisah ini dibukukan keputusan belum diambil. Yang jelas hukuman yang layak dijatuhkan atas diri Rice adalah penjara seumur hidup, tanpa syarat. (Ann Rule/Yan)