YANG UNTUNG & BUNTUNG
DI MASA KRISIS

Dampak krisis moneter dialami semua pihak. Tak hanya masyarakat manusia yang dibikin kalang kabut, satwa juga merasakan imbasnya. Harimau penghuni kebun binatang terpaksa "dipuasakan", sementara gajah hanya disuguhi batang pisang. Sebaliknya ada yang justru diuntungkan. Perajin wayang golek di Bogor, gembira menuai dolar.

"Sebetulnya sampai tanggal 31 Maret 1998 yang kelimpungan adalah kontraktor pensuplai makanan satwa kebun binatang. Karena mereka harus menyediakan pakan dengan volume, mutu, dan harga sesuai perjanjian kontrak yang dilakukan pada saat kondisi normal," kata Ir. Atje Dimjati Salfifi, Kepala Badan Pengelola Kebun Binatang (KB) Ragunan Jakarta.

Sebagai satu-satunya kebun binatang milik Pemda Tk. I, KB Ragunan menerima kucuran dana lewat APBD DKI Jakarta. Anggaran tahun berjalan biasanya disusun setiap tahun sebelumnya. Dengan dana anggaran itu lalu pihak KB Ragunan menenderkan pengadaan pakan itu kepada kontraktor pensuplai pakan.

Ketika terjadi krisis moneter, pendanaannya masih dalam tahun anggaran 1 April 1997 - 31 Maret 1998, dengan anggaran sebesar Rp 1,5 miliar. Sementara itu untuk anggaran tahun berikutnya baru akan berlaku tanggal 1 April 1998 - 31 Maret 1999, dan masih dalam proses penyusunan ketika Intisari menemui Kepala KB Ragunan pada awal April 1998. Seandainya nilai anggaran itu tidak berbeda dengan anggaran tahun lalu, dan untuk menghadapi masa krisis, pihak Ragunan perlu melakukan langkah-langkah penghematan.

Macan "dipuasakan"
Dalam kondisi ekonomi normal, pihak Ragunan selalu memberikan makanan secara optimal, tidak berlebihan ataupun kurang. Pada saat krisis moneter, menu optimal itu bisa turun menjadi menu standar, namun masih tetap memenuhi syarat untuk hidup sehat dan baik. Sebagai upaya penghematan, KB Ragunan menerapkan langkah alternatif, a.l. pengurangan porsi, penjarangan jam makan, dan pemberian menu pengganti.

Untuk harimau misalnya, pengurangan porsi makannya dari 5 - 6 kg daging/hari menjadi 4 kg/hari. Sementara penjarangan makannya dari 6 kali makan seminggu menjadi 4 kali seminggu. Tadinya dalam seminggu hanya ada satu hari "puasa", yakni Minggu. Sekarang, penghuninya harus berpuasa selama tiga hari yakni Rabu, Jumat, dan Minggu. Meski "dipuasakan", kesehatan dan penampilan satwa tetap dijaga. Bahkan, dengan menu diet khusus ini harimau nampak lebih ramping, gesit, dan atraktif.

Pengurangan porsi maupun penjarangan jam makan, menurut Atje, dilakukan terutama terhadap satwa dewasa. Satwa anakan atau induk yang sedang bunting tetap diberi menu optimal agar pertumbuhan atau kesehatan mereka tak terganggu.

Sedangkan penggantian pakan dilakukan dengan memilih materi yang lebih murah. Selain daging lokal, menu harimau biasanya berupa daging kanguru, dan daging ayam. Mengapa dipilih kanguru? Menurut Atje, harga daging kanguru pada saat ekonomi normal hanya 1/3 harga daging lokal. Selain itu pengadaan daging kanguru bisa memenuhi tiga hal, yakni kualitas, kuantitas dan kontinyuitas. Sementara, nilai nutrisi daging sapi dan kanguru relatif sama. Namun, karena pada saat ini harga daging kanguru mahal, mau tak mau Ragunan beralih ke daging lokal.

Dase A.S., perajin wayang golek.
Murid "Sekolah Way Kambas",
diobati dengan daun jambu biji.
Manajemen kebun binatang ini juga sedang menelaah pemberian daging babi hutan untuk harimau sebagai salah satu menu alternatif. Di hutan harimau memang memangsa babi hutan, tapi di Ragunan sudah terbiasa diberi daging sapi, kerbau, dan kanguru. Makanya, perlu pengamatan bila akan mengganti menu dengan daging babi hutan kepada harimau itu. Terutama terhadap kemungkinan timbul "alergi", misal mencret. "Kalau pun babi hutan dimasukkan dalam program pemberian pakan, ya harus mempertimbangkan segi kualitas, kuantitas, dan kontinyuitas penyediaannya," kata Atje.

Satu lagi solusi yang bisa dilakukan, yakni pengurangan satwa. Semisal, satwa dikembalikan ke alam. Tentu saja dipilih yang sehat dan dianggap mampu beradaptasi dengan lingkungan "baru"nya. Atau, bisa juga dengan cara tukar-menukar satwa antarkebun binatang.

Penghematan dengan cara mengurangi kebiasaan makan satwa juga diterapkan di Taman Safari Indonesia (TSI), di Cisarua, Bogor, seperti diakui Drs. Jansen Manansang MSc, salah satu direktur TSI, kepada Suara Pembaruan (21/3/1998). Hewan karnivora (pemakan daging), seperti harimau, singa, buaya, ular, burung elang, dan satwa buas lain, yang biasanya diberi makan 7 hari, kini berkurang menjadi 5 hari makan. Bagi harimau dan singa yang diberi daging 4 - 5 kg/hari, pengurangan jumlah hari makan tidak mempengaruhi kehidupan mereka, bahkan tampak lebih gesit dan bersemangat.

Hal yang sama juga dilakukan di KB Gembiraloka, Yogyakarta. Seperti dilaporkan Republika (27/3/1998), macan terpaksa "berpuasa" dengan hanya diberi makan dua hari sekali. Langkah ini, katanya, meniru kebun binatang Singapura yang memberi makan kepada macan atau singa dua hari sekali. Hanya saja, daging yang diberikan tergantung jenis daging mana yang paling murah. Kalau daging sapi termurah, ya diberikan daging sapi. Tapi kalau justru lebih mahal, ya diganti dengan daging ayam, itik atau kanguru.

Mencari bapak angkat
Di Ragunan satwa jenis herbivora (pemakan tumbuhan), semisal gajah, tidak terlalu terimbas krisis moneter. Pasalnya, sebagian besar pakannya, yakni rumput, ditanam sendiri di sebagian area seluas 135 Ha di dalam teritorial KB Ragunan. Kerepotan pengadaan rumput justru ketika musim kemarau panjang, yang harus didatangkan dari luar Jakarta.

Sementara itu gara-gara harga melonjak, pakan gajah di KB Gembiraloka, Yogyakarta, berubah cukup drastis. Ketika kondisi normal, setiap hari gajah diberi pakan rumput gajah (kolonjono), buah-buahan, bekatul, dan nasi, kini hanya mendapat jatah gedebok (batang pisang), seperti dilaporkan oleh Republika (27/3/1998). Sedangkan buah apel, nanas, pisang, dan lainnya sama sekali tidak diberikan. Maklum pemasukan dari pengunjung kebun binatang Gembiraloka di kala krismon cenderung berkurang.

Pemberian pakan batang pisang, menurut KMT A Tirtodiprojo, direktur utama KB Gembiraloka, tidak apa-apa, karena memang masih merupakan makanan gajah ketika masih di habitat aslinya.

Sebetulnya Gembiraloka memiliki lahan rumput gajah, tetapi produksinya tidak mencukupi kebutuhan. Kalau harus mendatangkan rumput gajah dari luar harganya kurang lebih Rp 200.000,- per truk. Padahal satu truk, dilaporkan, hanya cukup untuk makanan gajah selama beberapa hari.

Sementara itu monyet dan orang hutan di KB Gembiraloka tidak lagi diberi makanan buah-buahan. Sebagai penggantinya mereka disediakan roti tawar yang diberi selai dan minuman susu kemasan yang sudah tak layak dikonsumsi manusia, tapi tidak membahayakan kesehatan satwa. Misalnya, susu yang kadaluarsa belum lebih satu bulan.

Rusa pun mengalami nasib yang serupa. Meski pakannya berupa bekatul, dedak dan rumput, tapi karena jumlahnya lebih dari 100 ekor, cukup merepotkan juga. Karena itu, Gembiraloka berkeinginan mengurangi jumlah binatang ini. Bahkan, juga ditawarkan kepada masyarakat untuk digaduh, dengan catatan harus merawatnya benar-benar. Atau, barangkali ada yang berminat menjadi "bapak angkat" mereka. Artinya, binatang tetap berada di kandang Gembiraloka, sementara "bapak angkat" menyantun biaya pakannya.

Dampak krisis juga terasa di Pusat Latihan Gajah (PLG) Way Kambas, Lampung, seperti dilaporkan Media Indonesia (13/4/1998). Jatah makan penghuni "sekolah gajah" di sana tidak berkurang, namun persediaan obat menjadi amat terbatas. Jadilah obat tradisional sebagai alternatif. Gajah yang diare terpaksa diberi daun bambu biji, atau daun kluweh (sejenis sukun)

Sana-sini terimbas krisis
Dibandingkan dengan binatang, dampak krismon terhadap kehidupan manusia tak kurang mengkhawatirkannya. "Gaji yang dulunya cukup untuk belanja sebulan, kini hanya cukup untuk setengah bulan. Ya, terpaksa berhemat," keluh Ny. Nani ibu dari dua anak. "Namun, susu tetap harus dibeli karena anak saya masih balita. Yang bisa dihemat meliputi daging ayam, daging sapi, makanan kaleng, belanja pakaian, kosmetik, mainan anak-anak, makan di restoran, dll."

Banyak keluarga golongan menengah mengurangi menu ayam gara-gara harganya melangit. "Coba bayangkan, ayam broiler yang semula harganya Rp 5.000,- - Rp 6.500,-/ekor, kini Rp 11.500,-. Ayam kampung Rp 13.000,- - Rp 15.000,-/ekor," tambahnya. Demikian pula harga daging sapi yang naik 22 - 42%. Udang ukuran sedang yang semula Rp 19.000,-/kg menjadi Rp 29.000,-/kg. Telur ayam tadinya Rp 2.800,-/kg menjadi Rp 5.700,-/kg. Belum lagi harga sembako (sembilan bahan pokok), tempe, tahu, kelapa, buah, dan sayuran, yang ikut naik rata-rata 100% atau lebih. Akibat lanjutannya tentu saja harga makanan jadi lebih mahal. Maka, jangan heran bila kini banyak karyawan berbekal makanan dari rumah.
Pengusaha katering pun kehilangan pelanggan. "Sejak masa puasa sampai dengan Sidang Umum MPR, Maret lalu, pesanan hampir tidak ada," keluh seorang pengusaha katering. Beberapa kantor yang memesan makanan untuk hidangan rapat, katanya, menurun drastis. Pesta pengantin pun banyak yang beralih ke menu makanan lebih sederhana.

"Penurunan pesanan bisa sampai 50%," ungkap pengusaha katering lain. "Kami pun terpaksa menaikkan harga 25% - 40% karena harga bahan-bahan naik luar biasa. Pesanan termurah Rp 16.000,-/orang bisa diturunkan menjadi Rp 14.000,- - Rp 15.000,-/orang kalau tanpa ayam. Buah impor dan makanan berbahan susu, ada potongan harga lagi juga ditiadakan. Misal, puding yang biasanya dilengkapi fla (saus) dari bahan susu diganti pencuci mulut berbahan santan." Meski begitu pengusaha ini mengaku belum mem-PHK ataupun memotong gaji karyawan yang jumlahnya puluhan itu. Tapi dengan menurunnya pesanan, uang tips mereka tentu berkurang.

Pengusaha katering yang lebih konsentrasi pada pesanan rantangan untuk karyawan pabrik/perusahaan juga mengaku pesanan menurun gara-gara beberapa pabrik ditutup atau pegawainya di-PHK. Harga pesanan naik 20% - 40%, tergantung menunya. Pemilihan buahnya lebih selektif meski yang dipilih buah lokal. Semangka, melon dan nanas, dipilih untuk menggantikan pepaya dan pisang yang berharga lebih mahal.

Demikian juga seorang ibu penjual makanan kecil ikut "macet". "Harga bahan-bahan pembuat kue, seperti terigu, telur, keju, dan lain-lain, semuanya naik. Lalu, saya mesti menjual sepotong kue dengan harga berapa?" tanyanya.

Lain pengusaha makanan, lain pula pengusaha bunga potong. "Saya pusing, harga bibit bunga impor dari Negeri Belanda kini naik sampai 200%," keluh salah satu pengusaha bunga yang punya kebun bunga di kawasan Puncak. "Umbi bunga leli impor dari harga Rp 30.000,-/10 umbi naik menjadi Rp 90.000,-/10 umbi. Karena kontrak dengan harga lama hanya sampai April 1998, untuk sementara kontrak terpaksa dihentikan sampai nilai dolar stabil." Lebih celaka lagi, untuk mematok harga tinggi, tidak mungkin. "Soalnya banyak pesaingan," katanya. Adakalanya pengusaha bunga potong terpaksa menurunkan harga atau menawarkan dengan harga obral kepada teman atau tetangga. "Daripada tersisa dan akhirnya membusuk," katannya beralasan.

Pesanan rangkaian bunga pun menurun. Sejumlah bank yang dulu rutin memesan rangkaian bunga, sekarang tidak lagi. Kalau pun ada, paling-paling pesanan karangan bunga untuk kematian atau ucapan ulang tahun.

Namun, ada juga pengusaha bunga potong yang tidak merasakan dampak krisis, yakni salah satu toko bunga terkenal di Jakarta. Toko bunga yang terkenal sejak tahun 50-an ini tetap menerima banyak pesanan dari kalangan atas atau para ekspatriat.

Golek pesta dolar
Sementara banyak yang terimbas krisis, tidak demikian dengan Dase A.S. (42), perajin cendera mata wayang golek, di Bogor, Jawa Barat. Usaha yang mulai digeluti sejak tahun 1976 ini justru tidak terkena dampak buruk krismon.

"Alhamdulillah, saya tidak kena dampak (buruknya). Sebelumnya usaha saya stabil, sekarang ketika dolar menguat keuntungan saya meningkat 60%," tutur perajin golek dengan sebelas pekerja ini. "Kalau dulu satu wayang golek nilainya Rp 90.000,- atau sekitar AS$ 30, sekarang dengan kurs Rp 8.000,-/AS $, nilai rupiah yang diterima mencapai Rp 240.000,-, berarti naik lebih dari 180%," ungkapnya .

Wajar kalau Dase memasang patokan harga dalam dolar, sebab pembelinya turis asing. "Bule maunya sih rupiah. Mereka sering bertanya, 'Mengapa harus dolar?' Saya pun menjawab, tidak tahu. Pura-pura bloon aja," ujar Dase.

Bukan tanpa alasan kalau Dase memasang harga dalam dolar AS. Dengan patokan dolar, angkanya seolah-olah kecil. "Kalau sudah jadi mau tidak mau 'kan harus dibayar. Kadang mereka bengong juga. Kok nilai rupiahnya jadi besar amat, ha ... ha ... ha," katanya disertai derai tawa. Selain dolar AS, Dase juga menerima mata uang asing lain, macam Guilden Belanda, Franc Prancis, atau Mark Jerman.

"Dulu kalau ditawarkan dalam rupiah, mereka kaget, 'Two hundred thousands? Big money'. Lantas, saya bilang, You jangan melihat rupiahnya. . You look dollar, only twenty dollars. Akhirnya mereka mengerti juga, 'OK, I pay you'. Karena cinta rupiah, ya tinggal menukar lagi ke rupiah," tutur Dase.

Kebanyakan pembelinya turis dari Jerman, Belanda, Perancis, Swiss, AS, Kanada, dan Australia. Sebagian besar turis Belanda. Bahkan, ada turis Belanda yang menjadi pelanggan. Di negeri kincir sana, ia memang menjual benda-benda seni. Dalam setahun ia datang tiga kali dan memesan 225 unit wayang. Selain itu juga ekspatriat yang tinggal di Jakarta dan Tangerang. Umumnya mereka mengetahui alamat Dase dari buku paduan wisata Indonesia yang diterbitkan dalam beberapa bahasa, seperti Inggris, Belanda, Jerman, Prancis, dan Italia.

Jumlah tamunya pada masa krisis ini tak mengalami penurunan. "Penuh terus! Nggak tahu ya, mungkin bagi bule saat ini kesempatan untuk belanja di Indonesia. Lagi murah-murahnya," katanya.

Rata-rata, dalam satu bulan terjual 120 wayang golek dengan ukuran bervariasi, 30 cm, 45 cm, dan 75 cm. "Paling sedikit laku 60 wayang. Kalau membeli satu-dua, biasanya langsung dibawa. Tapi kalau minta dikirim minimal membeli empat wayang."
Bahan wayang golek biasanya berupa kayu Alstonia scholaris (kayu lame atau pule) dari Leuwiliang dan Jasinga, Jawa Barat. Sedangkan kain batiknya adakalanya dari pelelangan di Perum Pegadaian. "Kualitasnya 40% lebih baik daripada kain baru. Batik lama kalau terkena air tidak luntur. Sebaliknya, kain batik sekarang seharga Rp 15.000,- - Rp 20.000,- mudah luntur," ungkapnya.

Selama krismon biaya produksinya memang meningkat. Sebab, "'Gaji' karyawan, dinaikan sekitar 25%." Padahal, "Mereka kerja saja, dan semua bahan baku dan akomodasi, saya yang jamin," kata Dase. Demikian juga dengan harga bahan baku kayu dan kain batik. Tapi semua itu ternyata tak merugikannya. Yang terjadi malah sebaliknya, keuntungannya meningkat dalam angka rupiah! (Rye/Gde/Nn)