kop

Inilah bentuk kreativitas Madame Tussaud yang dirintisnya sejak 200 tahun lalu. Sejumlah kembaran tokoh dunia lahir dari tangannya. Mereka dikumpulkan di satu tempat, kemudian "dijual" kembali kepada masyarakat dalam sebuah museum. Penghuni terbarunya adalah Menteri senior Singapura "Lee Kuan Yew" yang masuk Maret 1998.

"Saya harap, Madame Tussaud's tidak akan menaruh patung saya berdekatan dengan patung tokoh-tokoh jahat," demikian guyonan Menteri Senior Singapura Lee Kuan Yew, setelah meresmikan selesainya pembuatan patung lilin dirinya pada Singapura Travel Show, Jumat 7 Maret 1998. Dalam gayanya yang santai, ia mencandai wartawan yang merubungnya. Dengan menyetel raut mukanya sedemikian rupa, ia sengaja berpose di samping "kembarannya" di tengah bidikan kamera para fotografer.

Kalau melihat fotonya di halaman ini, Anda pun pasti sulit membedakan mana menteri senior Singapura yang aseli di antara kedua pria kembar yang mengapit Mrs. Lee Kuan Yew. Untuk mengobati rasa penasaran Anda, silakan buka halaman berikutnya.

Patung tersebut sengaja diterbangkan khusus dari London, untuk ikut meramaikan stan British Tourist Authority. Nantinya, setelah bazar turisme tersebut usai, "Lee Kuan Yew" akan segera menempati pos barunya di Museum Madame Tussaud's, London.

Kepopuleran museum tersebut sudah berakar sejak ratusan tahun lalu, setidaknya menurut pengakuan menteri senior Singapura tersebut, yang sejak masih kuliah di London tahun 1940-an pun ia sering mengunjungi tempat itu. Toh, diakuinya saat itu ia sama sekali tidak membayangkan, suatu saat nanti "dirinya" pun menjadi salah satu penghuni museum tersohor itu.

"Tak bisa diduga, pesatnya perkembangan pariwisata di seluruh dunia, suatu ketika malah membuat saya makin dekat dengan alam keabadian. Buktinya, kini saya telah dijadikan patung lilin," demikian candanya seperti dikutip The Strait Times.

Kemiripan patung lilin dengan tokoh aselinya, memang tak perlu diragukan lagi. Itulah salah satu andalan Madame Tussaud's untuk menarik minat pengunjung. Nyaris semua komentar tokoh yang pernah dipatunglilinkan di situ, memuji keakuratan para "kembaran"nya. Selain Lee Kuan Yew, penilaian tak langsung datang dari Alfred Hitchcock, sutradara spesialis film horor asal Inggris. Ceritanya, awal tahun 1972 di sela-sela syuting film Frenzy di London, Hitchcock terganggu dengan kerumunan masa yang menguntit kemana pun ia pergi, sekadar untuk melihat tampangnya. Sambil berang ia berteriak, You can do that at Madame Tussaud's!

Anak pembantu rumah tangga

Kesan Lee Kuan Yew maupun anjuran Hitchcock, memang tidak keliru. Di Museum Madame Tussaud's siapa pun bisa bertemu dan bertatap muka sepuas-puasnya dengan bermacam tokoh dan selebriti dunia, termasuk Sir Alfred yang menghuni tempat itu sejak 1960. Tapi memang hanya sampai pada tatap menatap saja. Tak lebih. Lantaran mereka hanya patung lilin.

Salah satu yang terbesar, terletak di Baker Street, London, sampai sekarang masih merupakan tujuan wisata menarik bagi para wisman, maupun pelacong domestik. Selain suguhan utamanya berupa patung-patung lilin tokoh dunia yang jumlahnya lebih dari 300, pengelola museum senantiasa meningkatkan pesonanya sesuai permintaan pasar. Termasuk dalam penambahan jumlah tokoh yang dipatungkan.

Contohnya, keputusan memilih Lee Kuan Yew pun diambil berdasarkan permintaan pasar. Sampai pada akhir kuartal kedua tahun 1997 lalu, pihak museum menerima lebih dari 41 permintaan, sebagian besar dari pengunjung asal Singapura, untuk membuat patung lilin Lee Kuan Yew. "Keputusan itu kami buat berdasarkan asumsi bahwa pengunjung dari Singapura semakin hari semakin banyak," ujar humas museum Diane Robertson.

Kemasyhuran Museum Madame Tussaud's yang kini mendunia sama sekali tak sedikit pun tercermin kalau melihat riwayat hidup sang pendiri yang penuh derita. Marie, panggilan akrab Madame Tussaud, lahir di Strasbourg 1761, tanpa ditunggui ayahnya yang sudah meninggal dua bulan sebelumnya. Ibunya bekerja sebagai pembantu rumah tangga Dr. Philippe Curtius seorang dokter dengan keahlian membuat patung anatomi dari lilin.

Dari Curtius inilah Marie belajar cara dan teknik membuat patung lilin. Beberapa contoh patung kreasi pertamnya adalah Francois Voltaire dan negarawan AS Benjamin Franklin. Patung-patung lilin itu seringkali dipajang untuk pameran. Kesetiaannya kepada sang majikan membawa keluarga Marie ikut pindah ke Paris. Sekaligus membawa babak baru kehidupan gadis ini.

Kala itu Prancis sedang diambang revolusi. Jurang ekonomi antara rakyat miskin dan kaum aristokrat yang kaya memicu meletusnya revolusi. Rumah Dr. Curtius dipakai sebagai markas para tokoh-tokoh revolusi. Secara tak langsung Marie mengenal wajah-wajah para tokoh yang nantinya tercatat dalam sejarah Prancis.

Rupanya pameran patung lilin Dr. Curtius ini menarik perhatian keluarga kerajaan Prancis. Suatu saat Marie diundang ke Istana Versailles untuk memberi pelajaran membuat patung kepada saudara perempuan Raja Louis XVI, yakni Madame Elizabeth. Namun berbareng dengan riuh rendahnya revolusi Prancis, tahun 1789 Paris bergolak dan bersimbah darah. Baik Marie dan ibunya sempat dijebloskan ke dalam penjara. Ia menghuni sel bersama dengan Josephine de Beauharnais yang kemudian menjadi Ratu Josephine istri Napoleon Bonaparte.

Ironisnya ketika semuanya berakhir, Marie justru disuruh membuat patung lilin dari para mantan majikannya yang kemudian dihukum mati dengan pisau guillotine, termasuk Marie Antoinette dan Louis XVI.

Tahun 1794, Curtius meninggal dan mewariskan kepandaian serta bisnisnya kepada Marie. Setahun kemudian ia menikah dengan insinyur Francois Tussaud. Dari perkawinan ini lahir 3 anak, seorang di antaranya kemudian meninggal. Mengingat situasi ekonomi negara ini belum pulih, Marie tak bisa mengembangkan bisnisnya. Maka tahun 1802, ia memutuskan meninggalkan suami dan seorang anaknya, untuk mengadu nasib ke Inggris. Di negeri baru ini ia berhasil mengembangkan pertunjukan keliling pameran patungnya. Tahun 1826, kedua anaknya bergabung dalam usaha ini. Kehidupan nomaden yang dilakukan ibu dua anak ini berakhir tahun 1835, setelah mereka menemukan tempat yang nyaman di Baker Street, London. Mereka menempati sebuah bangunan tua bekas markas brigade pengawal kerajaan yang tak terpakai. Semula materi yang dipamerkan hanya patung yang mereka bawa dalam pameran keliling. Namun karena tempatnya lebih besar, memungkinkan mereka untuk menambah jumlah patung yang dipajang.

April 1850 Madame Tussaud meninggal dunia dalam usia 89 tahun. Karyanya yang terakhir adalah patung dirinya yang dibuat 8 tahun sebelum meninggal, sekarang masih dipajang di museumnya.

Tahun 1925 museum ini tertimpa musibah kebakaran. Penyebabnya percikan api listrik akibat sambungan pendek. Dalam waktu sekejab lantai ruang pamernya dipenuhi oleh lilin yang meleleh. Banyak patung rusak berat termasuk barang-barang peninggalan Napoleon yang amat berharga. Perbaikan dan restorasi bangunan ini memakan waktu sampai tiga tahun.

Seakan tak pernah putus asa, ahli waris Madame Tussaud tak kenal lelah untuk melestarikan peninggalannya. Mereka mencoba bangkit setapak demi setapak. Tahun 1939 berbareng dengan meletusnya Perang Dunia II, Inggris pun tak luput dari derita kehancuran. Tanggal 8 September 1940, sebuah bom meluluhlantakkan bangunan museum. Sebanyak 352 patung lilin hancur tanpa bisa diperbaiki, sementara bagian gedung bioskopnya hancur lebur. Masih untung, tak ada korban jiwa. Berkat usaha dan kerja keras tak kenal lelah, hanya dalam waktu 3 bulan mereka bisa bangkit dan membangun kembali museumnya terkenal ini.

Rumit dan berteknologi tinggi

Selama 200 tahun berdiri, metoda pembuatan model tokoh lilin di museum ini pun terus-menerus dikembangkan. Sekali seorang tokoh sudah terpilih, langkah pertama yang dilakukan pihak museum adalah mengumpulkan foto-foto dan informasi pendahuluan mengenai tokoh itu. Sumber bisa dari wawancara, artikel di koran maupun buku biografinya kalau yang bersangkutan sudah meninggal. Setelah itu harus diputuskan di bagian atau tempat mana patung itu nantinya akan ditaruh, serta bagaimana pose yang dikehendaki.

Si pemahat kemudian diberi pilihan beberapa pose subjek disertai foto-foto detail. Ini berguna untuk mencocokan detil mata, rambut dan pakaian dengan subyek yang nyata. Si pemahat tak hanya menyamakan ukuran dan bentuk bagian tubuh seperti hidung dan telinga misalnya, tetapi juga diberi kesempatan untuk mengamati karakter dan kepribadian si subyek yang nantinya akan ditransformasikan selama proses pembuatan patung.

Ada dua cara melakukan pertemuan dengan si subyek. Seringkali si tokoh diundang untuk mengunjungi studio Museum Madame Tussaud's, atau kalau tidak mungkin, si pemahat yang akan mengunjungi tokoh tersebut. Selama pertemuan dengan modelnya, si pemahat paling sedikit memotret 25 kali, mengukur tinggi kening, jarak mata, panjang wajah dan hidung, kemudian mencocokkan warna kulit, mata dan rambut.

Bisa dibayangkan, saat-saat seperti itu tentu amat menegangkan serta melelahkan, baik bagi sang pemahat maupun bagi sang tokoh. Namun, 200 tahun yang lampau keadaannya lebih "mengerikan" lagi. Dulu Dr. Philippe Curtius harus melumuri wajah modelnya dengan tanah lempung basah. Supaya tidak sulit bernafas, pada lubang hidung dimasukkan tangkai bulu ayam. Untung, dengan kemajuan teknologi para calon penghuni museum ini tak perlu harus menderita.

Sebagai contoh, Nelson Mandela memberi kesempatan pada pemahat Tussaud untuk mengamati dirinya di Post House Hotel dekat Bandara Heathrow, di tengah-tengah kesibukannya dalam jadual kunjungan kenegaraannya di Inggris. Beberapa waktu kemudian ia mengunjungi Museum Madame Tussaud bersama almarhum pemimpin Kongres Nasional Afrika, Oliver Tambo untuk membuka selubung patungnya dalam upacara peresmian.

Juni 1997 dalam proses pembuatan patungnya, Lee Kuan Yew bersedia duduk selama 2 jam, untuk memberi kesempatan tim pemahat mengamati detil tubuhnya, membuat 70 jepretan kamera dan melakukan 150 pengukuran. Sementara itu aktor laga Sylvester Stallone diambil posenya di Studio MGM, Hollywood. Untuk kelengkapannya ia memberikan seperangkat pakaian malamnya kepada Madame Tussaud's.

Untuk menyelesaikan sebuah patung dibutuhkan waktu kurang lebih 6 bulan, sebagian besar di antaranya digunakan untuk mengarap kepala. Berdasarkan data-data dari sumber aselinya, si pemahat memulai pekerjaannya dengan membuat model kepala memakai tanah liat. Bisa dibayangkan, bagaimana sulitnya usaha si pemahat untuk mencapai kemiripan tampang tanpa rambut aseli. Meski demikian nantinya rambut itu akan diganti dengan rambut aseli. Di samping memakai ukuran dan presisi aseli, kemampuan artistik sangat diperlukan guna menghasilkan patung yang mirip dan nampak hidup. Bila si pemahat merasa sudah puas, cetakan yang terdiri atas 12 bagian itu diambil dari kepala. Jumlah yang sama pula diambil dari leher dan torso. Sementara itu disiapkan cairan lilin yang dipanasi sampai 60 derajat Celsius dalam sebuah tempat khusus. Setelah dibersihkan dengan amat teliti, cetakan kepala yang terbuat dari gips keras ini kemudian dituangi cairan lilin, sampai diperoleh ketebalan yang memadai yakni sekitar 1,5 inci. Sedangkan bagian-bagian dari tubuh yang nantinya akan tertutup oleh pakaian langsung dibuat dari gips yang dihasilkan dari dua keping cetakan. Kepingan gips dari cetakan itu kemudian dilepaskan dari kepala, agar lilin jadi dingin.

Setelah patung kepala terbentuk, langkah berikutnya adalah menggarap bagian mata. Kini giliran pekerjaan tangan yang rumit dan amat individual, terutama untuk menyesuaikan warna mata dengan yang dimiliki si tokoh. Rambut manusia, yang tentu saja sudah disesuaikan baik jaringan maupun warnanya, ditanam ke dalam kulit kepala helai demi helai dengan alat kusus. Rambut itu kemudian dipangkas dan dirapikan sesuai aselinya. Bila si tokoh aselinya punya rambut panjang, mereka akan memakai wig.

Yang terakhir, sebelum tokoh lilin ini diberi pakaian, adalah proses pewarnaan kulit. Dalam tahap ini dituntut kepandaian seorang seniman, apalagi kalau harus menyertakan perhitungan cahaya lampu tempat patung ini nantinya dipajang. Untuk meng"hidup"kan wajah seringkali dibutuhkan pewarnaan memakai cat air, cat minyak maupun acrylic. Yang tak kalah pentingnya adalah mengatur perpaduan antara rambut dan pencahayaan.

Namun pekerjaan ini tidak berhenti setelah patung ini resmi selesai. Pemeliharaan dan perawatannya harus selalu dilakukan secara periodik. Paling tidak, sekali atau duakali dalam setahun, warna atau cat harus dibersihkan dengan sabun lembut dan air. Pada saat yang sama rambutnya harus dikeramas, sebelum dilakukan pengecatan ulang dan penataan ulang rambutnya.

Menghibur dan informatif

Museum ini memang layak ditengok. Kapan lagi Anda bisa bercengkerama dan berfoto bersama dengan tokoh-tokoh dunia secara bebas hanya dengan merogok kocek 8,3 poundsterling. Seorang kawan yang kebetulan tak begitu suka dengan Presiden AS Clinton, langsung menghardiknya ketika "bertemu" di sana. Tentu saja yang bersangkutan diam saja, tak bergeming. Lha wong, cuma patung lilin.

Kalau memperhatikan dengan jeli, selama berkeliling kebanyakan pengunjung hanya sibuk mencari tokoh idolanya masing-masing. Saat itu mantan petenis putra kampiun dunia Boris Becker dan Martina Navratilova tak henti-hentinya dirangkul orang "diajak" foto bersama.

Di masa liburan sekolah, antrean pengunjung bisa mengular ratusan meter. Lamanya ngantre bisa menimbulkan kebosanan. Tapi rupanya pengelola museum tak kurang akal dalam menghibur pengunjungnya. Mereka menugaskan seorang "pelawak" museum menyapa para tamu serta memberikan banyolan-banyolan segar.

Kalau pun tidak tertarik dengan ulah si pelawak, di atas plafon setiap 2 m tertulis informasi tentang berbagai hal yang berkaitan dengan museum tersebut yang bisa Anda baca, sambil ngantre karcis. Informasi ringan tapi berguna ini dikemas dalam bentuk tanya-jawab yang disajikan dalam empat bahasa, Inggris, Prancis, Jerman, dan Spanyol. Di antaranya; Berapa banyak orang yang berkunjung ke museum? - Lebih dari 2,5 juta orang setiap tahunnya. Berapa banyak patung yang dipamerkan? - Lebih dari 300 buah. Apakah diizinkan memotret? - Boleh asal tidak mengganggu orang lain. Dengan berbagai informasi tersebut pengunjung bisa mengetahui lebih jauh hal-hal ringan tentang museum itu sekaligus mengusir kebosanan.

Kalau mau berkunjung ke sana, ada baiknya menggunakan jasa kereta api bawah tanah. Museum tersohor itu bisa dicapai dari setiap penjuru kota London dengan mudah. Setelah turun di stasiun Baker Street, Anda tinggal belok ke kiri, menyusuri Jl. Maylebone lebih kurang sepanjang 100 m. Bangunan yang tak begitu mencolok itu berada di sebelah kiri jalan. (Yan/Djs)