Inggris boleh bangga sebagai negeri induk sepakbola. Brasil pun pantas menepuk dada jadi pusat prestasi setelah empat kali merebut Piala Dunia. Demikian pula Italia, juara dunia tiga kali, atau Jerman, yang sejak PD II usai selalu di posisi tinggi. Namun, gagasan turnamen akbar itu tak lepas dari peran orang Prancis. Dari negeri inilah kompetisi itu berawal, menapaki sejarahnya, mendunia, kemudian diorganisasikan menjadi tontonan tiga miliar manusia seperti sekarang.
|
PIALA DUNIA KEMBALI KE KANDANG
|
|
|
|
|---|
|
|
|
|
|
menghancurkan Inggris. |
|
|
piala kepada Uruguay. |
|
|
|
Kepeloporan yang di luar dugaan. Sebab, di kalangan bangsa Eropa Barat, orang Prancis disifatkan lebih individual ketimbang sosial. Beda dengan orang Jerman yang selain masyhur karena semangat dan efisiensinya, juga kuat dalam kekerabatan. Orang Italia yang berbudaya Latin sangat dekat dengan kesenian dan keindahan, sehingga hidupnya lebih berirama. Berbeda dengan orang Swis yang teliti dan penuh perhitungan, atau orang Belanda yang pekerja keras. Orang Prancis organisator biasa yang reputasinya tidak sehebat orang Inggris. Maka, keunggulan minim dalam berorganisasi itu ditopang oleh kemampuan berhumas.
Beruntung, duet Rimet - Delaunay tak harus melobi dari nol. Federation Internationale de Football Association (FIFA) sudah terbentuk di Paris pada 21 Mei 1904, atas prakarsa delegasi Belgia, Spanyol, Swedia, Prancis, Denmark, Swis, dan Belanda. Tokoh yang terpilih sebagai presiden pertama FIFA adalah orang Prancis, Robert Querin. Ia hanya setahun menjabat, diganti oleh Daniel Hurley Woodfall dari Inggris. Kepemimpinan berlanjut sampai ia meninggal, 1918, dan pada 1920 diganti orang Prancis lagi, Presiden Federasi Sepakbola Prancis (FFF) Jules Rimet. Henri Delaunay, sekretarisnya, menjadi sekretaris jenderal.
Usai Perang Dunia I, profesionalisme mulai tumbuh di Eropa. Pemain sepakbola bayaran menyemarakkan kompetisi antarklub. Swis mengembangkan sistem lisensi pemain, sedangkan Italia, Prancis, dan Norwegia mengizinkan semacam subsidi kepada klub - ini merupakan cikal bakal sponsor.
Tahun 1907, klub asal Uruguay, Montevideo, bertandang ke kandang Everton. Orang Eropa terpana, sepakbola di Amerika Latin beradaptasi secara mengagumkan. Bagi Amerika Latin, sepakbola bukan hanya permainan olahraga, melainkan sebuah pesona nasional (national passion).
Pada kongres FIFA di Antwerpen (1920), yang memilih Rimet sebagai presiden, ide turnamen sepakbola yang terpisah dari Olimpiade mulai dicetuskan. Dibahas intensif empat tahun kemudian, dan saat Olimpiade Amsterdam (1928), dilakukan pemungutan suara. Hasilnya, 25 negara setuju, dan lima negara (Denmark, Estonia, Finlandia, Norwegia, dan Swedia) menentang. Inggris yang semula setuju, pada 1929 keluar dari FIFA karena berbeda kebijakan.
Amerika Latin - Eropa berbalasan
Kongres FIFA di Barcelona (1929) memutuskan, kejuaraan dunia sepakbola akan dilaksanakan tahun 1930 di Uruguay. Selain menjadikannya momentum peringatan 100 tahun kemerdekaan, Uruguay juga bersedia membiayai ongkos perjalanan para peserta. Negeri ini membangun stadion berkapasitas 80.000 - 100.000 penonton. The Centenary Stadium di Montevideo, rampung dalam delapan bulan, pun tiga bulan di antaranya musim hujan. Tuan rumah juara, mengalahkan Argentina dalam final 30 Juli 1930. Kemenangan disimbolkan dengan Piala Jules Rimet, karya pematung Prancis Abel Lafleur.
Pada kongres FIFA di Stockholm, 1932, mayoritas dari 60 delegasi mendukung permohonan Italia jadi penyelenggara turnamen tahun 1934. Persepakbolaan Italia saat itu maju pesat. Klub kaya seperti Juventus mengontrak Raimondo Orsi dari Argentina, bahkan mengajaknya pindah kewarganegaraan bersama dengan Luisito Monti.
Di tangan Vittorio Pozzo, Italia yang semula diragukan moralitasnya - antara lain terkuaknya kasus suap yang melibatkan kapten kesebelasan Allemandi - berubah menjadi kekuatan dahsyat. Di final, 10 Juni 1934, Italia mengalahkan Cekoslowakia lewat perpanjangan waktu, 2-1. Saat itu, sistem prakualifikasi mulai diterapkan, termasuk bagi calon tuan rumah. Namun sistem gugur masih dipakai (akibatnya, tim Amerika Latin yang berlayar selama dua minggu, jika kalah dalam satu pertandingan langsung pulang).
Kemenangan Italia di antara 16 tim dinilai tak meyakinkan. Uruguay tak ikut karena membalas penolakan Eropa tahun 1930. Argentina pun hanya berangkat dengan kekuatan kelas tiga karena khawatir pemain seniornya pindah mengikuti jejak Monti dan Orsi.
Soedarmadji di Piala Dunia
Tetapi di Prancis empat tahun kemudian Italia membuktikan diri. Tim asuhan Vittorio Pozzo ini menjadi negara pertama yang merebut Piala Jules Rimet dua kali berturut-turut.
Prancis berambisi besar mengembalikan Piala Jules Rimet ke pangkuannya. Apa mau dikata, Presiden Albert Lebrun dan Menteri Pendidikan Nasional Jean Zay jadi saksi kekalahan Prancis dari Italia, 1-3, pada perempat final di Stadion Colombes, Paris - yang baru selesai diperbesar hingga menampung 60.000 penonton.
|
|
|
|---|
Jatah Asia jatuh kepada bekas peserta Olimpiade Helsinki 1926, Dutch East Indies alias Hindia Timur jajahan Belanda, yang tak lain Indonesia. Nama-nama seperti Mo Heng, Hu Kom, Samuels, Nawir, Meng (kapten), Hong Djin, Soedarmadji, Pattiwael, Anwar, Sommers, dan Taihuttu menunjukkan majunya persepakbolaan kita saat itu. Walaupun prestasi itu dibarengi dengan kegiatan klenik dan mistik - yang sampai sekarang tetap ada. Misalnya, penjaga gawang Mo Heng menaruh jimat di sudut gawangnya. Tapi barangkali sang jimat tak siap dalam pertarungan global, terbukti gawang tetap bobol enam kali tanpa balas oleh Hungaria.
Setelah perhelatan Prancis, dunia dilanda Perang Dunia II. Kejuaraan terhenti, dan baru diadakan lagi di Brasil, 1950.
Jerman bangkit dari reruntuhan perang
Usai perang, Jerman dikucilkan, Rusia menutup diri, dan Hungaria berada di balik jeruji besi. Britania Raya bergabung kembali ke FIFA, namun hanya Inggris yang datang. Uruguay tak jelas karena 20 tahun absen. Satu-satunya favorit adalah tuan rumah, yang ngebut membangun gelanggang berkapasitas 200.000 penonton di Rio De Janeiro. Meski sistem kompetisi diberlakukan, tak lagi gugur, warga menuntut Brasil harus selalu menang. O Brasil Ha De Ganhar (Brasil Harus Menang).
Air mata 199.854 penonton Stadion Maracana, 16 Juli 1950, terasa masih membasahi buku sejarah, saat Brasil takluk 1-2 dari Uruguay. Yang menyakitkan bukan karena pesona nasional gagal diwujudkan jadi juara, tetapi karena semula Uruguay tak mau ikut kejuaraan dan baru berangkat setelah dibiayai oleh Brasil.
Tahun 1954, Swis jadi penyelenggara, dengan peserta cukup lengkap dan merata. Turnamen ini mulai bergema secara global karena selain diliput oleh 1.500 wartawan, televisi mulai hadir. Dunia menyaksikan superioritas Hungaria. Pemain ditempa dengan tangan besi oleh pelatih Gyula Mandi dan diawasi Wakil Menteri Olahraga Gustav Sebes. Hasilnya, "Puskas, Kocsis, Hidegkuti, dan Czibor bagaikan makhluk planet lain," kata Ted Burgin, kiper kedua Inggris. "Mereka menggabungkan atraksi dan seni bola gaya lama dengan kecepatan dan kekuatan ala sepakbola modern."
Hungaria tak pernah kalah dalam empat tahun. November 1953 menaklukkan Inggris 6-3 di Stadion Wembley, mematahkan rekor Inggris yang tak pernah kalah di kandangnya selama 50 tahun. Sebelum grand final, Hungaria membukukan selisih gol 25-7 dari empat pertandingan, termasuk mengalahkan Jerman, lawannya di final, 8-3. Jerman yang bangkit dari reruntuhan perang, lolos karena menang dalam play-off melawan Turki 7-2. Menapak sampai ke final, bahkan akhirnya menang atas Hungaria 3-2.
Menurut para pengamat, Jerman juara karena keperkasaan Hungaria telah habis. Sebab di putaran kedua, tim terbaik ini tawur habis-habisan dengan Brasil sebelum menang 4-2. Insiden yang disebut Pertempuran Berne (The Battle of Berne) itu menjadi catatan hitam sejarah sepakbola. Wasit Arthur Ellis asal Inggris memutuskan 42 tendangan bebas, dua penalti, mengeluarkan tiga pemain, dan tak bisa apa-apa saat polisi masuk lapangan. Pemain baku pukul sampai ke ruang ganti. Sebuah ironi memedihkan di ibukota negara demokrasi tertua di dunia (sejak 1291).
Di Swedia, empat tahun kemudian, kejuaraan diwarnai pesona pemuda kulit hitam umur 17 tahun asal Brasil, yang hanya dikenal dengan sebutan Pele. Di final, 29 Juni 1958, dua golnya membawa Brasil jadi juara dengan memukul tuan rumah 5-2.
Kalau tahun 1950 Brasil tuan rumah tapi tidak juara, dan justru di Swedia, 1958, keberhasilan itu diraih sekaligus jadi negara pertama yang memenangi kejuaraan di benua berbeda, tahun 1962 di Cile dominasi Brasil sangat terbukti. Di final, 17 Juni 1962, Brasil menaklukkan tim tangguh Cekoslowakia, 3-1.
Tahun 1966 giliran Inggris menjadi penyelenggara. Tuan rumah menang di antara 16 peserta, jumlah yang ditetapkan FIFA sejak Piala Dunia Swis 1954. Namun kemenangan itu dinilai tidak istimewa karena di final, saat mengalahkan Jerman Barat 4-2 lewat perpanjangan waktu, gol kedua dari hat-trick pemain West Ham Geoff Hurst dinilai kontroversial karena berasal dari pantulan ke tiang gawang dan kembali ke arena.
Korea Utara justru istimewa. Negeri ini maju ke putaran kedua setelah "memulangkan" Italia dengan kemenangan 1-0 lewat gol tunggal Pak Doo Ik.
Ketika Piala Dunia digelar di Meksiko, 1970, Italia datang untuk menebus kegagalan di Inggris. Memang berhasil sampai ke final, namun membentur tim super Brasil yang kembali diperkuat Pele yang empat tahun sebelumnya cedera. Brasil menang 4-1. Karena telah tiga kali merebut Piala Jules Rimet, Brasil berhak memiliki selamanya. Maka FIFA membuat piala baru untuk diperebutkan di Jerman Barat, 1974. Sejak itu dikenal istilah Piala Dunia, yang juga berlaku untuk nama resmi turnamen.
Di Jerman Barat, 1974, Pele pensiun, tetapi muncul Johan Cruyff dari Belanda dengan total football-nya. Tuan rumah kalah dari tetangganya, Jerman Timur, 0-1, tetapi tim asuhan Helmut Schoen itu lolos juga ke putaran ke-2.
Belanda mengingatkan orang pada Hungaria tahun tahun 1954. Mencapai final dengan selisih gol 14-1 dari enam pertandingan, namun akhirnya kalah 1-2 dari tuan rumah. Kesedihan para pemuja permainan indah seperti terjadi di Berne, 20 tahun lalu setelah kekalahan Hungaria, terulang kembali.
Tangan Tuhan dan tangan-tangan pertahanan
Di final Piala Dunia Argentina, 1978, kecemerlangan Belanda masih tersisa, walau tak lagi diperkuat Cruyff dan kalah dari tuan rumah 1-3 lewat perpanjangan waktu. Tak ada negara Eropa yang mampu merebut gelar di benua Amerika Latin, namun tesis bahwa tim terbaik tak selalu juara, makin terbukti.
Piala Dunia Spanyol 1982 disesali karena didominasi pola permainan bertahan. Walau jumlah peserta ditambah menjadi 24 negara, keindahan sepakbola pudar. Italia juara setelah sukses menerapkan sistem pertahanan gerendel catenaccio. Tim asuhan Enzo Bearzot ini mengulang kejayaan tahun 1934 karena didukung pemain yang baru bebas dari sanksi suap.
Piala Dunia Meksiko 1986 tak juga menarik. Argentina juara (mengalahkan Jerman Barat 3-2) setelah dicemari "gol tangan Tuhan" Maradona saat mengalahkan Inggris 2-1 di perempat final.
Tahun 1990 di Italia, banyak kemenangan ditentukan oleh adu tendangan penalti. Tangan-tangan tak kelihatan ikut menentukan gaya bertahan, sehingga peserta lebih memilih asal tidak kalah daripada menang. Jerman Barat di bawah asuhan Franz Beckenbauer, kapten tim ketika merebut Piala Dunia 1974, jadi juara di saat gaya defensif dinilai menguntungkan. Apa pun alasannya, Jerman Barat terbukti tim paling tangguh sejak Perang Dunia II.
Pemuja gaya sepakbola menyerang kecewa. Cesar Luis Menotti, pelatih ketika Argentina juara dunia 1978, mengkritik keras hilangnya seni dan atraksi sepakbola. Ketika hal ini disadari pada turnamen di AS, 1994, banyak tim tak punya nyali menghadapi Brasil. Italia, yang susah payah ke final, pun sangat defensif sebelum kalah adu tendangan penalti, 4-5. Final di Los Angeles, 17 Juli 1994, dinilai final terburuk dalam sejarah Piala Dunia.
Prancis, penyelengara tahun 1998, memulai kampanye dengan keprihatinan. Meski FIFA menambah jumlah peserta menjadi 32 negara, dan tuan rumah bertekad mengakhiri abad ini dengan mengembalikan lambang supremasi ke kandangnya, prestasi minim pada empat Piala Dunia sebelumnya tetap menghantui. Sepakbola dunia memang telah berubah, namun Michel Platini dkk. tak mau larut dalam perubahan yang memalukan itu. (Mayong S. Laksono)