Kalau sudah turun temurun menderita lapar, padahal tidak mungkin beringsut untuk berburu karena tidak diberi kaki tangan, apa yang dilakukan sebatang tanaman? Ya menyamun!
Kurang lebih itulah yang terpaksa dilakukan oleh periuk hantu Nepenthes reinwardtiana, kantong semar N. boschiana, daun kendi N. ampullaria, dan nepenthes-nepenthes yang lain.
Bukan bunga
Tidak begitu jelas, bagaimana riwayatnya dulu, kok sampai ia terdampar di daerah miskin yang tanahnya kekurangan nitrat dan fosfat. Ia tidak dapat membuat makanan sendiri seperti tanaman sopan yang lain, lalu mencari jajan nitrat dan fosfat dari tubuh binatang.
Sosok tubuhnya memang aneh. Dari batang yang muncul di atas tanah tumbuh dua macam daun yang berbeda tugas. Daun yang masih dekat dengan pangkal batang masih tetap pipih seperti daun biasa dengan warna hijau juga. Kerjanya juga normal, membuat tepung dan gula dari adonan karbondioksida dan air. Pengolahannya dilakukan dengan kompor hijau daun, di dapur fotosintesis, dengan bantuan penuh dari toko "Sinar Matahari".
Itu kalau ia memang tumbuh di kawasan yang masih lumayan menyediakan nitrat dalam tanah. Pada saudara-saudaranya yang tumbuh di daerah miskin seperti tepi rawa yang penuh gambut di Sumatra dan Kalimantan, atau di rawa-rawa bekas kawah gunung berapi padam, daun yang dilukiskan di atas tidak tumbuh normal. Tugas pencarian makanan diserahkan kepada daun di ujung tangkai, yang sudah berubah menjadi penjebak binatang. Inilah tanda yang terang benderang bahwa tanaman itu hidup di bawah garis kemiskinan.
Kantong mereka bisa bermacam-macam bentuknya, mulai dari yang panjang langsing (sehingga disebut kantong), gembrot dan gendut (sehingga dipanggil periuk), sampai ke berbagai bentuk antaranya (sehingga disebut kendi), tetapi rata-rata tidak jauh bedanya dengan piala untuk minum.
Kantong ini bukan bunga, tetapi daun. Daging daun di kedua sisi tulangnya melengkung, saling mendekatkan tepian mereka sehingga membentuk tabung, kecuali tepian di ujung yang dibiarkan terbuka membentuk lubang. Ujung ini juga mempunyai bagian yang melebar untuk membentuk tutup.
Mula-mula tutup masih menutupi lubang kantong betul-betul, tetapi setelah dewasa, ia membuka ke atas. Tidak berarti bahwa ia membuka terus-menerus. Terkadang ia menutup kembali untuk mencegah jangan sampai proses pencernaan hasil penangkapan diganggu oleh "musuh-musuh" dari luar yang ikut nimbrung mencopet makanan.
Sebaliknya, tutup akan terbuka lebar pada siang hari, untuk menguapkan kebanyakan air hujan dari malam sebelumnya.
Ternyata ada yang kebal
Dari jauh, kantong itu menarik perhatian, bukan karena keindahannya, tapi karena keanehannya. Dinding luarnya penuh becak-becak merah dengan latar belakang kuning. Kalau ada semut atau lalat mendekat, dan kecele melihat kantong cuma begitu warnanya, ia akan tertarik oleh bau manis yang menyengat hidung (andaikata mereka mempunyai hidung).
Bau itu berasal dari deretan kelenjar pada bibir lubang kantong. Ada apa kok menyebar bau manis segala? Apa ada timbunan madu? Ah, belum sampai bisa menjawab teka-teki, semut (atau lalat) sudah terpeleset karena bibir kantong memang licin. Ia mencoba naik melalui dinding yang kelihatannya kering, tapi bagaimana mungkin bisa keluar, kalau setelah mencapai tepi lubang ia terpeleset lagi karena bagian itu licin terus!
Sesudah empat lima kali sia-sia mencoba membebaskan diri dari lubang maut, biasanya semut (atau lalat) kehabisan tenaga dan tenggelam pasrah untuk selama-lamanya. Oleh enzim pemecah protein yang dikeluarkan deretan kelenjar pada dinding kantong, bangkainya dicernakan untuk diserap senyawaan nitrogen dan garam fosfatnya.
Tidak hanya serangga kicit yang menjadi korban. Kantong Nepenthes rajah dari Kalimantan bisa kemasukan anak burung atau tikus piti. Panjang kantongnya memang bisa sampai 30 cm.
Tetapi juga tidak semua binatang kicit bisa dijebak. Ada yang ternyata bisa menyesuaikan diri dan hidup nebeng dalam kantong, seperti laba-laba Thomisus callidus misalnya. Kalau bosan hidup dalam penjara kantong, ia bisa keluar untuk keluyuran mencari jajan di luar, tanpa terpeleset masuk jurang basah. Laba-laba yang nepentefil (demen nepenthes) ini agak berbeda dengan keponakan-keponakannya yang nepentebion (penghuni nepenthes) yang memang sudah berniat menghuni kantong seratus persen, tidak mau pergi ke tempat lain lagi. Misalnya laba-laba Misumenops nepenthicola.
Ia menyusun jaring penjebak di tepi lubang kantong bagian dalam yang tidak meliputi seluruh permukaan lubang, tapi hanya separonya. Kalau ada serangga yang masuk lewat sisi lubang yang dibentangi jaring, itu menjadi bagian untuk laba-laba. Tetapi kalau ada serangga yang masuk lewat sisi lubang seberangnya yang tidak dibentangi jaring, itu bagian untuk periuk hantu.
Laba-labanya biasanya nongkrong di atas jaring penjebak menunggu mangsa, tetapi kalau terancam, ia bisa mengundurkan diri ke dalam air, tanpa cedera terkena enzim. Tubuhnya dilindungi lapisan khusus antipeluru pistol air (kelenjar) enzim.
Apa gunanya?
Dulu tanaman aneh ini hanya kita pandang sebagai makhluk aneh-anehan hutan belantara saja, tanpa ada manfaat bagi umat manusia, kecuali pemberi gengsi sebagai tanaman koleksi eksklusif. Memang kemudian ada suatu masa dulu, yang membuat para pecinta tanaman hias demam memelihara kantong eksotis ini dalam pot berisi kompos berupa campuran lumut Sphagnum dan gambut yang diberi beberapa buah arang kayu.
Jenis yang dipelihara tidak hanya satu dua, tapi puluhan. Ditambah lagi dengan hibrida hasil silangan yang lebih bagus aneka warnanya. Bunga nepenthes yang tersusun dalam tandan memang aneh panjangnya, sampai bisa memuat belasan bunga jantan di bagian bawah tangkai dan satu bunga betina yang nongkrong di singgasana puncak.
Kebetulan kebanyakan hibrida yang diciptakan itu tidak sulit pemeliharaannya, dalam rumah kaca yang dipanas-panasi dan dilembapi untuk mempertahankan suhu sekitar 21 - 27oC di musim panas dan 18oC di musim dingin.
Ternyata tidak hanya itu kegunaan periuk hantu. Sejak ada cerita tentang dua orang penjelajah dengan monyet piaraannya yang jinak terdampar hampir mati karena kehausan di tanah gersang Sri Lanka bagian selatan (dan sedang menunggu ajal di bawah pohon yang sama merananya), kita mulai percaya bahwa semua tanaman ciptaan Tuhan itu pasti ada gunanya di alam tempat tinggalnya. Kalau tidak untuk menyelamatkan jiwa manusia yang belum waktunya mati, juga kadang untuk meracuni orang yang sudah jatuh tempo.
Monyet piaraan dua orang sekarat (yang dituturkan oleh Knight dan Step dalam The Living Plant) itu tiba-tiba mencium bau manis dari sekelompok periuk hantu yang penuh dengan air. Mereka tidak jadi dijemput el maut karena minum air dari periuk itu.
Di Maluku, air daun kendi juga sudah lama dimanfaatkan penduduk tradisional. Tidak untuk membasahi tenggorokan kering, tetapi membasahi tanah Ambone. Kalau musim kemarau dirasakan terlalu panjang, para tetua kampung di sana akan pergi ke hutan tempat tumbuh daun kendi secara rahasia, untuk menuang semua air dari semua kendi yang ada. Menurut sumber kampung yang layak dipercaya, mereka yakin sekali bahwa sesudah air kendi alam ini dituang semua ke bumi, niscaya akan ada air kendi raksasa dari langit yang dituang sebagai hujan.
Di kalangan dukun jamu nenek moyang, air dari daun kendi bisa dimanfaatkan sebagai obat pencegah ngompol. Air itu dituang di atas kepala anak yang menderita ngompol, kemudian sisanya diminumkan. Orang-orang tua pikun yang kerannya tidak bisa disumbat lagi (karena lupa bagaimana caranya), harusnya minum air dari kendi ini. Kalau percaya! (Slamet Soeseno)
Menanam periuk hantu tidak sulit.
|