1. Jurusan Baksologi
  2. Mr./Mrs. van Otten
LISTRIK MATI PASANG SESAJI

Zaman boleh modern, tapi sikap dan perilaku, nanti dulu. Dalam setiap acara yang bersifat umum - peringatan hari besar, mendirikan rumah, atau punya hajat - sering kita melihat adanya pelibatan sesaji di dalamnya.

Saya punya pengalaman lucu berkaitan dengan sesaji ini, ketika menghadiri pesta pernikahan seorang teman wanita di desa beberapa waktu yang lalu.

Peristiwanya terjadi ketika pesta tengah berlangsung, tiba-tiba listrik padam. Seketika keriuhan menggantikan suasana gembira. Ayah teman saya yang punya gawe tentu menjadi cemas dan khawatir. Maka segera ia menemui sesepuh desa yang kebetulan hadir dalam pesta itu.

Dari pembicaraan mereka saya mendengar bahwa listrik padam karena diganggu danyang (jin penunggu desa). "Untuk menghindari ini, pasanglah sesaji di atas genset-nya," kata sesepuh tersebut dengan yakin kepada tuan rumah.

Upacara sesaji pun diadakan dengan dipimpin sesepuh desa. Anehnya, sesaat setelah sesaji dipasang, listrik menyala kembali. Melihat keberhasilan ini, hadirin tak henti-hentinya menggunjingkan kesaktian sesepuh desa.

Tapi ... tiba-tiba saja operator genset menemui tuan rumah sambil minta maaf atas padamnya listrik tadi. Ia menerangkan bahwa semua itu gara-gara ulah anak sesepuh desa, yang diketahui sakit ingatan, mencabuti kabel di ruang operator. "Jadi, bukan karena diganggu danyang, to Dik?" tanya tuan rumah dengan mimik serius.

"Danyangnya, ya anak sesepuh desa itu!" balas sang operator setengah cekikikan. Kontan semua hadirin tertawa, minus sesepuh desa yang entah raib ke mana. (Hari Ismono)