Industri peternakan sebenarnya juga potensial sebagai penyebab penurunan kualitas lingkungan. Hanya karena sebagian besar berada jauh di luar kota, maka penurunan itu kurang begitu mendapat perhatian pers dan masyarakat kota. Padahal limbah yang dihasilkannya sama saja mengganggunya.

Kandang ternak umumnya dibangun di atas tanah milik peternak sendiri, yang hampir selalu berdekatan dengan permukiman. Dari usaha ini dihasilkan limbah berupa kotoran dan sisa pakan ternak.

Kalau yang diusahakan itu hanya satu dua puluh ekor saja, persoalan tidak akan muncul. Kotorannya sedikit sekali, sehingga bisa habis terpakai untuk pupuk tanaman di kebun. Tetapi kalau populasi ternaknya lebih besar, persoalannya jadi lain. Pencemaran oleh kotoran puluhan, ratusan, atau ribuan ternak dalam satu lokasi meminta pemikiran yang lebih serius. Bagaimana cara mengolah kotoran itu agar tidak mencemari lingkungan, tapi justru bermanfaat sebagai pupuk organik?

Indikasi bahwa lingkungan di sekitar peternakan itu sudah mulai tercemar ialah munculnya protes dari masyarakat sekitar yang mempermasalahkan bau yang timbul karena timbunan kotoran banyak itu kekurangan oksigen (dalam udara).

Unsur utama kotoran ternak (yaitu N, P, dan S) menjadi berbahaya karena seringkali berada dalam ikatan senyawaan pencemar lingkungan. Kalau kekurangan oksigen (dari udara segar) karena tertimbun terlalu banyak, N terikat dalam bentuk NH3, yang selain menyengat hidung juga membuat pingsan orang.

Gas lain yang juga bisa dihasilkan oleh kotoran ternak yang kekurangan udara adalah H2S (hidrogensulfida) yang selain berbau menyengat, juga menyebabkan gangguan metabolik sel.

Pada usaha pemotongan ternak seperti ayam, bebek, dan kambing, polutan yang dihasilkan jauh lebih berbahaya lagi. Selain limbah berupa isi perut yang mengandung unsur N, P, dan S, juga tercemar bakteri, jamur, parasit, dan bahkan virus (dari darah). Bila limbah ini dibuang ke saluran umum, tentu saja akan mencemari perairan dan tanah yang dilaluinya. Pada akhirnya juga bisa sampai ke sumur-sumur sumber air bersih bagi penduduk yang bermukim di daerah hilir. Masih segar dalam ingatan, betapa paniknya seluruh negeri, ketika flu burung melanda Hongkong baru-baru ini.

Pertanyaannya, bisakah industri peternakan ini bebas dari cemaran polutan berbahaya itu dan sekaligus aman bagi lingkungan sekitarnya? Seperti pada industri kimia yang lain, industri peternakan pun pada dasarnya bisa dibuat lebih sehat, kalau pelakunya bersungguh-sungguh menangani limbah itu dulu, sebelum membuangnya ke saluran umum. Sayang, di negeri kita tidak ada instansi yang bertugas mengawasi dan mencegah kecelakaan secara dini. Biasanya baru ribut setelah penduduk berunjuk rasa ke DPRD atau Komnas HAM, yang salah alamat.

Yang dapat dilakukan oleh peternak berskala kecil ialah memisahkan kotoran padat dari kotoran cair yang basah. Yang padat dikeringkan dan dijadikan pupuk, yang basah ditimbun dalam kolam untuk dialiri air yang mengandung oksigen agar mengalami oksidasi dulu sehingga tidak berbahaya lagi, dan baru dialirkan ke saluran umum.

Kotoran ayam dikeringkan dengan menabur kapur halus yang bersifat penyerap air. Kalau sudah kering, segera dicampur dengan cacahan jerami sehingga pH-nya normal dan bisa dijual sebagai pupuk. (Khairul Amri)



Ilustrasi: Anton