Dalam mengarungi kehidupan ini, saya mempunyai pengalaman menjalani operasi bedah minor atau operasi kecil. Walaupun tergolong kategori operasi ringan, operasi ini tetap memerlukan pembiusan.
Operasi pertama terjadi 30 tahun yang lalu, yaitu mengangkat benjolan jaringan lemak sebesar telur bebek di daerah kulit kepala bagian belakang. Dokter bedah memberikan pembiusan total selama 20 menit operasi. Pengalaman kedua terjadi 6 tahun yang lalu saat melakukan kateterisasi jantung yang bertujuan untuk memperkirakan apakah saya menderita penyempitan pembuluh koroner jantung atau tidak. Yang kedua ini pembiusan dilakukan secara lokal atau setempat, sehingga sambil melakukan kateterisasi, dokter dapat bercakap-cakap dengan pasien.
Dari kedua pengalaman di atas dapat ditarik beberapa manfaatnya yang mungkin berguna untuk direnungkan. Pembiusan pada operasi pertama dilakukan dengan cara suntikan "praanestesi" yang memasukkan obat bius pentotal sampai saya berhenti menghitung atau mulai tertidur. Selanjutnya diberikan suntikan ketalar sebagai obat anestesi selama operasi. Ketika 10 menit waktu berjalan, dokter mempertimbangkan untuk menambah obat bius lagi. Mungkin keputusan itu diambil lantaran cepatnya nadi dan detak jantung saya. Atau mungkin tensi saya yang meninggi atau gerakan tubuh yang semuanya mengindikasikan timbulnya rasa sakit sewaktu dokter masih memanipulasi "tumor" saya.
Secara subjektif sebetulnya waktu itu saya masih merasakan pedih di daerah sayatan operasi. Namun, saya tidak kuasa mengeluh maupun memberikan isyarat bahwa saya mulai merasa nyeri. Yang jelas, operasi berjalan sukses dan benjolan saya berhasil diangkat.
Pengalaman tindakan operasi yang kedua sedikit lain. Saya meminta dokter melakukan kateterisasi lewat pembuluh nadi di lengan bukannya di paha. Karena letak nadi jauh di bawah kulit, maka perlu sayatan yang cukup dalam. Untuk itu perlu pembiusan lokal dengan obat suntik sejenis procain. Dokter menyuntikkannya sebanyak dua ampul dan menunggu sesaat. Saya diminta ikut mengamati layar monitor, mengikuti bagaimana tabung kateter masuk nadi dan selanjutnya menyusuri pembuluh nadi yang panjang sampai ke dalam bilik dan serambi jantung.
Setelah kira-kira tiga menit menunggu, dokter mulai menyayat kulit dan jaringan lemak bawah kulit untuk mencari nadi lengan. Saya meringis dan menjerit pelan karena sayatan itu menimbulkan kesakitan. Dokter kemudian menunda meneruskan operasi dengan menambahkan suntikan procain sekali lagi. Selanjutnya kateterisasi berjalan sesuai harapan sampai akhirnya tabung dikeluarkan setelah pengamatan diagnostik selesai.
Dengan kedua pengalaman di atas terlihat adanya persamaan dan perbedaan. Persamaannya, ternyata pembiusan dalam operasi belum tentu cukup memenuhi persyaratan "bebas dari rasa sakit". Perbedaannya, pada operasi kedua saya sepenuhnya sadar sehingga ketika kesakitan karena kulit terkena sayatan, saya mengeluh sakit dan meminta diberi tambahan anestesi. Sedangkan pada operasi pertama, saya tidak berdaya walaupun terasa nyeri di daerah operasi. Untungnya dokter cepat tanggap (setelah memonitor gejala objektif misalnya naiknya nadi, tekanan darah, atau kegelisahan saya) dan menambah biusnya.
"Awareness" sebagai mimpi buruk
Saat ini di Amerika sedang ramai dibicarakan suatu gejala yang disebut awareness yang diderita sebagian pasien yang tengah menjalani operasi. Arti kata itu sendiri adalah "kewaspadaan", "kesadaran", atau "kepedulian". Istilah tersebut dipakai oleh para dokter ahli bius atau anasthesiologist yang menggambarkan bahwa terjadinya suatu keadaan "sadar" yang dialami pasien di meja operasi ketika tengah melakukan pembedahan. Secara statistik, Dr. Peter Sebel, ahli anestesi dari Universitas Emory yang dikuitp Time terbitan 3 November 1997 mengungkapkan bahwa dari 20 juta pasien yang dioperasi setiap tahunnya di AS, 40.000 orang mengalami gejala awareness tersebut.
Salah seorang pasien, Andrea Thaler (46) merasakan pedihnya sayatan pisau bedah di daerah lambung saat dokter akan membuka rongga perutnya dalam rangka operasi kandung empedu di rumah sakit kota Nashville, negara bagian Tennessee.
Rupanya, obat bius yang bertujuan untuk pemati rasa dan memberikan juga efek penenang atau menidurkan (sedatif) tidak cukup bekerja secara efektif. Ia sebenarnya mengeluh sakit, tetapi tidak kuasa bicara bahkan tidak mampu memberi isyarat. Obat bius yang diberikan hanya memberikan efek paralitik atau membuat "diam". Akibatnya ia "menikmati" sayatan kulit perut selapis demi selapis dalam rangka "laparotomi" alias membuka ronga perut.
Dalam membius pasien, dokter anestesi memberikan obat-obatan (suntik, hirup, ataupun lewat mulut) yang bertujuan menghilangkan rasa sakit (pain killer), menidurkan, dan membuat tenang (paraytic drug). Pemberian ketiga macam obat itu disebut triangulation. Tentunya, dokter telah mengukur dosisnya sehingga selama operasi (operasi yang cukup besar, bukan minor) ketiga tujuan tersebut tercapai.
Untuk memonitor apakah pembiusan mencapai sasaran yang optimal, biasanya dokter menggunakan teknik yang masih "tradisional" yang bersifat sempit one dimensional, misalnya memantau perubahan tekanan darah atau perubahan tanda-tanda vital (vital sign) lainnya.
Kisah lain yang mengungkapkan tidak efektifnya monitoring tradisional ini diungkapkan oleh Jeanette Tracy, produser TV dari Dallas ketika menjalani operasi hernia. Selain rasa nyeri yang bersumber dari sayatan kulit yang dilukiskan sebagai "membakar" dinding perutnya, ia mendengar cemoohan para petugas kamar operasi yang mengucapkan kata-kata tidak senonoh.
Dari telinga Tracy terdengar ucapan cekikikan dari mereka yang mengatakan bahwa payudaranya masih bolehlah bentuknya bagi seorang ibu yang mempunyai dua anak. Si pasien merasa tidak berdaya untuk menutupi rasa malu dan mengungkapkan amarahnya. Ia ingin menjerit namun tak bisa.
Menanggulangi trauma mental
Masih ada kisah-kisah lainnya yang menurut psikiater Janet Osterman dari Universitas Boston, belum semuanya diungkapkan oleh pasien. Mungkin karena mereka menanggung rasa malu atau kisah mereka nanti dapat menggugah trauma yang sebenarnya harus dihindari, bahkan sedapat mungkin dilupakan. Niatan psikiater tersebut sebenarnya untuk melakukan penelitian yang mengungkapkan gejala awareness yang dialami pasien bedah di universitasnya. Namun niat baiknya ini tidak kesampaian karena ternyata cukup banyak pasien yang menolak kalau keluhan-keluhannya dipublikasikan.
Dr. Osterman menyimpulkan, para pasien bedah yang mengalami trauma mental ini menanggung gejala kelainan medis yang disebut Post Traumatic Disorder, suatu gangguan trauma mental. Kelainan ini ternyata memakan waktu cukup lama untuk dapat disembuhkan. Gejala yang sering timbul ialah, sulit melupakan pengalaman traumatis di meja operasi, rasa takut yang tidak wajar, dan seringkali gejala insomnia alias gangguan sulit tidur.
Gejala insomnia ini sebenarnya dapat diterangkan dengan pendekatan psikodinamika, bahwa alam bawah sadar mereka dibayangi perasaan "takut tertidur". Bagi mereka, tidur seakan-akan analog dengan suatu proses "pembiusan" yang selanjutnya, sesuai dengan pengalaman yang pernah dialami, bakal menghadapi gejala awareness, yang disusul dengan ketakutan terhadap rasa nyeri atau dipermalukan.
Kekhawatiran calon pasien bedah rupanya ada harapan untuk terobati di masa datang. Dalam pertemuan tahunan sekitar bulan Oktober 1997, Persatuan Dokter Ahli Anestesi Amerika ditawari suatu alat sebesar mesin pembakar roti yang disebut Bispectral Index Monitor yang akan memberi peringatan bahwa pasien yang sedang dioperasi mengalami gejala awareness atau menjelang "bangun dari tidurnya".
Penemu alat tersebut adalah Dr. Nassib Chamoun, seorang dokter ahli saraf (neurologist) asal Yordania. Dengan menggunakan prinsip kerja dari alat yang sudah ada, yaitu piranti yang disebut EEG (Electro Encephalography). Alat yang ditemukan Dr. Chamoun itu mampu memonitor potensial listrik yang ditimbulkan oleh aktivitas "jaringan otak manusia".
Alat ini dapat menunjukkan derajat kondisi kesadaran pasien yang sedang menjalani suatu pembedahan. Angka "100" menunjukkan pasien dalam keadaan "sadar sepenuhnya". Bila jarum menunjukkan angka "60" berarti pasien dalam kondisi "siap untuk dioperasi". Angka "0" menandakan pasien mengalami "koma yang dalam".
Dengan mengamati derajat kesadaran dari alat ini, dokter anestesi dapat menambahkan obat pembiusan apabila diperlukan, atau memberikan dosis maintenance kepada pasien yang telah mengalami kondisi ideal untuk dilakukan operasi. Disamping itu, dokter bedah dapat dengan tenang menyelesaikan operasinya sesuai rencana yang telah ditetapkan.
Kini kita hidup dalam era yang memungkinkan masyarakat melakukan tindakan "tuntut-menuntut" di semua jajaran profesi, termasuk profesi kedokteran. Kiranya sudah waktunya untuk perlu dipikirkan penggunaan alat monitor yang seperti disebutkan di atas di setiap kamar bedah rumah sakit-rumah sakit di negara kita sehingga kesejahteraan fisik dan mental pasien dapat dicapai. Para dokter pun dapat mengembangkan profesinya dengan tenang. (Dr. Suryanto)
|