Ketika musim hujan tiba dan banjir melanda, biasanya muncul wabah diare di kawasan itu. Penderita jadi gelisah dan sebentar-sebentar ke kamar kecil. Tetapi yang lebih mengkhawatirkan, banyak cairan ikut terbuang bersama hajat besar itu. Apalagi kalau "insiden" ini berlangsung lama, bisa-bisa penderita mengalami kekurangan cairan tubuh atau dampak lain yang lebih fatal. Menurut catatan, setiap tahun terjadi kematian akibat diare sekurang-kurangnya pada 135.000 anak balita dan 40.000 kematian dari kelompok umur di atas lima tahun, termasuk dewasa. Diare merupakan gejala infeksi saluran pencernaan yang ditandai dengan bertambahnya
frekuensi buang air besar lebih dari biasanya, disertai perubahan bentuk dan konsistensi
tinja. Pada keadaan sehat, buang air besar tapi kecil ini maksimal tiga kali dengan jumlah
feses berkisar 100 - 300 g per hari. Bila jumlahnya lebih dari itu akibat banyaknya air
dalam tinja, itu tandanya diare terjadi. Dehidrasi dan shock
Menurut gangguan faalnya, diare bisa terjadi akibat dorongan di dalam usus normal yang terlalu cepat gara-gara rangsangan saraf yang tidak normal (umpamanya pada keracunan mecholyl), pengaruh zat kimia terhadap gerakan usus yang abnormal (seperti pada sindroma karsinoid), atau iritasi pada usus (misalnya akibat pemakaian oleum resini atau minyak jarak). Diare bisa pula terjadi akibat gangguan pencernaan makanan gara-gara hilangnya fungsi penyimpanan dari lambung, misalnya insufisiensi sepanjang usus. Atau, akibat penyerapan yang tidak normal pada pencernaan makanan, misalnya kalau terjadi penyakit pada usus. Sedangkan berdasarkan serangannya, diare dibedakan atas diare akut dan kronis. Yang akut gejalanya berlangsung kurang dari dua minggu, yang kronis lebih dari itu. Diare yang tak berkesudahan bisa menyebabkan penderita kehilangan cairan dan elektrolit dalam tubuh. Akibatnya, terjadi dehidrasi, bahkan shock (tidak sadarkan diri) bila penurunan bobot badannya lebih dari 15%. Untuk menanggulanginya dikenal dua bentuk pengobatan, yakni spesifik dan nonspesifik. Pengobatan spesifik dilakukan dengan memberikan antibiotik spesifik setelah diketahui penyebabnya lewat pemeriksaan laboratorium. Sedangkan pengobatan nonspesifik ditempuh dengan memberikan cairan dan elektrolit, serta pemberian zat kimia bukan antibiotik yang bekerja nonspesifik dalam pengobatan infeksi akut, misalnya dengan memberikan kaolin, pektin, atau loperamid. Mengingat harga obat-obatan yang selangit, pengobatan juga bisa dilakukan menggunakan tanaman tertentu. Tercatat ada 117 tanaman yang digunakan masyarakat, terutama di pedesaan, untuk menyetop diare. Namun, hanya 21 tanaman yang telah diteliti daya antidiarenya, 33 tanaman diteliti daya antibakterinya, dan 29 tanaman telah diteliti pengaruhnya terhadap usus. Hasilnya, tanaman-tanaman itu berkhasiat dan aman. Sebagian di antaranya adalah jambu biji, daun salam, lempuyang gajah, dan daun katu. Beberapa zat aktif yang mampu menghentikan diare ditemukan di dalamnya. Di antaranya, minyak asiri, alkaloid, flavonoid, tanin, dan pektin. Zat aktif itu berperan sebagai antibakteri, absorbent (pengelat atau penetral racun), astrengent (melapisi dinding mukosa usus terhadap rangsangan isi usus), dan antispasmolitik (kontraksi usus). Berkat tanin Hasil penelitian in vitro terhadap kontraksi usus dengan menggunakan usus marmut menunjukkan, rebusan daun jambu biji konsentrasi 5%, 10%, dan 20% dapat mengurangi kontraksi usus halus (Natsir, 1986). Sedang penelitian terhadap kemampuan rebusan daun jambu biji dalam menghambat pertumbuhan bakteri Escherichia colli dan Staphylococcus aureus menunjukkan, kadar terendah 2% dapat menghambat pertumbuhan S. aureus dan dalam kadar 10% dapat menghambat pertumbuhan E. colli. Hasil penelitian itu dapat digunakan sebagai dasar penggunaan daun jambu biji sebagai obat diare akibat infeksi (Yuniarti, 1991). Zat aktif dalam daun jambu yang dapat mengobati diare adalah tanin. Dalam penelitian terhadap daun kering jambu biji yang digiling halus diketahui, kandungan taninnya sampai 17,4%. Makin halus serbuk daunnya, makin tinggi kandungan taninnya. Senyawa itu bekerja sebagai astrengent, yaitu melapisi mukosa usus, khususnya usus besar. Tanin juga menjadi penyerap racun dan dapat menggumpalkan protein. Untuk memanfaatkan jambu biji sebagai obat diare dapat dilakukan dengan merebus 15 - 30 g daun kering jambu biji dalam air sebanyak 150 - 300 ml. Perebusan dilakukan selama 15 menit setelah air mendidih. Hasil rebusan disaring dan siap untuk diminum sebagai obat diare. Bila ingin memanfaatkannya dalam bentuk segar, diperlukan 12 lembar daun segar, dicuci bersih, ditumbuk halus, ditambah ½ cangkir air masak dan garam secukupnya. Hasil tumbukan diperas, disaring, lalu diminum. Supaya terasa enak, ke dalamnya bisa ditambahkan madu.
Bahan lain yang juga cukup dikenal dan memiliki kemampuan mengusir diare adalah daun salam (Eugenia polyantha Weight.). Bahkan daun yang dikenal sebagai bagian bumbu dapur ini telah lama dikenal masyarakat kita sebagai obat diare alami. Tanaman salam mengandung tanin, minyak asiri dengan sitral dan eugenol di dalamnya, serta flavonoid. Selain daun, kulit pohon dan buah juga bisa digunakan sebagai obat diare. Dalam penelitian menggunakan hewan percobaan kelinci terbukti, rebusan daun salam dapat menurunkan kontraksi otot polos usus. Penelitian menggunakan tikus yang sengaja dibuat diare dengan pemberian minyak jarak oleh Adjirni (1996) juga membuktikan, infus 90 dan 270 mg/100g bobot badan (BB) telah menunjukkan efek antidiare. Efek ini sebanding dengan loperamid 0,12 mg/100 g BB. Efek antidiare daun salam ini muncul berkat kandungan tanin di dalamnya. Penelitian lain menguji daya antibakteri minyak asiri daun salam dengan menggunakan bakteri E. colli dan S. aureus. Dari penelitian diketahui, pengaruh buruk E. colli bisa dihambat dengan konsentrasi minimal 40% dan terhadap S. aureus pada kadar 50%. Untuk membuat obat diare dari daun salam diperlukan 10 lembar dauan setengah tua dan dua jari tangan kulit pohonnya. Bahan dicuci dan direbus di dalam dua gelas air hingga tinggal dua per tiganya. Sesudah dingin, diminum dengan madu secukupnya. Dosisnya, 2 - 3 kali sehari, masing-masing ¾ gelas. Menghambat bakteri Menurut hasil penelitian, seduhan (infusum) lempuyang gajah dapat menurunkan kontraksi otot polos usus kelinci. Penurunan kontraksi otot polos usus itu menunjukkan, lempuyang gajah dapat dipakai sebagai obat diare yang disebabkan oleh kontraksi otot polos usus yang kuat, misalnya akibat rangsangan zat kimia, protein asing, atau mikroba (Sumastuti, 1996). Penelitian antidiare menggunakan tikus yang dibuat diare dengan memberikan minyak jarak, juga dilakukan oleh Saroni dkk. Hasilnya menunjukkan, infus 37,6 mg/100 g BB telah menunjukkan efek antidiare. Sedangkan pada dosis 376 mg/100 g BB efeknya sebanding dengan loperamid 0,12 mg/100 g BB (Saroni dkk., 1997). Sedangkan penelitian daya antibakteri dari minyak asiri lempuyang gajah terhadap bakteri penyebab diare, yaitu E. colli dan Vibrio cholera, menunjukkan lempuyang gajah dapat menghambat pertumbuhan bakteri itu, sehingga penggunaan rimpang ini beralasan sebagai obat diare (Sabu, E.K. dkk., 1996). Daun katu tak hanya berkhasiat sebagai pelancar ASI (air susu ibu), tetapi juga memiliki kemampuan mengobati diare. Daun katu mengandung protein, lemak, kalsium, fosfor, besi, vitamin A, B, dan C, senyawa steroid, polifenol. Ekstrak alkoholik daun katu dengan konsentrasi 25%, 30%, 35%, dan 40% dapat menghambat pertumbuhan bakteri Salmonella thypi, sehingga dapat dikatakan daun katu mempunyai khasiat sebagai obat diare. Penelitian lain dengan menggunakan hewan tikus putih yang dibuat diare dengan minyak jarak membuktikan adanya efek antidiare pada dosis 85, 225, dan 850 mg/100 g bobot badan (Wien, 1997). Sayangnya, cara menggunakan dan dosis penggunaan lempuyang gajah dan daun katu untuk manusia secara pasti masih belum ditemukan. Kalau pun ada, biasanya dosis itu ditemukan berdasarkan pengalaman menggunakan cara rebusan atau seduhan. Yang perlu diingat, tanaman obat apa pun yang dipilih untuk menyembuhkan diare
sebaiknya penggunaannya dilakukan dengan bijaksana. Penggunaannya juga diutamakan hanya
untuk orang dewasa, remaja, dan anak-anak. Bila setelah mengupayakan penyembuhan dengan
tanaman obat selama tiga hari belum menunjukkan hasil, sebaiknya penderita segera dibawa
ke dokter atau ke rumah sakit. (M. Wien Winarno, peneliti pada Puslitbang Farmasi,
Balitbang Kesehatan, Departemen Kesehatan RI)
|