logo_intisari.gif (21344 bytes) by_product.gif (6556 bytes)Pasang iklan Anda
bulan_no.jpg (5187 bytes)

kiat_belanja.jpg (8856 bytes)BELANJA TAKTIS DI MASA KRISIS

Saat inflasi mencapai dua digit seperti sekarang, rakyat juga yang menderita. Harga barang melonjak-lonjak, tapi pendapatannya tetap. Akibatnya, penghasilan tidak lagi cukup untuk memenuhi berbagai kebutuhan. Bagaimana menyiasatinya?

Anda termasuk kategori orang yang mudah tergoda untuk berbelanja? Dalam salah satu makalah yang dimuat Jurnal Riset Pemasaran Kualitatif, diungkapkan fenomena dorongan berbelanja yang impulsif, dadakan.

Ada empat jenis pembelanja dadakan ini. Pertama, tipe kompensatif. Contohnya, orang yang punya selemari penuh pakaian yang belum dipakai dan jajaran sepatu baru. Semua barang itu dibeli untuk meningkatkan rasa harga diri, pelarian dari masalah pekerjaan, rumah, dan keluarga.

Tipe kedua adalah yang selalu tergoda untuk belanja di musim obral, meski barang baru akan dipakai beberapa bulan lagi. Kelompok akseleratif ini terlalu bersemangat mengantisipasi kebutuhan di masa depan.

Bagaimana dengan orang yang semula cuma jalan-jalan ke mal, begitu pulang sudah menandatangani kontrak pembelian rumah atau mobil baru? Ini kelompok terobosan, yang membeli barang mahal tanpa rencana. Biasanya, tindakan membeli itu melambangkan dimulainya suatu babak baru dalam kehidupannya. Walau diakui, hasrat memiliki barang itu sudah lama ada.

Tipe terakhir - ini yang paling sulit dimengerti - adalah kelompok jenis pembeli buta, yang membeli tanpa pertimbangan sama sekali.
Meski semua pembeli tipe dadakan ini selalu akan merasa bersalah, namun ada juga yang kemudian mencoba menemukan alasan rasional di balik ulahnya. Alasan rasional itulah yang sering dimanfaatkan oleh penjual, yang tidak jarang cukup ampuh untuk membangkitkan dorongan membeli, demi kepuasan diri belaka.

Rayuan sekaligus tekanan
Salah satu kiat pedagang membujuk konsumen secara efektif adalah dengan iklan. Namun, besar jugakah manfaat iklan bagi konsumen? Sangat diragukan, sebab sedikit sekali iklan berisi informasi yang benar dan tepat. Padahal iklan berakibat langsung pada naiknya harga.

Kunci tindakan ekonomis adalah jangan memperhatikan iklan, kecuali berisi informasi yang berguna, misalnya kandungan bahan dan harga. Tetaplah berpatokan pada harga dan kualitas yang telah kita tentukan.

Calon konsumen harus memahami, salah satu trik iklan adalah bahasa rayuan. Ada yang memancing untuk membahagiakan diri sendiri. Misalnya, "Manjakan diri Anda setelah lelah dengan berbagai urusan kantor, pekerjaan rumah tangga, dan anak". Contoh lain, membandingkan belanja seseorang dengan pengeluaran pasangannya, "Bila pasangan Anda memakai uang untuk pakaian, kosmetika, dan merawat rambut, bagaimana dengan Anda?"

Hati-hati juga dengan iklan yang menyebut konsumennya ekonomis dan rasional bila membeli produknya. Perhatikan saja, bujukan ini biasanya justru mematok harga yang lebih mahal.

Namun, trik yang paling banyak dipakai dan efektif memancing konsumen adalah permainan harga. Salah satunya mematok harga dengan angka ekor 99 atau 88, misalnya Rp 999,- atau Rp 988,-. Konsumen jadi berpikir, harga barang cuma Rp 900,- bukan Rp 1000,-. Padahal, nilainya lebih dekat ke Rp 1000,-.

Permainan lain adalah jumlah ganda. Sering pengecer mengemas produk yang harganya Rp 2.000,-/buah menjadi Rp 20.000,-/kemasan berisi 10 buah, bahkan didiskon 5% menjadi Rp 19.000,-. Tujuannya, agar perputaran stok jadi lebih cepat. Konsumen yang cuma perlu 1 - 2 buah terdorong membeli 10 buah. Jika tidak perlu sebanyak itu, jangan membeli meski harganya sedikit lebih murah. Selain itu, orang cenderung boros bila banyak persediaan di rumah.

Sedangkan harga kombinasi yang sering dipakai berupa paket di restoran. Misalnya, satu paket berisi burger, kentang goreng, dan minuman. Kalau dihitung, harganya sering tidak jauh lebih murah dibanding kalau membeli per satuan. Terlebih kalau yang diperlukan cuma burger dan minuman. Jadi, sebaiknya membeli per satuan sesuai kebutuhan. Hal yang sama berlaku pula untuk kampanye "Beli 1 Gratis 1".

Waspadai tawaran harga murah yang sering dipakai untuk memancing calon pembeli. Begitu konsumen datang, penjual menjawab, produk itu sudah habis, atau mutunya buruk. Lalu ditawarkan produk lain yang lebih mahal.

Pernahkah Anda kerepotan menghadapi cecaran pramuniaga? Hal itu sengaja dilakukan agar konsumen tidak sempat berpikir panjang sehingga batal membeli. Sebelum menyesal karena membeli barang yang kurang penting atau membuang uang secara percuma, sisihkan waktu untuk bertanya pada diri sendiri, seberapa perlu produk itu. Pertimbangkan juga layanan purnajual serta kualitas.

Cara demikian banyak diterapkan berupa penjualan langsung ke rumah (direct marketing). Kelebihannya, selain penjual lebih mudah memperagakan, suasananya pun santai karena bebas gangguan dari pramuniaga atau pengunjung lain. Calon konsumen pun mudah terbujuk setelah melihat langsung kelebihan produk; hal yang tak mungkin dilakukan dalam penjualan via katalog, media TV, dan iklan komersial.

Lain lagi dengan toko eceran (ritel). Mereka memaksimalkan tata ruang sebagai iklan, khususnya untuk produk pakaian, peralatan, dan toko diskon. Tata ruang yang menarik membuat konsumen menghabiskan lebih banyak waktu di toko, melihat makin banyak barang, memperhatikan barang-barang murah (meski kurang dibutuhkan), dan akhirnya membeli secara impulsif.

Agar mencolok, produk biasanya ditata dekat pintu masuk - misalnya minuman ringan yang disusun membentuk piramida di tengah jalan - atau meletakkan produk setinggi pandangan mata. Cara lain dengan menaruh rak berisi permen karet, rokok, permen, dan majalah di pintu kasir dengan harapan konsumen serta merta mengambil. Sedangkan barang obral biasa dipasang di dekat jalan keluar dengan harapan konsumen akan membeli satu dua buah, selagi murah. Itulah sebabnya susu, daging, dan sayur-mayur dipajang di belakang.

Alternatif pilihan
Banyak orang membelanjakan uang tanpa menimbang hal lain apa yang didapat dengan uang itu. Banyak konsumen cepat memutuskan ingin sesuatu dan langsung membeli, meski berhutang.

Ekonom menyebutnya opportunity cost. Misalnya, kita punya tiket gratis untuk menonton sirkus, tapi di saat bersamaan kita bisa menonton pertandingan sepakbola di TV. Jika memilih menonton sirkus, kita akan kehilangan kesempatan nonton sepakbola plus biaya transportasi ke sirkus. Pilihan lain, bila menonton TV di rumah, maka terbuang kesempatan nonton sirkus.

Konsep mempertimbangkan opportunity cost bisa juga diterapkan dalam manajemen keuangan pribadi. Dengan menyusun anggaran belanja, faktor opportunity cost ini mau tak mau kita perhitungkan.

Kalau ingin menyekolahkan anak ke perguruan tinggi, menyelesaikan kredit rumah, atau membeli mobil baru, hitunglah berapa banyak uang harus disisihkan, berapa lama tabungan terkumpul, kenikmatan apa yang bakal harus dikurangi.

Cara paling sederhana adalah membuat dua lajur, lajur pertama: penghasilan dan simpanan, dan lajur kedua: pengeluaran. Kurangkan lajur kedua dengan lajur pertama. Bandingkan hasilnya dengan aset mula-mula. Apakah tetap, bertambah, atau malah berkurang? Bila aset tetap, bahkan cenderung menyusut, amati tiap pos pengeluaran; bila mungkin lakukan pemangkasan pos yang tak perlu.

Benarkah ada harga ada mutu?
Kunci keberhasilan anggaran belanja adalah tidak berbelanja barang yang kurang bermanfaat.

Saat menyusun anggaran belanja, susun pula daftar barang yang dibutuhkan setiap bulan. Perhatikan bahwa barang yang akan dibeli benar-benar yang dibutuhkan, tentukan juga merek, mutu, dan harganya. Jadikan daftar itu acuan saat berbelanja.

Carilah informasi tentang berbagai harga barang, baik dalam koran, majalah, maupun teman-teman. Paling tepat adalah melanggan koran lokal yang sering memuat iklan barang murah. Tak hanya harga, Anda bisa mendapat hasil uji barang konsumen dalam majalah khusus untuk konsumen, seperti yang diterbitkan oleh YLKI. Informasi serupa kadang juga dimuat di koran atau majalah.

Informasi terakhir akan sangat berguna bila Anda berniat membeli barang yang tidak murah. Apakah semakin mahal itu semakin bermutu? Meski sudah membayar jauh lebih mahal, barang yang didapat tidak selalu jauh lebih baik. Sering bedanya sangat kecil, malah tidak ada. Bayangkan, ada produsen menjual dua barang yang sama persis yang diiklankan dengan merek dan harga yang berbeda.

Sebaliknya, harga mahal bisa jadi indikasi produksi yang tidak efisien, biaya iklan dan promosi tinggi, serta mark up yang besar pada pengecer. Padahal, meningkatnya kualitas jarang berakibat pada kenaikan harga.

Maka, jadilah konsumen yang cerdik. Untuk barang mahal cara paling tepat mencari informasi adalah dengan mengacu pada hasil uji lembaga konsumen atau pengalaman orang yang pernah memakai.

Sedangkan untuk produk sehari-hari, tidak salah bila mencoba sepotong produk pesaing yang lebih murah, lalu bandingkan dengan produk yang dipakai selama ini. Kecuali memang ada bukti mutu buruknya, lebih bijak berasumsi, "Barang murah dengan mutu baik juga ada, kok!"

Rencana belanja
Pernahkah Anda kehabisan sampo dan terpaksa membeli di toko terdekat dengan harga yang lebih mahal? Semua barang bisa jadi lebih mahal bila terburu-buru.

Belajar dari pengalaman itu, sebelum berbelanja buatlah daftar. Berbelanjalah secara sistematis agar tidak banyak waktu terbuang untuk mencari-cari barang belanjaan. Orang yang lelah dan terlalu lama belanja cenderung menghabiskan lebih banyak uang untuk barang yang tak perlu. Agar sistematis, kelompokkan daftar belanjaan, misalnya kelompok sayuran, macam-macam daging dan ikan, alat kebersihan, dll.

Yang perlu dibeli adalah bahan sehari-hari, seperti gula, garam, susu. Juga bahan yang seharusnya dibeli di pertengahan minggu ini - namun tidak bisa ditunda hingga minggu depan - misalnya daging, buah-buahan, saus, sabun cuci, sampo, dll.

Tahap selanjutnya, memilih toko atau pasar yang menjual murah atau dengan potongan barang-barang itu. Pastikan bahwa letak toko terjangkau, agar biaya transpor tidak jadi lebih mahal dibandingkan potongan harga yang didapat. Pertimbangkan juga berbelanja di pasar tradisional, dengan syarat harus pandai memilih barang dan menawar.

Perhatikan barang apa yang sedang mendapat potongan harga khusus, sehingga berlaku prinsip, sesuaikan menu dengan bahan-bahan yang sedang murah. Pilihlah hasil bumi yang sedang melimpah.

Bila berbelanja dalam jumlah banyak, perhatikan saat kasir menghitung. Apalagi kalau di pasar swalayan dengan deretan panjang orang mengantre di belakang Anda. Bisa saja kasir salah hitung karena terburu-buru. Maka, susunlah barang belanjaan dengan rapi, sehingga Anda tahu persis berapa jenis barang belanjaan dan berapa bungkus.

Biasakan pula membawa kalkulator kecil (jangan takut dicap orang pelit). Selain untuk mengecek jumlah total belanja, juga menghitung perbandingan harga, produk mana yang paling murah. Apakah yang dalam kantung kecil, sedang, atau besar.

Salah satu cara bijak belanja adalah mengurangi pemakaian kartu kredit dan lebih mengutamakan uang tunai. Usahakan tidak menggunakan kartu kredit kecuali terpaksa, serta dalam jumlah yang terjangkau. Menurut ahli manajemen keuangan, belanja maksimal dengan kartu kredit setiap bulan hanya 30% dari penghasilan. Selebihnya, pasti kesulitan untuk melunasi tagihan.

Cara termudah untuk mengatasinya, kunci kartu kredit di laci lemari atau masukkan ke kompartemen dompet paling dalam. Sebenarnya, tidak sulit hidup tanpa kartu kredit.

Penghematan di sana-sini
Salah satu cara berhemat adalah dengan memanfaatkan musim obral. Obral sering diadakan menjelang akhir perayaan hari raya. Jadi, belilah barang yang awet yang bisa disimpan untuk perayaan berikutnya. Misalnya pohon Natal, kartu ucapan, kopiah, sarung, dsb.

Menyangkut makanan, cara berhemat adalah dengan mengurangi kebiasaan makan di restoran. Benarkah lebih nyaman, hemat waktu, bahkan lebih murah? Alasan menghemat waktu paling mudah ditolak. Mari dihitung, berapa lama waktu diperlukan untuk menuju tempat makan dan menunggu makanan disajikan. Murah? Bandingkan, jika untuk berempat perlu biaya Rp 50.000,- sekali makan di restoran, sedangkan makan di rumah paling Rp 10.000,-. Selisih Rp 40.000,- besar bukan? Ini bukan menafikan kegiatan makan di luar. Tips ini hanya mengingatkan untuk berpikir rasional di masa krisis, mana yang perlu dan tidak perlu.

Mengurangi belanja makan siang bagi yang bekerja di luar rumah juga mampu mengurangi pengeluaran. Sebagai gantinya, bawalah makan siang dari rumah. Jumlah yang dihemat tergantung letak tempat kerja dan jenis makanan yang dijual di sekitarnya.

Agar tak membosankan, makan siang cukup bervariasi. Selain itu, juga tidak merepotkan untuk dibuat dan disiapkan. Tak cuma hemat, makanan dari rumah relatif lebih bersih dan gizinya terjamin. Tidak tertutup kemungkinan untuk makan siang bersama teman sekantor dengan masing-masing membawa menu rumah.

Yang modern tak ekonomis
Melihat kebutuhan menjadi kunci utama bila berencana membeli rumah atau mobil. Sebuah keluarga kecil tidak perlu memaksakan untuk memiliki rumah besar dengan banyak ruangan atau mobil besar. Rumah besar perlu biaya pembangunan mahal, perawatan yang tinggi, pajak yang tinggi, dan mebel yang lebih banyak. Selain itu, rumah besar lebih sulit dijual lagi. Jika ada uang lebih, carilah rumah di lokasi yang lebih baik atau model rumah yang lebih hemat energi.

Sebelum membeli mobil baru, hitung untung-rugi memiliki mobil baru dan tua. Berapa biaya untuk memperbaiki mobil tua Anda. Sedangkan mobil baru akan memberikan masalah berupa nilai penyusutan dan pajak yang tinggi.

Serupa dengan mobil, orang cenderung membeli alat elektronik penuh tombol otomatis. Dari segi ekonomis, hal itu tidak tepat. Selain lebih mahal, akibat tambahan tombol otomatis, produk demikian biasanya gampang rusak. Jadi, model yang terlalu "modern" selain lebih mahal, juga perlu biaya perawatan lebih besar. Maka, pilihlah produk dengan model sederhana, yang juga lebih murah.

Selain yang digerakkan tenaga listrik, ada alat-alat yang dijalankan secara manual. Selain hemat biaya listrik atau baterai, peralatan itu juga mudah diperbaiki. Contohnya pencukur jenggot, kocokan telur, dll.
Belajarlah merawat sendiri barang-barang Anda. Seperti mengganti sendiri oli mobil dan saringannya. Inilah gunanya menyimpan baik-baik buku manual mobil. Kalau buku itu sudah tidak ada, perhatikan yang dilakukan mekanik di bengkel saat mengganti oli.

Menjaga kesehatan juga berhemat. Misalnya, dengan berolahraga. Carilah olahraga yang murah seperti lari atau senam yang bisa dilakukan di berbagai tempat. Selain itu hentikan - atau jangan mulai - kebiasaan yang merusak kesehatan, misalnya merokok. Merokok adalah "hobi" yang mahal, bila pengeluarannya dihitung secara akumulasi dalam 1 - 5 tahun. Kalaupun jatuh sakit, cobalah minta resep obat generik.

Masih banyak tindakan penghematan lain. Tak salah bila Anda amati dan praktikkan. Seperti tutur sebuah iklan - yang ini boleh ditiru - hemat (bukan pelit) itu nikmat. (Dari pelbagai sumber/Sht)


Click here to join our mailing list!
Join our mailing list!
rumah intisari on the net CLICK HERE TO VISIT THE TOP 1000!