logo_intisari.gif (21344 bytes) by_product.gif (6556 bytes)Pasang iklan Anda
bulan_no.jpg (5187 bytes)

lang2.jpg (15691 bytes)

Foto-foto: Rye

Logo mlaku-mlakuMenunggang Gajah, Memburu Badak

Ingin bertemu badak liar? Dengan bersafari menunggang gajah di Royal Chitwan National Park, Nepal, Anda bisa bertemu dari jarak dekat dan memotretnya. Badak bercula satu ini hanya salah satu jenis satwa liar di sana. Bagi pencinta wisata air, beningnya air Sungai Rapti menawarkan keasyikan bersampan sembari mengamati burung-burung dan itik liar mencari ikan segar. Awas, hati-hati, ada buaya!

Sejak pagi hari puluhan wisatawan di Royal Chitwan National Park berkumpul di "terminal gajah". Sambil memegang "karcis gajah", mereka antre di bawah tangga setinggi pundak gajah, menunggu giliran naik di punggung gajah milik taman nasional. Belasan ekor gajah yang masing-masing siap mengangkut dua orang turis dan seorang pawangnya yang sekaligus pemandu, berderet di sisi tangga.

Bersafari menunggang gajah menjadi pilhan favorit bagi turis. Mereka dibawa keliling mengitari sebagian kawasan taman nasional untuk mengintai badak, rusa, atau binatang liar lainnya dari jarak dekat. Tarif tiket 650 Rupee (sekitar Rp 30.000,- sebelum krismon) per kepala terhitung tidak terlalu mahal untuk keasyikan bersafari di atas punggung gajah selama dua jam. Kalau musim dingin (November - Maret), lebih bagus safari dilakukan siang hari. Soalnya, kalau pagi pemandangan biasanya diganggu kabut. Pada musim panas (akhir Mei - awal Agustus), justru lebih baik pagi ketimbang siang hari yang panas.

lang2.gif (35337 bytes)
Wisatawan menunggu di "terminal gajah", antre di bawah tangga.

Meninggalkan "terminal", gajah tunggang yang dikendalikan oleh pawang dengan tongkat kayunya menyusuri tepian Sungai Rapti, yang menjadi batas utara kawasan taman nasional. Di batas sebelah barat taman mengalir Sungai Narayani, satu dari tiga sungai utama di Nepal.

Dengan tenaganya yang kuat, binatang bertubuh bongsor ini merangsek masuk ke tengah rimbunnya padang rumput setinggi dua meteran. Ia seperti tak menghiraukan penumpangnya yang meringis kesakitan karena tergores pucuk rerumputan gajah yang bertekstur kasar itu.

"Ssstt, ada badak. Jangan berisik!" kata si pemandu. Kendati mata badak relatif kurang awas, daya pendengarannya cukup tajam. Begitu juga penciumannya. Karena itu pemandu harus membawa gajah berjalan melawan arah angin kalau tidak ingin tercium badak. Mereka akan lari kalau mencium bau manusia.

Ketika gajah berhasil mendekati posisi badak, kamera segera dibidikkan, takut kalau satwa berkulit tebal dan keras ini keburu lari. Benar saja, begitu kamera dijepretkan, badak itu ngibrit ketakutan. Gajah pun ikut mengejar. Tapi, ya, ampun, guncangan keras pantatnya yang besar bisa membuat penumpang terpental kalau tidak berpegangan kuat-kuat. Waktu gajah akan beranjak duduk atau berdiri saja guncangan tubuhnya bisa bikin penumpangnya terpental kalau tidak berpegangan.

Dulu tempat berburu
Selain padang rumput gajah yang tumbuh di tanah rawa tepian sungai, taman seluas 932 km2 ini juga ditumbuhi pepohonan hutan. Sebagian besar adalah pohon sal (Shorea robusta), jenis pohon bergetah yang buahnya mirip kok badminton, dan tingginya bisa mencapai 25 m. Hutan itu antara lain dihuni kera, rusa, babi hutan, ular kobra, dan kura-kura. Terkadang tampak berkelebat burung merak terbang.

Di antara sekian banyak satwa penghuni hutan taman, badak paling mudah ditemukan, mengingat jumlahnya yang paling banyak, kira-kira 400-an ekor. Badak-badak liar itu terkonsentrasi di padang rumput. Sedangkan macan (Panthera tigris tigris) yang diperkirakan berjumlah 40 ekor termasuk paling populer, namun sulit dijumpai. Kalau siang bersembunyi di semak belukar menghindari gangguan, malamnya keluyuran mencari mangsa.

Kalau sedang musimnya, sekitar Februari - Maret, turis punya kesempatan melihat badak kawin. Orang jadi bisa membedakan, mana badak jantan mana yang betina. Yang jantan berleher lebih tebal dan culanya lebih lurus. Badak betina siap kawin pada usia balita, 4 - 5 tahun, dan akan melahirkan anaknya setelah bunting 16 - 18 bulan. Selama masa itu, badak betina sangat berbahaya, bisa menyerang dan menyeruduk tanpa alasan.

Menurut laporan Departemen Taman Nasional dan Konservasi Binatang Liar, jumlah badak meningkat dari 60 - 80 ekor pada akhir 1960-an, menjadi 270 - 310 ekor pada tahun 1975. Sejak taman nasional ini berdiri, tercatat 59 ekor badak dibunuh. Maklum, dulu kawasan ini menjadi ajang perburuan. Kawasan ini didirikan tahun 1962 oleh Raja Mahendra sebagai suaka margasatwa badak bercula satu, dan resmi sebagai taman nasional pada 1973.

Sejak 1870-an, kawasan taman dan sekitarnya merupakan arena berburu bagi bangsawan Nepal dan keluarga Raja Inggris. Pangeran Edward VII adalah orang Eropa pertama yang berburu di kawasan Kanchanpur, di sebelah barat Terai, pada 1875 - 1876. Tahun 1911, Raja George V sempat mendirikan camp di Kasra, kini markas besar Taman Nasional Royal Chitwan. Pangeran Edward VIII datang berburu tahun 1921. Selama Raja Mahendra sakit jantung dan meninggal pada Februari 1972, Chitwan masih tetap menjadi lahan perburuan. Lagi-lagi badak menjadi sasaran pemburu.

Dikejar badak, panjat pohon
Selain bersafari di atas punggung gajah, bersampan atau berkano ria menyusuri beningnya aliran air sungai di kawasan taman tidak kalah asyiknya. Selama berperahu kayu di Sungai Rapti, kalau lagi "sial" bisa ketemu buaya, atau setidaknya mengintip moncong buaya yang bersembunyi di lubang bawah permukaan air.

Berbagai jenis unggas bisa diamati dari atas perahu kayu. Burung air serta itik liar yang bermigrasi dari negeri jauh sibuk mencari mangsa ikan di sepanjang sungai. Lebih dari 450 spesies burung hidup di sana.

Acara berkano juga ditawarkan oleh sejumlah penginapan di Desa Sauraha. Biasanya menyusuri sungai ke arah hilir selama dua jam, dan melewati Pusat Pengembangbiakan Gajah, sekitar 3 km sebelah barat Sauraha. Ongkosnya Rs 150 (Rp 7.500,-) per kepala.

Wisatawan yang gemar trekking (berjalan kaki) bisa melakukannya di luar area taman pada musim dingin. Atau, melintasi jalan setapak di hutan tepi sungai. Pada musim penghujan (Juni - September), permukaan sungai naik, namun masih bisa dilintasi sampan atau gajah tunggang.

Berjalan-jalan di sekitar hutan kawasan taman nasional yang memberi suasana menyenangkan bagi yang suka petualangan ini hampir menjadi bagian dari setiap paket tur yang ditawarkan biro perjalanan. Dua pemandu orang Tharu, penduduk asli Lembah Chitwan, akan menyertai satu kelompok wisatawan yang menginap di penginapan dalam taman. Satu kelompok sebaiknya maksimal lima orang, supaya mudah ditangani pemandu bila ada masalah darurat.

Pemandu juga siap mengantar wisatawan ke Desa Tharu, sebuah perkampungan di kawasan Taman Nasional Chitwan, yang dihuni sekelompok masyarakat Tharu. Dulu, populasi mereka terbesar di sana. Namun sejak 1960-an, ketika malaria mulai dibasmi, terjadi migrasi besar-besaran dari kawasan perbukitan ke Chitwan, dan orang Tharu menjadi minoritas di kawasan itu. Mereka menempati rumah berarsitektur sederhana, beratap rumbia. Mereka umumnya bertani, dan sebagian lagi menjadi pemandu wisata. Ada pula yang membuka usaha rumah penginapan di Sauraha.

Mereka yang tak kuat berjalan kaki, bisa berkeliling hutan taman nasional dengan jip khusus. Misalnya, ke Kasra - kini markas besar Royal Chitwan National Park - sebagai tempat proyek konservasi buaya. Kalau ada banyak waktu, wisatawan boleh mengikuti satu paket tur, meliputi bersampan, trekking, dan wisata margasatwa.

Pengunjung disarankan tidak berjalan-jalan di hutan tanpa pemandu. Kata-kata mereka patut diikuti. Pemandu yang umumnya amat berpengalaman itu telah mengikuti guide training selama dua minggu di King Mahendra Trust for Nature Conservation, dan mengantungi sertifikat dari Department of Parks.

Ada larangan tidak boleh keluar dari penginapan pada malam hari, berjalan-jalan di kegelapan. Karena dikhawatirkan ketemu binatang liar yang keluyuran mencari makan. Badak tidak jarang dijumpai melenggang di jalan Desa Sauraha; biasanya selewat pukul 22.00 atau subuh ketika hendak kembali ke hutan setelah merumput di ladang penduduk.

Bagi yang tak mahir panjat pohon, jangan coba-coba sok jagoan, masuk sendirian ke hutan. Pernah pada 1994 ada seorang pemandu tewas diseruduk badak gara-gara mencoba melindungi turis asing yang akan memotret badak dari jarak terlalu dekat. Mestinya, kita segera lari ketika badak membungkuk, pertanda hendak menyerang. Untuk menghindari kejaran atau serangan badak, konon, harus berlari zig-zag atau memanjat pohon. Dilaporkan, sepuluh turis diserang badak selama dekade terahir ini.

Banyak penginapan
Di kawasan Asia, Royal Chitwan National Park merupakan suaka margasatwa terbaik. Terletak di lembah Rapti, di kawasan Terai, dan dikelilingi Bukit Siwalik, sekitar 175 km barat daya Kathmandu, ibukota Nepal.

Banyak rombongan tur datang melalui biro perjalanan di Kathmandu. Dua tahun lalu, biayanya AS $ 80 - 135 untuk paket dua malam tiga hari. Termasuk ongkos masuk ke taman, pemandu, naik gajah, dan bersampan di Sungai Rapti. Paket tur tiga hari empat malam biayanya sekitar AS $ 200 - 540.

Yang tak mau terikat waktu, lebih memilih menjadi turis bebas. Transportasi dan segala macam urusan akomodasi ditanggung sendiri. Bisa ditempuh dengan pesawat dari Pokhara ke Bharatpur (AS $ 50) atau Kathmandu ke Bharatpur (AS $ 50), sekitar setengah jam. Bila naik bus dari Kathmandu ke Tadi Bazar, bisa 5 - 7 jam, biayanya Rs 120 (Rp 6.000,-). Dari Tadi Bazar naik angkutan dengan ongkos Rs 35 (Rp 1.750,-) menuju Desa Sauraha. Sauraha merupakan pintu gerbang utama masuk kawasan Taman Nasional Chitwan, sekitar 6 km dari Tadi Bazar.

Soal menginap tidak perlu khawatir. Di Desa Sauraha, di luar kawasan taman nasional Chitwan, ada 47 penginapan. Namun, bagi turis bebas yang datang bulan Oktober - November siap-siap tak bisa naik gajah tunggang. Bisa jadi tak kebagian penginapan. Pasalnya, saat itu bertepatan dengan acara Festival Dasain dan Tihar. Banyak keluarga dari Kathmandu berlibur selama tiga empat hari di sana.

Beberapa penginapan di luar kawasan taman memiliki 4 - 15 ekor gajah sebagai tunggangan. Wisatawan bisa menaikinya, tapi tidak diizinkan masuk ke kawasan taman. Sejumlah penginapan di Sauraha menyuguhkan program budaya, di antaranya tarian khas masyarakat Tharu.

Di dalam taman nasional juga terdapat sejumlah penginapan, antara lain Chitwan Jungle Lodge dan Jungle Safari Camp. Hampir seluruh penginapan di sana menawarkan kegiatan bersafari gajah, bersampan di sungai, berjalan kaki ke hutan, berkelana naik jip, mengamati burung, dan menyaksikan tarian asli masyarakat Tharu. Hanya saja tarif menginap di dalam taman lebih mahal daripada menginap di luar taman, bervariasi AS $ 200 - 540. Sedangkan tarif hotel di luar taman berkisar AS $ 60 - 200 untuk paket tur tiga hari dua malam.

Penginapan di area taman nasional yang terkenal yakni Tiger Tops Jungle Lodge. Penginapan ini pernah disinggahi kalangan tokoh dan selebriti dunia seperti Pangeran Philip, Putri Anne, Presiden AS (pada saat itu) Jimmy Carter, Henry Kissinger, Mick Jagger, Diana Ross. Menginap di Tiger Tops, jika beruntung, Anda bisa menyaksikan badak berkeliaran, macan tutul, sorot mata harimau di malam hari, atau mendengar jeritan suara rusa.

Mau mencoba? Sekarang zaman krisis. Siapa tahu nanti. (A. Hery Suyono)


Click here to join our mailing list!
Join our mailing list!
rumah intisari on the net CLICK HERE TO VISIT THE TOP 1000!