logo_intisari.gif (21344 bytes) by_product.gif (6556 bytes)Pasang iklan Anda
bulan_no.jpg (5187 bytes)

Judul

KecrekDi kantor Laventhol & Horwarth, sebuah firma akuntan publik di Seattle, Andy Olson melihat jam dengan gelisah. Pukul 08.30. Molly terlambat! Padahal itu bukan kebiasaannya. Segera ia menyambar telepon dan menekan nomor telepon apartemen Molly. Sampai diulang tiga kali, telepon tak juga diangkat.

Olson mulai menduga-duga sebabnya. Badai semalam memang salah satu yang terburuk dalam sejarah Seattle. Molly juga pernah bercerita tentang upaya perampokan di apartemennya belum lama berselang. Meski sudah lapor ke polisi, Molly tetap merasa khawatir. Jadi, mungkin Molly menginap di rumah saudaranya.

Pukul 09.00 lewat. Bahkan setengah jam kemudian, penantian Olson sia-sia. Ia langsung menyambar kunci mobilnya dan bergegas ke parkiran mau menjemput Molly. Tapi di tengah jalan ia berubah pikiran. Lebih baik menghubungi polisi saja.

Disumbat celana dalam
Opsir Harry J. Burke yang menerima telepon. Setelah menaruh telepon, bersama opsir polwan Charlotte Thomas, mereka langsung menuju ke apartemen Molly, di blok 2358 Franklin Ave East.

Burke mengetuk pintu sementara Thomas berdiri di belakangnya. Tirai masih tertutup. Burke mengetuk lagi. Tak ada jawaban. Ia mengetuk sekali lagi dengan lampu senternya, tapi tak ada tanggapan juga. Mereka kemudian mengelilingi bangunan apartemen, tapi semua tirai masih tertutup sehingga tak bisa melongok ke dalam. Juga sulit untuk mendekati jendela, karena daun-daun rhododendron dan semak holly yang berduri menghalanginya.

Kedua polisi itu lalu berjalan ke bawah tangga yang menuju ke lantai dua di sisi utara. Sambil bergantung pada susuran tangga Burke mencoba mengguncang jendela samping yang terkunci. Tapi karena tubuhnya yang gemuk terlalu berat, susuran tangga itu patah. Ia balik lagi ke pintu depan dan mengetuk kembali.

Tertelungkup di atas tempat tidurKarena belum juga ada jawaban, Burke mendobrak masuk apartemen. Dilaporkan, tempat tidur Molly ada di belakang, tetapi jendelanya tertutup dan macet, sehingga dicari jendela lain. Untungnya, meski tertutup, jendela samping kamar depan tidak terkunci. Bertumpu pada kursi taman, ia menggoyang-goyang jendela sampai terbuka setelah digeser.

Burke naik dari kursi itu dan bertumpu pada dahan rhododendron. "Polisi!" ia berteriak tiga kali sebelum masuk.

Yang ada hanya kesunyian.

Ia pun melompat masuk. Namun, sebelum menyentuh jendela, pandangan Burke terpaku pada ambang jendela bercat putih itu. Ada jejak sepatu olahraga berukuran besar di situ. Ia mencoba tidak mengusik jejak itu sehingga tubuhnya jatuh terguling ke dalam ruangan. Untung saja, ia mendarat di kasur. Sesaat kemudian ia menyadari berada di ruang tidur tamu yang merangkap sebagai gudang.

Burke lalu membantu Thomas menerobos jendela sambil mengingatkan agar hati-hati dengan jejak sepatu tadi. Mereka bergerak dengan hati-hati menuju koridor. Tirai yang menghalangi sinar matahari pagi membuat cahaya hanya berasal dari lampu meja di sebelah sofa. Ruang tengah begitu rapi dan kosong.

Burke melindungi Thomas ketika mereka berjalan menyusuri koridor menuju ke bagian belakang. Thomas membuka pintu kamar mandi di sebelah kiri. Pandangannya menyapu ke ruangan kamar mandi di ujung gang sisi kiri dan tampak sesosok gelap di belakang tirai shower. Sambil menahan napas, Thomas menggeser tirai ke samping.

Weerrr! Sebuah handuk panjang tergantung di sana!

Ia menyusur gang menuju kamar tidur utama. Burke masih melindunginya. Tampak sesosok tubuh tergolek di ranjang. Mirip manekin. Tetapi bukan. "Oh my God. Ini Molly McClure," ucap Thomas.

Gadis yang di atas ranjang itu mengenakan gaun tidur flanel warna biru. Tengkurap dengan posisi melintang. Wajahnya tertutup rambut yang pirang berkilauan. Meski sebagian tubuhnya tertutup selimut warna merah jambu, tampak tangannya terikat ke belakang.

Charlotte Thomas segera meraba leher gadis itu mencari denyut nadi. Namun hanya dinginnya tubuh Molly yang ia rasakan.

Walau sudah enam tahun bertugas, Thomas sempat tak mampu mengatasi emosinya. Ia keluar menuju gang. "Sudah tewas," bisiknya kepada Burke.

Kedua kaki Molly McClure terpentang lebar. Sementara gaun tidurnya tersingkap sampai di atas pantat. Noda darah berceceran di gaun itu. Tangannya terikat ke belakang dengan seutas potongan kabel listrik. Kepalanya miring ke kanan.

Penguji medis Donald Reay bekerja sama dengan patolog forensik Corrine Fligner dan Eric Keisel yang tiba pukul 11.40 memastikan, dari pemeriksaan awal Molly dicekik dengan tali seperti yang biasa digunakan oleh paramedik untuk mengencangkan pembuluh darah. Mulutnya disumpal dengan celana dalamnya. Sebuah kaus kaki wol berwarna khaki terikat di lehernya. Ia mengalami sedikit perdarahan di belakang kepala. Ada tiga goresan yang berasal dari suatu benda tumpul.

Bukan perampokan
Hank Bruber, polisi dan detektif yang sudah belasan tahun makan asam garam, diberi tahu di rumah. Ia datang ke TKP siang menjelang sore. Koleganya, Rudy Sutlovich, datang pada saat hampir bersamaan.

"Jelas bukan perampokan," insting Gruber langsung bekerja. "Tak ada barang yang hilang."

Sersan Detektif Gail Richardson dan Gene Ramirez dengan hati-hati mengumpulkan semua barang yang mungkin menjadi bukti, membungkusnya, dan melabelinya; selimut merah muda, alas di bawah seprei, bantal sutera warna beige, dua kertas corat-coret yang memuat nama dan nomor telepon penghuni apartemen serta alamat perusahaan asuransi, sehelai rambut yang mereka temukan pada genggaman tangan kanan Molly, serta rambut kedua yang tersangkut di gelang arloji di tangan kirinya.

JendelaDi kamar mandi, ditemukan alat penggulung rambut yang tali pengikatnya sudah terpotong dan tergeletak di dekat telepon. Entah untuk apa. Ada tampon berlumur darah di toilet. Ada dua sen dolar di lantai kamar mandi. Kedua detektif itu mengambil semua barang yang mereka lihat walau tak yakin gunanya. Lebih baik mengambil sebanyak mungkin, daripada terlalu sedikit. Mumpung TKP masih utuh.

Ketika Gruber bertanya apakah ada tanda pendobrakan, Richardson tidak yakin. Dia menunjukkan Hank Gruber jendela di kamar tidur depan dan jejak kaki di ambangnya. Kasus itu mungkin bisa terungkap dengan meneliti bekas jejak kaki, dan Gruber tak mau ambil risiko. Gruber memutuskan memotong ambang jendela itu dan membungkusnya dengan kertas coklat.

Kursi yang digunakan Harry Burke untuk masuk ke apartemen Molly tepat berada di bawah tangga luar yang menuju lantai dua. Tetangga mengatakan, kursi itu sudah lama ada di sana. Anehnya, jendela depan – di mana Kvay Knight, tetangga Molly di sebelah atas, mengaku melihat perampok pagi sebelumnya – tak diusik sama sekali. Tak ada tanda percobaan perampokan lanjutan.

Pembunuh pasti melewati jendela di kamar tidur kecil yang di depan itu. Pintu depan masih digembok ketika petugas polisi datang; pembunuh tak mungkin lewat situ. Semua kunci yang dimiliki Molly dengan cepat disimpan polisi. Jejak sepatu di ambang jendela kamar depan mengarah ke dalam, sepertinya seseorang keluar lewat jendela dengan posisi mundur.

Setelah sadar bahwa Molly pernah mengadukan ke polisi mengenai adanya orang yang mau mendobrak apartemennya, serta menyadari betapa cerdas dan berhati-hatinya Molly McClure, Sutlovich dan Gruber yakin, Molly telah mengecek semua jendela dan pintu pada Kamis malam. "Pasti penjahat itu orang yang dia kenal," mereka menyimpulkan.

Sampai hari ini detektif merasa bahwa pembunuh mencoba mengecoh dengan masuk melalui pintu depan dan keluar melalui jendela samping kamar depan, sehingga dia tak akan terlihat setelah pembunuhan.

Gruber memeriksa dompet yang tergantung di kamar tidur Molly. Dengan penjepit dia membuka dan memeriksa isinya dengan hati-hati. Banyak kartu kredit dan sedikit uang tunai. Tampaknya terlewatkan dari mata si pembunuh.

Detektif menyelidiki apartemen untuk mencari senjata yang digunakan untuk melukai kepala Molly, tetapi tidak ketemu. Mereka juga tidak menemukan darah di tempat lain.

Sutlovich menyelidiki tempat itu sepanjang sore. Malamnya, bersama rekannya, ia menganalisa peristiwa itu. Mereka yakin jawabannya mudah, begitu mudahnya sampai mereka tidak menyadarinya atau tidak mengetahuinya. Setiap malam sebelum pulang, mereka mengaktifkan alarm yang akan berbunyi di semua mobil patroli di daerah sekitar itu jika ada orang mencoba memasuki tempat itu.

Sedang menstruasi
Hank Gruber dan Rudy Sutlovich langsung menemui Kvay Knight (27) di apartemen Sondra Hill Jumat malamnya, sehubungan dengan perampok yang dilihat Kvay pada Kamis pagi. Sondra dan Kvay adalah penghuni apartemen di lantai dua, tepat di atas unit yang ditempati Molly. Menurut Kvay, dia bicara dengan Sersan Don Cameron. Juga telah memberitahu Opsir Kuenzi apa yang diingatnya tentang Kamis malam – malam sebelum pembunuhan – lalu dia ngobrol sebentar di apartemen Molly.

Gruber menanyai Kvay apakah tahu seluk beluk apartemen Molly. Dia hanya pernah berada di ruang tengah. Seperti penghuni lainnya, sepanjang malam dia tidak mendengar teriakan minta tolong, atau bunyi perkelahian.

Kebanyakan sidik jari yang ditemukan di apartemen adalah sidik jari Molly dan beberapa jejak yang "tidak dapat diselidiki" karena terhapus atau tergesek. Sidik jari yang "tidak dapat diselidiki" juga ditemukan di lukisan di ruang tamu dan di laci di kamar tamu. Identifikasi sidik jari bertambah sulit karena Molly merupakan penghuni baru apartemen itu.

Menurut Kvay Knight, dia sebenarnya tidak punya rencana untuk datang ke apartemen Molly pada Kamis malam. Molly yang memintanya datang untuk berbicara dengan polisi. Kvay kira-kira masih berada di sana selama setengah jam setelah Opsir Kuenzi pergi. Mereka ngobrol tentang masakan, malah Molly kemudian meminjamkan salah satu buku resepnya.

Dr. Eric Kiesel melakukan otopsi Molly McClure pada hari Senin, 20 Januari, saat Rudy Sutlovich dan Hank Gruber ada di sana. Kesimpulannya, Molly tewas karena dicekik, entah dengan tali atau tangan. Celana dalam penyumbat mulutnya itu turut berperan dalam kematiannya.

Selain itu, Molly juga diperkosa. Ada sedikit luka lecet dan memar pada kemaluan. Sayangnya, karena Molly sedang datang bulan, sperma yang ditemukan di lubang vagina bercampur dengan darah haid. Sperma itu golongan O, sama dengan golongan darah Molly sehingga mempersulit identifikasi. Namun, masih ada tes-tes lain yang canggih untuk meneliti enzim darah dan sejenisnya.

Ada bukti-bukti lain yang sangat kecil, yang bagi orang awam mungkin tak ada hubungannya: materi pembungkus luka di pantat Molly, serpih tembakau di bawah kuku jarinya, padahal ia benci rokok, rambut hitam dari bagian dalam paha kirinya, serat yang tergenggam oleh tangan Molly, serat biru cerah ditemukan di bawah sarung bantal di tempat tidur Molly, rambut kemaluan di celana yang digunakan sebagai sumpal. Semuanya ada delapan belas helai.

Apa maksud semua itu?

Dengan kemajuan yang pesat dalam ilmu forensik, kriminolog di Western Washington State Patrol Crime Lab dapat menguak kejahatan dari darah, sperma, serat, maupun rambut. Chesterine Cwiklik tahu banyak tentang analisis rambut dan serat ini. Dia langsung meneliti bukti-bukti yang diberikan Gruber dan Sutlovich.

Satu hal sudah jelas bagi dua detektif itu. Rambut spiral kelam yang ditemukan di paha Molly saat otopsi tampaknya milik seseorang dari ras berkulit hitam. Meski harus dibuktikan oleh Chesterine, tetapi Gruber dan Sutlovich sudah yakin. Dua detektif Seattle itu yakin dari awal bahwa Molly sudah mengenal pembunuhnya. Mungkin salah satu teman yang datang megunjunginya.

Tapi ternyata tidak. Keluarga dan temannya yakin dia tidak sedang berkencan dengan pria berkulit hitam, juga tidak mempunyai teman wanita berkulit hitam. Ia juga tidak pernah bercerita punya teman baru. Bosnya juga sependapat.

Sementara penyelidikan berlangsung, Senin sore itu kebaktian untuk Molly McClure diadakan di Gereja First Presbiterian Bellevue. Lebih dari enam ratus pelayat memadati gereja sampai meluber ke luar. Semua surat kabar di Seattle memuat berita kematian Molly, lengkap dengan foto-fotonya yang sedang tersenyum. Cantik, dengan mata yang besar dan pipi montok menggemaskan.

Orang tua Molly, Warren dan Jean McClure, menerima banyak surat, entah dari kenalan lama mereka, dari teman-teman Molly, maupun dari orang-orang yang sekadar bersimpati.

Seiring dengan berlalunya pemakaman Molly, perubahan di apartemen itu pun terjadi. Jack Crowley, tetangga sebelah Molly, pindah karena tak bisa melupakan bayangan Molly yang meninggal akibat dicekik, sementara dia tidak mendengar teriakan minta tolong sedikit pun.

Yang jelas, menurut Sutlovich dan Gruber, Molly meninggal sebelum pukul 06.00 atau 07.00 pagi. Soalnya, jika wekernya berbunyi, dia pasti akan terbangun dan siap-siap bekerja. Kenyataannya, dinding kamar mandi masih kering dan teko kopi tak dinyalakan. Lagi pula Molly ditemukan di tempat tidur masih memakai baju tidur. Dari tingkat kekenyalan dan biru lebamnya ketika detektif tiba setelah pukul 10.00, mereka memperkirakan, dia terbunuh empat atau lima jam sebelumnya.

Ada lagi satu fakta yang mencolok. Satu-satunya pria berkulit hitam yang bisa dikaitkan dengan Molly yaitu Sherwood "Kvay" Knight. Tetapi bukankah dia pernah sampai mengetuk pintu kamar Molly untuk memperingatkannya? Dengan alasan apa dia lalu melukainya? Ia juga terlihat tulus mencoba membantu menangkap pembunuhnya. Namun, ketika kedua detektif itu mengorek asal usulnya, ternyata ia tidak bersih pula.

Ditolak bercumbu
Kvay baru saja bebas dari penjara atas dakwaan merampok toko video dengan mengikat tangan karyawati toko itu dengan kabel listrik. Ia juga terlibat kasus pemerkosaan yang terjadi di Snohomish County, Washington, Desember 1984, tapi dibebaskan karena kurang bukti. Ada lagi sebuah kasus pembunuhan yang belum terbongkar, modus operandinya mirip dengan kematian Molly McClure.

Kvay sering menggunakan nama samaran "Billy Williams". Rudy Sutlovich dan Hank Gruber dengan curiga mulai menyelidiki "pertolongan" Knight terhadap Molly pada tanggal 16 Januari dari berbagai sudut pandang.

Sutlovich pun berpikir, "Andai dia mengagumi Molly dan menyadari kemolekannya, lalu ingin mengetahui kebiasaannya. Saat dia mengetuk pintu kamar Molly pada pukul empat atau setengah lima pagi, dia mendapatkan banyak info. Pertama, Jack Crowley mengatakan dia mendengar ketukan berulang-ulang sebelum pintu dibuka, sehingga tahu Molly kalau tidur nyenyak sekali. Molly memang memberi tahu bibinya bahwa dia sulit sekali terbangun ketika Kvay mengetuk pintu. Kedua, dia tahu Molly tinggal sendirian. Ketiga, Molly tidur sendirian. Keempat, dia biasanya di rumah - dan tidur – pada jam-jam itu.

Tetapi masih ada tanda tanya lain. Kvay Knight tinggal bersama wanita yang amat menarik. Sangat bodoh jika menyerang wanita yang tinggal pas di lantai bawah – apalagi dia baru berbicara dengan polisi hanya beberapa jam sebelum pembunuhan.

Atau mungkinkah dia sudah memperhitungkan penyelidik akan sampai pada kesimpulan itu? Apakah dia sudah memperkirakan bahwa Departemen Polisi Seattle tak akan percaya jika dia akan bertindak sedemikian konyol?

Sutlovich kemudian mengorek keterangan dari Sondra Hill. Ia seorang sekretaris bidang hukum dan sudah tinggal di situ selama empat setengah tahun. Selama enam bulan pertama, dia tinggal di unit tepat di sebelah Molly. Pada bulan Juni 1985 dia pindah ke apartemen di atas Molly dan Jack Crowley menggantikan tempatnya.

Sondra mengenal Kvay Knight sejak Februari 1979 dan sudah enam tahun berkencan. Sekeluarnya dari penjara setelah menjalani hukuman lima belas bulan, Kvay tinggal bersamanya sambil mendaftar ke North Seattle Community College. Karena dia tidak bekerja, kuliahnya dibiayai Sondra dan salah seorang familinya. Dia mulai kuliah bulan Januari. Jadwal kuliahnya pada hari Senin, Rabu, dan Jumat mulai pukul delapan, sedangkan Selasa dan Kamis mulai pukul sembilan. Karena tidak mempunyai kendaraan, Kvay harus naik bus ke kampus, walaupun rutenya memutar.

Sepengetahuan Sondra Hill, hari Kamis itu Kvay ke kampus, lalu pulang dan menyediakan makan malam untuk Sondra, kemudian ke rumah saudaranya. Pada pukul 22.30, ketika pulang, dia bercerita baru omong-omong dengan polisi dan Molly. Kvay bilang agak terkejut Molly sampai menelepon polisi karena saat Kvay memberitahu soal perampok pada paginya, Molly cuma tertawa tidak percaya.

Setelah menonton berita pukul sebelas malam, Sondra dan Kvay bertengkar.

"Soal apa?" tanya Gruber.

"Dia ingin 'main', tetapi saya terlalu lelah." Kvay marah-marah, lalu dia tidur di sofa. Karena saat itu malam sangat dingin, Kvay memakai kantung tidur, lalu Sondra menyelimutinya dengan selimut biru yang dirajutnya sendiri.

Sondra terbangun berkali-kali malam itu. Dia mendengar pintu depan terbanting pukul 05.40, tak lama setelah wekernya berbunyi. "Pasti Kvay keluar untuk lari pagi," pikirnya. Memang belakangan Kvay bersemangat lari pagi selama dua atau tiga jam.

Sekitar dua puluh menit kemudian, terdengar suara berisik dari apartemen Molly di lantai bawah. Itulah satu-satunya hal yang luar biasa pagi itu. Soalnya, sebelum itu tak pernah terdengar suara apa pun dari apartemen Molly.

Meskipun Sondra merasa tidak enak badan, dia memutuskan untuk berangkat kerja. Segera ia bangun, mandi, dan berdandan. Dia tidak mendengar kapan Kvay kembali, tetapi ketika ke dapur pukul 07.10, dilihatnya Kvay sudah ada di sana dengan satu tangan di lemari es. Berbau keringat, Kvay sepertinya baru lari mengelilingi lapangan sepak bola berkali-kali. Sambil meneguk jus, Kvay mengatakan dia terlambat ke kampus.

"Dia memakai apa?" tanya Sutlovich.

"Celana training katun hitam dan sweater abu-abu - sama seperti yang dipakai malam sebelumnya, dan sepatu lari."

Tanpa mandi dulu, Kvay mengambil buku catatan dan ransel, langsung pergi."

Sondra berangkat kerja pukul 08.00. Baru beberapa jam setelah itu dia ditelepon pemilik apartemen yang memberi tahu bahwa Molly dibunuh. Karena ketakutan, Sondra Hill langsung memberi tahu pemilik apartemen bahwa dia akan keluar pada tanggal 1 Februari. Meski tinggal dua minggu lagi, dia pasang juga kunci pintu yang baru. Memang bila ada Kvay, dia tidak takut, tetapi Kvay sering tidak ada, terutama menjelang fajar.

Bolos kuliah
Sutlovich dan Hank Gruber juga menanyai para tetangga lain, apakah mereka mengingat sesuatu yang aneh setelah Molly tewas. Mereka bertemu Susan Stroum, yang tinggal di gedung apartemen sebelah. Dia ingat, Kvay tampak tergesa-gesa. Stroum termasuk orang tepat waktu dan selalu berangkat kerja antara pukul 07.20 dan 07.25. Pada tanggal 17 Januari pagi itu dia melihat Kvay ketika mereka sama-sama sedang berjalan di antara gedung-gedung apartemen tepat pukul 07.25. Mereka berdua berbelok menuju selatan.

Susan Stroum menyeberang jalan, untuk membelok di East Lynn Street, sedang Kvay terus berjalan ke Franklin.

Namun, ketika dicek di North Seattle Community College ternyata Kvay Knight tidak ke kampus. Hanya tiga atau empat kali saja ia masuk selama satu semester itu. Mengambil mata kuliah pemrosesan data dan fungsi kantor, catatan absen menunjukkan dia terakhir kuliah pada 10 Januari. Sondra tak tahu, begitu pula ibu Kvay yang juga ikut membiayainya.

Tak dinyana, Sherwood "Kvay" Knight ternyata pembohong dan pemorot uang. Tetapi apakah dia juga pembunuh? Bagaimana membuktikannya?

Sutlovich dan Gruber mulai frustrasi karena lambatnya kemajuan penyidikan. Insting mereka sudah yakin, Kvay pelakunya. Namun, itu tidak cukup untuk "melemparkan" Kvay ke hotel prodeo. Padahal Chesterine Cwiklik dan John Brown terus kerja keras meneliti bukti serat dan rambut, serta jejak sepatu. Bukti-bukti yang umumnya tak terlihat dengan mata telanjang.

Detektif menanyai Sondra Hill dan Kvay Knight berulang kali sampai mereka lama-lama memperlihatkan wajah yang kurang senang. Kvay Knight, yang awalnya begitu bersemangat "membantu" polisi, menjadi bermuka masam. Demikian pula Sondra. Kepada Kvay, Hank Gruber beralasan karena berdasarkan rambut kemaluan yang tertinggal, disimpulkan pembunuhnya berkulit hitam, polisi perlu mengeliminir orang-orang hitam mana yang tidak bersalah. Wajah Kvay tampak terkejut.

Kembali ketika detektif mengetuk pintu apartemen Sondra Hill pada 22 Januari dan menanyakan Kvay, Sondra mulai bersikap sarkatis. "Dia tidak di sini. Anda mau masuk dan mencarinya?"

Pada 24 Januari, seminggu setelah pembunuhan Molly McClure, Gruber, Sutlovich, Detektif Duane Homan, dan Detektif Gail Richardson pergi ke apartemen Sondra Hill untuk melakukan penggeledahan sesuai dengan surat kuasa yang sudah mereka kantungi. Surat kuasa itu lebih berdasarkan praduga dua detektif yang telah berpengalaman.

Sebelum pukul tujuh pagi, Hank dan Rudy berada di depan pintu apartemen Sondra Hill sementara detektif mitra mereka menghadang di belakang. Kvay Knight membuka pintu dengan bercelana pendek dan kaus saja. Rupanya, tadi ia sedang tidur. Keempat detektif itu tidak bermaksud menahan Knight, mereka hanya ingin mendapatkan rambut, darah, dan air liur serta pakaiannya. Mereka menggeledah apartemen Hill, lalu membawa Kvay ke laboratorium kriminal untuk mendapatkan sampel darahnya.

Kvay Knight ditahan, tetapi hanya untuk penyidikan sehingga tidak dapat lebih dari 72 jam. Waktu yang singkat jika dibandingkan dengan pemeriksaan laboratorium untuk dapat mencocokkan rambut dan serat dengan rambut kepala, pelipis, dan rambut kemaluan tersangka. Bukti itu perlu dan mutlak. Berhubung Kvay Knight bersikeras tak mau menyerahkannya, mereka terpaksa menahannya untuk memperoleh sampel rambut dan darahnya.

Selama penyelidikan, mereka mengambil sweater dan celana training hitam yang kebetulan sedang direndam di ember plastiknya, berikut ember dan air. Knight ingin memakai sepatu larinya, tetapi Hank Gruber memintanya memakai sepatu yang lain; Gruber ingin membandingkan sepatu itu dengan jejak yang tertinggal di ambang jendela Molly. Mereka juga mengambil rambut yang ditemukan di bak mandi Sondra Hill dan di bawah sumbat. Baik Sutlovich maupun Gruber tak mau memangku ember berisi air sabun yang dingin selama perjalanan ke markas. Mereka pun akhirnya mengundinya.

Sutlovich kalah. Dia menggerundel sebab dengan tinggi hampir 2 m, untuk menyesuaikan kakinya yang panjang dengan mobil saja sudah bermasalah, kini harus memangku ember berisi air. Namun, di belakang kemudi, Gruber punya alasan lain untuk tersenyum. Kasus yang tadinya tampak buntu ini, kelihatannya mulai menunjukkan titik terang.

Untung belum dicuci
Ternyata Chesterine Cwiklik memang menemukan bukti-bukti yang semakin menuntun ke arah Kvay. Cwiklik adalah mahasiswa doktoral di ilmu kimia organik. Spesialisasinya mikroskopi. Ia mengepalai seksi mikroanalisis State Patrol Crime Lab. Dalam kesaksiannya, dia mengemukakan temuannya.

Fisik serat adalah panjang dan tipis, tapi ia bisa berasal dari plastik, logam, atau katun. Pakaian juga memiliki serat, baik yang sintetis, seperti poliester, atau alamiah, seperti goni, rami, dan katun. Serat binatang yang paling umum adalah wol. Selain serat karpet, kebanyakan serat lebih tipis daripada rambut manusia.

Dalam menganalisis serat, Cwiklik sering menggunakan spineret, sejenis saringan untuk memisahkan dan membedakan serat. Dia juga mengetes tingkat mengkilatnya suatu permukaan, mendeteksi perbedaan di celupan dan tahap-tahapnya. Dengan perkembangan teknologi, Cwiklik juga mampu membuat "sandwich kaca": serat atau rambut diapit bantalan transparan, lalu diamati di bawah mikroskop polarisasi yang bisa memperbesar 800 kali.

Rudy Sutlovich dan Hank Gruber memberikan Chesterine 237 potong bukti yang memerlukan waktu berbulan-bulan bila semua harus diuji. Maka Cwiklik langsung bertanya, "Mana yang paling penting?"

"Bahan-bahan yang paling dekat dengan tubuh."

Maka dia mulai. Serat hitam yang ditemukan di tangan, pantat, dan baju tidur Molly McClure dicocokkan dengan serat dari celana training hitam yang direndam di ember plastik. Gumpalan itu dan rambut yang diangkat dari pantat Molly ternyata mengandung serat dan rambut yang sangat serupa dengan yang ada di gumpalan yang diambil dari selangkang celana training Kvay. Setiap gumpalan serat bercampur dengan bulu kucing. Ketika serat celana training diperbesar 1.110 kali dan dilihat melalui mikroskop, tampak betapa sama dengan serat dari TKP.

Chesterine Cwiklik tahu bahwa setiap manusia membawa pernik-pernik dari lingkungan tempat tinggalnya. Tanpa sadar ia menyentuh serat, rambut, kotoran. "Contohnya, lingkungan Molly mempunyai serat warna merah dan ungu, serpihan cat, serat alami – tapi tidak ada bulu kucing," jelasnya pada Gruber dan Sutlovich. "Di lantai atas, di apartemen Sondra Hill, ada serat sintetis, oranye, coklat, biru dan hijau, serpih tembakau, dan banyak sekali bulu kucing."

Ketika serat saling tercampur, pemilahan pun dilakukan berdasarkan data di lapangan. Molly benci kucing. Jika ditemukan bulu kucing, pasti ada yang membawanya ke tempat tidurnya. Di sarung bantal Molly terdapat serat yang secara mikroskopis serupa dengan selimut yang dirajut Sondra Hill dalam corak biru tua dan putih, serat dengan simpul khusus – S tak terputus. Tak ada sama sekali di apartemen Molly warna itu.

Pada malam sebelum Molly dibunuh, Kvay Knight tidur dengan selimut berwarna biru-putih. Meski menyangkal pernah berada di tempat tidur Molly, dia meninggalkan jejak. Malah, bagi Chesterine Cwiklik, pembunuh Molly seolah-olah meninggalkan namanya dekat sang korban.

Ternyata juga ditemukan rambut yang secara mikroskopis tak dapat dibedakan dengan rambut Kvay Knight: di pergelangan tangan kiri Molly, kasur, sarung bantal, pantat, rambut kemaluan, paha dalam, seprei, tali yang digunakan untuk mencekik Molly, dan celana dalam. Bahkan rambut Sondra Hill juga ditemukan di selimut Molly. Sebaliknya, rambut Molly ditemukan di sol sepatu Kvay, di selimut yang dipakai alas pijak saat Kvay melepas bajunya selama penggeledahan, dan di bak Kvay.

Bagus!

Tapi cukupkah untuk meyakinkan juri? Bukti rambut dan serat sulit bagi orang awam untuk dimengerti. Selain itu, bukti-bukti ini tidak bersifat absolut, cuma kemungkinan.

Satu-satunya jalan, memperbanyak bukti dari lab untuk meningkatkan persentase kemungkinan. John Brown menguak jejak sepatu. Pola sol mungkin pola sepatu olahraga Kvay yang kanan; ukurannya juga sama, tapi sol semacam itu banyak sekali. Apalagi tak ada tanda khusus habis dipakai atau rusak. Waktu kejadian memang hujan pada pukul 02.00 pagi, tapi jika Kvay turun dari lantai atas, dia mungkin hanya menginjak sebidang kecil tanah basah dan sepatunya tak akan menginjak lumpur yang cukup besar.

Serpih tembakau di bawah kuku Molly juga benda asing mengingat dia tidak merokok. Ia benci berada di tengah perokok sehingga tak seorang pun merokok bila di apartemennya karena sungkan. Namun, noda kecil itu cocok dengan serpih tembakau di sweater Kvay.

George K. Chan, ahli biokimia dan kriminolog di State Patrol Crime Lab, mengambil alih pengujian cairan tubuh yang ditemukan di tempat kejadian dan selama eksekusi penggeledahan. Semua manusia mempunyai tanda-tanda genetik dalam jaringan, darah, dan cairan tubuh. Penggolongan A-B-O dapat dilakukan terhadap bekas lumuran darah, dan tanda genetik dapat dipisahkan dari kelompok darah, enzim, protein, antigen, dan faktor RH. Bukti yang menakjubkan dapat disarikan dari darah, air liur, mani, keringat, lendir, dan air mata.

Lebih dari 80% manusia adalah "penghasil"; golongan darah mereka dapat ditentukan dari cairan tubuh. Tes menunjukkan bahwa baik Molly McClure maupun Kvay Knight sama-sama "penghasil" tipe O. Tentu saja, Chan menghadapi masalah ketika dia meneliti sampel yang mengandung darah haid Molly dan mani dari pemerkosanya, yang diambil dari liang vaginanya. Keduanya golongan O. Tetapi dia masih dapat melakukan tes penyelidikan lebih mendalam.

Ketika Chan memeriksa sweater yang dipakai Kvay Knight pada malam pembunuhan dan keesokan paginya, kriminolog itu menemukan tiga bercak darah kering di bagian dalam lingkar pinggang. Rupanya sweater itu tidak dicuci selama seminggu antara pembunuhan dan penggeledahan. Jelaslah, Kvay tak tahu ada noda darah di sweater itu.

Chan memastikan, golongan darah kering itu O. Namun, Kvay tidak punya luka atau lecet di tubuhnya. Dia tidak berdarah. Hanya Molly yang berdarah.

Oleh sebab itu Chan harus melakukan pengetesan terhadap tanda genetik lain. Ras putih, hitam, merah, dan kuning cenderung mempunyai tanda Gm (Gamma) dan Km (Kappa) yang pasti. Sekalipun terjadi perkawinan antarras, tanda itu tetap kuat. Chan lalu memberi contoh. Ras Kaukasia memiliki bilangan Gm kombinasi antara 3 dan 11, sedangkan bilangan Km-nya yang umum adalah 3. Sedangkan pada ras hitam, tidak mungkin ditemukan bilangan 3 dalam unsur Gm-nya. Biasanya kombinasi 1 dan 11.

Jika seorang pria berkulit hitam berdarah dan menempel di kausnya, akan terlihat bahwa bilangan Gm-nya 11, bukan 3. Chan mengutip ucapan serologis forensik, Gary Harmer, "Jika kamu mencampur jeruk, apel, dan anggur dalam satu wadah dan mengaduknya, kamu akan menjumpai rasa jeruk, apel, dan anggur. Tidak ada rasa pisang."

Chan cuma menemukan tanda genetik Kaukasia ras putih di darah golongan O yang mengering pada sweater Kvay Knight. Tanpa disadari, Kvay telah membawa-bawa darah Molly selama seminggu. Jika Kvay mencuci sweater itu, bukti penting ini pasti lenyap. Untunglah, dia tak pernah melihat bekas lumuran darah itu.

Dalam bahasa Gary Harmer, "Bekas lumuran darah di lingkar pinggang sweater Kvay mungkin berasal dari Molly McClure, tapi yang jelas tak mungkin berasal dari Sherwood 'Kvay' Knight."

Sampai kini belum ada hasil tes yang membebaskan Kvay Knight dari kecurigaan polisi. Sebaliknya, bukti-bukti itu malah semakin memberatkan.

Melarikan diri
Bukti-bukti kecil yang semakin menggunung itu bertambah lagi ketika ayah Molly menutup rekening bank Molly. Dia menerima laporan keuangan bank dari Great Western Savings and Loan, termasuk semua transaksi yang dibuat dengan kartu ATM. Sewaktu menelusuri deretan angka selama periode antara 15 Januari dan 15 Februari, Warren McClure terpaku. Ada dua penarikan dari rekening Molly pada tanggal 17 Januari pagi. Masing-masing pada pukul 07.34 dan satu menit setelahnya. Tidak mungkin Molly yang melakukan; 'kan dia sudah meninggal? Transaksi itu dilakukan di fasilitas perbankan Seattle First di Eastlake, dan itu hanya beberapa blok arah selatan dari apartemen Molly!

Warren McClure segera menelepon Gruber dan Sutlovich.

Apa pun motif asli si pembunuh – pemerkosaan atau perampokan – yang jelas dia telah melakukan keduanya.

Tinggal selangkah untuk menyeret Kvay. Sekitar 25% mesin ATM di Seattle dilengkapi kamera untuk merekam orang yang mengambil uang. Sayang, ATM tempat rekening Molly terakhir kali diambil tidak memiliki kamera. Mesin ATM terletak di fasilitas yang hanya menyimpan rekaman; ATM itu sendiri sebenarnya pernah menjadi bagian sebuah bank yang utuh, tetapi kini banknya sudah tutup, tinggal mesin ATM saja, tanpa papan nama apa pun. Jadi, yang menggunakannya pasti tahu benar, ada mesin ATM di sana.

Hank Gruber dan Rudy Sutlovich kemudian mencoba menghitung waktu yang dibutuhkan pembunuh Molly setelah membunuh. Susan Stroum melihat Kvay Knight meninggalkan apartemennya dan menuju ke selatan dengan tergesa-gesa sekitar pukul 07.25. Karena kaki Rudy Sutlovich begitu panjang sehingga langkahnya sama dengan dua langkah pria, terpaksa Gruber yang harus melakukannya. Sutlovich memegang stopwatch, sementara Hank Gruber berjalan delapan blok dari apartemen Molly menuju mesin ATM.

Sembilan menit. Berulang kali, hasilnya sama. Jika Kvay Knight berjalan tergesa-gesa ke selatan, kartu ATM Molly sudah ada di sakunya, pada pukul 07.25, dia pasti mencapai mesin pukul 07.34. Persis dengan waktu yang tercatat untuk pengambilan AS $ 100 pertama.

Lalu dia harus menunggu sebentar sebelum mengambil AS $ 100 berikutnya.

Bagaimana Kvay Knight bisa tahu ada ATM di sana? Teka-teki itu terjawab dengan mudah. Sondra Hill mengakui, dia punya kartu yang dapat digunakan pada ATM itu, dan baru kedaluwarsa hanya dua bulan sebelum pembunuhan. Kekasihnya pasti tahu keberadaan mesin yang tersembunyi di belakang gedung perkantoran biasa itu.

Meskipun, bila ditinjau satu per satu, bukti-bukti itu tidak mengesankan, namun bersama-sama mereka mampu menggoyahkan kredibilitas Kvay. Hank Gruber dan Rudy Sutlovich yakin, Sherwood "Kvay" Knight itulah si pembunuh Molly McClure.

Sayang, Kvay sudah mencium bakal tertangkap. Dia sudah melarikan diri.

Sondra dan Kvay pindah dari apartemen pada tanggal 1 Februari. Sementara Sondra pulang ke rumah orang tuanya, Kvay lenyap di lorong-lorong kumuh pusat kota Seattle. Karena ramah, persuasif, dan cerdik, ia punya banyak teman yang mau menampungnya sehari atau lebih sebelum dia pindah lagi. Dia dan Sondra tetap berhubungan, dan Sondra membelanya. Sondra tak percaya dia punya kesalahan lain kecuali bolos sekolah.

Kvay benar-benar sulit ditangkap. Sebentar muncul di sana, lalu lenyap. Muncul lagi di sini, lenyap pula. Becky Roe, wakil jaksa senior King County, meminta uang jaminan AS $ 250.000 ketika dia mengajukan pernyataan tertulis tanggal 18 April 1986, menuduh Sherwood "Kvay" Knight dengan pembunuhan tingkat satu, berdasarkan keyakinan saja. Roe mengadu untung. Rudy Sutlovich dan Hank Gruber yakin bahwa Kvay masih di Seattle. Banyak tempat untuk mencari tersangka, termasuk mengawasi rumah teman-teman Knight selama tiga hari.

Tetap saja buruan mereka lolos.

Untung berita tuduhan pembunuhan itu muncul di beberapa surat kabar Seattle. Dua orang kenalan Kvay melihat, lelaki itu duduk di mobil dekat pabrik Boeing di East Marginal Way dengan seorang pemuda. Karena sibuk menjual "barang dagangan" ke pengemudi, Kvay tidak memperhatikan bahwa dia diamati. Mereka langsung menelepon polisi.

Saat Sutlovich dan Gruber tiba, kebetulan sekali lalu lintas macet total, karena bertepatan dengan saatnya buruh pabrik Boeing bertukar giliran tugas. Akhirnya, Dewi Fortuna memayungi dua detektif yang ulet itu. Mereka menemukan Sherwood "Kvay" Knight telah ditahan dan diborgol oleh Opsir Polisi Seattle, Al Thompson.

Pada bulan Oktober 1986, Kvay Knight diadili Hakim Pengadilan Tinggi, Terrence Caroll. Dua belas anggota juri dan dua pengganti – enam pria, delapan wanita – memandang pemuda dalam balutan jas abu-abu biru yang sekarang tampak jauh dari garang. Dia kelihatan agak lemah, kurus, dan penurut. Dua pembela duduk di sampingnya.

Keluarga dan teman-teman Molly McClure memadati dua baris pertama bangku kayu. Air mata yang mengambang di mata merupakan satu-satunya tanda bahwa mereka bukan sekadar pengunjung biasa. Pengadilan itu sendiri juga diliput media lokal.

Pada 10 Oktober, juri berunding hanya dua setengah jam sebelum memutuskan Kvay bersalah. Berhubung Becky Roe dan Dan Kinerk tidak menuntut hukuman mati, pada 3 November 1986, Hakim Carrol menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup tanpa kemungkinan bebas bersyarat. (Ann Rule/Yds/nonfiksi)


Click here to join our mailing list!
Join our mailing list!

rumah intisari on the net

CLICK HERE TO VISIT THE TOP 1000!