Kalau kita suka memelihara tanaman hias, itu sudah merupakan modal dasar untuk mencintai lingkungan yang nyaman. Siapa yang tidak senang melihat keindahan tanaman hias di suatu lingkungan yang asri. Dari situ tinggal beberapa langkah lagi untuk melestarikan lingkungan yang disenangi itu juga. Dr. Mambodiyanto, kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas, melangkah lebih jauh. Dari hobi menyenangi tanaman dan lingkungan, ke hobi melestarikan tanaman langka. Di tempat lain, tanaman yang diberi gelar "langka" itu makin digusur demi pembangunan. Jasanya yang berawal dari hobi sebagai modal dasar, menghasilkan penghargaan sebagai Pembina Lingkungan, berikut hadiah Kalpataru tahun 1996. Sewaktu menjadi dokter Puskesmas Desa Kebasen, ia mengumpulkan jenis-jenis tanaman langka yang ditanamnya di kebun pekarangannya di Desa Pabuaran, Baturaden. Ada pohon nagasari, mahkota dewa, genitri, kopi anjing (nama-nama yang mungkin tidak begitu kita kenal karena sudah terancam punah), tetapi juga ada jenis-jenis pohon buah yang akrab kita kenal, seperti jambu, belimbing, durian, buah nona. Lo, kok nyelip!
Itu karena siasat beliau, agar buahnya dapat dijual ke pasar masyarakat sekitar dan menghasilkan duit untuk membiayai perawatan tanaman langka yang dilestarikan di kebun itu. Hobinya tidak berhenti sampai hanya menikmati keindahan pohon dan tanaman langka saja, tetapi juga membibitkan jenis-jenis langka itu untuk disebarluaskan ke taman-taman berbagai kota lain di Pulau Jawa. Pulau Jawa memang paling parah menderita penggusuran jenis-jenis tanaman langka oleh tanaman hias yang lebih populer dan sedang "in". Kalau menghijaukan tepi-tepi jalan kota dengan tanaman peneduh biasa sudah bukan berita lagi, maka menghijaukan taman kota dengan tanaman langka, nah ini baru berita. Caranya? Menangkarkan benih (di kebun sendiri) dan kemudian menyebarluaskan bibit hasil pembenihan itu ke berbagai dinas petamanan kota dari berbagai ibukota kabupaten dan kotamadya. Sampai sekarang, berbagai dinas petamanan kota itu memang baru menghijaukan kotanya dengan pohon peneduh tepi jalan. Bibitnya diperoleh dari usaha pembibitan sendiri. Tetapi pembibitan tanaman langka belum banyak yang dilakukan Dinas Petamanan Kota. Usaha pembibitan dr. Mambodiyanto itu merupakan kepeloporan yang patut ditiru oleh masyarakat luas yang merasa peduli terhadap pelestarian lingkungan. Tempat pembibitan "dokter" tanaman langka di Pabuaran itu menarik perhatian para pencinta lingkungan hidup, sampai dijadikan tempat belajar teknik pembibitan. Dokter langka itu sendiri juga suka dan rela menyediakan kebun pekarangannya sebagai semacam balai pengembangan dan penelitian tanaman langka, sampai Universitas Soedirman Purwokerto memanfaatkannya sebagai tempat praktik para mahasiswanya yang tergabung dalam Unit Pelaksana Teknis Pemandu Lingkungan. Jasanya yang besar memelopori dan menggerakkan masyarakat agar mencintai tanaman langka, menanamnya, membibitkannya, dan menyebarluaskannya ke tempat lain (termasuk lahan kritis), agar jenis yang sudah langka itu tidak jadi terus punah, membuat dokter itu terpilih sebagai Pembina Lingkungan, oleh panitia penilai Kalpataru. Hobinya patut diteladani oleh para pencinta tanaman dan pelestarian lingkungan. (SS) |