| GARIN NUGROHO: ALAT UKURNYA FESTIVAL FILM



(Dok. Christine Hakim Film)
Karya mutakhir Garin Nugroho, Daun di Atas Bantal (1998); Christine Hakim
sebagai Asih, bersama Heru, Sugeng, dan Kancil, tokoh-tokoh utama film tersebut.

Foto: SL
"Saya ingin bikin film sensual."
|
Barangkali
namanya tidak banyak dibicarakan, kalau saja ia tak berprestasi lewat Cinta Dalam
Sepotong Roti, Surat untuk Bidadari, Bulan Tertusuk Ilalang, serta Daun
di Atas Bantal. Semua itu adalah sederetan judul puitis film karya Garin Nugroho
Riyanto. Meski sebelumnya meraih banyak penghargaan film dokumenter, baru di film
ceritalah namanya berkibar. Di festival film internasional, ia telah tujuh kali meraih
penghargaan.
Berbeda dengan
pemerintahan Habibie yang tengah getol mengatasi krisis, buat Garin Nugroho, sikap anarkis
ternyata dibutuhkan, setidaknya saat ia berkesenian. Menurut sutradara muda berbakat ini,
untuk menciptakan estetika baru, seorang seniman tidak boleh ragu-ragu berbuat anarkis
dalam berkesenian.
Garin bertutur bagaimana dia sering kali
"kejam" di dalam berkarya melalui film-filmnya. Dia mencontohkan, dalam adegan
bercinta dengan darah pada film Bulan Tertusuk Ilalang (1996), ia tidak mau
memakai trick. "Harus ada darah yang mengalir, dan pemain merasakan
kepedihannya," katanya dalam sebuah acara diskusi film di Yogyakarta, Maret lalu.
Sikap "kejam" bin anarkis disertai darah juga
terlihat dalam Surat Untuk Bidadari (1993), kemudian ia teruskan dalam film
terbarunya, Daun di Atas Bantal (1998). "Berkarya itu satu hal. Menjual
karya adalah hal yang lain," tuturnya ketika itu. Tuntutan gejolak kreativitas harus
dipenuhi. "Bahwa nanti digunting badan sensor, tidak boleh beredar, itu urusan lain
lagi," kata Garin.
Lalu, apakah kehadiran Daun di Atas Bantal di
jaringan Sinepleks 21 di ibukota pertanda kebangkitan film nasional? "Nggak juga. Itu
hanya momentum saja. Saya juga nggak pernah merasa menjadi lokomotif seperti diomongkan
orang."
Karya mutakhir Garin, produksi Christine Hakim Film,
itu bertahan beberapa bulan di Jakarta, bergantian dari satu bioskop ke bioskop lain. Kota
lain sudah meminta, namun belum bisa dipenuhi. Sebabnya, film itu cuma dicetak dua kopi.
Untuk memperbanyak jelas problem, karena harus dilakukan di Australia, pun dengan biaya
sekitar Rp 50 juta.
Meski tidak masuk ajang kompetisi dalam Festival Film
Cannes (Mei 1998), terpilihnya film yang diproduseri aktris Christine Hakim ini untuk sesi
Uncertain Regard (sorotan khusus) memberi kebanggaan tersendiri di tengah terpuruknya
perfilman nasional. Sekalipun, bagi Garin, tidak mengagetkan. "Itu bukan film
kontemplatif saya yang terbaik. Kalau dari segi komtemplasi, pengemasan keseluruhan dan
artistik, ya Bulan Tertusuk Ilalang (1996). Kalau dari segi ide, Surat untuk
Bidadari. Jadi ada nilai-nilai yang berbeda," aku Garin.
"Kalau Daun aku sih sudah nggak mikirin
penghargaan lagi," lanjut sineas yang beberapa karyanya meraih sejumlah penghargaan
internasional. Ia lebih mengarahkan orientasinya pada standar teknis internasional, di
samping berusaha agar peluang pasarnya lebih luas.
Sebelum akhirnya diputar di bioskop negeri sendiri, Daun
sudah memperoleh penghargaan dalam Festival Film Kobe di Jepang (1998), juga diantre untuk
diputar di sejumlah negara. "Awal tahun ini diputar di Prancis, juga Jepang. Belanda
pun sudah pasti membeli," jelas Garin.
Dari iklan hingga film cerita
Dalam dunia perfilman nasional, Garin tidaklah muncul secara tiba-tiba. Sebelum melahirkan
empat film cerita, ia sudah membuat film dokumenter. Beberapa di antaranya juga menyabet
penghargaan. Misalnya Tepuk Tangan (Film Pendidikan Terbaik FFI 1986),
penghargaan khusus untuk Menyuling Minyak (Festival Film dan Video Industri di
Tokyo, 1988), Tantang Tantangan (Film Dokumenter Terbaik Mengenai Lingkungan
Hidup, 1989), serta Air dan Romi (penghargaan promosi dalam International
Ecological Film Festival di Freiburg, Jerman, 1992).
Sejak 1990 sudah banyak iklan dan klip video musik
digarapnya. Antara lain iklan kolosal Gudang Garam edisi Lebaran, juga klip video untuk
Januari Christy, Krakatau Band, dan Katon Bagaskara (Negeri di Awan) yang merebut juara
pertama Video Musik Indonesia 1995. Selain itu ia juga pernah menggarap sinetron untuk
televisi, Angin Rumput Savana.
Secara ekonomis, film karya Garin memang tidak
menguntungkan. Baginya hal itu sebuah investasi jangka panjang. "Untuk mengisi
kantung pribadi, saya mengandalkan pembuatan iklan, menulis, membuat klip musik, dan film
dokumenter," ujar pria kelahiran Yogyakarta, 6 Juni 1961, yang sehari-harinya
mengajar di Institut Kesenian Jakarta (IKJ), menulis, dan negosiasi.
Dulu, karyanya tidak diedarkan dengan baik sehingga
tidak sempat ditonton orang. Meski begitu, Cinta dalam Sepotong Roti mampu
menyaingi film Indonesia lainnya. "Penontonnya tergolong paling banyak untuk saat
itu. Sedangkan tiga film cerita lain tak diedarkan lewat gedung bioskop umum, jadi tak ada
bukti jumlah penonton," jelas Garin.
Keberhasilan Daun makin menumbuhkan keyakinan
Garin. Alasannya, hampir sepuluh tahun orang rindu film nasional yang berbobot. Keyakinan
lain, pangsa pasar film seni seperti karyanya berjangka usia panjang. Jumlahnya memang
tidak terlalu besar, tetapi tetap bisa untung. "Diedarkannya seperti jualan bakmi.
Pelanggannya itu-itu saja. Lama-kelamaan makin banyak, tapi, ya nggak bisa
gede-gedean."
Kuat muatan lokal
Garin pandai membidik tema kehidupan yang luput dari perhatian masyarakat untuk diangkat
di layar perak. "Itulah keinginan saya. Perlawanan saya, sengaja mengangkat tema-tema
yang jarang diangkat oleh sineas lain," kata suami Riani ini.
Misalnya, film dengan dialog bahasa lokal. Ada
perbedaan besar antara akting pakai bahasa Indonesia dan akting pakai bahasa lokal. Dengan
bahasa lokal, bahasa tubuh terbawa. Padahal bahasa tubuh adalah budaya. Ketika itu
diungkapkan dengan bahasa Indonesia, budaya lokalnya hilang.
Sifat kelokalan, bila dikemas secara global, akan mampu
menembus lintas budaya. "Kemasan global, apakah itu teknologinya, cara bertuturnya,
akan mampu bersaing dalam jangka panjang. Akan mampu menembus dunia, walaupun butuh
waktu," ujar bapak tiga anak, Andini (11), Gibran (7), serta Adinda (3). Soal unsur
lokalnya sangat populer atau budaya tradisi, bagi Garin tak masalah benar.
Garin mengakui, kemampuan berkeseniannya cuma diperoleh
dari sekolah yang serba teoritis. Didukung dengan kemampuan dokumenter dan alam.
"Saya bikin Cinta dengan struktur sangat teoritis. Permainannya pun sangat teoritis.
Saya menambahkannya dengan unsur dokumentasi tempat. Tiga puluh lima hari sepuluh lokasi.
Lima hari satu lokasi syuting."
Meski diakuinya tidak luar biasa, Cinta
merebut lima penghargaan dalam FFI 1991, kecuali untuk kategori sutradara terbaik.
Penghargaan sebagai sutradara muda terbaik justru diperoleh dalam Festival Film Asia
Pasifik 1992 di Korea Selatan.
Ia sejak lama memang berambisi agar karyanya menembus
pasar dunia. Bagi dia, untuk bisa menembus Eropa, misalnya, haruslah menang dalam gagasan.
Namun karena untuk mewujudkan gagasan diperlukan dana, ia pun mengarahkan gagasan pada
tema lokal. "Tapi ya itu tadi, kemasannya harus berkemampuan global."
Gagasan Garin diwujudkan dalam tema. Tema itu bisa ide,
plot (seperti pada film action), mood (pada film horor), bisa juga karakter.
"Oke, (soal) teknologi saya belum bisa. Bagi saya sekarang, tema ya ide. Teknologi
nomor dua, tapi idenya gila-gilaan. Ini saya terapkan pada Surat. Film kedua ini
lebih banyak ide," ujar pria yang mengenyam pendidikan di IKJ untuk bidang keahlian
sutradara, juga meraih gelar sarjana hukum di Fakultas Hukum Universitas Indonesia.
Film cerita keduanya yang berlatar budaya Sumba itu pun
mendapat penghargaan Berliner Zeitung Prize dalam Forum Des Jungen Folms, forum penting
untuk film alternatif di Festival Film Berlin (1994), serta penghargaan tertinggi Cariddi
d'Oro dalam Festival Film Taormina, Italia, pada tahun yang sama.
Festival Film Internasional Berlin 1996 menghadiahkan
Network for the Promotional of Asian Cinema (NETPAC) Award kepada Bulan Tertusuk
Ilalang. Selama tahun 1996 film itu diputar di berbagai festival internasional, di
Singapura, Melbourne (Australia), dan Fukuoka (Jepang). Dalam Festival Film Asia Tenggara
1997 di Kamboja, Bulan juga meraih penghargaan utama, Apsara Emas.
Untuk bisa bersaing di tingkat dunia, selain ide harus
cemerlang, muatan lokalnya harus luar biasa. Tapi kalau bersaing dengan Cina soal muatan
lokal, ia mengaku kalah. "Cina nomor satu dalam hal budaya. Kalau mau bersaing, ya
harus mencari sesuatu yang tidak dipunyai oleh Cina, Vietnam, atau Amerika Latin."
Apakah itu? "Yaitu, dunia tumpang-tindih antara pra-modern dengan modern. Ada unsur
lokalnya, ada unsur Sumba, ada parabola, juga megalitikumnya. Teknologi jelek tidak
masalah. Itu malahan yang mendapatkan penghargaan paling tinggi," akunya perihal Surat.
Teknologi kini memang menjadi perhatian Garin.
"Sudah saatnya dunia ide dan estetika digabung dengan teknologi yang memang tidak
bisa ditawar-tawar. Saya menerapkannya pada Bulan."
Sementara film Daun sangat bernuansa sosial.
Lewat jenis itu ia merasa lebih mudah meraih komunitas penonton yang lebih luas. Tentang
tokohnya yang anak-anak jalanan, alasan Garin, "Dunia anak-anak bisa ditonton siapa
saja. Cara bertuturnya lebih mudah diterima. Temanya sendiri sudah menjadi tema universal,
baik di Indonesia maupun di Barat. Maka pasarnya bisa lebih luas."
Pasar yang lebih luas jadi target. Tema dibuat lebih
pekat, sementara kadar estetikanya sengaja dikurangi. Ia membedakan Daun dengan Bulan yang
dinilai berlebihan unsur estetikanya, sehingga kalau menang selalu Jury Prize. Dari tujuh
penghargaan, hanya dua kali jadi film terbaik. Selebihnya Jury Prize. "Itu terlalu
kontroversial. Terlalu egoistis. Estetika tinggi tetapi banyak kontroversinya."
Daun, menurut Garin, menampilkan teknik tata
suara dan kamera mendekati taraf internasional. Pada aspek teknologi, Bulan
dianggapnya sudah internasional. "Tapi untuk ide, paling bagus Surat.
Penggarapan artistik paling bagus Bulan, sedangkan penggarapan sosial paling
tinggi Daun."
Jadi pedagang keliling
Sangat sadar pangsa pasar tidak terlalu besar, Garin perlu strategi agar punya penonton,
punya ruang eksibisi sendiri. Ini memang butuh waktu lama. Kesadaran itu betul-betul
melekat. Diakuinya, dalam keluarganya (delapan orang), semuanya ya begitu itu. "Kakak
saya, misalnya, keramiknya baru sekarang ini terkenal. Padahal waktu dia berproses dulu,
pikiran-pikirannya, karya-karyanya, hampir tak pernah ditengok orang."
Kesadaran Garin juga terlihat saat membuat Anak
Seribu Pulau. Ketika dibuat, orang sempat tak percaya. Ternyata sukses. Karya
dokumenter ini banyak diambil universitas untuk riset. "Tiga tahun saya tawarkan ide
itu, tapi tidak ada yang menengok sedikit pun. Tapi, sekali ide itu menemukan ruangnya,
dia akan diterjemahkan dalam berbagai disiplin."
Sejumlah penghargaan memang diraih Garin. Tapi,
penghargaan dalam festival film ternyata bukan tujuannya. Bagi Garin, festival sekadar
pengukur. Setiap orang punya cara mengukur tersendiri. Ada yang diukur dari sisi penonton,
ekonomi, nilai-nilai profesionalisme, atau dari sisi ilmu pengetahuannya. Nah, dalam
festival, sebuah film bisa diukur dari berbagai aspek di luar jumlah penontonnya.
Ada karya film yang cuma hidup di
universitas-universitas. Surat, misalnya, banyak untuk riset. Juga paling banyak
meraih penghargaan. Meski kurang di sisi penonton, ia punya nilai sendiri. Sebab ada film
yang memiliki penonton tapi kehilangan nilai penemuannya. "Pikiran saya sebetulnya
sangat sederhana: setiap orang dihargai menurut tempatnya."
Struktur cerita yang dipilih Garin sering
"melawan". Dalam pengertian, kalau orang lain membikin gaya Aristoteles, awal,
tengah, dan akhir, film karya Garin seperti gaya sketsa. Ibarat orang bikin lukisan yang
banyak tempelan. Jadi, informasi ditemukan dalam siklus. Informasi tidak harus di tengah,
di awal, atau di akhir. "Kebetulan atau tidak, banyak pembuat film art yang
seperti saya. Bulan, misalnya, gaya berceritanya mirip dengan film karya sineas
Taiwan."
Film art, menurut Garin, perlahan-lahan telah
membentuk pasar. Masalahnya, kita tidak memiliki orang yang khusus di bidang distribusi
film jenis begini.
"Dulu, di beberapa festival internasional, saya
betul-betul seperti pedagang keliling dari rumah ke rumah. Tidak ada distributor.
Pokoknya, dijalankan sendiri. Buat pamflet sendiri. Kalau perlu mendatangi juri di hotel,
memasukkan contoh karya di bawah pintu. Saya nggak pernah melibatkan orang lain, karena
nggak ada duit," kata Garin terus terang. "Sekarang sih enak, ada
distributornya. Dia yang mengatur semuanya."
Pengalaman itu paling tidak dilakukan sampai film Bulan.
"Orang lain minimal didampingi artis atau manajer. Tapi saya sendirian kluntang-kluntung.
Nyiapin foto sendiri, bikin sinopsis dan lain-lain sendiri." Beberapa kali ia kikuk
hadir di pertemuan dengan jas sewaan yang tak pernah ganti. Ketika ditanya sudah berapa
lama hadir di festival, ia asal menjawab, "One weeks ago", namun tak
mengurangi pengalaman dan prestasinya yang dari waktu ke waktu terus menanjak.
Ingin bikin film sensual
Industri film dan produk audio visual sangat terpukul oleh membengkaknya ongkos dan harga
bahan baku. Untuk mengakalinya, Garin menggagas dua terobosan: kerja sama internasional
untuk mendapatkan dana, atau menerapkan teknologi tertentu.
Ia memberi contoh, di Eropa Timur orang mem-blow-up
video ke film 35 mm meski dengan risiko kualitas gambar turun drastis. Untuk menerapkan
cara ini orang harus tahu betul karakter video. "Nggak semua cerita bisa direkam
karena ada risiko distorsi gambar. Jadi, ya perlu mengambil tema-tema cerita yang sesuai
dengan karakter gambar semacam itu."
Di sisi lain, kerja sama pun tidak gampang. Apalagi
dengan pihak luar. Sistem dan cara kerja acap kali tidak cocok. Pengalaman yang
menggelikan sering dialami Garin, terutama karena pola manajemen yang seenaknya. Kepada
calon mitra, misalnya, ia biasa meminta uang muka 60% karena memang tidak punya modal.
Jika calon mitranya menolak, kerja sama pun batal, bagi Garin juga tidak apa-apa.
"Aku nggak pernah pakai cara-cara bank. Pembayaran dilakukan secara tradisional.
Tidak ada PT, perusahaan, dsb. Kalaupun dulu pernah sewa kantor, itu karena memang perlu
ruang untuk menaruh barang-barang."
Kini Garin memutuskan untuk tidak pakai kantor,
melainkan mengandalkan telepon selular sebagai sarana kerja, yang ternyata pun sering
tidak aktif. "Dengan sistem ini pun tetap produktif. Tapi, ya itu tadi, setiap
produksi uang mukanya harus 60%," kata pria yang hampir selalu mengucapkan Indonesia
menjadi "Indonesa" ini sambil tertawa.
Manajemen yang baik bagi Garin adalah jika kerja sama
tetap bisa berjalan, efektif, dan manusiawi. Bahkan kehadirannya sebagai sutradara tidak
terasa. "Manajemen itu seharusnya yang mengembangkan bakat, bukan sebaliknya, bakat
menyerahkan diri untuk ditaklukkan atau dimatikan oleh manajemen."
Masih akan terus berkarya, Garin bercita-cita membuat
mini seri untuk televisi. "Tentu dengan estetika yang bagus, dengan ruang penampilan
lebih luas. Sebagai terobosan saya juga mau bikin film sensual. Sensualitas lokal yang
dibumbui keunikan seksualnya, tapi punya nilai estetika yang tinggi," ujarnya. Garin
seperti melempar bola tinggi-tinggi, berharap ada produser atau pemilik modal yang akan
menangkapnya. (A. Hery Suyono/Mayong S. Laksono)
|