GARIN NUGROHO: ALAT UKURNYA FESTIVAL FILM

 

garin3.jpg (13591 bytes)

garin4.jpg (14757 bytes)

garin5.jpg (13351 bytes)
(Dok. Christine Hakim Film)
Karya mutakhir Garin Nugroho, Daun di Atas Bantal (1998); Christine Hakim sebagai Asih, bersama Heru, Sugeng, dan Kancil, tokoh-tokoh utama film tersebut.

 

garin1.jpg (6954 bytes)
Foto: SL
"Saya ingin bikin film sensual."

garin2.jpg (11886 bytes)Barangkali namanya tidak banyak dibicarakan, kalau saja ia tak berprestasi lewat Cinta Dalam Sepotong Roti, Surat untuk Bidadari, Bulan Tertusuk Ilalang, serta Daun di Atas Bantal. Semua itu adalah sederetan judul puitis film karya Garin Nugroho Riyanto. Meski sebelumnya meraih banyak penghargaan film dokumenter, baru di film ceritalah namanya berkibar. Di festival film internasional, ia telah tujuh kali meraih penghargaan.

Berbeda dengan pemerintahan Habibie yang tengah getol mengatasi krisis, buat Garin Nugroho, sikap anarkis ternyata dibutuhkan, setidaknya saat ia berkesenian. Menurut sutradara muda berbakat ini, untuk menciptakan estetika baru, seorang seniman tidak boleh ragu-ragu berbuat anarkis dalam berkesenian.

Garin bertutur bagaimana dia sering kali "kejam" di dalam berkarya melalui film-filmnya. Dia mencontohkan, dalam adegan bercinta dengan darah pada film Bulan Tertusuk Ilalang (1996), ia tidak mau memakai trick. "Harus ada darah yang mengalir, dan pemain merasakan kepedihannya," katanya dalam sebuah acara diskusi film di Yogyakarta, Maret lalu.

Sikap "kejam" bin anarkis disertai darah juga terlihat dalam Surat Untuk Bidadari (1993), kemudian ia teruskan dalam film terbarunya, Daun di Atas Bantal (1998). "Berkarya itu satu hal. Menjual karya adalah hal yang lain," tuturnya ketika itu. Tuntutan gejolak kreativitas harus dipenuhi. "Bahwa nanti digunting badan sensor, tidak boleh beredar, itu urusan lain lagi," kata Garin.

Lalu, apakah kehadiran Daun di Atas Bantal di jaringan Sinepleks 21 di ibukota pertanda kebangkitan film nasional? "Nggak juga. Itu hanya momentum saja. Saya juga nggak pernah merasa menjadi lokomotif seperti diomongkan orang."

Karya mutakhir Garin, produksi Christine Hakim Film, itu bertahan beberapa bulan di Jakarta, bergantian dari satu bioskop ke bioskop lain. Kota lain sudah meminta, namun belum bisa dipenuhi. Sebabnya, film itu cuma dicetak dua kopi. Untuk memperbanyak jelas problem, karena harus dilakukan di Australia, pun dengan biaya sekitar Rp 50 juta.

Meski tidak masuk ajang kompetisi dalam Festival Film Cannes (Mei 1998), terpilihnya film yang diproduseri aktris Christine Hakim ini untuk sesi Uncertain Regard (sorotan khusus) memberi kebanggaan tersendiri di tengah terpuruknya perfilman nasional. Sekalipun, bagi Garin, tidak mengagetkan. "Itu bukan film kontemplatif saya yang terbaik. Kalau dari segi komtemplasi, pengemasan keseluruhan dan artistik, ya Bulan Tertusuk Ilalang (1996). Kalau dari segi ide, Surat untuk Bidadari. Jadi ada nilai-nilai yang berbeda," aku Garin.

"Kalau Daun aku sih sudah nggak mikirin penghargaan lagi," lanjut sineas yang beberapa karyanya meraih sejumlah penghargaan internasional. Ia lebih mengarahkan orientasinya pada standar teknis internasional, di samping berusaha agar peluang pasarnya lebih luas.

Sebelum akhirnya diputar di bioskop negeri sendiri, Daun sudah memperoleh penghargaan dalam Festival Film Kobe di Jepang (1998), juga diantre untuk diputar di sejumlah negara. "Awal tahun ini diputar di Prancis, juga Jepang. Belanda pun sudah pasti membeli," jelas Garin.

Dari iklan hingga film cerita
Dalam dunia perfilman nasional, Garin tidaklah muncul secara tiba-tiba. Sebelum melahirkan empat film cerita, ia sudah membuat film dokumenter. Beberapa di antaranya juga menyabet penghargaan. Misalnya Tepuk Tangan (Film Pendidikan Terbaik FFI 1986), penghargaan khusus untuk Menyuling Minyak (Festival Film dan Video Industri di Tokyo, 1988), Tantang Tantangan (Film Dokumenter Terbaik Mengenai Lingkungan Hidup, 1989), serta Air dan Romi (penghargaan promosi dalam International Ecological Film Festival di Freiburg, Jerman, 1992).

Sejak 1990 sudah banyak iklan dan klip video musik digarapnya. Antara lain iklan kolosal Gudang Garam edisi Lebaran, juga klip video untuk Januari Christy, Krakatau Band, dan Katon Bagaskara (Negeri di Awan) yang merebut juara pertama Video Musik Indonesia 1995. Selain itu ia juga pernah menggarap sinetron untuk televisi, Angin Rumput Savana.

Secara ekonomis, film karya Garin memang tidak menguntungkan. Baginya hal itu sebuah investasi jangka panjang. "Untuk mengisi kantung pribadi, saya mengandalkan pembuatan iklan, menulis, membuat klip musik, dan film dokumenter," ujar pria kelahiran Yogyakarta, 6 Juni 1961, yang sehari-harinya mengajar di Institut Kesenian Jakarta (IKJ), menulis, dan negosiasi.

Dulu, karyanya tidak diedarkan dengan baik sehingga tidak sempat ditonton orang. Meski begitu, Cinta dalam Sepotong Roti mampu menyaingi film Indonesia lainnya. "Penontonnya tergolong paling banyak untuk saat itu. Sedangkan tiga film cerita lain tak diedarkan lewat gedung bioskop umum, jadi tak ada bukti jumlah penonton," jelas Garin.

Keberhasilan Daun makin menumbuhkan keyakinan Garin. Alasannya, hampir sepuluh tahun orang rindu film nasional yang berbobot. Keyakinan lain, pangsa pasar film seni seperti karyanya berjangka usia panjang. Jumlahnya memang tidak terlalu besar, tetapi tetap bisa untung. "Diedarkannya seperti jualan bakmi. Pelanggannya itu-itu saja. Lama-kelamaan makin banyak, tapi, ya nggak bisa gede-gedean."

Kuat muatan lokal
Garin pandai membidik tema kehidupan yang luput dari perhatian masyarakat untuk diangkat di layar perak. "Itulah keinginan saya. Perlawanan saya, sengaja mengangkat tema-tema yang jarang diangkat oleh sineas lain," kata suami Riani ini.

Misalnya, film dengan dialog bahasa lokal. Ada perbedaan besar antara akting pakai bahasa Indonesia dan akting pakai bahasa lokal. Dengan bahasa lokal, bahasa tubuh terbawa. Padahal bahasa tubuh adalah budaya. Ketika itu diungkapkan dengan bahasa Indonesia, budaya lokalnya hilang.

Sifat kelokalan, bila dikemas secara global, akan mampu menembus lintas budaya. "Kemasan global, apakah itu teknologinya, cara bertuturnya, akan mampu bersaing dalam jangka panjang. Akan mampu menembus dunia, walaupun butuh waktu," ujar bapak tiga anak, Andini (11), Gibran (7), serta Adinda (3). Soal unsur lokalnya sangat populer atau budaya tradisi, bagi Garin tak masalah benar.

Garin mengakui, kemampuan berkeseniannya cuma diperoleh dari sekolah yang serba teoritis. Didukung dengan kemampuan dokumenter dan alam. "Saya bikin Cinta dengan struktur sangat teoritis. Permainannya pun sangat teoritis. Saya menambahkannya dengan unsur dokumentasi tempat. Tiga puluh lima hari sepuluh lokasi. Lima hari satu lokasi syuting."

Meski diakuinya tidak luar biasa, Cinta merebut lima penghargaan dalam FFI 1991, kecuali untuk kategori sutradara terbaik. Penghargaan sebagai sutradara muda terbaik justru diperoleh dalam Festival Film Asia Pasifik 1992 di Korea Selatan.

Ia sejak lama memang berambisi agar karyanya menembus pasar dunia. Bagi dia, untuk bisa menembus Eropa, misalnya, haruslah menang dalam gagasan. Namun karena untuk mewujudkan gagasan diperlukan dana, ia pun mengarahkan gagasan pada tema lokal. "Tapi ya itu tadi, kemasannya harus berkemampuan global."

Gagasan Garin diwujudkan dalam tema. Tema itu bisa ide, plot (seperti pada film action), mood (pada film horor), bisa juga karakter. "Oke, (soal) teknologi saya belum bisa. Bagi saya sekarang, tema ya ide. Teknologi nomor dua, tapi idenya gila-gilaan. Ini saya terapkan pada Surat. Film kedua ini lebih banyak ide," ujar pria yang mengenyam pendidikan di IKJ untuk bidang keahlian sutradara, juga meraih gelar sarjana hukum di Fakultas Hukum Universitas Indonesia.

Film cerita keduanya yang berlatar budaya Sumba itu pun mendapat penghargaan Berliner Zeitung Prize dalam Forum Des Jungen Folms, forum penting untuk film alternatif di Festival Film Berlin (1994), serta penghargaan tertinggi Cariddi d'Oro dalam Festival Film Taormina, Italia, pada tahun yang sama.

Festival Film Internasional Berlin 1996 menghadiahkan Network for the Promotional of Asian Cinema (NETPAC) Award kepada Bulan Tertusuk Ilalang. Selama tahun 1996 film itu diputar di berbagai festival internasional, di Singapura, Melbourne (Australia), dan Fukuoka (Jepang). Dalam Festival Film Asia Tenggara 1997 di Kamboja, Bulan juga meraih penghargaan utama, Apsara Emas.

Untuk bisa bersaing di tingkat dunia, selain ide harus cemerlang, muatan lokalnya harus luar biasa. Tapi kalau bersaing dengan Cina soal muatan lokal, ia mengaku kalah. "Cina nomor satu dalam hal budaya. Kalau mau bersaing, ya harus mencari sesuatu yang tidak dipunyai oleh Cina, Vietnam, atau Amerika Latin." Apakah itu? "Yaitu, dunia tumpang-tindih antara pra-modern dengan modern. Ada unsur lokalnya, ada unsur Sumba, ada parabola, juga megalitikumnya. Teknologi jelek tidak masalah. Itu malahan yang mendapatkan penghargaan paling tinggi," akunya perihal Surat.

Teknologi kini memang menjadi perhatian Garin. "Sudah saatnya dunia ide dan estetika digabung dengan teknologi yang memang tidak bisa ditawar-tawar. Saya menerapkannya pada Bulan."

Sementara film Daun sangat bernuansa sosial. Lewat jenis itu ia merasa lebih mudah meraih komunitas penonton yang lebih luas. Tentang tokohnya yang anak-anak jalanan, alasan Garin, "Dunia anak-anak bisa ditonton siapa saja. Cara bertuturnya lebih mudah diterima. Temanya sendiri sudah menjadi tema universal, baik di Indonesia maupun di Barat. Maka pasarnya bisa lebih luas."

Pasar yang lebih luas jadi target. Tema dibuat lebih pekat, sementara kadar estetikanya sengaja dikurangi. Ia membedakan Daun dengan Bulan yang dinilai berlebihan unsur estetikanya, sehingga kalau menang selalu Jury Prize. Dari tujuh penghargaan, hanya dua kali jadi film terbaik. Selebihnya Jury Prize. "Itu terlalu kontroversial. Terlalu egoistis. Estetika tinggi tetapi banyak kontroversinya."

Daun, menurut Garin, menampilkan teknik tata suara dan kamera mendekati taraf internasional. Pada aspek teknologi, Bulan dianggapnya sudah internasional. "Tapi untuk ide, paling bagus Surat. Penggarapan artistik paling bagus Bulan, sedangkan penggarapan sosial paling tinggi Daun."

Jadi pedagang keliling
Sangat sadar pangsa pasar tidak terlalu besar, Garin perlu strategi agar punya penonton, punya ruang eksibisi sendiri. Ini memang butuh waktu lama. Kesadaran itu betul-betul melekat. Diakuinya, dalam keluarganya (delapan orang), semuanya ya begitu itu. "Kakak saya, misalnya, keramiknya baru sekarang ini terkenal. Padahal waktu dia berproses dulu, pikiran-pikirannya, karya-karyanya, hampir tak pernah ditengok orang."

Kesadaran Garin juga terlihat saat membuat Anak Seribu Pulau. Ketika dibuat, orang sempat tak percaya. Ternyata sukses. Karya dokumenter ini banyak diambil universitas untuk riset. "Tiga tahun saya tawarkan ide itu, tapi tidak ada yang menengok sedikit pun. Tapi, sekali ide itu menemukan ruangnya, dia akan diterjemahkan dalam berbagai disiplin."

Sejumlah penghargaan memang diraih Garin. Tapi, penghargaan dalam festival film ternyata bukan tujuannya. Bagi Garin, festival sekadar pengukur. Setiap orang punya cara mengukur tersendiri. Ada yang diukur dari sisi penonton, ekonomi, nilai-nilai profesionalisme, atau dari sisi ilmu pengetahuannya. Nah, dalam festival, sebuah film bisa diukur dari berbagai aspek di luar jumlah penontonnya.

Ada karya film yang cuma hidup di universitas-universitas. Surat, misalnya, banyak untuk riset. Juga paling banyak meraih penghargaan. Meski kurang di sisi penonton, ia punya nilai sendiri. Sebab ada film yang memiliki penonton tapi kehilangan nilai penemuannya. "Pikiran saya sebetulnya sangat sederhana: setiap orang dihargai menurut tempatnya."

Struktur cerita yang dipilih Garin sering "melawan". Dalam pengertian, kalau orang lain membikin gaya Aristoteles, awal, tengah, dan akhir, film karya Garin seperti gaya sketsa. Ibarat orang bikin lukisan yang banyak tempelan. Jadi, informasi ditemukan dalam siklus. Informasi tidak harus di tengah, di awal, atau di akhir. "Kebetulan atau tidak, banyak pembuat film art yang seperti saya. Bulan, misalnya, gaya berceritanya mirip dengan film karya sineas Taiwan."

Film art, menurut Garin, perlahan-lahan telah membentuk pasar. Masalahnya, kita tidak memiliki orang yang khusus di bidang distribusi film jenis begini.

"Dulu, di beberapa festival internasional, saya betul-betul seperti pedagang keliling dari rumah ke rumah. Tidak ada distributor. Pokoknya, dijalankan sendiri. Buat pamflet sendiri. Kalau perlu mendatangi juri di hotel, memasukkan contoh karya di bawah pintu. Saya nggak pernah melibatkan orang lain, karena nggak ada duit," kata Garin terus terang. "Sekarang sih enak, ada distributornya. Dia yang mengatur semuanya."

Pengalaman itu paling tidak dilakukan sampai film Bulan. "Orang lain minimal didampingi artis atau manajer. Tapi saya sendirian kluntang-kluntung. Nyiapin foto sendiri, bikin sinopsis dan lain-lain sendiri." Beberapa kali ia kikuk hadir di pertemuan dengan jas sewaan yang tak pernah ganti. Ketika ditanya sudah berapa lama hadir di festival, ia asal menjawab, "One weeks ago", namun tak mengurangi pengalaman dan prestasinya yang dari waktu ke waktu terus menanjak.

Ingin bikin film sensual
Industri film dan produk audio visual sangat terpukul oleh membengkaknya ongkos dan harga bahan baku. Untuk mengakalinya, Garin menggagas dua terobosan: kerja sama internasional untuk mendapatkan dana, atau menerapkan teknologi tertentu.

Ia memberi contoh, di Eropa Timur orang mem-blow-up video ke film 35 mm meski dengan risiko kualitas gambar turun drastis. Untuk menerapkan cara ini orang harus tahu betul karakter video. "Nggak semua cerita bisa direkam karena ada risiko distorsi gambar. Jadi, ya perlu mengambil tema-tema cerita yang sesuai dengan karakter gambar semacam itu."

Di sisi lain, kerja sama pun tidak gampang. Apalagi dengan pihak luar. Sistem dan cara kerja acap kali tidak cocok. Pengalaman yang menggelikan sering dialami Garin, terutama karena pola manajemen yang seenaknya. Kepada calon mitra, misalnya, ia biasa meminta uang muka 60% karena memang tidak punya modal. Jika calon mitranya menolak, kerja sama pun batal, bagi Garin juga tidak apa-apa. "Aku nggak pernah pakai cara-cara bank. Pembayaran dilakukan secara tradisional. Tidak ada PT, perusahaan, dsb. Kalaupun dulu pernah sewa kantor, itu karena memang perlu ruang untuk menaruh barang-barang."

Kini Garin memutuskan untuk tidak pakai kantor, melainkan mengandalkan telepon selular sebagai sarana kerja, yang ternyata pun sering tidak aktif. "Dengan sistem ini pun tetap produktif. Tapi, ya itu tadi, setiap produksi uang mukanya harus 60%," kata pria yang hampir selalu mengucapkan Indonesia menjadi "Indonesa" ini sambil tertawa.

Manajemen yang baik bagi Garin adalah jika kerja sama tetap bisa berjalan, efektif, dan manusiawi. Bahkan kehadirannya sebagai sutradara tidak terasa. "Manajemen itu seharusnya yang mengembangkan bakat, bukan sebaliknya, bakat menyerahkan diri untuk ditaklukkan atau dimatikan oleh manajemen."

Masih akan terus berkarya, Garin bercita-cita membuat mini seri untuk televisi. "Tentu dengan estetika yang bagus, dengan ruang penampilan lebih luas. Sebagai terobosan saya juga mau bikin film sensual. Sensualitas lokal yang dibumbui keunikan seksualnya, tapi punya nilai estetika yang tinggi," ujarnya. Garin seperti melempar bola tinggi-tinggi, berharap ada produser atau pemilik modal yang akan menangkapnya. (A. Hery Suyono/Mayong S. Laksono)

rumah intisari on the net