kop_krimi.jpg (18711 bytes)

krimi1.jpg (12683 bytes)

Waktu baru saja menunjukkan pukul 06.45. Hari itu Senin minggu pertama di bulan April. Mobil Mercy hitam dengan pelat nomor B 2349 XY seperti biasanya meluncur perlahan dari rumah di Jl. Duta Kencana di kompleks perumahan mewah Pondok Indah, Jakarta Selatan. Seperti biasanya sopir yang bernama Ahmad membawa majikannya, Sugondo, ke kantornya di kawasan segi tiga emas di Jl. Jenderal Sudirman. Sugondo memang berkantor di salah satu gedung pencakar langit di daerah yang setiap hari macet itu sebagai salah seorang direktur bank swasta nasional terkenal.

Sama seperti hari-hari sebelumnya, menjelang masuk ke daerah three in one ini Sugondo yang hanya ditemani Ahmad harus mencari seseorang untuk menemani mereka, sehingga mobil itu bisa melintas di kawasan dengan ketentuan bahwa setiap kendaraan roda empat yang melewati daerah itu harus berpenumpang sekurang-kurangnya tiga orang.

Joki langganan
Dari jauh sudah terlihat segerombol orang yang mengacung-acungkan tangan atau memberi tanda agar mobil yang lewat berhenti. Mereka adalah para joki, wanita, pria, maupun anak-anak dari berbagai tingkat usia, yang mencari uang dengan menyediakan diri sebagai penumpang sampai si pemberi tumpangan berhasil masuk atau melewati kawasan three in one itu.

Di antara para joki itu ada sesosok tubuh dan wajah yang sudah dikenal baik oleh Ahmad maupun Sugondo. Seorang joki bernama Wisnu langganan mereka memang selalu mangkal di dekat halte di Jl. Sisingamangaraja. Selain berpenampilan bersih, Wisnu yang berusia 14 tahun itu tidak pernah bersikap macam-macam dan selalu sopan. Karena itu daripada bergonta-ganti joki yang belum pasti, setiap hari Wisnu diminta menunggu pada jam yang sudah ditentukan. Hal ini sudah berlangsung hampir sebulan. Wisnu mengaku masih bersekolah di sebuah SMP pada siang hari.

Tapi hari itu wajah Wisnu tampak tidak secerah biasanya. Begitu mobil yang dikendarai Ahmad berhenti, Wisnu dengan cekatan segera naik dan mobil itu pun meluncur kembali. Kalau biasanya ia duduk di samping sopir, kali ini di luar kebiasaannya Wisnu ingin duduk di bangku belakang, di samping Sugondo. Memang tidak ada ketentuan yang mengharuskannya duduk di depan. Sugondo pun mengalah dan tidak mempermasalahkan hal itu.

Seperti biasanya, dalam perjalanan ke kantornya, Sugondo terbiasa menyiapkan berbagai pekerjaan karena ia tipe orang yang tidak mau membuang waktu secara percuma. Untuk itu bukan hal aneh jika selama perjalanan itu ia berkali-kali membuka-tutup tasnya untuk mengambil berkas yang dibutuhkan. Tanpa disadarinya, Wisnu yang duduk di sampingnya memperhatikan isi tasnya. Selain berkas-berkas, hari itu memang Sugondo membawa sejumlah uang yang akan segera dimasukkannya ke bank tempatnya bekerja. Uang itu milik istrinya.

Serahkan atau kutusuk!
Sekitar 200 m setelah memasuki kawasan three in one, tiba-tiba kesunyian di dalam mobil yang sejuk itu pecah oleh suara bentakan. "Serahkan uang itu atau saya tusuk!" Tentu saja Ahmad dan Sugondo sama-sama terkejut. Itu suara Wisnu yang selama ini dikenal pendiam.

"Kamu jangan main-main, Wis," kata Ahmad.

"Saya tidak main-main," jawab pemuda tanggung itu.

"Kau mau apa?" bentak Sugondo.

"Apa tidak dengar yang saya minta adalah duit di dalam tas Bapak?" jawab Wisnu sambil melotot. Segala keramahannya selama ini tiba-tiba lenyap.

"Apa selama ini saya pernah menyakitimu atau uang yang saya berikan kurang?" tanya Sugondo. Selama ini kalau joki biasa cukup diberi Rp 1.500,- - Rp 2.000,- sekali jalan, Sugondo memang termasuk murah hati. Setiap hari Wisnu selalu diberinya uang Rp 5.000,-.

krimi2.jpg (5456 bytes)Mobil masih terus melaju. Ahmad tidak sempat berpikir bagaimana menggagalkan penodongan ini. Tentu saja ia tidak mau mengambil risiko, karena dari kaca spion dia melihat perut majikannya ditodong dengan pisau belati.

"Baik, kau boleh mengambil uang itu," kata Sugondo akhirnya setelah tidak melihat cara teraman menjinakkan pemuda ini.

Rupanya Wisnu sudah mempersiapkan segalanya secara matang. Segera ia mengeluarkan kantung plastik hitam dari kantung celananya. Dalam waktu singkat uang dalam tas Sugondo yang berjumlah Rp 20 juta itu sudah berpindah tempat ke dalam kantung plastik hitam tersebut.

"Berhenti!" perintah Wisnu kepada Ahmad.

Seperti diperintahkan, Ahmad langsung menepikan mobilnya. Begitu mobil itu berhenti, langsung melompat ke luar dan menyelinap di antara mereka yang sedang menunggu bus. Dalam beberapa detik saja sudah sulit melacak keberadaan anak tersebut. Sejenak baik Ahmad maupun Sugondo merasa tidak percaya atas apa yang baru mereka alami.

"Sial benar kita hari ini," kata Sugondo.

"Untung Bapak tidak apa-apa," kata Ahmad berusaha menghibur majikannya.

"Tapi uang itu ...."

"Lebih baik kita melapor pada polisi, Pak."

Belum sempat Sugondo mengiakan usul sopirnya, dengan inisiatifnya sendiri Ahmad menjalankan mobilnya dan mengarahkannya ke Kodak Metro Jaya yang tak jauh dari situ. Sesampainya di tempat itu Sugondo segera melaporkan apa yang terjadi. Setelah menerima laporan itu Kapten Pol. Setyohadi berjanji akan melakukan penyelidikan. "Jika sudah ada perkembangan saya akan menghubungi Bapak," katanya.

"Joki-joki ini memang jadi sumber penghasilan baru selain juga jadi ancaman baru bagi masyarakat," katanya kepada anak buahnya, Letnan Pol. Anwar dan Pratomo. "Coba selidiki anak itu, siapa tahu ada dalang di balik kejadian ini," perintahnya.

"Siap, Kapten!" kata kedua anak buah itu serempak.

Selama ini keberadaan para joki dan peraturan three in one lahir hampir bersamaan. Nyatanya memang keduanya bisa hidup seperti simbiose mutualistis, masing-masing saling menguntungkan. Bagi pengguna jasa, mereka bisa masuk ke kawasan three in one dengan mudah, sementara para joki bisa memperoleh tambahan. Mulanya memang hanya anak-anak, tetapi kini pekerjaan yang dianggap mudah itu tidak lagi mengenal batas usia.

Berbekal ciri-ciri yang digambarkan oleh Ahmad dan Sugondo, kedua anak buah Setyohadi, Subandi dan Santo, memutuskan untuk menyamar sebagai majikan dan sopir dengan menggunakan sebuah sedan. Mereka menelusuri rute yang biasa ditempuh oleh Ahmad dan Sugondo. Tiap hari mereka menggunakan jasa para joki yang usia dan penampilannya kira-kira seperti gambaran yang mereka miliki. Sayangnya, sampai seminggu pekerjaan mereka belum membuahkan hasil.

"Untuk sementara mungkin bocah itu tak akan berani muncul," kata Setyohadi. "Tapi itu bukan jaminan bahwa ia tidak akan melakukan hal itu lagi. Atau mungkin saja ia pindah dari rute semula ke rute lain yang juga memiliki akses ke kawasan three in one. Coba arahkan pengintaian kalian beberapa daerah tersebut," Setyohadi memberikan saran.

Belum lagi Wisnu berhasil dibekuk, dua hari kemudian kasus serupa muncul lagi di sebuah media massa ibu kota. Si penulis surat memberi gambaran pelakunya juga seorang pemuda tanggung. Tapi kali ini si penodong tak berhasil menggondol uang korbannya, meskipun ia berhasil melarikan diri setelah melukai lengan korbannya.

Mengaku jadi mahasiswa
Mendengar berita ini Santo dan Subandi semakin gemas. Berita ini seakan-akan mengejek mereka. Karena itu mereka semakin giat melakukan tugasnya. Seperti saran atasannya, mereka kini memindahkan pengintaian mereka ke beberapa jalan lain yang memiliki akses ke kawasan berpenumpang minimal tiga orang itu.

Tentu saja para joki di kawasan J. Gatot Subroto belum tentu kenal dengan para joki di kawasan lainnya. Tapi dengan memberi gambaran ciri-cirinya berupa bekas luka di atas alis sebelah kanan dan tahi lalat di bibir kiri, Chandra, joki remaja yang mereka gunakan hari itu mengira-ngira siapakah orang yang dimaksud.

"Ada perlu apa sih, Bapak mencarinya? Apakah ia keluarga Bapak atau pernah melakukan kesalahan?" selidik Chandra. Rupanya di antara para joki pun ada semacam perasaan senasib, sehingga tak mudah bagi mereka untuk membocorkan sesamanya.

"Kami hanya ingin memberikan uang sekolah yang tiap bulan kami janjikan kepadanya," kata Santo dengan hati-hati.

"Oh, saya kira Bapak polisi. Soalnya, sering kali kami digaruk polisi dan ditahan selama beberapa hari," kata Chandra terus terang.

Melihat gelagat ini kedua polisi itu tak mau informan mereka menjadi curiga, sehingga mereka akan semakin jauh dari sasaran yang dicari.

"Kami sebenarnya mahasiswa yang sedang mengadakan penelitian mengenai para joki itu. Soalnya, konon dengan melakukan pekerjaan ini banyak dari anak-anak yang seharusnya masih bersekolah, sekarang lebih memiilih menjadi joki sehingga sekolah mereka terlantar," jawab Subandi cepat.

"Apakah para joki juga sering berganti-ganti lokasi mereka?" tanya Santo.

"Umumnya sih tidak, Pak. Masing-masing biasanya sudah punya langganan tetap. Tapi hal seperti itu bisa saja terjadi, seperti yang dilakukan oleh Bimo, joki yang sebelumnya biasa bertugas di daerah Jl. Sisingamangaraja."

Mendengar hal itu denyut jantung Subandi dan Santo segera berdetak cepat karena kegirangan. Mungkin dari sinilah mereka bisa menelusuri lebih lanjut keberadaan sasaran mereka. Kedunya berusaha menahan diri.

"Memangnya kenapa si Bimo itu pindah?" tanya Subandi.

"Katanya, sih karena di daerah itu sudah terlalu banyak saingan," kata Chandra.

"Menarik sekali kalau kami bisa mewawancarai si Bimo. Apakah kamu tahu di mana alamatnya?" tanya Subandi lagi.

"Saya nggak tahu, soalnya karena baru beberapa hari kami belum akrab dengannya. Nanti kalau sudah tahu saya beri kabar deh," kata anak itu seakan-akan memberi janji. Padahal di benak Chandra saat itu langsung melintas bayangan Bimo, yang memiliki tanda-tanda fisik seperti yang disebutkan oleh kedua lelaki itu.

"Tapi jangan bilang dulu pada dia bahwa kami mau mewawancarainya!" pesan Subandi. "Yang penting kami ingin bertemu dulu dengannya."

Sampai di depan Wisma Dharmala Subandi segera mengarahkan mobilnya ke jalur lambat dan berhenti di depan halte. Setelah memberi Chandra uang dan berjanji untuk menjemputnya kembali besok, mereka pun berpisah.

Chandra jadi penghubung
"Mungkinkah si Bimo itu Wisnu yang kita cari ya Ban?" tanya Santo kepada Subandi.

"Siapa tahu. Mudah-mudahan saja melalui si Chandra kita bisa mengungkap kasus ini. Kita tunggu saja kabar darinya," jawab rekannya.

Apa yang diperoleh hari ini mereka laporkan pada Setyohadi. Sejauh ini Sugondo pun belum menghubungi mereka lagi.

Seperti yang dijanjikan kemarin, keesokan harinya Chandra sudah menunggu di tempat yang ditentukan. Wajahnya kelihatan gembira.

"Pak, saya berhasil bertemu dengan si Bimo," katanya dengan antusias. "Ia tinggal di daerah Pasar Jumat, Ciputat bersama dengan ibunya. Katanya, sih sebenarnya ia pindah dari tempat semula karena ia tidak ingin bertemu lagi dengan seorang pelanggan yang dibencinya. Kalau Bapak ingin bertemu nanti saya antar ke tempat di mana ia biasa mangkal," kata Chandra.

"Bagaimana jika kita mencarinya besok pagi. Lebih cepat lebih baik," kata Santo dengan antusias.

"Yoi," kata Chandra dengan lagak anak Jakarta.

Sesampai di tempat biasa Chandra segera melompat ke luar setelah memperoleh imbalan.

"Ingat besok pukul 06.00 di tempat biasa, ya!" teriak Santo dari jendela.

"Siip lah!" sahut pemuda tanggung itu sambil melambaikan tangan.

"Rasanya kita semakin dekat dengan sasaran, meskipun kita belum bisa memastikan apakah si Bimo itu adalah Wisnu," kata Santo.

"Ya, kita mesti menahan rasa ingin tahu kita semalam ini lagi," jawab Subandi.

Keesokan harinya dengan penuh semangat kedua polisi ini segera meluncur ke tempat yang dijanjikan. Di halte yang biasa Chandra sudah menunggu. Melihat "temannya" datang, dengan cekatan Chandra segera masuk ke dalam mobil itu.

"Ke mana tujuan kita?" tanya Subandi.

"Ke arah Ciputat, Pak. Sambil jalan nanti saya tunjukkan di mana Bimo biasa menunggu kendaraan umum yang akan membawanya ke tempat di mana ia bisa mangkal," jawab Chandra.

Untuk menghindari kemacetan, Subandi mengambil jalan tikus. Kira-kira 100 m setelah Restoran Situ Gintung, tiba-tiba Chandra memberi aba-aba. "Di gang sebelah depan kita berhenti, Pak. Rumah Bimo ada di dalam gang itu. Mudah-mudahan ia belum berangkat, karena sesuai dengan perintah Bapak saya tidak mengatakan bahwa Bapak akan datang ke tempatnya," kata Chandra.

Mereka segera memarkir kendaraan sedekat mungkin, agar bisa mengamati Bimo dengan baik. Belum sampai sepuluh menit menunggu, Chandra segera berkata sambil menunjuk pada seorang pemuda tanggung, "Itu dia Bimo." Meskipun hanya berkaus dan bersandal jepit, pemuda tanggung itu memang berpenampilan bersih. Setelah berembuk, akhirnya disetujui Chandra memanggil anak tersebut.

"Bim! Bimo!"

Yang dipanggil langsung menoleh ke arah suara tersebut.

"Kemari. Sejenak Bimo menahan langkahnya. Tetapi begitu tahu yang memanggilnya adalah Chandra, teman barunya, ia segera melangkah kembali.

"Kok tumben kamu ada di sini?" tanya Bimo.

"Ya, aku memang menunggu kamu," jawab yang ditanya.

"Memangnya ada apa?"

"Ada yang mau kenalan sama kamu. Yo, aku kenalkan."

"Siapa?" tanya Bimo dengan nada agak curiga.

"Dua orang mahasiswa. Kenapa?"

"Oh, aku kira ...," kata Bimo tanpa menyelesaikan ucapannya.

"Kau kira siapa?" tanya Chandra agak heran.

"Bukan siapa-siapa. Tapi apa hubungannya mereka mencari aku?" tanya Bimo lebih lanjut.

"Begini lo, mereka itu mahasiswa yang sedang menyusun skripsi. Mereka tertarik pada pekerjaan kita sebagai joki. Jadi mereka ingin mewawancarai kamu mengenai suka dukanya pekerjaan joki itu."

"Kenapa nggak kamu saja? 'Kan sama saja?"

"Semakin banyak yang diwawancarai 'kan makin lengkap. Apalagi kamu 'kan baru saja pindah dari tempat lain. Mungkin pengalamanmu lebih lengkap daripada pengalamanku."

Mulai memasang perangkap
Dengan perasaan enggan, kedua pemuda tanggung itu menghampiri kedua orang polisi yang tetap berada di dalam mobil mereka.

"Maaf, Dik, kalau kami mengagetkanmu. Kenalkan saya Subandi dan ini Mas Santo," kata Subandi memperkenalkan diri dan temannya.

Sama seperti skenario yang dikatakannya pada Chandra, kedua polisi ini pun mengaku sedang melakukan penelitian terhadap para joki.

"Adik tidak keberatan 'kan jika kita ngobrol-ngobrol sebentar. Karena di pinggir jalan bising, apakah kami boleh ke rumah Adik saja," tanya Santo.

Setelah yakin bahwa ketakutannya tidak beralasan, Bimo setuju untuk mengajak tamunya ke rumahnya yang sangat sederhana. Sesampainya di rumah, ia langsung memanggil.

"Bu!"

"Lo, kok kamu balik lagi? Apa ada yang ketinggalan?" tanya seorang wanita setengah baya yang muncul dari dalam.

Setelah memperkenalkan diri dan maksud kedatangan mereka, Subandi dan Santo mengatakan bahwa mereka juga tidak ingin merugikan Bimo. Mereka berjanji memberi uang sebagai kompensasi waktu Bimo yang terbuang karena mengobrol dengan mereka.

"Apa yang menyebabkanmu tertarik menjalani pekerjaan sebagai joki?" tanya Subandi mulai melancarkan serangannya.

"Ya, untuk membayar uang sekolah dan menambah belanja ibu," kata Bimo tanpa ragu.

"Memangnya kamu sekolah di mana?" sambung Santo.

"Di SMP Bakti Ibu, tak jauh dari sini. Saya masuk siang hari. Karena itu pagi hari saya gunakan untuk mencari uang. Soalnya, kasihan ibu harus membanting tulang untuk memenuhi kebutuhan kami."

"Memangnya ayahmu di mana?"

Sejenak Bimo kelihatan ragu dan tampaknya pertanyaan ini sulit untuk dijawabnya. "Saya tidak tahu ke mana dia. Tapi yang pasti, menurut ibu, ia sudah lama tidak pernah pulang."

"Menurut Chandra, kamu baru saja pindah daerah operasi. Mengapa kamu sampai pindah dan bukankah dengan kepindahan itu berarti kamu kehilangan pelanggan yang sudah kamu kenal sejak lama?" tanya Subandi.

"Memang benar sih apa yang Bapak bilang. Tapi karena suatu hal yang tidak bisa saya jelaskan, saya pindah ke daerah Gatot Subroto sehingga saya bisa berkenalan dengan Chandra."

Setelah bercakap-cakap sekitar tiga perempat jam, akhirnya Subandi, Santo, dan Chandra mohon diri. Tak lupa Santo menyelipkan uang Rp 10.000,- ke saku Bimo yang segera mengucapkan terima kasih.

"Kalau kamu mau ikut sekalian ke pangkalanmu juga boleh Bim," kata Santo dengan ramah.

"Baik, Pak. Saya pamitan dulu pada Ibu," katanya sambil menyelinap masuk.

"Bu, Bimo pergi dulu, ikut dengan Bapak-bapak itu dan Chandra. Nanti siang Bimo kembali. Ini uang pemberian kedua bapak itu. Bisa Ibu gunakan untuk membeli beras. Mudah-mudahan nanti siang Bimo bisa bawa tambahannya."

"Hati-hati, Bim dan cepat pulang," pesan sang ibu.

Ditinggal pergi
Kedua pemuda tanggung dan kedua orang polisi itu segera meluncur kembali ke arah Jakarta dan kedua pemuda itu minta diturunkan di pangkalan mereka. Setelah saling mengucapkan terima kasih, mereka saling berpisah.

Setelah bertemu dengan Bimo, Subandi dan Santo sama-sama yakin bahwa Bimo itu memang Wisnu yang mereka cari.

"Rasanya benar, San. Bimo itu pasti Wisnu yang kita cari. Menurutmu, bagaimana kalau kita balik lagi ke rumahnya dan menanyai ibunya, siapa tahu ibunya bisa melengkapi informasi yang kita miliki," kata Subandi.

"Aku rasa memang begitu sebaiknya. Soalnya, ketika ditanyai soal ayahnya, nampaknya Bimo agak bimbang dan bingung. Oke kita balik saja sekarang!" katanya sambil mengarahkan mobil itu kembali ke rumah Bimo.

Tak lama kemudian kedua polisi itu sudah berada di teras rumah yang dituju.

"Permisi," kata Santo.

"Sebentar," terdengar suara dari dalam rumah. "Oh, Bapak. saya kira siapa. Bukankah tadi Bapak berangkat dengan putra saya," tanya ibu Bimo.

"Memang, dan ia sudah sampai di pangkalannya. Kami kembali hanya karena ada pertanyaan yang ingin kami ajukan kepada Ibu. Apakah Ibu bisa meluangkan waktu dalam beberapa menit?" tanya Subandi.

"Silakan masuk," kata wanita itu.

"Begini, Bu. Kami tadi menanyakan kepada Bimo mengenai pekerjaannya sebagai joki. Tapi rasanya ada sesuatu yang belum lengkap. Yaitu mengenai ayah Bimo, apakah ia juga mengizinkan anaknya untuk bekerja sebagai joki? Menurut Bimo, ayahnya sudah lama tidak pulang," kata Subandi lagi.

"Memang, semula saya sendiri tidak mengizinkan putra saya untuk menjadi joki. Selain berbahaya dan mengganggu sekolahnya, saya takut anak saya ditangkap polisi. Mengenai ayah Bimo, saya memang tidak banyak menceritakan kepadanya. Tapi karena suatu kali ia pernah bertanya sebenarnya ada di mana ayahnya, terpaksa saya ceritakan bahwa ayahnya sudah lama tidak kembali. Menurut yang saya dengar ia kini tinggal di Jakarta. Meskipun Ciputat - Jakarta bukanlah suatu jarak yang jauh, tapi saya tidak berusaha untuk mencari apalagi menemuinya. Soalnya, saya menganggap dia sudah tidak menginginkan kami lagi. Suami saya pergi meninggalkan kami saat Bimo masih berusia 10 tahun. Belakangan saya tahu bahwa sebelum menikah dengan saya ternyata ia sudah berkeluarga dan memiliki beberapa anak. Jadi, tentu saja ayah Bimo tidak tahu kalau anaknya kini menjadi joki. Suatu ketika Bimo pernah mengatakan bahwa siapa tahu suatu hari kelak ia bisa bertemu dengan ayahnya."

"Siapa nama lengkap Bimo?" tanya Santo.

"Nama lengkapnya Wisnu Bimo. Kadang ada yang memanggilnya Wisnu, tapi ada juga yang memanggilnya Bimo. Sayang, nasibnya tidak sebaik namanya," kata ibu itu seakan bergumam kepada dirinya.

"Sementara itu ayah Bimo itu siapa namanya," sambung Santo.

"Sugondo. Bayu Sugondo, saya sudah tidak ingin mengingat-ingat nama itu lagi.

"Sugondo?" tanya Santo dan Subandi hampir berbarengan.

"Ya, Sugondo. Memangnya kenapa?" tanya ibu ini bingung.

"Apakah Ibu kenal dengan foto ini?" tanya Santo sambil menyodorkan sebuah foto.

Melihat foto ini ibu tersebut merasa kaget. "Dari mana kalian memperoleh foto ini?" tanyanya penuh selidik.

"Dari pemiliknya?"

"Ya, dari pemiliknya."

"Ya, inilah ayah Bimo. Bayu Sugondo. Sebenarnya apa maksud kalian ...? Saya juga memiliki foto ini."

Mencoba melarikan diri
Akhirnya, dengan berterus terang kedua polisi itu menceritakan siapa diri mereka sebenarnya dan apa yang sedang mereka lakukan. Untuk meyakinkan si ibu, mereka memperlihatkan identitas dan surat penangkapan yang mereka miliki.

"Pada minggu lalu Pak Sugondo ditodong oleh seorang joki bernama Wisnu. Melihat berbagai kemiripan saya rasa pelakunya putra ibu sendiri," kata Santo mantap.

"Tapi mana mungkin. Anak saya tak pernah macam-macam selama ini. Dia bukanlah seorang penjahat. Saya tak yakin," kata ibu ini seakan-akan tidak percaya pada pendengarannya sendiri.

"Tapi kami harap Ibu tenang. Kami akan berusaha membawa Bimo ke kantor polisi untuk diinterogasi," lanjut Subandi.

"Jangan, Pak. Saya mohon, jangan. Dia anak saya satu-satunya. Jangan sakiti dia."

"Kami berjanji memperlakukannya dengan baik dan tidak akan menyakiti dia. Kalau diperlukan kami akan memanggil Ibu. Jadi, mohon Ibu tenang-tenang saja. Baiklah, Bu. Terima kasih atas bantuan Ibu. Kalau ada perlu, silakah Ibu menghubungi kami di kantor polisi," kata Subandi seraya meninggalkan nomor telepon kantornya di secarik kertas.

Kedua polisi itu segera meluncur ke tempat di mana tadi mereka menurunkan Bimo alias Wisnu. Untung Chandra ada di situ.

"Mana Bimo?" tanya Santo.

"Sedang mengantar seorang langganannya. Tunggu saja, Pak. Sebentar lagi juga dia kembali."

Memang benar selang seperempat jam kemudian Bimo kembali. Melihat Santo dan Subandi ada di situ, ia sempat curiga dan berusaha untuk melarikan diri. Namun dengan tangkas, kedua polisi itu bisa mencekalnya.

"Lepaskan aku!" katanya sambil berusaha meronta dari cengkeraman tangan Santo.

"Pak, Bapak apakan Bimo?" tanya Chandra bingung. "Dia 'kan tidak bersalah apa-apa. Mengapa Bapak tangkap dia? Lepaskan dia, atau saya laporkan Bapak pada polisi," bela Chandra.

Pengakuan membuka rahasia lama
Setelah berhasil menenangkan kedua pemuda tanggung itu, kedua polisi itu membuka rahasia siapa diri mereka sebenarnya. Karena itu mereka meminta Bimo dan Chandra untuk ikut ke kantor polisi.

Di kantor polisi Kapten Setyohadi segera menyambut kedatangan mereka. Setelah mendengarkan secara singkat hasil penyelidikan kedua anak buahnya, dengan ramah sang kapten menanyai Bimo.

"Apakah kamu yang bernama Wisnu alias Bimo?'

"Benar, Pak," jawabnya singkat.

"Apakah kamu tahu mengapa kamu dibawa ke sini?"

"Tidak. Saya tidak pernah berurusan dengan polisi."

"Memang benar, kamu selama ini tidak pernah berurusan dengan polisi," sambung Setyohadi. "Tapi benarkah kamu pernah melakukan kejahatan minggu lalu dengan menodong Pak Sugondo ketika kamu menjadi joki?"

"Ya," katanya perlahan.

"Tapi mengapa kamu lakukan hal itu, padahal selama ini Pak Sugondo memperlakukanmu dengan baik?"

"Baik? Baik bagaimana yang Bapak maksudkan? Justru selama ini saya dendam kepadanya," kata Bimo terus terang tanpa menutupi rasa benci terhadap orang bernama Sugondo itu.

Sementara itu Santo diminta atasannya untuk menghubungi Pak Sugondo dan memintanya segera datang ke kantor polisi. Dengan didampingi Ahmad, sang sopir, dua puluh menit kemudian Sugondo tiba di kantor polisi.

Segera keduanya dipertemukan dengan Bimo alias Wisnu. Setelah membenarkan orang itulah yang melakukan penodongan terhadapnya, Kapten Setyohadi melanjutkan pertanyaannya kepada Bimo.

"Tadi kamu mengatakan dendam kepada Pak Sugondo. Bisa kamu ceritakan apa yang pernah dilakukan oleh Pak Sugondo terhadapmu sehingga kamu menaruh kebencian terhadapnya?"

"Tanya saja pada dia sendiri," jawab Bimo dengan ketus.

"Apakah Bapak bisa menceritakan apa yang pernah Bapak lakukan terhadap anak ini?" tanya Setyohadi.

"Saya tidak tahu. Rasanya saya tidak pernah melakukan kesalahan apa pun terhadapnya. Selama ini saya selalu memperlakukannya dengan baik. Uang jasa pun selalu saya berikan lebih besar daripada umumnya. Sebenarnya saya sayang kepada anak itu, tetapi saya tidak bisa mengerti mengapa pada hari naas itu ia tiba-tiba berubah menjadi demikian," kata Sugondo.

"Kau memang tidak pernah melakukan kesalahan secara langsung kepadaku. Tapi apa yang pernah kau perbuat terhadap ibuku? Kau meninggalkanku selagi aku membutuhkan kasih sayang seorang ayah. Sementara Ibu membanting tulang untuk menghidupiku, kau enak-enakan tinggal di rumah mewah bersama istri yang lain dan anak-anakmu!" teriak dengan geram.

"Maksudmu kau ini siapa?!" tanya Sugondo agak kaget dan baingung.

"Kau pasti tidak mengenali lagi anakmu sendiri, tapi kau tak mungkin lupa 'kan pada seorang wanita sederhana yang pernah kau nikahi lalu kau tinggalkan setelah memiliki seorang anak. Wanita itu adalah ibuku, namanya Ratna."

Dikirim ke Tangerang
Mendengar nama itu Sugondo tampak terguncang. Sesaat setelah bisa menenangkan diri ia bertanya. "Jadi, jadi kau Wisnu Bimo, anakku?" Dalam keadaan seperti itu Sugondo rupanya sudah menyingkirkan rasa malu, meskipun selama ini ia merupakan orang yang selalu biasa dihormati. Tetapi di depan beberapa orang ini, harga dirinya tak terasa sudah tercabik-cabik tanpa dia sadari.

"Jadi, benar kau anakku?" tanyanya seakan tidak percaya.

"Ya, benar memang dia anakmu," terdengar suara seorang wanita di ruangan itu. Ternyata itu suara Ratna, orang yang sangat dicintai oleh Bimo. Rupanya, karena khawatir akan keselamatan putranya, Ratna terpaksa menyusul ke kantor polisi.

"Maafkan saya, Bu. Saya menyusahkan Ibu. Sebenarnya saya hanya ingin memberi pelajaran terhadap orang ini, bagaimana rasanya kehilangan sesuatu. Ternyata bagi dia kehilangan uang sebesar itu saja sudah membuatnya menderita. Tapi apa artinya jika dibandingkan dengan Ibu yang kehilangan seorang suami dan saya yang kehilangan kasih sayang seorang ayah," kata Bimo dengan mantap.

"Maafkan aku, Ratna. Aku memang selama ini telah menelantarkan kalian. Maafkan ayahmu, Bimo. Aku memang bukan seorang suami dan ayah yang baik. Namun kejadian hari ini sudah membuka mataku bahwa betapa kerdilnya tingkah lakuku," kata Sugondo yang tiba-tiba berubah menjadi seperti seorang pesakitan.

Ternyata secara tak disengaya Bimo menemukan foto Sugondo yang disimpan oleh ibunya. Dia tahu dari mulut ibunya ia tidak bisa mengharapkan cerita yang lengkap perihal sang ayah yang menghilang entah ke mana. Anak ini memang keras hati. Dengan bersusah payah ia mencoba menghubungi orang-orang dari pihak ibunya, yang diduganya pasti tahu mengenai hubungan ibunya dengan ayahnya di masa lalu. Akhirnya, ketika ia hampir putus harapan, seorang pamannya yang sejak awal ternyata memang tidak merestui hubungan Ratna dengan Sugondo, mau buka mulut. Dari paman inilah ia memperoleh gambaran lebih lengkap mengenai lelaki yang menjadi ayahnya itu. Menurut pamannya itu, suatu kali ia sempat melihat Sugondo di depan kantornya. Keterangan inilah rupanya yang dimanfaatkan oleh Wisnu untuk mengintai keberadaan ayahnya.

Dari hari ke hari selama setahun belakangan ini ia melakukan penyelidikan secara diam-diam, sampai akhirnya ia benar-benar yakin menemukan orang dicarinya. Ketika pertama kali bertemu dengan Sugondo terjadi perang batin di hati anak muda ini. Tapi mengingat berbagai penderitaan hidup yang ia jalani bersama ibunya, akhirnya rasa bencinya mengalahkan rasa rindunya.

"Keinginanmu hari ini sudah terlaksana bertemu dengan ayahmu, meskipun keadaannya sangat tidak mengenakkan. Mari kita ambil hikmah dari kejadian ini," kata Ratna sambil memeluk putra tunggalnya. "Hilangkan semua dendam di hatimu, Nak, karena itu akan membuat hatimu lega," sambung Ratna dengan bijak.

Meskipun Sugondo telah memaafkan apa yang telah diperbuat oleh Bimo, tapi hukum tetap menganggap apa yang dilakukan oleh Bimo suatu kejahatan. Dalam persidangan, akhirnya hakim memutuskan untuk mengirim Bimo ke penjara anak-anak di Tangerang selama setahun. Selain masih di bawah umur, hakim yakin Bimo masih bisa diperbaiki dan perbuatannya itu hanya pelampiasan kejengkelan karena sang ayah dianggap tidak memiliki tanggung jawab pada keluarganya.

Uang Rp 20 juta yang dirampas Bimo dari Sugondo direlakan oleh pemiliknya untuk digunakan oleh Ratna dalam membiayai kebutuhan hidupnya sehari-hari. (L.R. Supriyapto Yahya/fiksi)

rumah intisari on the net