| Manfaat Isi Lambung Sapi
|
Kalau sampah basah seperti sisa sayur mayur dari dapur, sisa makanan dari warung, dan sampah daun dari kebun dikomposkan begitu saja, prosesnya lama sekali sebelum hasilnya dapat dipungut. Selama itu, baunya menyengat hidung. Karena itu, para petani mengompos sampahnya dalam lubang di halaman yang jauh dari rumah. Lubang itu ditutup agar bau busuknya tidak berhamburan. Petani yang lebih maju, mengompos sampah rumah dan kebunnya tidak dalam lubang, tetapi di bawah naungan atap gubuk yang sengaja dibangun untuk itu. Sampah ditimbun dengan diselingi jerami, dan ditaburi pupuk kandang agar proses dekomposisi (pembongkaran) sampah berjalan lebih cepat. Itu berkat jasad renik dari pupuk (kotoran) kandang. Rata-rata hanya makan waktu enam bulan. Tetapi, sementara proses belum berakhir, tak urung juga baunya yang busuk mencemari lingkungan. Itulah sebabnya, tidak setiap orang yang bukan petani mau mengolah sampah rumah tangganya menjadi kompos yang bermanfaat. Lebih menyenangkan membuang sampah ke kali saja, meskipun mencemari lingkungan orang lain. Namun, itu dilakukan juga, karena yang menderita bau busuk bukan keluarganya sendiri. Di kota besar yang pemerintah kotanya sudah modern, sampah basah dari rumah penduduk dipisahkan dari sampah kering seperti kertas, karet, plastik, kaleng, dan benda lain. Lalu dijual kepada para pekebun buah di luar kota, untuk dikomposkan di tempat yang jauh dari tempat hunian. Sampah basah ini biasanya ditimbun berlapis-lapis tetapi diseling dengan pupuk urea. Prosesnya tetap memakan waktu beberapa bulan sebelum hasilnya dapat dipungut dan bau pencemar lingkungan berakhir. Seorang dosen dari Fakultas Pertanian, Universitas Sebelas Maret di Solo, pada tahun 1981 mempunyai gagasan untuk menyelenggarakan proses dekomposisi sampah (menjadi kompos) itu dengan jasad renik tukang bongkar sampah dari lambung sapi. Lambung yang di Jawa Tengah dikenal sebagai babat itu biasanya dibersihkan oleh para pengumpul babat di rumah-rumah pemotongan hewan. Tetapi isinya tidak! Isi lambung ini dibuang begitu saja. Itulah yang dikumpulkan oleh sang dosen, karena bahan itu bejibun dengan jasad renik pembongkar bahan organik. Isi itu dijemur sebentar agar mengering dan kehilangan sebagian besar airnya. Kemudian dikeringkan lebih lanjut dengan pemanasan. Hasilnya digiling menjadi serbuk seperti gula semut, dan dijualnya sebagai starbio (starter biologis) untuk mengomposkan sampah (yang lain). Karena kandungan jasad reniknya lebih pekat (daripada kotoran kandang), penyelenggaraan proses dekomposisi jadi lebih cepat daripada proses pengomposan cara lama. Bau busuknya lebih cepat berlalu. Untuk mengompos sampah 1 ton diperlukan starbio 1 kg. Kompos yang terbentuk dalam 1,5 bulan kemudian dikemas dalam karung plastik, dan dijual sebagai fine compost dengan merek dagang Green Valley. Dalam era globalisasi ini, agaknya merek berbahasa Inggris lebih menjual daripada merek berbahasa sendiri. Kalau kita juga ikut memanfaatkan sampah rumah tangga yang tak berguna menjadi kompos yang berguna (sebagai pemerbaik tanah), kita masing-masing akan berjasa pula menyelamatkan lingkungan dari pencemaran bau busuk yang berkepanjangan dari sampah. Ada baiknya kita memanfaatkan jasad renik dari isi lambung sapi yang dibuang percuma itu di b erbagai rumah pemotongan hewan berbagai kota besar dan kecil. Isi lambung itu hanya perlu dikeringkan, sebelum jasad renik di dalamnya dapat dikaryakan untuk membongkar sampah menjadi kompos. Hasilnya dapat dijual sebagai "pupuk" kompos di toko sarana produksi pertanian. Atau di kios penjual keperluan hobi berkebun tanaman hias yang tersebar di berbagai kota besar dan kecil juga. (SS) |