TANAMAN-TANAMAN
ANTIMALARIA |
Malaria memang bukan penyakit penyebab kematian papan atas. Namun,
gejalanya bikin orang kurang produktif. Dengan beberapa jenis tanaman, ternyata gejala itu
bisa diusir.
Di wilayah tropis seperti Indonesia, malaria merupakan penyakit yang cukup
banyak diderita. Penyakit menular ini disebabkan oleh protozoa yang bernama plasmodium,
yang ditularkan melalui gigitan nyamuk jenis tertentu. Yang sering menularkannya adalah
nyamuk Anopheles.
Bila biang keladinya Plasmodium vivax,
penyakitnya disebut malaria tertiana. Malaria ini ditandai dengan munculnya demam hingga
tiga hari sekali. P. malariae menyebabkan malaria kuartana yang ditandai dengan demam
muncul tiap empat hari. Sedangkan, P. falciparum mengakibatkan malaria falciparum. Jenis
malaria terakhir ini paling serius, bahkan bisa berakhir dengan kematian.
Memang, penyakit ini sangat jarang
berakibat kematian. Namun, gejala yang ditimbulkannya dapat menurunkan produktivitas
penderitanya. Penyakit ini ditandai dengan gejala-gejala badan terasa tidak enak, sering
demam hingga suhu tubuh mencapai 40oC.
Sebaiknya pemeriksaan terhadap kemungkinan
deman akibat penyakit ini dilakukan oleh dokter. Bisa jadi demam yang muncul bukan akibat
malaria, sehingga obatnya bukan obat malaria. Untuk mengetahui dengan pasti ada-tidaknya
bibit penyakit malaria dalam tubuh hanya bisa lewat pemeriksaan laboratorium.
Sampai sekarang kina masih dikenal sebagai
obat untuk melumpuhkan bibit malaria. Namun, obat buatan pabrik yang mirip kina pun sudah
banyak diproduksi. Hanya dokter yang bisa menentukan obat yang tepat untuk penderita
malaria.
Di samping obat-obatan medis, beberapa
tanaman juga dikenal bisa membantu penderita malaria melawan penyakitnya. Tanaman tersebut
memang belum terbukti mampu mematikan bibit penyakit malaria. Namun, ia sudah terbukti
mampu meningkatkan daya tahan tubuh penderitanya. Penelitian terhadap mencit membuktikan
hal itu. Mencit tertular malaria yang diberi obat tradisional ini bisa bertahan hidup
lebih lama ketimbang yang tidak diberi. Agaknya, dengan pemberian obat tradisional itu
kerusakan hati dan limpa akibat ulah bibit penyakit malaria bisa dicegah. Beberapa tanaman
yang diteliti juga menunjukkan kemampuan meningkatkan imunitas. Tanaman-tanaman itu di
antaranya adalah sambiloto, pulai, bratawali, dan johar.
Bersifat plasmodicide
Bila sambiloto (Andrographis paniculata Nees) dipilih sebagai obat alternatif, bagian yang
digunakan adalah daunnya. Tanaman terna ini tumbuh lurus dengan banyak cabang. Tingginya
cuma 50 - 80 cm. Daunnya terbukti tidak beracun dan memiliki sifat antipiretik
(menghilangkan demam). Sifat antipiretik inilah yang bisa membantu penderita malaria dalam
melawan penyakitnya.
Dalam penelitian in vivo (di dalam tubuh
makhluk hidup), daun sambiloto memang tidak mematikan P. berghei pada mencit. Namun,
mencit yang tertular bisa diperpanjang masa hidupnya karena hati dan limpanya terlindung
dari kerusakan. Dengan demikian penggunaan daun sambiloto dapat menunjang penggunaan obat
plasmodicide (bersifat menghancurkan plasmodia). Hasilnya, sudah terlihat pada pemberian
pertama. Meski begitu, dianjurkan untuk menggunakannya secara terus-menerus.
Daun sambiloto bisa digunakan sebagai obat
oral tunggal tradisional. Setiap kali hendak menggunakannya diperlukan sekitar setengah
genggam daun sambiloto segar. Bahan itu dicuci, direbus dengan tiga gelas minum air bersih
hingga tinggal sekitar 3/4 bagiannya. Setelah disaring dan ditambahi madu (kalau dirasa
perlu), air rebusan sudah siap dijadikan obat tradisional untuk malaria. Dalam sehari
penderita dianjurkan meminumnya tiga kali, masing-masing sebanyak ¾ gelas minum.
Kalau di dekat rumah tumbuh pohon pulai
(Alstonia scholaris R. Br.), ada baiknya tanaman ini yang dipilih. Tinggi pohon ini bisa
mencapai 25 m dengan diameter batang 40 - 60 cm. Di Jawa, pulai umumnya ditemukan di
daerah berketinggian di bawah 900 m di atas permukaan laut.
Bagian tanaman yang digunakan bukan lagi
daunnya, tapi kulit pohonnya. Rasa bagian pohon ini pahit dan tak berbau. Menurut Perry,
kulit kayu tsb. baik untuk pengobatan malaria kronis yang disertai pembesaran limpa. Di
dalamnya terkandung senyawa alkaloid. Air dari seduhan kulit tanaman ini terbukti tidak
beracun. Secara in vitro (di dalam tabung percobaan) terbukti ekstraknya bersifat
plasmodicide pada konsentrasi 10 - 100 mikrogram/mikroliter. Apakah alkaloid yang
dikandungnya bersifat plasmodicide, belum terbukti.
Untuk menggunakannya sebagai obat
tradisional malaria, diperlukan kulit batangnya sebesar tiga jari. Kulit itu direbus di
dalam tiga gelas minum air bersih hingga tinggal sekitar ½-nya. Setelah disaring dan
diberi pemanis berupa gula atau madu, air rebusan tsb. sudah bisa diminum sebagai obat
tradisional. Sekali minum cukup ¾ gelas dan dalam sehari penderita dianjurkan meminumnya
tiga kali.
Dipublikasikan pada 1917
Tanaman johar (Cassia siamea Lamk.) juga sudah banyak diteliti kemungkinannya sebagai obat
malaria. Tanaman ini berupa pohon dan cepat tumbuhnya. Di Jawa, tanaman ini banyak
dibudidayakan di daerah dengan ketinggian di bawah 1.000 m di atas permukaan laut.
Tingginya bisa mencapai 15 m dengan batang berdiameter 40 - 50 cm. Kayunya termasuk kuat
dan awet.
Daunnya merupakan bagian yang bisa
digunakan sebagai obat malaria. Di dalamnya terdapat alkaloid bersifat racun dan
oxymethylanthraquinone. Namun, zat-zat tsb. belum terbukti bertanggungjawab terhadap
khasiatnya sebagai obat malaria.
Dalam penelitian diketahui, sampai dosis
100 mg serbuk daun/100 g tikus dalam bentuk infus oral tidak mengurangi jumlah eritrosit
(sel darah merah) tertular parasit (plasmodium). Ada kemungkinan perlu dosis lebih besar
dan dengan frekuensi lebih sering supaya efek yang diharapkan bisa dicapai. Juga telah
dibuktikan bahwa ekstrak daun johar termasuk bahan yang tidak beracun. Secara in vivo
ekstrak tersebut tidak bersifat plasmodicide pada P. berghei, tapi memperpanjang masa
hidup mencit tertular, lantaran limpa dan hatinya tidak rusak. Daun johar juga memiliki
daya imunostimulasi (merangsang produksi zat kekebalan tubuh), bersifat antipiretik yang
potensinya seperti asetosal. Infusnya juga bersifat hepatoproteksif (melindungi hati dari
kerusakan).
Seperti dikutip Heyne, dalam harian
Indische dagbladen Juni 1917 disebutkan seorang bernama Wilkens di Surakarta menganjurkan
penggunaan daun johar untuk pengobatan malaria. Segenggam daun mudanya direbus dengan enam
cangkir air hingga airnya tersisa separuhnya (tiga cangkir). Hasil rebusan ini diminum
tiga kali sehari, masing-masing secangkir. Kalau penderita merasa agak baik, dosisnya
diturunkan menjadi dua kali sehari, masing-masing secangkir. Setelah kesehatannya normal,
dosisnya diturunkan kembali menjadi secangkir dalam sehari.
Di masa sekarang, ramuan itu sedikit
berubah meskipun prinsipnya sama. Untuk menggunakannya dalam proses pengobatan malaria
digunakan ¾ genggam daun johar segar. Semuanya direbus di dalam 3 gelas minum air hingga
air rebusannya tersisa ¾-nya. Air rebusan ini diminum 3 kali sehari, masing-masing ¾
gelas minum.
Tanaman lain yang bisa dijadikan sebagai
alternatif bahan obat tradisional adalah bratawali (Tinospora crispa Miers.). Tanaman ini
tumbuh merambat dengan gemang batang sebesar kelingking orang dewasa. Batangnya dipenuhi
benjolan-benjolan kecil.
Bagian tanaman yang digunakan untuk
pengobatan malaria adalah batangnya. Di dalamnya terkandung alkaloid. Batang ini rasanya
sangat pahit, sehingga binatang pun enggan menyentuhnya. Demikian pahitnya hingga kalau
air rebusannya dikonsumsi begitu saja dapat menyebabkan muntah-muntah. Meski begitu,
rebusan ini telah lama digunakan sebagai obat demam yang sukar diobati. Bahkan, sejak
lebih dari setengah abad lampau khasiatnya sebagai obat deman telah diuji oleh
dokter-dokter angkatan bersenjata. Mereka berkesimpulan khasiatnya baik pada beberapa
kasus demam berselang (mungkin demam sebagai gejala malaria).
Serbuk batang bratawali termasuk bahan yang
PNT. Infusnya bersifat antipiretik. Sifat inilah yang meringankan penderitaan penderita
malaria. Namun, belum diketahui apakah sifat ini disebabkan alkaloid yang dikandungnya
atau oleh sebab lain. Yang pasti, dalam penelitian bahan ini tidak menurunkan jumlah
eritrosit mencit yang tertular P. berghei.
Untuk menjadikannya sebagai obat tunggal
tradisional diperlukan ¾ jari batang bratawali segar. Batang itu dipotong-potong
seperlunya lalu direbus di dalam 4 ½ gelas minum air hingga tinggal separuhnya. Air
rebusan disaring, diberi pemanis gula atau madu secukupnya. Hasilnya siap diminum sebagai
obat oral. Tiap hari penderita dianjurkan meminumnya tiga kali, masing-masing ¾ gelas
minum.
Bagaimana pun berkhasiatnya tanaman-tanaman
tadi, rasanya akan lebih baik bila malaria tidak usah menjangkiti tubuh kita. Karena itu
pencegahan terhadap gigitan nyamuk menjadi sangat penting. Caranya bermacam-macam. Bisa
dengan memberi kelambu pada tempat tidur, atau menggunakan obat nyamuk yang kini tersedia
dalam berbagai jenis, dari obat nyamuk bakar, semprot, atau listrik. Atau dengan memasang
kasa di setiap celah ventilasi di seluruh rumah. Mudah-mudahan dengan cara tsb. malaria
menjauh dari kita. (B. Dzulkarnain, peneliti utama Puslitbang Farmasi, Balitbang
Kesehatan, Depkes RI)
Untuk informasi lebih jauh bisa ditelusuri pada
kepustakaan berikut:
Aliadi, Arif. et. al., 1996,
Tanaman Obat Pilihan, Sidowayah, Jakarta.
DitJen POM, Departemen Kesehatan RI, 1983,
Pemanfaatan Tanaman Obat, Jakarta.
Dzulkarnain, B. et. al., 1992/1993,
Laporan Penelitian Pendahuluan Efek Beberapa Tanaman Terhadap Plasmodium berghei Pada
Mencit, Jakarta.
Perry L. M., Metger Y., 1980, Medicinal
Plants of East Asia and Southeast Asia, The MIT Press, Cambridge, Massachusetts, London.
Mardisiswoyo, S., Radjakmangunsoedarso,
H., 1990, Cabe Puyang Warisan Nenek Moyang, Balai Pustaka, Jakarta.
Setyandarta, Y., 1993, Efek
Hepatoprotektif Infus Daun Johar (Cassia ciamea Lamk.) pada Tikus Putih Yang Diberi Karbon
Tetraklorida, JF FMIPA UI, Jakarta.
|