logosept.gif (4461 bytes)Artikel Lepas

TANAMAN-TANAMAN
ANTIMALARIA

Malaria memang bukan penyakit penyebab kematian papan atas. Namun, gejalanya bikin orang kurang produktif. Dengan beberapa jenis tanaman, ternyata gejala itu bisa diusir.

Di wilayah tropis seperti Indonesia, malaria merupakan penyakit yang cukup banyak diderita. Penyakit menular ini disebabkan oleh protozoa yang bernama plasmodium, yang ditularkan melalui gigitan nyamuk jenis tertentu. Yang sering menularkannya adalah nyamuk Anopheles.

Bila biang keladinya Plasmodium vivax, penyakitnya disebut malaria tertiana. Malaria ini ditandai dengan munculnya demam hingga tiga hari sekali. P. malariae menyebabkan malaria kuartana yang ditandai dengan demam muncul tiap empat hari. Sedangkan, P. falciparum mengakibatkan malaria falciparum. Jenis malaria terakhir ini paling serius, bahkan bisa berakhir dengan kematian.

Memang, penyakit ini sangat jarang berakibat kematian. Namun, gejala yang ditimbulkannya dapat menurunkan produktivitas penderitanya. Penyakit ini ditandai dengan gejala-gejala badan terasa tidak enak, sering demam hingga suhu tubuh mencapai 40oC.

Sebaiknya pemeriksaan terhadap kemungkinan deman akibat penyakit ini dilakukan oleh dokter. Bisa jadi demam yang muncul bukan akibat malaria, sehingga obatnya bukan obat malaria. Untuk mengetahui dengan pasti ada-tidaknya bibit penyakit malaria dalam tubuh hanya bisa lewat pemeriksaan laboratorium.

Sampai sekarang kina masih dikenal sebagai obat untuk melumpuhkan bibit malaria. Namun, obat buatan pabrik yang mirip kina pun sudah banyak diproduksi. Hanya dokter yang bisa menentukan obat yang tepat untuk penderita malaria.

Di samping obat-obatan medis, beberapa tanaman juga dikenal bisa membantu penderita malaria melawan penyakitnya. Tanaman tersebut memang belum terbukti mampu mematikan bibit penyakit malaria. Namun, ia sudah terbukti mampu meningkatkan daya tahan tubuh penderitanya. Penelitian terhadap mencit membuktikan hal itu. Mencit tertular malaria yang diberi obat tradisional ini bisa bertahan hidup lebih lama ketimbang yang tidak diberi. Agaknya, dengan pemberian obat tradisional itu kerusakan hati dan limpa akibat ulah bibit penyakit malaria bisa dicegah. Beberapa tanaman yang diteliti juga menunjukkan kemampuan meningkatkan imunitas. Tanaman-tanaman itu di antaranya adalah sambiloto, pulai, bratawali, dan johar.

Bersifat plasmodicide
Bila sambiloto (Andrographis paniculata Nees) dipilih sebagai obat alternatif, bagian yang digunakan adalah daunnya. Tanaman terna ini tumbuh lurus dengan banyak cabang. Tingginya cuma 50 - 80 cm. Daunnya terbukti tidak beracun dan memiliki sifat antipiretik (menghilangkan demam). Sifat antipiretik inilah yang bisa membantu penderita malaria dalam melawan penyakitnya.

Dalam penelitian in vivo (di dalam tubuh makhluk hidup), daun sambiloto memang tidak mematikan P. berghei pada mencit. Namun, mencit yang tertular bisa diperpanjang masa hidupnya karena hati dan limpanya terlindung dari kerusakan. Dengan demikian penggunaan daun sambiloto dapat menunjang penggunaan obat plasmodicide (bersifat menghancurkan plasmodia). Hasilnya, sudah terlihat pada pemberian pertama. Meski begitu, dianjurkan untuk menggunakannya secara terus-menerus.

Daun sambiloto bisa digunakan sebagai obat oral tunggal tradisional. Setiap kali hendak menggunakannya diperlukan sekitar setengah genggam daun sambiloto segar. Bahan itu dicuci, direbus dengan tiga gelas minum air bersih hingga tinggal sekitar 3/4 bagiannya. Setelah disaring dan ditambahi madu (kalau dirasa perlu), air rebusan sudah siap dijadikan obat tradisional untuk malaria. Dalam sehari penderita dianjurkan meminumnya tiga kali, masing-masing sebanyak ¾ gelas minum.

Kalau di dekat rumah tumbuh pohon pulai (Alstonia scholaris R. Br.), ada baiknya tanaman ini yang dipilih. Tinggi pohon ini bisa mencapai 25 m dengan diameter batang 40 - 60 cm. Di Jawa, pulai umumnya ditemukan di daerah berketinggian di bawah 900 m di atas permukaan laut.

Bagian tanaman yang digunakan bukan lagi daunnya, tapi kulit pohonnya. Rasa bagian pohon ini pahit dan tak berbau. Menurut Perry, kulit kayu tsb. baik untuk pengobatan malaria kronis yang disertai pembesaran limpa. Di dalamnya terkandung senyawa alkaloid. Air dari seduhan kulit tanaman ini terbukti tidak beracun. Secara in vitro (di dalam tabung percobaan) terbukti ekstraknya bersifat plasmodicide pada konsentrasi 10 - 100 mikrogram/mikroliter. Apakah alkaloid yang dikandungnya bersifat plasmodicide, belum terbukti.

Untuk menggunakannya sebagai obat tradisional malaria, diperlukan kulit batangnya sebesar tiga jari. Kulit itu direbus di dalam tiga gelas minum air bersih hingga tinggal sekitar ½-nya. Setelah disaring dan diberi pemanis berupa gula atau madu, air rebusan tsb. sudah bisa diminum sebagai obat tradisional. Sekali minum cukup ¾ gelas dan dalam sehari penderita dianjurkan meminumnya tiga kali.

Dipublikasikan pada 1917
Tanaman johar (Cassia siamea Lamk.) juga sudah banyak diteliti kemungkinannya sebagai obat malaria. Tanaman ini berupa pohon dan cepat tumbuhnya. Di Jawa, tanaman ini banyak dibudidayakan di daerah dengan ketinggian di bawah 1.000 m di atas permukaan laut. Tingginya bisa mencapai 15 m dengan batang berdiameter 40 - 50 cm. Kayunya termasuk kuat dan awet.

Daunnya merupakan bagian yang bisa digunakan sebagai obat malaria. Di dalamnya terdapat alkaloid bersifat racun dan oxymethylanthraquinone. Namun, zat-zat tsb. belum terbukti bertanggungjawab terhadap khasiatnya sebagai obat malaria.

Dalam penelitian diketahui, sampai dosis 100 mg serbuk daun/100 g tikus dalam bentuk infus oral tidak mengurangi jumlah eritrosit (sel darah merah) tertular parasit (plasmodium). Ada kemungkinan perlu dosis lebih besar dan dengan frekuensi lebih sering supaya efek yang diharapkan bisa dicapai. Juga telah dibuktikan bahwa ekstrak daun johar termasuk bahan yang tidak beracun. Secara in vivo ekstrak tersebut tidak bersifat plasmodicide pada P. berghei, tapi memperpanjang masa hidup mencit tertular, lantaran limpa dan hatinya tidak rusak. Daun johar juga memiliki daya imunostimulasi (merangsang produksi zat kekebalan tubuh), bersifat antipiretik yang potensinya seperti asetosal. Infusnya juga bersifat hepatoproteksif (melindungi hati dari kerusakan).

Seperti dikutip Heyne, dalam harian Indische dagbladen Juni 1917 disebutkan seorang bernama Wilkens di Surakarta menganjurkan penggunaan daun johar untuk pengobatan malaria. Segenggam daun mudanya direbus dengan enam cangkir air hingga airnya tersisa separuhnya (tiga cangkir). Hasil rebusan ini diminum tiga kali sehari, masing-masing secangkir. Kalau penderita merasa agak baik, dosisnya diturunkan menjadi dua kali sehari, masing-masing secangkir. Setelah kesehatannya normal, dosisnya diturunkan kembali menjadi secangkir dalam sehari.

Di masa sekarang, ramuan itu sedikit berubah meskipun prinsipnya sama. Untuk menggunakannya dalam proses pengobatan malaria digunakan ¾ genggam daun johar segar. Semuanya direbus di dalam 3 gelas minum air hingga air rebusannya tersisa ¾-nya. Air rebusan ini diminum 3 kali sehari, masing-masing ¾ gelas minum.

Tanaman lain yang bisa dijadikan sebagai alternatif bahan obat tradisional adalah bratawali (Tinospora crispa Miers.). Tanaman ini tumbuh merambat dengan gemang batang sebesar kelingking orang dewasa. Batangnya dipenuhi benjolan-benjolan kecil.

Bagian tanaman yang digunakan untuk pengobatan malaria adalah batangnya. Di dalamnya terkandung alkaloid. Batang ini rasanya sangat pahit, sehingga binatang pun enggan menyentuhnya. Demikian pahitnya hingga kalau air rebusannya dikonsumsi begitu saja dapat menyebabkan muntah-muntah. Meski begitu, rebusan ini telah lama digunakan sebagai obat demam yang sukar diobati. Bahkan, sejak lebih dari setengah abad lampau khasiatnya sebagai obat deman telah diuji oleh dokter-dokter angkatan bersenjata. Mereka berkesimpulan khasiatnya baik pada beberapa kasus demam berselang (mungkin demam sebagai gejala malaria).

Serbuk batang bratawali termasuk bahan yang PNT. Infusnya bersifat antipiretik. Sifat inilah yang meringankan penderitaan penderita malaria. Namun, belum diketahui apakah sifat ini disebabkan alkaloid yang dikandungnya atau oleh sebab lain. Yang pasti, dalam penelitian bahan ini tidak menurunkan jumlah eritrosit mencit yang tertular P. berghei.

Untuk menjadikannya sebagai obat tunggal tradisional diperlukan ¾ jari batang bratawali segar. Batang itu dipotong-potong seperlunya lalu direbus di dalam 4 ½ gelas minum air hingga tinggal separuhnya. Air rebusan disaring, diberi pemanis gula atau madu secukupnya. Hasilnya siap diminum sebagai obat oral. Tiap hari penderita dianjurkan meminumnya tiga kali, masing-masing ¾ gelas minum.

Bagaimana pun berkhasiatnya tanaman-tanaman tadi, rasanya akan lebih baik bila malaria tidak usah menjangkiti tubuh kita. Karena itu pencegahan terhadap gigitan nyamuk menjadi sangat penting. Caranya bermacam-macam. Bisa dengan memberi kelambu pada tempat tidur, atau menggunakan obat nyamuk yang kini tersedia dalam berbagai jenis, dari obat nyamuk bakar, semprot, atau listrik. Atau dengan memasang kasa di setiap celah ventilasi di seluruh rumah. Mudah-mudahan dengan cara tsb. malaria menjauh dari kita. (B. Dzulkarnain, peneliti utama Puslitbang Farmasi, Balitbang Kesehatan, Depkes RI)

Untuk informasi lebih jauh bisa ditelusuri pada kepustakaan berikut:

  1. Aliadi, Arif. et. al., 1996, Tanaman Obat Pilihan, Sidowayah, Jakarta.
  2. DitJen POM, Departemen Kesehatan RI, 1983, Pemanfaatan Tanaman Obat, Jakarta.
  3. Dzulkarnain, B. et. al., 1992/1993, Laporan Penelitian Pendahuluan Efek Beberapa Tanaman Terhadap Plasmodium berghei Pada Mencit, Jakarta.
  4. Perry L. M., Metger Y., 1980, Medicinal Plants of East Asia and Southeast Asia, The MIT Press, Cambridge, Massachusetts, London.
  5. Mardisiswoyo, S., Radjakmangunsoedarso, H., 1990, Cabe Puyang Warisan Nenek Moyang, Balai Pustaka, Jakarta.
  6. Setyandarta, Y., 1993, Efek Hepatoprotektif Infus Daun Johar (Cassia ciamea Lamk.) pada Tikus Putih Yang Diberi Karbon Tetraklorida, JF FMIPA UI, Jakarta.
Ayu Utami: Seks itu ...
Lupus, belum ada ...
Kapan anak belajar bhs. Inggris?
Bukan karena baca ...
Belekan, tak sembuh ...
Setelah xtc, putau, ...
Tanaman antimalaria
Cerita di balik label makanan
Menghindari gelombang elektromagnetik
Peluang bisnis di masa krisis
Omega-3, modal kecerdasan
Sarana penolak santet
Skenario bagi BUJ
Sekretrais serba bisa

CLICK HERE TO VISIT THE TOP 1000!