| Peluang Bisnis di Masa Krisis |
Setahun
sudah masa krisis menghantam perekonomian Indonesia. Dunia usaha terjungkal, pil pahit
terpaksa ditelan oleh ribuan karyawan, wirausahawan, bahkan artis. Tapi ternyata banyak
jalan bisa ditempuh agar selamat dari hantaman krisis.
 |
Suti
"Atun" Karno tak sungkan terjun langsung di warungnya. (Foto: LW) |
Ada kemeriahan di sela-sela gedung megah di kawasan Kuningan, Kecamatan
Setiabudi, Jakarta Selatan. Persisnya di sebuah jalan raya yang belum dipakai. Di sana
berdiri 30 warung dengan tenda berwarna cerah, dilengkapi hiasan dan perabot, bahkan
bebunyian band yang lebih pantas terdengar di kafe. Warung-warung itu bukan liar dan harus
kucing-kucingan dengan petugas ketertiban, tapi resmi. Salah satu buktinya, pembukaan
lokasi warung tenda itu dilakukan Gubernur DKI Sutiyoso pada 18 Juli 1998 malam. Lokasi
jajan malam itu pun diberi julukan keren, Warcil Pharama Rasuna.
Salah satu tujuan pendirian kawasan
jajan malam hari itu untuk menampung para penganggur dan korban PHK. Menurut Drs.
Kuswanda, camat Setiabudi, di wilayahnya saja dari 155 ribu penduduk tercatat 688
penganggur dan 68 korban PHK. Berawal dari pemahaman pada penderitaan warganya, Pak Camat
mendapat ide.
Tidak semua warganya bisa dan mau
menjadi peladang di atas lahan tidur puluhan hektar di wilayahnya. Karena itu ia lalu
menyediakan tempat bagi para korban PHK untuk membuka warung. Yang dipilih jalan raya
aspal di samping gedung Papan Sejahtera, Kuningan. Lokasi warung tenda pertama yang dibuka
dengan izin Pemda itu dilengkapi fasilitas air bersih, listrik, pembuangan limbah, area
parkir, serta jasa pemasaran dan promosi. Tak heran bila proyek ini jadi percontohan untuk
wilayah lain di DKI.
Lokasi warung berizin
Dari 30 warung yang dibuka, 15 warung disediakan untuk artis, 10 bagi korban PHK, dan lima
untuk mahasiswa. Warung Dasifa, yang dikelola oleh Herly Sulianto, adalah salah satunya.
Pria ter-PHK dari perusahaan pelayaran
pada 1983 ini diajak Syaiful, tetangganya, berusaha di bawah payung organisasi Kosgoro
Karet Semanggi. Syaiful sendiri bukan orang baru dalam bisnis warung. Ia punya warung nasi
padang di belakang RS Jakarta. Selain menu nasi uduk, nasi ulam, dan pelbagai lauk masakan
Padang yang lezat, warung Dasifa (Dari Sisa Failit) juga tampil profesional dan pas, tanpa
kecentilan yang tidak perlu.
Warung ini dicatatkan sebagai milik
Herly Sulianto yang berstatus PHK (atau menganggur), karena kelompok PHK mendapat dana
subsidi dari para artis.
Tak jauh dari Dasifa, Purwanto dan
istri serta beberapa pegawainya sibuk melayani pengunjung di warung tendanya. Pria empat
anak yang masih sekolah ini kena PHK tepat 11 Maret 1998 dengan pesangon enam bulan gaji.
Semula ia bergabung di Pasar Tunggu, yakni bursa barang bekas di hari Sabtu dan Minggu di
kawasan Pasar Rumput, Jakarta Selatan. "Hasilnya lumayan. Tapi barang bekas 'kan
terbatas, jadi habis juga," kenangnya. Saat Pak Camat mengajukan ide membuka Warcil
Pharama Rasuna, ia sigap mendaftar. Dengan modal Rp 1 juta, ia membuka warung yang dinamai
"Es Teler 99", karena warungnya bernomor 9. Dengan perabot sederhana, istri
sebagai koki, dan lima karyawan dari Solo yang juga korban PHK, Purwanto yang asli Solo
ini membuka warung makan dengan menu soto solo, nasi uduk, ayam, ataupun ikan bakar.
 |
| Warung soto Koes
Heryuwono hanya untuk menyelamatkan cash flow. (Foto: Yds) |
"Kebutuhan lain bisa
ditunda, tapi makan tidak," demikian kilahnya mengapa membuka warung makan. Selain
itu, keluarganya bisa menumpang makan di warungnya. Maka, sisa simpanan yang semula hanya
cukup untuk menyambung hidup selama empat bulan, bisa digunakan lebih lama lagi. Bahkan ia
bercita-cita punya rumah makan, bukan sekadar warung seperti ini.
Suasana marak juga muncul di area
parkir Pintu I Stadion Utama Senayan, yang kini jadi pusat jajan dan berdagang aneka
barang. Di sini warung-warungnya ditata oleh manajemen Gelora Senayan. Setiap pemilik
warung memperoleh kavling 3 x 6 m serta bantuan aliran listrik. Masing-masing tenda
dikenai biaya pungutan Rp 11.000,- per hari dan listrik Rp 50.000,- per bulan. Daya
listrik + 100 watt biasanya untuk 2 - 3 lampu TL, dan lampu kecil untuk dapur atau tempat
cuci. Namun, tak sedikit pemilik yang melengkapi warungnya dengan TV, video, minicompo,
bahkan lampu sorot. Untuk ini, ada perhitungan biaya tersendiri dengan pihak Gelora.
Salah satu perintis kawasan ini adalah
Neng, putri bungsu entertainer H. Ebet Kadarusman. "Warung Kang Ebet"-nya, di
lahan parkir depan lapangan softball serta golf driving range Senayan, dibuka sejak April
1998.
Dibandingkan dengan gaji saat bekerja
dulu, ibu satu anak ini mengaku, pendapatannya sekarang lebih besar. "Cuma, membuka
warung sangat menguras fisik," kata Neng yang sudah punya pelanggan tetap.
Sedangkan bagi Yasin, Boro-Boro Grill
adalah pilihan setelah gagal mengembangkan berbagai usaha kecil-kecilan. "Namun
hingga akhir Juli, saya belum memanen hasil karena konsep baru jalan sebagian. Selain menu
khusus, saya mengunggulkan penataan ruang," ujarnya sambil menunjukkan tata letak
yang lekat dengan pembakaran, seperti kayu dan warna coklat.
Kalau ingin diladeni artis
Kecuali korban PHK, banyak artis yang melihat usaha membuka warung sebagai peluang
mendapat penghasilan di masa krisis.
"Warung Atun" di Pharama
Rasuna, misalnya. Warung yang menyajikan soto dan aneka hidangan Betawi termasuk bir
pletok seharga Rp 3.500,- tergolong paling ramai baik oleh pembeli maupun penonton.
 |
Dr.
Bambang Bhakti, MBA, "Sudah waktunya memasukkan gengsi ke dalam kantung." (Foto:
Dok. Tiara) |
Dari namanya orang tahu, komandan
warung itu pemain sinetron Si Doel Anak Sekolahan, Suti "Atun" Karno. Warung
Atun menarik mungkin karena ditunjang hiasan meriah, misalnya bilah bambu yang dililiti
kertas warna-warni plus uang kertas Rp 500,--an. "Untuk bonus pembelian jumlah
tertentu," kata Suti.
Namun, yang paling menarik tetap si
Atun yang tampil dengan ikat kepala, celana jengki, sepatu bot, dan celemek. Tanpa rasa
canggung, ia melayani pembeli, mencatat pesanan, meneruskan pesanan ke dapur.
Warung Atun dimiliki bersama oleh Suti
Karno, ibu, dan dua kakaknya. Berpegawai 5 orang, warung itu memeras modal Rp 10 juta,
termasuk biaya sewa Rp 4 juta. Sedangkan tenaga kerja di warungnya, sebagian adalah
karyawan ibunya yang biasa melayani kru produksi Si Doel.
Suti mengaku, "Sekarang saya
bener-bener nganggur. Syuting Si Doel sudah selesai." Untung, saat ada gelagat akan
terjadi krisis ia sudah bersiap-siap. Di antaranya, bersama saudara-saudarinya membuka
galeri keramik kasongan dan meja kayu. Bahkan, galeri yang beroperasi sejak tiga bulan
lalu itu mulai menerima pesanan untuk ekspor ke luar negeri. Ia mengaku beruntung dengan
keartisannya sebab orang yakin, ia akan menjaga nama baik sehingga gampang percaya
padanya.
Sedangkan di Senayan muncul nama artis
Ari "Ali Topan" Sihasale, yang dengan Eddy Bogel jadi ujung tombak Warung Ale
Ale. Kafe tenda itu dibuka setelah berbagai tawaran berakting tak satu pun terwujud
lantaran terpukul krisis. Sedangkan Eddy Bogel di-PHK sebagai wartawan sebuah majalah
sejak Agustus 1997. Kebetulan Edo, mantan wirausahawan yang hobi bikin jus, mengajak Ari
dan Eddy buka warung. "Semula saya tidak tertarik. Tapi karena Edo minta kami sebagai
ujung tombak, saya pun menerima," kata Eddy.
Warung Ale Ale punya menu spesial iga
bakar (mirip yang di Hard Rock Cafe), sup iga, spaghetti, dan jus buah. Si Ali Topan,
selain wira-wiri dengan santun melayani tamu, juga tak segan mem-punching jus. Maka, bagi
gadis-gadis ABG yang nge-fans pada Ari, minuman itu jadi kehormatan plus kebanggaan.
Kabarnya, 30 kg iga bisa ludes dalam 2
jam, tak tergantung hari apa pun. "Tapi ini belum sebanding dengan warung lain yang
mapan lebih dulu. Masih mencari bentuk," tutur Edo sambil mencontohkan warung milik
Ronny Sianturi di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, yang konon omzetnya mencapai Rp
3 juta per hari.
Warung Ale Ale mempekerjakan 11 korban
PHK. "Sesuai keinginan saya, menampung orang ter-PHK. Terbukti, mereka serius dan
tekun. Padahal mereka semula tukang, montir, dan lain-lain."
Rencananya, Eddy akan meramaikan
warungnya dengan tata lampu dan musik hidup. "Tapi tergantung izin dari Gelora
Senayan. Saat ini mereka tengah mengkaji kemungkinan dan perkembangannya. Semoga akan
saling menguntungkan."
Ari juga punya cara menawarkan
alternatif bagi tamu yang tak kebagian kursi untuk duduk di atas tikar mengelilingi lilin.
Tawaran itu diterima dengan senang, apalagi bisa sesekali foto bareng si Ali Topan.
Buka usaha pendukung
Lain korban PHK dan artis, lain pula wirausahawan menyiasati kejamnya krisis ekonomi. Koes
Heryuwono, misalnya, mencoba membuka rumah makan Soto Pahlawan, bidang usaha yang jauh
dari bidang usahanya sebelumnya. "Usaha ini dijalankan untuk menyelamatkan cash flow.
Bayangkan, sejak krisis datang, perusahaan kami tidak mendapat proyek apa pun."
Dana perusahaan yang ada bisa habis
dalam empat bulan untuk membayar gaji karyawan dan biaya operasional kantor. Setelah
habis, karyawan akan menganggur. PHK, menurutnya, "Memang mudah, saya hanya perlu Rp
25 juta untuk pesangon, sisanya untuk saya pribadi. Tapi saya tidak tega, rasanya tidak
patriot," tutur direktur PT Inti Pesan itu.
Secara terbuka ia memaparkan keadaan
dan berbagai kemungkinan itu pada karyawannya. "Pengambilan keputusannya pun pakai
SWOT. Kami mencoba mencari bisnis yang tahan dalam resesi." Saat itu ada tiga
alternatif yaitu membuka rumah makan, barbershop, atau bengkel. "Barbershop selalu
dibutuhkan, karena rambut selalu tumbuh. Masalahnya, mencari tenaga ahlinya yang pas.
Kesulitan sama muncul dengan pertimbangan membuka bengkel."
Maka pilihan jatuh pada rumah makan,
"Selain orang pasti makan, membuatnya pun sederhana, tinggal cari juru masak."
Berdirilah Soto Pahlawan dengan menu soto. "Pertimbangannya cuma agar bisa
menyediakan makanan murah tapi mengenyangkan. Selain soto, rasanya sulit menjual makanan
dengan harga Rp 2.000,-," papar Koes yang memang hobi makan.
Keputusannya memang cepat, krisis yang
mulai terasa Juli 1997 segera ditindaklanjuti dengan mendirikan rumah makan pada Oktober
1997. "Maka Desember 1997 bisa membuka yang di Kalibata, sedangkan yang di Buncit
buka pada Maret 1998 dengan total investasi Rp 60 juta."
Dengan demikian karyawannya masih
bekerja, bahkan sering diperbantukan di rumah makan saat ramai pengunjung. Untuk mencapai
harga jual yang murah, kiatnya adalah menekan sumber daya produksi. "Saya tidak segan
kulakan di Pasar Induk untuk membeli barang yang memang bisa disimpan lama." Dari
belanja di Pasar Induk ia melihat selisih harga yang mencolok. Sayang, tawarannya pada
karyawan untuk mengecerkan pada ibu-ibu rumah tangga menggunakan sepeda motor lengkap
dengan keranjang bekas petugas kurir tak mendapat tanggapan. "Ternyata, sulit juga
mengubah mental kantoran karyawan."
Meski tampaknya menjanjikan, membuka
usaha "dadakan" dalam masa krisis ini bukan tanpa hambatan dan risiko. Untuk
usaha rumah makannya Koes Heryuwono tak segan mengomandani langsung terutama saat ramai.
"Biasanya menyangkut pelayanan," tutur pria berperawakan subur itu. Sedangkan
yang bikin repot adalah persaingan yang makin ketat karena sejak Mei lalu makin banyak
orang jualan makanan. "Sekarang, saya mulai mencari peluang lain," ujarnya yakin
banyak kesempatan yang bisa digarap.
Sementara Suti Karno punya kiat
sederhana, "Pelihara kepercayaan dan kerja keras." Jawaban itu serupa dengan
prinsip Purwanto untuk tidak putus asa, malu, apalagi menutup diri dan hidup tergantung
pada orang lain. (Shinta Teviningrum/Lily Wibisono/Mayong S. Laksono)
M |
engakhiri lebih baik
daripada memperbaiki. |
|
Aldous
Leobard Huxley |
|