logosept.gif (4461 bytes)Artikel Lepas

Peluang Bisnis di Masa Krisis

Setahun sudah masa krisis menghantam perekonomian Indonesia. Dunia usaha terjungkal, pil pahit terpaksa ditelan oleh ribuan karyawan, wirausahawan, bahkan artis. Tapi ternyata banyak jalan bisa ditempuh agar selamat dari hantaman krisis.

krismon5.jpg (22165 bytes)

Suti "Atun" Karno tak sungkan terjun langsung di warungnya. (Foto: LW)

Ada kemeriahan di sela-sela gedung megah di kawasan Kuningan, Kecamatan Setiabudi, Jakarta Selatan. Persisnya di sebuah jalan raya yang belum dipakai. Di sana berdiri 30 warung dengan tenda berwarna cerah, dilengkapi hiasan dan perabot, bahkan bebunyian band yang lebih pantas terdengar di kafe. Warung-warung itu bukan liar dan harus kucing-kucingan dengan petugas ketertiban, tapi resmi. Salah satu buktinya, pembukaan lokasi warung tenda itu dilakukan Gubernur DKI Sutiyoso pada 18 Juli 1998 malam. Lokasi jajan malam itu pun diberi julukan keren, Warcil Pharama Rasuna.

Salah satu tujuan pendirian kawasan jajan malam hari itu untuk menampung para penganggur dan korban PHK. Menurut Drs. Kuswanda, camat Setiabudi, di wilayahnya saja dari 155 ribu penduduk tercatat 688 penganggur dan 68 korban PHK. Berawal dari pemahaman pada penderitaan warganya, Pak Camat mendapat ide.

Tidak semua warganya bisa dan mau menjadi peladang di atas lahan tidur puluhan hektar di wilayahnya. Karena itu ia lalu menyediakan tempat bagi para korban PHK untuk membuka warung. Yang dipilih jalan raya aspal di samping gedung Papan Sejahtera, Kuningan. Lokasi warung tenda pertama yang dibuka dengan izin Pemda itu dilengkapi fasilitas air bersih, listrik, pembuangan limbah, area parkir, serta jasa pemasaran dan promosi. Tak heran bila proyek ini jadi percontohan untuk wilayah lain di DKI.

Lokasi warung berizin
Dari 30 warung yang dibuka, 15 warung disediakan untuk artis, 10 bagi korban PHK, dan lima untuk mahasiswa. Warung Dasifa, yang dikelola oleh Herly Sulianto, adalah salah satunya.

Pria ter-PHK dari perusahaan pelayaran pada 1983 ini diajak Syaiful, tetangganya, berusaha di bawah payung organisasi Kosgoro Karet Semanggi. Syaiful sendiri bukan orang baru dalam bisnis warung. Ia punya warung nasi padang di belakang RS Jakarta. Selain menu nasi uduk, nasi ulam, dan pelbagai lauk masakan Padang yang lezat, warung Dasifa (Dari Sisa Failit) juga tampil profesional dan pas, tanpa kecentilan yang tidak perlu.

Warung ini dicatatkan sebagai milik Herly Sulianto yang berstatus PHK (atau menganggur), karena kelompok PHK mendapat dana subsidi dari para artis.

Tak jauh dari Dasifa, Purwanto dan istri serta beberapa pegawainya sibuk melayani pengunjung di warung tendanya. Pria empat anak yang masih sekolah ini kena PHK tepat 11 Maret 1998 dengan pesangon enam bulan gaji. Semula ia bergabung di Pasar Tunggu, yakni bursa barang bekas di hari Sabtu dan Minggu di kawasan Pasar Rumput, Jakarta Selatan. "Hasilnya lumayan. Tapi barang bekas 'kan terbatas, jadi habis juga," kenangnya. Saat Pak Camat mengajukan ide membuka Warcil Pharama Rasuna, ia sigap mendaftar. Dengan modal Rp 1 juta, ia membuka warung yang dinamai "Es Teler 99", karena warungnya bernomor 9. Dengan perabot sederhana, istri sebagai koki, dan lima karyawan dari Solo yang juga korban PHK, Purwanto yang asli Solo ini membuka warung makan dengan menu soto solo, nasi uduk, ayam, ataupun ikan bakar.

krismon2.jpg (5405 bytes)
Warung soto Koes Heryuwono hanya untuk menyelamatkan cash flow. (Foto: Yds)

"Kebutuhan lain bisa ditunda, tapi makan tidak," demikian kilahnya mengapa membuka warung makan. Selain itu, keluarganya bisa menumpang makan di warungnya. Maka, sisa simpanan yang semula hanya cukup untuk menyambung hidup selama empat bulan, bisa digunakan lebih lama lagi. Bahkan ia bercita-cita punya rumah makan, bukan sekadar warung seperti ini.

Suasana marak juga muncul di area parkir Pintu I Stadion Utama Senayan, yang kini jadi pusat jajan dan berdagang aneka barang. Di sini warung-warungnya ditata oleh manajemen Gelora Senayan. Setiap pemilik warung memperoleh kavling 3 x 6 m serta bantuan aliran listrik. Masing-masing tenda dikenai biaya pungutan Rp 11.000,- per hari dan listrik Rp 50.000,- per bulan. Daya listrik + 100 watt biasanya untuk 2 - 3 lampu TL, dan lampu kecil untuk dapur atau tempat cuci. Namun, tak sedikit pemilik yang melengkapi warungnya dengan TV, video, minicompo, bahkan lampu sorot. Untuk ini, ada perhitungan biaya tersendiri dengan pihak Gelora.

Salah satu perintis kawasan ini adalah Neng, putri bungsu entertainer H. Ebet Kadarusman. "Warung Kang Ebet"-nya, di lahan parkir depan lapangan softball serta golf driving range Senayan, dibuka sejak April 1998.

Dibandingkan dengan gaji saat bekerja dulu, ibu satu anak ini mengaku, pendapatannya sekarang lebih besar. "Cuma, membuka warung sangat menguras fisik," kata Neng yang sudah punya pelanggan tetap.

Sedangkan bagi Yasin, Boro-Boro Grill adalah pilihan setelah gagal mengembangkan berbagai usaha kecil-kecilan. "Namun hingga akhir Juli, saya belum memanen hasil karena konsep baru jalan sebagian. Selain menu khusus, saya mengunggulkan penataan ruang," ujarnya sambil menunjukkan tata letak yang lekat dengan pembakaran, seperti kayu dan warna coklat.

Kalau ingin diladeni artis
Kecuali korban PHK, banyak artis yang melihat usaha membuka warung sebagai peluang mendapat penghasilan di masa krisis.

"Warung Atun" di Pharama Rasuna, misalnya. Warung yang menyajikan soto dan aneka hidangan Betawi termasuk bir pletok seharga Rp 3.500,- tergolong paling ramai baik oleh pembeli maupun penonton.

krismon1.jpg (8926 bytes)

Dr. Bambang Bhakti, MBA, "Sudah waktunya memasukkan gengsi ke dalam kantung." (Foto: Dok. Tiara)

Dari namanya orang tahu, komandan warung itu pemain sinetron Si Doel Anak Sekolahan, Suti "Atun" Karno. Warung Atun menarik mungkin karena ditunjang hiasan meriah, misalnya bilah bambu yang dililiti kertas warna-warni plus uang kertas Rp 500,--an. "Untuk bonus pembelian jumlah tertentu," kata Suti.

Namun, yang paling menarik tetap si Atun yang tampil dengan ikat kepala, celana jengki, sepatu bot, dan celemek. Tanpa rasa canggung, ia melayani pembeli, mencatat pesanan, meneruskan pesanan ke dapur.

Warung Atun dimiliki bersama oleh Suti Karno, ibu, dan dua kakaknya. Berpegawai 5 orang, warung itu memeras modal Rp 10 juta, termasuk biaya sewa Rp 4 juta. Sedangkan tenaga kerja di warungnya, sebagian adalah karyawan ibunya yang biasa melayani kru produksi Si Doel.

Suti mengaku, "Sekarang saya bener-bener nganggur. Syuting Si Doel sudah selesai." Untung, saat ada gelagat akan terjadi krisis ia sudah bersiap-siap. Di antaranya, bersama saudara-saudarinya membuka galeri keramik kasongan dan meja kayu. Bahkan, galeri yang beroperasi sejak tiga bulan lalu itu mulai menerima pesanan untuk ekspor ke luar negeri. Ia mengaku beruntung dengan keartisannya sebab orang yakin, ia akan menjaga nama baik sehingga gampang percaya padanya.

Sedangkan di Senayan muncul nama artis Ari "Ali Topan" Sihasale, yang dengan Eddy Bogel jadi ujung tombak Warung Ale Ale. Kafe tenda itu dibuka setelah berbagai tawaran berakting tak satu pun terwujud lantaran terpukul krisis. Sedangkan Eddy Bogel di-PHK sebagai wartawan sebuah majalah sejak Agustus 1997. Kebetulan Edo, mantan wirausahawan yang hobi bikin jus, mengajak Ari dan Eddy buka warung. "Semula saya tidak tertarik. Tapi karena Edo minta kami sebagai ujung tombak, saya pun menerima," kata Eddy.

Warung Ale Ale punya menu spesial iga bakar (mirip yang di Hard Rock Cafe), sup iga, spaghetti, dan jus buah. Si Ali Topan, selain wira-wiri dengan santun melayani tamu, juga tak segan mem-punching jus. Maka, bagi gadis-gadis ABG yang nge-fans pada Ari, minuman itu jadi kehormatan plus kebanggaan.

Kabarnya, 30 kg iga bisa ludes dalam 2 jam, tak tergantung hari apa pun. "Tapi ini belum sebanding dengan warung lain yang mapan lebih dulu. Masih mencari bentuk," tutur Edo sambil mencontohkan warung milik Ronny Sianturi di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, yang konon omzetnya mencapai Rp 3 juta per hari.

Warung Ale Ale mempekerjakan 11 korban PHK. "Sesuai keinginan saya, menampung orang ter-PHK. Terbukti, mereka serius dan tekun. Padahal mereka semula tukang, montir, dan lain-lain."

Rencananya, Eddy akan meramaikan warungnya dengan tata lampu dan musik hidup. "Tapi tergantung izin dari Gelora Senayan. Saat ini mereka tengah mengkaji kemungkinan dan perkembangannya. Semoga akan saling menguntungkan."

Ari juga punya cara menawarkan alternatif bagi tamu yang tak kebagian kursi untuk duduk di atas tikar mengelilingi lilin. Tawaran itu diterima dengan senang, apalagi bisa sesekali foto bareng si Ali Topan.

Buka usaha pendukung
Lain korban PHK dan artis, lain pula wirausahawan menyiasati kejamnya krisis ekonomi. Koes Heryuwono, misalnya, mencoba membuka rumah makan Soto Pahlawan, bidang usaha yang jauh dari bidang usahanya sebelumnya. "Usaha ini dijalankan untuk menyelamatkan cash flow. Bayangkan, sejak krisis datang, perusahaan kami tidak mendapat proyek apa pun."

Dana perusahaan yang ada bisa habis dalam empat bulan untuk membayar gaji karyawan dan biaya operasional kantor. Setelah habis, karyawan akan menganggur. PHK, menurutnya, "Memang mudah, saya hanya perlu Rp 25 juta untuk pesangon, sisanya untuk saya pribadi. Tapi saya tidak tega, rasanya tidak patriot," tutur direktur PT Inti Pesan itu.

Secara terbuka ia memaparkan keadaan dan berbagai kemungkinan itu pada karyawannya. "Pengambilan keputusannya pun pakai SWOT. Kami mencoba mencari bisnis yang tahan dalam resesi." Saat itu ada tiga alternatif yaitu membuka rumah makan, barbershop, atau bengkel. "Barbershop selalu dibutuhkan, karena rambut selalu tumbuh. Masalahnya, mencari tenaga ahlinya yang pas. Kesulitan sama muncul dengan pertimbangan membuka bengkel."

Maka pilihan jatuh pada rumah makan, "Selain orang pasti makan, membuatnya pun sederhana, tinggal cari juru masak." Berdirilah Soto Pahlawan dengan menu soto. "Pertimbangannya cuma agar bisa menyediakan makanan murah tapi mengenyangkan. Selain soto, rasanya sulit menjual makanan dengan harga Rp 2.000,-," papar Koes yang memang hobi makan.

Keputusannya memang cepat, krisis yang mulai terasa Juli 1997 segera ditindaklanjuti dengan mendirikan rumah makan pada Oktober 1997. "Maka Desember 1997 bisa membuka yang di Kalibata, sedangkan yang di Buncit buka pada Maret 1998 dengan total investasi Rp 60 juta."

Dengan demikian karyawannya masih bekerja, bahkan sering diperbantukan di rumah makan saat ramai pengunjung. Untuk mencapai harga jual yang murah, kiatnya adalah menekan sumber daya produksi. "Saya tidak segan kulakan di Pasar Induk untuk membeli barang yang memang bisa disimpan lama." Dari belanja di Pasar Induk ia melihat selisih harga yang mencolok. Sayang, tawarannya pada karyawan untuk mengecerkan pada ibu-ibu rumah tangga menggunakan sepeda motor lengkap dengan keranjang bekas petugas kurir tak mendapat tanggapan. "Ternyata, sulit juga mengubah mental kantoran karyawan."

Meski tampaknya menjanjikan, membuka usaha "dadakan" dalam masa krisis ini bukan tanpa hambatan dan risiko. Untuk usaha rumah makannya Koes Heryuwono tak segan mengomandani langsung terutama saat ramai. "Biasanya menyangkut pelayanan," tutur pria berperawakan subur itu. Sedangkan yang bikin repot adalah persaingan yang makin ketat karena sejak Mei lalu makin banyak orang jualan makanan. "Sekarang, saya mulai mencari peluang lain," ujarnya yakin banyak kesempatan yang bisa digarap.

Sementara Suti Karno punya kiat sederhana, "Pelihara kepercayaan dan kerja keras." Jawaban itu serupa dengan prinsip Purwanto untuk tidak putus asa, malu, apalagi menutup diri dan hidup tergantung pada orang lain. (Shinta Teviningrum/Lily Wibisono/Mayong S. Laksono)


M

engakhiri lebih baik daripada memperbaiki.

Aldous Leobard Huxley

Ayu Utami: Seks itu ...
Lupus, belum ada ...
Kapan anak belajar bhs. Inggris?
Bukan karena baca ...
Belekan, tak sembuh ...
Setelah xtc, putau, ...
Tanaman antimalaria
Cerita di balik label makanan
Menghindari gelombang elektromagnetik
Peluang bisnis di masa krisis
Omega-3, modal kecerdasan
Sarana penolak santet
Skenario bagi BUJ
Sekretrais serba bisa

CLICK HERE TO VISIT THE TOP 1000!

boks:
Peluang jadi distributor

Jangan tunggu krisis berakhir