logosept.gif (4461 bytes)Cerita Kriminal

SEKRETARIS SERBA BISA

krimi2.jpg (16075 bytes)Badai reformasi yang diawali taifun krismon akhirnya menerpa Bank Pembangunan Negara juga. Namun bagi sementara orang, ini peluang untuk maju. Fandi baru saja diangkat sebagai kepala bagian kredit di Bank Pembangunan Negara, cabang Jl. Sudirman, Jakarta. Sebagai karyawan yang baru 2 tahun bekerja di bank pemerintah ini (3 tahun lamanya ia telah bekerja di sebuah bank swasta), itu lonjakan besar. Namun siapa peduli lagi dengan lama masa jabatan? Bukankah sekarang saatnya bicara prestasi, bukan gengsi atau kolusi?

Sarjana perbankan yang tengah menyelesaikan studi Magister Manajemennya di UI ini memang tipikal anak muda masa depan: daya pikirnya tajam, bicaranya lugas, gerak-geriknya tangkas. Sebagai atlet yudo, kewaspadaannya juga cukup terlatih. Kelebihannya yang terakhir ini sering kali berfungsi sebagai alarm bagi Fandi, di tengah himpitan pekerjaan dan aneka kegiatan.

Pagi itu, hari pertama ia masuk sebagai kabag. Sedan 1000 cc yang dibeli kredit saat ia masih di bank swasta itu, diparkirnya di bawah kerindangan pohon angsana. Meski sudah cukup tua, kendaraan itu kebanggaannya, hasil jerih payahnya yang pertama. Karena dirawat baik, kondisinya juga masih lumayan bagus. Amat menolong, dalam situasi krismon macam begini.

Pikirannya terus menerawang sambil secara otomatis menarik rem tangan, mematikan mesin, menyambar tas, keluar dari mobil, menghidupkan alarm mobil dan bergegas ke gedung. Sekilas ia melirik sebuah sedan 1.600 cc yang diparkir di sebelah kanan mobilnya. "Ah, siapa tahu, sebentar lagi, gue bisa punya mobil baru ...," gumamnya, sambil senyum kecil sendiri. Pembawaannya yang optimistis terkadang melarutkannya dalam mimpi-mimpi yang kurang menginjak realita.

"Menginjak bumi" lagi, terbayang di ruang matanya wajah lucu seorang bayi 8 bulan, dengan bandana melibat kepalanya. Itu Raisa. Kemudian wajah wanita muda yang cantik meski kadang terlalu ceriwis ... Vina, ibu anak itu.

Didorongnya pintu kaca tebal. Baru ada satpam dan bagian kebersihan. Belum satu pun teller yang nampak. Ditengoknya sekilas arloji. Baru 07.30. Jam kerja resmi dimulai pukul 08.00, meski layanan kepada nasabah baru pukul 08.30. Tapi Fandi tak suka membuang waktu bermacet-macet di jalan. Ia lebih suka datang kepagian, namun dengan kepala masih segar. Apalagi banyak yang harus dikerjakan hari ini. Maklum, pos baru, bos baru, scope pekerjaannya juga baru.

Password baru
Ia terus naik tangga, ke lantai dua mezanine. Di sana berderet ruang para manajer menengah dan puncak. Dari sana pula bisa dilihat kesibukan para nasabah dan layanan garis depan di bawah. Sampai di pintu yang bertuliskan Kepala Bagian Kredit, ia berhenti, lalu mendorong pintunya.

krimi1.jpg (15077 bytes)Serentak ia terhenti. Di dalam sudah ada Bram yang sedang sibuk beberes. Bram, teman sekelasnya di Akademi Perbankan, sudah 5 tahun bekerja di bank ini. Sampai sekarang mereka masih berteman baik, bahkan lewat Bram juga Fandi dulu mengetahui ada lowongan penyelia teller di sini. Pagi itu Bram tampak agak gugup.

"Hai, Fan, gimana kabag baru nih?"

"Ah, biasa-biasa saja," Fandi menjawab asal-asalan. Ada sedikit rasa kikuk harus menjawab apa. Siapa pun akan demikian, karena pos yang dijabatnya sekarang, sebelumnya dipegang Bram. Bram sendiri diturunkan ke tingkat penyelia saja dan diperbantukan ke kabag akunting. "Gue baru beberes nih. Sudah selesai kok," kata Bram.

Setelah ngobrol sebentar, Bram beranjak ke luar.

Fandi meletakkan tasnya di meja samping. Diputarnya arah duduknya sehingga menghadap komputer. Di mana pun bekerja, sarana inilah yang pertama kali ia tengok. Kelengkapan kecanggihan programnya memberikan gambaran akan pemakai sebelumnya. Fandi sendiri bukan maniak komputer, tetapi termasuk orang yang berusaha memanfaatkan segala kecanggihan komputer dalam pekerjaannya. Sekadar untuk pengamanan, password segera diubahnya. Lalu ia meng-install program pengaman tambahan. Dalam soal uang, kehati-hatian tidak akan pernah merugikan. Itu pemeonya.

Setelah melewatkan sekitar 15 menit berkenalan dengan program-progam yang ada di komputer itu, terdengar pintu dibuka seseorang. Terdengar suara lincah, "Ai, Pak Fandi, pagi amat? Mau kopi?" Fandi menengok sekilas. Wajah kenes Ayu muncul dari balik pintu. Sekretaris serba bisa yang sejak krismon "dipaksa" untuk membantu 2 kabag sekaligus, bagian kredit dan akunting.

"Thanks, Yu. Air sajalah. Ada berita untuk saya hari ini?"

"Nanti saya cek dulu, Pak," sahut Ayu.

Dimintai tolong
Selain pesan e-mail dari Ayu, yang bunyinya, "Welcome to your new post" ada e-mail lain: "Fandi, nanti siang pukul 13.00 di Kafe Komodo. Ada sesuatu yang kita perlu bicarakan." Pengirimnya Pak Binsar, mantan kepala cabang yang setelah digeser kabarnya akan berbisnis restoran. Karena rasa ingin tahu bercampur rasa segan pada mantan kepala cabang, ia langsung meng-OK-kan ajakan itu.

Hari itu agenda utama Fandi adalah konsolidasi dengan kepala cabang baru, dan manajer-manajer menengah lain. Ibu Ros sebelumnya mengetuai komisi kredit macet, dinilai cukup berhasil dalam membuat terobosan-terobosan, sehingga likuiditas bank terselamatkan. Kini dalam kondisi keruwetan perbankan semakin kusut, wanita tegar ini dipercaya untuk memimpin kantor cabang yang dipandang oleh kantor pusat sebagai salah satu mesin uang mereka.

Mengitari meja kayu di ruang rapat Ibu Ros, lima orang pria dan satu wanita siap dengan berkas masing-masing.

"Sesuai agenda rapat, saya mau dengar dulu laporan dari kalian semua," ujar Ibu Ros sambil membetulkan letak kacamatanya yang modis. Ibu Ros ini sebenarnya cukup manis juga, asalkan tidak sedang membahas masalah, pikir Fandi. Usianya sekitar 45 tahun. Dengan dandanan anggun dan setelan hijau lumut, hari itu ia tampak lebih manis dari biasa.

Bagian akunting melaporkan neraca hari kemarin, yang secara keseluruhan tidak menampakkan gejolak berarti. Kegiatan nasabah akhir-akhir ini memang berkurang. Perputaran dana tak seberapa. Kalau di beberapa bank lain nasabah besar sudah mentransfer dananya ke bank di luar negeri, Bank Pembangunan Negara beruntung memiliki beberapa nasabah besar yang masih "setia". Barangkali karena kinerja bank ini yang sejak dulu memang lebih condong low profile dan konservatif. Kesetiaan mereka sebagian juga berkat usulan terobosan Ibu Ros sebelum menjadi kepala cabang, yang telah mengusulkan beberapa konsesi bagi para nasabah yang menahan dana mereka di bank itu. Apalagi dengan suku bunga yang mencekik leher, segala alternatif untuk berusaha untuk sementara dimasukkan file dulu. Mereka lebih suka memarkir dana dalam bentuk deposito.

Akhirnya Ibu Ros menengok ke Fandi. "Bagaimana dengan kredit?" tanyanya setelah selesai mencatat dalam buku memonya.

Fandi berterus terang, ia baru sampai pada tahap mengumpulkan informasi. Hanya, sekilas ia melihat ada aktivitas dana dalam jumlah besar selama beberapa bulan terakhir, yang tak disangkanya terjadi dalam kondisi resesi begini. Tapi ia berjanji akan mengamati lebih lanjut. Rapat selesai dalam waktu 40 menit, tetapi Ibu Ros telah membagi-bagikan "PR" kepada semua anak buahnya yang sifatnya masih pengumpulan data dan informasi.

Siang itu Fandi memenuhi undangan Pak Binsar di Kafe Komodo. Penampilan pria yang sudah mendekati usia pensiun ini tetap perlente meski arogansinya masih tetap membayang. Maklumlah, walau telah terjegal udara reformasi, selama 15 tahun terakhir ia bertahan di manajemen puncak. Ada sas-sus, manajemen pusat mencurigainya telah memanfaatkan jabatannya untuk berkolusi, sehingga perusahaan dirugikan. Tapi kasusnya belum jelas.

krimi.jpg (16640 bytes)"Bagaimana kabarnya, Fan? Apa teman-teman baik?" tanyanya sambil menjabat tangan Fandi dan tangan kirinya mempersilakan duduk. Setelah basa-basi bicara soal situasi politik dan ekonomi mutakhir, tibalah saat yang dinantikan Fandi.

Tranfer ke Singapura
"Begini Fan. Kita 'kan sudah kenal lama. Dulu you bisa diterima di Bank PN juga dengan persetujuan saya 'kan? Sekarang saya butuh bantuan you sedikit. Saya rasa tidak akan merepotkan dan dijamin saya tidak akan melupakan jasa baik you itu nanti."

"Kalau bisa, tentu saya tak keberatan, Pak," jawab Fandi.

Entah dari mana asalnya, tiba-tiba Pak Binsar mendorong secarik kertas di meja ke arahnya. Di situ tertera: Rp 125 juta, nomor akoun atas nama Kuswarjito. Lalu nama Anthony Chew dan nomor rekening lain di sebuah bank di Singapura.

"Saya minta tolong supaya you transfer dana ini, dari rekening yang tercatat di situ ke Singapura."

"Lo, Pak, kenapa tidak langsung saja ke teller?"

"Ah, saya tidak mau menarik perhatian." Sejenak ia diam, lalu melanjutkan, "Bagaimana, bisa 'kan?"

Fandi mengiakan. Kertas ia masukkan ke saku kemejanya.

"Ini surat kuasanya, Just in case," ujar Pak Binsar lagi sambil menyerahkan map berisi selembar surat bermeterai.

"Famili Bapak?" tanya Fandi tak kuasa menahan rasa ingin tahu.

"Ah, tidak. Cuma teman baik saja. Teman baik 'kan biasa saling tolong-menolong," Pak Binsar menebar senyum.

Balik ke kantor, Fandi kembali menghadapi komputernya. Ia sudah bertekad akan menyajikan laporan lengkap tentang kondisi bagian kredit keesokan harinya, karena ia tahu, dengan Ibu Ros, orang harus tanggap dan bekerja cepat.

Salah satu yang membangkitkan minatnya ya lalu lintas dana cukup besar beberapa bulan terakhir ini. Intuisinya membisikkan ada sesuatu yang tak beres.

Semakin lama menekuni data-data di layar monitor, semakin kentara tampilnya sebuah nama yang sering sekali muncul. Haseline Hasibuan tercatat menerima fasilitas kredit sebesar Rp 15 miliar (Oktober), Rp 30 miliar (Desember), Rp 10 miliar (Februari) dan Rp 5 miliar lagi pada bulan Mei.

Dari data nasabah, Haseline Hasibuan beralamatkan Jakarta Selatan, tercatat sebagai dirut PT Permata Lestari, pengembang realestat. Fandi termenung sambil bertopang dagu. Ia teringat keluh-kesah Hertanto, seorang nasabah yang kontraktor. "Susah Pak Fandi, tak ada proyek." Lalu nasabah yang lain, konsultan bangunan tak kurang keluh kesahnya. Bahkan adiknya sendiri yang bekerja di sebuah pengembang bercerita, bagaimana perusahaannya sudah banting harga, tetapi orang malah membatalkan niat akan mengkredit rumah.

Sesuai peraturan, ada prasyarat yang harus dipenuhi untuk dapat memperoleh kucuran kredit. Terlebih-lebih di musim kredit macet begini. Prasyarat itu berupa bukti yang menunjukkan bahwa perusahaan masih produktif. Selain itu ada mekanisme kontrol untuk menjamin fasilitas kredit benar-benar digunakan untuk memajukan usaha.

Dalam situasi resesi berat ini, bisnis pengembang termasuk yang paling telak terpukul. Maka ia tak habis pikir, bagaimana PT Permata Lestari masih bisa bertahan. Sebab kalau tidak, tentu Bank Pembangunan Negara tidak akan mengucurkan kredit bukan? Namun nalurinya lebih condong pada kemungkinan lain. Ia mencium bau kolusi, dan di mana-mana kolusi selalu ditemani oleh korupsi.

Pernah naksir Vina
Ingat bahwa narasumber yang bisa ditanyai toh tak jauh dari situ, Fandi segera bangun, keluar menuju ruangan Bram di ujung koridor.

"Omong-ngomong mungkin lo bisa kasih gue info tentang ini." Disodorkannya lembar print-out data kredit untuk Haseline Hasibuan.

Bram membaca lembaran-lembaran itu.

"O, Haseline Hasibuan. Salah satu nasabah kita yang terlama. Catatan angsurannya bersih, lancar, sehingga diputuskan komitmen kita yang sudah digolkan pertengahan tahun lalu, tetap dilaksanakan. Dia memang perempuan jago. Orang lain kelenger, dia masih berjaya. Jangan khawatir, sudah kita cek semua."

"Apa sih proyek-proyeknya?" desak Fandi.

"RSS di Semarang dan Surabaya. Juga beberapa mal di kota-kota kecil," jawab Bram.

"Bukannya itu malah berisiko tinggi macet di masa sekarang?" Fandi mempertanyakan.

"Nyatanya tidak. Buktinya, angsurannya tetap lancar," tukas Bram santai.

Fandi kembali ke ruangannya dengan informasi lebih dari cukup tentang proses pemberian kredit kepada Haseline Hasibuan berikut segala macam keterangan, formal maupun informal, termasuk latar belakang wanita itu, dan betapa menariknya wanita itu. Di komputernya ia membuat catatan-catatan temuannya, sembari menuliskan juga langkah-langkah selanjutnya yang akan dilakukan. Untuk sementara ia masih menganggap kawannya itu sumber info yang dapat dipercaya.

Keesokan paginya saat ia masuk ke kantornya lagi, ada hal remeh yang sempat mengganggunya. Foto Vina bersama Raisa, yang ia tempatkan di meja, jatuh ke lantai. Meski berkarpet, kacanya pecah sampai berkeping-keping. Sejak kapan di sini ada kucing, pikirnya. Di luar, sepasang mata memandang pintu yang tertutup.

Penyusup
Rapat pagi dengan Ibu Ros ditunda hingga sore hari, karena ia mendadak dipanggil ke kantor pusat, sehingga Fandi dapat langsung bekerja di depan komputer. Begitu komputernya dihidupkan, saat hendak mengetik password, ada kedap-kedip di sebelah kanan atas layarnya. Jantungnya berdetak keras. Program pengaman yang di-installnya kemarin, memberikan fasilitas "penjaga pintu" yang akan menjaga dan melaporkan bila terjadi sesuatu yang diluar kebiasaan. Kedip-kedip itu pertanda file-nya sudah dikunjungi intruder.

Darahnya mulai mengalir kencang. Jari-jemarinya menari cepat di atas keyboard. Program satpamnya itu mencatat, usaha pembobolan yang gagal itu terjadi pada pukul 21.18. Berarti sekitar seperempat jam setelah ia pulang kemarin.

Pikirannya mengilas balik apa saja yang ia kerjakan kemarin, data apa saja yang ia masukkan, yang kira-kira diinginkan oleh sang intruder. Siapa dan mau apa bajingan itu?

Tangannya terus bermain, hampir seperti otomatis. Sampai suatu ketika setelah menekan tombol "Enter", jari-jarinya terpaku, matanya terpentang lebar.

Di layar terpampang nama-nama dan angka-angka. Disambarnya kertas printout yang ia tunjukkan Bram kemarin. Ada sesuatu yang menggugah. Matanya beralih-alih dari layar ke kertas, dari kertas ke layar. Ada empat tanggal di kertas, yang persis lebih awal 3 hari dari empat tanggal di layar. Pada layar, di belakang masing-masing tanggal tercatat: nama nasabah, nomor akaun dan sejumlah dana yang besarnya antara Rp 125 - 375 juta. Ini suatu kebetulan yang keterlaluan.

Ketika dilihat pada data transfer, ternyata tiga dari keempat tanggal tersebut adalah hari dilakukannya transfer dana dari nama-nama itu ke sebuah rekening di bank Singapura atas nama Anthony Chew. Yang belum ditransfer tinggal jumlah Rp 125 juta dari rekening atas nama Koeswarjito. Ia bersiul.

Maka dapat disimpulkan, setiap kali terjadi pengucuran kredit bagi Haseline Hasibuan, 3 hari kemudian ada transfer dana ke rekening atas nama Anthony Chew di Singapura. Setelah kredit sebesar Rp 15 miliar (Oktober) mengucur, yang ditransfer sejumlah Rp 375 juta. Menyusul kredit sejumlah Rp 30 miliar (Desember), ditransfer sebesar Rp 750 juta. Demikian pula di bulan Februari, setelah Rp 10 miliar cair, 3 hari kemudian ditransfer sejumlah Rp 250 juta ke rekening Anthony Chew. Semuanya langsung dikurskan ke dolar Amerika, sebelum ditransfer.

Jumlah dana-dana yang ditransfer persis 2,5% dari jumlah dana kredit yang cair. Bahkan termasuk dana Rp 125 juta yang belum ditransferkan itu, persis 2,5% dari kredit Rp 5 miliar yang cair di bulan Mei untuk Haseline Hasibuan. Bukankah ini jelas-jelas suatu prosedur pemberian komisi? Tetapi siapakah keempat orang pemilik rekening ini dan siapakah Anthony Chew? Dan bagaimana kaitan Pak Binsar? Ia mengaku berteman baik dengan Kuswarjito. Pasti ikut berperan juga.

Telepon berdering. Ternyata dari Pak Binsar. Ia menanyakan, apakah permintaan transfernya sudah dikerjakan.

"Oh, aru akan saya kerjakan hari ini," jawabnya. Ia beralasan, sangat sibuk.

"Please, jangan meleset. Jangan lupa, begitu dilaksanakan, saya tidak lupa pada jasa you."

Jantungnya berdebar-debar. "Tampaknya intuisiku tak keliru," gumamnya dalam hati. Tapi bagaimana melacaknya?

Keesokan paginya, kembali ada tanda kedap-kedip di layar monitornya, saat ia hendak mengetikkan password. "Bangsat ini mesti kubekuk," gumamnya dalam hati. Program satpamnya masih cukup canggih, atau si penerobos kurang ilmu. Ia pastikan harus dapat membongkar apa di balik semua ini secepat mungkin.

Sedikit demi sedikit terungkap juga kaitan segala data yang membuatnya penasaran itu. Ia temukan suatu hal yang lebih menarik lagi. Setiap kali Haseline Hasibuan baru mencairkan dana kreditnya, dua hari kemudian empat nasabah (Sita Lestari, Tino Baharudin, Donna Kusuma dan Koeswarjito) menerima transfer dana dari Bank Inrama. Pada hari berikutnya, dana sebesar itu ditransfer lagi ke Singapura ke rekening atas nama Anthony Chew, kecuali transfer terakhir ke rekening Koeswarjito. Si penerobos yang gagal itu pasti menginginkan akses ke dana Kuswarjito ini, yang belum sempat ditransferkan. Apakah dia Kuswarjito sendiri? Atau suruhan pihak lain? Mengapa yang satu ini tertinggal? Mengapa saatnya bertepatan dengan digantinya (secara agak mendadak) Pak Binsar dan beberapa pejabat lain di bawahnya, termasuk Bram?

Diculik
Fandi seperti melihat secercah cahaya. Tiba-tiba telepon berdering. Ia sama sekali tak siap mendengar suara Vina terbata-bata sambil menangis, "Fan, Fan, Raisa -- Raisa -- dicul -- culik!"

"Hah!?" Fandi langsung berseru sambil mengangkat pantat dari kursi. "Bagaimana bisa?" Fandi dapat juga memahami alur cerita si ibu yang sedang panik. Pagi itu, sekitar pukul 08.00 ia berangkat ke pasar. Raisa ditinggalkan di rumah bersama pengasuhnya. Sekitar satu jam kemudian, ketika pulang ia menemukan Sari, pengasuh anaknya, terduduk lemas sambil menangis di tangga rumah. Secara naluriah matanya langsung mencari kereta bayi anaknya. Keretanya ada, tetapi terjungkir di sudut pekarangan.

"Raisa!! Mana Raisa ...?!" Sari mengatakan, "Sementara ibu pergi, saya menyuapi Raisa bubur di teras, karena makannya 'kan lebih lancar bila dilakukan sambil memandang burung atau kupu-kupu. Kemudian datang mobil boks. Kata pria berseragam yang mengetuk pagar, mereka mengantarkan paket titipan kilat. Karena paketnya besar, ia minta dibukakan pintu pagar. Begitu pintu dibuka, dari balik mobil menerjang masuk seorang wanita muda, yang lalu menyambar Raisa, melompat kembali ke dalam boks yang lalu ditutup. Orang yang tadi bicara dengannya juga ikut naik ke mobil dan kabur."

Fandi mengambil napas dalam-dalam. Lalu dengan suara tenang ia berkata, "Kamu tetap tenang di rumah. Saya kira sebentar lagi kamu akan menerima telepon."

Benar saja. Dua puluh menit kemudian, Vina menelepon. Seseorang menelepon, mengaku membawa anak mereka (bahkan tangis Raisa pun diperdengarkan di telepon). Orang itu hanya mengatakan, jangan berani-berani menelepon polisi, karena akibatnya bisa fatal. Lalu bahwa Vina akan dikabari lebih lanjut.

Begitu selesai mendengarkan laporan Vina di telepon, ia bergegas ke luar, ke meja Ayu. Tapi yang ada Dewi, salah seorang dari bagian administrasi, "Ayu sakit bulanan," katanya.

"Wi, mana katalog data bank," ujarnya. Dewi mengambilkan dan menyerahkannya tanpa bersuara.

Seingat Fandi, Bank Inrama itu salah satu bank kecil yang baru didirikan sekitar dua tahun lalu. Dalam katalog tercatat data tentang bank itu tercatat besarnya aset dan ekuitas, kemudian nama para pemegang saham, juga alamat kantor-kantornya. Jarinya mengikuti nama-nama yang berjajar. Ini dia. Johnson Hasibuan.

Tak lama, telepon di ruang sekretaris preskom Bank Inrama berdering. "Bank Inrama, selamat siang," ujar si sekretaris. "Mbak, saya dari toko bunga Melati. Bapak Hasibuan memesan bunga untuk ucapan selamat ulang tahun bagi istrinya, tapi kami lupa menanyakan nama Ibu Hasibuan. Boleh saya tahu nama beliau?"

"Oh, tentu dong. Ibu Haseline."

Tukar di bandara
Selesai dengan penyidikan singkat yang berhasil menggunakan telepon di meja Ayu itu, Fandi segera beranjak ke ruangannya lagi. Saat itu terdengar bunyi "brak!" dari pintu tembus ke ruang sebelah. Diliriknya komputer yang tadi tak sempat dimatikan. Untung ia selalu berhati-hati menutup file dulu setiap akan meninggalkan ruangan. Segera dibukanya pintu tembus, masuk ke dalam ruang rapat. Sekelebat ia melihat seseorang berlari menuju koridor. Dikejarnya, ternyata bajingan itu memilih tangga darurat.

"Bagus," desis Fandi. Ia tak pernah menyangsikan staminanya, meski harus naik tangga ke lantai atas sekalipun. Orang itu memilih turun, menuju basement. Fandi tidak mau menyerah. Ketika tiba di basement, didengarnya deru mobil menjauh. Ia terlambat. Fandi meninju dinding di dekatnya, gemas.

Kembali ke ruang kantor, Dewi, telah menunggu dengan informasi dan berita yang ditulis di kertas.

"Pesan dari Bu Vina, Pak," katanya. Fandi membaca pesan itu. "Kita harus menebus anak kita dengan AS $ 10.000 tunai, dalam pecahan 100, 50 dan 20 dolaran, di bawa sendiri nanti malam pukul 19.00 ke Bandara Soekarno-Hatta, terminal internasional. Jangan menghubungi polisi dan mesti tunggu di depan gate 1. Jika tidak, anak kita akan tak jelas nasibnya."

Fandi mengecek ke komputernya lagi. Terlihat ada usaha memberikan perintah transfer dana dari akaun atas nama Koeswarjito. Tapi usaha itu gagal. Setelah melacak cukup dalam, tahulah ia mengapa akaun itu tidak dapat diakses dari teller di bawah. Ia dimasukkan dalam file khusus yang hanya dapat diakses oleh kabag kredit. Jadi bukan karena "tak mau menarik perhatian" Pak Binsar tidak langsung ke teller, tetapi karena memang tidak bisa.

Mekanisme lewat teller itu diciptakan entah untuk menjaga kerahasiaan atau keamanan. Lagipula, bila ada apa-apa, bukankah ia tinggal menuding kabag kredit, yang waktu itu dipegang Bram? Sial bagi Pak Binsar, ia terkena gelombang reformasi, sehingga diganti secara mendadak. Lebih sial lagi, Fandi langsung memberlakukan pengamanan lebih, dengan kode otorisasi khusus pula, bagi semua file kabag kredit yang dipegangnya. Akibatnya, Bram tak dapat lagi mengakses dana atas nama Kurwarjito yang tertinggal belum ditransfer itu.

Diduganya, Bram-lah orang yang selama ini berkali-kali mencoba membobol file-filenya. Namun ia curiga, kini Bram bekerja untuk kepentingan sendiri. Kalau tidak, untuk apa Pak Binsar menghubunginya langsung, bahkan secara terselubung menjanjikan hadiah kepadanya?

Diliriknya arloji. Pukul 14.30. Dari kantor ke Cengkareng butuh waktu sekitar 40 menit, sehingga masih ada waktu sekitar 4 jam. Sebaiknya memang berkonsultasi dengan Ibu Ros, karena ini menyangkut dana dalam jumlah banyak. Juga sudah terbukti ada seseorang yang berusaha melakukan tindak ilegal di banknya.

Ibu Ros ternyata sedang mencarinya, karena kantor pusat hari itu mendesak agar ketidakberesan di bagian kredit yang semakin tercium oleh mereka, segera dibereskan. Mereka sepakat menelepon Kodak. Dengan Letkol (pol) Jajang Suwarman, disepakati, tuntutan penculik akan pura-pura dipenuhi. Fandi akan memenuhi perjanjian dengan pergi ke tempat pertemuan, membawa bungkusan "uang" dalam kantung plastik belanjaan. Sementara itu ia akan dibayang-bayangi aparat. Ia diinstruksikan untuk melakukan pertukaran, hanya bila anaknya sudah ada di tangan.

Pukul 18.40 Fandi sudah tiba di terminal 2, diantar sopir perusahaan. Dengan gerak dibuat senormal mungkin ia melangkah masuk ke lobi. Matanya mencari-cari nama "Gate 1". Kemudian sekilas disapunya orang-orang yang lalu-lalang di sana. Perhatiannya khusus pada orang-orang yang membawa bayi. Ia menyesal tidak menanyakan kepada Vina, pakaian apa yang dikenakan Raisa ketika diculik. Membawa bayi dalam operasi semacam ini tentu tidak mudah. Ia menduga-duga, bagaimana modus operandi pertukaran bayi dengan uang itu nanti.

Ada main
Ketika matanya sedang nyalang melihat ke sana-kemari, sebuah tepukan keras menerpa punggungnya.

"Hai, Fan, ngapain ke mari?" Suara yang familiar. Ditengoknya arloji. Pukul 18.55. Belum waktunya. Ia menoleh untuk berhadapan dengan wajah ceria Bram. "Lo sendiri, ngapain?" ia bertanya balik.

"Ah, gue mau ke Singapura, paman yang undang. Sekalian lihat-lihat kemungkinan di sana. Masa krisis begini, mesti kreatif, Fan."

"Oh," kecurigaan Fandi semakin meningkat. Bram pasti berada di balik ini semua. Ia tak punya waktu dan kesabaran untuk berbasa-basi. Segera dihentaknya kerah kemeja Bram.

"Jangan main-main. Mana anak gue?"

"Anak? Anak apa?" Saat itu berkelebat wanita yang berlari di jarak sekitar 10 m. Ia seperti menggendong sesuatu.

Secara refleks Fandi melepaskan cengkeramannya lalu mengejar wanita itu. Tetapi aparat yang mengawalnya lebih cepat. Dalam sekejap wanita itu sudah terhadang, lalu digandeng menuju ke arahnya.

Fandi terbengong-bengong memandang Ayu, yang kebingungan hendak menaruh wajah di mana. "Benarkah ini anak bapak?" tanya sang petugas. "Ya," sambil diambilnya Raisa.

Ayu hanya menunduk. Saat aparat memborgol tangan mereka, Bram protes keras, "Apa-apaan ini? Apa salah saya?" Tapi Ayu memohon, "Tolong, Pak, jangan tangkap dia. Dia tak tahu apa-apa." Tapi aparat tetap mengatakan, "Saudara-saudara ditangkap, atas tuduhan penculikan dan pemerasan."

Kepada polisi Bram bercerita, memang sudah lama ia berpacaran dengan Ayu, sejak ia masih menjadi kabag kredit. Namun karena keinginan Ayu sendiri, mereka sepakat tidak mengumumkan hal itu dulu. Soalnya, ia khawatir cepat-cepat disuruh kawin oleh orang tuanya, sementara kondisi keuangan belum memungkinkan. Janji Pak Binsar akan memberi Bram pekerjaan tak kunjung dipenuhi, maka ia memutuskan akan melihat-lihat kemungkinan kerja di Singapura. Kebetulan, seorang pamannya bekerja di konsulat RI di negeri jiran itu.

Ayu sendiri menjadi elemen kejutan bagi Fandi. Terus terang diakuinya, selama ini dialah yang mencoba membobol file Fandi. Dari Bram ia mengetahui dana di rekening Kuswarjito yang belum ditransfer ke Singapura itu. Tapi kalau Bram menganggapnya sebagai bagian dari masa lalu yang pahit, Ayu melihatnya sebagai peluang untuk membebaskan diri dari himpitan masalah ekonomi keluarga. Apalagi ia sudah cepat-cepat ingin membina mahligai bersama kekasihnya itu.

Dihubunginya Pak Binsar untuk menawarkan jasa, tapi ditolak, karena Binsar berniat menghubungi Fandi langsung. Maka ia pun berinisiatif berlomba dengan waktu untuk menyikat dana itu. Sebagai sekretaris, dari komputernya ia tak dapat mengakses file untuk tingkat manajer ke atas, sehingga terpaksa setiap kali harus mencuri kesempatan menggunakan komputer Fandi. Tidak kunjung berhasil, ia nekat menculik anak Fandi, untuk minta tebusan yang jumlahnya kira-kira Rp 125 juta, tergantung kurs yang berlaku. Dengan uang cukup, tinggal di mana pun oke, meski tidak di tanah air sendiri. Demikian pikirnya.

Pak Binsar sendiri malam itu juga diciduk dari rumahnya di pemukiman elit Pondok Indah. Bersamanya ditahan juga ... Haseline Hasibuan, yang ternyata ada main dengan dia. Keduanya diajukan ke meja hijau dengan tuduhan sedikit berbeda. Haseline Hasibuan dituduh melakukan penipuan, karena meminta fasilitas kredit untuk perusahaan yang ternyata fiktif, sehingga merugikan kepentingan umum. Pak Binsar dituduh melanggar hukum karena menciptakan empat rekening fiktif, korupsi, membantu penipuan dan menyalahgunakan kepercayaan dan jabatan. Mereka dinyatakan bersalah. Haseline Hasibuan diganjar 6 tahun, sedangkan Pak Binsar 5 tahun penjara. Namun belum berarti urusan Pak Binsar selesai, karena ia pun dinantikan oleh aparat keamanan Singapura dengan tuduhan memalsukan identitas dan membuat akaun di bank berdasarkan data palsu itu.

Malam itu, ketika berjumpa dengan istrinya, baru Fandi teringat menanyakan, suara penculik di telepon, pria atau wanita? "Wanita," kata Vina. "Kenapa?"

Fandi hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. "Andaikan saya tidak selalu beranggapan dia pria," desahnya. (Lily Wibisono/Fiksi)

Ayu Utami: Seks itu ...
Lupus, belum ada ...
Kapan anak belajar bhs. Inggris?
Bukan karena baca ...
Belekan, tak sembuh ...
Setelah xtc, putau, ...
Tanaman antimalaria
Cerita di balik label makanan
Menghindari gelombang elektromagnetik
Peluang bisnis di masa krisis
Omega-3, modal kecerdasan
Sarana penolak santet
Skenario bagi BUJ
Sekretrais serba bisa

CLICK HERE TO VISIT THE TOP 1000!