Badai reformasi yang
diawali taifun krismon akhirnya menerpa Bank Pembangunan Negara juga. Namun bagi sementara
orang, ini peluang untuk maju. Fandi baru saja diangkat sebagai kepala bagian kredit di
Bank Pembangunan Negara, cabang Jl. Sudirman, Jakarta. Sebagai karyawan yang baru 2 tahun
bekerja di bank pemerintah ini (3 tahun lamanya ia telah bekerja di sebuah bank swasta),
itu lonjakan besar. Namun siapa peduli lagi dengan lama masa jabatan? Bukankah sekarang
saatnya bicara prestasi, bukan gengsi atau kolusi?
Sarjana
perbankan yang tengah menyelesaikan studi Magister Manajemennya di UI ini memang tipikal
anak muda masa depan: daya pikirnya tajam, bicaranya lugas, gerak-geriknya tangkas.
Sebagai atlet yudo, kewaspadaannya juga cukup terlatih. Kelebihannya yang terakhir ini
sering kali berfungsi sebagai alarm bagi Fandi, di tengah himpitan pekerjaan dan aneka
kegiatan.
Pagi itu, hari pertama ia
masuk sebagai kabag. Sedan 1000 cc yang dibeli kredit saat ia masih di bank swasta itu,
diparkirnya di bawah kerindangan pohon angsana. Meski sudah cukup tua, kendaraan itu
kebanggaannya, hasil jerih payahnya yang pertama. Karena dirawat baik, kondisinya juga
masih lumayan bagus. Amat menolong, dalam situasi krismon macam begini.
Pikirannya terus menerawang
sambil secara otomatis menarik rem tangan, mematikan mesin, menyambar tas, keluar dari
mobil, menghidupkan alarm mobil dan bergegas ke gedung. Sekilas ia melirik sebuah sedan
1.600 cc yang diparkir di sebelah kanan mobilnya. "Ah, siapa tahu, sebentar lagi, gue
bisa punya mobil baru ...," gumamnya, sambil senyum kecil sendiri. Pembawaannya yang
optimistis terkadang melarutkannya dalam mimpi-mimpi yang kurang menginjak realita.
"Menginjak bumi"
lagi, terbayang di ruang matanya wajah lucu seorang bayi 8 bulan, dengan bandana melibat
kepalanya. Itu Raisa. Kemudian wajah wanita muda yang cantik meski kadang terlalu ceriwis
... Vina, ibu anak itu.
Didorongnya pintu kaca tebal.
Baru ada satpam dan bagian kebersihan. Belum satu pun teller yang nampak.
Ditengoknya sekilas arloji. Baru 07.30. Jam kerja resmi dimulai pukul 08.00, meski layanan
kepada nasabah baru pukul 08.30. Tapi Fandi tak suka membuang waktu bermacet-macet di
jalan. Ia lebih suka datang kepagian, namun dengan kepala masih segar. Apalagi banyak yang
harus dikerjakan hari ini. Maklum, pos baru, bos baru, scope pekerjaannya juga
baru.
Password baru
Ia terus naik tangga, ke lantai dua mezanine. Di sana berderet ruang para manajer menengah
dan puncak. Dari sana pula bisa dilihat kesibukan para nasabah dan layanan garis depan di
bawah. Sampai di pintu yang bertuliskan Kepala Bagian Kredit, ia berhenti, lalu mendorong
pintunya.
Serentak ia terhenti. Di dalam
sudah ada Bram yang sedang sibuk beberes. Bram, teman sekelasnya di Akademi
Perbankan, sudah 5 tahun bekerja di bank ini. Sampai sekarang mereka masih berteman baik,
bahkan lewat Bram juga Fandi dulu mengetahui ada lowongan penyelia teller di sini.
Pagi itu Bram tampak agak gugup.
"Hai, Fan, gimana
kabag baru nih?"
"Ah, biasa-biasa
saja," Fandi menjawab asal-asalan. Ada sedikit rasa kikuk harus menjawab apa. Siapa
pun akan demikian, karena pos yang dijabatnya sekarang, sebelumnya dipegang Bram. Bram
sendiri diturunkan ke tingkat penyelia saja dan diperbantukan ke kabag akunting. "Gue
baru beberes nih. Sudah selesai kok," kata Bram.
Setelah ngobrol sebentar, Bram
beranjak ke luar.
Fandi meletakkan tasnya di
meja samping. Diputarnya arah duduknya sehingga menghadap komputer. Di mana pun bekerja,
sarana inilah yang pertama kali ia tengok. Kelengkapan kecanggihan programnya memberikan
gambaran akan pemakai sebelumnya. Fandi sendiri bukan maniak komputer, tetapi termasuk
orang yang berusaha memanfaatkan segala kecanggihan komputer dalam pekerjaannya. Sekadar
untuk pengamanan, password segera diubahnya. Lalu ia meng-install program
pengaman tambahan. Dalam soal uang, kehati-hatian tidak akan pernah merugikan. Itu
pemeonya.
Setelah melewatkan sekitar 15
menit berkenalan dengan program-progam yang ada di komputer itu, terdengar pintu dibuka
seseorang. Terdengar suara lincah, "Ai, Pak Fandi, pagi amat? Mau kopi?" Fandi
menengok sekilas. Wajah kenes Ayu muncul dari balik pintu. Sekretaris serba bisa yang
sejak krismon "dipaksa" untuk membantu 2 kabag sekaligus, bagian kredit dan
akunting.
"Thanks, Yu. Air
sajalah. Ada berita untuk saya hari ini?"
"Nanti saya cek dulu,
Pak," sahut Ayu.
Dimintai tolong
Selain pesan e-mail dari Ayu, yang bunyinya, "Welcome to your new post"
ada e-mail lain: "Fandi, nanti siang pukul 13.00 di Kafe Komodo. Ada sesuatu
yang kita perlu bicarakan." Pengirimnya Pak Binsar, mantan kepala cabang yang setelah
digeser kabarnya akan berbisnis restoran. Karena rasa ingin tahu bercampur rasa segan pada
mantan kepala cabang, ia langsung meng-OK-kan ajakan itu.
Hari itu agenda utama Fandi
adalah konsolidasi dengan kepala cabang baru, dan manajer-manajer menengah lain. Ibu Ros
sebelumnya mengetuai komisi kredit macet, dinilai cukup berhasil dalam membuat
terobosan-terobosan, sehingga likuiditas bank terselamatkan. Kini dalam kondisi keruwetan
perbankan semakin kusut, wanita tegar ini dipercaya untuk memimpin kantor cabang yang
dipandang oleh kantor pusat sebagai salah satu mesin uang mereka.
Mengitari meja kayu di ruang
rapat Ibu Ros, lima orang pria dan satu wanita siap dengan berkas masing-masing.
"Sesuai agenda rapat,
saya mau dengar dulu laporan dari kalian semua," ujar Ibu Ros sambil membetulkan
letak kacamatanya yang modis. Ibu Ros ini sebenarnya cukup manis juga, asalkan tidak
sedang membahas masalah, pikir Fandi. Usianya sekitar 45 tahun. Dengan dandanan anggun dan
setelan hijau lumut, hari itu ia tampak lebih manis dari biasa.
Bagian akunting melaporkan
neraca hari kemarin, yang secara keseluruhan tidak menampakkan gejolak berarti. Kegiatan
nasabah akhir-akhir ini memang berkurang. Perputaran dana tak seberapa. Kalau di beberapa
bank lain nasabah besar sudah mentransfer dananya ke bank di luar negeri, Bank Pembangunan
Negara beruntung memiliki beberapa nasabah besar yang masih "setia". Barangkali
karena kinerja bank ini yang sejak dulu memang lebih condong low profile dan
konservatif. Kesetiaan mereka sebagian juga berkat usulan terobosan Ibu Ros sebelum
menjadi kepala cabang, yang telah mengusulkan beberapa konsesi bagi para nasabah yang
menahan dana mereka di bank itu. Apalagi dengan suku bunga yang mencekik leher, segala
alternatif untuk berusaha untuk sementara dimasukkan file dulu. Mereka lebih suka
memarkir dana dalam bentuk deposito.
Akhirnya Ibu Ros menengok ke
Fandi. "Bagaimana dengan kredit?" tanyanya setelah selesai mencatat dalam buku
memonya.
Fandi berterus terang, ia baru
sampai pada tahap mengumpulkan informasi. Hanya, sekilas ia melihat ada aktivitas dana
dalam jumlah besar selama beberapa bulan terakhir, yang tak disangkanya terjadi dalam
kondisi resesi begini. Tapi ia berjanji akan mengamati lebih lanjut. Rapat selesai dalam
waktu 40 menit, tetapi Ibu Ros telah membagi-bagikan "PR" kepada semua anak
buahnya yang sifatnya masih pengumpulan data dan informasi.
Siang itu Fandi memenuhi
undangan Pak Binsar di Kafe Komodo. Penampilan pria yang sudah mendekati usia pensiun ini
tetap perlente meski arogansinya masih tetap membayang. Maklumlah, walau telah terjegal
udara reformasi, selama 15 tahun terakhir ia bertahan di manajemen puncak. Ada sas-sus,
manajemen pusat mencurigainya telah memanfaatkan jabatannya untuk berkolusi, sehingga
perusahaan dirugikan. Tapi kasusnya belum jelas.
"Bagaimana kabarnya, Fan? Apa
teman-teman baik?" tanyanya sambil menjabat tangan Fandi dan tangan kirinya
mempersilakan duduk. Setelah basa-basi bicara soal situasi politik dan ekonomi mutakhir,
tibalah saat yang dinantikan Fandi.
Tranfer ke Singapura
"Begini Fan. Kita 'kan sudah kenal lama. Dulu you bisa diterima di Bank PN
juga dengan persetujuan saya 'kan? Sekarang saya butuh bantuan you sedikit. Saya
rasa tidak akan merepotkan dan dijamin saya tidak akan melupakan jasa baik you itu
nanti."
"Kalau bisa, tentu saya
tak keberatan, Pak," jawab Fandi.
Entah dari mana asalnya,
tiba-tiba Pak Binsar mendorong secarik kertas di meja ke arahnya. Di situ tertera: Rp 125
juta, nomor akoun atas nama Kuswarjito. Lalu nama Anthony Chew dan nomor rekening lain di
sebuah bank di Singapura.
"Saya minta tolong supaya
you transfer dana ini, dari rekening yang tercatat di situ ke Singapura."
"Lo, Pak, kenapa tidak
langsung saja ke teller?"
"Ah, saya tidak mau
menarik perhatian." Sejenak ia diam, lalu melanjutkan, "Bagaimana, bisa
'kan?"
Fandi mengiakan. Kertas ia
masukkan ke saku kemejanya.
"Ini surat kuasanya, Just
in case," ujar Pak Binsar lagi sambil menyerahkan map berisi selembar surat
bermeterai.
"Famili Bapak?"
tanya Fandi tak kuasa menahan rasa ingin tahu.
"Ah, tidak. Cuma teman
baik saja. Teman baik 'kan biasa saling tolong-menolong," Pak Binsar menebar senyum.
Balik ke kantor, Fandi kembali
menghadapi komputernya. Ia sudah bertekad akan menyajikan laporan lengkap tentang kondisi
bagian kredit keesokan harinya, karena ia tahu, dengan Ibu Ros, orang harus tanggap dan
bekerja cepat.
Salah satu yang membangkitkan
minatnya ya lalu lintas dana cukup besar beberapa bulan terakhir ini. Intuisinya
membisikkan ada sesuatu yang tak beres.
Semakin lama menekuni
data-data di layar monitor, semakin kentara tampilnya sebuah nama yang sering sekali
muncul. Haseline Hasibuan tercatat menerima fasilitas kredit sebesar Rp 15 miliar
(Oktober), Rp 30 miliar (Desember), Rp 10 miliar (Februari) dan Rp 5 miliar lagi pada
bulan Mei.
Dari data nasabah, Haseline
Hasibuan beralamatkan Jakarta Selatan, tercatat sebagai dirut PT Permata Lestari,
pengembang realestat. Fandi termenung sambil bertopang dagu. Ia teringat keluh-kesah
Hertanto, seorang nasabah yang kontraktor. "Susah Pak Fandi, tak ada proyek."
Lalu nasabah yang lain, konsultan bangunan tak kurang keluh kesahnya. Bahkan adiknya
sendiri yang bekerja di sebuah pengembang bercerita, bagaimana perusahaannya sudah banting
harga, tetapi orang malah membatalkan niat akan mengkredit rumah.
Sesuai peraturan, ada
prasyarat yang harus dipenuhi untuk dapat memperoleh kucuran kredit. Terlebih-lebih di
musim kredit macet begini. Prasyarat itu berupa bukti yang menunjukkan bahwa perusahaan
masih produktif. Selain itu ada mekanisme kontrol untuk menjamin fasilitas kredit
benar-benar digunakan untuk memajukan usaha.
Dalam situasi resesi berat
ini, bisnis pengembang termasuk yang paling telak terpukul. Maka ia tak habis pikir,
bagaimana PT Permata Lestari masih bisa bertahan. Sebab kalau tidak, tentu Bank
Pembangunan Negara tidak akan mengucurkan kredit bukan? Namun nalurinya lebih condong pada
kemungkinan lain. Ia mencium bau kolusi, dan di mana-mana kolusi selalu ditemani oleh
korupsi.
Pernah naksir Vina
Ingat bahwa narasumber yang bisa ditanyai toh tak jauh dari situ, Fandi segera bangun,
keluar menuju ruangan Bram di ujung koridor.
"Omong-ngomong mungkin lo
bisa kasih gue info tentang ini." Disodorkannya lembar print-out data
kredit untuk Haseline Hasibuan.
Bram membaca lembaran-lembaran
itu.
"O, Haseline Hasibuan.
Salah satu nasabah kita yang terlama. Catatan angsurannya bersih, lancar, sehingga
diputuskan komitmen kita yang sudah digolkan pertengahan tahun lalu, tetap dilaksanakan.
Dia memang perempuan jago. Orang lain kelenger, dia masih berjaya. Jangan khawatir, sudah
kita cek semua."
"Apa sih
proyek-proyeknya?" desak Fandi.
"RSS di Semarang dan
Surabaya. Juga beberapa mal di kota-kota kecil," jawab Bram.
"Bukannya itu malah
berisiko tinggi macet di masa sekarang?" Fandi mempertanyakan.
"Nyatanya tidak.
Buktinya, angsurannya tetap lancar," tukas Bram santai.
Fandi kembali ke ruangannya
dengan informasi lebih dari cukup tentang proses pemberian kredit kepada Haseline Hasibuan
berikut segala macam keterangan, formal maupun informal, termasuk latar belakang wanita
itu, dan betapa menariknya wanita itu. Di komputernya ia membuat catatan-catatan
temuannya, sembari menuliskan juga langkah-langkah selanjutnya yang akan dilakukan. Untuk
sementara ia masih menganggap kawannya itu sumber info yang dapat dipercaya.
Keesokan paginya saat ia masuk
ke kantornya lagi, ada hal remeh yang sempat mengganggunya. Foto Vina bersama Raisa, yang
ia tempatkan di meja, jatuh ke lantai. Meski berkarpet, kacanya pecah sampai
berkeping-keping. Sejak kapan di sini ada kucing, pikirnya. Di luar, sepasang mata
memandang pintu yang tertutup.
Penyusup
Rapat pagi dengan Ibu Ros ditunda hingga sore hari, karena ia mendadak dipanggil ke kantor
pusat, sehingga Fandi dapat langsung bekerja di depan komputer. Begitu komputernya
dihidupkan, saat hendak mengetik password, ada kedap-kedip di sebelah kanan atas
layarnya. Jantungnya berdetak keras. Program pengaman yang di-installnya kemarin,
memberikan fasilitas "penjaga pintu" yang akan menjaga dan melaporkan bila
terjadi sesuatu yang diluar kebiasaan. Kedip-kedip itu pertanda file-nya sudah
dikunjungi intruder.
Darahnya mulai mengalir
kencang. Jari-jemarinya menari cepat di atas keyboard. Program satpamnya itu
mencatat, usaha pembobolan yang gagal itu terjadi pada pukul 21.18. Berarti sekitar
seperempat jam setelah ia pulang kemarin.
Pikirannya mengilas balik apa
saja yang ia kerjakan kemarin, data apa saja yang ia masukkan, yang kira-kira diinginkan
oleh sang intruder. Siapa dan mau apa bajingan itu?
Tangannya terus bermain,
hampir seperti otomatis. Sampai suatu ketika setelah menekan tombol "Enter",
jari-jarinya terpaku, matanya terpentang lebar.
Di layar terpampang nama-nama
dan angka-angka. Disambarnya kertas printout yang ia tunjukkan Bram kemarin. Ada
sesuatu yang menggugah. Matanya beralih-alih dari layar ke kertas, dari kertas ke layar.
Ada empat tanggal di kertas, yang persis lebih awal 3 hari dari empat tanggal di layar.
Pada layar, di belakang masing-masing tanggal tercatat: nama nasabah, nomor akaun dan
sejumlah dana yang besarnya antara Rp 125 - 375 juta. Ini suatu kebetulan yang
keterlaluan.
Ketika dilihat pada data
transfer, ternyata tiga dari keempat tanggal tersebut adalah hari dilakukannya transfer
dana dari nama-nama itu ke sebuah rekening di bank Singapura atas nama Anthony Chew. Yang
belum ditransfer tinggal jumlah Rp 125 juta dari rekening atas nama Koeswarjito. Ia
bersiul.
Maka dapat disimpulkan, setiap
kali terjadi pengucuran kredit bagi Haseline Hasibuan, 3 hari kemudian ada transfer dana
ke rekening atas nama Anthony Chew di Singapura. Setelah kredit sebesar Rp 15 miliar
(Oktober) mengucur, yang ditransfer sejumlah Rp 375 juta. Menyusul kredit sejumlah Rp 30
miliar (Desember), ditransfer sebesar Rp 750 juta. Demikian pula di bulan Februari,
setelah Rp 10 miliar cair, 3 hari kemudian ditransfer sejumlah Rp 250 juta ke rekening
Anthony Chew. Semuanya langsung dikurskan ke dolar Amerika, sebelum ditransfer.
Jumlah dana-dana yang
ditransfer persis 2,5% dari jumlah dana kredit yang cair. Bahkan termasuk dana Rp 125 juta
yang belum ditransferkan itu, persis 2,5% dari kredit Rp 5 miliar yang cair di bulan Mei
untuk Haseline Hasibuan. Bukankah ini jelas-jelas suatu prosedur pemberian komisi? Tetapi
siapakah keempat orang pemilik rekening ini dan siapakah Anthony Chew? Dan bagaimana
kaitan Pak Binsar? Ia mengaku berteman baik dengan Kuswarjito. Pasti ikut berperan juga.
Telepon berdering. Ternyata
dari Pak Binsar. Ia menanyakan, apakah permintaan transfernya sudah dikerjakan.
"Oh, aru akan saya
kerjakan hari ini," jawabnya. Ia beralasan, sangat sibuk.
"Please, jangan
meleset. Jangan lupa, begitu dilaksanakan, saya tidak lupa pada jasa you."
Jantungnya berdebar-debar.
"Tampaknya intuisiku tak keliru," gumamnya dalam hati. Tapi bagaimana
melacaknya?
Keesokan paginya, kembali ada
tanda kedap-kedip di layar monitornya, saat ia hendak mengetikkan password.
"Bangsat ini mesti kubekuk," gumamnya dalam hati. Program satpamnya masih cukup
canggih, atau si penerobos kurang ilmu. Ia pastikan harus dapat membongkar apa di balik
semua ini secepat mungkin.
Sedikit demi sedikit terungkap
juga kaitan segala data yang membuatnya penasaran itu. Ia temukan suatu hal yang lebih
menarik lagi. Setiap kali Haseline Hasibuan baru mencairkan dana kreditnya, dua hari
kemudian empat nasabah (Sita Lestari, Tino Baharudin, Donna Kusuma dan Koeswarjito)
menerima transfer dana dari Bank Inrama. Pada hari berikutnya, dana sebesar itu ditransfer
lagi ke Singapura ke rekening atas nama Anthony Chew, kecuali transfer terakhir ke
rekening Koeswarjito. Si penerobos yang gagal itu pasti menginginkan akses ke dana
Kuswarjito ini, yang belum sempat ditransferkan. Apakah dia Kuswarjito sendiri? Atau
suruhan pihak lain? Mengapa yang satu ini tertinggal? Mengapa saatnya bertepatan dengan
digantinya (secara agak mendadak) Pak Binsar dan beberapa pejabat lain di bawahnya,
termasuk Bram?
Diculik
Fandi seperti melihat secercah cahaya. Tiba-tiba telepon berdering. Ia sama sekali tak
siap mendengar suara Vina terbata-bata sambil menangis, "Fan, Fan, Raisa -- Raisa --
dicul -- culik!"
"Hah!?" Fandi
langsung berseru sambil mengangkat pantat dari kursi. "Bagaimana bisa?" Fandi
dapat juga memahami alur cerita si ibu yang sedang panik. Pagi itu, sekitar pukul 08.00 ia
berangkat ke pasar. Raisa ditinggalkan di rumah bersama pengasuhnya. Sekitar satu jam
kemudian, ketika pulang ia menemukan Sari, pengasuh anaknya, terduduk lemas sambil
menangis di tangga rumah. Secara naluriah matanya langsung mencari kereta bayi anaknya.
Keretanya ada, tetapi terjungkir di sudut pekarangan.
"Raisa!! Mana Raisa
...?!" Sari mengatakan, "Sementara ibu pergi, saya menyuapi Raisa bubur di
teras, karena makannya 'kan lebih lancar bila dilakukan sambil memandang burung atau
kupu-kupu. Kemudian datang mobil boks. Kata pria berseragam yang mengetuk pagar, mereka
mengantarkan paket titipan kilat. Karena paketnya besar, ia minta dibukakan pintu pagar.
Begitu pintu dibuka, dari balik mobil menerjang masuk seorang wanita muda, yang lalu
menyambar Raisa, melompat kembali ke dalam boks yang lalu ditutup. Orang yang tadi bicara
dengannya juga ikut naik ke mobil dan kabur."
Fandi mengambil napas
dalam-dalam. Lalu dengan suara tenang ia berkata, "Kamu tetap tenang di rumah. Saya
kira sebentar lagi kamu akan menerima telepon."
Benar saja. Dua puluh menit
kemudian, Vina menelepon. Seseorang menelepon, mengaku membawa anak mereka (bahkan tangis
Raisa pun diperdengarkan di telepon). Orang itu hanya mengatakan, jangan berani-berani
menelepon polisi, karena akibatnya bisa fatal. Lalu bahwa Vina akan dikabari lebih lanjut.
Begitu selesai mendengarkan
laporan Vina di telepon, ia bergegas ke luar, ke meja Ayu. Tapi yang ada Dewi, salah
seorang dari bagian administrasi, "Ayu sakit bulanan," katanya.
"Wi, mana katalog data
bank," ujarnya. Dewi mengambilkan dan menyerahkannya tanpa bersuara.
Seingat Fandi, Bank Inrama itu
salah satu bank kecil yang baru didirikan sekitar dua tahun lalu. Dalam katalog tercatat
data tentang bank itu tercatat besarnya aset dan ekuitas, kemudian nama para pemegang
saham, juga alamat kantor-kantornya. Jarinya mengikuti nama-nama yang berjajar. Ini dia.
Johnson Hasibuan.
Tak lama, telepon di ruang
sekretaris preskom Bank Inrama berdering. "Bank Inrama, selamat siang," ujar si
sekretaris. "Mbak, saya dari toko bunga Melati. Bapak Hasibuan memesan bunga untuk
ucapan selamat ulang tahun bagi istrinya, tapi kami lupa menanyakan nama Ibu Hasibuan.
Boleh saya tahu nama beliau?"
"Oh, tentu dong. Ibu
Haseline."
Tukar di bandara
Selesai dengan penyidikan singkat yang berhasil menggunakan telepon di meja Ayu itu, Fandi
segera beranjak ke ruangannya lagi. Saat itu terdengar bunyi "brak!" dari pintu
tembus ke ruang sebelah. Diliriknya komputer yang tadi tak sempat dimatikan. Untung ia
selalu berhati-hati menutup file dulu setiap akan meninggalkan ruangan. Segera
dibukanya pintu tembus, masuk ke dalam ruang rapat. Sekelebat ia melihat seseorang berlari
menuju koridor. Dikejarnya, ternyata bajingan itu memilih tangga darurat.
"Bagus," desis
Fandi. Ia tak pernah menyangsikan staminanya, meski harus naik tangga ke lantai atas
sekalipun. Orang itu memilih turun, menuju basement. Fandi tidak mau menyerah.
Ketika tiba di basement, didengarnya deru mobil menjauh. Ia terlambat. Fandi
meninju dinding di dekatnya, gemas.
Kembali ke ruang kantor, Dewi,
telah menunggu dengan informasi dan berita yang ditulis di kertas.
"Pesan dari Bu Vina,
Pak," katanya. Fandi membaca pesan itu. "Kita harus menebus anak kita dengan AS
$ 10.000 tunai, dalam pecahan 100, 50 dan 20 dolaran, di bawa sendiri nanti malam pukul
19.00 ke Bandara Soekarno-Hatta, terminal internasional. Jangan menghubungi polisi dan
mesti tunggu di depan gate 1. Jika tidak, anak kita akan tak jelas nasibnya."
Fandi mengecek ke komputernya
lagi. Terlihat ada usaha memberikan perintah transfer dana dari akaun atas nama
Koeswarjito. Tapi usaha itu gagal. Setelah melacak cukup dalam, tahulah ia mengapa akaun
itu tidak dapat diakses dari teller di bawah. Ia dimasukkan dalam file
khusus yang hanya dapat diakses oleh kabag kredit. Jadi bukan karena "tak mau menarik
perhatian" Pak Binsar tidak langsung ke teller, tetapi karena memang tidak
bisa.
Mekanisme lewat teller
itu diciptakan entah untuk menjaga kerahasiaan atau keamanan. Lagipula, bila ada apa-apa,
bukankah ia tinggal menuding kabag kredit, yang waktu itu dipegang Bram? Sial bagi Pak
Binsar, ia terkena gelombang reformasi, sehingga diganti secara mendadak. Lebih sial lagi,
Fandi langsung memberlakukan pengamanan lebih, dengan kode otorisasi khusus pula, bagi
semua file kabag kredit yang dipegangnya. Akibatnya, Bram tak dapat lagi mengakses dana
atas nama Kurwarjito yang tertinggal belum ditransfer itu.
Diduganya, Bram-lah orang yang
selama ini berkali-kali mencoba membobol file-filenya. Namun ia curiga, kini Bram bekerja
untuk kepentingan sendiri. Kalau tidak, untuk apa Pak Binsar menghubunginya langsung,
bahkan secara terselubung menjanjikan hadiah kepadanya?
Diliriknya arloji. Pukul
14.30. Dari kantor ke Cengkareng butuh waktu sekitar 40 menit, sehingga masih ada waktu
sekitar 4 jam. Sebaiknya memang berkonsultasi dengan Ibu Ros, karena ini menyangkut dana
dalam jumlah banyak. Juga sudah terbukti ada seseorang yang berusaha melakukan tindak
ilegal di banknya.
Ibu Ros ternyata sedang
mencarinya, karena kantor pusat hari itu mendesak agar ketidakberesan di bagian kredit
yang semakin tercium oleh mereka, segera dibereskan. Mereka sepakat menelepon Kodak.
Dengan Letkol (pol) Jajang Suwarman, disepakati, tuntutan penculik akan pura-pura
dipenuhi. Fandi akan memenuhi perjanjian dengan pergi ke tempat pertemuan, membawa
bungkusan "uang" dalam kantung plastik belanjaan. Sementara itu ia akan
dibayang-bayangi aparat. Ia diinstruksikan untuk melakukan pertukaran, hanya bila anaknya
sudah ada di tangan.
Pukul 18.40 Fandi sudah tiba
di terminal 2, diantar sopir perusahaan. Dengan gerak dibuat senormal mungkin ia melangkah
masuk ke lobi. Matanya mencari-cari nama "Gate 1". Kemudian sekilas
disapunya orang-orang yang lalu-lalang di sana. Perhatiannya khusus pada orang-orang yang
membawa bayi. Ia menyesal tidak menanyakan kepada Vina, pakaian apa yang dikenakan Raisa
ketika diculik. Membawa bayi dalam operasi semacam ini tentu tidak mudah. Ia menduga-duga,
bagaimana modus operandi pertukaran bayi dengan uang itu nanti.
Ada main
Ketika matanya sedang nyalang melihat ke sana-kemari, sebuah tepukan keras menerpa
punggungnya.
"Hai, Fan, ngapain
ke mari?" Suara yang familiar. Ditengoknya arloji. Pukul 18.55. Belum waktunya. Ia
menoleh untuk berhadapan dengan wajah ceria Bram. "Lo sendiri, ngapain?"
ia bertanya balik.
"Ah, gue mau ke
Singapura, paman yang undang. Sekalian lihat-lihat kemungkinan di sana. Masa krisis
begini, mesti kreatif, Fan."
"Oh," kecurigaan
Fandi semakin meningkat. Bram pasti berada di balik ini semua. Ia tak punya waktu dan
kesabaran untuk berbasa-basi. Segera dihentaknya kerah kemeja Bram.
"Jangan main-main. Mana
anak gue?"
"Anak? Anak apa?"
Saat itu berkelebat wanita yang berlari di jarak sekitar 10 m. Ia seperti menggendong
sesuatu.
Secara refleks Fandi
melepaskan cengkeramannya lalu mengejar wanita itu. Tetapi aparat yang mengawalnya lebih
cepat. Dalam sekejap wanita itu sudah terhadang, lalu digandeng menuju ke arahnya.
Fandi terbengong-bengong
memandang Ayu, yang kebingungan hendak menaruh wajah di mana. "Benarkah ini anak
bapak?" tanya sang petugas. "Ya," sambil diambilnya Raisa.
Ayu hanya menunduk. Saat
aparat memborgol tangan mereka, Bram protes keras, "Apa-apaan ini? Apa salah
saya?" Tapi Ayu memohon, "Tolong, Pak, jangan tangkap dia. Dia tak tahu
apa-apa." Tapi aparat tetap mengatakan, "Saudara-saudara ditangkap, atas tuduhan
penculikan dan pemerasan."
Kepada polisi Bram bercerita,
memang sudah lama ia berpacaran dengan Ayu, sejak ia masih menjadi kabag kredit. Namun
karena keinginan Ayu sendiri, mereka sepakat tidak mengumumkan hal itu dulu. Soalnya, ia
khawatir cepat-cepat disuruh kawin oleh orang tuanya, sementara kondisi keuangan belum
memungkinkan. Janji Pak Binsar akan memberi Bram pekerjaan tak kunjung dipenuhi, maka ia
memutuskan akan melihat-lihat kemungkinan kerja di Singapura. Kebetulan, seorang pamannya
bekerja di konsulat RI di negeri jiran itu.
Ayu sendiri menjadi elemen
kejutan bagi Fandi. Terus terang diakuinya, selama ini dialah yang mencoba membobol file
Fandi. Dari Bram ia mengetahui dana di rekening Kuswarjito yang belum ditransfer ke
Singapura itu. Tapi kalau Bram menganggapnya sebagai bagian dari masa lalu yang pahit, Ayu
melihatnya sebagai peluang untuk membebaskan diri dari himpitan masalah ekonomi keluarga.
Apalagi ia sudah cepat-cepat ingin membina mahligai bersama kekasihnya itu.
Dihubunginya Pak Binsar untuk
menawarkan jasa, tapi ditolak, karena Binsar berniat menghubungi Fandi langsung. Maka ia
pun berinisiatif berlomba dengan waktu untuk menyikat dana itu. Sebagai sekretaris, dari
komputernya ia tak dapat mengakses file untuk tingkat manajer ke atas, sehingga
terpaksa setiap kali harus mencuri kesempatan menggunakan komputer Fandi. Tidak kunjung
berhasil, ia nekat menculik anak Fandi, untuk minta tebusan yang jumlahnya kira-kira Rp
125 juta, tergantung kurs yang berlaku. Dengan uang cukup, tinggal di mana pun oke, meski
tidak di tanah air sendiri. Demikian pikirnya.
Pak Binsar sendiri malam itu
juga diciduk dari rumahnya di pemukiman elit Pondok Indah. Bersamanya ditahan juga ...
Haseline Hasibuan, yang ternyata ada main dengan dia. Keduanya diajukan ke meja hijau
dengan tuduhan sedikit berbeda. Haseline Hasibuan dituduh melakukan penipuan, karena
meminta fasilitas kredit untuk perusahaan yang ternyata fiktif, sehingga merugikan
kepentingan umum. Pak Binsar dituduh melanggar hukum karena menciptakan empat rekening
fiktif, korupsi, membantu penipuan dan menyalahgunakan kepercayaan dan jabatan. Mereka
dinyatakan bersalah. Haseline Hasibuan diganjar 6 tahun, sedangkan Pak Binsar 5 tahun
penjara. Namun belum berarti urusan Pak Binsar selesai, karena ia pun dinantikan oleh
aparat keamanan Singapura dengan tuduhan memalsukan identitas dan membuat akaun di bank
berdasarkan data palsu itu.
Malam itu, ketika berjumpa
dengan istrinya, baru Fandi teringat menanyakan, suara penculik di telepon, pria atau
wanita? "Wanita," kata Vina. "Kenapa?"
Fandi hanya
menggeleng-gelengkan kepalanya. "Andaikan saya tidak selalu beranggapan dia
pria," desahnya. (Lily Wibisono/Fiksi) |