
LUPUS BELUM ADA OBATNYA
|
Selain AIDS yang pendatang baru, ada juga penyakit lama yang belum
bisa disembuhkan, yakni lupus. Penyakit yang dijuluki si Peniru Ulung ini sering dikira
penyakit lain. Kalau sedang aktif, tak kalah mengerikan dibandingkan dengan AIDS. Wanita
yang semula berparas cantik bisa kehilangan kecantikannya.
 |
| Timbulnya ruam merah mirip kupu-kupu
di wajah merupakan salah satu gejala lupus. (Repro: Medstudent) |
Kulit wajah di antara kedua pipi ditandai ruam merah yang bentuknya menyerupai
kupu-kupu. Di bagian tubuh lain muncul bercak-bercak merah menyerupai cakram. Rambut
rontok tak terkendali. Sariawan muncul di dalam rongga mulut. Itulah sebagian gejala
lupus, penyakit otoimun kronis yang bisa menyebabkan peradangan di berbagai bagian tubuh,
khususnya pada kulit, persendian, darah, dan ginjal.
Nama ilmiahnya lupus eritematosus sistemik (LES).
Namun, lebih sering disebut lupus saja. Sedangkan penderitanya akrab disebut
"odapus", orang dengan lupus.
Menurut Robert G. Lahita, M.D., Ph.D, kepala bagian
Rematologi dan Penyakit Jaringan Konektif RS St. Luke/Roosevelt, Amerika Serikat, penyakit
yang tak ada hubungan saudara dengan tokoh Lupus rekaan Hilman Hariwijaya dalam
novel-novelnya ini, dibedakan jadi tiga tipe: lupus yang menyerang kulit (discoid lupus),
yang menyerang sistem dalam tubuh, termasuk persendian dan ginjal (systemic lupus), dan
lupus akibat pemakaian obat tertentu.
Dari ketiganya, discoid lupus paling sering
menyerang. Namun, systemic lupus selalu lebih berat dibandingkan dengan discoid lupus, dan
dapat menyerang organ atau sistem tubuh. Pada beberapa orang, cuma kulit dan persendian
yang diserang. Meskipun begitu, pada orang lain bisa merusak persendian, paru-paru,
ginjal, darah, organ atau jaringan lain. Sedangkan lupus akibat pemakaian obat umumnya
berkaitan dengan pemakaian obat hydralazine (obat hipertensi) dan procainamide (untuk
mengobati detak jantung yang tidak teratur). Hanya saja, cuma 4% dari orang yang
mengkonsumsi obat-obat itu yang bakal membentuk antibodi penyebab lupus. Dari 4% itu pun
sedikit sekali yang kemudian menderita lupus.
Sampai sekarang, penyakit ini belum bisa disembuhkan
atau dicegah. Yang bisa baru sebatas menghilangkan gejalanya. Caranya dengan mengkonsumsi
obat-obatan seumur hidup, menjalani pola hidup tertentu, dan menghindari stres.
Sistem kekebalan jadi liar
Lupus sebenarnya telah dikenal lebih kurang seabad lalu. Mula-mula lupus kala itu dikira
akibat gigitan anjing hutan. Dugaan itulah yang menyebabkan penyakit ini kemudian disebut
lupus yang berarti anjing hutan dalam bahasa Latin. Dalam perkembangan selanjutnya, lupus
menyebar ke seluruh organ di dalam tubuh. Maka muncullah sebutan LES itu.
Menurut dr. Heru Sundaru dari Sub Bagian
Alergi-Imunologi, Bagian Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSUPN dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM),
Jakarta, dalam seminar Penyakit Lupus dan Wanita yang diselenggarakan Yayasan Lupus
Indonesia pada Juni 1998, penyebab lupus belum diketahui dengan pasti. Selain faktor
keturunan, faktor lingkungan seperti infeksi virus, cahaya matahari, dan obat-obatan,
diduga ikut berperan dalam timbulnya gejala.
Robert mengungkapkan, ada 10%
penderita lupus memiliki keluarga dekat yang telah atau memiliki kemungkinan menderita
lupus. Statistik juga menunjukkan, ada 5% anak yang dilahirkan odapus bakal memiliki
kemungkinan menderita penyakit ini.
Meski lebih sering menyerang kaum wanita, terutama
yang berusia dua puluhan tahun, "Tapi pria kemungkinan juga bisa terkena lupus,"
jelas dr. Heru. Hasil survai yang dikutip dokter spesialis penyakit dalam itu menunjukkan,
pada usia subur perbandingan wanita dan pria penderita lupus 10 : 1. Di RSCM
perbandingannya 17 : 1.
Tingkat "keganasan" lupus juga berbeda
menurut ras. Survai di AS menunjukkan, di antara 2.000 penduduk kulit putih ditemukan satu
penderita. Sedangkan pada penduduk berkulit hitam dan keturunan Asia, frekuensinya lebih
tinggi.
Lupus diketahui sebagai penyakit otoimun, penyakit
yang muncul lantaran sistem kekebalan tubuh bereaksi berlebihan, yang justru mengganggu
kesehatan tubuh. Di dalam tubuh manusia selalu ada sistem kekebalan tubuh, yang terdiri
atas zat anti dan sel darah putih. Sistem imun ini bertugas melindungi tubuh manusia dari
serangan antigen (musuh berupa bakteri, virus, mikroba lain). Pada lupus, oleh sebab yang
belum diketahui, zat anti dan sel darah putih tadi justru menjadi liar dan menyerang tubuh
yang seharusnya dilindungi. Akibatnya, organ-organ tubuh menjadi rusak dan gejala lupus
pun muncul.
Perusakan jaringan tadi terjadi dengan dua cara. Zat
anti langsung menyerang sel jaringan tubuh. Atau, zat itu masuk aliran darah dan bertemu
antigen, lalu berkoalisi membentuk kompleks imun. Kompleks ini tetap ikut aliran darah
sebelum tersangkut di pembuluh darah kapiler organ tertentu. Dalam keadaan normal,
kompleks ini akan dieliminasi oleh sel-sel radang.
Sebaliknya, dalam keadaan tidak normal kompleks itu
tidak dapat dihilangkan dengan baik dan sel-sel radang sebaliknya malah bertambah banyak
sambil mengeluarkan enzim yang menimbulkan peradangan. Bila peradangan berlanjut, organ
tubuh akan rusak, fungsinya terganggu sehingga menimbulkan gejala penyakit. Diduga, sinar
matahari maupun hormon estrogen mempermudah terjadinya reaksi otoimun.
Positif lupus, empat kriteria
Gejala penyakit ini dibedakan atas gejala umum dan gejala pada organ tertentu. Gejala umum
yang sering ditemukan di antaranya, penderita sering merasa lemah, kelelahan berlebihan,
demam, dan pegal-pegal. Gejala ini muncul ketika lupus sedang aktif dan menghilang ketika
tidak aktif.
Organ-organ tubuh yang biasanya menunjukkan adanya
lupus sangat banyak, dari kulit, ginjal, jantung, hingga otak. Pada kulit gejalanya berupa
ruam merah berbentuk mirip kupu-kupu di kedua pipi. Di bagian tubuh lainnya terdapat
bercak merah berbentuk cakram dan terkadang bersisik. Kerontokan rambut dan sariawan
merupakan gejala lain pada kulit. Kalau dilihat secara utuh, penderita lupus dengan
gejala-gejala tadi akan tampak mirip monster.
Pada dada timbul rasa sakit yang menimbulkan
gangguan pernapasan. Bila jantung atau paru-paru terserang, penderita akan merasakan
jantung berdebar atau sesak napas. Bila jantung mengalami kelainan lanjutan, kaki menjadi
bengkak. Pada sistem otot gejala yang dirasakan penderita adalah rasa lemah atau sakit di
otot. Pada pesendian akan dirasakan sakit, baik dengan ataupun tanpa pembengkakan dan
kemerahan. Pada darah terjadi penurunan jumlah sel darah merah, putih, dan sel pengatur
pembekuan darah.
Sedang pada saluran pencernaan muncul gejala sakit
perut, mual, muntah, diare, atau sukar buang air besar. Pada ginjal terjadi gangguan
fungsi yang mengakibatkan tidak dapat dikeluarkannya racun hasil metabolisme dan banyaknya
kandungan protein dalam urine. Pada sistem saraf timbul gangguan pada otak, saraf sumsum
tulang belakang dan saraf tepi, yang mengakibatkan pusing atau kejang. Bahkan, bisa sampai
menimbulkan stroke dan gangguan jiwa, meskipun ini jarang terjadi.
Menurut dr. Heru, pada 1971 untuk bisa menentukan
seseorang terserang lupus setidaknya diperlukan 14 kriteria. Pada 1982 kriteria itu
menjadi 11. Sekarang, diperlukan hanya empat kriteria. "Tapi bukan berarti kalau ada
tiga kriteria bukan lupus. Tiga kriteria saja sudah bisa menunjukkan kemungkinan adanya
penyakit lupus," tambah dr. Heru. Bahkan, bila menunjukkan gejala pada dua atau lebih
organ atau sistem tadi, seseorang harus diwaspadai menderita lupus.
Gejala lupus sering menyerupai penyakit lain,
sehingga penyakit ini sering dijuluki Si Peniru Ulung. "Karena itu kita harus
hati-hati dalam menginterprestasikan hasil pemeriksaan," jelas dr. Heru. Bisa saja
dokter menduga pasiennya terserang sifilis, batu ginjal, atau rematik, seperti yang
dialami Tiara Savitri, penderita lupus yang kini menjadi Ketua Yayasan Lupus Indonesia.
Bahkan, menurut Robert, tidak akan ada dua penderita systemic lupus memiliki gejala yang
sama. "Tipu daya" macam itu tidak jarang menyebabkan dokter maupun penderita
frustasi akibat penyakitnya tak kunjung membaik.
Untuk mendiagnosis penyakit ini dengan pasti
diperlukan pemeriksaan darah atau biopsi kulit. Keduanya untuk memeriksa antibodi-antibodi
yang muncul ketika lupus sedang aktif.
Hamil boleh, tapi direncanakan
Meski masih belum bisa disembuhkan, odapus tetap bisa mendapatkan pengobatan agar bisa
hidup lebih lama seperti orang sehat. Pengobatan ditujukan untuk menghilangkan gejala
lupus yang ada. Pengobatan juga perlu didukung perubahan pola hidup, pengendalian emosi,
pemakaian obat secara tepat, dan pengaturan gizi seimbang.
Menurut dr. Harry Isbagyo, SpPD, KR, dari Sub Bagian
Reumatologi, Bagian Penyakit Dalam, FKUI/RSCM, dalam proses pengobatan pasien mesti
dievaluasi minimal tiga bulan sekali, tergantung status kesehatannya. Tujuannya,
mengevaluasi aktivitas penyakit dan menentukan pengobatan selanjutnya. "Penyakit ini
berlangsung lama, bisa bertahun-tahun. Jadi harus sabar dalam menjalani pengobatan,"
jelas dr. Harry.
Penderita memerlukan program pengaturan lama
beraktivitas dan lama tidur. Menurut dr. Harry, bagi odapus, kecapekan dan stres berat
merupakan penyebab tercetusnya gejala lupus. Karena itu, hidup teratur merupakan
keharusan. "Olahraga juga boleh. Tapi jangan dipaksakan, misalnya jangan dilakukan
pada siang hari saat matahari sudah kuat," tambah dr. Heru.
Meski tidak semua odapus sensitif terhadap sinar
matahari, mereka dianjurkan menghindari paparan sinar matahari secara langsung untuk waktu
lama karena kekambuhan penyakit sering terjadi setelah terpapar sinar ultraviolet. Dr.
Heru menganjurkan penderita keluar rumah hanya sebelum pukul 09.00 atau sesudah pukul
16.00. Ketika keluar rumah, penderita memakai sun block atau sun screen (pelindung kulit
dari sengatan sinar matahari) pada bagian kulit yang akan terpapar. Dr. Harry juga
menyarankan penderita mengenakan pakaian yang tepat.
Menurut dr. Harry, penderita perlu segera mencari
pertolongan medis bila timbul gejala panas tanpa diketahui penyebabnya. Bila hendak
mendapat berbagai tindakan medik, macam pengobatan gigi, tindakan terhadap saluran kemih
dan kandungan, atau tidakan bedah lainnya, penderita perlu berkonsultasi dengan dokter
untuk mendapatkan antibiotika pencegahan. Bila penderita terserang pada organ utama,
seperti ginjal, paru, jantung, dsb., penyakitnya sedang aktif, atau dalam pengobatan
dengan obat-obatan imunsurpresif, dia sebaiknya dicegah dari kehamilan.
"Penderita yang penyakitnya sedang aktif,
jarang sekali bisa hamil. Kalaupun bisa hamil biasanya akan menimbulkan keguguran. Karena
itu, kalau berhasil hamil sebaiknya penyakitnya selalu dikontrol," tegas dr. Harry.
Namun dokter ini juga mengingatkan bahwa yang terbaik adalah kehamilan terencana. Artinya,
selama penyakitnya aktif, kehamilan dihindarkan dan pengobatan dilakukan secara intensif.
Odapus dianjurkan menghindari kontrasepsi yang mengandung estrogen. Setelah penyakitnya
teratasi, barulah merencanakan kehamilan.
Dalam pengobatan lupus, ada dua kategori obat yang
digunakan, yakni golongan kortikosteroid dan golongan selain kortikosteroid. Golongan
kortikosteroid merupakan obat utama penyakit lupus. Untuk kelainan kulit diberikan dalam
bentuk topikal (salep, krem, atau cairan). Untuk lupus ringan digunakan kortikosteroid
dalam bentuk tablet dosis rendah. Bila lupus sudah dalam kondisi berat, digunakan
kortikosteroid dalam bentuk tablet atau suntikan dosis tinggi. "Kalau sudah menyerang
otak, misalnya, dosisnya bisa sampai 1.000 mg per hari," jelas dr. Harry. Setelah
kondisinya teratasi, dosis diturunkan sampai dosis terendah yang dapat mencegah kambuhnya
penyakit.
Obat golongan bukan kortikosteroid biasanya
merupakan pelengkap obat kortikosteroid. Di antara obat golongan ini adalah antiinflamasi
nonsteroid (OAINS) untuk mengatasi keluhan nyeri dan bengkak sendi; obat antimalaria
(kloroquin/resochin, dihidroksi kloroquin/plaquenil) untuk mengatasi gejala penyakit pada
kulit, rambut, nyeri otot dan sendi, bahkan untuk odapus dengan gejala ringan; dan obat
imunosupresif macam siklofostamid untuk kondisi yang disertai gangguan ginjal, azatioprin
yang merupakan obat pendamping kortikosteroid agar kebutuhan kortikosteroid dapat
dikurangi, dan klorambusil.
Penggunaan obat-obat tadi mesti dengan pertimbangan
matang mengingat efek sampingan yang ditimbulkan. Obat kortikosteroid, misalnya, bisa
memberi efek sampingan berupa wajah membulat (moonface), penyakit cushing, osteoporosis,
diabetes melitus, hipertensi, gangguan lambung, dsb. OAINS menimbulkan gangguan lambung,
ginjal, darah, dsb. Obat antimalaria memberi dampak gangguan penglihatan akibat deposit di
kornea mata dan retinopati. Sedangkan imunosupresif memberi efek sampingan berupa mual
atau muntah, gangguan darah, ginjal, dan mudah terkena infeksi.
Meski efek sampingan tak dapat dihindarkan (yang
bisa hanya mengurangi), pengobatan mesti dilakukan. "Pencegahan penyakit ini belum
bisa dilakukan karena penyebab pastinya saja belum diketahui," ungkap dr. Heru. Meski
begitu, kalau sudah positif terkena lupus, segala upaya mesti tetap dilakukan agar
penderita bisa menikmati hidup dengan baik. "Odapus bisa bertahan lebih lama dengan
penggunaan obat secara terkontrol," tegas dr. Harry. "Yang penting adalah
dosisnya. Dosis dipilih seringan mungkin," tambahnya.
Kini, angka harapan hidup penderita lupus sudah
termasuk sangat tinggi. Di AS dan Eropa, kalau pada tahun 1955 harapan hidup penderita
lupus dalam waktu lima tahun kurang dari 50%, maka pada tahun 1991 telah mencapai 89 -
97%. Bahkan, harapan hidup 10 tahun telah mencapai 83 - 93%. Semuanya lantaran adanya
cara-cara diagnosis lebih dini dan metode pengobatan lebih baik. (Gde)
P |
engalaman itu
sangat berharga, jika biayanya tak terlalu mahal. |
|
J. Kelly |
|