Asam lemak
omega-3 belakangan mendapat perhatian besar dari para ahli kesehatan. Zat gizi itu
ternyata berperan vital dalam mendukung kesehatan serta mencegah munculnya penyakit
degeneratif. Penelitian terbaru bahkan menunjukkan, peran omega-3 sejak dari janin dalam
kandungan diperlukan pada proses tumbuh sel-sel otak dan kecerdasan anak.
Bicara soal kesehatan tubuh dan kecerdasan otak seseorang, tentu tidak terlepas
dari awal pembentukan berbagai alat dan organ vital janin sejak dalam kandungan ibunya.
Ada dua masa kritis tumbuh kembang
dengan masing-masing konsekuensinya terhadap janin dan kandungan. Masa kritis pertama
berlangsung sejak minggu pertama hingga akhir minggu ke-7, periode embrio. Pada masa ini
dimulailah pembentukan berbagai organ vital janin (lihat gambar): sistem saraf pusat dan
otak, jantung, pancaindera, alat kelamin, dan lain-lain. Bila terjadi gangguan pada masa
ini, maka janin akan berisiko tinggi menderita gangguan morfologis pada berbagai alat
vital bayi, saat lahir hingga dewasa.
Masa kritis kedua berlangsung sejak
awal minggu ke-8 hingga saat kelahiran. Masa ini merupakan periode penyempurnaan proses
tumbuh kembang organ tubuh yang telah dibentuk pada periode sebelumnya. Jika terjadi
gangguan, maka janin berisiko menderita gejala kelainan fisiologis sejak lahir dan semakin
parah saat dewasa nanti.
Kekurangan gizi merupakan salah satu
gangguan yang acap kali terjadi dalam kandungan. Pada saat kritis tadi, janin sangat
memerlukan beragam zat gizi guna mendukung proses tumbuh kembang yang optimal yakni
kesehatan serta kecerdasannya.
Asam lemak otak
Asam lemak esensial serta omega-3 merupakan zat gizi yang harus terpenuhi kebutuhannya.
Zat gizi berperan vital dalam proses tumbuh kembang sel-sel neuron otak untuk bekal
kecerdasan bayi yang dilahirkan. Asam lemak omega-3 juga berperan sebagai asam lemak otak.
Asam lemak omega-3 ini turunan dari prekursor (pendahulu)-nya, yakni asam lemak esensial
linoleat dan linolenat. Asam lemak esensial tidak bisa dibentuk dalam tubuh dan harus
dipasok langsung dari makanan. Kemudian prekursor itu masuk dalam proses elongate dan
desaturate yang menghasilkan tiga bentuk asam lemak omega-3: LNA (asam alfa-linolenat),
EPA (eikosapentaenoat), serta DHA (dokosaheksaenoat).
Sistem saraf pusat dan otak merupakan
organ vital yang pertama dibentuk. Proses pertumbuhan sel neuron otak terjadi pada minggu
ke-20 hingga ke-36, dan disempurnakan hingga bayi berusia dua tahun.
Meskipun massa otak janin hanya sekitar
16% dari tubuhnya, namun dibandingkan dengan organ tubuh lain, otak paling banyak
memerlukan energi (lebih dari 70%) untuk proses tumbuh kembangnya. Energi itu terutama
berasal dari deposit zat gizi dan asam lemak esensial tubuh ibunya.
Asam lemak esensial juga prekursor
omega-3 DHA, EPA, ALA (alfa-linolenat), dan AA (asam arakhidonat). Omega-3 sebagian besar
(lebih dari 60%) diperlukan sebagai unsur penyusun dinding sel neuron. Sedangkan sisa DHA
lainnya diperlukan sebagai unsur pembentuk cawan untuk wadah rhodopsin, senyawa vital
penginderaan dan pengiriman balik sinyal yang diterima mata ke otak.
Bila kekurangan asam lemak esensial,
maka sel neuron akan menderita kekurangan energi untuk proses tumbuh kembangnya.
Pembentukan dinding sel neuron terhambat karena kekurangan omega-3 DHA dan AA, sehingga
sel tidak mampu menampung muatan komponen sel neuron normal. Yang diderita janin adalah
sel neuron akan kehilangan pengorganisasian dan kemampuan koneksi normal di antara
sel-selnya. Akibatnya, sel-sel neuron mengalami banyak kebocoran dan terjadilah
perdarahan. Bisa juga terjadi inisiasi microthrombi dan ischemia lokal (stroke) serta
sel-sel otak menjadi cepat mati dan tidak berfungsi.
Pada bayi prematur, banyak di antaranya
berat badannya di bawah normal (2.500 g) dan ukuran otaknya lebih kecil dari rata-rata.
Karena jumlah sel neuronnya juga sedikit, maka bayi bisa cacat, kualitasnya rendah serta
proses tumbuh kembang sel otak tidak normal atau di bawah optimal.
Mencegah penyakit
Asam lemak omega-3 EPA dilaporkan berperan pula dalam mencegah penyakit degeneratif sejak
janin dan pada saat dewasa. Pada saat janin dalam kandungan, EPA sangat diperlukan dalam
pembentukan sel-sel pembuluh darah dan jantung. Sementara pada saat dewasa ia berfungsi
menyehatkan darah, mekanisme kerja pembuluhnya dan kerja kantung pengatur sirkulasinya.
Sebab itu akibat kekurangan omega-3 EPA, bisa berisiko menderita penyakit pembuluh darah
dan jantung.
Omega-3 EPA dan asam arakhidonat
(berasal dari daging merah dan pangan nabati) merupakan unsur utama sintesa senyawa
prostaglandin yang berperan dalam kesehatan sistem peredaran darah dari proses
aterosklerosis, penyakit jantung, hipertensi, stroke, dll.
Dalam tubuh, omega-3 EPA bersaing
dengan AA dalam menghasilkan metabolit prostaglandin dengan fungsi antagonis. Misalnya,
metabolit prostaglandin dari EPA berfungsi mengencerkan darah, sedangkan metabolit dari AA
mengentalkan, yang sangat diperlukan pada saat operasi atau luka berat. Metabolit EPA
berfungsi, misalnya, melebarkan pembuluh darah, sementara metabolit AA menyempitkan.
Jadi, meskipun kerjanya antagonis,
kedua metabolit itu bekerja sama menyehatkan sistem peredaran darah dalam tubuh. Menurut
dr. Fadilah Supari (1998), ahli penyakit jantung dari Fakultas Kedokteran UI, keseimbangan
rasio EPA, DHA, dan AA dalam darah bayi, remaja, atau dewasa dapat dijadikan salah satu
indikator untuk meramalkan risiko gangguan sistem pembuluh darah dan penyakit jantung di
masa mendatang. Untuk itu perlu dilakukan upaya preventif sejak dini agar terhindar dari
penyakit degeneratif ini. Pasokan makanan sumber omega-3 EPA, DHA, AA, dan alfa-linolenat
harus dikonsumsi dalam jumlah rasio yang seimbang.
Bersikap positif
Sejak prakonsepsi atau sejak pasutri merencanakan ingin punya anak, peranan ibu sangat
penting dalam menentukan kesehatan serta kecerdasan anak yang akan dilahirkan. Beberapa
hal yang perlu diperhatikan adalah aspek gizi, kesehatan, dan agama.
Menurut Prof. Darwin Karyadi (1998),
dari aspek gizi, ada dua cara pemenuhan keperluan gizi ibu sejak prakonsepsi. Pertama
dengan mengkonsumsi suplemen gizi (Fe, iodium, vitamin A, omega-3). Kedua dengan cara food
based (pola dan kebiasaan makan).
Cara pertama dilakukan dalam keadaan
darurat dan sifatnya sementara. Cara ini tidak dianjurkan untuk jangka waktu lama karena
berisiko kelebihan dosis dan tidak ekonomis. Minyak ikan atau omega-3 memang bermanfaat
tapi hendaknya jangan dikonsumsi berlebihan. Mudaratnya, bila dikonsumsi berlebihan,
antara lain secara umum badan berbau minyak ikan, menimbulkan gangguan pencernaan, dan
perdarahan pada saat luka, operasi, atau bila terserang mimisan akan lebih lama sembuhnya
karena proses penggumpalan darah lamban.
Dalam proses metabolisme, omega-3 dapat
meningkatkan kadar kolesterol pada penderita hiperlipidemia. Atau bisa juga meningkatkan
kalori tubuh dengan akibat berat badan bertambah. Sel-sel tubuh yang mengandung terlalu
banyak omega-3 akan lebih mudah teroksidasi oleh radikal bebas. Untuk menjaga sel dari
oksidasi diperlukan vitamin E sehingga kelebihan omega-3 malah dapat berakibat defisiensi
vitamin E.
Selain itu, kelebihan minyak ikan juga
dapat mengakibatkan keracunan vitamin A dan D karena minyak ikan mengandung kedua vitamin
itu, terutama kalau diekstrak dari hati ikan. Hati ikan juga merupakan tempat menumpuknya
zat-zat beracun, apalagi kalau lingkungan laut tempat ikan itu hidup tercemar logam
beracun. Bila minyak ikan sampai tercemar peptisida dalam proses pengolahannya, tentu
tidak akan memenuhi prosedur kesehatan dan higienis.
Bila dibandingkan dengan ikan segar,
harga minyak ikan pasti lebih mahal karena konsumen dibebani ongkos produksi dan pemasaran
yang tinggi. Sebab itu pemakaian ekstrak minyak ikan harus dikonsultasikan dengan dokter
atau ahli gizi.
Jadi, cara yang lebih baik, aman,
ekonomis, dan efektif sebenarnya dengan mengandalkan makanan konsumsi sehari-hari saja
(food based). Makanan sumber asam lemak esensial dan omega-3 terutama terdapat pada pangan
hewani dan nabati laut seperti ikan lemuru, tuna, tongkol, cakalang, cod, rumput laut,
ganggang laut, dll. Sedangkan pangan lainnya antara lain minyak nabati dan sayuran hijau.
Keuntungan cara alami ini, konsumsi
tidak hanya berisi asam lemak esensial dan omega-3, tetapi juga zat gizi lainnya yang juga
berperan vital untuk kesehatan dan kecerdasan otak janin.
Perbaikan kesehatan ibu memang harus
dilakukan sejak prakonsepsi, selama hamil dan terhadap anak balitanya termasuk imunisasi,
vaksinasi, dan pemeriksaan kesehatan lainnya. Hal ini sangat membantu kesempurnaan tumbuh
kembang janin dan anak balita. Sekaligus sebagai upaya pencegahan dan perlindungan
terhadap penyakit yang membahayakan tumbuh kembang anak seperti polio, campak, tetanus,
difteri, dan hepatitis.
Selain aspek kesehatan, tidak kalah
penting aspek psikologis dan agama. Diharapkan, pada saat hamil calon ibu selalu berusaha
gembira, merasa senang, dan bersikap positif atas kehamilannya. Tentunya tidak lupa untuk
selalu berdoa agar dianugerahi anak yang sehat, cerdas, dan soleh. (Mohamad Harli,
sarjana gizi masyarakat dan sumberdaya keluarga - alumnus IPB)
S |
egala hal
harus ada awalnya. |
|
J. Clarke |
|