logosept.gif (4461 bytes)

kopayu.jpg (8638 bytes)

Kesusastraan Indonesia yang cukup lama anteng, tiba-tiba tersentak oleh nama Ayu Utami. Roman karyanya, Saman - fragmen dari novel Laila Tak Mampir di New York, tak cuma juara pertama dalam Sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta, tetapi juga dipuji banyak kalangan. Teknik komposisinya tak konvensional, gaya bertuturnya pun terbuka, bahkan cenderung vulgar. Tetapi itulah kemenangannya.

ayu2.jpg (15630 bytes)"Saya sendiri, kini hanyalah seorang dari cukup banyak anak muda yang galau. Saya bukan lagi seorang anak muda beberapa tahun lalu. Saat ini saya duduk dan menulis di depan layar komputer, sambil menghitung langkah yang telah saya lewati selama 25 tahun ini. Banyak hal yang saya lakukan, yang kini saya malu menceritakannya. Misalnya, saya mengikuti kursus sekretaris karena saya kira saya bisa bekerja dengan diploma itu, menyimpan uang saku demi sabuk sewarna dengan sepatu, sampai mengikuti kontes model yang diselenggarakan sebuah majalah wanita. Ketika saya SMA, saya menusuk gambar beringin dalam Pemilu, atas permintaan Ibu, demi Bapak yang pegawai negeri.

"Sedikit pun saya tak gelisah pada kehidupan politik atau kebijakan pemerintah. Pemerintah bagi saya seperti pohon beringin di halaman Istana Bogor ...." (Bredel 1994, hlm. 9 - 10).

Itulah sekelumit tulisan Ayu Utami menyusul pembredelan tiga media, Detik, Tempo, dan Editor, Juni 1994. Sebagai wartawan Majalah Matra, saat itu Ayu sedang melakukan reportase ke Dili.

Diharapkan jadi "intel"
Bagi Ayu (30), dunia tulis menulis tak begitu akrab di masa kecilnya. Tubrukan dengan dunia jurnalistik baru terjadi ketika secara iseng Ayu mengirim cerpen humor dalam lomba yang diadakan Majalah Humor sekitar tahun 1989 - 1990. Ia memperoleh juara harapan.

Kendati begitu, darah seni bukannya tak mengalir dalam tubuh Yustina Ayu Utami; begitu nama komplet yang diberikan orang tuanya. Bude-nya adalah seorang penembang lagu-lagu Jawa. Ayu kecil sendiri memiliki bakat melukis. Maka tak perlu kaget jika Ayu besar bisa "melukis" dalam "kanvas" yang berbeda.

Ada cerita menarik tentang bakat melukisnya itu. Kala itu Ayu menjadi ketua sanggar seni di SMU-nya, Tarakanita Jakarta. Dalam suatu pameran, lukisan yang dipamerkan ternyata kurang jumlahnya. Sebagai ketua tentu Ayu tak ingin pameran itu gagal. Di sinilah bakat melukisnya sangat membantu.

Ayu pun mengisi kekurangan jumlah itu dengan lukisan yang dibuatnya dengan bermacam-macam gaya dan nama. Ada yang menggunakan nama lengkapnya, ada yang mencantumkan sebagian namanya. Pameran itu akhirnya sukses juga, bahkan dimuat di beberapa majalah. Yang membuat dia bangga, kebanyakan foto lukisan yang ditampilkan adalah hasil karyanya. Namun, ia menghindar dari wartawan. Takut ketahuan kalau kebanyakan lukisan yang dipamerkan itu dibuat oleh satu pelukis.

ayu1.jpg (16493 bytes)Dari lukisan itu pula Ayu bisa memperoleh uang. Ia sering memperoleh order melukis dari teman atau keluarganya. Bahkan impian banyak pelukis pernah menghampirinya, yakni tawaran dari pembimbing melukisnya untuk mengadakan pameran tunggal. Sayang, impian itu tak menjadi kenyataan sebab Ayu tak bisa menyediakan sejumlah lukisan sebagai persyaratan.

Itulah sebabnya, selulus SMU Ayu ingin meneruskan ke Fakultas Seni Rupa dan Desain, ITB. Tapi bapaknya tidak memberi izin. "Dan itu untuk terakhir kalinya saya menurut dalam perkara besar dengan Bapak," tutur Ayu dalam suara serak-seraknya. Alasan bapaknya, tidak mudah mencari uang dengan melukis.

Akhirnya, ia pun masuk Fakultas Sastra Jurusan Rusia, UI. Dia mengaku, sejak kecil ia memang suka bahasa; utamanya bahasa yang aneh-aneh, eksotis. Latin, misalnya. Selain itu, bapaknya bilang - bukan dalam konteks bercanda, "Udah aja, siapa tahu kamu nanti jadi 'intel' kejaksaan."

Sedangkan pilihan UI karena tidak ingin memberatkan orang tuanya. Selain lebih murah dibandingkan dengan kuliah di "luar negeri" (maksudnya swasta), semua kakaknya kuliah di UI. Meski ayahnya sering tugas di luar kota, sejak SMP Ayu tinggal di Jakarta bersama keluarganya. "Supaya praktis," candanya.

Kuliah sambil kerja
Saat masuk ke Fakultas Sastra itulah Ayu seperti kehilangan arah. Kuliah dia jalani dengan malas. "Saya lebih banyak bekerja di berbagai tempat daripada kuliah," akunya kepada Majalah Femina. Tapi ia menyebutnya hal itu bukan sebuah pemberontakan. Ia hanya merasa tak ada gunanya lulus tanpa pengalaman. Selain itu, Ayu tidak ingin tergantung soal keuangan pada orang tuanya. Atau dalam bahasa Ayu sendiri, demi sabuk yang sewarna dengan sepatu.

Apalagi sistem pengajaran di UI yang menurutnya jelek sekali. Bahkan cewek kelahiran Bogor 21 November 1968 ini mendengar dari salah satu dosen bahwa jurusan itu hanya untuk menampung lulusan SMU. "Dosen 10 orang dengan ruangan seluas kira-kira 30 m2 dengan meja saling berhadapan. Bagaimana mungkin bisa melakukan penelitian dan sebagainya dengan serius karena tidak memiliki tempat kerja?" tanyanya. Di samping itu gaji dosen kecil sehingga banyak yang ngobjek. Pemerintah sendiri, di lain pihak, juga masih fobi dengan komunis. Otomatis tidak ada akses untuk berhubungan dengan wilayah tutur asli.

Kuliah nyambi kerja yang dilakukan Ayu juga mendobrak kebiasaan di keluarganya. Pada zaman kakak-kakaknya, hal itu tidak bisa diterima oleh ayahnya. Jika Ayu bisa memecah tembok, "Saya pikir tergantung keras-kerasannya. Siapa yang keras, lainnya pasti luluh." Sifat keras-kerasnya itu pula yang membuat bapaknya mengalah ketika Ayu pulang pagi saat bekerja di Majalah Forum. "Daripada saya pulang jam dua pagi, 'kan bahaya. Lebih baik tidur di kantor dan pulang jam enam pagi. Sudah aman."

Pekerjaan sebagai purel hotel berbintang pun dia lakoni. Bahkan Ayu pernah menyelami dunia model setelah menjadi Finalis Wajah Femina tahun 1990. "Saat itu saya sedang senang-senangnya menjadi perempuan," tuturnya. Suatu perubahan yang besar mengingat di usia sembilan tahun ia merasa terganggu dengan adanya perubahan akibat hormon wanitanya. "Waktu itu saya merasa tidak suka sekali menjadi perempuan. Saya terganggu sekali dengan perubahan itu." Apalagi teman-temannya pun mendorong Ayu untuk ikut lomba Pemilihan Wajah Femina itu.

Toh, gemerlapnya dunia model tak menyedotnya masuk lebih jauh. Kegelisahan menderak-derak dalam dirinya untuk mencari rel hidupnya. Lebih dari itu, ia cukup tahu diri. "Saya nggak bakat jadi model. Nggak tinggi, nggak indo, nggak suka ke salon. Yang jelas nggak enjoy," kata bungsu dari lima bersaudara ini. Putri pasangan YH Sutaryo dan Suhartinah ini merasa tidak betah bila harus berdandan ala model. "Rambut diacak-acak, muka ditempeli kosmetika macam-macam," tuturnya menyebut beberapa contoh.

ayu3.jpg (12314 bytes)
"Saya tidak menampilkan seks sebagai cerita tentang seks, tetapi seks itu problem bagi perempuan." (Foto: Yds)

Kemenangan cerpennya di Majalah Humor menariknya menjadi wartawan paruh waktu di majalah itu. Berhubung kantornya berdekatan dengan Majalah Matra, Ayu pun jadi dekat dengan orang-orang Matra. Ia pun menjadi wartawan di majalah khusus trend pria itu. Di sinilah Ayu menyadari ada bakat menulis. "Soalnya, beberapa tulisan saya tidak pernah diedit total," katanya.

Bahkan ia sudah mengisi kolom tetap, Sketsa, di SK Berita Buana. Isinya berupa renungan tentang berbagai soal, entah itu politik, seni, ekonomi, dll. "Saya ingin membuat parodi catatan pinggir. Atau catatan pinggir yang konyol, lucu, lebih bermain-main, meski saya akui saya tidak sekaliber Goenawan Mohammad," jelasnya.

Jika akhirnya ia pindah ke Forum Keadilan, itu tak lepas dari sifatnya yang suka bertanya-tanya. Atau pengaruh kegelisahannya? "Tidak semua kegelisahan bisa dituntaskan," ungkap gadis yang mengaku tomboi di masa kecilnya ini. Oleh sebab itu, tidaklah perlu diherani jika Ayu hanya bertahan empat tahun di majalah berita itu, meski hal itu lebih disebabkan aktivitasnya di AJI (Aliansi Jurnalis Independen); institusi wartawan di luar PWI yang waktu itu tidak sedap dipandang oleh kaca mata pemerintah.

Seks, problematika wanita
Setelah melanglang ke Majalah D&R selama setengah tahun dan di BBC selama beberapa bulan, Ayu akhirnya menemukan terminal terakhirnya: Komunitas Utan Kayu. Ia pun masih bisa mengembangkan sayap kewartawanannya sebagai redaktur Jurnal Kebudayaan Kalam. "Saya bahagia sekarang. Di sini saya baru betul-betul merasa kuliah. Bergaul dengan berbagai kalangan yang memperkaya wawasan saya." Di sinilah Ayu melahirkan Saman, yang kemudian membikin heboh di tengah masa krismon.

Padahal, dulu Ayu tidak suka menulis fiksi. "Kesannya kok mengawang-awang." Akan tetapi kesan itu berubah setelah menyadari bahwa novel - atau dalam lingkup yang lebih luas, sastra - ternyata tidak sekadar persoalan ide atau cerita, tetapi juga persoalan pergulatan bahasa, pergulatan pemikiran. Cerpen dan novel adalah ide yang disampaikan dalam bentuk fiktif.

Pergulatan pemikiran itu bisa jadi tercermin dari pemberontakan-pemberontakan yang dilakukan Ayu semasa SMP dan SMU. "Saya memberontak pada orang tua dengan tidak mau membaca buku, nggak mau belajar. Pokoknya, meremehkan aturan orang dewasa, meminimalkan usaha saya untuk belajar." Baginya, membaca buku bisa mempengaruhi hidupnya. "Saya maunya tetap orisinil." Namun, soal membaca, Ayu masih menyisakan untuk Alkitab, "Satu-satunya buku yang saya baca mulai kecil sampai dewasa." Alasannya, Alkitab ditulis oleh banyak orang dengan gaya masing-masing; ada yang berbentuk puisi, buku, dan surat-menyurat.

Wajarlah kalau dalam roman Saman, terdapat petikan-petikan ayat Alkitab, "Meski aslinya itu adalah surat pribadi saya kepada pacar saya." Lebih jauh Ayu mengakui, Alkitab sudah menjadi bagian dari dirinya. Seperti yang dikutip SK Kompas, "Saya pernah menulis cerpen, tapi tidak pernah saya published. Ada kecenderungan menulis tentang pastor, tentang suster, ada kecenderungan itu. Cerita-cerita yang pernah saya tulis cenderung agak religius, cenderung dari kelompok ini." Bahkan pada waktu kecil, Ayu ingin jadi suster.

Akan tetapi jika ada yang mengritik Saman dari segi seksualitas yang ditampilkan, Ayu hanya menyediakan dua jawaban. Pertama, "Saya hanya mau jujur. Kedua, saya tidak menampilkan seks sebagai cerita tentang seks, tapi seks itu problem bagi perempuan. Misalnya, Yasmin dan Saman membicarakan seks dengan rasa bersalah. Seks jadi diskusi, bukan peristiwa."

Seksualitas memang menjadi tema Saman. Banyak mitosnya yang perlu diluruskan kembali. Demikian juga dengan pengkotakan laki-laki - perempuan dalam konteks seksual. Ayu juga mempertanyakan soal keperawanan yang menempatkan perempuan dalam posisi yang kalah. "Wanita yang sudah tidak perawan dianggap sudah cacat, tetapi nilai itu tidak berlaku bagi pria."

Penyuka Don de Lilo ini mengharap bahwa wanita jangan terlalu mengagungkan keperawanan. "Maksud saya bukannya menganjurkan seks pranikah, tetapi cobalah menempatkan keperawanan itu sewajarnya saja. Karena bila wanita begitu memuja keperawanan, ia sendiri yang akan rugi. Keperawanan hilang, ia merasa sudah tidak berarti."

Ayu merasa, masalah seks yang dia sajikan dalam i>Saman masih dalam batas yang wajar. "Karena saya menyajikan seks di situ bukan merupakan teknik persetubuhan, tetapi berupa pemaparan problematika seks untuk direnungkan karena banyak dialami oleh wanita."

Eksplorasi penulisan dan bahasa
Mengacu kepada popularitas Saman, menurut Ayu, sastra tidak bisa dilepaskan dengan publikasi. Dengan begitu banyaknya media massa, tak ada satu pihak pun yang bisa menentukan baik-buruknya sebuah karya sastra. Apalagi orang sekarang sama sekali tidak bisa dipisahkan dengan publikasi. "Jadi, apresiasi pun tidak bisa dipisahkan dari publikasi."

Ia berpendapat bahwa sastra seharusnya menjadi eksperimen dari berbagai eksplorasi penulisan dan bahasa. "Dan mungkin bisa lebih bervariasi." Konsekuensinya, sastra menjadi elit dan tidak mudah diterima oleh banyak orang. Ayu mencoba membandingkan dengan adibusana yang jarang bisa dipakai oleh masyarakat awam. "Tapi toh ia berpengaruh dalam menentukan arah perkembangan mode. Jadi, saya membayangkan sastra sebagai eksplorasi yang gila-gilaan, akibatnya tidak bisa diterima orang banyak, namun berperan penting dalam perkembangan sastra selanjutnya." Semisal, dalam perkembangan kosa kata maupun bahasa. Untuk itu, penulis pun harus siap bahwa karyanya tidak akan menjangkau jumlah pembaca yang cukup luas.

Ayu tak setuju jika masalah perut menjadi ganjalan mengkonsumsi - dan akhirnya mengapresiasi - produk-produk susastra. "Bagaimanapun jika karya sastra tersebut memberikan pencerahan, maka hal itu sudah memberikan hiburan. Kalau kemudian sastra direduksi sebagai hiburan, maka sastra tidak bisa disebut hanya sebagai kebutuhan orang yang perutnya 'kenyang'. Jadi, sastra bukanlah karya yang demikian berat. Dalam beberapa hal sifatnya sama dengan hiburan. Ambil contoh cerpen dalam koran minggu yang bisa dikonsumsi oleh berbagai lapisan masyarakat."

Memang, novel baru tidak banyak dibuat. "Tapi saya tidak setuju kalau kemudian dibilang sastra Indonesia tidak berkembang." Menulis novel itu pekerjaan yang berat, dalam arti perlu banyak waktu. Selain itu belum bisa diandalkan sebagai penghidupan keluarga. Lain dengan di luar negeri yang menyediakan grant.

Makanya, kalau orang itu bukan termasuk pengarang yang terkenal dan tidak ada pembajakan, sulit mengharapkan dari penjualan buku. Untuk itu, perlu diciptakan struktur yang memungkinkan pengarang bisa terus menulis. "Seperti zaman dulu seniman dipelihara oleh kerajaan." Pola seperti itu sudah dijalankan oleh Amerika atau Australia, "Seperti yang diperoleh Umar Kayam."

Kesuksesan Saman ternyata tak menguburkan bakat melukisnya. Beberapa lukisan masih dia simpan, biasanya berupa sketsa. Ayu masih terobsesi untuk menjadi pelukis dan membikin komik.

Lalu, mengenai perkawinan yang dulu dia rencanakan saat berumur 23 - 25? Ayu agak gamang menjawabnya. "Ini masalah terlalu banyak penduduk. Untuk itu, perlu ada orang yang harus punya keputusan untuk tidak menambah jumlah penduduk di bumi. Problem penduduk itu harus disadari betul." (Yds. Agus Surono/Shinta Teviningrum)

Ayu Utami: Seks itu ...
Lupus, belum ada ...
Kapan anak belajar bhs. Inggris?
Bukan karena baca ...
Belekan, tak sembuh ...
Setelah xtc, putau, ...
Tanaman antimalaria
Cerita di balik label makanan
Menghindari gelombang elektromagnetik
Peluang bisnis di masa krisis
Omega-3, modal kecerdasan
Sarana penolak santet
Skenario bagi BUJ
Sekretrais serba bisa

CLICK HERE TO VISIT THE TOP 1000!