Kesusastraan
Indonesia yang cukup lama anteng, tiba-tiba tersentak oleh nama Ayu Utami. Roman karyanya,
Saman - fragmen dari novel Laila Tak Mampir di New York, tak cuma juara pertama dalam
Sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta, tetapi juga dipuji banyak kalangan.
Teknik komposisinya tak konvensional, gaya bertuturnya pun terbuka, bahkan cenderung
vulgar. Tetapi itulah kemenangannya.
"Saya sendiri,
kini hanyalah seorang dari cukup banyak anak muda yang galau. Saya bukan lagi seorang anak
muda beberapa tahun lalu. Saat ini saya duduk dan menulis di depan layar komputer, sambil
menghitung langkah yang telah saya lewati selama 25 tahun ini. Banyak hal yang saya
lakukan, yang kini saya malu menceritakannya. Misalnya, saya mengikuti kursus sekretaris
karena saya kira saya bisa bekerja dengan diploma itu, menyimpan uang saku demi sabuk
sewarna dengan sepatu, sampai mengikuti kontes model yang diselenggarakan sebuah majalah
wanita. Ketika saya SMA, saya menusuk gambar beringin dalam Pemilu, atas permintaan Ibu,
demi Bapak yang pegawai negeri.
"Sedikit pun saya tak gelisah pada
kehidupan politik atau kebijakan pemerintah. Pemerintah bagi saya seperti pohon beringin
di halaman Istana Bogor ...." (Bredel 1994, hlm. 9 - 10).
Itulah sekelumit tulisan Ayu Utami menyusul
pembredelan tiga media, Detik, Tempo, dan Editor, Juni 1994. Sebagai wartawan Majalah
Matra, saat itu Ayu sedang melakukan reportase ke Dili.
Diharapkan jadi "intel"
Bagi Ayu (30), dunia tulis menulis tak begitu akrab di masa kecilnya. Tubrukan dengan
dunia jurnalistik baru terjadi ketika secara iseng Ayu mengirim cerpen humor dalam lomba
yang diadakan Majalah Humor sekitar tahun 1989 - 1990. Ia memperoleh juara harapan.
Kendati begitu, darah seni bukannya tak mengalir
dalam tubuh Yustina Ayu Utami; begitu nama komplet yang diberikan orang tuanya. Bude-nya
adalah seorang penembang lagu-lagu Jawa. Ayu kecil sendiri memiliki bakat melukis. Maka
tak perlu kaget jika Ayu besar bisa "melukis" dalam "kanvas" yang
berbeda.
Ada cerita menarik tentang bakat melukisnya itu.
Kala itu Ayu menjadi ketua sanggar seni di SMU-nya, Tarakanita Jakarta. Dalam suatu
pameran, lukisan yang dipamerkan ternyata kurang jumlahnya. Sebagai ketua tentu Ayu tak
ingin pameran itu gagal. Di sinilah bakat melukisnya sangat membantu.
Ayu pun mengisi kekurangan jumlah itu dengan lukisan
yang dibuatnya dengan bermacam-macam gaya dan nama. Ada yang menggunakan nama lengkapnya,
ada yang mencantumkan sebagian namanya. Pameran itu akhirnya sukses juga, bahkan dimuat di
beberapa majalah. Yang membuat dia bangga, kebanyakan foto lukisan yang ditampilkan adalah
hasil karyanya. Namun, ia menghindar dari wartawan. Takut ketahuan kalau kebanyakan
lukisan yang dipamerkan itu dibuat oleh satu pelukis.
Dari lukisan itu pula Ayu bisa memperoleh uang. Ia sering
memperoleh order melukis dari teman atau keluarganya. Bahkan impian banyak pelukis pernah
menghampirinya, yakni tawaran dari pembimbing melukisnya untuk mengadakan pameran tunggal.
Sayang, impian itu tak menjadi kenyataan sebab Ayu tak bisa menyediakan sejumlah lukisan
sebagai persyaratan.
Itulah sebabnya, selulus SMU Ayu ingin meneruskan ke
Fakultas Seni Rupa dan Desain, ITB. Tapi bapaknya tidak memberi izin. "Dan itu untuk
terakhir kalinya saya menurut dalam perkara besar dengan Bapak," tutur Ayu dalam
suara serak-seraknya. Alasan bapaknya, tidak mudah mencari uang dengan melukis.
Akhirnya, ia pun masuk Fakultas Sastra Jurusan
Rusia, UI. Dia mengaku, sejak kecil ia memang suka bahasa; utamanya bahasa yang aneh-aneh,
eksotis. Latin, misalnya. Selain itu, bapaknya bilang - bukan dalam konteks bercanda,
"Udah aja, siapa tahu kamu nanti jadi 'intel' kejaksaan."
Sedangkan pilihan UI karena tidak ingin memberatkan
orang tuanya. Selain lebih murah dibandingkan dengan kuliah di "luar negeri"
(maksudnya swasta), semua kakaknya kuliah di UI. Meski ayahnya sering tugas di luar kota,
sejak SMP Ayu tinggal di Jakarta bersama keluarganya. "Supaya praktis,"
candanya.
Kuliah sambil kerja
Saat masuk ke Fakultas Sastra itulah Ayu seperti kehilangan arah. Kuliah dia jalani dengan
malas. "Saya lebih banyak bekerja di berbagai tempat daripada kuliah," akunya
kepada Majalah Femina. Tapi ia menyebutnya hal itu bukan sebuah pemberontakan. Ia hanya
merasa tak ada gunanya lulus tanpa pengalaman. Selain itu, Ayu tidak ingin tergantung soal
keuangan pada orang tuanya. Atau dalam bahasa Ayu sendiri, demi sabuk yang sewarna dengan
sepatu.
Apalagi sistem pengajaran di UI yang menurutnya
jelek sekali. Bahkan cewek kelahiran Bogor 21 November 1968 ini mendengar dari salah satu
dosen bahwa jurusan itu hanya untuk menampung lulusan SMU. "Dosen 10 orang dengan
ruangan seluas kira-kira 30 m2 dengan meja saling berhadapan. Bagaimana mungkin bisa
melakukan penelitian dan sebagainya dengan serius karena tidak memiliki tempat
kerja?" tanyanya. Di samping itu gaji dosen kecil sehingga banyak yang ngobjek.
Pemerintah sendiri, di lain pihak, juga masih fobi dengan komunis. Otomatis tidak ada
akses untuk berhubungan dengan wilayah tutur asli.
Kuliah nyambi kerja yang dilakukan Ayu juga
mendobrak kebiasaan di keluarganya. Pada zaman kakak-kakaknya, hal itu tidak bisa diterima
oleh ayahnya. Jika Ayu bisa memecah tembok, "Saya pikir tergantung keras-kerasannya.
Siapa yang keras, lainnya pasti luluh." Sifat keras-kerasnya itu pula yang membuat
bapaknya mengalah ketika Ayu pulang pagi saat bekerja di Majalah Forum. "Daripada
saya pulang jam dua pagi, 'kan bahaya. Lebih baik tidur di kantor dan pulang jam enam
pagi. Sudah aman."
Pekerjaan sebagai purel hotel berbintang pun dia
lakoni. Bahkan Ayu pernah menyelami dunia model setelah menjadi Finalis Wajah Femina tahun
1990. "Saat itu saya sedang senang-senangnya menjadi perempuan," tuturnya. Suatu
perubahan yang besar mengingat di usia sembilan tahun ia merasa terganggu dengan adanya
perubahan akibat hormon wanitanya. "Waktu itu saya merasa tidak suka sekali menjadi
perempuan. Saya terganggu sekali dengan perubahan itu." Apalagi teman-temannya pun
mendorong Ayu untuk ikut lomba Pemilihan Wajah Femina itu.
Toh, gemerlapnya dunia model tak menyedotnya masuk
lebih jauh. Kegelisahan menderak-derak dalam dirinya untuk mencari rel hidupnya. Lebih
dari itu, ia cukup tahu diri. "Saya nggak bakat jadi model. Nggak tinggi, nggak indo,
nggak suka ke salon. Yang jelas nggak enjoy," kata bungsu dari lima bersaudara ini.
Putri pasangan YH Sutaryo dan Suhartinah ini merasa tidak betah bila harus berdandan ala
model. "Rambut diacak-acak, muka ditempeli kosmetika macam-macam," tuturnya
menyebut beberapa contoh.
 |
| "Saya tidak menampilkan seks
sebagai cerita tentang seks, tetapi seks itu problem bagi perempuan." (Foto:
Yds) |
Kemenangan cerpennya di Majalah Humor
menariknya menjadi wartawan paruh waktu di majalah itu. Berhubung kantornya berdekatan
dengan Majalah Matra, Ayu pun jadi dekat dengan orang-orang Matra. Ia pun menjadi wartawan
di majalah khusus trend pria itu. Di sinilah Ayu menyadari ada bakat menulis.
"Soalnya, beberapa tulisan saya tidak pernah diedit total," katanya.
Bahkan ia sudah mengisi kolom tetap, Sketsa, di SK
Berita Buana. Isinya berupa renungan tentang berbagai soal, entah itu politik, seni,
ekonomi, dll. "Saya ingin membuat parodi catatan pinggir. Atau catatan pinggir yang
konyol, lucu, lebih bermain-main, meski saya akui saya tidak sekaliber Goenawan
Mohammad," jelasnya.
Jika akhirnya ia pindah ke Forum Keadilan, itu tak
lepas dari sifatnya yang suka bertanya-tanya. Atau pengaruh kegelisahannya? "Tidak
semua kegelisahan bisa dituntaskan," ungkap gadis yang mengaku tomboi di masa
kecilnya ini. Oleh sebab itu, tidaklah perlu diherani jika Ayu hanya bertahan empat tahun
di majalah berita itu, meski hal itu lebih disebabkan aktivitasnya di AJI (Aliansi
Jurnalis Independen); institusi wartawan di luar PWI yang waktu itu tidak sedap dipandang
oleh kaca mata pemerintah.
Seks, problematika wanita
Setelah melanglang ke Majalah D&R selama setengah tahun dan di BBC selama beberapa
bulan, Ayu akhirnya menemukan terminal terakhirnya: Komunitas Utan Kayu. Ia pun masih bisa
mengembangkan sayap kewartawanannya sebagai redaktur Jurnal Kebudayaan Kalam. "Saya
bahagia sekarang. Di sini saya baru betul-betul merasa kuliah. Bergaul dengan berbagai
kalangan yang memperkaya wawasan saya." Di sinilah Ayu melahirkan Saman, yang
kemudian membikin heboh di tengah masa krismon.
Padahal, dulu Ayu tidak suka menulis fiksi.
"Kesannya kok mengawang-awang." Akan tetapi kesan itu berubah setelah menyadari
bahwa novel - atau dalam lingkup yang lebih luas, sastra - ternyata tidak sekadar
persoalan ide atau cerita, tetapi juga persoalan pergulatan bahasa, pergulatan pemikiran.
Cerpen dan novel adalah ide yang disampaikan dalam bentuk fiktif.
Pergulatan pemikiran itu bisa jadi tercermin dari
pemberontakan-pemberontakan yang dilakukan Ayu semasa SMP dan SMU. "Saya memberontak
pada orang tua dengan tidak mau membaca buku, nggak mau belajar. Pokoknya, meremehkan
aturan orang dewasa, meminimalkan usaha saya untuk belajar." Baginya, membaca buku
bisa mempengaruhi hidupnya. "Saya maunya tetap orisinil." Namun, soal membaca,
Ayu masih menyisakan untuk Alkitab, "Satu-satunya buku yang saya baca mulai kecil
sampai dewasa." Alasannya, Alkitab ditulis oleh banyak orang dengan gaya
masing-masing; ada yang berbentuk puisi, buku, dan surat-menyurat.
Wajarlah kalau dalam roman Saman, terdapat
petikan-petikan ayat Alkitab, "Meski aslinya itu adalah surat pribadi saya kepada
pacar saya." Lebih jauh Ayu mengakui, Alkitab sudah menjadi bagian dari dirinya.
Seperti yang dikutip SK Kompas, "Saya pernah menulis cerpen, tapi tidak pernah saya
published. Ada kecenderungan menulis tentang pastor, tentang suster, ada kecenderungan
itu. Cerita-cerita yang pernah saya tulis cenderung agak religius, cenderung dari kelompok
ini." Bahkan pada waktu kecil, Ayu ingin jadi suster.
Akan tetapi jika ada yang mengritik Saman dari segi
seksualitas yang ditampilkan, Ayu hanya menyediakan dua jawaban. Pertama, "Saya hanya
mau jujur. Kedua, saya tidak menampilkan seks sebagai cerita tentang seks, tapi seks itu
problem bagi perempuan. Misalnya, Yasmin dan Saman membicarakan seks dengan rasa bersalah.
Seks jadi diskusi, bukan peristiwa."
Seksualitas memang menjadi tema Saman. Banyak
mitosnya yang perlu diluruskan kembali. Demikian juga dengan pengkotakan laki-laki -
perempuan dalam konteks seksual. Ayu juga mempertanyakan soal keperawanan yang menempatkan
perempuan dalam posisi yang kalah. "Wanita yang sudah tidak perawan dianggap sudah
cacat, tetapi nilai itu tidak berlaku bagi pria."
Penyuka Don de Lilo ini mengharap bahwa wanita
jangan terlalu mengagungkan keperawanan. "Maksud saya bukannya menganjurkan seks
pranikah, tetapi cobalah menempatkan keperawanan itu sewajarnya saja. Karena bila wanita
begitu memuja keperawanan, ia sendiri yang akan rugi. Keperawanan hilang, ia merasa sudah
tidak berarti."
Ayu merasa, masalah seks yang dia sajikan dalam
i>Saman masih dalam batas yang wajar. "Karena saya menyajikan seks di situ bukan
merupakan teknik persetubuhan, tetapi berupa pemaparan problematika seks untuk direnungkan
karena banyak dialami oleh wanita."
Eksplorasi penulisan dan bahasa
Mengacu kepada popularitas Saman, menurut Ayu, sastra tidak bisa dilepaskan dengan
publikasi. Dengan begitu banyaknya media massa, tak ada satu pihak pun yang bisa
menentukan baik-buruknya sebuah karya sastra. Apalagi orang sekarang sama sekali tidak
bisa dipisahkan dengan publikasi. "Jadi, apresiasi pun tidak bisa dipisahkan dari
publikasi."
Ia berpendapat bahwa sastra seharusnya menjadi
eksperimen dari berbagai eksplorasi penulisan dan bahasa. "Dan mungkin bisa lebih
bervariasi." Konsekuensinya, sastra menjadi elit dan tidak mudah diterima oleh banyak
orang. Ayu mencoba membandingkan dengan adibusana yang jarang bisa dipakai oleh masyarakat
awam. "Tapi toh ia berpengaruh dalam menentukan arah perkembangan mode. Jadi, saya
membayangkan sastra sebagai eksplorasi yang gila-gilaan, akibatnya tidak bisa diterima
orang banyak, namun berperan penting dalam perkembangan sastra selanjutnya." Semisal,
dalam perkembangan kosa kata maupun bahasa. Untuk itu, penulis pun harus siap bahwa
karyanya tidak akan menjangkau jumlah pembaca yang cukup luas.
Ayu tak setuju jika masalah perut menjadi ganjalan
mengkonsumsi - dan akhirnya mengapresiasi - produk-produk susastra. "Bagaimanapun
jika karya sastra tersebut memberikan pencerahan, maka hal itu sudah memberikan hiburan.
Kalau kemudian sastra direduksi sebagai hiburan, maka sastra tidak bisa disebut hanya
sebagai kebutuhan orang yang perutnya 'kenyang'. Jadi, sastra bukanlah karya yang demikian
berat. Dalam beberapa hal sifatnya sama dengan hiburan. Ambil contoh cerpen dalam koran
minggu yang bisa dikonsumsi oleh berbagai lapisan masyarakat."
Memang, novel baru tidak banyak dibuat. "Tapi
saya tidak setuju kalau kemudian dibilang sastra Indonesia tidak berkembang." Menulis
novel itu pekerjaan yang berat, dalam arti perlu banyak waktu. Selain itu belum bisa
diandalkan sebagai penghidupan keluarga. Lain dengan di luar negeri yang menyediakan
grant.
Makanya, kalau orang itu bukan termasuk pengarang
yang terkenal dan tidak ada pembajakan, sulit mengharapkan dari penjualan buku. Untuk itu,
perlu diciptakan struktur yang memungkinkan pengarang bisa terus menulis. "Seperti
zaman dulu seniman dipelihara oleh kerajaan." Pola seperti itu sudah dijalankan oleh
Amerika atau Australia, "Seperti yang diperoleh Umar Kayam."
Kesuksesan Saman ternyata tak menguburkan bakat
melukisnya. Beberapa lukisan masih dia simpan, biasanya berupa sketsa. Ayu masih terobsesi
untuk menjadi pelukis dan membikin komik.
Lalu, mengenai perkawinan yang dulu dia rencanakan
saat berumur 23 - 25? Ayu agak gamang menjawabnya. "Ini masalah terlalu banyak
penduduk. Untuk itu, perlu ada orang yang harus punya keputusan untuk tidak menambah
jumlah penduduk di bumi. Problem penduduk itu harus disadari betul." (Yds. Agus
Surono/Shinta Teviningrum) |