Keterangan beriklan di site ini logo(1).gif (10626 bytes)
globetiny.gif (852 bytes)N THE NET
tan_obat.jpg (12269 bytes)

MENONTON GUA ULAT BERSINAR

    Selandia Baru. Negeri kepulauan ini luasnya hanya 265.000 km2. Namun, begitu kaki menjejak di salah satu wilayah Pasifik Selatan ini, hati jadi jatuh cinta dan ingin kembali lagi. Atraksi apa saja yang disajikan negeri ini?

Pesawat SQ 285 dari Singapura mendarat dengan mulus di Bandara Internasional Auckland, Selandia Baru, pada tanggal 23 Januari 1999, pukul 11.10. Cuaca cerah musim panas menyapa saat kaki menginjak negeri dengan bentang wilayah seluas 265.000 km2 di Pasifik Selatan. Dawson, tuan rumah yang menjemput saya sudah menunggu di bandara.

Dalam perjalanan ke rumahnya, Dawson sengaja mengambil jalan memutar agar saya bisa melihat berbagai pemandangan Auckland. Maklum, inilah kunjungan pertama saya ke negeri berpenduduk 3,5 juta jiwa ini.

Setelah beristirahat, keesokan harinya saya diajak istri Dawson ke Clevedon di bagian selatan Auckland. Di sini ada beberapa toko kecil yang menjual cindera mata khas Selandia Baru. Menjelang sore, kami pergi ke Dunia Bawah Laut Kelly Tarltan di Kohimaramara Beach di pusat Kota Auckland. Tempat ini mirip Sea World Jakarta, hanya bedanya, di sini ada pinguinnya.

Kesan pertama kala tiba di Auckland adalah kebersihannya. Hampir dapat dipastikan tidak terdapat secuil pun sampah yang berantakan, baik di perumahan maupun tempat umum. Soalnya, denda sangat besar bagi orang yang sembarangan buang sampah.

Mengenai orangnya, kiwis, demikian mereka menyebut diri, amat ramah dan terbuka, tidak hanya terhadap sesama tetapi juga kepada pendatang. Keramahan ini bisa ditemukan di setiap sudut jalan. Mulai dari penjaga pompa bensin, pelayan toko, peternak, atau sopir taksi. Tepat sekali pengakuan mereka, "Kami ramah karena tinggal di negeri yang sangat indah, bebas polusi, tenang, dan nyaman tanpa hiruk pikuk kendaraan." Setiap hari Sabtu dan Minggu toko-toko tutup lebih awal. Sebagian besar warga mengisi liburan dengan memancing atau berselancar.

Menuju Rotorua
Setelah menyelesaikan pekerjaan yang cukup menyita waktu, hari Rabu siang, kami berangkat ke Rotorua, sebuah kota turis yang terletak sekitar 250 km ke arah tenggara Auckland. Dengan waktu tempuh sekitar dua jam, kami menikmati pemandangan sepanjang perjalanan menuju ke sana.

Di Rotorua kami mengunjungi taman alam, Rainbow Springs Park. Dengan membayar tiket masuk NZ $ 17 (sekitar Rp 76.500,-) pengunjung bisa menikmati keindahan hutan dengan aneka satwanya. Taman ini dibuka untuk umum pada tahun 1898, dan merupakan tempat favorit bagi para wisatawan yang datang ke Selandia Baru.

Di taman ini pengunjung bisa menikmati kehidupan alam bebas yang dikemas menjadi objek wisata yang menarik. Ada suara cicit burung, binatang hutan, dan suara air mengalir dari sungai kecil. Ada kolam dengan beraneka ragam ikan, termasuk trout, sejenis ikan salmon, ikan berpopulasi terbanyak di perairan Selandia Baru. Ada tuatara, binatang reptil khas Selandia Baru yang pernah hidup selama 300 tahun dan merupakan sisa-sisa peninggalan keluarga dinosaurus yang sudah punah. Selain itu ada pohon kayu khas, Red Wood, sejenis pohon jati dengan batang tubuh berwarna kemerahan.

Setelah berjalan-jalan di hutan, kami menonton Rainbow Farm Show, pertunjukan tentang kegiatan peternakan seperti melatih anjing untuk menggembala domba, proses pemerahan susu, sampai mencukur bulu domba. Yang menarik, pengunjung boleh ikut berpartisipasi. Harga tiket pertunjukan yang diadakan empat kali sehari selama satu jam itu juga NZ $ 17.

Kami menginap di Palm Spring Motel, sebuah motel yang cukup nyaman dengan tarif sekitar Rp 400.000,- semalam. Dengan menginap di sana, kami bisa menikmati jalan-jalan lagi pada keesokan harinya, yakni ke Whakarewarewa Thermal Reserve, sumber air panas alami. Tempat ini menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah kebudayaan Maori. Di sini dapat disaksikan kegiatan hangi, cara masak tradisional Suku Maori. Dengan merebus makanan (daging, kumara - sejenis ubi jalar khas Maori, ikan, kerang, dll.) dalam air panas alami.

Di situ pengunjung juga bisa melihat air panas yang menyembur tinggi ke angkasa, bebatuan yang mengeluarkan asap panas, dan lumpur yang mendidih. Di tempat-tempat tertentu bau belerang cukup menyengat. Banyak terpasang rambu-rambu untuk keselamatan pengunjung. Para pengunjung hanya boleh melewati jalur-jalur yang sudah ditetapkan.

Puas menikmati pemandangan ini, kami menuju Danau Tarawera sekalian makan siang di sebuah kafe yang menghadap ke danau. Terlihat banyak orang berselancar dan menyelam di sana.

Dilarang memotret kiwi
Selain keindahan pantainya, keunikan budaya Suku Maori menjadi salah satu daya tarik pariwisata Selandia Baru. Suku ini telah ribuan tahun menempati wilayah ini. Mereka hidup terpencar di berbagai pulau. Kini populasi mereka sekitar 400.000 orang, lebih dari 10% dari penduduk Selandia Baru secara keseluruhan.

Rotorua adalah salah satu kota di Selandia Baru dengan nuansa Maori yang kental. Di situ dibangun museum Maori yang lengkap. Melalui pertunjukan, para pengunjung diajak menyelami budaya dan falsafah khas Maori. Cerita legenda cinta Hinemoa dan Tutanekai, misalnya, hampir selalu digelar oleh pusat-pusat wisata dan hotel.

Selain budaya dan kerajinan suku Maori, hal lain yang terlintas dalam pikiran setiap pengunjung Selandia Baru adalah kiwi. Burung yang sangat pemalu ini sangat dilindungi dan menjadi simbol Selandia Baru. Ia tidak hidup di tempat lain. Lubang hidungnya terletak di ujung paruh, bukan di pangkal paruh. Ia juga kurang bisa melihat, namun memiliki indera penciuman yang tajam. Kepalanya kecil, kakinya kuat dan berotot, sementara sayapnya hanya sepanjang 30 - 50 mm.

Meskipun namanya burung, tetapi ia tidak bisa terbang. Maka ia sangat rentan terhadap serangan hewan buas, termasuk anjing dan kucing.

Pengunjung bisa melihat keindahan burung ini di balik kaca di hutan buatan yang cukup luas. Siapa pun yang masuk untuk melihat kiwi harus menahan diri untuk tidak mengambil gambarnya karena di tempat wisata terpampang papan peringatan untuk tidak memotretnya. Di Rainbow Spring Park, pengunjung bisa melihat kiwi. Tetapi jika ingin melihat lingkungan kiwi yang lebih lengkap dan luas, kita perlu bertandang ke Otorohanga, sebuah kota kecil antara Waitomo dan Auckland.

Gua menyala
Waitomo sendiri mempunyai pusat wisata yang disebut Waitomo Glow Worm (Gua Ulat Bersinar). Gua itu ditemukan pertama kali 100 tahun yang lalu oleh seorang Maori bernama Tane Tinorau dan seorang pengelana Inggris bernama Fred Mace.

Untuk menikmati indahnya gua kita harus membayar tiket seharga sekitar Rp 70.000,-. Rasanya seperti memasuki dunia ribuan tahun lalu. Ada stalaktit, stalagmit, dan patung yang terbentuk alami dari tetesan air ke dinding. Pemandangan menakjubkan ini bisa disaksikan di lorong gua gelap sepanjang 250 m. Puncak keindahan terjadi saat pengunjung naik sampan kecil mengikuti lorong gelap dan menikmati dunia ajaib penuh bintang. Itulah glow worm alias ulat bersinar. Langit-langit gua seolah bersinar terang berkat larva insek kecil sejenis nyamuk yang mengeluarkan sinar untuk menarik mangsa.

Di kegelapan, tak ada pengunjung yang bersuara. Semua terpesona memandang keindahan cahaya di atap gua. Sayang, kami tidak diizinkan memotret keindahan di gua. Kalau ingin memiliki foto gua dengan segala keindahan di dalamnya, tersedia kartu pos yang dijajakan di luar gua. Kartu pos itu berbagai ukuran dengan harga yang berkisar antara Rp 3.600,- dan Rp 27.000,-.

Sore hari, kami kembali ke Auckland. Tanpa terasa hari bergulir begitu cepat. Tibalah hari terakhir saya berada di Negeri Kiwi ini. Pada saat makan malam terakhir, keluarga Dawson menyediakan makanan kesukaan saya, mussels alias remis! Sabtu malam 30 Januari 1999 mereka mengantar saya ke Bandara Auckland. Tepat pukul 00.00 waktu setempat, pesawat Air New Zealand terbang membawa saya ke Singapura. Lalu, dengan pesawat sore pada keesokan harinya saya melanjutkan perjalanan menuju Jakarta.

Saya rekam ulang semua hal tentang Selandia Baru. Dengan keindahannya, negeri kecil ini akan membuat orang selalu tertarik untuk kembali mengunjunginya! (Yeni Ratnakomala)

Click here to join our mailing list!
Join our mailing list!
rumah intisari on the net CLICK HERE TO VISIT THE TOP 1000!