![]() |
![]() |
![]() |
Milosevic dan Mimpi Serbia Raya
| Slobodan Milosevic adalah tokoh antagonis di panggung sandiwara dunia dengan lakon Perang Balkan. Kendati bertubi-tubi digempur para protagonis yang tergabung dalam NATO, Presiden Yugoslavia ini punya seribu akal untuk bertahan. Si Lenin Kecil yang disetarakan dengan Hitler ini tetap berkuasa. Malah tokoh yang oleh sementara orang dianggap jelmaan setan ini begitu optimistis bisa mewujudkan impiannya: Serbia Raya. |
|
Dari waktu ke waktu, sejarah sepertinya sengaja memunculkan tokoh-tokoh yang bertentangan dengan pikiran waras. Slobodan Milosevic melengkapi petak terbaru mozaik sejarah, yang sebelum ini dihiasi tokoh-tokoh macam Hitler, Franco, Idi Amin, Ceaucescu, atau Pol Pot. Kalau antipati itu dalam dunia komunikasi modern boleh diwakili oleh media massa, Milosevic memang telah mendapat rapor merah dari Committee to Protect Journalist (CPJ). Ini organisasi internasional perlindungan wartawan yang bermarkas di New York. Nama Milosevic disejajarkan dengan Mahathir Mohamad, Jiang Zemin, dan Presiden Republik Demokrasi Kongo Laurent Kabila. Sekadar catatan, pada 1996 Presiden Soeharto pun pernah dinobatkan oleh CPJ sebagai salah satu tokoh paling dibenci karena memperlakukan media secara buruk. Milosevic dituduh melakukan pemusnahan etnis. Keinginan merdeka Kosovo dan Metohija (serta Vojvodina) ditanggapinya dengan penyerbuan tentara. Perang menjadi amat rasialis karena kehendak untuk merdeka warga di kedua wilayah itu didorong oleh perbedaan etnis dan agama. Suku Albania - yang mayoritas beragama Islam dan sebagian kecil Katolik - ingin memisahkan diri karena merasa berbeda dengan etnis Serbia yang mayoritas di Yugoslavia. Apa mau dikata, kehendak ini ditentang Milosevic. Ia yakin, separatisme itu hanya ulah segelintir gerombolan kriminal yang didukung Barat. Publikasi telah direkayasa sehingga menimbulkan kesan pemerintah pusat Yugoslavia berniat melakukan pembersihan etnik. Ketika tentara Serbia menyerbu kawasan Kosovo-Metohija, di media massa kontan tercipta gambaran neraka perang. Korban berjatuhan, pengungsi pun bergelombang. Pencitraan ini sedikit banyak juga diciptakan oleh media massa Barat, yang memang belum tentu cocok dengan kenyataan. "Sebelum tanggal 24 Maret, saat agresor jahat masuk dan bom jatuh di negeri ini, tak ada satu pun pengungsi. Pengungsian baru terjadi setelah bom-bom NATO menjatuhi tanah kami. Seluruh dunia tahu ini," kata Milosevic kepada wartawan televisi CBS Ronald Hatchet yang mewawancarainya di Beograd, 22 April 1999. Dengan kata-kata itu ia menepis publikasi neraka perang. Singkatnya ia menyampaikan pesan: masalah dalam negeri Yugoslavia mestinya sudah selesai jika NATO tak campur tangan dengan menjatuhkan bom. Di matanya, itulah puncak propaganda untuk mencoreng-moreng citra Serbia. Tak boleh merdeka Tapi begitulah. Konflik Milosevic dengan NATO tak melulu adu peluru namun juga adu informasi. Cerita apa pun yang keluar, kepentingan penyampainya akan terbawa serta. Maka, kalau pers Barat menyebut tentara pembebasan Kosovo (KLA) pejuang kemerdekaan, Pemerintah Beograd menjuluki mereka penjahat tengik belaka. Kalau pers Barat menggambarkan Presiden Milosevic sebagai Si Rendah Diri yang ingin balas dendam atas masa lalu yang kelam, publikasi resmi Beograd menjulukinya ahli hukum hebat, mantan pengusaha dan bankir sukses, pimpinan partai yang berwibawa, serta Bapak Bangsa. Setiap informasi perihal konflik mutakhir di Semenanjung Balkan itu memang perlu dicerna baik-baik. Sumber-sumber formal Beograd, semisal www.serbia-info.com/news menyebutkan, awal mulanya adalah keinginan segelintir orang di Kosovo yang dipanas-panasi CIA untuk memisahkan diri dari pemerintah pusat Beograd. Sedangkan media Barat menitikberatkan tinjauan pada hak asasi warga negara bagian Kosovo yang, karena perbedaan banyak hal, ingin memisahkan diri dari Serbia, namun tak diperbolehkan. Apa pun, cerita berlanjut dengan tindakan Milosevic membubarkan parlemen Kosovo, lantas diikuti dengan penyerbuan pasukan Serbia. Kosovo harus tetap jadi bagian dari Republik Federasi Yugoslavia! Ini mengingatkan kita pada pelbagai gerakan separatis di tanah air, yang utama Timor Timur. Bedanya, kalau di Timtim pencegahan niat merdeka dilakukan dengan diam-diam, di Kosovo dilakukan dengan terbuka. Akibatnya, PBB harus turun tangan. Perundingan di Rambuillet dan Paris yang berlangsung selama 3 minggu pada Maret lalu tak membawa hasil alias gagal total. Milosevic tak setuju langkah PBB membagi delegasi negaranya menjadi Serbia, Kosovo etnis Albania, serta Metohija. Ia bersikeras semuanya adalah bagian dari Yugoslavia, dan tak satu pihak pun di dunia boleh memilah-milahkannya. Maka persekutuan 19 negara yang tergabung dalam NATO, termasuk anggota kecil yang tak punya angkatan perang seperti Luksemburg dan Eslandia, pun tergerak untuk "menghukum" Milosevic. Perang - yang oleh NATO dianggarkan berbiaya AS $ 250 juta per minggu - pun meletus. Wilayah Serbia dihujani bom, sementara pengungsi berhamburan keluar dari Kosovo-Metohija. Hampir sama pula dengan Timor Timur, Kosovo dan Metohija semula adalah negara bagian Federasi Yugoslavia yang punya autonomi luas, baik secara teritorial maupun kultural. Punya parlemen dan kepala eksekutif sendiri. Mengelola keuangan, kebudayaan, pendidikan, informasi, kesejahteraan, serta bahasa sendiri. Namun itu semua tetap dirasakan kurang. Mereka "iri" pada Kroasia, Bosnia-Herzegovina, dan Macedonia, republik-republik yang pada Juni 1991 memisahkan diri dari Federasi Yugoslavia. Ibrahim Rugova, ketua organisasi perlawanan terbesar, Liga Demokratik Kosovo (DSK), seperti dikutip Time edisi 5 April menyatakan, "Milosevic tak cuma curang demi mencapai kejayaan suku Serbia, tetapi juga diskriminatif. Ia menyingkirkan suku Albania dari berbagai pos dan jabatan di Kosovo. Kalau tak bisa melawan, cara terbaik untuk menghapuskan diskriminasi itu ya memisahkan diri." Serbia Raya, ambisi tinggi yang dianggap mimpi Di satu sisi tak mau hegemoninya berkurang, namun di sisi lain membiarkan etnis Albania ramai-ramai eksodus dari Kosovo-Metohija. Kesimpulannya, Milosevic menghendaki wilayah semata-mata, bukan warga negara yang berhak tinggal di wilayah itu. Ini memang bertolak belakang dengan retorika yang setiap kali dilakukannya. Menurut Milosevic, Kosovo dan Metohija adalah bagian tak terpisahkan dari Serbia sejak abad VI. Sekalipun etnis Serbia hanya sepuluh persen dari sekitar dua juta penduduk Kosovo-Metohija, tulis informasi resmi Beograd, di wilayah itu terdapat 200 gereja Abad Pertengahan sebagai bukti menyatunya kedua wilayah pada masa lalu. Waktu PD II meletus, lanjut publikasi resmi itu, orang Serbia dan Montenegro-lah yang justru diusir dari Kosovo-Metohija. Selama perang berlangsung, tak kurang dari 100.000 orang Serbia dideportasi. Seusai perang pun pemerintah komunis melarang mereka kembali. Dalam kurun 2 dekade, 1968-1988, 220.000 orang Serbia diusir, dan 700 desa bersih dari etnis Serbia. Total, selama 40 tahun terakhir jumlah orang Serbia yang meninggalkan kawasan itu sekitar 400.000 orang. Pemerintah pusat mungkin punya seribu gincu politik untuk mempermanis penampilannya di Kosovo-Metohija. Yang pasti, pejabat yang diangkat untuk mengurusi wilayah ini selalu orang Serbia. Masuk akal jika gerakan perlawanan telah lama ada, jauh sebelum Beograd mengakui tahun resmi 1981 sebagai pemberontakan separatis Republik Kosovo. Namun sejak itu pun tekanan dari bawah makin kuat, sehingga tahun 1991, hampir bersamaan dengan republik lain di bekas Yugoslavia yang memerdekakan diri, rakyat Kosovo-Metohija menyelenggarakan pemilu yang terpisah dari campur tangan kekuasaan Beograd. Sayang, kalau Slovenia, Kroasia, Bosnia-Herzegovina, dan Macedonia berhasil, tidak demikian halnya dengan Kosovo-Metohija. Perlawanan mereka kemudian kembali meledak di awal tahun ini, melahirkan babak baru Perang Balkan. Separatisme Kosovo-Metohija dipolitisasi dengan cukup canggih oleh Milosevic, sehingga citra yang muncul adalah: gerakan separatisme itu kejam, membahayakan golongan minoritas Serbia di Kosovo-Metohija. Maka setiap kali Milosevic atau pejabat pemerintah lain berkunjung ke kawasan Serbia di Kosovo, mereka selalu mencitrakan diri sebagai pelindung kaum minoritas dari ancaman mayoritas etnis Albania. Logika dunia memang acap bertolak belakang dengan logika Milosevic. Persoalan dalam predikat dengan awalan "me-", bagi Milosevic bisa berubah menjadi "di-", demikian pula sebaliknya. Ia yang delapan tahun lalu gagal membendung aspirasi warga Slovenia, Kroasia, Bosnia-Hersegovina, dan Macedonia, kali ini menempuh segala cara untuk tetap mempertahankan Kosovo-Metohija. Sejarawan Universitas Oxford, Timothy Gaston Ash, menyimpulkan langkah yang ditempuh Milosevic sama dengan Hitler saat berekspansi atas nama ideologi dan nasionalisme. Milosevic terobsesi mewujudkan Serbia Raya, walau dengan memunguti puing-puing kehancuran Yugoslavia. Maka tanpa mempedulikan PBB ia mendefinisikan wilayah kekuasaannya: Republik Federal Yugoslavia, yang mencakup kawasan Serbia-Montenegro, dan Kosovo-Metohija. Inilah dua republik yang tersisa dari enam buah sebelum Juni 1991, yang dulu tergabung dalam Republik Federal Sosialis Yugoslavia. Sementara PBB menganggap, dengan wilayah yang sekarang sangat berbeda, tak ada satu pihak pun yang layak mengaku jadi penerus Republik Federal Sosialis Yugoslavia. Jelas, banyak orang mencibir Milosevic. Gagasan itu tak lebih dari impian semu dan buah dendam tak kesampaian. McGeary menambahkan, jiwa sakit seperti yang sedang diidap Milosevic tak usahlah ditanggapi. Diktator yang dalam sepuluh tahun terakhir telah memprakarsai 4 peperangan namun 3 di antaranya berakhir dengan kekakalahan, akan menempuh seribu cara untuk memenangkan perang ini. Seribu cara termaksud, seperti dijelaskan oleh Dusan Stojanovic, berwujud pelanggaran serius hak asasi manusia serta pendobrakan prinsip-prinsip demokrasi ("Yugo Students Protest Rulings", The Associated Press 25 November 1996). Orang tuanya bunuh diri Lahir pada 20 Agustus 1941 di Pozarevac, salah satu kota miskin berpenduduk 20.000 orang di Serbia, Slobodan terbilang anak biasa-biasa saja. Ia dikenal tertib, tak suka olahraga karena akan merusak dandanannya yang selalu kuno dan rapi. Teman-temannya menduga Slobodan akan jadi juru tulis atau petugas administrasi pemerintah. Sewaktu muda Slobodan tak banyak bergaul. Satu-satunya teman dekat di sekolah menengah ya cuma Mirjana Markovic, gadis yang juga punya riwayat kekerasan, karena ibunya, aktivis komunis, menjadi martir bagi Serbia dalam PD II. Keduanya menikah dan masuk ke Universitas Beograd. Slobodan belajar hukum, sedangkan Mirjana memperdalam politik hingga lulus doktor dan jadi profesor dalam bidang ideologi marxisme. Belakangan Mirjana memimpin partai Yugoslav United Left (JUL). Di Fakultas Hukum, Slobodan berteman dengan Ivan Stambolic yang saat itu tengah merintis jalan politik di satu-satunya jalur kaderisasi, yakni Partai Komunis. Selulus kuliah, 1964, Slobodan terus mengikuti Stambolic dan jadi pendukung potensial bagi kesuksesannya. Dalam beberapa hal Milosevic bahkan lebih keras dari atasannya. Ia, misalnya, memaksa Stambolic yang tahun 1985 terpilih jadi Presiden Serbia, membentuk Komite Sentral Partai Komunis dengan Slobodan ketuanya. Begitu terpilih, Slobodan menempuh jalan kebijakan sendiri yang berbeda dengan Partai Komunis Uni Soviet. Rupanya, Stambolic setuju dengan kiprah Slobodan. Orang kepercayaannya itu diutus ke Kosovo untuk membereskan konflik antaretnis. Lagi-lagi caranya radikal, yakni menyemangati minoritas Serbia dengan ucapan, "Mulai sekarang, tak ada lagi ancaman bagi Anda, karena saya ada di sini!" Karuan saja, orang mengelu-elukannya, "Slobo, Slobo!" Slobodan tak selamanya terlibat dalam kegiatan politik. Setelah jadi penasihat ekonomi walikota Beograd, tahun 1973 ia ditunjuk untuk memimpin perusahaan negara Tehnogas. Lima tahun kemudian, 1978, ia memimpin Beobank, kependekan dari The United Bank of Belgrade, juga selama 5 tahun. Selama menjadi pengusaha, wawasan internasionalnya maju pesat karena sering melancong ke banyak negara. Begitu pun halnya dengan Mirjana, serta anak laki-laki dan perempuan mereka. Sesuatu yang menimbulkan rasa iri di kalangan teman-teman sekolah mereka. Namun dalam ideologi Milosevic tak berubah. Tahun 1984 ia memimpin Partai Komunis Beograd, dan tiga tahun kemudian menjadi ketua Partai Komunis seluruh Serbia. Ambisinya terus menggunung. Diramu dengan kecerdikan, jabatan Presiden Serbia pun beralih dari bekas atasannya, Stambolic, kepada dirinya pada 1989. Tahun 1991, pemisahan diri bekas republik dalam Federasi Yugoslavia, dihadapi Milosevic dengan senjata. Ia, yang menurut Dennison Rusinow dalam Microsoft Encarta 1997, terobsesi oleh keperkasaan ekspansi Nazi, melakukan segala cara untuk mempertahankan bekas wilayah Yugoslavia. Apa mau dikata, kemerdekaan Kroasia tak terbendung. Demikian pula Bosnia-Herzegovina. Ada dendam yang tersimpan atas kekalahan ini, sekalipun dalam penampakan luar tak terlihat. Yang paling merasakan akibatnya adalah warga di wilayah kekuasaannya. Di dalam negeri jumlah musuhnya makin bertambah. Tetap saja, itu diolahnya menjadi kartu-kartu permainannya. "Tokoh di balik kekuasaan dia adalah istrinya. Slobodan tak pernah seratus persen mempercayai orang lain, kecuali istrinya sendiri," komentar penulis biografi Slavoljub Djukic. "Dia paham betul karakter serta mental orang Serbia dan Kosovo, sehingga dalam setiap kebijakannya selalu ada pertimbangan psikologis yang sangat matang," ujar Veran Matic, direktur radio independen B-92 yang dimusuhi Milosevic. Sedangkan seorang peninjau internasional berkebangsaan Rusia mengomentari, "Milosevic selalu mengambil keputusan yang lurus. Ia tak peduli kepada saran dan usul, tak pernah bertele-tele dalam menilai, sehingga tak ada rencana jangka panjang bagi Yugoslavia selain ambisinya untuk terus duduk di kursi tertinggi." Milosevic kalah di Kroasia maupun Bosnia, tetapi mengkompensasikan kekalahan itu dengan mewujudkan kembali negara Yugoslavia (sejak 11 April 1992) yang kini tinggal Serbia (jumlah penduduk 10,5 juta orang) dan Montenegro (680.000 orang). Kosovo-Metohija yang berpopulasi hampir 2 juta hampir pasti tak terbendung memerdekakan diri. Mengherankan, posisi Milosevic justru menanjak kendati negaranya terpuruk dalam pelbagai kesulitan. Krisis ekonomi berbuntut menjadi hiperinflasi, sehingga pada Juni 1993 Serbia terpaksa mengganti mata uang - untuk tidak menyebutnya devaluasi. Setiap AS $1 bernilai antara 5 - 8 Yugoslav New Dinars. Sejak 23 Juli 1997 Milosevic dikukuhkan menjadi Presiden Republik Federal Yugoslavia. Namun orang percaya, jabatan itu diraih dengan kecurangan luar biasa. Selain memanipulasi suara, proses kampanyenya pun dia mainkan. Dean E. Murphy, dalam artikel "Yugoslav Opposition Laments Invisibilty" di Los Angeles Times 31 Oktober 1996 mencatat, kontrol yang sangat ketat pada media menyebabkan partai Milosevic, Partai Sosialis Serbia (ini sekadar nama jelmaan dari Partai Komunis), memperoleh peliputan 15 kali lebih banyak daripada partai-partai lain. Temuan hampir sama juga didapat Paul Wood dalam artikel "An Election Waiting for Disaster" di Maclean's Magazine 16 September 1996. Menurut Wood, sekalipun di luar Milosevic meneriakkan demokrasi, ketika pemilihan umum ia mengharuskan partai-partai oposisi membayar AS $20.000 untuk setiap menit peliputan televisi. Begitulah, ketika berkuasa, Milosevic tak segan-segan menggunakan segenap kekuatannya untuk bertahan. Seberapa jauh ia masih akan tegar, barangkali sampai dunia bosan sendiri. Milosevic tak merasa berdosa "menggunakan" warganya sebagai perisai diri dari gempuran peluru NATO dan Amerika, sementara di dunia setiap hari terdengar teriakan tentang hak asasi manusia. (Dari berbagai sumber/SL)
| Boks :
Mereka Cuma Penjahat Dan Perampok | Berangkat
24, Pulang Tinggal 4 | Gara-gara Kekalahan 610 Tahun
Lalu |
|