Keterangan beriklan di site ini logo(1).gif (10626 bytes)
globetiny.gif (852 bytes)N THE NET
tan_obat.jpg (12269 bytes)

TAHUN 2003, WARGA JAKARTA BAKAL KEHAUSAN!

Mantan gubernur DKI Jakarta Surjadi Soedirdja pernah bilang, batas aman cadangan air bersih di Ibu Kota hanya sampai tahun 2003. Empat tahun lagi warga DKI bakal "kehausan"? Itu bisa menjadi kenyataan kalau warga tidak terlibat dalam pencegahan pencemaran air dan perusakan sumber air sedini mungkin, antara lain dengan membuat sumur resapan dan bak penampungan air hujan.

Air bersih vital untuk kebutuhan hidup manusia: minum, mandi, mencuci, memasak, dsb. Tanpa air bersih, kehidupan sehari-hari kita akan terganggu. Keluarga Ibu Ningsih, misalnya, yang mengandalkan air tanah sempat kelabakan gara-gara air sumur pompa listrik tidak mengucur ketika musim kemarau tiba. Warga Cimanggis, Bogor, Jawa Barat ini terpaksa minta air ke tetangga.

Sementara pelanggan air bersih dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) bakal sewot kalau air PDAM kadang-kadang tidak mengalir, atau kalaupun mengalir, warnanya kecoklatan atau kehitaman, berbau, dan rasanya aneh.

Air bersih memang bisa diperoleh dari berbagai sumber. Menurut pengamatan Pusat Penelitian Pengembangan Perkotaan dan Lingkungan (P4L) DKI Jakarta, sekitar 60% penduduk Ibu Kota menggunakan air tanah sebagai suplai air utama. Sisanya mengandalkan PDAM, sumur dangkal, dsb. Bisa dibayangkan, apa yang bakal terjadi bila air bersih dari sumber-sumber itu sulit diperoleh?

Berdasarkan pantauan WHO (Badan Kesehatan Dunia), minimal 50.000 orang di negara berkembang meninggal karena minus air bersih dan kurang fasilitas sanitasi. Angka itu cenderung meningkat. Diperkirakan satu miliar penduduk dunia menjadi korban, terutama di negara berkembang. Hasil penelitian juga menunjukkan, krisis air bersih dapat menurunkan life expectancy (usia harapan hidup) manusia. Jadi, jangan heran bila tingkat usia harapan hidup orang Indonesia termasuk rendah di Asia.

Air sumur tercemar
Pencemaran air tanah dan sungai menjadi salah satu penyebab krisis air bersih tadi. Entah pencemaran oleh warga maupun perusahaan (industri) yang mengabaikan analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL). Belum lagi industri yang menyedot air tanah secara liar. Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup menyebutkan, dari 1.100 pabrik yang menandatangani pernyataan Prokasih (Program Kali Bersih), baru 450 yang menyerahkan data perusahaannya ke Bapedal. Ini berarti, pihak atau kalangan industri kebanyakan belum menghormati masyarakat umum.

Berdasarkan peneliti Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) tahun lalu, 100% dari 100 sampel sumur dangkal di kawasan permukiman seputar Jakarta-Bogor-Tangerang-Bekasi (Jabotabek) sudah tercemar, terutama oleh limbah penduduk, yaitu bakteri coli tinja, di samping zat kimia organik, amonia dan nitrit. Indikator bahwa suatu sumur tercemar limbah penduduk di antaranya ditemukannya bakteri coli tinja antara 30 - 240.000 MPN per 100 ml, dan deterjen 0,07 - 5 mg/liter.

Hasil pantauan terhadap kualitas air sumur gali di Jakarta menunjukkan, sebagian besar contoh air yang diperiksa tercemar zat kimia (zat organik, amonia, nitrit, dan phenol), juga logam berat (kadmium dan merkuri). Keberadaan zat kimia dalam air tentu membahayakan orang yang mengkonsumsinya. Amonia dalam jumlah besar dapat terurai menjadi nitrit dan nitrat. Dalam tubuh, nitrit dari air minum akan bereaksi dengan haemoglobin, sehingga menghambat aliran oksigen dalam darah.

Phenol dengan kadar tertentu bisa bersifat racun dalam tubuh. Sedangkan kadmium, meski dalam dosis kecil, bisa menimbulkan keracunan. Kalau terakumulasi dalam jaringan tubuh akan mengganggu fungsi ginjal, lambung, dan merapuhkan tulang. Begitu pula merkuri, jika terakumulasi dalam tubuh, akan meracuni sel-sel tubuh, merusak ginjal, hati, dan saraf, serta menimbulkan cacat mental.

Membuat sumur resapan
Pengerasan tanah akibat pendirian gedung-gedung perkantoran, kompleks perumahan, dan lapangan parkir, serta pengerasan lainnya juga memberi andil dalam terjadinya krisis air. Pengerasan tadi membuat daerah resapan air hujan kian berkurang, sehingga terjadi ketidakseimbangan sistem input dan output air tanah. Air hujan yang mengguyur kota akan langsung mengalir sebagai air permukaan, menuju selokan atau sungai hingga ke laut.

Di pihak lain, eksploitasi air tanah secara besar-besaran oleh industri semakin memprihatinkan, dan ini akan menimbulkan penurunan air tanah. Akibat yang paling nyata berupa penurunan permukaan tanah. Dalam hal ini, Jakarta bisa menjadi contoh kasus yang berat. Akibat pengeboran dan pemakaian air bawah tanah di DKI Jakarta, sejumlah wilayahnya mengalami penurunan permukaan tanah. Di wilayah Senayan III, Jaksel, permukaan tanah turun 61 cm, Kebonkacang, Jakpus (14 cm), Ancol - Gunung Sahari (45 cm), dan Pulogadung, Jaktim (40 cm). Hal ini juga menyebabkan permukiman di daerah setempat tergenang air saat musim hujan.

Penurunan air tanah juga memberi dampak perembesan (intrusi) air laut sampai jauh ke daratan. Nyaris semua kota dekat pantai mengalami intrusi air laut. Misalnya, Jakarta, Bekasi, Tangerang, Yogyakarta, Surabaya. Kondisi yang sama juga terjadi pada daerah lain yang dipengaruhi oleh pasang air laut.

Bagi Jakarta, keadaan sudah mencapai tahapan sangat sulit. Seluruh permukaan DKI pada saat ini cuma sanggup menyerap sekitar 800 juta m3 air hujan. Persediaan itu berupa air hujan yang jatuh/terserap ke dalam tanah bagian lapisan dangkal (760 juta m3) dan bagian lapisan dalam (40 juta m3). Namun, sebagian air dalam tanah itu telah tercemar oleh intrusi air laut, yang beberapa waktu lalu merembes atau memasuki kawasan Sarinah, Jakarta Pusat. Intrusi air laut bertambah cepat gara-gara penyedotan air tanah oleh industri yang kian menjamur. Saat ini, menurut data PDAM DKI, di Jakarta sudah mencapai 2.851 titik sumur bor yang terdaftar.

Karena itu, tekad Pemda DKI yang akan mengembalikan lahan taman seluas 54 ha yang sudah berubah fungsi patut kita dukung. Sebab, taman atau hutan kota sangat besar peranannya dalam usaha untuk melestarikan air tanah. Bekas taman seluas itu tersebar di lima wilayah kota, dan sudah menjadi tempat usaha, bengkel, pompa bensin, dan tempat usaha lainnya.

Sesungguhnya, taman kota di wilayah DKI masih perlu ditambah. Sebab, target luas taman kota seharusnya 10% dari luas DKI Jaya 650 km2, yang berarti sekitar 65 km2, kini baru terpenuhi sekitar 32,5 km2. Kalau upaya Pemda DKI berhasil, lahan daerah resapan air hujan dapat tercukupi.

Di sisi lain, warga Jakarta mestinya juga ikut berperan serta menyelamatkan ketersediaan air. Caranya, dengan ikut beramai-ramai membuat sumur resapan di rumah masing-masing. Sumur resapan itu dirancang agar air hujan yang biasanya mengalir di permukaan tanah sebagai air limpasan bisa meresap masuk dalam tanah menjadi air tanah, lalu menempati lapisan pembawa air. Sumur resapan bisa berfungsi maksimal jika diperhitungkan besarnya curah hujan di kawasan setempat dan jumlah air yang direncanakan akan masuk ke sumur itu. Bentuk dan ukuran sumur resapan dapat ditentukan dengan memperhitungkan dan mempertimbangkan karakter tanah (batuan) dalam meresapkan air. Untuk hal ini bisa diambil contoh pengalaman negara maju, macam Kanada.

Para pengembang perumahan di wilayah DKI pun perlu diajak berdisiplin membangun fasilitas sosial (fasos), yang salah satunya berupa sumur resapan. Andaikata pengembang membangun sumur resapan di setiap proyeknya, maka akan banyak membantu persediaan air tanah, sekaligus ikut mengendalikan banjir tahunan.

Di Jakarta tanggung jawab sosial yang layak dipenuhi pihak pengembang itu sesuai dengan SK Gubernur DKI sebagai kelanjutan Instruksi Gubernur DKI No. 306/1990 tentang pengendalian dan pengawasan real estate di DKI Jakarta. Pengembang yang membangun fasos sebenarnya tidak dirugikan, sebab biaya pembangunan fasos sudah terkait dalam perhitungan penjualan hasil proyek pembangunan yang diajukan kepada Pemda setempat seperti yang tercantum dalam SIPPT.

Penampung air hujan
Selain menjaga kelestarian ketersediaan air tanah dengan membuat sumur resapan, warga Jakarta atau kota-kota pesisir lainnya juga bisa memanfaatkan air hujan sebagai sumber air bersih. Air hujan memang potensial diproses untuk berbagai macam keperluan. Khususnya untuk daerah yang mengalami krisis air bersih, atau yang mengandalkan air hujan sebagai satu-satunya sumber. Seperti daerah Kalimantan Timur yang mengalami intrusi air laut. Juga Pontianak dan kawasan pantai lainnya yang banyak sumur dangkalnya namun pada bulan-bulan tertentu air tanahnya menjadi asin atau payau karena telah terembesi air laut.

Air hujan juga potensial bagi daerah yang mengandalkan air sumur, namun ketika musim kemarau sumur menjadi kering. Misalnya, Flores. Penduduk wilayah ini sering cemas lantaran hujan di sana berlangsung normal rata-rata 1 - 1,5 bulan, meski hujan di Flores turun merata sejak awal November setiap tahun.

Pemanfaatan air hujan tadi dilakukan dengan membuat reservoir atau bak PAH yang berfungsi sebagai penampung air hujan. Air hujan yang ditampung akan menjadi cadangan air di musim kemarau. Biaya pembuatan bak PAH relatif mahal. Tetapi model PAH dari ferosemen biayanya lebih murah, mudah dibuat, bahan bakunya mudah didapat, konstruksi kuat, tahan lama, dan air yang ditampung pun tak tercemar.

Ferosemen adalah semacam dinding beton tipis dengan tulangan yang berlapis-lapis serta berdiameter kecil. Bahannya terdiri atas semen, kawat ayam, pasir, dan bak berbentuk silinder dengan volume antara 2,5 - 10 m3.

Agar air hujan, khususnya di daerah perkotaan dan industri udaranya banyak mengandung debu dan bakteri, dapat digunakan untuk keperluan minum dan memasak, maka air tampungan harus diolah. Yakni, harus melalui teknik penyehatan.

Tidak seperti air tanah, air hujan kekurangan garam mineral. Jadi, air hujan perlu ditambah garam kalsium. Zat kapur ini dijual oleh pedagang bangunan. Sebelum dilarutkan dalam sejumlah air, zat kapur dibersihkan dari kotoran. Lalu, larutan kapur ini dimasukkan ke dalam bak PAH dan diaduk supaya melarut sempurna. Takarannya, 25 - 100 g kapur untuk setiap 100 l air hujan. Jika kebanyakan, airnya akan terasa pahit. Pembubuhan garam kalsium ini juga untuk membebaskan gas C02 dari dalam air hujan. Gas itu bisa menimbulkan kerusakan pipa, tembok, dan beton.

Air hujan itu juga perlu ditambah kaporit sebagai desinfektan agar bakteri di dalamnya musnah. Takarannya, 1,5 g kaporit per 100 l air hujan cukup memadai. Tetapi karena kaporit yang dijual rata-rata berkadar aktif 35% dari berat total, maka kaporit yang semestinya dilarutkan adalah 4,29 g/100 l air hujan.

Bak PAH dengan kapasitas isi 10 m3 (10.000 l) cukup untuk memenuhi kebutuhan air bagi satu keluarga yang terdiri atas empat orang selama tiga bulan musim kemarau, dengan asumsi kebutuhan air untuk memasak dan minum 5 l/orang/hari. Sebaiknya, volume reservoir PAH perlu ditambah 5 - 10% untuk persiapan kebutuhan air yang lebih banyak, misalnya karena ada pesta, tamu menginap, keperluan hari raya, dsb.

Soal sumber air hujan tak perlu dikhawatirkan. Jumlah curah hujan (CH) di Indonesia, terutama di Pulau Jawa, cukup besar. Menurut Badan Meteorologi dan Geofisika, curah hujan di negeri ini antara 600 - 6.000 mm/tahun, rata-rata 2.420 mm/tahun. Sayang sekali, menurut penelitian Bank Dunia, dari rata-rata 175 miliar m3 air hujan/tahun yang turun dan mengalir di 100 lokasi (21 wilayah) sungai di Pulau Jawa, hanya 126 miliar m3 yang dapat dimanfaatkan, karena sebagian besar air hujan terbuang percuma.

Kelangkaan air bersih terkait dengan masalah ketersediaan air baku yang kian berkurang. Alternatif solusinya terletak pada kondisi air tanah berikut pengelolaannya, khususnya yang berasal dari air hujan antara 6 - 7 bulan per tahun. Sebab, kalau selama kurun waktu itu 50% dari jumlah air hujan bisa ditampung melalui bak penampungan air hujan dan disimpan sebagai air tanah lewat sumur-sumur resapan, akan membantu pemenuhan kebutuhan air tiap hari. Bahkan dapat ikut mengendalikan banjir dan intrusi air laut. (Soekirno dan Kusen Suseno, pemerhati masalah kesehatan dan lingkungan, serta pustakawan pada Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah, LIPI)

Click here to join our mailing list!
Join our mailing list!
rumah intisari on the net CLICK HERE TO VISIT THE TOP 1000!