|
ASMA DI SAAT HAMIL
. "Syukurlah akhirnya saya
berhasil melahirkan dua anak dengan selamat," kata Ade, ibu dua anak
balita, penderita asma sejak berusia 7 tahun. Anak pertama dengan berat 3,55 kg
dilahirkan dengan bedah Caesar. Sementara anak keduanya seberat 3,8 kg malah
lahir secara alami tanpa bantuan zat asam. Seorang ibu yang menderita asma
memang perlu benar-benar mempersiapkan diri begitu merencanakan hamil. Ade
sendiri masuk klab senam asma sejak berencana menikah. "Di situ saya
mendapat latihan relaksasi untuk mengendurkan otot-otot pernapasan,"
katanya. Latihan senam asma memang ditekankan untuk mengefienkan alat
pernapasan, selain untuk meningkatkan ketahanan tubuh pada umumnya. Sebaiknya
latihan dilaksanakan teratur sesuai program dokter, misalnya tiga kali dalam
seminggu. Tapi akan lebih baik bila dijalankan setiap hari. Latihan rutin
seperti itu menurut Ade benar-benar bermanfaat dalam menjaga kebugaran pada
saat hamil dan melahirkan. Selain senam pernapasan, Ade juga
berusaha menghindari hal-hal yang bisa memancing asmanya kumat. "Sedapat
mungkin saya tidak berada di ruangan yang sumpek, lembap, ataupun berdebu,
sebab saya alergi terhadap debu," katanya. Ia pun menjaga diri agar selama
hamil sedapat mungkin tidak tertular penyakit flu. Pilek atau batuk pada
umumnya menyebabkan asmanya kontan kambuh. Seperti yang terjadi saat kehamilan
pertama, tiba-tiba asmanya kumat lantaran dirinya terserang flu. Langsung ia ke
rumah sakit untuk mendapat pertolongan zat asam. Selama hamil ia juga sedapat
mungkin mengesampingkan obat yang tak terlampau diperlukan. Beruntung Ade rajin
berkonsultasi dengan dokternya lewat telepon sehingga setiap masalah yang
menyangkut asmanya bisa cepat ditanggulangi. Pengaruh estrogen dan progesteron Wanita hamil yang menderita asma
memang harus hati-hati. Dalam pengamatan dr. Iris Rengganis dari RS
Ciptomangunkusumo-FKUI, Jakarta, asma ditemukan pada 4 - 7% ibu hamil dan
komplikasi terjadi pada 1% kehamilan. Sementara selama masa kehamilan kondisi
asma seseorang bisa berubah. Dari 1.087 pasien, dilaporkan 36% asmanya membaik,
23% memburuk, dan 41% tidak berubah. Laporan lain menunjukkan perbaikan asma
antara 18 - 69% dan memburuk pada 6 - 42%. Tapi secara umum disepakati bahwa
derajat asma pada ibu hamil, sepertiga membaik, sepertiga memburuk, dan
sepertiga sisanya tetap. Kondisi asma yang memburuk umumnya
muncul pada minggu ke 29-36 masa kehamilan. Sementara pada 4 minggu terakhir
masa kehamilan, keadaan justru membaik. Bahkan, menurut Rengganis, selama
proses persalinan dan kelahiran, hanya 10% ibu hamil penderita asma yang
menunjukkan gejala asma. "Mungkin ini disebabkan oleh membaiknya fungsi
paru," katanya. Asma yang memburuk selama
kehamilan biasanya kembali membaik dalam waktu 3 bulan setelah partus. Asma
yang terjadi pada kehamilan sebelumnya, pada 60% penderitanya akan terulang
lagi pada kehamilan berikutnya. Kendati penyakit asma atau bengek
sudah dikenal sejak 2.000 tahun lalu, sejauh ini penyebab asma masih misteri.
Asma yang dalam bahasa Yunani berarti "sesak napas" dibedakan menjadi
dua macam, yakni asma kardial yang berhubungan dengan kelainan jantung, dan
asma bronkial (intrinsik dan ekstrinsik) yang merupakan penyakit saluran
pernapasan. Jenis terakhir ini penderitanya jauh lebih banyak. Penderita asma
bronkial ekstrinsik, biasanya hipersensitif dan hiperaktif terhadap macam-macam
rangsangan dari luar, seperti debu, cuaca, tungau kapuk, obat nyamuk, tepung
sari, dsb. Gejala asma muncul akibat
menyempitnya saluran pernafasan bagian bawah secara luas yang ditandai dengan
batuk dan mengi. Penyempitan saluran pernafasan ini bisa disebabkan
mengkerutnya otot polos saluran pernafasan, pembengkakan selaput lendir, serta
pembentukan dan timbunan lendir yang berlebihan dalam rongga saluran
pernafasan. Pada umumnya (85%) jenis asma alergik seperti ini banyak terdapat
di negara tropis dan timbul sebelum usia 30 tahun. Sedangkan tipe asma bronkial
intrinsik atau non alergik jumlah penderitanya lebih sedikit. Asma ini umumnya
muncul bila penderita mendapat gangguan psikis, stres, olahraga berat, dan
perubahan cuaca yang drastis. Sifatnya kronis disertai dahak berkelanjutan dan
rentan terhadap aspirin. Menurut Rengganis, perjalanan asma
pada ibu hamil dipengaruhi oleh hormon estrogen dan progesteron yang terus
meningkat. Padahal berbagai teori justru menunjukkan kedua hormon tersebut
mestinya dapat memperbaiki kondisi asma, karena mempunyai efek melemaskan otot
polos dan merilekskan bronkus. Selain itu meningkatnya kadar hormon
prostasiklin (PGI2) ditambah prostaglandin (PGE) juga dapat memperbaiki asma.
Namun di sisi lain, bertambahnya hormon lain seperti PGF2 saat kehamilan, bisa
memperburuk asma. Faktor peningkatan histamin selama
kehamilan yang berasal dari jaringan janin pun mempunyai efek asmogenik.
Demikian juga protein dasar mayor (MBP= major basic protein) yang banyak
ditemukan dalam plasenta, bila sampai masuk ke paru-paru. "Yang penting mengoptimalkan
kesehatan ibu dan janin," papar Rengganis. Menurut dia, dokter perlu
mengetahui pengaruh kehamilan terhadap asma, asma terhadap kehamilan serta
pengaruh obat asma terhadap kehamilan secara individu. Risiko terbesar yang
ditakutkan bila sampai terjadi hipoksia (kekurangan oksigen) lantaran asma
berat yang tidak terkontrol. Untuk mencegah terjadinya serangan
hebat selama hamil hendaknya asma diperiksa dan dipantau sejak awal, termasuk
derajat berat-ringannya asma. Kategori ringan, bila gejala kambuh sampai
terjadinya serangan maksimal dua kali/minggu ditambah batuk dan mengi sehabis
berlatih olahraga. Kondisi sedang, bila gejala timbul lebih dari dua
kali/minggu, kadang disertai gejala sering kencing malam hari. Sementara asma
dikatakan berat, kalau gejala terjadi terus menerus selama seminggu penuh. Janin dipantau Yang penting ibu hamil penderita
asma sebaiknya rajin memeriksakan janinnya sejak awal. Pemeriksaan dengan USG
dapat dilakukan sejak usia kehamilan 12 - 20 minggu untuk mengetahui
pertumbuhan janin. USG dapat diulang pada trisemester ke-2 dan ke-3 terutama
bila derajat asmanya berada pada tingkat sedang - berat. Pemeriksaan janin juga
dapat dilakukan dengan electronic fetal heart rate monitoring untuk
memeriksa detak jantung janin. Selain pemeriksaan teratur, ibu
hamil juga perlu mencermati alergen penyebab tercetusnya asma, seperti:
binatang piaraan, kasur kapuk, termasuk tempat yang lembap. Soalnya, tempat
yang lembab banyak ditumbuhi jamur. Alergen pencetus itu merupakan alergen
poten yang merangsang pembentukan zat antibodi IgE (Imunoglobulin E). Zat
antibodi ini dibentuk untuk menjaga kesehatan tubuh, tetapi adakalanya malah
membawa ulah. Ia terkadang membabi buta, tak tahu mana kawan, mana lawan.
Akhirnya tubuh menjadi korban. Pencetus lain bisa berasal dari latihan olahraga
yang terlalu dipaksakan, infeksi saluran pernapasan (batuk-pilek), perubahan
cuaca, dan emosi. Kebiasaan merokok juga dapat memperburuk asma, karena
memudahkan terjadinya komplikasi bronkitis serta sinusitis. Penderita juga harus berhati-hati
dalam pemakaian obat. Berbagai obat dapat menimbulkan efek sampingan pada janin
ataupun ibu. Misalnya abortus, kematian janin, kelainan kongenital (terutama
pada trisemester pertama), efek terhadap gangguan pertumbuhan janin, dan
gangguan fungsi organ seperti sistem saraf serta otot polos uterus. Walaupun sejumlah ahli menyatakan
sejumlah obat tidak menimbulkan efek sampingan, tapi secara statistik dan
pertimbangan etis tidak dapat dikatakan bahwa semua obat aman. Pada umumnya
pasien dianjurkan menggunakan obat yang memberikan pengaruh pada kadar dalam
darah sesedikit mungkin, seperti obat suntikan, bukan oral. Obat hirup atau inhaler
yang digunakan satu - dua semprotan tiap beberapa menit, juga acapkali bisa
membantu. Penggunaan inhaler harus dipelajari dan dipraktikkan dengan
benar agar bila kumat sewaktu-waktu dapat mengatasi sendiri. Dalam keadaan mendesak, dapat
digunakan obat steroid yang sangat efektif sebagai antiperadangan, baik secara
oral maupun suntikan. Sedangkan obat mengandung tetrasiklin tidak dianjurkan
karena dapat menimbulkan gangguan pertumbuhan tulang pada janin, perubahan
warna gigi dan perkembangan jaringan tak normal khususnya pada email. Bagi ibu menyusui, obat asma yang
mengandung teofilin sebaiknya dihindari, karena masuk ke ASI sehingga bisa
menimbulkan kegelisahan pada bayi. Antihistamin juga kurang baik untuk ibu
menyusui, karena di samping mengurangi produksi ASI dapat menyebabkan bayi
gelisah. Apabila asma kambuh, sementara inhaler
atau obat-obatan di rumah tidak menolong, tentu ibu hamil harus segera dibawa
ke rumah sakit. Mengingat karena pengaruh asam ibu
yang sedang hamil acap kali lebih sensitif dan emosional, pendekatan psikologis
diperlukan. Fisioterapi adakalanya juga perlu untuk membuang dahak yang
berlebihan. Stamina tubuh merupakan faktor
utama lain yang perlu dipertahankan selama hamil. Jalan kaki santai di udara
yang bersih dan segar sangat dianjurkan. Makanan dengan gizi cukup dan sehat
jelas akan menambah kebugaran. Penderita asma yang hamil masih tetap bisa
bekerja di kantor, namun hindarilah ruangan berpolusi tinggi. (Nanny
Selamihardja)
|