MENJADI AYAH YANG HANGAT
Ketika Richard Nixon berhenti
sebagai presiden AS pada 9 Agustus 1974, dia menyampaikan kata perpisahan pada
stafnya di Gedung Putih. Dalam kata sambutannya Nixon ingat akan ayahnya.
"Ayah adalah orang yang hebat," katanya. Kesan Nixon menggambarkan betapa
sosok ayah sangatlah berarti bagi seorang anak. Apakah sang ayah sukses atau
tidak di masyarakat bukanlah soal besar; ayah tetaplah pahlawan bagi
anak-anaknya. Buat anak, ayah adalah kombinasi seorang pahlawan, pembimbing,
penasihat, pelindung, guru, sekaligus kawan. Seorang teman mengisahkan, setiap
hari ia bersama suaminya pergi ke kantor yang kebetulan berlokasi sama.
Menjelang malam mereka baru tiba di rumah. Kedatangan pasutri ini disambut
dengan suka cita oleh anak lelakinya yang berumur 11 bulan di teras rumahnya.
Anehnya, kendati si ibu berada di depan, justru sang ayahlah yang lebih hangat
disambut. "Anak saya baru butuh saya kalau lagi lapar atau sakit,"
kata ibu muda itu. Menjadi ayah yang
"hangat" memang tidak berhenti pada saat anak lahir. Justru ketika
itulah proses awal menjadi ayah yang baik dimulai. Sayangnya, hal itu tidak
mudah untuk dilakukan. Apalagi di luaran tidak tersedia lembaga pendidikan
khusus - lebih-lebih yang formal - untuk melatih atau mempersiapkan seorang
laki-laki menjadi ortu (orang tua) yang baik. Posisi sebagai ortu biasanya
diambil secara otomatis atau begitu saja. Akibatnya, sering terjadi proses
pendidikan terhadap anak juga dilakukan secara otomatis, sadar atau tidak, sama
seperti yang pernah diperoleh dari ortunya dulu. Parenthood Lantaran warisan pendidikan
turun-temurun inilah banyak orang beranggapan, pengasuhan anak dalam keluarga
menjadi porsi ibu. Namun, menurut Irwanto, Ph.D. dari Pusat Kajian Pembangunan
Masyarakat Unika Atmajaya, Jakarta, pandangan itu mulai berubah. Sejak tahun
1997 ada dorongan gerakan partisipasi laki-laki di dalam keluarga. Gerakan di
tingkat dunia ini muncul lantaran selama kurun waktu 15 - 20 tahun terakhir,
terjadi pergeseran konsep dari motherhood menjadi parenthood.
Dalam konsep parenthood, bukan hanya ibu yang penting, tetapi orang tua,
dan orang tua itu dua: ayah dan ibu. Dari sini mulai dikembangkan
konsep orang tua yang baik dan hangat. "Di masa lalu yang namanya ayah itu
selalu ditakuti. Ia juga figur yang dianggap sebagai penanggung jawab moral
keluarga, yang menurunkan nilai-nilai penting pada anak-anaknya. Untuk itu ayah
harus menakutkan. Kalau perlu, ayah tak perlu banyak bicara tapi anak takut,"
urai Irwanto. Dilihat dari trend-nya,
banyak ayah muda masa kini di berbagai belahan dunia merasa tidak adil kalau
harus jadi sosok yang menakutkan. "Masa sosok seorang ayah harus ditakuti
oleh anak-anaknya, sehingga ia diajuhi atau jauh dari anak-anaknya,"
begitu pikir mereka. Dari sini timbul kesadaran bahwa ayah masa kini tidak
ingin seperti ayah zaman dulu. Menurut doktor psikologi bidang
perkembangan anak ini, ayah masa kini mungkin sedikit lebih cerewet tapi jauh
lebih dekat dengan anaknya. Bisa bermain, bisa apa saja, bahkan bisa menjadi
teman bagi anak-anaknya sendiri. Lalu, apa peranan ayah yang
spesifik bagi anak-anaknya? Secara tegas Irwanto menyatakan, ayah berperan
dalam membangun citra diri anak. Khususnya citra diri mengenai kelaki-lakian. Kedua
orang tua diharapkan menunjukkan pada anaknya bahwa tanggung jawab keluarga itu
memang dipikul bersama-sama. Misalnya, mengasuh anak, bernyanyi, bermain dengan
anak-anak. Artinya, wawasan gender dalam peran laki-laki dan perempuan itu
tidak dipersempit, tetapi sebaliknya diperluas. Irwanto tidak menampik pandangan
bahwa menjadi ayah modern sering dihadapkan pada stereotipe tertentu. Misalnya,
kalau anak pegang kepala orang lain (atau orang tua), hal itu dianggap kurang
ajar. Apalagi kalau di Jawa, pegang kepala itu bisa kualat. Nah, untuk menjadi
ayah yang hangat, asumsi semacam itu harus diterjang. Untuk itu perlu
dikembangkan konsep pertemanan di mana ayah tidak selalu memerintah ataupun
melarang, dan sebagai orang tua mereka juga bisa ditegur atau diajak bermain. Salah satu persiapan penting
menjadi ayah yang efektif adalah persiapan sebelum anak lahir. Di sana ayah
belajar memahami anak, misalnya dengan mendengarkan cerita ibu tentang anaknya
yang sedang dikandung, belajar mengganti popok menggunakan boneka, dan
sebagainya. Sayang, banyak laki-laki yang tidak percaya diri untuk mengasuh
anak. Sebaliknya, istri jangan lalu mengejek suaminya, misalnya ketika salah
memandikan bayi. Untuk menjadi ayah yang baik
memang tidak mudah. "Seperti saya yang tukang seminar. Kalau pulang ke
rumah saya sering diprotes anak. Papi tadi omong begitu buktinya begini. Papi
ini katanya psikolog tapi sama anaknya sendiri saja enggak ngerti,"
papar Irwanto mengambil contoh dirinya sendiri menghadapi anaknya yang usia SD,
yang umumnya sangat kritis terhadap ayah. Nah, agar anak tak kecewa, harus
diupayakan menyediakan waktu khusus untuk mereka. Kalau hal ini diabaikan,
orang tua akan sukar untuk bisa dekat dengan anak. Dengan waktu yang terbatas
orang tua tidak bisa berbicara banyak. Dalam arti memberi peluang
seluas-luasnya bagi anak untuk bercerita dan didengarkan. Sebaliknya, seringnya
pertemuan juga tak menjamin keharmonisan apabila di dalamnya selalu diwarnai
percekcokan. "Jadi, waktunya jangan terlalu besar dan mutunya jangan
terlalu buruk," ujar Irwanto. Sempitnya waktu yang sering
dijadikan alasan tidak bisa kontak lebih lama dengan anak sebenarnya dapat
dicarikan jalan keluar. Sekali lagi Irwanto mengambil contoh dirinya sendiri.
Sebagai peneliti senior yang sibuk, ia berusaha selalu menyediakan waktu,
dengan mengantarkan anaknya ke sekolah atau menemani berenang. Apa yang dia
lakukan merupakan salah satu bentuk tanggung jawab sebagai ayah. Soalnya,
selama dua tahun terakhir sebelas kali harus ke luar negeri dalam setahun.
Belum lagi jadwal perjalanan ke luar kota di dalam negeri. "Makanya, kalau
pada hari-hari libur saya diminta sebagai pembicara, saya minta diperbolehkan
membawa keluarga." Secara psikologis pun kalau orang
tua sering bertemu dan berdialog dengan anak, anak akan menghormati orang
tuanya. Dari berbagai literatur terungkap, semakin besar dukungan ayah terhadap
anak, semakin tinggi perilaku positif anak. Jadi, ayah yang selalu mendukung
dan menunjukkan perhatiannya itu akan mereduksi perilaku negatif si anak. Seperti perahu dayung Hubungan antara ayah dan anak ada
yang menggambarkan seperti dua orang yang berperahu dayung, keduanya harus
saling mengisi. Pada suatu saat, sang ayah harus mendayung kuat atau lemah
untung mengimbangi kemampuan mendayung sang anak. Mereka juga harus sering
berkomunikasi satu sama lain bila melalui arus yang deras. Apabila komunikasi
berjalan lancar, maka perjalanan itu akan menyenangkan dan akhirnya sampai ke
tujuan dengan selamat. Dalam pandangan Seto Mulyadi,
psikolog, seorang ayah harus mengenali lima ciri anak untuk dapat membina
komunikasi yang efektif. Yakni menyadari bahwa anak adalah pribadi yang masih
suka bermain, masih terus berkembang, senang meniru, kreatif, dan bukan orang
dewasa mini. Menurut dia, hubungan akan harmonis bila ayah mendengar aktif.
Istilah ini berhubungan dengan proses mendengar di mana penerima berusaha untuk
mengerti perasaan pengirim atau berusaha mengerti arti pesan yang dikirim.
Melalui proses mendengar aktif terjadi semacam katarsis (kelegaan emosional)
pada anak. Dengan begitu ortu memperlihatkan ia menerima perasaan anak,
sehingga anak terdorong untuk dapat menerima perasaan-perasaannya sendiri. Erik Erikson dari Universitas
Harvard mengungkapkan, ayah yang efektif bisa dibentuk bila ia memfokuskan pada
tujuh hal yakni menciptakan relasi yang sehat, menyediakan kebutuhan fisik dan
keamanan, menerima adanya perubahan, menanamkan nilai-nilai moral, menanamkan
nilai spiritual, menggali hal-hal yang menyenangkan, dan membantu anak
mengembangkan kemampuannya. Riset terbaru mengungkapkan, ayah
yang "hangat" membuat anak lebih mudah menyesuaikan diri, lebih sehat
secara seksual, dan perkembangan intelektualnya lebih baik. "Keterlibatan
ayah dalam keluarga akan meningkatkan IQ anak sampai 6 - 7," kata T. Berry
Brazelton, seorang dokter anak. Di samping itu anak akan lebih memiliki rasa
humor, lebih percaya diri, dan punya motivasi belajar. Menurut Dr. Lousi B. Silverstein
dari Universitas New York, AS, ada hubungan langsung antara pertemuan ayah-anak
dan tingginya tingkat agresivitas anak, serta tingkah laku yang cepat dewasa
pada anak perempuan. Cuma masalahnya, bagaimana membina
hubungan mesra antara ayah dan anak? Banyak yang bisa dilakukan, misalnya
dengan bermain bersama, membantu membuat (dalam arti mengajari)pekerjaan rumah,
dan meningkatkan kualitas maupun kuantitas kebersamaan dengan anak di rumah
maupun di luar rumah. Contoh kebersamaan ini antara lain bisa ditempuh dengan
cara seperti yang dilakukan pria profesional muda yang tinggal di bilangan
Bekasi. Ia suka mengajak anaknya yang berumur lima tahun naik kereta api. Bukan
kereta api jarak jauh, tetapi kereta api jurusan Jakarta Kota - Bogor.
"Anak saya senang sekali," katanya. Satu hal yang juga perlu
diperhatikan, jangan sampai kelimpahan materi menggusur hubungan pribadi.
Bekerja keras merupakan keharusan, tetapi setiap ayah perlu menghindari godaan
materi. Ayah yang bijaksana tahu bahwa relasi ayah-anak bukanlah soal material,
tetapi kepuasan hidup. Itu bisa berarti sebuah pilihan. Misalnya saja, mana
yang lebih penting, mempunyai rumah di atas tanah seluas 3.000 m2
dengan kolam renang yang indah, atau membuat setiap penghuni rumah merasa
kerasan tinggal di dalamnya? Atau, mana yang lebih utama, mempunyai dapur yang
indah atau kepastian setiap anggota keluarga bisa duduk bersama saat makan
malam dan berbagi pengalaman? Ayah yang efektif dan ayah yang
tidak efektif bisa dinilai dari kenal-tidaknya mereka pada anaknya. Ayah yang
efektif tahu apakah telah mengecewakan anaknya. Pun dia tahu hal-hal apa saja
yang disukai anaknya. Ayah seperti ini juga tahu perbedaan anaknya dengan
anak-anak tetangga. Mereka pun sangat peduli dengan karakter si anak. Ken R. Canfield, pengarang buku The
Seven Secrets of Effective Fathers yang meneliti 4.000 orang ayah sampai
pada kesimpulan bahwa seorang ayah yang baik tahu keadaan anaknya bila sang
anak tengah menghadapi masalah atau bagaimana harus meneguhkan hati anak. Cara lain membina hubungan yang
lebih baik dengan anak adalah melibatkan mereka dalam pekerjaan ayah.
Kebanyakan anak memandang kantor, pabrik, atau toko tempat ayahnya bekerja
sebagai sebuah tempat asing. Dengan sesekali mengajak anak ke tempat kerja akan
membuat mereka kenal dengan kegiatan ayahnya sehari-hari. (G. Sujayanto) |