Keterangan beriklan di site ini logo(1).gif (10626 bytes)
globetiny.gif (852 bytes)N THE NET
tan_obat.jpg (12269 bytes)

DIOKSIN ADA DI SEKITAR KITA

 

Pencemaran makanan selalu menimbulkan keresahan. Soalnya, selain menyangkut perut, kekhawatiran juga menyangkut nyawa. Setelah kasus sapi gila, kini Eropa melahirkan keresahan baru. Dioksin.

 

Akibat kurang sigap melindungi konsumen negaranya dari ancaman dioksin yang nongol dari negara tetangga, Hayo Apotheker harus mundur dari jabatannya sebagai Menteri Pertanian Belanda. Jean-Luc Dehaena pun kudu berbesar hati menerima kekalahan sebagai Perdana Menteri Belgia dalam pemilu beberapa waktu lalu. Penyebabnya bukan money politics. Tapi, salah satunya, ya itu tadi. Kasus dioksin.

 

Bisa memakan kuku

Kasus ini menambah panjang daftar kasus serupa, dimulai dari Monsanto plant di Nitro, West Virginia, tahun 1949. Akibat kecelakaan di pabrik herbisida 2,4,5-T itu, 250 pekerja terkena penyakit chloracne, penyakit kulit berupa gatal-gatal memerah. Baru tahun 1955, Karl Schultz (seorang dokter Jerman) mensinyalemen bahwa chloracne adalah akibat racun dioksin.

Yang paling terkenal adalah kasus meledaknya pabrik kimia Hoffman-LaRoche di Seveso, Italia, tahun 1976. Akibatnya, sejumlah besar TCDD terlepas sampai ke atmosfer. Di daerah sekitar pabrik, hewan-hewan mati, terjadi destruksi vegetasi, penduduk mengalami keracunan akut, kasus-kasus chloracne, abortus, dan kelainan kongenital. Bahkan penelitian yang dilakukan Bertozzi dkk. pada tahun 1993 menemukan adanya peningkatan kasus kanker.

Penggunaan herbisida Agent Orange dalam Perang Vietnam (1960 – 1970) ternyata juga menyemburkan dioksin. Agent Orange digunakan untuk merontokkan dedaunan agar hutan-hutan Vietnam tidak bisa digunakan untuk bersembunyi tentara Vietkong. Tahun 1983, kantor veteran Chicago mencatat ada 17 ribu lebih veteran yang mengklaim ganti rugi akibat dioksin sewaktu bertugas di Vietnam.

Terbakarnya kabel PVC di Beverly Hills Supper Club bahkan merenggut nyawa 161 orang. Kebakaran tahun 1977 itu menimbulkan asap putih. Menurut salah seorang pekerja di situ, asap pedas yang mengandung gas hidrogen klorida (HCl) itu bisa bereaksi dengan pewarna kuku. Bahkan hasil reaksi tersebut dapat memakan kuku. Ketika terhirup dan masuk ke dalam paru-paru bersama udara yang mengandung air, HCl akan berubah menjadi asam klorida yang korosif. Akibatnya, yang selamat pun mengalami luka parah pada saluran pernapasannya.

Biaya pemulihan daerah yang tercemar dioksin tidaklah sedikit. Kasus di Time Beach, Missouri, pada tahun 1971 bisa menjadi gambaran. Sebuah perusahaan herbisida sembarangan saja membuang sampah industri ke tempat pembuangan oli bekas. Lalu oli bekas tersebut terpakai untuk menyemprot lapangan pacuan kuda, jalanan, serta tempat-tempat berdebu. Selain gangguan berupa chloracne dan radang kandung kemih yang akut, penyemprotan itu juga menimbulkan kematian dan penyakit pada ternak. Daerah tersebut kemudian dibeli oleh EPA (Badan Perlindungan Lingkungan AS) dan biaya yang dikeluarkan untuk membersihkan dioksin mencapai AS $ 100 juta.

Kasus Belgia mirip dengan Time Beach. Lemak yang dipakai dalam pabrik pakan ternak, "tercampur" dengan oli bekas. "Tapi dioksin itu bisa masuk ke rantai produksi tetap tidak jelas," ujar Alejandro Checchi Lang, pejabat senior Komisi Eropa untuk urusan pertanian. Sedangkan menurut Prof. Dr. drh. Mirnawati B. Sudarwanto dari Fakultas Kedokteran Hewan IPB, setiap pembakaran tidak sempurna sesuatu yang mengandung khlor akan menghasilkan dioksin. Nah, oli termasuk kategori ini.

 

Gara-gara tumpahan oli

Dioksin adalah sebutan umum bagi senyawa-senyawa kimia yang ditemukan di lingkungan. Senyawa yang mudah bereaksi ini dihasilkan dari industri yang menggunakan bahan baku mengandung klorin dan karbon.

Jika orang berbicara tentang dioksin, pada umumnya yang dimaksud adalah kelompok chlorodibenzo-p-dioxin (CDD). Dari kelompok ini yang dianggap paling beracun adalah 2,3,7,8-Tetrachlorodibenzo-p-dioxin (TCDD).

Sumber yang dekat adalah industri pestisida, industri kertas dan pulp yang menggunakan pemutih klorin, serta pabrik plastik polyvinyl chloride (PVC). PVC ini sering digunakan dalam kemasan. Juga menjadi bahan baku berbagai produk yang ada di rumah seperti sepatu, sandal, film, kulit imitasi, pipa air, bahan isolasi kabel, karpet, pelapis tekstil, kertas, maupun logam, bahan tenunan, dan sarung tangan. Dalam bahasa awam, setiap produk senyawa kimia organik yang mengandung klor adalah sumber dioksin.

Selain itu alam juga turut menyumbang dioksin. Pundi-pundinya berasal dari kebakaran hutan maupun aktivitas gunung berapi. Dalam tingkatan yang rendah dioksin juga bisa ditemukan di semua lingkungan (udara, air, dan tanah). Karena sifat fisik dan kimianya, dioksin terutama ditemukan di lapisan tanah, sedimen, dan biota. Aktivitas pembakaran sampah plastik juga ditengarai sebagai penyebar dioksin.

Sebenarnya tanpa perlu menengok ke Belgia, di lingkungan sekitar kita banyak sumber dioksin. Apalagi Indonesia memiliki banyak gunung berapi yang aktif. Sebuah kasus pernah diteliti oleh Sontan Sirait dari Bagian Patologi Anatomi FK-UKI Jakarta sehubungan dengan meletusnya Gunung Galunggung, Mei 1982. Kini, setelah 17 tahun berlalu, Sontan menemukan banyak kasus kanker di sana. Mirnawati juga melihat masih dipakainya DDT ("Padahal sudah dilarang.") bisa menambah barisan dioksin.

 

Berpindah lewat plasenta dan ASI

Dioksin merupakan bahan kimia yang sangat stabil dan tahan terhadap proses perusakan alamiah selama bertahun-tahun. Titik cairnya pada suhu 305 oC dan destruksi termal baru terjadi pada suhu 700 oC, sehingga untuk menghancurkannya secara sempurna perlu suhu 1.000 – 1.500 oC. Tidak heran bila EPA memperkirakan waktu paruh dioksin di lapisan tanah antara 10 dan 30 tahun.

Selain itu, dioksin larut dalam lemak dan minyak. Ia tidak larut di air maupun udara. Akibatnya dioksin akan terakumulasi dalam jaringan makhluk hidup dan berlipat dalam konsentrasinya setelah ia naik ke jenjang yang lebih tinggi dalam rantai makanan. Dengan begitu, makhluk hidup terakhir menjadi penampung kandungan dioksin terbesar. Pada posisi inilah manusia berada.

Dengan begitu, mata rantai dioksin dari sumbernya ke manusia tidak saja melalui udara dan air minum. Tapi juga dari sayur, buah, daging, dan bahan makanan lain yang tercemar oleh dioksin. Ini memang jalur kuno bagi material beracun untuk bisa masuk ke tubuh manusia. Bahkan 97,5% dioksin ditemukan pada daging, ikan, dan produk olahan susu. Oleh EPA dioksin dikategorikan hydrophobic. Tak aneh kalau tingkatan dioksin dalam ikan, "100.000 kali lebih banyak dibandingkan dengan lingkungan sekitar," tutur Mirnawati.

Setelah masuk ke dalam tubuh melalui selaput sel, dioksin bersatu dengan protein dasar reseptor. Maka dioksin pun diizinkan masuk ke dalam inti sel. Di sini ia berinteraksi dengan DNA dan menyerang gen yang mengontrol banyak reaksi biokimia seperti sintesa dan metabolisme hormon, enzim, maupun faktor pertumbuhan, sehingga bisa menimbulkan dampak dari kelainan janin sampai kanker.

Yang perlu diperhatikan adalah dioksin bisa berpindah melalui plasenta maupun ASI. Padahal janin maupun bayi sedang pada tahap perkembangan yang krusial. Jika sang ibu terpapar dioksin, maka bayi akan terkena racun dioksin juga. Bahkan homepage Indigineous Environmental Network (http://www.alphacdc.com/ien/dioxin.html) menyatakan, ASI wanita Amerika paling parah konsentrasi dioksinnya, 500 kali lebih tinggi daripada susu sapi.

Tahun 1998 WHO menetapkan ambang batas aman konsumsi dioksin, yakni 1 – 4 pikogram dioksin per kilogram bobot badan. Seandainya Anda memiliki berat badan 60 kg, batas amannya adalah 240 pikogram dioksin. Padahal menurut pemerintah Belgia, ayam yang sudah tercemar memiliki kandungan dioksin sebesar 700 – 1.000 pikogram per satu gram lemak!

 

Merusak kekebalan tubuh

Dengan begitu, berapa ambang batas aman dioksin? Dalam jumlah sedikit saja sudah berbahaya, sementara dalam jumlah besar ia bersifat karsinogenik (menyebabkan kanker). Paparan dalam konsentrasi tinggi akan menimbulkan penyakit kulit chloracne. Penelitian lain juga mengungkapkan bahwa dioksin berpengaruh terhadap hormon reproduksi pria, meskipun hal ini memerlukan penelitian lebih lanjut.

Saat ini, jumlah sperma pria turun hingga 50% dibandingkan 50 tahun silam. Sementara sifat karsinogenik dioksin membuat tingkat kasus kanker prostat naik dua kali lipat dan kanker testis berlipat tiga. Pada perempuan, "kesempatan" untuk terbentuknya kanker buah dada selama hidupnya meningkat dari 5% pada tahun 1960 menjadi 20% pada saat ini.

Senyawa ini juga menyebabkan penyakit endometriosis. Ini adalah keadaan di mana jaringan selaput lendir rahim yang masih berfungsi tumbuh di luar rongga rahim, bisa di indung telur, dinding rahim, rongga panggul, atau tempat lain. Sebelumnya penyakit ini jarang menyerang wanita Amerika. Kini jumlahnya mencapai lima juta. Selain itu masih banyak gangguan-gangguan yang ditimbulkan oleh zat bioakumulasi ini: gangguan perilaku, meningkatnya penyakit kencing manis (diabetes), dan rusaknya kekebalan tubuh cuma sebagian di antaranya. "Jadi bukan hanya AIDS yang bisa merusak kekebalan tubuh," kata Mirnawati.

Karena berlaku seperti "hormon lingkungan", dioksin menimbulkan malapetaka pada banyak proses biokimia alami tubuh.

Wajar jika dioksin menjadi momok. Apalagi 90% (menurut Mirnawati) dioksin masuk ke tubuh manusia melalui makanan. Sisanya baru lewat pernapasan dan kulit. Maka masuk akal jika reaksi terhadap produk makanan daging, susu, dan produk olahannya yang berasal dari negara Eropa agak berlebihan.

 

Ubah pola makan

Bagaimana dengan Indonesia? Dioksin memang masih asing bagi awam. Menurut Mirnawati, mengeliminasi makanan tertentu yang dianggap sebagai sumber residu dioksin tidak akan menyelesaikan masalah, malah justru bisa menambah masalah akibat kurangnya zat makanan tertentu yang esensial. Misalnya susu. Mengeliminasi susu bisa menyebabkan tubuh kekurangan kalsium, atau laktosa, yang sangat dibutuhkan bayi untuk mengembangkan sel-sel otaknya. Solusi yang tepat adalah mencari susu rendah lemak. Skim contohnya. Bagi ibu hamil atau menyusui, jangan minum susu yang full milk. "Yang dibutuhkan ‘kan laktosanya, proteinnya. Enggak perlu lemaknya ‘kan?"

Maka upaya yang bisa dilakukan adalah meminimalkan atau mengurangi paparan dioksin. Caranya bisa dengan memilih potongan daging yang tidak berlemak atau sedikit lemaknya. Anda suka kerupuk kulit? "Itu biangnya," tandas Mirnawati. Upaya lain adalah dengan mengubah pola makan, yakni porsi sedang dan lebih banyak ragamnya. "Dan bagi yang suka sayuran dan buah-buahan, jangan lupa, cucilah sebelum memakannya," usul Mirnawati.

Pencegahan bisa diawali dengan melindungi tubuh dari kontaminan dioksin. Menurut Arnold Schecter, guru besar pengobatan pencegahan dari State University of New York Health Science Center di Binghamton, caranya dengan mengurangi – atau kalau bisa – menghindari konsumsi daging, ikan, dan produk olahan susu. Alasannya, makanan tersebut memiliki konsentrasi dioksin yang lebih tinggi dibandingkan dengan buah-buahan dan sayuran. Asisten Administrator EPA, Lynn Goldman, juga menekankan, kadar dioksin dalam tumbuhan sangat rendah.

Pembakaran sampah plastik juga harus dihindari. Demikian pula dengan kayu yang diawetkan dengan pentachlorphenol. Hati-hati pula terhadap deodoran dan medicated soap yang memakai bahan hexachlorphen dan obat antijamur hexoclorbenzene. Zat-zat tadi, ditambah DDT, aldrin, dieldrin, dan endrin, masuk kategori persistent organic pollutant (POP).

Di luar dampaknya terhadap kesehatan, kasus Belgia memberikan dua pelajaran. Yang pertama bahwa apa yang kita tabur dan tuang ke lingkungan, pada akhirnya akan kembali kepada kita.

Yang kedua, kasus dioksin di Belgia mengungkapkan betapa kekuasaan dapat mengaburkan hati nurani. Sebenarnya kasus ini sudah diketahui jauh sebelumnya. Awalnya adalah sebuah peternakan ayam di Jerman yang curiga mengapa ayam mereka lambat besar dan telurnya sedikit. Setelah ditelusuri, ternyata pakannya mengandung dioksin. "Diusut lagi, pakan itu berasal dari Belgia," kata Mirnawati. Selain ke Jerman, pakan itu diekspor pula ke negara tetangga lain. Jean-Luc Dehaena mencoba memetieskan kasus itu demi pemilu yang sedang dihadapinya. Apa lacur, justru langkah itu yang membuatnya terjungkal. (Yds Agus Surono/Drs. Suharjono,MS,Apt)

 

Click here to join our mailing list!
Join our mailing list!
rumah intisari on the net CLICK HERE TO VISIT THE TOP 1000!