|
DIOKSIN ADA DI
SEKITAR KITA
Akibat kurang sigap melindungi
konsumen negaranya dari ancaman dioksin yang nongol dari negara tetangga, Hayo
Apotheker harus mundur dari jabatannya sebagai Menteri Pertanian Belanda.
Jean-Luc Dehaena pun kudu berbesar hati menerima kekalahan sebagai Perdana
Menteri Belgia dalam pemilu beberapa waktu lalu. Penyebabnya bukan money
politics. Tapi, salah satunya, ya itu tadi. Kasus dioksin. Bisa memakan kuku Kasus ini menambah panjang daftar
kasus serupa, dimulai dari Monsanto plant di Nitro, West Virginia, tahun 1949.
Akibat kecelakaan di pabrik herbisida 2,4,5-T itu, 250 pekerja terkena penyakit
chloracne, penyakit kulit berupa gatal-gatal memerah. Baru tahun 1955, Karl
Schultz (seorang dokter Jerman) mensinyalemen bahwa chloracne adalah akibat
racun dioksin. Yang paling terkenal adalah kasus
meledaknya pabrik kimia Hoffman-LaRoche di Seveso, Italia, tahun 1976.
Akibatnya, sejumlah besar TCDD terlepas sampai ke atmosfer. Di daerah sekitar
pabrik, hewan-hewan mati, terjadi destruksi vegetasi, penduduk mengalami
keracunan akut, kasus-kasus chloracne, abortus, dan kelainan kongenital. Bahkan
penelitian yang dilakukan Bertozzi dkk. pada tahun 1993 menemukan adanya
peningkatan kasus kanker. Penggunaan herbisida Agent Orange
dalam Perang Vietnam (1960 1970) ternyata juga menyemburkan dioksin. Agent
Orange digunakan untuk merontokkan dedaunan agar hutan-hutan Vietnam tidak bisa
digunakan untuk bersembunyi tentara Vietkong. Tahun 1983, kantor veteran
Chicago mencatat ada 17 ribu lebih veteran yang mengklaim ganti rugi akibat
dioksin sewaktu bertugas di Vietnam. Terbakarnya kabel PVC di Beverly
Hills Supper Club bahkan merenggut nyawa 161 orang. Kebakaran tahun 1977 itu
menimbulkan asap putih. Menurut salah seorang pekerja di situ, asap pedas yang
mengandung gas hidrogen klorida (HCl) itu bisa bereaksi dengan pewarna kuku.
Bahkan hasil reaksi tersebut dapat memakan kuku. Ketika terhirup dan masuk ke dalam
paru-paru bersama udara yang mengandung air, HCl akan berubah menjadi asam
klorida yang korosif. Akibatnya, yang selamat pun mengalami luka parah pada
saluran pernapasannya. Biaya pemulihan daerah yang
tercemar dioksin tidaklah sedikit. Kasus di Time Beach, Missouri, pada tahun
1971 bisa menjadi gambaran. Sebuah perusahaan herbisida sembarangan saja
membuang sampah industri ke tempat pembuangan oli bekas. Lalu oli bekas
tersebut terpakai untuk menyemprot lapangan pacuan kuda, jalanan, serta
tempat-tempat berdebu. Selain gangguan berupa chloracne dan radang kandung
kemih yang akut, penyemprotan itu juga menimbulkan kematian dan penyakit pada
ternak. Daerah tersebut kemudian dibeli oleh EPA (Badan Perlindungan Lingkungan
AS) dan biaya yang dikeluarkan untuk membersihkan dioksin mencapai AS $ 100
juta. Kasus Belgia mirip dengan Time
Beach. Lemak yang dipakai dalam pabrik pakan ternak, "tercampur"
dengan oli bekas. "Tapi dioksin itu bisa masuk ke rantai produksi tetap
tidak jelas," ujar Alejandro Checchi Lang, pejabat senior Komisi Eropa
untuk urusan pertanian. Sedangkan menurut Prof. Dr. drh. Mirnawati B.
Sudarwanto dari Fakultas Kedokteran Hewan IPB, setiap pembakaran tidak sempurna
sesuatu yang mengandung khlor akan menghasilkan dioksin. Nah, oli termasuk
kategori ini. Gara-gara tumpahan oli Dioksin adalah sebutan umum bagi
senyawa-senyawa kimia yang ditemukan di lingkungan. Senyawa yang mudah bereaksi
ini dihasilkan dari industri yang menggunakan bahan baku mengandung klorin dan
karbon. Jika orang berbicara tentang
dioksin, pada umumnya yang dimaksud adalah kelompok chlorodibenzo-p-dioxin
(CDD). Dari kelompok ini yang dianggap paling beracun adalah 2,3,7,8-Tetrachlorodibenzo-p-dioxin
(TCDD). Sumber yang dekat adalah industri
pestisida, industri kertas dan pulp yang menggunakan pemutih klorin, serta
pabrik plastik polyvinyl chloride (PVC). PVC ini sering digunakan dalam
kemasan. Juga menjadi bahan baku berbagai produk yang ada di rumah seperti
sepatu, sandal, film, kulit imitasi, pipa air, bahan isolasi kabel, karpet,
pelapis tekstil, kertas, maupun logam, bahan tenunan, dan sarung tangan. Dalam
bahasa awam, setiap produk senyawa kimia organik yang mengandung klor adalah
sumber dioksin. Selain itu alam juga turut
menyumbang dioksin. Pundi-pundinya berasal dari kebakaran hutan maupun
aktivitas gunung berapi. Dalam tingkatan yang rendah dioksin juga bisa
ditemukan di semua lingkungan (udara, air, dan tanah). Karena sifat fisik dan
kimianya, dioksin terutama ditemukan di lapisan tanah, sedimen, dan biota. Aktivitas
pembakaran sampah plastik juga ditengarai sebagai penyebar dioksin. Sebenarnya tanpa perlu menengok ke
Belgia, di lingkungan sekitar kita banyak sumber dioksin. Apalagi Indonesia
memiliki banyak gunung berapi yang aktif. Sebuah kasus pernah diteliti oleh
Sontan Sirait dari Bagian Patologi Anatomi FK-UKI Jakarta sehubungan dengan
meletusnya Gunung Galunggung, Mei 1982. Kini, setelah 17 tahun berlalu, Sontan
menemukan banyak kasus kanker di sana. Mirnawati juga melihat masih dipakainya
DDT ("Padahal sudah dilarang.") bisa menambah barisan dioksin. Berpindah lewat plasenta dan ASI Dioksin merupakan bahan kimia yang
sangat stabil dan tahan terhadap proses perusakan alamiah selama bertahun-tahun. Titik cairnya pada suhu 305 oC dan destruksi termal
baru terjadi pada suhu 700 oC, sehingga untuk menghancurkannya
secara sempurna perlu suhu 1.000 1.500 oC. Tidak heran bila EPA
memperkirakan waktu paruh dioksin di lapisan tanah antara 10 dan 30 tahun. Selain itu, dioksin larut dalam
lemak dan minyak. Ia tidak larut di air maupun udara. Akibatnya dioksin akan
terakumulasi dalam jaringan makhluk hidup dan berlipat dalam konsentrasinya
setelah ia naik ke jenjang yang lebih tinggi dalam rantai makanan. Dengan
begitu, makhluk hidup terakhir menjadi penampung kandungan dioksin terbesar.
Pada posisi inilah manusia berada. Dengan begitu, mata rantai dioksin
dari sumbernya ke manusia tidak saja melalui udara dan air minum. Tapi juga
dari sayur, buah, daging, dan bahan makanan lain yang tercemar oleh dioksin.
Ini memang jalur kuno bagi material beracun untuk bisa masuk ke tubuh manusia.
Bahkan 97,5% dioksin ditemukan pada daging, ikan, dan produk olahan susu. Oleh
EPA dioksin dikategorikan hydrophobic. Tak aneh kalau tingkatan dioksin
dalam ikan, "100.000 kali lebih banyak dibandingkan dengan lingkungan
sekitar," tutur Mirnawati. Setelah masuk ke dalam tubuh
melalui selaput sel, dioksin bersatu dengan protein dasar reseptor. Maka
dioksin pun diizinkan masuk ke dalam inti sel. Di sini ia berinteraksi dengan
DNA dan menyerang gen yang mengontrol banyak reaksi biokimia seperti sintesa
dan metabolisme hormon, enzim, maupun faktor pertumbuhan, sehingga bisa
menimbulkan dampak dari kelainan janin sampai kanker. Yang perlu diperhatikan adalah
dioksin bisa berpindah melalui plasenta maupun ASI. Padahal janin maupun bayi
sedang pada tahap perkembangan yang krusial. Jika sang ibu terpapar dioksin,
maka bayi akan terkena racun dioksin juga. Bahkan homepage Indigineous
Environmental Network (http://www.alphacdc.com/ien/dioxin.html) menyatakan, ASI
wanita Amerika paling parah konsentrasi dioksinnya, 500 kali lebih tinggi
daripada susu sapi. Tahun 1998 WHO menetapkan ambang
batas aman konsumsi dioksin, yakni 1 4 pikogram dioksin per kilogram bobot
badan. Seandainya Anda memiliki berat badan 60 kg, batas amannya adalah 240
pikogram dioksin. Padahal menurut pemerintah Belgia, ayam yang sudah tercemar
memiliki kandungan dioksin sebesar 700 1.000 pikogram per satu gram lemak! Merusak kekebalan tubuh Dengan begitu, berapa ambang batas
aman dioksin? Dalam jumlah sedikit saja sudah berbahaya, sementara dalam jumlah
besar ia bersifat karsinogenik (menyebabkan kanker). Paparan dalam konsentrasi
tinggi akan menimbulkan penyakit kulit chloracne. Penelitian lain juga
mengungkapkan bahwa dioksin berpengaruh terhadap hormon reproduksi pria,
meskipun hal ini memerlukan penelitian lebih lanjut. Saat ini, jumlah sperma pria turun
hingga 50% dibandingkan 50 tahun silam. Sementara sifat karsinogenik dioksin
membuat tingkat kasus kanker prostat naik dua kali lipat dan kanker testis
berlipat tiga. Pada perempuan, "kesempatan" untuk terbentuknya kanker
buah dada selama hidupnya meningkat dari 5% pada tahun 1960 menjadi 20% pada
saat ini. Senyawa ini juga menyebabkan
penyakit endometriosis. Ini adalah keadaan di mana jaringan selaput lendir
rahim yang masih berfungsi tumbuh di luar rongga rahim, bisa di indung telur,
dinding rahim, rongga panggul, atau tempat lain. Sebelumnya penyakit ini jarang
menyerang wanita Amerika. Kini jumlahnya mencapai lima juta. Selain itu masih
banyak gangguan-gangguan yang ditimbulkan oleh zat bioakumulasi ini: gangguan
perilaku, meningkatnya penyakit kencing manis (diabetes), dan rusaknya
kekebalan tubuh cuma sebagian di antaranya. "Jadi bukan hanya AIDS yang
bisa merusak kekebalan tubuh," kata Mirnawati. Karena berlaku seperti
"hormon lingkungan", dioksin menimbulkan malapetaka pada banyak
proses biokimia alami tubuh. Wajar jika dioksin menjadi momok.
Apalagi 90% (menurut Mirnawati) dioksin masuk ke tubuh manusia melalui makanan.
Sisanya baru lewat pernapasan dan kulit. Maka masuk akal jika reaksi terhadap
produk makanan daging, susu, dan produk olahannya yang berasal dari negara
Eropa agak berlebihan. Ubah pola makan Bagaimana dengan Indonesia?
Dioksin memang masih asing bagi awam. Menurut Mirnawati, mengeliminasi makanan
tertentu yang dianggap sebagai sumber residu dioksin tidak akan menyelesaikan
masalah, malah justru bisa menambah masalah akibat kurangnya zat makanan
tertentu yang esensial. Misalnya susu. Mengeliminasi susu bisa menyebabkan
tubuh kekurangan kalsium, atau laktosa, yang sangat dibutuhkan bayi untuk
mengembangkan sel-sel otaknya. Solusi yang tepat adalah mencari susu rendah
lemak. Skim contohnya. Bagi ibu hamil atau menyusui, jangan minum susu yang full
milk. "Yang dibutuhkan kan laktosanya, proteinnya. Enggak perlu
lemaknya kan?" Maka upaya yang bisa dilakukan
adalah meminimalkan atau mengurangi paparan dioksin. Caranya bisa dengan
memilih potongan daging yang tidak berlemak atau sedikit lemaknya. Anda suka
kerupuk kulit? "Itu biangnya," tandas Mirnawati. Upaya lain adalah
dengan mengubah pola makan, yakni porsi sedang dan lebih banyak ragamnya.
"Dan bagi yang suka sayuran dan buah-buahan, jangan lupa, cucilah sebelum
memakannya," usul Mirnawati. Pencegahan bisa diawali dengan
melindungi tubuh dari kontaminan dioksin. Menurut Arnold Schecter, guru besar
pengobatan pencegahan dari State University of New York Health Science Center
di Binghamton, caranya dengan mengurangi atau kalau bisa menghindari
konsumsi daging, ikan, dan produk olahan susu. Alasannya, makanan tersebut
memiliki konsentrasi dioksin yang lebih tinggi dibandingkan dengan buah-buahan
dan sayuran. Asisten Administrator EPA, Lynn Goldman, juga menekankan, kadar
dioksin dalam tumbuhan sangat rendah. Pembakaran sampah plastik juga
harus dihindari. Demikian pula dengan kayu yang diawetkan dengan pentachlorphenol.
Hati-hati pula terhadap deodoran dan medicated soap yang memakai bahan hexachlorphen
dan obat antijamur hexoclorbenzene. Zat-zat tadi, ditambah DDT, aldrin,
dieldrin, dan endrin, masuk kategori persistent organic pollutant (POP). Di luar dampaknya terhadap
kesehatan, kasus Belgia memberikan dua pelajaran. Yang pertama bahwa apa yang
kita tabur dan tuang ke lingkungan, pada akhirnya akan kembali kepada kita. Yang kedua, kasus dioksin di
Belgia mengungkapkan betapa kekuasaan dapat mengaburkan hati nurani. Sebenarnya
kasus ini sudah diketahui jauh sebelumnya. Awalnya adalah sebuah peternakan
ayam di Jerman yang curiga mengapa ayam mereka lambat besar dan telurnya
sedikit. Setelah ditelusuri, ternyata pakannya mengandung dioksin. "Diusut
lagi, pakan itu berasal dari Belgia," kata Mirnawati. Selain ke Jerman,
pakan itu diekspor pula ke negara tetangga lain. Jean-Luc Dehaena mencoba
memetieskan kasus itu demi pemilu yang sedang dihadapinya. Apa lacur, justru
langkah itu yang membuatnya terjungkal. (Yds Agus Surono/Drs.
Suharjono,MS,Apt) |