EMMY HAFILD: SUKA MEMANJAT POHON KARET
. Anda
yang mempunyai jiwa pemberontak, pertahankanlah! Itulah pelajaran yang bisa
ditarik dari seorang Emmy Hafild (40), direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia
(Walhi). Wanita berjiwa pemberontak ini beberapa bulan lalu dinobatkan oleh
majalah Time sebagai Heroes for The Planet bersama Russel Mittermeier
(AS), Dune Lankard (Suku Indian Eyak di Alaska), Mark Plotkin (AS), dan Wangari
Mathaai (Kenya). Karena sifatnya itu, dalam wacana pengandaian, Emmy menyatakan
tidak mau menjadi menteri. Sekalipun itu dalam bidangnya, lingkungan hidup.
"Nanti saya malah dimusuhi menteri lain. Malah merusak sistem,"
begitu alasannya. Radikalisme kita diakuiAtas
penobatannya oleh majalah mingguan bergengsi itu, ibu dua anak, Arista dan
Radinka, ini tak menunjukkan mimik terkejut. Bahkan, ia menyikapinya dengan
rendah hati. "Bagi saya, itu bukan buat saya pribadi. Harus dilihat secara
keseluruhan. Itu adalah kemenangan gerakan lingkungan," kilahnya. Bisa
dimaklumi memang, mengingat Time adalah majalah kanan dan menjadi mainstream.
Dalam sisi pandang majalah ini, gerakan lingkungan dilihat sebagai gerakan
radikal. Digambarkan bahwa untuk menyelamatkan pohon, aktivis gerakan
lingkungan akan memeluknya erat-erat. "Yah, begitulah konotasi
mereka," tutur Emmy. Bahwa
kemudian melalui lima orang tadi Time melakukan peliputan khusus
bertajuk "Heroes for The Planet", di situlah letak kemenangan itu.
Pada akhirnya, gerakan radikal tadi diterima oleh kelompok mainstream. Begitu
pula dengan pemerintah Indonesia. Apa yang dulu mustahil, kini bisa terlaksana.
"Seminggu lalu kami diundang Lemhanas (Lembaga Ketahanan Nasional - Red.)
untuk berbicara mengenai konflik politik," katanya. Sebuah kemajuan yang
berarti mengingat dulu tidak ada birokrat yang mau mengajak mereka bicara. Emmy
pernah merasa sangat down dengan pemerintah. Walhi dianggap sebagai LSM
bermasalah, tanpa dijelaskan di mana masalah itu. Pola lama yang membuat
direktur Walhi periode 1996 - 1999 ini dilarang masuk ke Departemen Kehutanan
RI. "Kami mengharapkan waktu itu Pak Jamaludin (menteri kehutanan waktu
itu - Red.) bisa berani. Tapi ternyata ia harus berhati-hati juga." Jadi,
"Ketika kami menerima 'penghargaan' dari luar negeri untuk perjuangan kami
di dalam negeri, ya sangat berartilah buat kita." Penobatan itu menjadi
semacam bonus, dorongan bagi gerakan lingkungan. Setidaknya bisa mengangkat
citra Walhi. "Memang kita radikal, tapi radikal kita diakui." Radikalisme
Emmy, yang didukung pula oleh rekan-rekannya, pada kelestarian alam itu memang
tak tumbuh begitu saja. Time menggambarkan masa kecil Emmy sebagai Jungle
Book. Ia memang dilahirkan di sebuah perkebunan di daerah Sumatra Utara.
Sebagai "anak kebon" (istilah untuk mereka yang tinggal di
perkebunan) yang memberikan banyak privilege (apalagi waktu itu zaman
sulit), tentu lingkungan permainan Emmy tak jauh dari perkebunan.
"Memanjat pohon karet, berenang di kali sambil menangkap kecebong, mencari
biji karet," ujarnya menyebut beberapa kegiatan keseharian di masa
kanak-kanaknya. Keistimewaan
lain sebagai anak pegawai perkebunan adalah hak libur setahun dua kali. Saat
itulah ia bisa dengan puas menyelami keindahan lingkungan alam Danau Toba atau
Brastagi. "Danau Toba saat itu sangat jauh berbeda dengan sekarang. Air
sungai kecil yang jernih mengalir di belakang rumah penduduk sebelum bermuara
ke danau terbesar di Indonesia itu. Makanya, saya sangat marah dengan Inti
Indorayon. Marah juga dengan Otorita Asahan. Air terjun dulu sangat indah.
Sekarang tidak bisa dilihat lagi." Kombinasi
persentuhan dengan lingkungan, beberapa keistimewaan yang tidak semua orang
bisa memperolehnya, serta saksi mata perubahan lingkungan yang menuju
kerusakan, membuat Emmy bertekad membalas itu semua dengan bekerja untuk
publik. Sementara kenangan akan lingkungan yang pernah dilakoninya coba
dibagikan kepada kedua anaknya. Tantangannya
memang tidak sedikit. Apalagi semakin besar, pengaruh lingkungan juga mulai
berperan pada anak-anaknya. "Sekarang ingin ke mal," katanya tentang
kedua anaknya. Tapi setidaknya, ia bisa bangga sebab anaknya lebih aware
terhadap lingkungan dibandingkan dengan teman-temannya. Komentar-komentarnya
juga sudah berwawasan lingkungan. Misalnya, "Wah, enak sekali di sini,
banyak pohonnya." Atau, "Airnya jernih sekali." Memulai menggugat presidenDiakui
Emmy, jiwa pemberontak dalam dirinya tumbuh justru karena sebagai anak bungsu
ia dilindungi. Kepemberontakan inilah yang menyebabkan ia memilih Yayasan
Indonesia Hijau begitu lulus dari Jurusan Agronomi, Institut Pertanian Bogor,
tahun 1982. Di sini ia sempat mengorganisasi program pendidikan lingkungan bagi
siswa SMU sebelum pindah ke SKEPHI (Sekretariat Kerja Sama Pelestarian Hutan
Indonesia). Di
sinilah tapak ke-LSM-annya mulai tampak. Advokasi lingkungan berawal ketika ia
memprotes Bank Dunia yang mengucurkan dana besar-besaran untuk program
transmigrasi tanpa memperhatikan dampaknya terhadap lingkungan dan masyarakat
lokal. Protes itu mendapat perhatian sehingga Emmy diminta bersaksi di depan
Senat AS. Peristiwa ini mencatatkan dirinya sebagai orang asing pertama yang
bersaksi di depan Senat untuk urusan dana bantuan luar negeri dan lingkungan.
Buah dari protes itu adalah dihentikannya bantuan Bank Dunia kepada Indonesia
tahun 1987. Perjuangannya
melawan perusak lingkungan semakin kukuh saja. Ia menggugat Presiden (waktu
itu) Soeharto sehubungan dengan pengalihan dana reboisasi. Menantu mendiang
Letjen HR Dharsono ini tahu bahwa akan kalah di PTUN. Tapi, seperti diakuinya,
dibandingkan jika ia melawan dengan menggelar demonstrasi, jalur hukum lebih
aman. Setidaknya, ia sudah memulai - di saat orang lain tidak berani - untuk
menunjukkan bahwa Soeharto telah melanggar prinsip good governance.
Dalam hal ini, ia merasa berhasil. Akhirnya,
kasus dengan Freeport soal penambangan di Timika, Irian Jaya, menjadi kredit
poin baginya dalam penobatan sebagai Pahlawan Bumi dari majalah Time.
Sungguh tak terbayangkan, Walhi yang bukan apa-apa dalam skala internasional
melawan perusahaan multinasional yang bisnisnya mendunia. Ibarat Daud melawan
Goliat. Kasus
itu semakin parah ketika ia malah dituduh sebagai master mind penculikan
periset internasional pada 1996. Apalagi Freeport juga meminta USAID untuk
menghentikan bantuannya kepada Walhi. Toh semua itu tak membuat gerak master di
bidang lingkungan dari Universitas Wisconsin, AS, ini terhenti. Sementara,
sebagai nakhoda Walhi, Emmy juga berhasil membenahi manajemen Walhi, satu hal
yang menjadi krisis ketika ia diangkat menjadi direktur. Kesulitan uang yang
melanda bisa teratasi dengan masuknya donor dari beberapa negara seperti
Jerman, Amerika, Belanda, Swedia, dan, "Sebentar lagi Inggris,"
tambahnya. Ikut membangun kendaraanEmmy
rupanya tepat dipilih untuk memimpin Walhi. Selain kemampuan manajerial tadi,
wawasannya soal lingkungan hidup juga tak disangsikan lagi. Ini tercermin dari
berbagai pernyataannya menyangkut lingkungan hidup di bumi katulistiwa ini. Menurut
dia, meski kita sudah memiliki menteri lingkungan hidup sejak 1978, konsep
lingkungan itu sendiri belum tertanam dalam benak masyarakat. Kualitas
lingkungan jauh menurun dari Pelita ke Pelita. Di lain pihak, mekanisme
demokrasi tidak tumbuh sama sekali. Jargon demi pembangunan begitu
diagung-agungkan. Itulah sebabnya mengapa suara-suara protes terhadap kerusakan
lingkungan terdengar lemah. Ini
berbeda dengan negara-negara maju. Ambil contoh Greenpeace. Gerakan lingkungan
yang mereka lakukan bisa kuat karena mekanisme demokrasi di negara tempat
Greenpeace itu berada sudah maju, seperti Amerika, Belanda, Inggris, Jerman,
maupun Kanada. "Mekanisme sudah ada, given. Tinggal memanfaatkan
mekanisme itu sebagai kendaraan." Pantaslah
kalau dia menilai tragis (atau mengenaskan?) jika Walhi yang didirikan tahun
1980 harus ikut membangun kendaraan dulu. "Jadi, pekerjaannya itu lebih
sulit. Perjuangannya lebih berat," ungkapnya. Langkah untuk membangun
kendaraan itu adalah dengan menyelenggarakan pendidikan pemilih. Maka
tahun 1996 dijadikan sebagai titik tolak bagi Walhi untuk menjadi bagian dari
gerakan demokrasi melalui pendidikan tadi. Waktu itu dilakukan dengan
diam-diam. Bahkan beberapa kali pertemuan yang dilakukan Walhi dibubarkan
aparat. Berbagai program pun dibuat, seperti pelatihan maupun membuat program
di radio-radio. Misi
waktu itu adalah menanamkan pengertian bahwa Pemilu adalah hak, bukan
kewajiban. Intinya adalah mengajak untuk memboikot. Soalnya, waktu itu Pemilu
kental dengan nuansa rekayasa. "Nah, sekarang misinya lain yaitu
manfaatkanlah Pemilu sebagai pelaksanaan kedaulatan rakyat." Toh,
isu lingkungan masih menduduki porsi terbesar bagi Walhi. Tahun 1996 porsi bagi
pendidikan pemilih hanya 1%, sementara untuk Pemilu Juni 1999 meningkat menjadi
30%. Karena sifatnya long term, maka kegiatan ini akan terus dilakukan
meski Pemilu usai. "Kita akan lebih menekankan kepada parliamentary
watch. Bagaimana wakil-wakil rakyat dipantau. Apa yang dilakukan, apa
kerjaannya, gitulah." Dari
situ diharapkan, DPR kita sudah seimbang dengan pemerintah. Mereka benar-benar
wakil rakyat yang bisa dipercaya, kredibel, punya kualitas. Dengan begitu
mereka bisa menekan pemerintah. Di lain pihak, pengadilan bebas dari intervensi
pemerintah; hakim-hakim menjunjung tinggi keadilan demi rakyat; proses
pengadilan independen. Barulah
Walhi bisa menaiki kendaraan dan melaju seperti Greenpeace. Perlu pendidikan di alamMelalui
pendidikan, LSM pimpinan Emmy ini menaruh harapan. Tahun 1980-an mereka aktif
sekali melakukan kerja sama dengan MAP dan Biosfer-nya UNESCO untuk memasukkan
pendidikan lingkungan ke tingkat SD. "Tapi 'kan konsentrasi Orba
mengindoktrinasi anak SD. Titik beratnya 'kan ke PPKN. Pokoknya ke hal-hal yang
tidak penting. Lingkungan jadi tidak terpikirkan." Itu memang long term.
Di dalamnya terdapat termin-termin jangka pendek seperti perubahan kebijakan
maupun penegakan hukum. Sayang tidak berhasil, sementara yang long term
entah ke mana. Kondisi
diperparah dengan menteri lingkungan hidup yang tidak punya kekuasaan. Ada
undang-undang lingkungan, tapi dibuat sedemikian rupa sehingga tidak berdaya.
Makanya, "Orde Baru itu banci," tegas Emmy. UU yang dibikin hanyalah lips
service, public relations saja. Untuk menunjukkan pada dunia bahwa
Indonesia care terhadap lingkungan. Ada menteri, ada undang-undang. Tapi
semua itu tidak ada artinya. Padahal
orang di balik jabatan itu tak kurang bagusnya. Ambil contoh Emil Salim (mantan
menteri linkungan hidup zaman Orde Baru). Ia yang pertama membangun
dasar-dasarnya, membangun pusat studi lingkungan, serta mengembangkan SDM
dengan melakukan banyak pelatihan dan kursus. Di mata Emmy, Emil bagus dalam public
aware dan mengangkat isu-isu lingkungan. "Tahun 1978 sewaktu ia
diangkat menjadi menteri, orang belum tahu lingkungan. Sekarang sudah." Sayangnya,
implementasi tidak bisa jalan karena tidak adanya otoritas. Departemen
Kehutanan sebagai instansi terkait memiliki dua tugas: melestarikan hutan dan
menghasilkan devisa atau cari duit. Tentu lebih condong ke tugas kedua.
Melestarikan hutan pun dikesampingkan. Sarwono
Kusumaatmadja (juga mantan menteri lingkungan hidup zaman Orba) kemudian
memoles apa yang sudah dilakukan Emil Salim. Ia membuat gebrakan dengan
menerbitkan daftar peringkat perusak lingkungan, meluncurkan program kali
bersih, dll. "Tapi menurut saya, Sarwono itu politikus. Dengan begitu
solusi-solusinya lebih mengarah ke politik." Begitulah,
selama 32 tahun pembangunan berjalan di atas eksploitasi sumber daya alam
(SDA). Rentang waktu yang cukup bagi alam untuk mengatakan lelah. Perlakuan
terhadap SDA sangatlah kasar dan tidak berpola. Asal keruk, asal tebang, asal
menghasilkan devisa. Roda pembangunan bergulir menggilas alam, meninggalkan
luka-luka dengan sedikit pengobatan. Hasilnya? "Hampir
semua sungai di Jawa sudah tercemar (limbah) B3. Sumber air tanah di Jakarta
terpolusi coli," ujar Emmy. Selain itu hutan sedikit demi sedikit
menghilang. Apakah kasus Filipina, di mana dulu menjadi eksportir kayu tropis
terbesar di dunia tapi kini menjadi net importer, akan menimpa
Indonesia? Angka sudah berbicara. Seperti dilansir sebuah harian, produksi kayu
kita hanya 27 juta m3 per tahun. Padahal 80% kapasitas terpasangnya
berjumlah 42,5 juta m3 per tahun. Kerusakan
kualitas lingkungan juga menjadi ironis jika berbicara soal ecotourism
yang sekarang didengung-dengungkan. Kata Emmy, "Modal pariwisata kita
selain kebudayaan adalah keindahan alam." Modal kedua itulah yang tidak
kita jaga. Seharusnya, kita bangga memiliki salah satu coral terindah di
dunia. Sayang, 70%-nya rusak. Demikian pula dengan flora dan fauna. Turis
asing yang menyingkir dari Bali ke arah timur (Lombok, Sumba) mengindikasikan
mereka sudah tidak menikmati Bali dari sisi lingkungan. Ecotourism yang
dikembangkan juga identik dengan tempat terpencil, sulit dijangkau, sehingga
hanya mereka yang memiliki minat khusus saja yang mau mendatanginya.
"Berbeda dengan Ekuador, misalnya. Begitu kita keluar dari Quito, sudah
ada hutan yang sangat baik. Di sini kalau mau melihat hutan, harus ke Gunung
Gede atau Pangrango dan setengah mati jalannya." Maka
sangat sulit untuk menanamkan soal lingkungan kepada anak kita. Memang
pelajaran soal itu sudah mereka terima melalui beberapa pelajaran seperti Ilmu
Pengetahuan Sosial, Geografi, dan Ilmu Pengetahuan Alam. Sayang, itu hanya
teoritis. Padahal anak butuh contoh, butuh merasakan sendiri,
"membaca" sendiri melalui "kaca matanya". Masa
kecil Emmy Hafild adalah contohnya. Dengan menyentuh sendiri sesosok tanaman,
melihat sendiri aliran air sungai yang jernih, mendengar sendiri kicauan
burung, dan merasakan sejuknya berdiri di bawah tajuk pepohonan, kecintaan pada
alam tentu akan tumbuh. Bukan tak mungkin emmy hafild-emmy hafild lain nanti
bermunculan. (Yds Agus Surono) |