%@ Language=JavaScript %>
ISU KOSMETIK MARAKKAN BISNIS JANGKRIK
Entah
kapan mulainya dan siapa yang memulai, beberapa bulan terakhir tahu-tahu nama
insekta ini naik daun. Banyak digunjingkan dan diberitakan di koran dan
majalah sebagai komoditas yang menjanjikan keuntungan menggiurkan. Untuk
dijual di pasar lokal maupun, konon, untuk ekspor. Kebutuhan pasar begitu
besarnya sementara pasokannya masih sangat terbatas. Kursus dan pelatihan pun
tak pelak merebak. "Kursus
ini untuk menambah penghasilan keluarga, tidak muluk-muluk untuk
ekspor," kata Indrayana, penyelenggara kursus dan pelatihan budidaya jangkrik
di Hotel Santika, Jakarta, bulan lalu. "Sebagai usaha rumah tangga,
otomatis targetnya, ya, pasar lokal," tambahnya. "Jangkrik
itu kerakyatan. Cara beternaknya gampang dan murah. Yang mahal,
ilmunya," tambah Ir. Iwan Hardadi, instruktur budidaya jangkrik dari
Surabaya, dalam suatu lokakarya beternak jangkrik di restoran ayam goreng
"Mbok Berek" di Jakarta. Pendapat ketiga "tokoh pengajar" budidaya jangkrik itu benar. Namun, yang menjadi pertanyaan besar setelah para peternak jangkrik berhasil panen adalah: apa satwa bertubuh kecil berwarna hitam kecoklatan itu? Ekspor cuma isu pasar Di
Jerman konon jangkrik digunakan untuk bahan kosmetik. Permintaannya mencapai
sejuta ekor per hari. Asosiasi jangkrik di Indonesia, kabarnya, belum mampu
memenuhi itu. Dikabarkan, jangkrik juga digunakan sebagai bahan campuran
obat-obatan. Sayangnya, kebenaran berita itu masih dipertanyakan.
"Sampai saat ini pasar jangkrik di luar negeri belum gamblang. Juga
permintaan ekspor jangkrik ke Singapura belum jelas. Semua itu masih isu
pasar," kata Indrayana. Permintaan
ekspor ke Jerman pun masih sebatas informasi dari mulut ke mulut. "Kalau
sudah ada yang mengekspor, mereka tentu kekurangan suplai dan pasti pasang
iklan di koran, dicari jangkrik untuk ekspor! Itu logikanya. Saya tidak
menghakimi. Kemungkinan ekspor memang ada. Tapi, ya, jangan mengawang-awang.
Bicara pasar lokal dululah!" sambung Indrayana. Kalau
mau bicara ekspor, menurut Indrayana, kita harus tahu persis kandungan tubuh
jangkrik. Ukuran dan kandungan gizi jangkrik harus homogen (seragam). Lagi
pula, perlu kontinuitas suplai. "Pembeli luar negeri tidak akan mengikat
kontrak kalau tidak kontinu. Dalam 2 - 3 tahun mendatang pun rasanya (kita)
belum mampu ekspor." Menurut
Iwan, yang juga peternak jangkrik di Surabaya, orang boleh saja ngomong
menjual ke sana-sini. Bahkan, koran terbitan Jawa Timur menyebutkan,
Singapura berniat mengimpor jangkrik. "Cuma, kalau (hanya) punya satu
kantung jangkrik, jangan ngomong ekspor ke Singapura. Jadi, ya, jangan mudah
terpengaruh berita di koran." Isu
lain, jangkrik dimanfaatkan untuk bahan kosmetik. Kalau itu benar, kata Iwan,
betapa banyak jangkrik diperlukan. Satu kilogram jangkrik berisi 30.000 ekor.
Harganya, 30.000 x Rp 50,- = Rp 1,5 juta. "Bahan bakunya saja mahal,
lalu akan dijual berapa kosmetik 'jangkrik' itu? Enggak masuk akal. Jangkrik
untuk bahan kosmetik, suatu hal yang mengada-ada," tutur Iwan. Lebih
jauh Hary mengajak untuk tidak mudah terjerumus. "Ekspor tidak semudah
yang dibayangkan. Apa bisa dijamin jangkrik tetap hidup sampai di tempat
tujuan? Dari Semarang ke Jakarta saja banyak yang mati," ujarnya. Ia
menambahkan, peluang ekspor sih ada dan biasanya bukan jangkrik hidup, tapi
tepung jangkrik, untuk kosmetik atau pakan udang. Pernah ada kabar, di
Singapura sepuluh ekor clondo dihargai S $ 1. "Tapi 'kan harus
dicek ke sana, siapa pembelinya? Sebetulnya, daripada berisiko menjual ke
luar negeri, lebih baik memikirkan pasar di dalam yang masih besar,"
saran Hary. Ketika
dikonfirmasi, kabar ekspor ke Hongkong, Jepang, dan Singapura memang masih
samar meski bukan berarti tidak ada. "Daftar eksportir khusus jangkrik
tidak ada di BPEN," kata Sumardi Syam dari BPEN (Badan Pengembangan
Ekspor Nasional). Tiadanya data itu mungkin karena volume ekspornya kecil.
"Dalam perdagangan internasional, kalau nilai ekspor kecil tidak muncul
sebagai komoditas tersendiri. Kalau secara statistik nilainya masih kecil,
dimasukkan ke kelompok lain-lain," jelas Sumardi. Namun, bukan berarti tertutup kemungkinan untuk melakukan ekspor ke luar negeri. Untuk itu, menurut Sumardi, langkah pertama harus mencari info tentang kemungkinan ekspor pada atase perdagangan di negara tujuan ekspor, sambil menyertakan info jumlah jangkrik dan harga yang ditawarkan. "Kalau ada importir yang berminat, pihak atase tentu menawarkan komoditas Anda," jelasnya. Untuk burung dan arwana Pasar
yang sebenarnya, kata Indrayana, adalah pasar lokal, yang umumnya untuk pakan
burung dan ikan arwana. Jangkrik tua bisa untuk pakan ayam. Kabarnya, lele
dumbo dan kodok (bullfrog) juga doyan. Ada pula yang bilang, tepungnya
untuk pakan udang. Bahkan dengar-dengar, di daerah Wonosobo, Jawa Tengah,
jangkrik dibuat rempeyek atau kerupuk. Saat
ini kontinuitas kebutuhan jangkrik belum terjadi. Kebutuhan di Jabotabek
diperkirakan ratusan ribu ekor per hari. Di Surabaya 200 ribu ekor per hari.
Itu kata media massa. "Jadi, kalau dibilang pasarnya enggak jelas,
rasa-rasanya saya tidak sependapat. Pasar jelas! Hanya saja ada kendala pada
distribusinya," tegas Indrayana. Untuk
saat ini, menurut Indrayana, memproduksi indukan paling ideal. Apalagi
sekarang susah mencari indukan alam. Bibit indukan mahal, sepasang bisa Rp
1.000,- - Rp 1.500,- "Untung sih untung, tapi apa tega menjual indukan
hasil tangkaran. Kalau saat ini ada yang menawarkan indukan alam, justru
diragukan. Sebab saat ini bukan musim jangkrik. September, Oktober, baru
musim," jelas Indrayana pada pertengahan Juni silam. Walaupun
bisnis indukan juga bagus, tidak semua orang menjual indukan. Alasannya,
lebih baik indukan dipelihara untuk menghasilkan telur. Makanya,
"Sekarang orang rebutan mencari indukan, dengan tujuan untuk
menghasilkan telur," tutur Hary. Sebenarnya,
indukan turunan ke-4 atau F4 masih bisa produktif. Setelah itu tidak ada
gunanya. Namun, "Saya tidak berani menjual indukan F2 sekalipun. Pembeli
bisa-bisa kecewa karena produktivitasnya sudah menurun," tutur
Indrayana, dari kelompok "1st Team", yang melayani jasa training,
marketing, dan professional, di Jakarta. Yang
menguasai indukan akan mudah memasuki bisnis ini. Tapi lebih cepat untung
kalau memproduksi telur. Umpama saja, kita memelihara 200 ekor indukan.
Seekor jangkrik bertelur 150 - 300 butir (ada yang bilang sampai 600 butir).
Satu sendok makan berisi 1.000 - 1.500 butir telur. Kira-kira 3 - 5 induk
menghasilkan satu sendok telur. Kalau 200 ekor berarti memproduksi sekitar 40
sendok. Kalau satu sendok dihargai Rp 15.000,-, total pemasukan 40 x Rp 15
ribu = Rp 600 ribu. Tapi,
lagi-lagi apakah tega membohongi calon pembeli telur jangkrik? Sebab, menurut
Indrayana, tidak sedikit telur jangkrik di pasar adalah hasil bedah caesar,
yang mungkin belum matang umur. Akibatnya, tidak dapat menetas. Memproduksi
clondo (anakan jangkrik umur 30 - 40 hari) untuk pakan burung dan
arwana memang rendah untungnya, namun paling fair. "Bisnis
jangkrik sesungguhnya adalah bisnis clondo sebagai pakan burung dan
arwana. Tak lebih dari itu," tegas Indrayana. Secara
kasar, menurut perkiraan Indrayana, kebutuhan clondo di Jabotabek 500
ribu ekor per hari. Produksi clondo se-Jabotabek kira-kira 10 ribu
ekor per hari. Dari angka itu, tampak masih besar permintaan pasar clondo
di Jabotabek. Di Jakarta targetnya tentu saja pasar burung di Jl. Pramuka dan
Jl. Barito. Produsen
umumnya menjual clondo ke pedagang di pasar burung. Biasanya, karena
peternak butuh uang dan tanpa jaminan menyetor secara rutin, pedagang burung
seenaknya menawar, semisal Rp 15,- per ekor. Padahal harga yang wajar Rp 35,-
- Rp 50,- seekor. "Pedagang jangkrik di pasar burung punya bargaining
power lebih tinggi daripada pemasok. Kalau pasokan tersendat, ya pedagang
enggak mau membeli!" "Itu
risiko kalau memasarkan sendiri-sendiri. Oleh karena itu perlu pemasaran
kolektif supaya pemasokan bisa kontinu. Kontinuitas bisa juga dilakukan
dengan cara mengatur produksi," kata Indrayana. Kalau
makin banyak peternak jangkrik, apakah pasar suatu ketika tidak jenuh?
"Makin jenuh sih tidak. Karena jangkrik bisa untuk pakan burung berkicau
dan pakan ikan arwana. Bahkan, ada yang dibuat kripik jangkrik. Juga untuk
pakan bullfrog dan udang," kata Hary. Jadi,
lanjut Hary, kalau mau terjun ke bisnis jangkrik, ya jangan terpaku hanya
menjual clondo. Ada kemungkinan bisa menjual telur atau indukan.
Bahkan, bisa juga menjual kandang jangkrik, atau kandang lengkap dengan
aksesori dan bibitnya. (A. Hery Suyono) |