<%@ Language=JavaScript %> ISU KOSMETIK MARAKKAN BISNIS JANGKRIK
Keterangan beriklan di site ini logo(1).gif (10626 bytes)
globetiny.gif (852 bytes)N THE NET
tan_obat.jpg (12269 bytes)

ISU KOSMETIK MARAKKAN BISNIS JANGKRIK


Belakangan ini di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Semarang, dan Bandung, marak dengan kursus dan pelatihan budidaya jangkrik. Tarifnya mulai dari puluhan ribu, ratusan ribu, hingga jutaan rupiah. Lokasinya beragam, mulai kelas rumah makan hingga hotel berbintang. Pesertanya pun banyak. Betulkah bisnis serangga mengerik ini menjanjikan?

 

 

Entah kapan mulainya dan siapa yang memulai, beberapa bulan terakhir tahu-tahu nama insekta ini naik daun. Banyak digunjingkan dan diberitakan di koran dan majalah sebagai komoditas yang menjanjikan keuntungan menggiurkan. Untuk dijual di pasar lokal maupun, konon, untuk ekspor. Kebutuhan pasar begitu besarnya sementara pasokannya masih sangat terbatas. Kursus dan pelatihan pun tak pelak merebak.

"Kursus ini untuk menambah penghasilan keluarga, tidak muluk-muluk untuk ekspor," kata Indrayana, penyelenggara kursus dan pelatihan budidaya jangkrik di Hotel Santika, Jakarta, bulan lalu. "Sebagai usaha rumah tangga, otomatis targetnya, ya, pasar lokal," tambahnya.
Sedangkan Hary K. Nugroho, MBA, penyelenggara kursus budidaya jangkrik di kawasan Kelapa Gading, Jakarta, bilang orang berlomba-lomba beternak jangkrik karena keuntungannya menggiurkan. Pemeliharaannya pun relatif mudah dan sederhana. "Yang terpenting, kita harus telaten," tegasnya.

"Jangkrik itu kerakyatan. Cara beternaknya gampang dan murah. Yang mahal, ilmunya," tambah Ir. Iwan Hardadi, instruktur budidaya jangkrik dari Surabaya, dalam suatu lokakarya beternak jangkrik di restoran ayam goreng "Mbok Berek" di Jakarta.

Pendapat ketiga "tokoh pengajar" budidaya jangkrik itu benar. Namun, yang menjadi pertanyaan besar setelah para peternak jangkrik berhasil panen adalah: apa satwa bertubuh kecil berwarna hitam kecoklatan itu?

 

Ekspor cuma isu pasar

Di Jerman konon jangkrik digunakan untuk bahan kosmetik. Permintaannya mencapai sejuta ekor per hari. Asosiasi jangkrik di Indonesia, kabarnya, belum mampu memenuhi itu. Dikabarkan, jangkrik juga digunakan sebagai bahan campuran obat-obatan. Sayangnya, kebenaran berita itu masih dipertanyakan. "Sampai saat ini pasar jangkrik di luar negeri belum gamblang. Juga permintaan ekspor jangkrik ke Singapura belum jelas. Semua itu masih isu pasar," kata Indrayana.

Permintaan ekspor ke Jerman pun masih sebatas informasi dari mulut ke mulut. "Kalau sudah ada yang mengekspor, mereka tentu kekurangan suplai dan pasti pasang iklan di koran, dicari jangkrik untuk ekspor! Itu logikanya. Saya tidak menghakimi. Kemungkinan ekspor memang ada. Tapi, ya, jangan mengawang-awang. Bicara pasar lokal dululah!" sambung Indrayana.

Kalau mau bicara ekspor, menurut Indrayana, kita harus tahu persis kandungan tubuh jangkrik. Ukuran dan kandungan gizi jangkrik harus homogen (seragam). Lagi pula, perlu kontinuitas suplai. "Pembeli luar negeri tidak akan mengikat kontrak kalau tidak kontinu. Dalam 2 - 3 tahun mendatang pun rasanya (kita) belum mampu ekspor."

Menurut Iwan, yang juga peternak jangkrik di Surabaya, orang boleh saja ngomong menjual ke sana-sini. Bahkan, koran terbitan Jawa Timur menyebutkan, Singapura berniat mengimpor jangkrik. "Cuma, kalau (hanya) punya satu kantung jangkrik, jangan ngomong ekspor ke Singapura. Jadi, ya, jangan mudah terpengaruh berita di koran."

Isu lain, jangkrik dimanfaatkan untuk bahan kosmetik. Kalau itu benar, kata Iwan, betapa banyak jangkrik diperlukan. Satu kilogram jangkrik berisi 30.000 ekor. Harganya, 30.000 x Rp 50,- = Rp 1,5 juta. "Bahan bakunya saja mahal, lalu akan dijual berapa kosmetik 'jangkrik' itu? Enggak masuk akal. Jangkrik untuk bahan kosmetik, suatu hal yang mengada-ada," tutur Iwan.

Lebih jauh Hary mengajak untuk tidak mudah terjerumus. "Ekspor tidak semudah yang dibayangkan. Apa bisa dijamin jangkrik tetap hidup sampai di tempat tujuan? Dari Semarang ke Jakarta saja banyak yang mati," ujarnya. Ia menambahkan, peluang ekspor sih ada dan biasanya bukan jangkrik hidup, tapi tepung jangkrik, untuk kosmetik atau pakan udang. Pernah ada kabar, di Singapura sepuluh ekor clondo dihargai S $ 1. "Tapi 'kan harus dicek ke sana, siapa pembelinya? Sebetulnya, daripada berisiko menjual ke luar negeri, lebih baik memikirkan pasar di dalam yang masih besar," saran Hary.

Ketika dikonfirmasi, kabar ekspor ke Hongkong, Jepang, dan Singapura memang masih samar meski bukan berarti tidak ada. "Daftar eksportir khusus jangkrik tidak ada di BPEN," kata Sumardi Syam dari BPEN (Badan Pengembangan Ekspor Nasional). Tiadanya data itu mungkin karena volume ekspornya kecil. "Dalam perdagangan internasional, kalau nilai ekspor kecil tidak muncul sebagai komoditas tersendiri. Kalau secara statistik nilainya masih kecil, dimasukkan ke kelompok lain-lain," jelas Sumardi.

Namun, bukan berarti tertutup kemungkinan untuk melakukan ekspor ke luar negeri. Untuk itu, menurut Sumardi, langkah pertama harus mencari info tentang kemungkinan ekspor pada atase perdagangan di negara tujuan ekspor, sambil menyertakan info jumlah jangkrik dan harga yang ditawarkan. "Kalau ada importir yang berminat, pihak atase tentu menawarkan komoditas Anda," jelasnya.

 

Untuk burung dan arwana

Pasar yang sebenarnya, kata Indrayana, adalah pasar lokal, yang umumnya untuk pakan burung dan ikan arwana. Jangkrik tua bisa untuk pakan ayam. Kabarnya, lele dumbo dan kodok (bullfrog) juga doyan. Ada pula yang bilang, tepungnya untuk pakan udang. Bahkan dengar-dengar, di daerah Wonosobo, Jawa Tengah, jangkrik dibuat rempeyek atau kerupuk.

Saat ini kontinuitas kebutuhan jangkrik belum terjadi. Kebutuhan di Jabotabek diperkirakan ratusan ribu ekor per hari. Di Surabaya 200 ribu ekor per hari. Itu kata media massa. "Jadi, kalau dibilang pasarnya enggak jelas, rasa-rasanya saya tidak sependapat. Pasar jelas! Hanya saja ada kendala pada distribusinya," tegas Indrayana.

Untuk saat ini, menurut Indrayana, memproduksi indukan paling ideal. Apalagi sekarang susah mencari indukan alam. Bibit indukan mahal, sepasang bisa Rp 1.000,- - Rp 1.500,- "Untung sih untung, tapi apa tega menjual indukan hasil tangkaran. Kalau saat ini ada yang menawarkan indukan alam, justru diragukan. Sebab saat ini bukan musim jangkrik. September, Oktober, baru musim," jelas Indrayana pada pertengahan Juni silam.

Walaupun bisnis indukan juga bagus, tidak semua orang menjual indukan. Alasannya, lebih baik indukan dipelihara untuk menghasilkan telur. Makanya, "Sekarang orang rebutan mencari indukan, dengan tujuan untuk menghasilkan telur," tutur Hary.

Sebenarnya, indukan turunan ke-4 atau F4 masih bisa produktif. Setelah itu tidak ada gunanya. Namun, "Saya tidak berani menjual indukan F2 sekalipun. Pembeli bisa-bisa kecewa karena produktivitasnya sudah menurun," tutur Indrayana, dari kelompok "1st Team", yang melayani jasa training, marketing, dan professional, di Jakarta.

Yang menguasai indukan akan mudah memasuki bisnis ini. Tapi lebih cepat untung kalau memproduksi telur. Umpama saja, kita memelihara 200 ekor indukan. Seekor jangkrik bertelur 150 - 300 butir (ada yang bilang sampai 600 butir). Satu sendok makan berisi 1.000 - 1.500 butir telur. Kira-kira 3 - 5 induk menghasilkan satu sendok telur. Kalau 200 ekor berarti memproduksi sekitar 40 sendok. Kalau satu sendok dihargai Rp 15.000,-, total pemasukan 40 x Rp 15 ribu = Rp 600 ribu.

Tapi, lagi-lagi apakah tega membohongi calon pembeli telur jangkrik? Sebab, menurut Indrayana, tidak sedikit telur jangkrik di pasar adalah hasil bedah caesar, yang mungkin belum matang umur. Akibatnya, tidak dapat menetas.

Memproduksi clondo (anakan jangkrik umur 30 - 40 hari) untuk pakan burung dan arwana memang rendah untungnya, namun paling fair. "Bisnis jangkrik sesungguhnya adalah bisnis clondo sebagai pakan burung dan arwana. Tak lebih dari itu," tegas Indrayana.

Secara kasar, menurut perkiraan Indrayana, kebutuhan clondo di Jabotabek 500 ribu ekor per hari. Produksi clondo se-Jabotabek kira-kira 10 ribu ekor per hari. Dari angka itu, tampak masih besar permintaan pasar clondo di Jabotabek. Di Jakarta targetnya tentu saja pasar burung di Jl. Pramuka dan Jl. Barito.

Produsen umumnya menjual clondo ke pedagang di pasar burung. Biasanya, karena peternak butuh uang dan tanpa jaminan menyetor secara rutin, pedagang burung seenaknya menawar, semisal Rp 15,- per ekor. Padahal harga yang wajar Rp 35,- - Rp 50,- seekor. "Pedagang jangkrik di pasar burung punya bargaining power lebih tinggi daripada pemasok. Kalau pasokan tersendat, ya pedagang enggak mau membeli!"

"Itu risiko kalau memasarkan sendiri-sendiri. Oleh karena itu perlu pemasaran kolektif supaya pemasokan bisa kontinu. Kontinuitas bisa juga dilakukan dengan cara mengatur produksi," kata Indrayana.

Kalau makin banyak peternak jangkrik, apakah pasar suatu ketika tidak jenuh? "Makin jenuh sih tidak. Karena jangkrik bisa untuk pakan burung berkicau dan pakan ikan arwana. Bahkan, ada yang dibuat kripik jangkrik. Juga untuk pakan bullfrog dan udang," kata Hary.

Jadi, lanjut Hary, kalau mau terjun ke bisnis jangkrik, ya jangan terpaku hanya menjual clondo. Ada kemungkinan bisa menjual telur atau indukan. Bahkan, bisa juga menjual kandang jangkrik, atau kandang lengkap dengan aksesori dan bibitnya. (A. Hery Suyono)

 

Boks: Budi Dayanya Mudah dan Murah

Click here to join our mailing list!
Join our mailing list!
rumah intisari on the net CLICK HERE TO VISIT THE TOP 1000!