KENANGA KENANG-KENANGAN Walaupun
televisi pemerintah kita sudah setiap hari menayangkan informasi, slogan,
anjuran, dan imbauan agar kita mempunyai rasa cinta terhadap alam lingkungan,
kesadaran kita untuk melestarikan lingkungan alam tetap rendah. Penebangan
hutan dan pencurian kayu dari hutan masih saja berlangsung. Perusakan tempat
yang sudah dilestarikan, seperti candi, taman kota, dan jalur hijau berjalan
terus. Kecintaan
terhadap alam dan kesadaran untuk melestarikan seharusnya memang sudah
ditanamkan sejak dini pada anak-anak di lingkungan sekolah dasar (SD). Jadi
setelah dewasa, anak itu akan enggan merusak taman, mengotori lingkungan, atau
melakukan perbuatan lain yang mengabaikan pelestarian alam. Tetapi tidak banyak
guru SD yang mempunyai waktu, tenaga, dan pikiran untuk menanamkan rasa cinta
itu pada muridnya. Di
antara ribuan orang guru itu ada seorang yang pantas kita kenang sebagai
perintis usaha penanaman kecintaan terhadap lingkungan pada murid-muridnya. Yaitu
guru kelas V SD kami sendiri, beberapa belas tahun lalu. Ketika
kami duduk di kelas V SD, kami diberi tugas olehnya untuk menanam biji
buah-buahan dalam pot kantung plastik hitam berisi tanah dan pupuk kandang. Pot
harus dibawa ke sekolah. Pada pelajaran IPA tentang Sumber Daya Alam, kami
disuruh membentuk kelompok yang setiap hari bertugas menyiram dan merawat
tanaman itu secara bergilir di halaman sekolah. Tiap murid diwajibkan mencatat
perkembangan masing-masing tanaman "piaraannya". Kapan biji mulai
berkecambah? Seberapa pertambahan tinggi tanaman setiap minggu? Apa ada hama
atau penyakit yang menyerang? Catatan
itu harus kami bawa ke sekolah, dan diperlihatkan kepada Pak Guru untuk
diperbincangkan bersama. Apa ada yang salah, mengapa, dan bagaimana cara
memperbaikinya, itu yang kami diskusikan. Setelah
kami berhasil menanam biji buah dengan baik, Pak Guru menugaskan agar kami
menanam biji buah-buahan apa saja yang kami sukai di halaman rumah sendiri
masing-masing. Caranya seperti yang sudah diajarkan kepada kami itu. Selama
duduk di kelas V sampai dengan kelas VI, kami ditarik iuran Rp 100,- setiap
minggu, untuk membeli pupuk dan racun penumpas hama. Pupuk dan penumpas hama
ini dipakai merawat tanaman yang ada di halaman sekolah. Kami juga diberi pelajaran
bagaimana cara memupuk tanaman dan memberantas hama, agar tanaman hidup terus
dengan sehat dan subur. Setelah
kami lulus, dan hendak diberi STTB (Surat Tanda Tamat Belajar) pada upacara
penyerahan ijazah, kepala sekolah kami membagikan pot berisi bibit kenanga
kepada setiap lulusan. Itu dimaksudkan sebagai kenang-kenangan semasa belajar
di SD. Bibit setinggi 0,5 m dibeli dari uang iuran yang terkumpul tiap minggu
dulu itu, setelah sebagian dipakai untuk membeli pupuk dan pestisida. Kepala
sekolah berharap, agar bibit kenanga itu ditanam di halaman rumah
masing-masing, dan dipelihara baik-baik. Kelak sesudah berbunga boleh dijual
bunganya untuk menambah uang saku, atau uang dapur rumah tangga. Setelah
dewasa, kami menyadari bahwa guru kelas V SD kami itu telah berhasil menanamkan
pemahaman tentang pelestarian alam yang ditindaklanjuti dengan penerapan
pengetahuan di lapangan. Lembaran uang yang kami terima makin bertambah setiap
menjelang hari Raya Idul Fitri, ketika masyarakat banyak sekali memerlukan bunga
kenanga. (Y. Sariyono) |