Keterangan beriklan di site ini logo(1).gif (10626 bytes)
globetiny.gif (852 bytes)N THE NET
tan_obat.jpg (12269 bytes)

KENANGA KENANG-KENANGAN

 

Walaupun televisi pemerintah kita sudah setiap hari menayangkan informasi, slogan, anjuran, dan imbauan agar kita mempunyai rasa cinta terhadap alam lingkungan, kesadaran kita untuk melestarikan lingkungan alam tetap rendah. Penebangan hutan dan pencurian kayu dari hutan masih saja berlangsung. Perusakan tempat yang sudah dilestarikan, seperti candi, taman kota, dan jalur hijau berjalan terus.

Kecintaan terhadap alam dan kesadaran untuk melestarikan seharusnya memang sudah ditanamkan sejak dini pada anak-anak di lingkungan sekolah dasar (SD). Jadi setelah dewasa, anak itu akan enggan merusak taman, mengotori lingkungan, atau melakukan perbuatan lain yang mengabaikan pelestarian alam. Tetapi tidak banyak guru SD yang mempunyai waktu, tenaga, dan pikiran untuk menanamkan rasa cinta itu pada muridnya.

Di antara ribuan orang guru itu ada seorang yang pantas kita kenang sebagai perintis usaha penanaman kecintaan terhadap lingkungan pada murid-muridnya. Yaitu guru kelas V SD kami sendiri, beberapa belas tahun lalu.

Ketika kami duduk di kelas V SD, kami diberi tugas olehnya untuk menanam biji buah-buahan dalam pot kantung plastik hitam berisi tanah dan pupuk kandang. Pot harus dibawa ke sekolah. Pada pelajaran IPA tentang Sumber Daya Alam, kami disuruh membentuk kelompok yang setiap hari bertugas menyiram dan merawat tanaman itu secara bergilir di halaman sekolah. Tiap murid diwajibkan mencatat perkembangan masing-masing tanaman "piaraannya". Kapan biji mulai berkecambah? Seberapa pertambahan tinggi tanaman setiap minggu? Apa ada hama atau penyakit yang menyerang?

Catatan itu harus kami bawa ke sekolah, dan diperlihatkan kepada Pak Guru untuk diperbincangkan bersama. Apa ada yang salah, mengapa, dan bagaimana cara memperbaikinya, itu yang kami diskusikan.

Setelah kami berhasil menanam biji buah dengan baik, Pak Guru menugaskan agar kami menanam biji buah-buahan apa saja yang kami sukai di halaman rumah sendiri masing-masing. Caranya seperti yang sudah diajarkan kepada kami itu.

Selama duduk di kelas V sampai dengan kelas VI, kami ditarik iuran Rp 100,- setiap minggu, untuk membeli pupuk dan racun penumpas hama. Pupuk dan penumpas hama ini dipakai merawat tanaman yang ada di halaman sekolah. Kami juga diberi pelajaran bagaimana cara memupuk tanaman dan memberantas hama, agar tanaman hidup terus dengan sehat dan subur.

Setelah kami lulus, dan hendak diberi STTB (Surat Tanda Tamat Belajar) pada upacara penyerahan ijazah, kepala sekolah kami membagikan pot berisi bibit kenanga kepada setiap lulusan. Itu dimaksudkan sebagai kenang-kenangan semasa belajar di SD. Bibit setinggi 0,5 m dibeli dari uang iuran yang terkumpul tiap minggu dulu itu, setelah sebagian dipakai untuk membeli pupuk dan pestisida.

Kepala sekolah berharap, agar bibit kenanga itu ditanam di halaman rumah masing-masing, dan dipelihara baik-baik. Kelak sesudah berbunga boleh dijual bunganya untuk menambah uang saku, atau uang dapur rumah tangga.

Setelah dewasa, kami menyadari bahwa guru kelas V SD kami itu telah berhasil menanamkan pemahaman tentang pelestarian alam yang ditindaklanjuti dengan penerapan pengetahuan di lapangan. Lembaran uang yang kami terima makin bertambah setiap menjelang hari Raya Idul Fitri, ketika masyarakat banyak sekali memerlukan bunga kenanga. (Y. Sariyono)

Click here to join our mailing list!
Join our mailing list!
rumah intisari on the net CLICK HERE TO VISIT THE TOP 1000!