Keterangan beriklan di site ini logo(1).gif (10626 bytes)
globetiny.gif (852 bytes)N THE NET
tan_obat.jpg (12269 bytes)

LEBIH BAIK MEMAHAMI

DARIPADA MENGHUKUM

 

Mengapa orang menghukum sesamanya? Pertanyaan ini memang tidak menafikan peran penting hukuman dalam tata kehidupan untuk menjamin kesejahteraan dan ketenteraman. Toh, hukuman pada perspektif perawatan tata hidup masyarakat, tidak diterapkan secara sembarangan. Ia hanya bisa dilakukan setelah badan peradilan yang bekerja saksama, lewat proses yang taat aturan, fair, dan adil, memutuskan suatu hukuman bagi pelaku kesalahan.

Dalam kenyataan hidup sehari-hari, tak jarang orang menghukum sesamanya tanpa ada sangkut paut sama sekali dengan peradilan. Itu terjadi di pelbagai sektor kehidupan. Baik di tengah keluarga, sekolah, perguruan tinggi, perusahaan, dan masyarakat. Memang, tidak semua tindakan menghukum itu keliru. Namun tak jarang pula di sana-sini terjadi penghukuman yang keliru.

Ada tiga varian kekeliruan yang bisa disebut. Pertama, penghukuman dilaksanakan secara tak adil yang hanya dilandasi relasi dominasi-submisi (hubungan antara pihak berkuasa yang harus dituruti kemauannya, dan pihak yang dikuasai, yang harus menuruti kemauan pihak berkuasa). Ungkapan populer untuk kekeliruan ini adalah “main hakim sendiri”. Kedua, pengejawantahan hukuman tidak membantu memecahkan masalah, atau pencapaian tujuan yang ingin diraih dengan penerapan hukuman itu. Ketiga, penerapan hukuman justru memperparah masalah, atau menimbulkan komplikasi psikososial pada diri insan yang dihukum.

Ketiga kekeliruan dalam penerapan hukuman itu merupakan kendala penghambat relasi antarinsan yang baik dan harmonis. Masalah relasi antarinsan acap kali tidak sekadar disebabkan satu dua faktor belaka. Sering kali ia disebabkan banyak faktor yang saling berkaitan. Tindak penghukuman merupakan salah satu pusat penyebab masalah relasi antarmanusia. Pada titik ini kiranya perlu disadari betapa pentingnya kearifan dalam perwujudan tindak penghukuman di tengah keluarga, sekolah, perusahaan, dan di tengah kehidupan masyarakat.

Kalau penghukuman terjadi di tengah suasana dominasi-submisi yang begitu tandas, kesewenangan bakal gampang meruyak. Seringkali ayah atau ibu yang secara sadar dan tak sadar merasakan dirinya jauh lebih berkuasa daripada anaknya, menghukum si anak yang melakukan kesalahan kecil dengan pencederaan fisik atau tindakan yang berlebihan.

Hal ini bisa juga dilakukan seorang guru. Lantaran tersinggung oleh ketidaktaatan muridnya, seorang guru menghukum murid itu dengan tugas menulis suatu kalimat yang maknanya tak terlalu relevan dengan kesalahan mereka, seribu kali. Inilah salah satu contoh tindakan yang berlebihan.

Untuk menghindari kekeliruan yang berakar pada nuansa relasi dominasi-submisi yang begitu kuat, setiap insan yang de facto menggenggam kekuasaan lebih besar seharusnya sangat berhati-hati dalam menerapkan hukuman kepada siapa pun yang posisinya lebih lemah. Insan yang memiliki kekuasaan mestinya justru mampu menahan diri; meredakan gelegak emosi di dalam dirinya, sebelum menghukum. Dengan demikian selain mencegah terjadinya penghukuman yang berlebihan dan tak relevan, ia akan terbantu memahami masalah yang ada secara jernih dan proporsional.

Ada beberapa hal yang patut diperhatikan agar kekeliruan dalam penghukuman tidak terjadi. Yaitu penghukuman yang tidak membantu memecahkan masalah, bahkan terkadang menelurkan masalah lebih besar. Setiap insan yang mau menghukum niscaya menyadari, bahwa penghukuman baru benar-benar perlu demi memecahkan suatu masalah yang sungguh ada. Hukuman tidak boleh diterapkan di luar tujuan pemecahan masalah. Pada titik ini dapat dirasakan betapa tidak mudahnya menerapkan hukuman yang benar. Sebelum hukuman diterapkan, si penghukum sebaiknya mengambil waktu yang cukup untuk melihat dan memahami masalah yang ada secara lengkap dan utuh. Dia juga perlu melihat dan memahami kaitan masalah yang ada dengan hal-hal lain di sekitarnya.

Seorang anak yang malas belajar karena tidak pernah mendapatkan teladan yang nyata dari orang tuanya, tentu tidak bisa diberi hukuman yang seolah bertujuan menjerakan kemalasannya. Masalah yang ada di sini adalah ketiadaan teladan belajar yang nyata dari ayah dan ibu. Barangkali, tiadanya teladan itu pengaruhnya makin besar, lantaran teman-teman bermainnya juga malas belajar. Mungkin masalah seperti ini bisa diatasi bukan dengan penerapan hukuman. Justru yang lebih tepat adalah persuasi, yang hanya dapat dilakukan setelah orang tua memperjuangkan perwujudan komunikasi jujur terbuka tanpa rasa takut dengan anak mereka. Di samping itu, orang tua perlu memberi teladan kegiatan belajar yang nyata di hadapan anak. Yang terakhir, perlu selalu disadari betapa setiap hukuman membawa potensi luka jiwani pada insan yang dikenainya. Apalagi kalau hukuman tidak benar (tidak relevan dengan masalah yang sungguh ada) dan tidak tepat (berlebihan dan tak proporsional).

Pada dasarnya, hukuman yang tak benar dan tak tepat akan membuahkan rasa nyeri jiwani, memurukkan harga diri, mengukuhkan citra diri yang buruk, mengacaukan pola pikir, dan menyemaikan dendam pada diri insan yang dikenai hukuman itu. Bisa dibayangkan betapa insan yang dililit kondisi-kondisi seperti itu akan mengalami kesulitan bertumbuh kembang secara sehat. Bisa jadi, dia akan makin terkukuhkan sebagai trouble maker, yang sering merepotkan banyak orang.

Ada baiknya sepenggal kalimat ini direnungkan demi penghukuman yang benar dan tepat: “Setiap insan yang mau menghukum niscaya lebih dulu memahami. Memahami adalah lebih baik ketimbang menghukum”. (dr. Limas Sutanto DSJ, pengamat psikososial dari STFT Widya Sasana, Malang) 

Click here to join our mailing list!
Join our mailing list!
rumah intisari on the net CLICK HERE TO VISIT THE TOP 1000!