|
LEBIH BAIK MEMAHAMI DARIPADA MENGHUKUM Mengapa orang menghukum
sesamanya?
Pertanyaan ini memang tidak menafikan peran penting hukuman dalam tata
kehidupan untuk menjamin kesejahteraan dan ketenteraman. Toh, hukuman pada perspektif
perawatan tata hidup masyarakat, tidak diterapkan secara sembarangan. Ia hanya
bisa dilakukan setelah badan peradilan yang bekerja saksama, lewat proses yang
taat aturan, fair, dan adil, memutuskan suatu hukuman bagi pelaku kesalahan. Dalam kenyataan hidup sehari-hari,
tak jarang orang menghukum sesamanya tanpa ada sangkut paut sama sekali dengan
peradilan. Itu terjadi di pelbagai sektor kehidupan. Baik di tengah keluarga,
sekolah, perguruan tinggi, perusahaan, dan masyarakat. Memang, tidak semua tindakan
menghukum itu keliru. Namun tak jarang pula di sana-sini terjadi penghukuman
yang keliru. Ada tiga varian kekeliruan yang
bisa disebut. Pertama, penghukuman dilaksanakan secara tak adil yang hanya
dilandasi relasi dominasi-submisi (hubungan antara pihak berkuasa yang harus
dituruti kemauannya, dan pihak yang dikuasai, yang harus menuruti kemauan pihak
berkuasa). Ungkapan populer untuk kekeliruan ini adalah “main hakim sendiri”.
Kedua, pengejawantahan hukuman tidak membantu memecahkan masalah, atau pencapaian
tujuan yang ingin diraih dengan penerapan hukuman itu. Ketiga, penerapan
hukuman justru memperparah masalah, atau menimbulkan komplikasi psikososial
pada diri insan yang dihukum. Ketiga kekeliruan dalam penerapan
hukuman itu merupakan kendala penghambat relasi antarinsan yang baik dan
harmonis. Masalah relasi antarinsan acap kali tidak sekadar disebabkan satu dua
faktor belaka. Sering kali ia disebabkan banyak faktor yang saling berkaitan.
Tindak penghukuman merupakan salah satu pusat penyebab masalah relasi
antarmanusia. Pada titik ini kiranya perlu disadari betapa pentingnya kearifan
dalam perwujudan tindak penghukuman di tengah keluarga, sekolah, perusahaan,
dan di tengah kehidupan masyarakat. Kalau penghukuman terjadi di
tengah suasana dominasi-submisi yang begitu tandas, kesewenangan bakal gampang
meruyak. Seringkali ayah atau ibu yang secara sadar dan tak sadar merasakan
dirinya jauh lebih berkuasa daripada anaknya, menghukum si anak yang melakukan
kesalahan kecil dengan pencederaan fisik atau tindakan yang berlebihan. Hal ini bisa juga dilakukan
seorang guru. Lantaran tersinggung oleh ketidaktaatan muridnya, seorang guru
menghukum murid itu dengan tugas menulis suatu kalimat yang maknanya tak
terlalu relevan dengan kesalahan mereka, seribu kali. Inilah salah satu contoh
tindakan yang berlebihan. Untuk menghindari kekeliruan yang
berakar pada nuansa relasi dominasi-submisi yang begitu kuat, setiap insan yang
de facto menggenggam kekuasaan lebih besar seharusnya sangat
berhati-hati dalam menerapkan hukuman kepada siapa pun yang posisinya lebih
lemah. Insan yang memiliki kekuasaan mestinya justru mampu menahan diri;
meredakan gelegak emosi di dalam dirinya, sebelum menghukum. Dengan demikian
selain mencegah terjadinya penghukuman yang berlebihan dan tak relevan, ia akan
terbantu memahami masalah yang ada secara jernih dan proporsional. Ada beberapa hal yang patut
diperhatikan agar kekeliruan dalam penghukuman tidak terjadi. Yaitu penghukuman
yang tidak membantu memecahkan masalah, bahkan terkadang menelurkan masalah
lebih besar. Setiap insan yang mau menghukum niscaya menyadari, bahwa
penghukuman baru benar-benar perlu demi memecahkan suatu masalah yang sungguh
ada. Hukuman tidak boleh diterapkan di luar tujuan pemecahan masalah. Pada
titik ini dapat dirasakan betapa tidak mudahnya menerapkan hukuman yang benar.
Sebelum hukuman diterapkan, si penghukum sebaiknya mengambil waktu yang cukup
untuk melihat dan memahami masalah yang ada secara lengkap dan utuh. Dia juga
perlu melihat dan memahami kaitan masalah yang ada dengan hal-hal lain di
sekitarnya. Seorang anak yang malas belajar
karena tidak pernah mendapatkan teladan yang nyata dari orang tuanya, tentu
tidak bisa diberi hukuman yang seolah bertujuan menjerakan kemalasannya.
Masalah yang ada di sini adalah ketiadaan teladan belajar yang nyata dari ayah
dan ibu. Barangkali, tiadanya teladan itu pengaruhnya makin besar, lantaran
teman-teman bermainnya juga malas belajar. Mungkin masalah seperti ini bisa
diatasi bukan dengan penerapan hukuman. Justru yang lebih tepat adalah
persuasi, yang hanya dapat dilakukan setelah orang tua memperjuangkan
perwujudan komunikasi jujur terbuka tanpa rasa takut dengan anak mereka. Di
samping itu, orang tua perlu memberi teladan kegiatan belajar yang nyata di
hadapan anak. Yang terakhir, perlu selalu disadari betapa setiap hukuman
membawa potensi luka jiwani pada insan yang dikenainya. Apalagi kalau hukuman
tidak benar (tidak relevan dengan masalah yang sungguh ada) dan tidak tepat
(berlebihan dan tak proporsional). Pada dasarnya, hukuman yang tak
benar dan tak tepat akan membuahkan rasa nyeri jiwani, memurukkan harga diri,
mengukuhkan citra diri yang buruk, mengacaukan pola pikir, dan menyemaikan
dendam pada diri insan yang dikenai hukuman itu. Bisa dibayangkan betapa insan
yang dililit kondisi-kondisi seperti itu akan mengalami kesulitan bertumbuh
kembang secara sehat. Bisa jadi, dia akan makin terkukuhkan sebagai trouble
maker, yang sering merepotkan banyak orang. Ada baiknya sepenggal kalimat ini
direnungkan demi penghukuman yang benar dan tepat: “Setiap insan yang mau
menghukum niscaya lebih dulu memahami. Memahami adalah lebih baik ketimbang
menghukum”. (dr. Limas Sutanto DSJ, pengamat psikososial dari STFT Widya
Sasana, Malang) |