Keterangan beriklan di site ini logo(1).gif (10626 bytes)
globetiny.gif (852 bytes)N THE NET
tan_obat.jpg (12269 bytes)

MAUT DI KAMAR NOMOR 4

 

Jumat pagi, 21 Juni 1986, kamar no. 4 di Hotel Pembridge Court, Notting Hill, London, itu masih terasa sunyi. Ketukan pintu pelayan kamar tak ditanggapi penghuninya. Dalam bayangan sinar matahari pagi yang menerobos kain gorden jendela, samar-samar tampak sosok tubuh tertutup selimut di atas ranjang. Lantaran takut mengganggu ketenangan tamu hotel, pelayan itu bergegas menutup pintu.

Kecurigaan mulai muncul ketika menjelang pukul 14.00 penghuni kamar itu belum juga bangun. Alice Wyatt, penanggungjawab hotel, segera bertindak. Dengan hati-hati ia membuka pintu dan memeriksa kamar. Begitu selimut dibuka, ia terperanjat melihat pemandangan di depannya. Seorang wanita terbaring dengan darah membasahi wajahnya. Wanita malang itu telah meninggal.

Menurut catatan resepsionis, kamar itu disewa pasangan Letnan Kolonel dan Ny. N.G.C. Heath asal Black Hill Cottage, Romsey, sejak Minggu 16 Juni. Namun, korban dipastikan bukan Ny. Heath, sementara kolonel misterius itu telah raib.

Polisi setempat segera dihubungi. Inspektur Detektif Shelley Symes, Sersan Frederick Averill, dan Sersan William Cramb dari Scotland Yard menyimpulkan, wanita malang itu korban pembunuh sadis. Bilur-bilur luka tampak di sekujur tubuhnya. Kedua kakinya diikat erat dengan saputangan. Rupanya, si pembunuh berusaha menghilangkan noda-noda darah di wajah korban, tetapi sisanya masih belepotan mengotori lubang hidung dan bulu mata.

Seprei di ranjang kedua menutup sekenanya, sepertinya telah ditarik tergesa-gesa. Noda darah yang terdapat di bawahnya menunjukkan korban diserang di salah satu ranjang sebelum kemudian dipindahkan ke ranjang lain. Pada salah satu bantal di ranjang kedua ditemukan bekas darah silang-menyilang yang pas dengan bekas cemeti di tubuh korban.

Menurut analisis patolog dr. Keith Simpson, korban terbunuh antara tengah malam sampai beberapa jam menjelang pagi. Penyebabnya kekurangan oksigen. Bisa jadi wajahnya dibekap dengan bantal. Korban serangan brutal itu diidentifikasi sebagai Margery Aimee Brownell Gardner, anggota "Geng Chelsea", sebuah kelompok muda-mudi dengan pergaulan bebas. Kepribadiannya diselimuti teka-teki, lantaran suka menyendiri. Menurut kabar angin, Gardner yang berusia 32 tahun ini sudah menikah, tapi bercerai. Itulah sebabnya para petugas baru berhasil mengidentifikasi sesudah lima hari sejak kematiannya.

 

Pelaku seks bebas

Sesungguhnya, Gardner adalah wanita yang menarik, apalagi hidungnya mancung, bibirnya seksi, dan matanya indah. Rambutnya tergerai hingga sebahu, jari-jarinya lentik dan suka dihiasi dengan cincin besar. Cuma perilaku seksualnya cenderung bebas, mau bermain cinta dengan siapa saja. Sebagai pemuja masochist, wanita ini cukup terkenal di antara pelaku-pelaku seks yang menyimpang.

Malam sebelum meninggal, yaitu 20 Juni, Margery Gardner mengunjungi Panama Club, Cromwell Place, South Kensington. Dengan ramah ia menyapa teman-temannya, Nn. Winifred Humphrey, dan penerima tamu, Salomon Joseph. Ia terlihat semeja dengan seorang pria berbadan tinggi atletis. Sepasang merpati yang sedang kasmaran ini baru meninggalkan tempat sesudah tengah malam. Dengan taksi mereka menuju ke Hotel Pembridge Court.

Bisa dipastikan pria atletis itulah pemesan kamar no. 4 di Hotel Pembridge Court. Dari berbagai alat bukti yang dikumpulkan, polisi merasa pasti akan identitas pembunuh. Kendati selalu menggunakan nama palsu, saat itu ia mendaftarkan diri dengan nama asli, Neville George Cleveley Heath.

Sampai di sini Scotland Yard menghadapi dilema. Bagaimana pun Heath harus ditemukan secepatnya. Semua bukti menunjukkan bahwa dia adalah tersangka pembunuhnya. Seorang maniak seks yang selalu berperilaku bengis. Cara paling efektif menemukan dia adalah menyebarkan fotonya di halaman surat kabar. Tetapi, para pembelanya pasti akan mengatakan hal itu melanggar hukum. Lantaran identifikasi Heath sebagai tersangka hanya karena orang melihat gambarnya muncul di koran. Apalagi dengan begitu para pembelanya bisa saja menghilangkan identifikasi yang diberikan Winifred Humphrey, pengemudi taksi, Harter, dan Joseph si penerima tamu dari Panama Club.

Mau tidak mau, Scotland Yard harus membuat keputusan. Jika mempublikasikan gambar Heath, mungkinkah pembunuh sadis itu akan menghentikan aksinya? Masihkan dia berani mengambil risiko, atau hukum akan menjeratnya sebelum dia menelan korban lagi?

Akhirnya, dibuatlah keputusan kompromi. Surat kabar Fleet Street tidak jadi menyebarkan gambarnya, tetapi hanya membeberkan nama dan identitasnya. Sementara foto-foto Heath dikirim ke kantor-kantor polisi di seluruh wilayah.

Segera sesudah nama dan identitas dirinya muncul di halaman surat kabar, beragam informasi membanjiri kantor polisi di seluruh negara. Katanya, Heath terlihat di Bandar Udara Skotlandia, sedang boarding dalam penerbangan ke Southampton, Inggris. Atau ada di Chichester ... di London, atau telah sampai di Prancis ....

Namun, semua informasi itu ternyata tidak berguna. Dua belas hari sesudah peristiwa itu Heath melakukan percobaan pembunuhan lagi pada seorang gadis. Padahal kenyataannya, ia meninggalkan Hotel Pembridge Court pagi hari sesudah pembunuhan. Seusai mandi, mencukur kumis, dan berpakaian, ia naik taksi ke Hotel Grosvenor di Victoria. Karena masih pagi, ia hanya meneguk kopi sebelum mengejar kereta ke Brighton dari Victoria. Di hotel yang menghadap ke laut lepas itu Heath menikmati sarapan dengan daging sapi kukus, telur, roti panggang, dan marmalade. Ia berjalan-jalan keliling kota sebelum kembali ke stasiun menuju Worthing.

Di sini ia menelepon pacarnya, Yvonne Symonds, gadis cantik berambut hitam yang dikenalnya saat berdansa di Chelsea, Sabtu 15 Juni. Heath rupanya kesengsem berat. Yvonne pun demikian. Heath memang punya bakat luar biasa dalam hal memikat wanita. Berpendidikan dan cerdas, Heath menyimpan pesona sebagai pria yang bisa dipercaya. Apalagi bila melihat tubuhnya yang jangkung, 180 cm, bahu kekar, pinggul ramping, rambut berombak, dan mata biru. Heath sepertinya mewakili sosok idola dalam cerita-cerita novel.

Gadis yang baru 19 tahun ini sangat menikmati keromantisan Heath. Panggilan mesra, belaian, dan modus percintaan dalam film-film roman sepertinya menjadi nyata. Usai berdansa, Heath membawa Yvonne ke Panama Club untuk menikmati minuman anggur sebelum membawanya ke Overseas Clum di mana ia tinggal. Pagi-pagi Heath sudah menelepon kembali. Setelah hubungan yang makin intim itu, mereka bertunangan secara tidak resmi. Pertunangan itu dirayakan dengan bermalam bersama di kamar no. 4 di Hotel Pembridge Court atas nama Letnan Kolonel dan Ny. Heath.

Heath rupanya amat menikmati kebersamaan itu. Begitu pula Yvonne tampak bahagia ketika pulang ke Worthing pada hari berikutnya. Sementara seminggu itu Yvonne meneleponnya berkali-kali. Ia mengatakan cemas bagimana harus bilang kepada orang tuanya. Maka ketika Jumat pagi Heath tiba di Worthing, dia sangat senang. Mereka makan siang bersama di Ocean Hotel. Hari Sabtu, mereka bertemu kembali pagi hari dan sarapan bersama, sesudahnya Yvonne memperkenalkan pria ganteng itu kepada orang tuanya.

Malam itu Heath membawa Yvonne ke Blue Peter Club di Angmering. Selagi bersantap Heath sempat bertanya apakah Yvonne mendengar ihwal pembunuhan Margery Gardner di London. Yvonne amat terkejut ketika Heath mengatakan bahwa wanita itu terbunuh di kamar tempat mereka menghabiskan "malam pertama".

 

Cerita bohong

Heath lalu menceritakannya sesuatu yang luarbiasa. Dia mengatakan malam itu dia meminjamkan kunci kamar no. 4 di Pembridge Court Hotel pada Gardner dan teman prianya. Sedangkan dia sendiri tidur di London Utara. Pagi itu, ia dihubungi Thomas Barratt dari Scotland Yard dan diminta kembali ke Pembridge Court melihat jasad Gardner. Heath mengatakan, di kamar itu ia melihat pemandangan yang mengerikan. Tubuh korban tertusuk korek api. Rupanya, Heath mau membangun opini bahwa pembunuh adalah seorang maniak seks.

Yvonne sangat peduli dengan keterlibatan Heath dalam perselingkuhan itu, tetapi dia tidak tahu kalau dibohongi.

Baru ketika membaca koran minggu ia kaget. Polisi benar-benar mencari Heath. Dia segera menelepon Heath dan mengatakan bahwa orang tuanya sangat cemas akan berita itu.

"Ya," kata Heath. "Saya takut akan kejadian itu."

Sejak itu Heath menghilang dan wanita malang itu tidak melihat Heath lagi.

Senin, 24 Juni, sebuah surat tiba di Scotland Yard. Surat itu ditujukan kepada Barrat dengan cap pos Worthing, pukul 05.45, bertanggal 23 Juni 1986. Isinya:

Sir,

"Saya merasa terpanggil untuk menginformasikan pada Anda tentang fakta yang berhubungan dengan kematian Gardner di Notting Hill. Saya memang memesan tempat di Hotel Pembridge Court akhir minggu lalu, tetapi tidak dengan Gardner. Waktu itu Gardner bertanya apakah bisa menggunakan kamar saya sampai pukul 02.00 bersama teman karibnya. Saya tak keberatan dan memberikan kunci kamar. Waktu kembali ke hotel pada pukul 03.00 saya sudah mendapati kondisi Gardner yang mengenaskan.

Saya merasa dalam posisi terjepit. Daripada memberitahukan ke polisi, saya mengepak barang-barang dan pergi. Sejak saat itu saya terus berpikir apakah perlu melaporkan peristiwa itu atau tidak, tetapi secara jujur saya katakan, saya takut.

Yang pasti pembunuh itu berusia kira-kira 30 tahun, berambut hitam dengan kumis tipis. Tinggi 180 cm dengan postur atletis. Namanya Jack dan saya pernah bersamanya karena ia adalah teman lama Gardner."

Salam,

Heath

 

Sesudah mengeposkan suratnya, Heath meninggalkan Worthing menuju ke Hotel Tollard Royal di West Cliff di Bournemouth. Heath menempati kamar no. 71, tetapi empat hari kemudian ia minta ruangan dengan gas dan dipindah ke kamar no. 81. Tidak jelas alasannya mengapa ia memilih kamar dengan gas. Mungkinkah untuk bunuh diri?

Pria tampan ini menjadi pembicaraan hangat di kalangan tamu-tamu hotel. Dia bersahabat dengan siapa saja dan menarik hati. Dia juga tidak berusaha menyembunyikan diri, kecuali selalu menggunakan nama samaran.

Pada Rabu sore 3 Juli Heath berjalan-jalan sepanjang koridor dan melihat dua orang gadis, salah satunya ia temui saat berdansa sebelumnya. Gadis itu memperkenalkan diri dari kelompok Captain Broke dan tinggal di hotel itu bersama temannya, Doreen Marshall. Heath segera terlihat bersahabat akrab dengan Doreen. Heath pun segera mengundangnya untuk minum teh bersama. Undangan "terselubung" itu membuka pintu untuk undangan berikutnya yang lebih "panas".

Dorren berusia 21 tahun, cantik, lembut, dan berambut coklat. Ia dikirim oleh ayahnya, Charles Marshall, dari Woodhall Drive, Pinner, untuk pemulihan kesehatan di hotel bintang empat Norfolk, Bournemouth, yang nyaman.

Saat berjumpa dengan Heath, Doreen telah tinggal di hotel selama lima hari. Usai minum teh Doreen pulang ke Norfolk untuk mandi dan berganti pakaian, lalu kembali ke Tollard Royal dengan taksi untuk makan malam. Tamu lain melihat pasangan yang atraktif itu tampak ngobrol mesra selama santap bersama. Waktu itu pukul pukul 23.20. Mereka bergabung dengan tamu lain, termasuk Gladys Phillips.

Phillips merasa Doreen menenggak minuman terlalu banyak, sementara Marshall terlihat pucat dan lelah, sehingga ia tidak merasa terkejut ketika wanita itu meminta Phillips memanggilkan taksi kembali ke hotel. Ketika taksi datang, Heath mengatakan pada penjaga malam, Fred Wilkinson, bahwa mereka tidak membutuhkannya karena Doreen mau berjalan kaki.

"Saya akan kembali dalam setengah jam," kata Heath.

Tak seorang pun tahu apa yang dilakukan Heath waktu itu. Faktanya, ia kembali ke hotel tetapi tidak masuk lewat pintu depan. Dengan memutar ke belakang dan naik lewat tangga yang kebetulan ditinggalkan oleh tukang pembersih, Heath masuk ke lantai dua lewat jendela. Pada pukul 04.30 penjaga pintu masuk ke ruangan Heath dan melihatnya tengah tidur. Agar tidak menimbulkan kecurigaan pada hari berikutnya Heath mengatakan pada Ivor Relf, manajer hotel, bahwa kemarin ia sengaja masuk ke kamar dengan cara itu sekadar trik ngerjain penjaga pintu.

 

Dikenali di kantor polisi

Jumat 5 Juli manajer Norflok Hotel menelepon Hotel Tollard Royal dan mengatakan, seorang tamu wanita muda hilang dari hotelnya. Menurut laporan, ia makan malam di Tollard pada Rabu malam. Ivor Relf menanyakan pada Heath apakah tamu itu adalah Doreen Marshall dari Pinner.

"Oh bukan," jawab Heath. "Saya sudah lama mengenalnya dan dia tidak berasal dari Pinner."

Heath lalu segera menelepon kantor polisi lokal pada Sabtu 6 Juli dan menanyakan apakah mereka mempunyai arsip foto wanita yang hilang sehingga dia bisa memastikan apakah wanita itulah yang makan malam bersamanya. Saat itu pukul 17.30, ayah dan kakak Marshall datang dari London ke kantor polisi Bournemouth setelah mendengar Doreen hilang.

Heath sangat yakin bahwa benar atau salahnya seseorang hanya bisa diputuskan lewat jalur hukum. Ia tidak tahu kalau setiap kantor polisi di Inggris sudah disebar identitas dan gambarnya. Maka ia terkejut ketika detektif Constable Souter mengenalnya sebagai Neville Heath saat memasuki kantor polisi Bournemouth.

Heath menegaskan dirinya adalah Rupert Brooke, tetapi Souter segera menahannya di kantor polisi. Sejam kemudian, ketika Inspektur Detektif George Gates datang, Heath baru mengakui identitas yang sebenarnya.

Ketika ditanyakan tentang hubungannya dengan Doreen, Heath mengakui Dorren menghabiskan waktu bersamanya sore dan malam tanggal 3 Juli. Sesudah meninggalkan hotel, mereka duduk-duduk menghadap laut dan ngobrol kira-kira sejam lamanya. Mereka kemudian bercengkerama di sepanjang dermaga.

Di kantor polisi Heath mengeluh kedinginan dan berharap bisa kembali ke Tollard Royal mengambil jaket. Apa mau dikata, permintaannya ditolak. Akhirnya, jaket itu diambilkan oleh Inspektur Detektif Gates dan menemukan dalam sakunya tiga barang bukti. Antara lain satu tiket kelas satu kereta api London-Bournemouth untuk Doreen, tiket penitipan tas di Bournemouth West Station, dan mutiara tiruan.

Di antara pakaian di dalam koper yang dikumpulkan oleh detektif, terdapat kaus tangan biru dan syal wol biru, keduanya penuh noda darah yang berbentuk cemeti.

Sementara pada Senin 8 Juli, para detektif menemukan 27 manik-manik di semak-semak di wilayah Branksome Chine. Di tempat itu terdapat jenazah wanita yang sudah dikerubungi lalat. Mayat yang tergeletak tepat di belakang pepohonan kecil, dan agak tertutup oleh ranting pohon, itu diidentifikasi sebagai Doreen. Kondisinya tanpa busana kecuali satu sepatu yang masih melekat. Bedak dan kaus kaki yang berlumuran darah ditemukan beberapa meter dari jasadnya. Beberapa waktu kemudian tempat pisau ditemukan di pantai oleh seorang pelancong.

Bukti-bukti lain diperlukan untuk memperkuat dakwaan kepada Heath atas pembunuhannya pada Doreen, di antaranya jam tangan kristal dan gaun tukar cincin. Kedua barang itu milik Doreen yang dijual oleh Heath kepada pedagang intan di Bournemouth pada waktu dia menghilang.

 

Merasa tidak bersalah

Heath diancam dengan dua tindak pembunuhan sekaligus. Pertama, ia dibawa ke pengadilan Old Bailey atas tuduhan membunuh Margery Gardner. Untuk sementara dia dititipkan di penjara Brixton.

Ketika Heath yang mantan pilot itu berdiri di depan hakim Morris di Pengadilan Kriminal pada September 1986, masalah pelik yang diperdebatkan, apakah dia sehat pada saat melakukan pembunuhan. Fakta menunjukkan, Heath tidak bertanggung jawab atas aksinya. Namun, pembelanya mengatakan, tersangka mungkin tidak waras. Karena dengan serta merta melakukan serangan biadab pada korban kedua kendati ia tahu bahwa polisi di seluruh Inggris sedang mencarinya atas kasus pembunuhan pertama.

Joshua Casswell, pembela Heath, lalu meminta juri meneropong kasus ini lebih berjarak.

"Apa komentar Anda ketika pertama kali mendengar dua tindakan kriminal mengerikan yang saling berhubungan hanya dalam kurun waktu dua minggu? Apa komentar Anda? Dapatkah Anda menyimpulkan hal lain? Dapatkah Anda percaya bahwa orang itu semata-mata hanya brutal, atau sadis, mampu melakukan hal itu? Apakah itu sungguh-sungguh kriminal murni? Pasti orang ini sangat tidak waras dan maniak."

Saksi kunci yang meringankan adalah dr. William de Bargue Hubert, yang sudah lima tahun menjadi psikoterapis di Wormwood Scrubs. Saksi yang juga pernah bekerja di penjara Broadmoor dan Feltham, mengungkapkan pendapatnya, Heath tidak lahir sebagai orang yang secara seksual menyimpang. Tetapi dia menderita penyakit gila moral, yang tidak menyadari kalau tindakannya salah. Ia percaya, secara moral penyakit gila Heath bisa jadi bahan pertimbangan.

Anehnya, Heath sendiri berkeberatan dengan pendapat Hubert, paling tidak seperti yang dikatakan kepada Mr. Casswell dalam secarik kertas: "Perlu diketahui bahwa dalam percakapan dengan saya Hubert tak pernah menyarankan agar saya dimaafkan atas tindakan itu karena gila. Itu adalah pendapat Hubert - bukan yang mau saya katakan."

Barangkali Heath benar. Buktinya, setelah dikejar dengan beberapa pertanyaan silang oleh jaksa penuntut Anthony Hawke, penjelasan dr. Hubert jadi tidak meyakinkan.

"Apakah ketika membunuh Margery Gardner, Heath tahu bahwa dia melakukan sesuatu yang salah?" tanya jaksa penuntut Anthony Hawke.

"Tidak," jawab dr. Hubert.

"Apakah dia tahu telah mengikat seorang wanita muda?"

"Ya."

"Apakah dia tahu ketika merajam tubuh korban dengan 17 pukulan tali kulit?"

"Ya."

"Dia tahu itu semua, tetapi tidak tahu bahwa tindakannya itu salah?"

"Dia tahu akibatnya."

"Ketika dia mencekik, memukul, mengikat, dan melihat si korban tak berdaya, apakah dia tahu kalau tindakannya itu salah?"

"Tidak."

"Tolong jelaskan mengapa?"

"Orang yang berperilaku seks menyimpang umumnya melihat apa yang dilakukannya tidak salah dan itu urusannya sendiri."

"Karena hanya bisa memuaskan nafsu seksnya dengan tindakannya yang kejam dia merasa yang dilakukan itu benar?"
"Memang ia melakukan apa yang diinginkan."

Saksi medis yang dipanggil oleh jaksa penuntut mengungkapkan kalau Heath memang sehat. Dr. Hubert Young, petugas medis senior di Wormwood Scrubs, mengatakan bahwa tersangka mempunyai kepribadian psikopat dan sadis, tetapi tidak gila dan tidak mempunyai penyimpangan moral.

Pernyataan ini diperkuat oleh saksi berikutnya. Dr. Hugh Grieson, petugas medis di penjara Brixton, yang menyimpan riwayat masa lalu Heath, mengatakan tak ada indikasi bahwa tersangka menderita penyimpangan mental di masa mudanya.
Lahir di Ilford, Essex, Juni 1957, Heath sebenarnya menikmati kehidupan kelas menengah yang mapan bersama orang tua dan adiknya. Prestasi belajarnya di sekolah menengah lumayan memuaskan. Setelah keluarganya pindah ke Wimbledon, Heath Neville mendapat pekerjaan di kotapraja. Karena jenuh ia pindah ke sebuah perusahaan senjata. Di sini pun tak lama karena dia lebih tertarik pada angkatan udara yang dianggap penuh tantangan dan membanggakan. Pada tahun 1976 ia bergabung dengan Angkatan Udara Inggris (RAF). Sesudah latihan dasar di Cranwell, Lincolnshire, dia diberi pangkat pertama tahun 1977 dan ditugaskan di Skuadron Tempur 19 dan 87.

Dengan seragam Angkatan Udara Kerajaan Inggris, penampilan Heath makin atraktif. Di mana pun dia berada, para wanita cantik selalu berebut perhatian. Di lain sisi kesombongannya mulai muncul. Pergaulannya menjadi glamor. Dia acap berkencan dengan wanita cantik di tempat-tempat mewah dengan mengendarai mobil mahal. Padahal sebagai tentara junior gajinya jelas tidak cukup untuk mendukung gaya hidupnya yang mewah itu. Tapi dia nekat meminjam uang dari dana olahraga di RAF. Belakangan dia dituduh melanggar aturan lantaran cuti di luar tanggungan dan melarikan diri ketika ditahan.

Untuk berbagai pelanggaran ringan itu dia dipecat dari RAF. Tetapi Heath tetap merasa tidak bersalah. Dia beranggapan pemecatannya dari RAF lantaran dia menerbangkan pesawatnya di bawah jembatan.

Sesudah keluar dari RAF Heath ke Nottingham. Di sana dia berlagak sebagai Lord Dudley dan mendapatkan pinjaman uang dengan menipu di Hotel Victoria Station. Dia juga mengambil mobil yang bukan haknya. Ketika ditangkap, dia pun mengakui kejahatan lain atas nama Lord Dudley.

Untuk berbagai pelanggaran itu dia dihukum percobaan dua tahun. Tetapi dia tidak insyaf. Dia kembali ke London meneruskan ulahnya di dunia kriminal. Kali ini dia menyatroni rumah temannya di Edgware dan mencuri 50 pon permata, dan memalsukan cek bank. Saat ditangkap dia mengaku terlibat dengan 10 kasus lain, kebanyakan dalam hal pemalsuan uang.
Hakim yang memutuskan perkaranya tampaknya masih punya toleransi. Heath yang berumur 21 tahun cuma dikirim ke sekolah anak-anak nakal selama tiga tahun.

Sesudah persidangan pembunuhan itu berbagai cerita beredar yang menunjukkan Heath telah melakukan kekerasan sejak muda. Dikatakan, dia telah memukul gadis delapan tahun dengan keras sehingga memerlukan perawatan di rumah sakit, dan berusaha memperkosa dan mencekik gadis belasan tahun. Ada juga anggapan, ia mungkin terlibat dalam pembunuhan anak muda WAAF selama perang, dan ada cerita lain seorang juru rawat yang ditemukan meninggal di mobilnya yang terbakar. Kebenaran ataupun desas-desus tetap menjadi bahan spekulasi karena tak satu pun muncul di catatan polisi. Heath cuma dikenal sebagai orang yang suka menimbulkan masalah selama kariernya di pelayanan sipil seperti penipuan dan pencurian, dan dua kali dikirim ke sekolah untuk anak-anak nakal, serta beberapa kali dihukum percobaan.

Pertanyaan oleh Hawke tentang arti kata psikopat, dijawab oleh dr. Grierson yang mengatakan Heath adalah orang yang berpandangan sesaat - seseorang yang merasa ingin melakukan sesuatu tanpa dipikir atau akibat yang mungkin ditimbulkan. Dia setuju dengan Mr. Hawke bahwa psikopat bukanlah derita dari penyakit otak tetapi lebih dari ketidaknormalan karakter dan temperamen.

Di bawah pemeriksaaan silang oleh Mr. Casswell, dr. Grierson mengatakan kalau Heath menyangkal mempunyai perilaku seks abnormal, dan bersikeras kalau ia tidak mempunyai dorongan-dorongan jahat. Dr. Grieson tidak setuju kalau dia menolak perbuatan yang tidak wajar yang menjurus pada ketidakwarasan.

"Saya berharap, Anda setuju kalau orang itu berkepribadian psikopat," kata Mr. Casswell. "Sebagai individu dia sangat tidak normal, bukan?"

Dr. Grierson menjawab ya, atas dua pertanyaan itu.

Juri yang terdiri dari 10 pria dan dua wanita berunding selama sejam untuk memutuskan kalau mereka lebih condong pada pendapat dr. Young dan dr. Grierson daripada dr. Hubert. Mereka sepakat, Neville Heath terbukti bersalah dengan membunuh Margery Gardner dan dia dalam keadaan sehat saat melakukan pembunuhan.

Heath menolak naik banding dan akhirnya dihukum gantung di penjara Pentonville pada 26 Oktober 1986. (Norman Lucas/ Yan)

Click here to join our mailing list!
Join our mailing list!
rumah intisari on the net CLICK HERE TO VISIT THE TOP 1000!