|
NAGASAKI: KOTA INDO DI JEPANG
Ada satu nama yang sangat dikenal
orang Indonesia, terutama dengan semboyan devide et impera, yakni VOC
alias kongsi dagang Belanda. Nama VOC itulah yang tertera pada bejana keramik
kuno yang ditemukan di Dejima, dekat pelabuhan Nagasaki yang kami kunjungi. VOC adalah satu-satunya kongsi
dagang yang mempunyai lisensi berdagang dengan bangsa Jepang saat itu. Kongsi
dagang lain jangan pernah bermimpi bisa menjalin hubungan dengan bangsa Jepang.
Namun, ada satu perbedaan mencolok
antara monopoli perdagangan VOC dengan Jepang dan VOC dengan Indonesia.
Saudagar-saudagar VOC di Jepang tidak bisa berjalan-jalan dengan santai di
pusat kota Nagasaki, apalagi sampai mencetak uang, punya tentara sendiri, dan
memecah belah kerajaan-kerajaan yang ada seperti di Indonesia! Mereka diisolasi
di suatu tempat yang terbuat dari kayu, didirikan di atas laut dengan sebuah
jembatan dan pintu gerbang yang dijaga ketat. Mungkin itu sebabnya bangsa
Jepang tidak sampai dijajah bangsa Belanda. Tidak kenal jendela, meja, dan kursi Lewat Dejima, bangsa Jepang mulai
mengenal jendela dan perabotan ala Barat, karena para saudagar Belanda memasang
jendela, meja, kursi pada rumah-rumah yang ada di Dejima. Orang-orang Jepang
kuno hanya mengenal jendela yang dilapisi sejenis kertas. Jadi, bayangkanlah
betapa dingin ruang di dalam rumah saat musim dingin! Di Dejima pula terjadi transaksi
dagang antara bangsa Jepang dan Belanda. Peninggalan terbanyak yang tersisa
dari penggalian di Dejima adalah bejana-bejana keramik putih bertuliskan VOC,
bekas botol anggur dan minuman keras. Namun Dejima yang ada di Nagasaki
saat ini bukan lagi Dejima tempat isolasi para saudagar Belanda, karena pada
awal abad XX tempat itu direklamasi. Asyik juga membayangkan bahwa tiga ratusan
tahun yang lalu tempat kaki kita berpijak saat itu adalah ... laut! Pengaruh budaya barat di Nagasaki
terasa sangat kental, bila dilihat bangunan bergaya Eropa yang ada. Bangunan
seperti itu jarang ditemui di kota-kota lain di Jepang. Bahkan papan petunjuk
arah kereta api Nagasaki juga berbeda dengan papan sejenis di seluruh Jepang.
Soalnya, di tengah-tengah papan terdapat gambar patung gaya Yunani. Patung
aslinya ada di Peace Park, episentrum ledakan bom atom di Nagasaki. Sejarah Nagasaki juga mencatat
bahwa kurang lebih empat ratusan tahun silam St. Fransiskus Xaverius mendarat
di Nagasaki untuk menyebarkan agama Kristen. Hasilnya bisa dilihat dari
banyaknya gereja yang didirikan seperti Katedral Urakami. Ironisnya, Katedral
Urakami justru menjadi episentrum ledakan bom atom di Nagasaki. Kabarnya banyak
sekali orang yang terbunuh di dalam katedral itu. Walaupun pada masa isolasi ajaran
Fransiskus Xaverius diterima dengan baik di Nagasaki, penyebaran agama Kristen
saat itu tidak mendapat restu dari penguasa setempat. Mereka mempunyai cara
unik untuk mendeteksi penganut Kristen. Caranya, orang-orang disuruh berbaris,
kemudian salib atau gambar suci umat Kristen diletakkan di tanah. Yang tidak
mau menginjak salib atau gambar itu akan ditangkap. Sanksi yang diterapkan juga
tidak main-main: disiksa sampai dihukum mati. Di Nagasaki ada banyak sekali
tempat martir Jepang dibunuh karena menganut agama Kristen. Monumen yang
terkenal adalah Monumen 26 Martir. Di monumen yang terletak di atas bukit itu,
ratusan tahun yang lalu, 20 orang Jepang, di antaranya ada anak-anak, dan 6
orang pastor kulit putih disalibkan persis seperti Yesus disalibkan. Menurut
perkiraan, pada zaman itu kira-kira ada 2.000 orang yang dibunuh oleh penguasa
setempat. Madame Butterfly salah kaprah Untuk menyusuri kembali
jejak-jejak di pelabuhan Nagasaki yang bersejarah, tersedia kapal feri untuk
pesiar di sepanjang Teluk Nagasaki. Di atas kapal itu tersedia pemandu wisata
yang hafal di luar kepala tempat-tempat yang dilewati kapal. Tapi sayang, ia
hanya bisa berbahasa Jepang! Pemandangan yang tersaji antara
lain adanya dok kapal-kapal milik Mitsubishi dan kapal perang milik tentara
bela diri Jepang. Pada tanggal 9 Agustus 1945, sesungguhnya pilot pesawat yang
membawa bom atom untuk kota Nagasaki nyaris berbalik arah, berhubung
pandangannya terhalang awan. Pada saat kritis itu dari celah-celah awan
tampaklah kapal-kapal milik Mitsubishi di pelabuhan. Si pilot tidak jadi
mundur, Nagasaki jadi dibom. Menjelang akhir pesiar, pemandu
mempersembahkan sebuah lagu accapella dengan penuh semangat tentang
Nagasaki. Tepuk tangan pun menyambut selesainya lagu persembahan si pemandu dan
feri pun merapat di pelabuhan yang berdekatan dengan Glover Garden. Di Nagasaki, Glover Garden
adalah salah satu tempat yang wajib dikunjungi. Tempat itu dulu kediaman Thomas
Glover, pria Inggris perintis pelabuhan Nagasaki. Ia menikah dengan wanita
Jepang dan menetap di sana. Konon dialah yang membantu para daimyo melawan
shogun. Pelabuhan yang dirintisnya kemudian dibeli oleh Mitsubishi dan
ia pun bekerja sebagai konsultan seumur hidup pada perusahaan itu. Glover
pulalah yang merintis berdirinya Japan Brewery Co., salah satu bir papan
atas Jepang. Suasana Eropa sangat terasa di Glover
Garden. Rumah kediaman Glover tetap dirawat seperti waktu si empunya masih
hidup. Turis hanya bisa melongok ke dalam lewat jendela kaca, di mana terlihat
ruang makan yang ditata seakan-akan ada perjamuan makan, kamar tidur dengan
gaun indah milik istri Thomas Glover tergantung di samping tempat tidur. Di bagian lain ada sebuah bangunan
tempat persinggahan para pelaut asing. Bentuk bangunan bergaya Barat itu
beratap relatif rendah bila dibandingkan dengan bangunan-bangunan peninggalan
Belanda yang ada di Indonesia. Masuk ke dalamnya seolah menembus ruang waktu
masuk ke zaman yang berbeda. Perabotan kuno gaya Barat diatur sedemikian rupa
seperti kondisi rumah zaman dulu. Di Glover Garden ini pula
terdapat patung yang terkenal dengan nama Madame Butterfly. Padahal
sebetulnya patung tersebut adalah patung penyanyi opera terkenal, pelakon utama
cerita Madame Butterfly. Namun, orang telanjur mengidentikkan patung itu
dengan sang madame. Kisah Madame Butterfly sendiri adalah cerita
opera yang mengambil setting Nagasaki; sebuah kisah cinta antara pelaut
asing dan wanita Jepang. Sayang sekali cinta mereka tidak mungkin bersatu dan
si wanita bunuh diri. Dikira di Amsterdam Bila ingin menambah kental suasana
Eropa, ada tempat hiburan sejenis Disneyland yang terletak di luar Kota
Nagasaki. Tempat itu bernama Huis Ten Bosch yang bisa dicapai dengan kereta api
reguler dan kereta api wisata yang menurut istilah anak remaja sekarang funky
sekali. Soalnya, gerbongnya warna warni! Kereta-kereta itu akan berhenti di
stasiun kecil di samping taman hiburan Huis Ten Bosch. Siapa pun tidak akan
menyangkal bahwa Huis Ten Bosch adalah tiruan Negeri Belanda. Dari kejauhan
nampak hotel mewah yang berarsitektur Eropa, sedang di belakang hotel terdapat
perumahan mewah yang berhadapan dengan teluk. Di sebelah perumahan mewah ada
sebuah kincir angin besar yang menimbulkan rasa ingin tahu, apa fungsinya di
tempat mewah itu. Ternyata kincir itu pos penjagaan perumahan mewah. Satpam
kincir angin dengan ramah mengatakan turis dilarang masuk perumahan mewah.
Tetapi, kami diizinkan untuk berfoto di depan kincir angin. Siapa pun yang
melihat foto di depan pintu masuk itu pasti terkecoh. Ia akan mengira lokasinya
di Amsterdam! Tiket masuk taman hiburan Huis Ten
Bosch ternyata lebih mahal dari tiket masuk Disneyland: + 5.000 yen.
Yang lebih parah, untuk masuk wahana hiburan tertentu kita harus merogoh
kantong lebih dalam lagi. Menurut standar orang Jepang 5.000 yen itu mahal
sekali. Setelah adu argumentasi, kami
akhirnya tidak jadi masuk taman hiburan dan melanjutkan perjalanan ke daerah
Saga, mengunjungi rumah orang tua dosen kami. Saga terletak di sebelah utara
Nagasaki dan merupakan daerah pertanian yang terpencil. Kedatangan kami yang tiba-tiba
bisa dimengerti oleh Ibu Nokita, dosen kami. Ia bahkan mau menjemput kami di
stasiun Huis Ten Bosch. Padahal perjalanan dari rumah orang tuanya di Saga
memakan waktu 50 menit dengan mobil. Sebagai ganti acara ke Huis Ten
Bosch, kami diajak ke pemandian air panas alami atau onsen yang banyak
dijumpai di Pulau Kyushu dan pusat kerajinan keramik di Jepang, Arita. Kunjungan ke dua tempat itu pasti
akan membuat ibu-ibu iri hati. Pasalnya, menurut orang Jepang, mandi di onsen
dapat membuat kulit halus alami. Sementara kunjungan ke Arita amat menarik
karena banyak dijual keramik yang benar-benar indah dan berkualitas tinggi.
Memang harganya selangit, namun ada juga mug keramik yang harganya murah
meriah tapi tetap berkualitas tinggi. Nagasaki memang unik. |