Keterangan beriklan di site ini logo(1).gif (10626 bytes)
globetiny.gif (852 bytes)N THE NET
tan_obat.jpg (12269 bytes)

NAGASAKI: KOTA INDO DI JEPANG

 

Sebagai kota korban bom atom nomor dua di dunia, Nagasaki memang tidak seterkenal Hiroshima. Namun bila dilihat dari peranannya dalam sejarah Jepang sebelum restorasi Meiji, Nagasaki adalah jendela Jepang, tempat pertama kali masuknya pengaruh budaya Barat. "Itulah yang membuat Nagasaki menjadi lebih istimewa dibandingkan dengan kota-kota lain," tutur Dorothea Triarsari yang berkesempatan jalan-jalan ke sana.

 

Ada satu nama yang sangat dikenal orang Indonesia, terutama dengan semboyan devide et impera, yakni VOC alias kongsi dagang Belanda. Nama VOC itulah yang tertera pada bejana keramik kuno yang ditemukan di Dejima, dekat pelabuhan Nagasaki yang kami kunjungi.

VOC adalah satu-satunya kongsi dagang yang mempunyai lisensi berdagang dengan bangsa Jepang saat itu. Kongsi dagang lain jangan pernah bermimpi bisa menjalin hubungan dengan bangsa Jepang.

Namun, ada satu perbedaan mencolok antara monopoli perdagangan VOC dengan Jepang dan VOC dengan Indonesia. Saudagar-saudagar VOC di Jepang tidak bisa berjalan-jalan dengan santai di pusat kota Nagasaki, apalagi sampai mencetak uang, punya tentara sendiri, dan memecah belah kerajaan-kerajaan yang ada seperti di Indonesia! Mereka diisolasi di suatu tempat yang terbuat dari kayu, didirikan di atas laut dengan sebuah jembatan dan pintu gerbang yang dijaga ketat. Mungkin itu sebabnya bangsa Jepang tidak sampai dijajah bangsa Belanda.

 

Tidak kenal jendela, meja, dan kursi

Lewat Dejima, bangsa Jepang mulai mengenal jendela dan perabotan ala Barat, karena para saudagar Belanda memasang jendela, meja, kursi pada rumah-rumah yang ada di Dejima. Orang-orang Jepang kuno hanya mengenal jendela yang dilapisi sejenis kertas. Jadi, bayangkanlah betapa dingin ruang di dalam rumah saat musim dingin!

Di Dejima pula terjadi transaksi dagang antara bangsa Jepang dan Belanda. Peninggalan terbanyak yang tersisa dari penggalian di Dejima adalah bejana-bejana keramik putih bertuliskan VOC, bekas botol anggur dan minuman keras.

Namun Dejima yang ada di Nagasaki saat ini bukan lagi Dejima tempat isolasi para saudagar Belanda, karena pada awal abad XX tempat itu direklamasi. Asyik juga membayangkan bahwa tiga ratusan tahun yang lalu tempat kaki kita berpijak saat itu adalah ... laut!

Pengaruh budaya barat di Nagasaki terasa sangat kental, bila dilihat bangunan bergaya Eropa yang ada. Bangunan seperti itu jarang ditemui di kota-kota lain di Jepang. Bahkan papan petunjuk arah kereta api Nagasaki juga berbeda dengan papan sejenis di seluruh Jepang. Soalnya, di tengah-tengah papan terdapat gambar patung gaya Yunani. Patung aslinya ada di Peace Park, episentrum ledakan bom atom di Nagasaki.

Sejarah Nagasaki juga mencatat bahwa kurang lebih empat ratusan tahun silam St. Fransiskus Xaverius mendarat di Nagasaki untuk menyebarkan agama Kristen. Hasilnya bisa dilihat dari banyaknya gereja yang didirikan seperti Katedral Urakami. Ironisnya, Katedral Urakami justru menjadi episentrum ledakan bom atom di Nagasaki. Kabarnya banyak sekali orang yang terbunuh di dalam katedral itu.

Walaupun pada masa isolasi ajaran Fransiskus Xaverius diterima dengan baik di Nagasaki, penyebaran agama Kristen saat itu tidak mendapat restu dari penguasa setempat. Mereka mempunyai cara unik untuk mendeteksi penganut Kristen. Caranya, orang-orang disuruh berbaris, kemudian salib atau gambar suci umat Kristen diletakkan di tanah. Yang tidak mau menginjak salib atau gambar itu akan ditangkap. Sanksi yang diterapkan juga tidak main-main: disiksa sampai dihukum mati.

Di Nagasaki ada banyak sekali tempat martir Jepang dibunuh karena menganut agama Kristen. Monumen yang terkenal adalah Monumen 26 Martir. Di monumen yang terletak di atas bukit itu, ratusan tahun yang lalu, 20 orang Jepang, di antaranya ada anak-anak, dan 6 orang pastor kulit putih disalibkan persis seperti Yesus disalibkan. Menurut perkiraan, pada zaman itu kira-kira ada 2.000 orang yang dibunuh oleh penguasa setempat.

 

Madame Butterfly salah kaprah

Untuk menyusuri kembali jejak-jejak di pelabuhan Nagasaki yang bersejarah, tersedia kapal feri untuk pesiar di sepanjang Teluk Nagasaki. Di atas kapal itu tersedia pemandu wisata yang hafal di luar kepala tempat-tempat yang dilewati kapal. Tapi sayang, ia hanya bisa berbahasa Jepang!

Pemandangan yang tersaji antara lain adanya dok kapal-kapal milik Mitsubishi dan kapal perang milik tentara bela diri Jepang. Pada tanggal 9 Agustus 1945, sesungguhnya pilot pesawat yang membawa bom atom untuk kota Nagasaki nyaris berbalik arah, berhubung pandangannya terhalang awan. Pada saat kritis itu dari celah-celah awan tampaklah kapal-kapal milik Mitsubishi di pelabuhan. Si pilot tidak jadi mundur, Nagasaki jadi dibom.

Menjelang akhir pesiar, pemandu mempersembahkan sebuah lagu accapella dengan penuh semangat tentang Nagasaki. Tepuk tangan pun menyambut selesainya lagu persembahan si pemandu dan feri pun merapat di pelabuhan yang berdekatan dengan Glover Garden.

Di Nagasaki, Glover Garden adalah salah satu tempat yang wajib dikunjungi. Tempat itu dulu kediaman Thomas Glover, pria Inggris perintis pelabuhan Nagasaki. Ia menikah dengan wanita Jepang dan menetap di sana. Konon dialah yang membantu para daimyo melawan shogun. Pelabuhan yang dirintisnya kemudian dibeli oleh Mitsubishi dan ia pun bekerja sebagai konsultan seumur hidup pada perusahaan itu. Glover pulalah yang merintis berdirinya Japan Brewery Co., salah satu bir papan atas Jepang.

Suasana Eropa sangat terasa di Glover Garden. Rumah kediaman Glover tetap dirawat seperti waktu si empunya masih hidup. Turis hanya bisa melongok ke dalam lewat jendela kaca, di mana terlihat ruang makan yang ditata seakan-akan ada perjamuan makan, kamar tidur dengan gaun indah milik istri Thomas Glover tergantung di samping tempat tidur.

Di bagian lain ada sebuah bangunan tempat persinggahan para pelaut asing. Bentuk bangunan bergaya Barat itu beratap relatif rendah bila dibandingkan dengan bangunan-bangunan peninggalan Belanda yang ada di Indonesia. Masuk ke dalamnya seolah menembus ruang waktu masuk ke zaman yang berbeda. Perabotan kuno gaya Barat diatur sedemikian rupa seperti kondisi rumah zaman dulu.

Di Glover Garden ini pula terdapat patung yang terkenal dengan nama Madame Butterfly. Padahal sebetulnya patung tersebut adalah patung penyanyi opera terkenal, pelakon utama cerita Madame Butterfly. Namun, orang telanjur mengidentikkan patung itu dengan sang madame. Kisah Madame Butterfly sendiri adalah cerita opera yang mengambil setting Nagasaki; sebuah kisah cinta antara pelaut asing dan wanita Jepang. Sayang sekali cinta mereka tidak mungkin bersatu dan si wanita bunuh diri.

 

Dikira di Amsterdam

Bila ingin menambah kental suasana Eropa, ada tempat hiburan sejenis Disneyland yang terletak di luar Kota Nagasaki. Tempat itu bernama Huis Ten Bosch yang bisa dicapai dengan kereta api reguler dan kereta api wisata yang menurut istilah anak remaja sekarang funky sekali. Soalnya, gerbongnya warna warni!

Kereta-kereta itu akan berhenti di stasiun kecil di samping taman hiburan Huis Ten Bosch. Siapa pun tidak akan menyangkal bahwa Huis Ten Bosch adalah tiruan Negeri Belanda. Dari kejauhan nampak hotel mewah yang berarsitektur Eropa, sedang di belakang hotel terdapat perumahan mewah yang berhadapan dengan teluk.

Di sebelah perumahan mewah ada sebuah kincir angin besar yang menimbulkan rasa ingin tahu, apa fungsinya di tempat mewah itu. Ternyata kincir itu pos penjagaan perumahan mewah. Satpam kincir angin dengan ramah mengatakan turis dilarang masuk perumahan mewah. Tetapi, kami diizinkan untuk berfoto di depan kincir angin. Siapa pun yang melihat foto di depan pintu masuk itu pasti terkecoh. Ia akan mengira lokasinya di Amsterdam!

Tiket masuk taman hiburan Huis Ten Bosch ternyata lebih mahal dari tiket masuk Disneyland: + 5.000 yen. Yang lebih parah, untuk masuk wahana hiburan tertentu kita harus merogoh kantong lebih dalam lagi. Menurut standar orang Jepang 5.000 yen itu mahal sekali.

Setelah adu argumentasi, kami akhirnya tidak jadi masuk taman hiburan dan melanjutkan perjalanan ke daerah Saga, mengunjungi rumah orang tua dosen kami. Saga terletak di sebelah utara Nagasaki dan merupakan daerah pertanian yang terpencil.

Kedatangan kami yang tiba-tiba bisa dimengerti oleh Ibu Nokita, dosen kami. Ia bahkan mau menjemput kami di stasiun Huis Ten Bosch. Padahal perjalanan dari rumah orang tuanya di Saga memakan waktu 50 menit dengan mobil.

Sebagai ganti acara ke Huis Ten Bosch, kami diajak ke pemandian air panas alami atau onsen yang banyak dijumpai di Pulau Kyushu dan pusat kerajinan keramik di Jepang, Arita.

Kunjungan ke dua tempat itu pasti akan membuat ibu-ibu iri hati. Pasalnya, menurut orang Jepang, mandi di onsen dapat membuat kulit halus alami. Sementara kunjungan ke Arita amat menarik karena banyak dijual keramik yang benar-benar indah dan berkualitas tinggi. Memang harganya selangit, namun ada juga mug keramik yang harganya murah meriah tapi tetap berkualitas tinggi.

Nagasaki memang unik. 

Click here to join our mailing list!
Join our mailing list!
rumah intisari on the net CLICK HERE TO VISIT THE TOP 1000!