Penyembuhan suatu penyakit
sebenarnya tak harus dengan bantuan dokter. Pada tingkat keparahan tertentu
ternyata bisa dengan olah napas. Umpamanya saja penyakit influenza, batuk, atau
masuk angin. Tekanan darah rendah atau tinggi pun bisa dipulihkan bila kita
secara rutin mau melakukan olah napas. Bahkan, ada orang yang mengalami
kelumpuhan di separuh tubuhnya bisa membaik kondisinya setelah melakukan olah
napas secara rutin. Manfaat tadi bukan isapan jempol.
Hasil evaluasi yang dilakukan Eko Trihatmoko, praktisi dan instruktur seni
pernapasan Kartika, terhadap 100 muridnya bisa jadi buktinya. Setelah diajari
selama sekitar 5 bulan, peserta mengalami perubahan yang signifikan. Beberapa
penyakit rutin macam flu, batuk, dan masuk angin bisa sembuh tanpa obat dan
susah kambuh. Derajad kesehatan tubuh meningkat yang ditandai dengan
meningkatnya kebugaran tubuh dan tenaga fisik. Stres hilang serta fisik dan
mental lebih rileks. Lebih pede, sabar, tenang, mudah mengendalikan
emosi, dan mudah berkonsentrasi. Tak ketinggalan, gairah seksual juga
meningkat. Beberapa kelebihan dan keuntungan
juga bisa didapat dari penyembuhan dengan olah napas. Di antaranya, penyembuhan
cara ini termasuk murah karena tidak mengeluarkan biaya apa pun, kecuali untuk
mempelajarinya. Olah napas mudah dilakukan dan praktis. Gerakannya sederhana
dan tidak mengutamakan kekuatan otot. Penggunaan obat tidak diperlukan,
sehingga tidak ada efek sampingnya. Setelah sembuh pun manfaatnya masih bisa
dirasakan, di antaranya kebugaran badan terjaga dan emosi bisa terkontrol. Lumpuh pun membaik Dengan olah napas, kita bisa
menjadi “dokter” bagi diri sendiri. Kita akan tahu kapan harus melakukan
sesuatu yang berhubungan dengan kesehatan, misalnya kapan harus istirahat,
memperhatikan bagian tubuh yang sakit, dll. Kita mengetahui kebutuhan tubuh kita
sendiri. “Kalau memang harus ke dokter, kita juga tahu bahwa bantuan dokter
memang sudah diperlukan. Olah napas tidak bisa berdiri sendiri,” ungkap Eko. “Dari pengalaman saya
mempraktikkan olah napas, yang mudah dialami seseorang terutama penyembuhan dari
penyakit-penyakit ringan. Jadi olah napas bisa membantu seseorang dengan
menaikkan derajat kesehatan, sehingga halangan berupa penyakit ringan dengan
sendirinya terputus siklusnya. Soalnya, penyakit-penyakit ringan biasanya
terjadi kalau kondisi fisik seseorang mulai menurun, sehingga kekebalan
tubuhnya juga menurun. Penyakit itu bisa dilawan kalau kondisi fisik kita naik,” tambah staf pemasaran sebuah perusahaan konsultan di Jakarta
ini. Penyakit yang bisa dilawan pun
bisa meningkat dengan meningkatnya kondisi tubuh melalui olah napas. Misalnya,
dulunya seseorang cuma mampu melawan flu, pada tingkat selanjutnya bisa
mengatasi tekanan darahnya, rendah atau pun tinggi. Pada orang lain, gangguan
persendian tubuh juga bisa teratasi. Demikian pula dengan gangguan maag. “Yang
sedikit luar biasa, ada yang sudah mengalami lumpuh separuh badannya akibat stroke,
mengalami perkembangan sangat bagus setelah menjalani olah napas selama 6 bulan. Tangan dan kakinya yang semula tidak bisa digerakkan sudah mulai memiliki
tenaga,” tutur Eko. Menurut dia, munculnya suatu
penyakit sebenarnya merupakan manifestasi dari ketidakharmonisan kerja
organ-organ tubuh kita serta ketidakselarasan kesatuan tubuh dan jiwa kita.
Ketidakharmonisan dan ketidakselarasan tadi berawal dari pemaksaan terhadap
tubuh kita untuk bekerja berlebihan. Akibatnya, sistem kerja tubuh menjadi
tidak teratur. Inilah yang kemudian menimbulkan ketidakharmonisan dan
ketidakselarasan tadi. Bila itu tidak disadari dan dirasakan, organ tubuh akan
semakin lemah dan akhirnya rusak. Kekebalan tubuh juga tak berfungsi baik
sehingga penyakit mudah menyusup. Olah napas mampu membangun kembali
harmoni dalam kehidupan fisik dan kejiwaan tadi secara simultan. Ketika olah
napas dilakukan, volume napas dalam tubuh bisa dioptimalkan untuk memperkuat
dan memperdayakan organ tubuh. Derajat kesehatan tubuh pun meningkat sehingga
memiliki daya tahan terhadap gangguan penyakit. Dengan pertahanan yang kuat
pula penyakit yang telah telanjur masuk bisa dikalahkan. Tubuh juga didisposisikan
ke dalam keadaan rileks secara menyeluruh dan membawa keadaan jiwa terlepas
dari ketegangan dan suasana negatif. Tarik, tahan, dan buang Olah napas bisa dilakukan oleh
siapa saja tanpa memandang usia. Namun, idealnya memang untuk mereka yang sudah
bekerja dan berkeluarga. Kira-kira usia 30 – 60 tahun. Efek yang ditimbulkan olah napas
berbeda dengan olah raga. Pada olah napas, ketika kita melakukannya memang
terasa capek. Namun, setelah latihan justru kesegaran yang kita dapatkan dan
tidak capek, baik fisik maupun mental. Sebaliknya, pada olah raga, terutama
yang sifatnya permainan, setelah latihan selama 50 menit saja misalnya,
capeknya sudah setengah mati. Inti perbedaan tadi terletak pada
adanya keteraturan. Pada olah napas, ada keteraturan napas, emosi, gerak. Pada
olah raga mungkin ada keteraturan gerak, tapi emosi dan napasnya mungkin tidak
teratur. Padahal, “Keteraturan emosi dan napas sangat berpengaruh terhadap
kesegaran tubuh dan mental,” jelas Eko. Untuk bisa melakukan olah napas
tidaklah terlalu sulit. Hanya saja, kita perlu belajar terlebih dahulu
setidaknya dalam 32 kali pertemuan masing-masing selama 1,5 jam. Frekuensinya
dua kali seminggu. Dalam latihan diajarkan 12 jurus yang fokusnya melatih
jantung dan paru-paru. Masing-masing disertai dengan olah organ tubuh bagian
atas (tangan, lengan, bahu, dada), bagian bawah (perut dan pinggang) dan bawah
(pantat, paha, dan kaki). Olah organ tubuh ditujukan untuk memperkuat bagian
tersebut. Setelah menguasai jurus-jurus tadi, kita bisa melakukannya sendiri
dengan penekanan jurus tertentu untuk mendapatkan manfaat yang kita kehendaki. Seperti halnya olah raga, dalam
berolah napas kita memerlukan pemanasan. Tujuannya, untuk mempersiapkan tubuh
memasuki bagian utama olah napas. Bentuk pemanasannya berupa pelenturan tubuh
dari bagian atas sampai bawah dengan gerakan lembut atau diarahkan pada
organ-organ tertentu yang hendak diperkuat. Ini perlu karena dalam olah napas,
di samping konsentrasi, olah organ tubuh juga ikut dilibatkan. Dengan pemanasan
diharapkan tubuh menjadi lebih lentur, lemas, dan bebas dari ketegangan.
Waktunya, sekitar 15 menit saja. Dalam bagian utama olah napas ada
tiga proses yang dilalui, yakni menarik, menahan, dan membuang napas. Tujuannya
untuk mengoptimalkan volume napas, menjaga keteraturan napas, dan mengelola
napas secara efisien. Karena napas bisa diartikan sebagai daya hidup, maka
dengan menarik napas kita mengambil daya hidup melalui hidung dan menghimpunnya
di dalam tubuh. Kita tidak sekadar menghirup napas ala kadarnya, melainkan
sebanyak-banyaknya. Bisa lima atau sepuluh kali lipat dari biasanya. Dengan
demikian pasokan oksigen ke tubuh akan jauh lebih banyak dan maksimal. Ketika napas kita tahan, daya
hidup akan mengendap dan kita biarkan untuk merasuki seluruh tubuh. Penahanan
napas yang terarah dan terkendali akan membantu mengaktifkan organ kita yang
lemah, memperbaikinya, dan memberdayakannya sehingga bisa berfungsi dengan
baik. Saluran energi yang tersumbat bisa terbuka kembali, aliran darah ke
seluruh tubuh lebih lancar, metabolisme tubuh pun menjadi sempurna. Penahanan
napas juga bermanfaat untuk melatih pengendalian diri atau emosi. Dalam proses
menahan napas, kita perlu pula melakukan penegangan organ tertentu dan
konsentrasi untuk membantu mengarahkan dan memusatkan energi pada organ
tersebut. Lama penahanan napas tergantung
kemampuan kita, tetapi secara bertahap bisa ditingkatkan. Pemula biasanya
diajari sekitar 15 detik. Setelah 4 bulan belajar, menahan napas selama 40
detik menjadi hal biasa. “Tidak bisa dipaksakan harus sekian detik, tetapi
ditingkatkan secara gradual sesuai dengan irama hidup dan potensi masing-masing
orang,” jelas Eko. Setelah kita tahan beberapa saat,
“sisa” napas mesti kita buang sampai habis dengan bantuan pengecilan perut. Ini
dimaksudkan agar menimbulkan kerinduan yang kuat pada diri kita untuk
menariknya kembali. Pelepasannya bisa melalui mulut atau hidung. Dalam proses
ini terdapat unsur pembersihan dan pelepasan. Kita melepas segala kotoran,
emosi, stres, dan rasa sakit. Pelepasannya juga mesti dalam harmoni dengan
gerakan tubuh dan ekspresi wajah, misalnya dengan tubuh terlihat gagah atau
wajah tersenyum lembut penuh kedamaian. Dalam semua proses olah napas
tadi, kita melibatkan pula olah organ tubuh yang penekanannya pada penguatan
tangan, bahu, dada, perut, pinggang, dan paha dengan dasar pengembangan napas
dada. Dengan olah organ tubuh, energi napas disalurkan kepada organ-organ tubuh
untuk memberi penguatan. Olah organ tubuh mesti selalu harmoni dengan olah
napas. Gerakan tubuh lembut akan dibarengi karakter napas lembut pula. Begitu
pula sebaliknya. Untuk pengolahan energi di tangan misalnya, maka pengerasan di
tangan dilakukan sambil konsentrasi di tempat yang sama, sedangkan organ lain
dikendorkan. Karena dalam olah napas ada
penguatan pada organ tertentu, aliran energi menjadi tidak seimbang dan merata.
Karena itu perlu tahapan yang disebut napas penyegaran sebagai sarana
penyeimbang. Dengan seimbangnya kembali energi dalam tubuh, tubuh menjadi segar
kembali dan penuh vitalitas. Bisa dilakukan sambil bekerja Seperti ketika belajar, frekuensi
melakukan olah napas juga dua kali seminggu, masing-masing selama 1,5 jam. “Dua
kali latihan dengan intensitas penuh sebenarnya sudah cukup untuk meng-cover
hidup selama seminggu.” Namun, untuk tujuan penyembuhan penyakit serius, perlu
penambahan frekuensi di luar yang biasanya. Umpamanya menjadi 3 atau 4 kali
seminggu. Tambahannya, menurut Eko, tidak perlu dengan intensitas penuh. Kalau
yang utama perlu waktu 1,5 jam, maka yang tambahan cukup 30 menit, sesuai
dengan keadaan. Dalam kondisi tertentu, menurut
Eko, olah organ tubuh bisa tidak dilakukan bersamaan dengan olah napas. “Karena
arah kita justru seseorang melakukan apa yang dia inginkan berdasarkan
kemauannya sendiri. Misalnya, berolah napas dengan duduk sambil bekerja, ya itu
bisa terjadi. Jadi latihan ini lama-lama membebaskan orang dari keterikatan
gerak, posisi, dan sebagainya. Latihan tidak perlu lagi dilakukan di tempat
khusus, dengan waktu khusus. Sambil bekerja pun olah napas bisa dilakukan.
Artinya olah napas ini memang untuk membantu hidup kita sehari-hari.” Jurus-jurusnya pun tidak harus
seluruh jurus yang pernah dipelajari. Cukup jurus-jurus yang diperlukan saja.
Juga tidak perlu sesuai dengan urutannya. “Sesuai dengan kemauan kita atau
kondisi sekitar kita. Jurus yang mengharuskan kita berbaring atau melangkah,
tentu tak mungkin dilakukan di kantor saat kita bekerja.” Jurus yang dipilih
juga disesuaikan dengan tujuan kita melakukan olah napas. Untuk mengatasi
gangguan fungsi ginjal atau pinggang umpamanya, perlu dipilih jurus-jurus yang
gerakannya mengarah ke bagian itu. Kuat-lemahnya menarik dan membuang napas
juga disesuaikan dengan tujuan berolah napas. Untuk menurunkan tekanan darah
tinggi, penarikan dan pelepasan napas harus dengan lembut disertai ekspresi
tubuh lentur dan lembut pula. Sebaliknya untuk meningkatkan tekanan darah,
penarikan dan pelepasannya kuat dan meletup dengan ekspresi tubuh yang kuat
pula. Jadi, “Harus ada harmonisasi antara jenis napasnya, lemah atau kuat, dan
ekspresi tubuh dan wajahnya.” Itulah inti dari olah napas. (I Gede Agung
Yudana) |