Keterangan beriklan di site ini logo(1).gif (10626 bytes)
globetiny.gif (852 bytes)N THE NET
tan_obat.jpg (12269 bytes)

Menembus Daerah Merah di Timtim

Bulan ini rakyat Timor Timur mengadakan pengumpulan pendapat untuk menentukan status daerah mereka. Apa pun pilihannya nanti, D.S. Priyarsono merasa beruntung telah berkesempatan melihat sosok Timtim dari dekat, seperti dituturkannya.

 

Atas undangan Bappeda (Badan Perencanaan Pembangunan Daerah) Timtim, beberapa waktu lalu saya mengunjungi Tanah Loro Sae (sebutan orang Timtim bagi daerah mereka). Tim kami dimintai rekomendasi untuk merancang pengembangan daerah setempat, terutama jalur selatan, yang menghubungkan Kota Betano, Natarbora, dan Viqueque. Karena kami diharapkan juga merancang sebuah kota pelabuhan di pantai selatan, maka kami perlu mengamati jalur itu secara teliti. Kami putuskan untuk minta bantuan Angkatan Darat mengantar kami dengan helikopter.

Perasaan saya campur aduk antara senang dan waswas. Maklumlah, baru kali itu saya akan merasakan naik helikopter. Sementara itu, bagaimanapun di Timtim suasana "daerah operasi militer" masih terasa.

Dari ibu kota Dili di pantai utara helikopter kami menuju pantai selatan dengan menjelajahi pegunungan di bagian tengah pulau itu. Beberapa kali helikopter kami serasa anjlok akibat terperosok dalam kantung-kantung udara yang berbeda tekanannya dengan udara di sekitarnya. Saya mencoba sok kalem.

 

Jalan raya atau jalan kambing?

"Rute ini kami namai jalan tikus," tutur pilot. Di kalangan sopir Jakarta, jalan tikus adalah gang-gang sempit yang terpaksa mereka lalui untuk menghindari kawasan pembatasan penumpang alias three in one. Bagi helikopter, jalan tikus ternyata celah-celah di antara dua tebing. Terbang di antara tebing-tebing ternyata sungguh menegangkan, sebab bukit-bukit itu serasa dekat sekali di samping penumpang.

Sambil melirik peta yang ada di depannya, pilot menanyakan titik-titik tujuan perjalanan kami. Kami sebut beberapa nama. Menurut pilot, di antaranya ada tempat-tempat di mana dia tidak berani mendarat. Di peta itu terlihat beberapa nama dibubuhi tanda merah.

"Nanti di sana kita terbang rendah saja," usulnya.

"Ya, tapi bisa serendah apa?" tanya kami.

"Serendah-rendahnya, tapi tetap di luar jangkauan tembakan mereka," ujarnya menjelaskan.

Barulah kami sadar bahwa kami sedang menuju daerah pertempuran (disebut dengan sandi "daerah merah").

Dari helikopter terlihat jelas pemandangan di bawah. Pegunungan, jurang, sungai, hutan, semak, tegalan, perkampungan, semuanya sungguh indah. Di beberapa kawasan terlihat perkampungan dengan rumah-rumah berjajar rapi. Itulah perumahan transmigrasi, yang penghuninya konon berasal dari Jawa Tengah dan Bali.

Walaupun kesuburan lahan pertaniannya tidak begitu mengesankan, desa-desa di daerah yang kami lewati dihubungkan satu sama lain dengan jaringan jalan raya berkualitas baik. Sayang sekali saking lengangnya, yang sesekali lewat di jalan cuma beberapa ekor kambing.

Selama perjalanan, helikopter perlu beberapa kali "minum" di pos-pos tentara. Sekali isi ulang tangki bisa menghabiskan beberapa drum bahan bakar. Tentu tidak mengherankan bila biaya terbang dengan helikopter sangat mahal. Tarifnya kira-kira Rp 12 juta per dua jam terbang. Begitu pun kami sudah merasa amat bersyukur, karena bantuan dari militer ini sangat menolong pekerjaan kami. Apalagi mendapat kehormatan dipiloti oleh seorang letnan kolonel.

Tiap kali isi bahan bakar, para penumpang turun dari helikopter. Mungkin karena berpotongan cepak, tiap kali turun dari helikopter, saya selalu memperoleh penghormatan gaya militer. Barangkali saya dikira perwira tinggi dari Mabes (Markas Besar). Untuk tidak mengecewakan sang pemberi hormat, saya selalu membalas memberi hormat, kemudian menjabat tangan sambil menepuk-nepuk punggung mereka. Saya hanya meniru gaya mantan Menhankam M. Jusuf, jenderal favorit saya.

 

Rp 1,5 juta untuk kencing

Omong-omong soal uang, dalam penerbangan ini tanpa sengaja kami pernah menghambur-hamburkan uang juga. Waktu itu udara memang dingin dan suasana agak mencekam. Maka wajar ketika seorang rekan saya mengeluh kebelet pipis.

Maka mendaratlah kami di sebuah lapangan dekat sebuah gedung SD. Begitu turun, tak hanya si kawan tadi, kami semua langsung terbirit-birit ke WC di SD itu. Walhasil, buang air kecil plus basa-basi sana-sini dengan tuan rumah menghabiskan waktu tak kurang dari 15 menit. Artinya Rp 1,5 juta melayang hanya untuk urusan buang air kecil.

Sebagai uji-silang, temuan-temuan penting lewat udara harus dikonfirmasikan di lapangan. Itu berarti kami perlu mengunjungi beberapa lokasi lewat jalan darat, yang kami lakukan esok harinya.

Rombongan kami pun mengendarai empat mobil Kijang. Di Timtim, mendapatkan Kijang yang tidak terlalu tua saja sudah untung. Dua dari yang kami kendarai malahan terlihat jelas tidak orisinil, melainkan hasil rakitan lokal.

Dari Dili kami berangkat ke arah barat laut, lalu ke selatan, menuju Kota Same. Di sepanjang perjalanan, sopir memperdengarkan lagu-lagu berbahasa daerah setempat. Irama dan nadanya tidak terlampau asing di telinga saya, mirip lagu-lagu Nusa Tenggara pada umumnya. Beberapa lagu bahkan dinyanyikan oleh gubernur Timtim saat kaset itu dibuat. Ternyata suaranya cukup bagus. Di sampul kaset tertulis bahwa hasil penjualan kaset itu oleh gubernur diserahkan kepada Palang Merah Indonesia.

Di Same kami menginap di asrama tentara. Pagi-pagi sekali, kami sudah harus mengamati kegiatan ekonomi masyarakat setempat di pasar. Pengamatan ini tidak bisa ditunda, karena pasar hanya buka seminggu sekali. Itu pun hanya sebentar di pagi hari.

 

Diangkut traktor

Setelah pengamatan selesai, kami meneruskan perjalanan menyusuri pantai selatan ke arah timur. Ternyata pantainya cukup indah, dengan pasir yang agak putih. Kami sempat berfoto ria, layaknya orang berpiknik. Kami juga berpose di sisa-sisa pelabuhan zaman Portugis. Pada hari sebelumnya, dari helikopter terlihat ada tanda-tanda kegiatan ekonomi di situ. Nyatanya, yang kami temukan hanya gedung kosong. Di depannya ada tugu kecil untuk memperingati lokasi pasukan RI pertama kali mendarat pada awal masa perang dulu.

Malam berikutnya kami menginap di sebuah sekolah menengah pertanian di Kota Natarbora. Di kawasan inilah Pemda Timtim mengharapkan bisa membangun pelabuhan samudera untuk melayani kegiatan pengeboran minyak di Celah Timor.

Sebenarnya, kami ingin langsung ke bibir pantai, namun ternyata jaraknya sekitar 5 km. Untunglah seorang guru sekolah itu berbaik hati mengantar kami ke pantai dengan traktornya. Soalnya, mobil Kijang tidak mungkin mampu melintasi medan semak belukar dan rawa-rawa yang harus dilalui untuk mencapai pantai.

Nama calon kota pelabuhan itu adalah Naan Curun, yang menurut keterangan penduduk setempat artinya "serpihan daging". Entah ada hubungannya atau tidak, penduduk bercerita bahwa pantai itu beberapa kali pernah menjadi tempat penyanderaan.

Dalam perjalanan antara Same dan Natarbora, salah satu ban mobil kami kempes, sehingga harus diganti dengan ban cadangan. Karena khilaf, sesampai di Natarbora ban kempes itu kelupaan tidak ditambal. Padahal perjalanan kami masih panjang dan berbahaya. Bukan hanya dari segi medannya yang terjal, tapi juga sebagian masih tergolong "daerah merah".

Benar saja, kekhawatiran kami menjadi kenyataan. Dalam perjalanan pulang ke Dili, ketika sedang meniti pegunungan terjal yang tergolong "merah" tadi, salah satu ban mobil malang itu kempes lagi. Bagaimana ini? Kami dihadapkan pada dua pilihan. Pertama, mengutus sopir menambalkan ban di kota terdekat dengan mengendarai mobil lain. Karena waktu yang diperlukan cukup lama, kami bakal mesti menginap di atas pegunungan, yang jauh dari perkampungan dan, ini yang mengerikan, terkenal "merah"-nya. Pilihan kedua, pakai ban cadangan mobil lain. Sialnya, ban yang kempes itu lebih kecil dibandingkan dengan ukuran ban Kijang standar.

Setelah perdebatan kecil, kami sepakat mengambil pilihan kedua. Namun, hati tetap waswas, karena kami semua masih ingat kecelakaan yang menimpa penyanyi Nike Ardilla. Menurut koran, kecelakaan itu terjadi karena salah satu roda mobil yang ditumpangi artis cantik itu berukuran lebih besar ketimbang ketiga ban lainnya. Jadi mirip dengan mobil kami saat itu.

Untunglah, akhirnya kami tiba juga di Dili dengan selamat. 

Click here to join our mailing list!
Join our mailing list!
rumah intisari on the net CLICK HERE TO VISIT THE TOP 1000!