Atas undangan Bappeda (Badan
Perencanaan Pembangunan Daerah) Timtim, beberapa waktu lalu saya mengunjungi
Tanah Loro Sae (sebutan orang Timtim bagi daerah mereka). Tim kami dimintai
rekomendasi untuk merancang pengembangan daerah setempat, terutama jalur
selatan, yang menghubungkan Kota Betano, Natarbora, dan Viqueque. Karena kami
diharapkan juga merancang sebuah kota pelabuhan di pantai selatan, maka kami
perlu mengamati jalur itu secara teliti. Kami putuskan untuk minta bantuan
Angkatan Darat mengantar kami dengan helikopter. Perasaan saya campur aduk antara
senang dan waswas. Maklumlah, baru kali itu saya akan merasakan naik
helikopter. Sementara itu, bagaimanapun di Timtim suasana "daerah operasi
militer" masih terasa. Dari ibu kota Dili di pantai utara
helikopter kami menuju pantai selatan dengan menjelajahi pegunungan di bagian
tengah pulau itu. Beberapa kali helikopter kami serasa anjlok akibat terperosok
dalam kantung-kantung udara yang berbeda tekanannya dengan udara di sekitarnya.
Saya mencoba sok kalem. Jalan raya atau jalan kambing? "Rute ini kami namai jalan
tikus," tutur pilot. Di kalangan sopir Jakarta, jalan tikus adalah
gang-gang sempit yang terpaksa mereka lalui untuk menghindari kawasan
pembatasan penumpang alias three in one. Bagi helikopter, jalan tikus
ternyata celah-celah di antara dua tebing. Terbang di antara tebing-tebing
ternyata sungguh menegangkan, sebab bukit-bukit itu serasa dekat sekali di
samping penumpang. Sambil melirik peta yang ada di
depannya, pilot menanyakan titik-titik tujuan perjalanan kami. Kami sebut
beberapa nama. Menurut pilot, di antaranya ada tempat-tempat di mana dia tidak
berani mendarat. Di peta itu terlihat beberapa nama dibubuhi tanda merah. "Nanti di sana kita terbang
rendah saja," usulnya. "Ya, tapi bisa serendah
apa?" tanya kami. "Serendah-rendahnya, tapi
tetap di luar jangkauan tembakan mereka," ujarnya menjelaskan. Barulah kami sadar bahwa kami
sedang menuju daerah pertempuran (disebut dengan sandi "daerah
merah"). Dari helikopter terlihat jelas
pemandangan di bawah. Pegunungan, jurang, sungai, hutan, semak, tegalan,
perkampungan, semuanya sungguh indah. Di beberapa kawasan terlihat perkampungan
dengan rumah-rumah berjajar rapi. Itulah perumahan transmigrasi, yang
penghuninya konon berasal dari Jawa Tengah dan Bali. Walaupun kesuburan lahan
pertaniannya tidak begitu mengesankan, desa-desa di daerah yang kami lewati
dihubungkan satu sama lain dengan jaringan jalan raya berkualitas baik. Sayang
sekali saking lengangnya, yang sesekali lewat di jalan cuma beberapa ekor
kambing. Selama perjalanan, helikopter
perlu beberapa kali "minum" di pos-pos tentara. Sekali isi ulang
tangki bisa menghabiskan beberapa drum bahan bakar. Tentu tidak mengherankan
bila biaya terbang dengan helikopter sangat mahal. Tarifnya kira-kira Rp 12
juta per dua jam terbang. Begitu pun kami sudah merasa amat bersyukur, karena
bantuan dari militer ini sangat menolong pekerjaan kami. Apalagi mendapat
kehormatan dipiloti oleh seorang letnan kolonel. Tiap kali isi bahan bakar, para
penumpang turun dari helikopter. Mungkin karena berpotongan cepak, tiap
kali turun dari helikopter, saya selalu memperoleh penghormatan gaya militer.
Barangkali saya dikira perwira tinggi dari Mabes (Markas Besar). Untuk tidak
mengecewakan sang pemberi hormat, saya selalu membalas memberi hormat, kemudian
menjabat tangan sambil menepuk-nepuk punggung mereka. Saya hanya meniru gaya
mantan Menhankam M. Jusuf, jenderal favorit saya. Rp 1,5 juta untuk kencing Omong-omong soal uang, dalam
penerbangan ini tanpa sengaja kami pernah menghambur-hamburkan uang juga. Waktu
itu udara memang dingin dan suasana agak mencekam. Maka wajar ketika seorang
rekan saya mengeluh kebelet pipis. Maka mendaratlah kami di sebuah
lapangan dekat sebuah gedung SD. Begitu turun, tak hanya si kawan tadi, kami
semua langsung terbirit-birit ke WC di SD itu. Walhasil, buang air kecil plus
basa-basi sana-sini dengan tuan rumah menghabiskan waktu tak kurang dari 15
menit. Artinya Rp 1,5 juta melayang hanya untuk urusan buang air kecil. Sebagai uji-silang, temuan-temuan
penting lewat udara harus dikonfirmasikan di lapangan. Itu berarti kami perlu
mengunjungi beberapa lokasi lewat jalan darat, yang kami lakukan esok harinya. Rombongan kami pun mengendarai
empat mobil Kijang. Di Timtim, mendapatkan Kijang yang tidak terlalu tua saja
sudah untung. Dua dari yang kami kendarai malahan terlihat jelas tidak
orisinil, melainkan hasil rakitan lokal. Dari Dili kami berangkat ke arah
barat laut, lalu ke selatan, menuju Kota Same. Di sepanjang perjalanan, sopir
memperdengarkan lagu-lagu berbahasa daerah setempat. Irama dan nadanya tidak
terlampau asing di telinga saya, mirip lagu-lagu Nusa Tenggara pada umumnya.
Beberapa lagu bahkan dinyanyikan oleh gubernur Timtim saat kaset itu dibuat.
Ternyata suaranya cukup bagus. Di sampul kaset tertulis bahwa hasil penjualan
kaset itu oleh gubernur diserahkan kepada Palang Merah Indonesia. Di Same kami menginap di asrama
tentara. Pagi-pagi sekali, kami sudah harus mengamati kegiatan ekonomi
masyarakat setempat di pasar. Pengamatan ini tidak bisa ditunda, karena pasar
hanya buka seminggu sekali. Itu pun hanya sebentar di pagi hari. Diangkut traktor Setelah pengamatan selesai, kami
meneruskan perjalanan menyusuri pantai selatan ke arah timur. Ternyata
pantainya cukup indah, dengan pasir yang agak putih. Kami sempat berfoto ria,
layaknya orang berpiknik. Kami juga berpose di sisa-sisa pelabuhan zaman
Portugis. Pada hari sebelumnya, dari helikopter terlihat ada tanda-tanda
kegiatan ekonomi di situ. Nyatanya, yang kami temukan hanya gedung kosong. Di
depannya ada tugu kecil untuk memperingati lokasi pasukan RI pertama kali
mendarat pada awal masa perang dulu. Malam berikutnya kami menginap di
sebuah sekolah menengah pertanian di Kota Natarbora. Di kawasan inilah Pemda
Timtim mengharapkan bisa membangun pelabuhan samudera untuk melayani kegiatan
pengeboran minyak di Celah Timor. Sebenarnya, kami ingin langsung ke
bibir pantai, namun ternyata jaraknya sekitar 5 km. Untunglah seorang guru
sekolah itu berbaik hati mengantar kami ke pantai dengan traktornya. Soalnya,
mobil Kijang tidak mungkin mampu melintasi medan semak belukar dan rawa-rawa
yang harus dilalui untuk mencapai pantai. Nama calon kota pelabuhan itu adalah
Naan Curun, yang menurut keterangan penduduk setempat artinya "serpihan
daging". Entah ada hubungannya atau tidak, penduduk bercerita bahwa pantai
itu beberapa kali pernah menjadi tempat penyanderaan. Dalam perjalanan antara Same dan
Natarbora, salah satu ban mobil kami kempes, sehingga harus diganti dengan ban
cadangan. Karena khilaf, sesampai di Natarbora ban kempes itu kelupaan tidak
ditambal. Padahal perjalanan kami masih panjang dan berbahaya. Bukan hanya dari
segi medannya yang terjal, tapi juga sebagian masih tergolong "daerah
merah". Benar saja, kekhawatiran kami
menjadi kenyataan. Dalam perjalanan pulang ke Dili, ketika sedang meniti
pegunungan terjal yang tergolong "merah" tadi, salah satu ban mobil
malang itu kempes lagi. Bagaimana ini? Kami dihadapkan pada dua pilihan.
Pertama, mengutus sopir menambalkan ban di kota terdekat dengan mengendarai
mobil lain. Karena waktu yang diperlukan cukup lama, kami bakal mesti menginap
di atas pegunungan, yang jauh dari perkampungan dan, ini yang mengerikan, terkenal
"merah"-nya. Pilihan kedua, pakai ban cadangan mobil lain. Sialnya,
ban yang kempes itu lebih kecil dibandingkan dengan ukuran ban Kijang standar. Setelah perdebatan kecil, kami
sepakat mengambil pilihan kedua. Namun, hati tetap waswas, karena kami semua
masih ingat kecelakaan yang menimpa penyanyi Nike Ardilla. Menurut koran,
kecelakaan itu terjadi karena salah satu roda mobil yang ditumpangi artis
cantik itu berukuran lebih besar ketimbang ketiga ban lainnya. Jadi mirip
dengan mobil kami saat itu. Untunglah, akhirnya kami tiba juga
di Dili dengan selamat. |