Keterangan beriklan di site ini logo(1).gif (10626 bytes)
globetiny.gif (852 bytes)N THE NET
tan_obat.jpg (12269 bytes)

Tugas wanita ini kelihatannya sekadar mencatat silsilah dan mengatur perkawinan raja rimba satu dengan yang lain. Padahal kenyataannya, yang dia lakukan lebih dari itu. Berkat ketekunannya, harimau loreng sumatra yang sudah langka itu diharapkan terhindar dari kepunahan.


Wanita sering identik dengan kelembutan dan keindahan. Boleh jadi pandangan itu sudah usang. Sepanjang abad XX semakin banyak wanita yang ogah bermanja-manja dengan "kodrat" itu. Mereka berani menembus dominasi kaum pria. Bahkan mampu menyusup ke dunia pria yang konon rawan dimasuki kaum wanita.

Dr. drh. Ligaya Ita Tumbelaka, Sp.MP, M.Sc. adalah salah seorang di antaranya. Wanita berusia 39 tahun itu kini menjadi satu-satunya studbook keeper. Ini pekerjaan langka karena tugasnya mencatat silsilah dan sejarah demografi satwa tertentu yang berada di luar habitat aslinya seperti kebun binatang, taman satwa, atau milik perorangan. Tak cuma itu, ia juga sekaligus sebagai pengelola penangkarannya. Tak tanggung-tanggung, jenis satwa yang dipercayakan kepadanya adalah harimau loreng sumatra yang berada di seluruh Indonesia. Suatu pekerjaan yang berisiko tinggi bagi kaum lelaki sekalipun, berhubung tidak jarang ia harus berada pada jarak yang dekat dengan binatang-binatang buas itu.

Pencatatan dan penangkaran yang dilakukan dosen di Bagian Reproduksi dan Kebidanan, Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor (IPB), ini menjadi sangat penting manakala ada satwa yang sudah berjarak amat dekat dengan kepunahan. Pencatatan itu bisa bersifat regional maupun internasional.

Beberapa satwa langka lain di Indonesia juga memiliki studbook keeper. Orang utan Pongo pygmaeus dan rusa Bawean Axis kuhlii, misalnya, masing-masing ditangani oleh Jonathan Wilcken dan Cathy Sanaders, yang secara geografis berada di wilayah regional Australia. Sebelumnya jalak bali Leucopsar rothschildi juga memiliki studbook keeper yakni drh. Prabowo, tapi sekarang tidak ada lagi.

Cegah penurunan mutu genetik
Dengan pencatatan yang dilakukan Ligaya, harimau sumatra yang berada di berbagai kebun binatang dan taman satwa, maupun milik perorangan di Indonesia, bisa terpantau silsilah dan penyebaran genetiknya. Saat ini, harimau sumatra di Indonesia yang berada di luar habitat aslinya tercatat 77 ekor, dan 28 ekor di antaranya berada di Taman Safari Indonesia (TSI). Jumlah itu kira-kira cuma seperlima dari seluruh populasi yang diperkirakan 400 – 650 ekor di habitat aslinya.

Kalau satwa yang ada di tiap kebun binatang atau taman satwa itu dipasangkan semau gue lantaran tidak ada catatan silsilahnya, kualitas anak yang dihasilkan akan menurun. Tingkat mortalitasnya pun bisa melambung. Ujung-ujungnya, satwa buas ini semakin dekat dengan kepunahan. Tak mustahil, nasib harimau sumatra sama dengan sepupunya, harimau jawa atau bali. Apalagi perburuan liar terhadap hewan ini di habitat aslinya sulit dicegah lantaran keuntungan materi yang menggiurkan. Di sinilah diperlukan peran studbooker dalam mencatat silsilah dan sejarah demografi serta menangkarkannya.


Satu demi satu Ligaya mencatat data individu harimau Sumatra di ruang kerjanya di TSI.

Ligaya menjelaskan, tujuan pengadaan studbook untuk mendapatkan informasi sebanyak mungkin dari masing-masing individu harimau sumatra dan mengenali sejarah kehidupannya. Di dalamnya di antaranya tercantum nomor studbook sementara/internasional sebagai identitas satwa, nama, jenis kelamin, nama induk, tempat kelahiran, atau asal, dan perkiraan usianya bila individu harimau itu hasil penangkapan. Seluruh data dalam studbook akan membantu manajer satwa liar dalam pengelolaan penangkarannya. Dengan data yang baik, pengelolaan penangkaran bisa dilakukan dengan baik pula.

Untuk memasukkan dan merevisi data, wanita kelahiran Tangkunei, Sulawesi Utara, ini menggunakan seperangkat komputer yang disediakan TSI di sebuah ruang kerja khusus untuknya. Perangkat lunak yang dia gunakan memang khusus dibuat untuk tujuan pendataan studbook, yakni SPARKS (single population analysis & record keeping system), yang hanya bisa didapat bila menjadi anggota International Species Information System (ISIS).

Keunggulan program ini, data yang dimasukkan bisa langsung dianalisis untuk mengetahui, misalnya, inbreeding coefficient atau diagram silsilah harimau. Sayangnya, lantaran kesibukan mengerjakan tugas-tugas lain, sampai sekarang dia belum melakukan analisis lebih jauh. "Saya kira tahun 1999 ini saya harus mulai pikirkan ke arah itu. Terus terang, untuk itu saya harus banyak belajar," janji wanita yang juga dipercaya sebagai dokter bagi hewan-hewan di Taman Safari Indonesia (TSI) - yang juga merupakan Pusat Penangkaran Harimau Sumatera di Indonesia.


Diharapkan, dengan pengaturan penangkaran yang dia lakukan, lahir anak-anak harimau sumatra yang berkualitas baik.

Agar datanya akurat, Ligaya melakukan identifikasi dengan memberi nomor studbook berupa tato pada tubuh harimau, atau memberinya transponder (microchip) pada individu harimau yang bersangkutan. Pekerjaan ini pun tak lepas dari kendala. Dalam melakukan identifikasi, Ligaya mengaku mengalami kesulitan menentukan umur satwa yang didatanya, terutama macan hasil tangkapan. "Karena untuk melakukan itu perlu pengalaman. Saya juga harus banyak belajar. Makanya saya lebih banyak berkonsultasi dengan orang yang sudah berpengalaman."

Selama ini yang dilakukan banyak orang baru sebatas melihat roman muka dan sosok penampilannya untuk memperkirakan usia satwa yang ditangkap. "Mudah-mudahan perkiraan itu baik. Nah, dari sana kita perkirakan tahun kelahirannya. Karena itu, saya tidak berani bilang berapa usia sebenarnya dari harimau sumatra itu," tuturnya. Hal sebaliknya kalau harimau itu lahir di tempat penangkaran. Pasalnya, satwa yang lahir di tempat itu pasti dicatat tempat dan tanggal lahirnya, serta identitas induknya.

Tak mau cuma mencatat
Tugasnya sebagai studbook keeper dimulai sejak 1992. Sebelumnya, sudah ada studbook keeper internasional dan regional untuk satwa buas ini. Namun, ketika itu masih dipegang oleh orang asing dan berkedudukan di luar negeri (Amerika dan Eropa). Bertepatan dengan rencana melakukan penangkaran harimau sumatra pada tahun itu, ketersediaan data menjadi sangat penting. Sebab, untuk menjalankan program itu ada beberapa patokan yang harus dipenuhi, salah satunya studbook. Jansen Manansang, salah satu direktur TSI, yang sejak saat itu menjabat koordinator program penangkaran harimau sumatra eks-situ Perhimpunan Kebun Binatang Seluruh Indonesia (PKBSI), harus mencari orang yang bisa melakukan tugas ini. "Kebetulan saya yang dipilih," kisah Ligaya.

Ketika itu dia ditempatkan di TSI sebagai tenaga pelaksana program kerjasama TSI-IPB yang dikoordinatori oleh drh. Dondin Sajuthi, MS, Ph.D. dari pihak IPB. "Waktu itu tidak ada pikiran akan terjun menekuni harimau sumatra. Saya pikir, bidangnya penangkaran, ya apa salahnya, toh saya orang reproduksi. Saya tidak tahu kalau ternyata tantangannya banyak," ujar wanita yang punya minat profesi di bidang biologi reproduksi dan endrokinologi, aterosklerosis, serta konservasi dan kesehatan satwa liar ini.

Semula tugas studbook keeper hanya sebagai pencatat. Karena itu sebelum sampai pada keputusan menerima tugas ini, Ligaya sempat menyampaikan keberatan. "Sebenarnya, studbook keeper juga punya tugas memberikan rekomendasi atau mengatur perkawinan supaya kita tahu siapa kawin dengan siapa untuk mendapatkan anak-anak harimau yang bagus. Terus terang saya tidak terima hanya sebagai pencatat sementara analisisnya mereka (orang asing - Red.) yang bikin, dan kita cuma ikut-ikut mereka. Saya tahu, tugas mencatat itu tidak gampang, dalam arti cuma memasukkan data. Kalau mau mencatat yang ada di TSI saja gampang, tapi kenyataannya 'kan lokasinya berbeda-beda, banyak masalah yang harus saya hadapi. Sudah bagus saya mempunyai hubungan baik dengan seluruh kebun binatang di Indonesia."


Ligaya dihadapan mahasiswanya. Profesinya  sebagai pendidik terus ditekuninya.

Akhirnya, dia mendapat wewenang lebih, tidak cuma mencatat tetapi juga melakukan analisis dan mengatur penangkaran harimau sumatra. Pihak Australia pun membantu melakukan pelatihan untuk menjadi studbook keeper dan mempelajari captive breeding management.

Ligaya mengaku, tugas sebagai studbook keeper perlu dukungan dari banyak pihak dan sistem kerja yang baik. Kalau tidak, pelaksanaannya akan tersendat-sendat atau malah mandek.
Tugas ini juga memberi tantangan baginya karena dia harus memulai sesuatu yang baru. "Untungnya, saya bisa menggunakan fasilitas yang disediakan TSI. Fasilitas sangat mendukung saya dalam menjalankan tugas ini. Begitu pula dengan PKBSI dan Ditjen Perlindungan dan Konservasi Alam (PKA), yang dulu dikenal sebagai Ditjen PHPA. Keberhasilan yang bisa saya bikin, juga keberhasilan mereka. Saya cuma diberi kesempatan untuk mengkoordinasi data-data dalam bentuk yang lebih rapi," ujarnya merendah.

Setiap tahun Ligaya mesti menyediakan waktu untuk melakukan kontak dengan berbagai kebun binatang, taman satwa, dan pemilik harimau sumatra guna mengetahui perkembangan satwa mereka. Akurasi data yang dia terima memang tidak selalu seperti yang dia harapkan. "Perlu verifikasi, bahkan sampai perlu pemeriksaan DNA di laboratory of Genome Diversity, National Cancer Institute, National Institute of Health, Maryland, Amerika Serikat untuk mengetahui kemurnian genetiknya, meskipun pada akhirnya terbukti satwa-satwa itu memang masih murni dan tidak mengalami cross breed (perkawinan silang)."

Meski begitu, dia menyayangkan adanya harimau yang telah mengalami inbreed (perkawinan sedarah). Dari data yang dimilikinya, ternyata ada yang inbreeding coefficient-nya sudah hampir mendekati angka 1. Makin besar angka koefisien, makin dekat pertalian darah di antara pasangan. "Kalau masih 0,1 atau 0,25 masih OK-lah. Tapi kalau sudah sampai 0,5, wah ...." Inilah yang menjadi kekhawatiran Ligaya dari penangkaran eks-situ (di luar habitat aslinya. "Karena itulah perlu dipikirkan apa yang harus kita lakukan kepada mereka (harimau sumatra, Red.). Kita 'kan tidak bisa merekomendasikan, pokoknya tidak boleh."

Untuk menyiasati, dia merasa perlu dilakukan pengaturan penangkaran yang baik. Di sinilah pentingnya studbook. Dengan data itu, di atas kertas bisa diketahui individu mana yang baik dikawinkan dengan individu tertentu. "Itu ngomongnya. Nanti secara teknis ada hal-hal yang harus diperhitungkan," katanya. Misalnya, ada dua ekor harimau yang bagus dikawinkan tapi milik institusi yang berbeda atau tempatnya sangat jauh. Hal-hal seperti ini yang membuat pelaksanaan pengawinan susah dilakukan. Masalahnya berkaitan dengan manajemen antarkebun binatang atau taman satwa. "Hal ini yang perlu dipikirkan. Tapi semua kebun binatang dan taman satwa di Indonesia sudah sepakat ikut program penangkaran. Itulah yang bikin saya senang."

Dalam satu lembaga pun, memasangkan harimau tidak selalu gampang, lantaran tidak semua individu bisa begitu saja dipasangkan. Karena itu, berdasarkan data di atas kertas tadi dicari siapa-siapa yang masih boleh dikawinkan.

Semula "orang primata"
Ligaya terlahir sebagai anak pasangan Lendy Roland Tumbelaka dan Sophia Maria Theresia Pangalila-Tumbelaka. Pendidikan tinggi anak keempat dari sembilan bersaudara ini diselesaikan di kota hujan Bogor. Lulus pada 1983 sebagai sarjana kedokteran hewan di Fakultas Kedokteran Hewan (FKH), Institut Pertanian Bogor (IPB), setahun kemudian wanita yang gesit dan ramah ini berhasil meraih gelar dokter hewan di FKH-IPB.

Gelar Master of Science di bidang biologi reproduksi dan endokrinologi dia peroleh dari Department of Animal Science, Oregon State University, AS, pada 1990. Dua tahun kemudian, pendidikan spesialisasi I bidang kesehatan dan budidaya satwa primata di Bowman Gray School of Medicine, Wake Forest University, AS, berhasil diselesaikannya. Sepulang dari negara Paman Sam, Ligaya melanjutkan pengabdiannya sebagai dosen. Sambil mengajar dia menuntut ilmu lagi. Gelarnya pun menjadi lengkap ketika pada 1997 dia meraih gelar doktor bidang Sains Veteriner di FKH-IPB.

Kariernya sebagai dosen dimulai setahun setelah menjadi dokter hewan. Profesi pendidik ini masih dia tekuni hingga sekarang. Dari ruang kerjanya yang sarat buku, dia menyiapkan materi kuliah untuk mahasiswanya. Dari ketekunannya menjalani profesi di ruang ini pula dia bisa meraih predikat dosen teladan di lingkungan kerjanya tiga tahun lalu.

Saat tercatat menjadi staf di Pusat Studi Satwa Primata, Lembaga Penelitian, IPB, dia mendapat tawaran sebagai personel dalam rangka kerja sama TSI-IPB. Tawaran dari atasannya, drh. Dondin Sayuthi, MS, Ph.D., itu pun dia terima. Bahkan tugas itu memberinya jalan ke tugas yang lebih menantang, sebagai studbook keeper.

Pada awalnya Ligaya mengaku tidak tahu apa-apa. "Tapi saya termasuk orang yang percaya bahwa pencatatan adalah hal yang paling penting. Makanya, waktu saya diberi tanggung jawab ini, saya merasa tersanjung juga. Saya menerima tugas ini. Terus terang saya suka bekerja dan apa pun pekerjaan yang bisa saya kerjakan dengan baik, ya akan saya terima. Kebetulan di sini ada penangkaran harimau sumatra yang erat kaitannya dengan profesi saya. Saya juga pernah berucap bahwa kalau saya mendapat kesempatan dengan hewan selain primata maka saya akan pilih harimau sumatra. Eh, pucuk dicinta ulam tiba. Ada penawaran, ya saya terima."

Tugas baru inilah yang membuatnya bermetamorfosa menjadi "orang harimau" dan terpilih sebagai studbook keeper-nya. (I Gede Agung Yudana)


Click here to join our mailing list!
Join our mailing list!
rumah intisari on the net CLICK HERE TO VISIT THE TOP 1000!