SUAKA ALAM DAN CINTA
LINGKUNGAN
Mengetahui kecenderungan itu, pemerintah kota membangun pusat pengamatan alam yang selesai pada tahun 1986. Di situlah keindahan alam yang masih murni dapat diamati. Masyarakat diajak agar tidak salah pakai tempat itu, seperti berkemah misalnya, atau piknik menggelar tikar di rerumputan kemudian makan bekal rantangan dan membuang sampah sambil main gitar. Sesudah itu pulang! Menurut kepala suaka alam itu, yang lebih penting ialah menanamkan minat dan keinginan di kalangan rakyat untuk turut melestarikan lingkungan hidup, melalui keikutsertaan mereka dalam kegiatan mendekati alam. Bukan rekreasi atau olahraga jelajah hutan, tetapi pengenalan kehidupan alam berikut penghuninya. Untuk itu bagi pengunjung disediakan empat orang ranger yang berpengalaman dan berlatar belakang pengetahuan flora dan fauna hutan. Mereka diangkat dan digaji oleh LSM Wild Bird Society of Japan, dan bertugas memberi penyuluhan kepada rombongan pengunjung, di manakah tempat-tempat yang bagus untuk mengamati burung, dan bagaimana cara mencapai tempat itu. Merekalah yang aktif menyelenggarakan tur ke suaka alam melalui iklan di surat kabar, bukannya pasif menunggu kedatangan orang di kantor administrasi atau gardu satpam. Salah satu kegiatan lain yang menarik minat ialah menyelenggarakan pelatihan bagi nature guides. Para peminat didorong agar bersemangat menunjukkan kepada para pengunjung pengikut nature walks, jenis-jenis flora dan fauna mana yang patut diamati, dan bagaimana tingkah lakunya yang menarik. Para pengikut pelatihan kemudian dijadikan relawan nature guide yang memperingan tugas para ranger. Di Indonesia usaha semacam itu juga sudah dilakukan oleh Taman Nasional Gede-Pangrango di Cibodas, Cianjur, Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup di Seloliman, Trawas, dan sejumlah Taman Nasional lainnya. Tetapi agaknya, karena kekurangan promosi, masyarakat sekitar tidak mengetahui tentang usaha itu. Mereka datang dengan tujuan piknik, makan-makan, membuang sampah, dan kemudian pulang. Kalau ditanya, apa yang dilihat? Jawabannya mengejutkan: tidak ada apa-apa! Rasa cinta terhadap alam itu timbul, kalau sebelumnya dikenalkan padanya. Pengenalan ini yang masih banyak kendalanya di Indonesia. Anggaran untuk memperkenalkan suaka alam kepada masyarakat berikut usaha pelestariannya masih masuk prioritas belakangan, dibandingkan dengan prioritas pengentasan kemiskinan. Atau jaring pengaman sosial. Sebaliknya, karena promosi yang wajar, Pusat Pengamatan Alam di Yokohama itu makin banyak diminati masyarakat. Minat ini tidak hanya berhenti pada kunjungan, tetapi suka dan rela turut juga memperbaiki lingkungan alam yang agak rusak. Bagian sungai yang penuh sampah misalnya, dibersihkan secara gotong-royong, agar lingkungan itu baik kembali bagi perkembangan biak kunang-kunang. Kelap-kelip mereka di waktu senja sungguh menakjubkan. Para relawan pencinta alam itu juga membangun beberapa rakit yang diapungkan di tepi danau sebagai tempat istirahat burung-burung air. Mereka dapat dinikmati ketika kongkow-kongkow dan nongkrong sebagai burung bebas di atas rakit. (SS) |
|
Join our mailing list! |
|