EKOWISATA HARUSNYA MELESTARIKAN LINGKUNGAN Pariwisata
merupakan industri yang tidak berpolusi. Dibandingkan dengan industri automotif,
pertambangan, tekstil, dan manufaktur, industri pariwisata aman-aman saja, tidak menimbulkan dampak buruk terhadap
lingkungan. Begitulah yang
dipercayai sampai sekarang. Di
antara pariwisata itu ada yang kemudian secara khusus "menjual"
keindahan lingkungan alam kepada para wisatawan. Kegiatannya diiklankan sebagai
ecotourism. Para peminat tidak disuguhi pertunjukan tari-tarian dan
acara kebudayaan penduduk setempat, tetapi alam indah yang mempesona, seperti
air terjun, lembah sungai, panorama pegunungan yang sejuk udaranya. Atau,
keindahan fauna di terumbu karang kebun laut. Mereka dipersilakan tinggal di
tengah alam itu dan bergaul dengan penduduk setempat selama beberapa hari.
Tidak sekadar datang, makan-makan, meninggalkan sampah, kemudian pergi lagi. Ekowisata
semacam ini mendorong perekonomian rakyat di daerah yang bersangkutan dengan
pemberian jasa pelayanan untuk menikmati keindahan alam, sekaligus mengajak
rakyat setempat untuk menjaga kelestarian lingkungan yang "dijual" itu. Sayang,
konsep yang bagus ini sering dilanggar karena ketidaktahuan atau
ketidakmautahuan para pemimpin yang bertanggung jawab atas pelaksanaan ekowisata. Mereka menganggap tugasnya sudah selesai setelah wisatawan
datang, menginap, dan pergi lagi. Tanpa usaha pelestarian, itu sudah jalan. Alam indah
yang dijual dibiarkan tercemar atau rusak, dan tak ada usaha untuk
mengembalikannya ke keadaan semula. Itu "bukan tugas pemimpin
penyelenggara ekowisata". Pohon-pohon pencipta lingkungan yang nyaman
ditebangi karena pelebaran jalan, dan tidak ditanami bibit pohon lagi yang sama
indahnya. Padahal dengan dana yang tidak sampai bikin bangkrut keuangan,
penduduk setempat bisa dikerahkan untuk menghijaukan kembali tepi jalan yang
rusak itu. Sampah
dibiarkan berserakan tidak terurus, karena "itu urusan pemerintah
daerah". Bukan penyelenggara ekowisata! Kalau kebersihan lingkungan
terbengkalai karena kita bertengkar, ekowisata tidak jalan. Sebab, lingkungan
nyaman yang sebelumnya menjadi sumber duit, tidak dikunjungi wisatawan lagi. Keberhasilan
ekowisata sangat bergantung pada usaha penyadaran semua pihak yang terkait, terutama
penduduk setempat dan petugas pemerintah daerah yang bersangkutan. Ekowisata
tidak hanya perlu memberikan fasilitas pada wisatawan untuk menikmati
pemandangan alam yang indah dari kejauhan, tetapi juga kesempatan
seluas-luasnya untuk tinggal (menginap dan hidup) nyaman di tengah lingkungan
yang indah itu untuk sementara waktu, agar memperoleh kesan yang mendalam
tentang lingkungan setempat. Tentunya lingkungan yang bersih. Peminat
ekowisata kebanyakan pencinta alam yang tidak menuntut fasilitas penginapan
yang mewah, makanan enak, dan hiburan malam. Mereka lebih senang ditawari homestay
(penginapan di rumah penduduk), dan ingin mencicipi makanan tradisional asli
daerah setempat bersama pemilik rumah. Penduduk
yang rumahnya layak dipakai untuk itu dipinjami modal untuk perbaikan rumah. Kurangnya promosi juga membuat usaha ekowisata itu macet. Lebih masuk akal membantu mereka dengan modal untuk promosi dan perbaikan lingkungan, daripada menginvestasikan modal ke pembangunan hotel dan restoran bertaraf internasional tetapi sewanya tidak terjangkau oleh wisatawan yang ingin hidup hemat agar bisa tinggal selama mungkin di lingkungan yang nyaman, dan tidak menjengkelkan. (SS) |