HAJAT LAUT NELAYAN PANGANDARAN
Kamis
tengah hari, 29 April 1999, di pantai timur Pangandaran, sekitar 225 km
tenggara Bandung. Para nelayan tampak sibuk. Bukan lantaran sedang merapat ke
darat lalu membawa hasil tangkapannya ke tempat pelelangan ikan (TPI). Hari itu
mereka justru libur melaut. Mereka sedang bersiap-siap melaksanakan hajat besar
yang hanya berlangsung setahun sekali. Hajat Laut, begitulah mereka menyebut
perhelatan itu, sebuah pesta para nelayan sebagai tanda rasa syukur atas segala
limpahan rezeki yang mereka terima dari laut. Juga harapan akan keselamatan
dalam mencari nafkah. Ketika
matahari mulai condong ke Barat, bagai menuruti aba-aba mereka sudah berada di
perahu masing-masing dengan motor tempel yang menderu-deru siap dipacu. Tiga
buah dongdang tempat sesaji tampak diusung dari halaman TPI tak jauh
dari pantai menuju tiga perahu yang disiapkan untuk meluncurkannya ke tengah
laut. Hidupnya motor perahu pembawa sesaji seakan menjadi pertanda bendera
start dikibarkan. Para nelayan anggota KUD Mina Sari, Pangandaran, itu segera
memacu perahu mereka ke tengah laut. Bisa dibayangkan betapa riuh-rendahnya
ketika tak kurang dari 300-an perahu motor yang hari itu berdandan cantik
mengikuti iring-iringan perahu sesaji di kiri-kanannya hingga sekitar 2,5 km
dari pantai, tempat sesaji dilarung (dihanyutkan). Di
tengah teriakan histeris para penumpang dan awak perahu, saling bentur dan
tabrak antarmereka tak terelakkan ketika yang dilakukan tak cuma mengiringi
tetapi juga berlomba mendekati perahu pengusung sesaji. Peringatan petugas tim
SAR agar mereka tertib dan berhati-hati seperti hilang ditiup angin laut. Tak
kurang yang kembali ke pantai sambil membawa rasa kecewa karena tak bisa
melanjutkan pesta setelah "sayap" perahunya patah. Sementara
itu di atas perahu sesaji utama sesepuh nelayan, Supid R., membakar kemenyan
sembari komat-kamit melantunkan doa di depan sesaji utama. Lelaki
berusia 70 yang berpakaian sederhana dan berpeci hitam itu tak terpengaruh oleh
riuh-rendahnya teriakan orang di sekitarnya. Begitu selesai berdoa, perahu itu
pun tiba di tempat pelarungan. Sesaji
segera diturunkan ke permukaan air laut selatan dikawal oleh enam petugas
berjaket pelampung kuning. Belum sampai hitungan lima detik sesaji menyentuh
permukaan laut, belasan orang melompat dari perahunya dan menyerbu sesaji.
Mereka berebut menciduk air laut di bawah dan di sekitar sesaji untuk
disiramkan ke perahu masing-masing tanpa mempedulikan keselamatan jiwa mereka.
Mereka percaya, menyiram perahu dengan air itu akan mendatangkan berkah berupa
hasil tangkapan ikan yang berlimpah dan dijauhkan dari malapetaka saat melaut. Uba
rampe (materi isi) sesaji ternyata juga dicari orang. Konon, itu juga
menjadi perlambang murahnya rezeki bagi yang mendapatkan. Itulah
pemuncak acara Hajat Laut yang ditunggu-tunggu para nelayan di kawasan itu. Mencuri startMenjelang
acara puncak, ada serangkaian kegiatan lain yang digelar. Umpamanya saja,
pertandingan olahraga antarkelompok nelayan, lomba menyelam telur itik, panco,
panjat pinang, pengajian, pergelaran wayang, khitanan massal, dsb. Menyambut
puncak pesta tahunan itu, sehari sebelumnya para nelayan sudah mulai menghias
perahu yang sehari-hari mereka gunakan untuk menangkap ikan. Barangkali untuk
menghindari hal-hal yang tak dinginkan, nelayan yang diundang untuk meramaikan
acara hajat laut ini dibatasi hanya 300 nelayan dari tak kurang 650 nelayan
anggota KUD Mina Sari. Mereka mendapat kupon bahan bakar gratis sebanyak 2 l. Apa
saja yang bisa digantungkan, diikatkan, dan ditempelkan mereka manfaatkan untuk
menghiasi sekujur tubuh perahu. Karena itu, hiasan setiap perahu jadi beragam,
mulai dari kertas hias, jipang, makanan ringan dalam kemasan, sampai minuman
ringan dalam botol, digantung-gantungkan pada bagian perahu. Peristiwa
ini pun tampaknya tak disia-siakan beberapa perusahaan untuk mempromosikan
produk mereka. Tak heran kalau ada perahu yang mengibarkan umbul-umbul sponsor
dari perusahaan mesin tempel perahu, mi instan, rokok, obat sakit kepala, atau
obat sakit maag sebagai hiasan. Tak hanya itu, sebagian besar perahu
mengibarkan bendera berbagai partai, bahkan ada yang seluruh penumpangnya
mengenakan kaus partai tertentu. Saat itu, aroma kampanye menjelang Pemilu 1999
memang sudah terasa. Menjelang
puncak acara berupa pelarungan sesaji berlangsung, hampir semua keluarga para
nelayan tumpah ruah ke pantai. Ada yang ikut naik ke perahu, sebagian lagi
cukup jadi penonton. Acara itu juga dibanjiri ribuan orang dari berbagai
penjuru Pangandaran, bahkan dari luar kawasan objek wisata itu. Mereka berbaur
dengan sejumlah turis mancanegara yang sengaja datang untuk menyaksikan pesta
nelayan itu. Bahkan, ada wisatawan asing yang ikut naik perahu nelayan menuju
tempat pelepasan sesaji di tengah laut. Tak harus sapi Sejak
Pangandaran dihuni para nelayan acara syukuran selalu digelar. Tapi menurut
Supid, upacara syukuran itu dulu hanya diisi dengan pembuatan tumpeng lalu ngariung
di pantai pada sore hari. Menggelar tikar kemudian makan bersama dengan
keluarga nelayan lainnya. Pelarungan sesaji ke laut seperti kali ini
baru dilakukan sejak 1981 seperti yang sudah digelar lebih dulu oleh komunitas
nelayan di tempat lain macam Indramayu, Cilacap, Cirebon, atau Pelabuhan Ratu. Menurut
Supid, yang juga anggota badan penasihat KUD Mina Sari, hakikat Hajat Laut
adalah ungkapan rasa syukur dan pengharapan kepada Tuhan atas tersedianya
sumber kehidupan di laut dan keselamatan bagi para nelayan. Sebagai masyarakat
yang hidup di tengah mitos Laut Selatan, "Ada pula yang menyatakan, rasa
syukur juga diberikan kepada 'penguasa' laut selatan, Nyai Roro Kidul. Tapi
yang utama tetap kepada Yang Maha Kuasa," jelas Supid. Rasa syukur dan
pengharapan itu diungkapkan dengan cara membuat dan me-larung sesaji ke
tengah laut. Upacara itu selalu dilaksanakan pada hari Senin atau Kamis
menjelang Selasa atau Jumat Kliwon pada bulan Muharam (Suro). Selasa dan Jumat
Kliwon dianggap sebagai hari naas sehingga nelayan tidak boleh melakukan
kegiatan melaut. Pada
Hajat Laut tahun ini ada tiga sesaji yang dipersembahkan. Dua sumbangan dari
pengusaha hotel di Pangandaran, dan satu lagi - yang terbesar ukurannya - dari
KUD Mina Sari. Pembuatan sesaji dipercayakan pada keluarga Supid, yang dianggap
sebagai sesepuh adat. Wadah sesaji, yang oleh warga setempat disebut dongdang
itu berbentuk rumah-rumahan dari kayu lapis berukuran sekitar 1 x 1 x 0,9 m.
Pada atapnya yang bercat putih diberi hiasan kertas merah-putih dan
rumbai-rumbai janur. Uba
rampe di dalamnya berupa berbagai
macam hasil bumi, makanan, dan perlengkapan wanita. Hasil bumi itu misalnya
pisang, kelapa, kacang tanah, apel, jeruk, jambu, markisa, anggur, ubi, dan
singkong. Makanannya berupa sejumput nasi dan sebutir telur, ketupat, cincau,
nasi merah timbel, sebuah bekaka ayam, pisang ambon bakar, berbagai
jenis bubur dan rujak dalam wadah daun pisang, serta minuman seperti teh manis
dan pahit, kopi manis dan pahit, serta jajan pasar. Tak ketinggalan bunga tujuh
rupa, rokok, dan lisong. Sedangkan perlengkapan wanita yang disajikan berupa
payung, sandal, kain untuk kebaya, kain panjang, BH, dan perlengkapan kosmetik
seperti sisir, bedak, lipstik, serta wewangian. Seluruh
materi sesaji itu sebenarnya melengkapi kepala sapi dan potongan kecil
bagian-bagian tubuh sapi yang merupakan bagian utama sesaji. Menurut Supid,
yang sejak tahun 1992 dipercaya mempersiapkan sesaji untuk setiap Hajat Laut,
kepala dan bagian-bagian tubuh sapi merupakan bagian dari seekor sapi yang
dibeli untuk keperluan pesta itu. Oleh pihak panitia, sapi dipotong lalu kepala
dan bagian-bagian sapi yang diperuntukkan sesaji dipisahkan. Selebihnya
dibagi-bagikan kepada para nelayan. Sebagai
sesaji utama kepala sapi merupakan simbol bagi hal-hal yang bisa
dipertanggungjawabkan. Cincau perlambang kedinginan hati, dan ketupat bermakna
keselamatan. Buah-buahan menunjukkan keikutsertaan hasil bumi ini dalam
upacara. Sedangkan, perlengkapan wanita khusus dipersembahkan bagi Nyi Roro
Kidul. Namun,
menurut ayah lima anak dan kakek 15 cucu ini, ragam isi sesaji bukan kartu mati
yang tidak bisa diganti dengan jenis lain. "Anggur misalnya, tidak selalu
ada di Pangandaran. Kalau tidak ada, tidak apa-apa, tidak usah memaksakan
diri," jelasnya. Bagian utama sesaji juga tak harus berupa kepala sapi,
bisa juga kepala domba, kambing, bahkan ayam. Kalau mampu, sebaiknya digunakan
sapi. "Lebih baik lagi yang berjenis kelamin jantan. Dibanding yang betina,
setidak-tidaknya sapi jantan memiliki kelebihan tertentu. Itu pun tidak mutlak
harus jantan," jelasnya. Pada
awalnya, sesaji itu hanya di-larung begitu saja dan akan hanyut atau
ditelan ombak dengan sendirinya. Tidak ada orang yang berani mengganggu karena
takut kualat. "Setelah diturunkan dari perahu, tak ada yang berani
mendekati sesaji. Baru esok harinya orang akan mengambil isinya. Itu pun dengan
sembunyi-sembunyi," cerita Supid. Namun, dalam perkembangannya begitu
diturunkan dari perahu, sesaji itu segera jadi rebutan dan air di sekitarnya
dipercaya membawa rezeki. Dengan menyiramkan air itu ke dalam perahu, sebagian
masyarakat nelayan Pangandaran percaya akan memperoleh keselamatan dan rezeki
yang cukup. Dalam
beberapa kali penyelenggaraan Hajat Laut, sesaji dibawa ke kantor kawedanan
(pembantu bupati) terlebih dahulu sebelum dibawa ke pantai dalam suatu prosesi
karnaval berbagai kendaraan hias. Namun, tahun ini tidak pakai pawai. Sesaji
langsung dibawa ke pantai dari tempat pembuatannya. "Bukan atas pertimbangan
keamanan. Namun, dari pengalaman terdahulu terbukti karnaval tidak menarik
nelayan untuk ikut serta, sehingga yang meramaikan paling-paling anak dan
remaja nelayan dengan sepeda hiasnya. Karena kehidupan mereka di laut, mereka
lebih antusias menghias perahunya," jelas Iing Syam Arifin, Camat
Pangandaran. Didanai nelayan sendiriUntuk
menggelar Hajat Laut, para nelayan mengeluarkan biaya dari kantung mereka
sendiri yakni berupa iuran yang dipungut dari nelayan anggota KUD sebesar 0,25%
dari nilai rupiah hasil tangkapan ikan setiap kali mereka melaut. Menurut
Supid, nilai seluruh iuran satu tahun terakhir mencapai sekitar Rp 30 juta. Panitia
penyelenggara yang dibentuk punya masa kerja dua tahun untuk menyelenggarakan
dua kali Hajat Laut. Setelah itu baru dibubarkan dan dibentuk kepanitiaan baru,
dengan tugas yang sama. Dalam banyak hal, panitia ini tidak bekerja sendiri.
Dalam mengambil keputusan, panitia mesti bermusyawarah dengan rukun nelayan dan
pemuka adat setempat. Termasuk di antaranya dalam menentukan hari "H"
pelarungan sesaji dan jenis-jenis kegiatan pendampingnya. Ketika
atraksi adat ini semakin menarik minat wisatawan mancanegara dan domestik,
Pemda Ciamis ikut mendukung. Menurut A. Yusuf Hidayat, Kasi Bina Objek dan
Atraksi Wisata, Dinas Pariwisata Daerah, Pemda Ciamis, sejak 1970, Diparda
Ciamis mulai ikut terlibat. Ketika hari pelaksanaan Hajat Laut telah
ditentukan, Diparda mulai menyusun promosinya melalu media cetak dan radio di
Jawa Barat. Atau, dalam bentuk leaflet yang disebar melalui biro-biro
perjalanan. Pesta
rakyat nelayan ini juga mendapat dukungan dari TNI dan polisi dalam bentuk
pengamanan prosesi pelarungan sesaji, sejak dari pantai hingga ke tengah
laut. Bahkan, pihak Marinir TNI AL dan Polisi Air menurunkan tim SAR khusus.
Dengan seragam barunya berwarna oranye dan sebuah perahu karet, tim ini berada
di tengah-tengah nelayan yang mengikuti jalannya prosesi. Tak ada pesta yang tak selesai. Setelah melewati acara puncak Hajat Laut, esok harinya mereka pun kembali melaut, dengan semangat dan harapan yang baru. (I Gede Agung Yudana) |