Keterangan beriklan di site ini logo(1).gif (10626 bytes)
globetiny.gif (852 bytes)N THE NET
tan_obat.jpg (12269 bytes)

HAJAT LAUT NELAYAN PANGANDARAN

 

Ini sebuah pesta tradisional rutin yang digelar setahun sekali di bulan Suro oleh komunitas nelayan di Pangandaran, Jawa Barat. Kepala sapi dan materi sesaji lainnya yang dihanyutkan di tengah laut menjadi lambang ungkapan rasa syukur dan harapan baru akan sebuah keselamatan. Air laut di sekitar sesaji konon membawa berkah sehingga diburu.

 

Kamis tengah hari, 29 April 1999, di pantai timur Pangandaran, sekitar 225 km tenggara Bandung. Para nelayan tampak sibuk. Bukan lantaran sedang merapat ke darat lalu membawa hasil tangkapannya ke tempat pelelangan ikan (TPI). Hari itu mereka justru libur melaut. Mereka sedang bersiap-siap melaksanakan hajat besar yang hanya berlangsung setahun sekali. Hajat Laut, begitulah mereka menyebut perhelatan itu, sebuah pesta para nelayan sebagai tanda rasa syukur atas segala limpahan rezeki yang mereka terima dari laut. Juga harapan akan keselamatan dalam mencari nafkah.

Ketika matahari mulai condong ke Barat, bagai menuruti aba-aba mereka sudah berada di perahu masing-masing dengan motor tempel yang menderu-deru siap dipacu. Tiga buah dongdang tempat sesaji tampak diusung dari halaman TPI tak jauh dari pantai menuju tiga perahu yang disiapkan untuk meluncurkannya ke tengah laut. Hidupnya motor perahu pembawa sesaji seakan menjadi pertanda bendera start dikibarkan. Para nelayan anggota KUD Mina Sari, Pangandaran, itu segera memacu perahu mereka ke tengah laut. Bisa dibayangkan betapa riuh-rendahnya ketika tak kurang dari 300-an perahu motor yang hari itu berdandan cantik mengikuti iring-iringan perahu sesaji di kiri-kanannya hingga sekitar 2,5 km dari pantai, tempat sesaji dilarung (dihanyutkan).

Di tengah teriakan histeris para penumpang dan awak perahu, saling bentur dan tabrak antarmereka tak terelakkan ketika yang dilakukan tak cuma mengiringi tetapi juga berlomba mendekati perahu pengusung sesaji. Peringatan petugas tim SAR agar mereka tertib dan berhati-hati seperti hilang ditiup angin laut. Tak kurang yang kembali ke pantai sambil membawa rasa kecewa karena tak bisa melanjutkan pesta setelah "sayap" perahunya patah.

Sementara itu di atas perahu sesaji utama sesepuh nelayan, Supid R., membakar kemenyan sembari komat-kamit melantunkan doa di depan sesaji utama. Lelaki berusia 70 yang berpakaian sederhana dan berpeci hitam itu tak terpengaruh oleh riuh-rendahnya teriakan orang di sekitarnya. Begitu selesai berdoa, perahu itu pun tiba di tempat pelarungan.

Sesaji segera diturunkan ke permukaan air laut selatan dikawal oleh enam petugas berjaket pelampung kuning. Belum sampai hitungan lima detik sesaji menyentuh permukaan laut, belasan orang melompat dari perahunya dan menyerbu sesaji. Mereka berebut menciduk air laut di bawah dan di sekitar sesaji untuk disiramkan ke perahu masing-masing tanpa mempedulikan keselamatan jiwa mereka. Mereka percaya, menyiram perahu dengan air itu akan mendatangkan berkah berupa hasil tangkapan ikan yang berlimpah dan dijauhkan dari malapetaka saat melaut. Uba rampe (materi isi) sesaji ternyata juga dicari orang. Konon, itu juga menjadi perlambang murahnya rezeki bagi yang mendapatkan.

Itulah pemuncak acara Hajat Laut yang ditunggu-tunggu para nelayan di kawasan itu.

 

Mencuri start

Menjelang acara puncak, ada serangkaian kegiatan lain yang digelar. Umpamanya saja, pertandingan olahraga antarkelompok nelayan, lomba menyelam telur itik, panco, panjat pinang, pengajian, pergelaran wayang, khitanan massal, dsb.

Menyambut puncak pesta tahunan itu, sehari sebelumnya para nelayan sudah mulai menghias perahu yang sehari-hari mereka gunakan untuk menangkap ikan. Barangkali untuk menghindari hal-hal yang tak dinginkan, nelayan yang diundang untuk meramaikan acara hajat laut ini dibatasi hanya 300 nelayan dari tak kurang 650 nelayan anggota KUD Mina Sari. Mereka mendapat kupon bahan bakar gratis sebanyak 2 l.

Apa saja yang bisa digantungkan, diikatkan, dan ditempelkan mereka manfaatkan untuk menghiasi sekujur tubuh perahu. Karena itu, hiasan setiap perahu jadi beragam, mulai dari kertas hias, jipang, makanan ringan dalam kemasan, sampai minuman ringan dalam botol, digantung-gantungkan pada bagian perahu.

Peristiwa ini pun tampaknya tak disia-siakan beberapa perusahaan untuk mempromosikan produk mereka. Tak heran kalau ada perahu yang mengibarkan umbul-umbul sponsor dari perusahaan mesin tempel perahu, mi instan, rokok, obat sakit kepala, atau obat sakit maag sebagai hiasan. Tak hanya itu, sebagian besar perahu mengibarkan bendera berbagai partai, bahkan ada yang seluruh penumpangnya mengenakan kaus partai tertentu. Saat itu, aroma kampanye menjelang Pemilu 1999 memang sudah terasa.

Menjelang puncak acara berupa pelarungan sesaji berlangsung, hampir semua keluarga para nelayan tumpah ruah ke pantai. Ada yang ikut naik ke perahu, sebagian lagi cukup jadi penonton. Acara itu juga dibanjiri ribuan orang dari berbagai penjuru Pangandaran, bahkan dari luar kawasan objek wisata itu. Mereka berbaur dengan sejumlah turis mancanegara yang sengaja datang untuk menyaksikan pesta nelayan itu. Bahkan, ada wisatawan asing yang ikut naik perahu nelayan menuju tempat pelepasan sesaji di tengah laut.

 

Tak harus sapi

Sejak Pangandaran dihuni para nelayan acara syukuran selalu digelar. Tapi menurut Supid, upacara syukuran itu dulu hanya diisi dengan pembuatan tumpeng lalu ngariung di pantai pada sore hari. Menggelar tikar kemudian makan bersama dengan keluarga nelayan lainnya. Pelarungan sesaji ke laut seperti kali ini baru dilakukan sejak 1981 seperti yang sudah digelar lebih dulu oleh komunitas nelayan di tempat lain macam Indramayu, Cilacap, Cirebon, atau Pelabuhan Ratu.

Menurut Supid, yang juga anggota badan penasihat KUD Mina Sari, hakikat Hajat Laut adalah ungkapan rasa syukur dan pengharapan kepada Tuhan atas tersedianya sumber kehidupan di laut dan keselamatan bagi para nelayan. Sebagai masyarakat yang hidup di tengah mitos Laut Selatan, "Ada pula yang menyatakan, rasa syukur juga diberikan kepada 'penguasa' laut selatan, Nyai Roro Kidul. Tapi yang utama tetap kepada Yang Maha Kuasa," jelas Supid. Rasa syukur dan pengharapan itu diungkapkan dengan cara membuat dan me-larung sesaji ke tengah laut. Upacara itu selalu dilaksanakan pada hari Senin atau Kamis menjelang Selasa atau Jumat Kliwon pada bulan Muharam (Suro). Selasa dan Jumat Kliwon dianggap sebagai hari naas sehingga nelayan tidak boleh melakukan kegiatan melaut.

Pada Hajat Laut tahun ini ada tiga sesaji yang dipersembahkan. Dua sumbangan dari pengusaha hotel di Pangandaran, dan satu lagi - yang terbesar ukurannya - dari KUD Mina Sari. Pembuatan sesaji dipercayakan pada keluarga Supid, yang dianggap sebagai sesepuh adat. Wadah sesaji, yang oleh warga setempat disebut dongdang itu berbentuk rumah-rumahan dari kayu lapis berukuran sekitar 1 x 1 x 0,9 m. Pada atapnya yang bercat putih diberi hiasan kertas merah-putih dan rumbai-rumbai janur.

Uba rampe di dalamnya berupa berbagai macam hasil bumi, makanan, dan perlengkapan wanita. Hasil bumi itu misalnya pisang, kelapa, kacang tanah, apel, jeruk, jambu, markisa, anggur, ubi, dan singkong. Makanannya berupa sejumput nasi dan sebutir telur, ketupat, cincau, nasi merah timbel, sebuah bekaka ayam, pisang ambon bakar, berbagai jenis bubur dan rujak dalam wadah daun pisang, serta minuman seperti teh manis dan pahit, kopi manis dan pahit, serta jajan pasar. Tak ketinggalan bunga tujuh rupa, rokok, dan lisong. Sedangkan perlengkapan wanita yang disajikan berupa payung, sandal, kain untuk kebaya, kain panjang, BH, dan perlengkapan kosmetik seperti sisir, bedak, lipstik, serta wewangian.

Seluruh materi sesaji itu sebenarnya melengkapi kepala sapi dan potongan kecil bagian-bagian tubuh sapi yang merupakan bagian utama sesaji. Menurut Supid, yang sejak tahun 1992 dipercaya mempersiapkan sesaji untuk setiap Hajat Laut, kepala dan bagian-bagian tubuh sapi merupakan bagian dari seekor sapi yang dibeli untuk keperluan pesta itu. Oleh pihak panitia, sapi dipotong lalu kepala dan bagian-bagian sapi yang diperuntukkan sesaji dipisahkan. Selebihnya dibagi-bagikan kepada para nelayan.

Sebagai sesaji utama kepala sapi merupakan simbol bagi hal-hal yang bisa dipertanggungjawabkan. Cincau perlambang kedinginan hati, dan ketupat bermakna keselamatan. Buah-buahan menunjukkan keikutsertaan hasil bumi ini dalam upacara. Sedangkan, perlengkapan wanita khusus dipersembahkan bagi Nyi Roro Kidul.

Namun, menurut ayah lima anak dan kakek 15 cucu ini, ragam isi sesaji bukan kartu mati yang tidak bisa diganti dengan jenis lain. "Anggur misalnya, tidak selalu ada di Pangandaran. Kalau tidak ada, tidak apa-apa, tidak usah memaksakan diri," jelasnya. Bagian utama sesaji juga tak harus berupa kepala sapi, bisa juga kepala domba, kambing, bahkan ayam. Kalau mampu, sebaiknya digunakan sapi. "Lebih baik lagi yang berjenis kelamin jantan. Dibanding yang betina, setidak-tidaknya sapi jantan memiliki kelebihan tertentu. Itu pun tidak mutlak harus jantan," jelasnya.

Pada awalnya, sesaji itu hanya di-larung begitu saja dan akan hanyut atau ditelan ombak dengan sendirinya. Tidak ada orang yang berani mengganggu karena takut kualat. "Setelah diturunkan dari perahu, tak ada yang berani mendekati sesaji. Baru esok harinya orang akan mengambil isinya. Itu pun dengan sembunyi-sembunyi," cerita Supid. Namun, dalam perkembangannya begitu diturunkan dari perahu, sesaji itu segera jadi rebutan dan air di sekitarnya dipercaya membawa rezeki. Dengan menyiramkan air itu ke dalam perahu, sebagian masyarakat nelayan Pangandaran percaya akan memperoleh keselamatan dan rezeki yang cukup.

Dalam beberapa kali penyelenggaraan Hajat Laut, sesaji dibawa ke kantor kawedanan (pembantu bupati) terlebih dahulu sebelum dibawa ke pantai dalam suatu prosesi karnaval berbagai kendaraan hias. Namun, tahun ini tidak pakai pawai. Sesaji langsung dibawa ke pantai dari tempat pembuatannya. "Bukan atas pertimbangan keamanan. Namun, dari pengalaman terdahulu terbukti karnaval tidak menarik nelayan untuk ikut serta, sehingga yang meramaikan paling-paling anak dan remaja nelayan dengan sepeda hiasnya. Karena kehidupan mereka di laut, mereka lebih antusias menghias perahunya," jelas Iing Syam Arifin, Camat Pangandaran.

 

Didanai nelayan sendiri

Untuk menggelar Hajat Laut, para nelayan mengeluarkan biaya dari kantung mereka sendiri yakni berupa iuran yang dipungut dari nelayan anggota KUD sebesar 0,25% dari nilai rupiah hasil tangkapan ikan setiap kali mereka melaut. Menurut Supid, nilai seluruh iuran satu tahun terakhir mencapai sekitar Rp 30 juta.

Panitia penyelenggara yang dibentuk punya masa kerja dua tahun untuk menyelenggarakan dua kali Hajat Laut. Setelah itu baru dibubarkan dan dibentuk kepanitiaan baru, dengan tugas yang sama. Dalam banyak hal, panitia ini tidak bekerja sendiri. Dalam mengambil keputusan, panitia mesti bermusyawarah dengan rukun nelayan dan pemuka adat setempat. Termasuk di antaranya dalam menentukan hari "H" pelarungan sesaji dan jenis-jenis kegiatan pendampingnya.

Ketika atraksi adat ini semakin menarik minat wisatawan mancanegara dan domestik, Pemda Ciamis ikut mendukung. Menurut A. Yusuf Hidayat, Kasi Bina Objek dan Atraksi Wisata, Dinas Pariwisata Daerah, Pemda Ciamis, sejak 1970, Diparda Ciamis mulai ikut terlibat. Ketika hari pelaksanaan Hajat Laut telah ditentukan, Diparda mulai menyusun promosinya melalu media cetak dan radio di Jawa Barat. Atau, dalam bentuk leaflet yang disebar melalui biro-biro perjalanan.

Pesta rakyat nelayan ini juga mendapat dukungan dari TNI dan polisi dalam bentuk pengamanan prosesi pelarungan sesaji, sejak dari pantai hingga ke tengah laut. Bahkan, pihak Marinir TNI AL dan Polisi Air menurunkan tim SAR khusus. Dengan seragam barunya berwarna oranye dan sebuah perahu karet, tim ini berada di tengah-tengah nelayan yang mengikuti jalannya prosesi.

Tak ada pesta yang tak selesai. Setelah melewati acara puncak Hajat Laut, esok harinya mereka pun kembali melaut, dengan semangat dan harapan yang baru. (I Gede Agung Yudana)

Click here to join our mailing list!
Join our mailing list!
rumah intisari on the net CLICK HERE TO VISIT THE TOP 1000!