TANGGULANGI JULING SEJAK DINI
Anatomi indera penglihatan
dikatakan normal jika bayangan sebuah benda yang dilihat oleh kedua mata
diterima dengan ketajaman yang sama. Bayangan ini secara serentak lalu dikirim
ke susunan saraf pusat untuk diolah menjadi sensasi penglihatan tunggal. Penglihatan tunggal ini bisa
terjadi kalau kedua mata dapat mempertahankan daya koordinasi untuk menjadikan
kedua bayangan suatu benda menjadi satu (fusi). Sebaliknya, fusi akan hilang
bila daya penglihatan salah satu mata kurang atau tidak ada. Pada penderita mata juling atau strabismus,
mata tidak mempunyai kesatuan titik pandang. Kedudukan sumbu kedua bola mata
itu tidak searah. Akibatnya, dua mata akan melihat dua benda atau dua bayangan
(diplopia). Untuk menghindari penglihatan rangkap ini, penderita strabismus
lalu berusaha menekan (supresi) atau tidak menggunakan matanya yang lemah. Ia
hanya melihat dengan matanya yang sehat. Sebab itu, penderita sering mengeluh
matanya mudah lelah atau merasa penglihatannya berkurang pada satu mata. Dalam dunia kedokteran
mata,
kelainan mata ini akan disebut juling berganti bila mata yang satu digunakan
untuk melihat, mata yang lain akan bergulir. Sedangkan kalau hanya satu mata
yang digunakan, disebut juling monokuler. Pada mata normal, bayangan yang
diproyeksikan ke otak akan membentuk gambar tiga dimensi. Sementara pada mata
juling - karena tidak mempunyai kesatuan titik pandang - bentuk tiga dimensi
itu tidak didapat. Akibat gangguan otot mataDr. Raman R.
Saman, M.D. Ophth., AMS, MBA, ahli mata dari R.S. Prof. Dr. Isak Salim "Aini" Jakarta,
mengungkapkan, penyebab mata juling itu beragam. Untuk mengetahui penyebab
lebih lanjut, "Pertama-tama perlu pemeriksaan menyeluruh, mulai dari
anatomi mata, faal atau fisiologi, sampai apakah si penderita mengidap suatu
penyakit," jelasnya. Dalam beberapa
kasus, otot mata
sering menjadi salah satu penyebabnya. Untuk menggerakkan bola mata digunakan
enam macam otot mata. Bila semua otot itu tak ngadat alias bekerja
normal, kedua mata akan berfungsi secara seimbang. Normal-tidaknya otot mata
tergantung pada tebal-tipis, panjang-pendek, dan berfungsi-tidaknya saraf-saraf
mata. Maka, jika di antara otot atau saraf ini ada yang tidak normal, keadaan
itu bisa menyebabkan seseorang menderita juling. Tidak sedikit pula kasus mata
juling disebabkan oleh gangguan perbedaan ketajaman penglihatan yang sangat
besar antara kedua mata. Misalnya, mata kiri -2 (minus dua), mata kanan -9
(minus sembilan) atau lebih. Perbedaan ukuran antara mata kiri dan kanan yang
masih bisa ditoleransi tidak boleh lebih dari 3. Mata juling bisa juga bisa dipicu
oleh terjadinya kemunduran daya penglihatan yang dinamakan lazy eyes
(mata malas), atau disebut juga ambliopia. Mata malas ini akibat satu mata
mempunyai visus(ketajaman mata)rendah yang tidak dapat ditingkatkan lagi karena
terlalu lama dibiarkan. Akibatnya, penglihatan didominasi oleh mata yang sehat
saja. Menurut dr.
Saman, bila dilihat
lebih jauh, ketiga faktor itu tercetus karena beberapa hal. Misalnya, faktor
bawaan (kongenital), trauma mata (tertusuk benda tajam atau tumpul), infeksi
virus atau bakteri, dan sebagainya. "Ada pula kasus juling akibat infeksi
toksoplasma yang ditularkan melalui kucing atau daging yang mengandung kuman
toksoplasma tidak dimasak dengan baik," katanya. Penyakit sistemik pun bisa menjadi
penyebab kelainan mata jereng ini. Misalnya saja, diabetes mellitus dan
hipertiroid, penyumbatan atau pecahnya pembuluh darah otak (stroke), kelainan
darah atau perdarahan, serta gangguan metabolisme antara lain kadar kolesterol
yang tinggi. Penyakit sistemik ini ada kalanya menyebabkan juling begitu
berhubungan dengan otak. Mata juling bisa juga terjadi
gara-gara munculnya tumor jinak atau pun ganas. Misalnya, akibat tumor otak, retinoblastoma
(kanker mata), dan kanker yang sudah menyebar dan menekan saraf di bagian otak.
Kondisi itu menyebabkan kelumpuhan otot-otot mata. Pada kasus mata juling karena
bawaan, kelainan otot atau saraf mata pada anak, umumnya sudah terlihat sejak
usia enam bulan. Gejalanya antara lain, bila anak melirik, perguliran bola
matanya tidak sampai ke ujung. Itu bisa karena terjadinya hambatan pada pergerakan
bola mata sehingga mata tidak bisa bergerak ke segala arah dengan leluasa. Atau
pada usia ini juga bisa dilihat apakah salah satu bola matanya terlihat
bergulir ke arah hidung, pelipis, alis, atau pipi. Pada usia satu tahun akan
tampak lebih jelas karena anak yang menderita jereng sering melihat sesuatu
dengan posisi kepalanya miring ke kanan atau kiri, tengadah atau tertunduk.
Pada usia tiga tahun anak mulai mengeluh penglihatannya kurang jelas atau
ganda. Anggapan bahwa mata juling bisa
timbul akibat bayi diberi mainan gantung di atas kepala dengan posisi kurang
tepat, menurut dr. Saman, sama sekali tidak benar. Kacamata atau bedahTerapi yang perlu dilakukan untuk
menanggulangi kelainan mata juling adalah memulihkan kembali kesatuan titik
pandang. Sembuh atau tidaknya tergantung pada jenis kelainan dan penyebabnya.
Kasus juling pada anak umumnya dapat disembuhkan asalkan diobati sejak dini.
Kalau masalahnya berhubungan dengan refraksi atau ketajaman penglihatan, bisa
ditanggulangi dengan kacamata. Kacamata itu bisa berlensa spheris,
silinder, atau prisma tergantung keperluannya. Bisa juga diatasi dengan lensa
kontak (terutama bagi yang minusnya tinggi). Usaha lain ialah dengan melakukan
koreksi bedah refraktif untuk mengurangi kelainan rabun dengan menggunakan
pisau bedah atau laser excimer. Bila persoalannya menyangkut otot, bisa
dilakukan pembedahan sesuai kebutuhan. Misalnya, otot yang kepanjangan
dipendekkan (diresek), sebaliknya otot yang kepanjangan dipendekkan dengan
menggeser lokasi perlekatan pangkal otot (reses terhadap insersi otot). Sedang
bila juling terjadi akibat kecelakaan (trauma) umumnya dikoreksi dengan
tindakan pembedahan. Berlainan dengan anak bermata
juling yang mampu melakukan supresi pada matanya yang lemah, penderita dewasa tidaklah
demikian. Akibatnya, penderita dewasa akan terus terganggu karena benda yang
dilihat tampak bertumpuk. Kalaupun sekali-kali mampu, mata akan terasa pegal
atau capek, bahkan pusing atau mual. Sebab itu pada orang dewasa, julingnya
akan lebih kelihatan bila sedang capek. Pada orang dewasa yang tidak lagi
mampu mensupresi matanya ini, pengobatan biasanya diusahakan dengan menutup
salah satu matanya, sampai ototnya kembali normal. Mata yang ditutup, bisa yang
sehat atau yang sakit. Dengan menutup mata yang sakit, diharapkan mendapatkan
rangsangan dari mata sehat yang dipakai. Namun, kalau berdasarkan pemeriksaan
ia ternyata menderita ambliopia, maka mata yang sehatlah yang ditutup. Tentu
saja yang pertama diobati adalah ambliopianya lebih dulu. Bila sembuh tapi
juling masih ada, maka dilakukan tindakan pembedahan untuk menghindari
kekambuhan ambliopianya. Mata penderita dewasa yang sudah
telanjur rusak karena lama tidak digunakan, akan sulit disembuhkan. Umumnya
juling akan kambuh kembali sekalipun sudah dilakukan pembedahan. Karena itu
terapi mata juling paling tepat dilakukan sejak dini (sebelum usia 12 tahun)
agar hasilnya jauh lebih memuaskan daripada setelah anak tumbuh remaja atau
dewasa. Dr. Saman menganjurkan, kecuali
diperiksakan ke dokter mata, hendaknya penderita juga berkonsultasi ke dokter
lain seperti ahli THT (telinga, hidung, tenggorokan) atau dokter ahli penyakit
dalam. Hal ini untuk mengetahui apakah ada kelainan pada organ lain yang
mungkin menjadi penyebab matanya juling. Pada orang dewasa penderita juling
akibat komplikasi penyakit seperti diabetes atau stroke, cara mengatasinya
antara lain dengan melatih mata yang tidak sehat. Selain itu tentunya melakukan
diet makanan sesuai petunjuk dokter dan pengobatan penyakit utamanya sampai
tuntas. "Kita harus waspada apabila
juling terjadi secara tiba-tiba," dr. Saman wanti-wanti. Sebab, banyak di
antara kasus itu merupakan komplikasi penyakit ganas. Dalam kasus ini, mata
juling hampir tidak dapat disembuhkan. Saman menganjurkan, bila kita curiga terhadap penglihatan anak, lakukan tes mata sebelum anak masuk sekolah. Tes bisa dilakukan oleh orang tua sendiri. Caranya dengan menutup sebelah mata si anak. Amati apakah si anak mampu melihat gambar atau benda dengan sebelah matanya. Kalau misalnya mata kanan mampu melihat jelas, sementara mata kiri kurang jelas atau bahkan tidak bisa melihat sama sekali, segera berkonsultasi dengan dokter anak dan dokter mata. Penanggulangan dini jauh lebih cepat penyembuhannya daripada setelah dewasa. (Nanny Selamihardja) |