Keterangan beriklan di site ini logo(1).gif (10626 bytes)
globetiny.gif (852 bytes)N THE NET
tan_obat.jpg (12269 bytes)

Jarum Setan

 

"Jangan biarkan tanganmu menganggur, sebab setan bisa memperalatnya untuk melakukan kejahatan," demikian nasihat Ny. Gibson kepada anak-anaknya. Bagi si kecil Alice, nasihat itu sangat tepat. Alice memiliki tabiat aneh sehingga setiap saat perlu diingatkan. Sifat sadistisnya bisa muncul tiba-tiba, katanya karena dorongan dari dalam yang tak kuasa dicegah. Misalnya, ia kerap menyerang orang yang mengolok-oloknya. Ketika umur 14 tahun, ia pernah menghunuskan pisau kepada kakak perempuannya. Untunglah, kejadian itu bisa dilerai dan tak berakhir fatal.

Pasangan Tn. dan Ny. Gibson tak mengerti kenapa putri kecilnya punya karakter begitu aneh. Yang mereka pahami adalah: Alice bukanlah gadis abnormal, bahkan punya bakat besar dalam hasta karya atau kerajinan tangan. Keduanya juga mengamati, bahwa setiap kali gadis itu asyik membuat kerajinan tangan, sifat destruktif dan sadistisnya teredam. Bahkan bisa hilang dalam jangka waktu lama.

Tapi sang ibu tetap waspada. Ia tak setuju ketika suatu saat Alice memutuskan untuk bekerja sebagai perawat. Selain sangat paham sifat putrinya, Ny. Gibson juga tahu, pekerjaan sebagai perawat tak memerlukan banyak aktivitas tangan. Tapi apa mau dikata, ayah menolak pendapat ibu. Apalagi ada dukungan dari guru sekolah dan konsultan pandu bakat. Nyatanya, pendidikan sekolah perawat dilalui Alice dengan mulus. Ketika bekerja, karier pun dijalaninya tanpa hambatan berarti. Kekhawatiran ibunya tak terbukti.

 

Bosan berselingkuh

Kehidupan sebagai perawat praktis tak memberi Alice peluang untuk melakukan hobi hasta karya. Ia harus bekerja keras untuk memperoleh nafkah yang memadai. Barang-barang perlengkapan semacam kumparan tenun, peralatan renda, atau alas putar untuk membuat kerajinan gerabah, misalnya, terpaksa ditinggal di rumah karena hanya akan memenuhi kamar sempit di rumah susun sewaan. Belum lagi keharusan untuk berbagi tempat dengan teman untuk menghemat biaya.

Dengan teman sekamar bernama Pamela itulah pembicaraan tentang kerajinan tangan dimulai, sesaat setelah Pamela pulang dari liburan 2 hari. Ia mengenakan mantel wol putih sepanjang lutut.

"Bagus sekali," kata Alice. "Kesannya mewah. Pasti harganya selangit."

"Ah tidak, aku membuatnya sendiri," jawab Pamela.

"Membuat sendiri? Maksudmu, kamu merajutnya sendiri? Dengan tangan?"

"Ya ... tidak terlalu sulit, asal tekun. Aku cuma perlu waktu tiga minggu untuk merampungkannya."

Rajut-merajut, bagi Alice, adalah hal baru. Yang dulu sering dilakukannya hanyalah merenda atau sulam-menyulam, bukan merajut. Aktivitas merajut, setahu Alice, hanya dilakukan oleh nenek-nenek, ibu-ibu pengangguran, atau perempuan hamil yang menunggu saat melahirkan.

Tapi Pamela, yang jelas bukan nenek-nenek atau perempuan hamil, nyatanya bisa melakukannya. Maka Alice jadi ingin mencoba. Lagi pula, merajut jauh lebih praktis ketimbang menjahit atau menenun. Tak butuh tempat besar bagi peralatannya, karena hanya perlu segulung benang dan sepasang jarum kait. Bisa dilakukan di saat istirahat makan siang, di kendaraan umum, atau saat dinas malam di rumah sakit. Secara kejiwaan, kegiatan itu sangat membantu - bahkan mengobati - Alice karena memberi kesibukan kepada tangannya. Juga menghasilkan sesuatu tanpa membeli, misalnya jika ia ingin membuat baju hangat dari benang wol.

Alice memulai aktivitas barunya dengan antusias. Hobi baru ini rasanya jauh lebih menyenangkan dibandingkan dengan hasta karyanya dulu.

Semangat menekuni hobi baru, untunglah, juga menyemangati pekerjaan. Karier Alice menanjak dalam waktu cepat. Dari staf paramedis pangkatnya naik menjadi perawat, kemudian koordinator, dan pada usia 30 ia memimpin staf paramedis yang kebanyakan pria di Rumah Sakit Perwira St. Gregory's. Di sinilah ia bertemu dengan Rupert Clarigate yang dirawat karena serangan jantung.

Rupert Clarigate berusia 52 tahun, masih lajang, dan telah 2 tahun pensiun karena jantungnya tak kunjung sehat. Kendati sudah nonaktif, ia hidup berkecukupan - bahkan berkelebihan - dengan uang pensiun dan rumah peninggalan orangtuanya. Walau menempuh pola hidup sehat, sedikit merokok, dan banyak jalan kaki, makan pun pemilih, suatu saat ia terjatuh di lantai bar karena nyeri tak tertahankan pada sisi kiri tubuhnya. Dokter memastikan, Rupert terkena serangan jantung. Bagi pasien dengan penderitaan begini, hari-hari pertama perawatan di rumah sakit harus diperhatikan saksama. Suster Gibson-lah yang menjaganya.

"Selamat pagi, Kolonel Clarigate," sapa Alice Gibson di pagi pertama perawatan Rupert. "Anda semalam tidur nyenyak, pasti hari ini badan terasa enak."

Ada sesuatu yang mendorong Rupert jadi lebih sehat, dan itu bukan semata-mata tidur yang nyenyak. Sepasang mata biru laut, badan ramping dalam balutan seragam perawat, senyum manis, serta rambut pirang yang sebagian tertutup topi putih.

Alice memang menyapa dengan cara begitu kepada setiap pasien baru. Terhadap Rupert sedikit berbeda, karena laki-laki ini sebelumnya tak pernah berhubungan dengan rumah sakit.
Dalam beberapa hari Rupert bisa menangkap dinamika tempat itu. Kondisi para perawat diperhatikannya. Ada yang selalu menggerutu, ada yang asal bekerja karena sebenarnya tak berminat, ada pula yang pasif. Alice dia nilai berbeda karena terlihat selalu riang, cekatan, namun sabar terhadap pasien.

"Siapa pemuda beruntung yang akan mengencanimu, Suster?" sapa Rupert saat Alice meninggalkan kamar untuk libur keesokan harinya. Barangkali karena tak enak dengan reaksi kaget Alice, Rupert melanjutkan, "Ah, saya tak bermaksud mencampuri urusanmu. Saya cuma agak iri dengan nasib baik pemuda itu."

"Tak apa-apa, Kolonel. Tidak ada satu pun pemuda yang akan mengencani saya. Saya akan menikmati malam yang sepi dengan merajut di depan televisi."

Alice berkata sejujurnya. Ia memang tak punya pendamping, pacar, pasangan, atau apa pun namanya. Dulu, ketika remaja, ia tak berhasil menyisihkan waktu untuk pacaran. Satu-satunya pemuda yang pernah dekat dicampakkannya dengan pukulan seusai cekcok. Ketika Alice menentukan pilihan pada karier, waktu berjalan terlalu cepat sehingga tak memberinya kesempatan untuk menjalin hubungan dengan lawan jenis. Lagi pula ia cukup pemilih terhadap laki-laki. Herannya, setiap kali ada yang masuk pertimbangan, selalu sudah beristri.

Rupert Clarigate adalah laki-laki yang sangat berbeda. Ia termasuk pria paling ganteng yang pernah ditemuinya di rumah sakit. Kendati tak muda lagi, rambutnya yang tebal memutih dan dibiarkan agak gondrong sampai menutupi bagian atas telinga, menarik perhatian Alice yang memang benci kepala botak. Setiap kali sempat menyisir, Alice melakukannya dengan penuh perhatian.

Ada hal lain yang makin membuat Alice suka, yakni sikap Rupert yang sopan namun jenaka. Dari aksennya Alice tahu, Rupert keluaran sekolah umum negeri, bukan sekolah swasta yang didominasi anak-anak bangsawan. Sebagai pensiunan perwira Inggris dalam tingkat usia yang begitu matang, Rupert sangat piawai mengontrol diri. Misalnya, ia sesungguhnya terpesona pada Alice, namun pandai menyembunyikan kekaguman itu. Sebaliknya, lewat pemahaman mendalam atas sudut mata Rupert, dan kepekaan batin seorang wanita, Alice mengerti hal itu. Masuk akal jika selewat satu minggu masa perawatan, Alice jatuh cinta kepada Rupert. Hampir tak tersisa ruang untuk berpikir panjang atau berwaspada.

Bagi Letkol. Purn. Clarigate, inilah kesempatan untuk mewujudkan ucapannya yang selalu diulang-ulang, "Suatu saat saya pasti menikah," setelah gagal mencapai target, yakni menikah pada usia 35 tahun. Selama ini ia hanya pacaran, kebanyakan berselingkuh dengan istri-istri perwira. Salah satu pacarnya pernah mengecam, Rupert sangat egoistis. Sampai kapan pun ia tak akan bisa berumahtangga karena tak betah di rumah, tak berkeinginan punya anak, juga tak mau berbagi nafkah dengan orang lain.

Kini, masa pensiun benar-benar jadi dorongan Rupert untuk menikah. Kalau tidak, rumah besar peninggalan orang tuanya akan terbengkalai karena tak ada yang merawat. Kebiasaannya pun tak akan berubah, yakni makan masakan yang enak-enak di restoran mahal karena tak ada orang yang memasak untuknya. Ia pun akan terus jadi perokok dengan alasan kesepian (karena itulah ia menyimpulkan, serangan jantung yang melanda dirinya adalah puncak dari penderitaan karena tak punya istri).

Apakah Suster Gibson yang manis, telaten, dan penuh perhatian, layak jadi pilihan? Sebaliknya, Alice juga mulai mempertimbangkan, kenapa tidak berhenti dari profesinya, dan sepenuhnya mengabdi untuk suami? Ia cinta kepada Rupert, seorang pria baik, kaya, dan juga berambut ikal?

Keduanya belum mengambil keputusan ketika Rupert keluar dari rumah sakit, tiga minggu setelah perawatan. Dalam masa pemulihan ia tinggal sementara di desa, dan dari situ setiap hari ia berkirim surat kepada Alice. Ketika Rupert telah kembali ke rumah tinggalnya karena kondisinya sudah membaik, ia tak tahan lagi untuk segera mengencani Alice. Menjemput Alice di rumah sakit selewat jam kerja, ataupun di flat sederhana dengan kamar sempit tempat Alice tinggal. Tiga kali makan malam di luar, mereka pun memutuskan untuk saling bertunangan.

"Bagi orang lain, ini mungkin terlalu cepat," kata Alice. "Tapi bagiku, hubungan ini berlangsung begitu mendalam dan intensif. Lagi pula, adakah hubungan lain yang lebih erat daripada hubungan antara pasien dan perawat?"

 

Tak cuma sambil bicara

Di ulang tahun ke-53 Rupert, sebulan setelah tunangan, Alice menghadiahi pullover, baju hangat tangan panjang, hasil rajutan sendiri. Warnanya coklat karat dengan strip kombinasi warna krem dan hijau tua pada garis lehernya. Sangat pas buat mantan perwira yang tetap langsing kendati tak pernah diet.

Alice penuh semangat mendampingi Rupert. Sering mengajaknya berjalan-jalan di taman, juga dengan tekun membujuknya untuk meninggalkan rokok.

Rumah warisan Clarigate ternyata tak memenuhi selera Alice. Rupert berniat menjualnya untuk membeli rumah yang sesuai selera. Ada keleluasaan untuk menata dan melengkapi perabot. Apalagi Rupert menyerahkan semua tabungan kepada Alice agar bebas mengatur anggaran.

Perkawinan mereka dilangsungkan pada bulan Mei, tiga bulan setelah perjumpaan pertama di rumah sakit. Tak terlau ramai, karena hanya kerabat dekat yang diundang. Ada kakak Alice. Ada pula Pamela yang datang bersama Guy, suaminya yang pengarang cerita misteri. Di pihak Rupert hadir ibunya yang telah menjanda, saudara sepupu, bekas atasannya di militer, serta Dr. Nicholson yang dulu merekomendasikan Rupert untuk dirawat intensif setelah kena serangan jantung. Pesta kecil pernikahan itu diakhiri dengan makan siang, dan pada pukul tiga sore pengantin baru terbang menuju Barbados untuk bulan madu.

Alice tak bisa pergi berlibur tanpa membawa serta perlengkapan rajut-merajut. Maka di sela waktu bulan madu itu ia membuat tudung kepala dan sarung tangan untuk keponakannya, jaket untuk iparnya, juga sweater panjang untuk dirinya sendiri. Sebuah pencapaian hebat, karena biasanya, orang yang sedang berbulan madu kalau tidak berpesta, jalan-jalan, ya main di pantai. Tidak merajut.

Tapi secara keseluruhan, liburan berlangsung sukses. Alice tak perlu diajari cara menikmati hidup, dan nyatanya aktivitas sampingannya dapat dilakukan dalam kecepatan tinggi. Rupert puas setiap kali makan, seolah-olah lupa kalau ia baru terkena serangan jantung. Satu hal yang membuat Alice senang, Rupert banyak mengurangi rokoknya.

Sekembali dari bulan madu, rumah baru di tepi laut perlu segera dirapikan. Memilih dan memesan karpet, memanggil tukang ledeng, mengontak tukang listrik untuk membenahi pemanas ruangan, dilakukan Alice dengan cekatan. Ia menolak tawaran bantuan Rupert, tetapi juga tidak lantas melupakan kewajibannya mengajak Rupert jalan cepat di pantai untuk menjaga kesehatan jantung. Si suami kini dalam kondisi prima. Menapak tangga menuju lantai atas pun tak perlu diselingi istirahat untuk menghela napas.

Hari kesekian setelah bertubi-tubi disibukkan urusan rumah dan perabotan, Alice baru bisa santai. Kebetulan, Rupert sedang pergi ke tempat praktek Dr. Nicholson untuk kontrol rutin bulanan. Timbul keinginan untuk merajut. Ia pun pergi ke toserba untuk membeli benang wol. Sore di hari sebelumnya, saat jalan-jalan bersama Rupert menyusuri pantai, keduanya melihat seorang pria mengenakan kaus panjang tanpa kerah yang, kata Rupert, cocok untuk dirinya. Alice hanya tersenyum dan menggenggam tangan suaminya.

Waktu telah jauh berjalan sejak Alice "berkenalan" dengan kerajinan rajut melalui mantel putih Pamela. Ia kini telah mahir. Ia tahu banyak istilah teknis, paham setiap pilinan benang dan hasilnya, tahu cara mengkombinasikan warna, juga mengabstraksi setiap model baju untuk dikombinasi dengan ide sendiri. Jenis-jenis benang pun ia paham, dari yang kualitas terbaik berbahan baku alami, sampai benang katun dua lapis. Setiap benang berbeda jarumnya. Ia tahu kalau jarum kait nomor empat belas dalam versi Inggris sama dengan tipe Eropa ukuran dua milimeter, dan di Amerika disebut ukuran double O. Dia mampu mengembangkan berbagai ukuran pakaian hanya berdasarkan satu patron, atau bahkan tanpa patron sama sekali. Melihat setiap model baju, ia langsung bisa menjiplaknya dalam rajutan wol. Kemampuannya makin pesat karena emosinya terbawa serta, sehingga bila ia masuk ke toko benang, umpamanya, ia bagaikan seorang anak yang masuk ke toko mainan.

Bagi toko perlengkapan rajut dan renda semacam Woolcraft Limited, Alice adalah pengunjung tetap. Untuk membeli bagan desain baju dan enam gulung benang wol, misalnya, terlebih dahulu ia menghabiskan waktu setengah jam untuk melihat-lihat.

Di rumah, peralatan rajut dan jahit tersimpan rapi di laci besar sebuah lemari di ruang keluarga. Selain beberapa benang yang utuh, terdapat juga beberapa gulungan sisa, perangkat tambahan, meteran, serta beberapa pasang jarum kait yang masing-masing tersimpan rapi di dalam amplop plastik. Semuanya terdiri atas beberapa ukuran dan nomor, termasuk nomor empatbelas yang dulu digunakannya untuk membuat pullover warna coklat karat untuk Rupert.

Sebuah benda rajutan bisa diselesaikan dalam hitungan hari, bisa pula berbulan-bulan. Kadang sebuah pekerjaan terhenti dan tak dilanjutkan lagi. Jika aktivitas merajut terhenti lama, saat memegang jarum lagi Alice merasakan sesuatu yang istimewa. Bagaimana kedua tangan memegang jarum lalu bergerak dalam irama konstan, tangannya terkena gulungan benang yang bergerak mengikuti tarikan, dan seterusnya. Bagi Alice, aktivitas itu sebuah sensasi khas yang sulit dirumuskan dalam kata-kata. Hal itu hampir sama dengan seorang perokok atau peminum yang memulai lagi aktivitasnya setelah sebulan absen.

"Sedang apa kamu, Manis?" tanya Rupert di suatu sore sehabis berkebun.

"Merajut," jawab Alice sambil tersenyum kepada suaminya.

Rupert duduk di depannya, memperhatikan dengan saksama. Lelaki itu baru sadar, selama ini cuma tahu istrinya duduk dan merajut, tanpa memperhatikan dengan sungguh-sungguh. Sekitar empatpuluh tahun lalu ibunya pernah bercerita tentang kegiatan itu, namun baru kali ini ia mengamati bahwa merajut adalah pekerjaan yang perlu kecermatan dan kesabaran. Jari-jari Alice menyentik ke atas, ke bawah, dan berputar dalam irama konstan ratusan kali per menit. Tangan itu seperti terpisah dari bagian lain tubuh Alice. Dari badannya yang dalam posisi santai, dari matanya yang sesekali melihat Rupert, dan jangan-jangan juga terpisah dari pikiran yang sedang berkeliaran entah ke mana.

"Aku baru memperhatikan sekarang, ternyata tanganmu lincah sekali membuat rajutan," komentar Rupert.

"Lo, bukankah aku sudah bilang, baju hangatmu yang coklat karat itu buatan tanganku, Sayang."

Rupert memang tak begitu ingat lagi soal baju hangat. Ia asal saja menyahut, "Aku kira kamu membuatnya dengan mesin."

Alice terbahak, lantas melanjutkan rajutannya. Rupert mengambil koran sore yang baru datang, kemudian membacanya di dekat Alice. Beberapa saat kemudian,

"Apakah pekerjaanmu itu bisa dilakukan sambil ngobrol?" Pertanyaan itu diajukan Rupert dengan nada seorang anak yang bertanya kepada ibunya namun khawatir si ibu akan terganggu.

"Tentu saja bisa, Sayang. Aku 'kan perajut terampil? Jangankan merajut sambil ngobrol. Sambil baca, sambil nonton televisi, atau bahkan merajut di ruang gelap," Alice menatap Rupert dengan penuh rasa kasih, sementara jari-jari kedua tangannya bergerak lincah seperti tangkai piston mesin.

Rupert tidak menanggapi omongan Alice. Ia kembali membaca koran, dan sepanjang sore tak banyak lagi bicara, sampai saat keduanya pergi untuk makan malam. Keesokan harinya, ketika Alice merajut lagi, Rupert melihat lagi dengan saksama. Sesaat kemudian ia menyalakan rokok, batang pertama dalam beberapa minggu. Ia pergi tanpa sepatah kata pun. Ketika waktu tiba bagi Alice untuk menyiapkan makan malam, ia mendapati Rupert duduk di kursi dapur sambil membaca buku kenangan perang.

Waktu berjalan terus dengan rutinitas yang sama. Alice selalu asyik merajut, namun selalu bersikap manis dan tak pernah lalai akan tanggung jawab sebagai istri.

"Manis," kata Rupert suatu sore, "sebetulnya kita tidak terlalu perlu membuat baju sendiri. Kita bukan orang miskin. Setiap saat kamu ingin membeli baju, rok, atau apa pun, kamu tinggal bilang."

"Ini bukan untukku, Sayang, tapi untukmu. Bukankah kamu bilang ingin memakai baju hangat seperti yang dikenakan laki-laki di pantai tempo hari?"

"Oh, ya? Rasanya aku tidak bilang ingin baju seperti itu. Lagi pula, kalau memang ingin, aku toh bisa membelinya. Percuma susah-payah membuat sesuatu yang bisa kita dapatkan dalam sepuluh menit."

"Tapi aku suka merajut, 'Yang. Aku cinta hobi ini. Lagi pula, pakaian buatan sendiri jauh lebih enak dipakai daripada keluaran toko."

"Tapi membikinnya capek dan membahayakan tanganmu."

"Ah, kamu berlebihan. Tanganku, jari-jariku, baik-baik saja. Perasaanku tetap senang. Justru yang membuatku sedih, kamu mulai merokok lagi."

Rupert menghabiskan lima batang rokok sepanjang hari itu. Keesokan harinya dua kali lipat, dan seterusnya sampai beberapa hari. Datanglah pasangan Pamela dan Guy bertamu untuk liburan.

 

Hentikan kebiasaan itu, Sayang

Pamela tak pernah lagi merajut sejak putri sulungnya yang kini di sekolah dasar berumur dua tahun. Maka ia sangat senang melihat Alice asyik dengan kegiatannya. Ketika membuka laci lemari tempat penyimpanan benang dan alat-alat rajut, keinginan untuk membuat baju pun timbul. Penghematan yang cukup berarti, pikirnya. Tapi niat itu tak kesampaian, karena seluruh waktu kunjungannya penuh oleh kegiatan di luar rumah.

Guy, suami Pamela, ternyata cukup menyenangkan. Ia berbeda dari penulis lain yang rata-rata pendiam. Ia penuh semangat menjelaskan kisah-kisah misteri karangannya, termasuk menceritakan berbagai metode pembunuhan, kematian, serta penggunaan alat-alat rumah tangga sebagai sarana pembunuhan. Rupanya Alice tertarik. Bahkan bersama Guy mengembangkan gagasan dan penemuan mengenai benda yang bisa jadi alat pembunuhan.

"Ada satu zat kimia yang bisa menghambat proses pembekuan darah. Orang telah menguji dengan menyuntikkannya kepada tikus. Ketika tikus-tikus diadu, segores luka, biarpun kecil, bisa menyebabkan kematian karena darah terus keluar," kata Guy.

"Saya jadi ingat pengalaman di rumah sakit," balas Alice. "Paramedis juga menggunakan zat itu, atau sesuatu yang proses kerjanya mirip itu. Upaya menghambat pembekuan darah berguna bagi penderita trombosis."

"Oh, ya?" kata Guy. "Wah, metode pembunuhan yang menarik. Mungkin di buku mendatang saya akan menerapkannya. Akan lebih bagus kalau ditambahi unsur perangsang, lantas ada goresan kecil, misalnya di pergelangan tangan ...."

Dalam beberapa hari, tema pembicaraan antara Alice dan Guy berkisar pada cerita-cerita misteri, modus operandi pembunuhan, serta metode kematian. Alice mengusulkan agar Guy menggali kemungkinan lain dari kasus mabuk biasa menjadi pembunuhan yang sulit dilacak.

"Tidak perlu dengan anggur," balas Guy. "Ada sejenis kol yang mengandung kalsium oksalat, yakni semacam kristal yang menimbulkan rasa pedih. Kulit yang tergores tanaman ini bisa bengkak. Bayangkan kalau tanaman ini masuk ke dalam mulut. Rongga mulut jadi bengkak, menyebabkan orang tak bisa bernapas. Nah, kalau ada kasus semacam ini, ahli patologi yang kalibernya biasa saja pasti akan menyimpulkan korban mati karena tercekik sendiri. Ia tak akan menemukan zat yang mematikan lysichiton symplocarpus yang terkandung dalam kol itu. Satu lagi metode pembunuhan yang sulit dilacak."

Berpingpong gagasan dengan Guy adalah pengalaman menyenangkan buat Alice. Ia sama dengan Pamela waktu pertama-tama kenal dengan Guy dulu. Sedangkan buat Rupert, yang punya pengalaman berdampingan dengan kematian, pembicaraan itu memuakkan. Maka ia bersyukur ketika waktu dua minggu telah lewat, saat bagi Pamela dan Guy untuk pamit.

Ada sesuatu yang dirasakan Alice sepeninggal pasangan sahabatnya. Tanpa sadar, sifat sadis yang lama terpendam muncul dan terpupuk kembali, meski hanya karena imajinasi. Betapa bersyukurnya dia karena hal itu tak berkepanjangan, sehingga ia bisa kembali pada rajutannya yang tertunda.

Rupert menyalakan rokok.

"Kupikir-pikir, kenapa aku tidak membelikanmu mesin rajut ya?" katanya.

"Aku nggak mau mesin rajut, 'Yang."

"Minggu lalu, saat jalan-jalan dengan Guy, ada satu mesin rajut di toko. Memang agak mahal, tapi nggak masalah. Yang penting bisa membuatmu senang dan kerja lebih cepat."

"Aku bilang, aku nggak mau mesin," suara Alice meninggi. "Intinya adalah, aku suka merajut dengan tangan. Lagi pula aku sudah pernah bilang, merajut adalah hobiku, minatku paling besar. Kedua tanganku bisa melakukannya, tidak perlu sebuah mesin yang makan tempat, tidak praktis, berisik, lagi."

Rupert terdiam. Ia hanya memperhatikan jari-jari tangan Alice bergerak-gerak memainkan sepasang jarum dan benang.

"Sebenarnya, aku tak suka suara itu," kata Rupert sambil menunjuk jari Alice.

"Suara apa?" Alice gusar.

"Itu, bunyi klak-klik-klak-klik."

"Ah, mana mungkin? Dari ruang sebelah tak terdengar apa-apa."

"Tapi aku dengar."

"Kamu akan terbiasa."

Tapi Rupert tak kunjung terbiasa. Ketika Alice melanjutkan akitivitas pada hari berikutnya, Rupert bilang, "Ternyata bukan karena bunyi klak-klik-klak-klik, Manis, tapi karena jari-jarimu yang menyentak-nyentak naik-turun itu. Rasanya miris melihatnya."

"Ya jangan lihat, dong."

"Nggak bisa, Manis. Entah kenapa, aku selalu terpancing untuk melihatnya."

Alice jadi senewen. Sesuatu yang semula dirasanya enak, terganggu oleh tanggapan suaminya. Rajutannya jadi lamban dan tidak cermat. Mengetahui hal itu, Rupert mencoba mengalihkan perhatian.

"Kita pergi saja, yuk. Minum-minum sebentar di pantai, kemudian ke Restoran Queen untuk makan malam."

"Ayo," Alice pun setuju.

"Tapi, maukah kamu meninggalkan hobi itu demi aku? Toh itu cuma sepele. Kamu bisa beralih ke hal lain yang lebih berguna."

Cuma sepele dan tak berguna? Alice geram, tapi tak bisa apa-apa. Bagaimanapun Rupert adalah suaminya, dan perkawinan membutuhkan saling memberi dan menerima. Dia harus menghentikan hobi dan kebiasaan demi suaminya, karena selama ini suaminya telah memberinya banyak hal.

 

"Apa? Pergi dari rumah?!"

Alice merasa sangat kehilangan. Lama menjalani hobi dalam intensitas tinggi, tiba-tiba harus berhenti tanpa persiapan. Ia yang selama ini biasa membaca atau nonton televisi sambil merajut, merasa kagok melakukannya tanpa merajut. Dengan tangan menganggur, dia menjadi tak tenang. Rasa gelisah tak kunjung hilang. Sementara Rupert sepertinya tak peduli. Ia tak memberi aktivitas pengganti kepada Alice.

Sampai suatu sore, keduanya melihat sebuah sweater tergantung di etalase toko. Warnanya krem, di bagian depan terdapat gambar sebuah pulau dalam kombinasi merah dan abu-abu.

"Berani taruhan, kamu pasti tak bisa buat yang seperti itu. Rajutan kelas tinggi, pasti dikerjakan dengan mesin," kata Rupert.

Alice tersentak. Emosinya naik. Ia ingin sekali menampar muka suaminya. Ia tahu persis, barang yang dipajang itu tidaklah terlalu istimewa. Asal diberi kesempatan, ia pasti bisa mencontohnya, bahkan dengan hasil lebih baik. Masalahnya, Alice tak boleh lagi merajut. Keinginan yang timbul terpaksa diredam. Tapi, sampai kapan ia tak boleh merajut? Haruskah menunggu sampai pisah dari Rupert? Atau, haruskah menunggu sampai Rupert mati?

Pikiran kejam semacam itu bukan sekali-dua muncul. Tapi tak apa-apa. Menurut Alice, pemikiran itu sama kejamnya dengan perlakuan Rupert terhadap dirinya. Ia sering menyesali, kenapa mau menikah dengan pria yang hanya tiga bulan dikenalnya. Ingin rasanya memukul Rupert dari belakang, menyiksanya hingga mengiba, memohon ampun, kemudian membebaskannya kembali merajut.

Rupert menangkap ada perubahan dalam diri istrinya, tapi tak tahu penyebabnya adalah kehilangan sesuatu yang berarti segala-galanya. Rupert bahkan telah lupa soal rajut-merajut. Ia cuma menebak, istrinya pasti gelisah karena ia makin banyak merokok. Bagaimanapun, Alice paling tahu kondisi kesehatan Rupert. Ia paling paham akibat rokok pada Rupert. Maka dengan mantap ia pun memutuskan untuk berhenti merokok (lagi). Ini kesempatan berhenti yang kedua sejak menikah.
Lima hari tanpa tembakau, badannya terasa ngilu ketagihan. Apa lagi di dalam bar dengan aroma asap yang menggiurkannya. Maka ia pun membeli sebungkus dan menyalakannya. Sesampai di rumah, satu batang lagi. Kerinduannya pada nikotin begitu hebat, membuatnya tak peduli lagi pada sekitarnya. Ia bahkan tak sadar Alice duduk sambil menatapnya di kursi depan. Rupert mengisap rokok dalam-dalam, lantas mengeluarkan sisa asap dengan penuh perasaan. Sehabis satu batang, ia ingin menyambungnya dengan batang kedua. Seketika, satu tangan Alice merampas bungkus rokok, dan satu tangan lagi menampar muka Rupert.

"Dasar makhluk kejam dan egois! Kamu boleh bersenang-senang dengan racun pembunuh yang baunya memuakkan perut, sementara aku kamu larang melakukan hobi sederhana yang tak berbahaya! Kamu memang babi yang tak punya perasaan!"

Pertengkaran pun tak terelakkan. Berjam-jam kemudian keduanya diam. Keesokan harinya, Rupert pergi ke pusat kota untuk membeli berbungkus-bungkus rokok, sementara Alice mengunci diri di dalam kamar sambil merajut.

Keadaan baru membaik tiga hari kemudian. Rupert berjanji untuk menjalani terapi penyembuhan kecanduan rokok, sementara Alice menjelaskan keinginannya untuk menyisihkan waktu sejenak setiap hari untuk merajut. Mungkin satu jam sehari, di salah satu sudut ruang makan, tanpa mengganggu aktivitas dan rutinitas apa pun.

Awalnya memang satu jam. Alice betul-betul melampiaskan kerinduannya pada rajutan. Kendati tak lagi membuat sesuatu untuk Rupert, ia terlalu banyak menyimpan keinginan merajut. Sehingga waktu yang satu jam mulur jadi satu setengah jam. Terus jadi dua jam, dan selanjutnya. Ia baru sampai pada bagian punggung baju wol wanita warna burgundi, yang diselesaikan secara penuh konsentrasi selama dua setengah jam, ketika tiba-tiba Rupert masuk ke dalam ruangan dengan mulut menjepit rokok serta bau wiski yang menyengat. Dia renggut benda dari genggaman Alice dan membuangnya. Alice berteriak histeris, menarik baju dan mengguncang-guncangnya. Tapi Rupert malah mengobrak-abrik benang dan peralatan rajut yang tersisa di atas meja. Sebagian benang yang menyangkut di jari-jari diputuskannya. Jarum besar coba dipatahkannya, sementara kertas-kertas pola dirobek-robeknya. Alice mendorong muka Rupert dan memukul badannya, tetapi Rupert membalas dengan mencampakkannya ke lantai. Alice jatuh dan mengerang kesakitan, tetapi tak menghentikan amukan Rupert.

Tiga hari kemudian Alice minta cerai. Rupert bilang, dirinyalah yang mestinya minta lebih dahulu, karena Alice adalah pemicu percekcokan. Alice pun menjawab, jika itu kesimpulannya, mestinya Rupert yang angkat kopor dan pergi dari rumah.

"Aku? Pergi dari rumah?! Ngawur, kamu!"

"Tidak, aku tidak ngawur. Laki-laki yang bermartabat, apalagi seorang perwira, pasti akan melakukan hal itu," kata Alice.

"Apa?! Kamu ingin aku pergi dari rumah yang kubeli dari warisan orang tuaku? Kamu bukan hanya perempuan sundal, kamu gila! Kamu yang harus pergi! Tak apa-apa nanti aku memberi santunan, karena hukum memang mengatur begitu!"

"Terus, aku kamu suruh apa? Kembali jadi perawat? Tinggal di flat kumuh? Lebih baik aku mati. Aku akan tinggal di sini!"

Pertengkaran berlangsung berhari-hari, sampai keadaan tak bisa membaik lagi. Rupert gagal mengatasi ketergantungan rokok. Ia makin sering pergi dan pulang dalam keadaan mabuk. Sementara Alice tak berani merajut selagi Rupert di rumah.

"Aku sudah berkorban tidak merajut demi kamu, tetapi kamu tak membalas dengan memberikan rumah ini dengan sedikit perabotnya," kata Alice.

"Gila kamu, mestinya bukan begitu cara berpikirnya."

Lagi-lagi keduanya berkelahi fisik. Alice menerjang Rupert dan memukul mukanya. Rupert menangkap tangan itu, lantas menariknya hingga Alice terduduk di kursi. Seketika kursi itu dia dorong hingga keluar ruangan. Setelah itu Rupert bergegas pergi ke bar di pantai, minum dua gelas wiski sambil mulut terus-menerus mengepulkan asap rokok. Ketika pulang, ia mendapati Alice tidur di kamar lain. Rupert yang mewujudkan penolakannya untuk pergi dari rumah dengan tetap tidur di kamar tidurnya, langsung menenggak dua pil tidur. Ia pun terlelap.

Keesokan harinya, Alice masuk ke dalam kamar Rupert. Pria itu masih pulas saat Alice mengelap kulit kepalanya, serta menyisiri rambut tebalnya yang memutih. Alice tak lupa menggganti sarung bantal, menyeka noda yang menempel pada baju piyama suaminya, kemudian dengan tenang menelepon ... dokter!

 

Di mana jarum yang satunya?

"Ya, ia telah meninggal! Tampaknya jantungnya tak kuat," kata dokter. "Konsumsi rokok dan alkohol berjumlah besar dalam waktu singkat menyebabkan otot jantung tak sanggup menahannya. Kerusakan otot jantung yang parah," lanjut dokter.

Alice mengangguk. "Sejak dia merokok lagi, saya selalu punya bayangan buruk."

"Sebenarnya, dalam kasus ini ..."

Dokter belum selesai bicara ketika Alice menyela, "Tapi bagaimanapun, saya telah mengalami bulan-bulan penuh kebahagiaan bersama dia."

Dokter menandatangani surat keterangan kematian. Semuanya serba jelas, tak perlu autopsi segala. Pamela dan Guy datang pada saat kremasi jenazah, kemudian mengajak Alice tinggal sementara di rumah mereka.

Empat minggu kemudian Alice kembali ke rumah yang kini dia miliki sepenuhnya. Ia bahkan bisa menambah perabotan dari uang tabungan Rupert, sementara jaminan sosialnya sangat cukup untuk hidup. Belum lagi uang pensiun perwira, kendati jumlahnya dikurangi, tetap berarti kemewahan bagi Alice.

Hari berganti, dan bulan berlalu. Pamela hampir tak mengenali Alice ketika berjumpa lagi dengannya. Alice kelihatan lebih muda, lebih langsing, sebagian rambutnya dicat warna merah. Yang istimewa, ia mengemudikan mobil sedan warna putih.

"Bagus sekali bajumu," Pamela memuji setelan warna burgundi yang dikenakan Alice. Baju bagian atasnya berupa jaket tebal berenda-renda.

"Aku membuat sendiri atasan ini," jelas Alice.

"Wah, aku jadi tak sabar ingin merajut lagi. Rasanya kemampuanku tidak kalah dari kamu, Alice."

Esoknya, hari Minggu, keduanya berjanji untuk main di pantai. Pamela mengutarakan lagi keinginannya untuk merajut. Tangannya sudah geregetan. Maka keduanya lalu mampir ke rumah Alice. Sesampai di rumah, Alice membuka laci penyimpanan perkakas rajut, diambilnya selembar rajutan warna biru yang pernah dibuatnya namun tak dilanjutkan. "Kamu teruskan saja pekerjaan ini, dan ini polanya. Mungkin bisa kamu buat jadi kaus hangat untuk Guy," kata Alice.

Guy yang menyusul ke tempat itu menyahut dari pintu depan, "Ya, aku mau, aku mau."

Pamela setuju. "Tinggal meneruskannya, kok. Tetapi mana jarumnya, nomor empat belas, Alice?"

Sekejap wajah Alice berubah. Dengan ragu ia mengambil amplop plastik tempat penyimpanan jarum di dalam laci. Satu per satu dibukanya, tak ada ukuran yang dimaksud. Pamela, yang sudah terbakar oleh semangat untuk merajut, tak sabar ikut meraba-raba alas laci. "Nah, ini dia. Nomor empatbelas, dua milimeter, double O .... Tapi, cuma ada satu, Alice!"

"Oh, ya? Pasti yang satunya hilang," Alice langsung merebut jarum dari genggaman Pamela, lantas memasukkannya ke dalam laci.

"Tunggu, Alice. Pasti cuma terselip di suatu tempat, tidak hilang," kata Pamela kaget.

"Hilang. Aku yakin itu. Sayang kamu terpaksa tidak bisa mulai merajut malam ini."

Guy menyela, "Rasanya aneh, jarum yang mestinya selalu berpasangan, bisa hilang salah satu."

"Ya bisa saja. Barangkali terjatuh dalam perjalanan, dicari tidak ketemu," Pamela menanggapi. "Atau mungkin dipakai Alice untuk hal lain, misalnya menyodok pipa yang tersumbat."

"Ia jelas perlu besi yang lebih besar, bukan jarum kait. Nah, kalau dalam novelku, jarum kait nomor empatbelas bisa jadi alat pembunuh. Sedikit diasah ujungnya, bisa ditusukkan pada kulit kepala seseorang yang, katakanlah, mabuk atau tak sadar. Tusukan bisa menembus tengkorak kepala sampai ke otak, dengan hanya menimbulkan sedikit pendarahan."

"Tapi kalau diperiksa dokter, pasti ketahuan," Alice menanggapi.

"Belum tentu. Yang jelas, hampir semua pria setengah baya mempunyai tanda-tanda penderitaan jantung koroner meski kadarnya berbeda-beda. Bagi ahli patologi yang kualitasnya biasa saja, hal itu tidak mencurigakan. Ia tak akan mewaspadai kemungkinan lain, apalagi untuk menemukan satu titik di kulit kepala, di balik rambut yang tebal dan ikal!"

"Sudah! Sudah! Hentikan cerita seram itu!" sahut Pamela, setelah mengetahui muka Alice berubah jadi pucat dan tangannya yang memegang benang gemetaran.

Pembicaraan terhenti. Alice memaksakan diri untuk tersenyum. "Oke, sekarang kita cari kegiatan lain saja. Besok, setelah beli jarum nomor empatbelas, kita akan merajut lagi. Aku pun harus memulai aktivitas baru karena terlalu lama menganggur. Padahal dulu ibuku selalu memberi nasihat, 'Jangan biarkan tanganmu menganggur, sebab setan akan memperalatnya untuk melakukan kejahatan'." (Ruth Rendell/SL)

Click here to join our mailing list!
Join our mailing list!
rumah intisari on the net CLICK HERE TO VISIT THE TOP 1000!