|
Ny. Kus Amien: Istri Sang Oposan
"Insya Allah saya siap jadi presiden!" demikian pernyataan Amien Rais dalam wawancara dengan SCTV pada 22 Agustus 1998. Dengan pernyataannya itu, pria kelahiran Solo, Jawa Tengah, 26 April 1944 ini masuk dalam daftar calon presiden RI bersama pesaingnya, di antaranya Megawati Soekarnoputri, B.J. Habibie, dan Sri Sultan Hamengku Buwono X. Tak pelak, setelah pernyataannya, ketua umum Partai Amanat Nasional yang terkenal amat vokal itu - terutama dalam soal mengusut harta kekayaan Mister Soeharto - jadi makin sibuk saja. Jadwalnya padat. Sebentar ia bisa ada di Bandung, tidak lama kemudian sudah ada di Depok, Jakarta. "Delapan puluh persen kegiatan Bapak dipakai di luar," begitu pengakuan Ny. Kusnasriyati Sri Rahayu, yang lebih dikenal sebagai Ny. Kus Amien. Ternyata kesibukan luar biasa suaminya itu bukan barang baru bagi wanita kelahiran Solo, 28 Juni 1950 ini. Dari dulu ia sudah terlatih ditinggal-tinggal sang suami seperti itu. "Dulu, Bapak juga suka ceramah ke mana-mana atau ikut panel diskusi. Cuma sekarang frekuensinya makin meningkat." Bahkan, sejak mereka berkenalan, putri ketiga dari enam bersaudara pasangan H. Abdul Madjid dan Hj. Kusmardinah ini pun paham betul akan kegiatan kekasihnya. Maklum saja, mereka memang bertetangga. Kalau Ny. Kus Amien tinggal di RT 13, Amien Rais di RT 11, Kampung Kepatihan Kulon, Solo. Konon dari dulu Amien Rais muda sudah aktif ke mana-mana. Selain berkuliah di Yogyakarta, ia juga aktivis berbagai organisasi kepemudaan macam Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah dan Lembaga Dakwah Mahasiswa Islam Indonesia, sampai jarang pulang ke Solo. Mereka mulai berpacaran saat Kus berusia 17 tahun. "Kami jarang surat-suratan. Wong rumahnya dekat saja. Kalau dia pulang, pasti ke rumah saya," kenang Ny. Kus. Secara kebetulan mereka berdua berasal dari keluarga aktivis Muhammadiyah. Bahkan ketika belum menikah Kus aktif di Aisyiah ranting Kepatihan, Solo. Ia ditempatkan di bagian pendidikan untuk mengurusi taman kanak-kanak, pengajian, dan sebagainya. Karena sudah terbiasa mengurusi TK, ia pun pernah bercita-cita, bila telah berumah tangga, alangkah idealnya bila di dekat rumah ada TK-nya. Cita-cita itu memang terwujud. Sejak 1987, ia beserta lima orang ibu lainnya mengelola TK Budi Mulia yang termasuk TK terbesar kedua di Yogyakarta. TK yang dibangun di halaman rumahnya itu berada di bawah naungan Yayasan Pendidikan Salahuddin. Nggopek nggo "Kami tidak dijodohkan, tetapi mungkin witing tresno jalaran saka kulino selain nggopek nggo (tonggo ngepek tonggo, Red.) alias "tetangga dapat jodoh tetangga!" kenang wanita yang usianya berselisih enam tahun dari suaminya ini. Ny. Kus masih ingat betul kata-kata Amien Rais ketika melamarnya, "Bagaimana kalau kita melaksanakan harapan orang tua kita?" Pada 19 Februari 1969 mereka pun menikah saat Kus baru saja lulus dari Madrasah Mualimat Nahdlatul Muslimat - setingkat SMU. Dalam menjalankan rumah tangga, tampaknya mereka masih menganut "tatanan lama". Sejak awal pernikahan mereka punya komitmen bahwa istri akan mengelola urusan "dalam negeri", sedangkan Amien Rais urusan "luar". Kesepakatan itu terus berlangsung hingga kini ketika perkawinan mereka sudah memasuki tahun ketiga puluh. "Tapi kami baru dikaruniai anak setelah perkawinan berusia 11 tahun," kenang ibu Ahmad Hanafi (19), Hanum Salsabiela (17), Ahmad Mumtaz (15), Tasniem Fauzia (13), serta Ahmad Baihaqi (10) ini. Untungnya, saat melahirkan semua anaknya, sang suami selalu mendampinginya. "Kalau sudah dekat-dekat saat melahirkan, saya minta Bapak untuk tidak jauh-jauh perginya. Alhamdulillah, setiap melahirkan, saya ditunggui meskipun sehabis itu Bapak pergi lagi." Dapat dibayangkan betapa sibuknya ia membesarkan kelima anaknya sementara sang kepala keluarga lebih sering berada di luar rumah. Toh masa itu hampir tak ada masalah yang tak dapat diselesaikan. Rupanya, ia punya kiat dalam mengelola "urusan dalam negeri" ini. Kalau ada persoalan yang membutuhkan konsultasi segera dengan Pak Amien, ia tak segan-segan datang ke kantor suami atau cukup menelepon. Jadi, ia tidak menunggu sampai Pak Amien pulang. Sejak dini ia telah memberikan pengertian kepada anak-anak tentang arti hidup dan perjuangan. "Tentu kepada masing-masing anak cara penyampaiannya berbeda, sesuai dengan tingkat usianya. Tapi, saya berharap mereka setidaknya memahami." Selain itu, menurutnya, anak-anak harus tahu apa yang dilakukan orang tuanya. "Alhamdulillah anak-anak tidak ada masalah, baik dalam pergaulan maupun sekolah. Sebelum ada PAN, anak-anak sudah aktif di Ikatan Remaja Muhammadiyah, IRM. Kini ada PAN, IRM-nya tidak aktif dulu, karena PAN yang lebih membutuhkan tenaga dan pikiran mereka," ungkap wanita ini sambil menekankan pentingnya prinsip kejujuran dalam mendidik anak-anaknya. Sebab, menurut dia, kejujuran akan memudahkan hidup seseorang. "Orang akan niteni, mendapat kesan yang bagus bahwa orang itu jujur," pesan ibu yang dulu suka menjahit pakaian sendiri ini. Selain kejujuran, Ny. Kus Amien juga selalu wanti-wanti agar anak-anaknya bersungguh-sungguh dalam menekuni bakat dan minatnya. Kalau minta dibelikan alat musik, umpamanya, mereka harus bertanggung jawab untuk bisa memainkannya dengan baik. Bukan asal punya piano, misalnya. "Kalau sampai tidak bertanggung jawab, lebih baik dijual lalu digunakan untuk hal lain yang lebih bermanfaat. Bukankah hidup ini tidak dijalani dengan asal-asalan?" Hasilnya? Si sulung yang kini duduk di semester II Fisipol UGM seperti ayahnya, piawai memainkan dawai-dawai gitar. Hanum yang sudah lulus SMU pandai bermain piano. Ahmad Mumtaz yang sudah lulus SLTP mahir main drum. Tasniem Fauzia yang masih duduk di kelas I SMTP jago main organ, sementara si bungsu Ahmad Baihaqi yang duduk di kelas 4 SD suka menyanyi. Jadi, kalau mau, mereka pun sudah bisa membentuk grup musik keluarga! Rambut ala Tony Blair Di kalangan keluarganya Amien Rais dikenal jarang marah, malah sebaliknya senang gojeg (bergurau). Mungkin itu sebabnya, keakraban terjalin begitu erat antara orang tua dan anak maupun sesama anak. Semua anak dekat dengan bapaknya dengan caranya masing-masing. Menurut Ny. Kus Amien, begitu ayahnya pulang, ada yang langsung mengajaknya cerita. Ada yang cium tangan lalu pergi main lagi seperti si bungsu! Cuma dalam soal musik, antara bapak dan anak sering tidak klop. Amien Rais suka lagu-lagu Said Effendi seperti Seroja atau lagu-lagunya Ismail Marzuki seperti Melati di Tapal Batas, sementara anak-anak suka lagu-lagu masa kini. "Wah, Bapak ini kuno!" protes anak-anak. Keterbukaan juga menjadi ciri keluarga ini. Ambil contoh, ketika sang ayah ada di rumah, anak-anak bisa langsung mengomentari penampilan ayahnya ketika sedang berkegiatan di luar. Mulai dari mengritik Amien Rais yang tampil kurang seru di sebuah diskusi atau debat di televisi, sampai komentar soal gaya sisiran rambut ayah mereka. "Sudah bagus begitu, kayak Tony Blair PM Inggris)!" kata anak-anaknya. Sebaliknya, Amien Rais yang mantan ketua umum PP Muhammadiyah periode 1995 - 1998 ini juga tidak tabu bercerita tentang kegiatannya kepada anak-anak. Bahkan saat ia "diminta mundur" sebagai ketua Dewan Pakar ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia), anak-anak langsung memberi dorongan semangat. "Sudah Pak, mundur saja! Jangan takut!" dorong anak-anak seperti ditirukan Ny. Kus Amien yang menyukai wayang kulit ini. Sebagai istri, Ny. Kus sering diajak berdiskusi tentang berbagai hal. Kadang-kadang pendapatnya diterima, tapi tak jarang pula ditolak. "Perkara diterima atau tidak, pasti hal itu tidak karena permintaan istri. Pastilah itu karena cocok (atau tidak cocok) saja," kata penyuka lukisan natural alias yang gamblang-gamblang saja. Meski tidak termasuk dalam jajaran kepengurusan partai yang dipimpin suaminya, Ny. Kus yang kurang happy melihat anak lelaki berambut gondrong ini bersedia membantu apa saja untuk mengkampanyekan PAN di masa kampanye Pemilu '99. Ia memang juru kampanye PAN waktu itu. Konon latihan sebagai jurkam dilakukan hanya dengan melihat Pak Amien berkampanye. Meski mengaku tak suka memasak, sejak 1993 ia membuka warung tepat di samping rumahnya di Pandeansari, Yogyakarta. Dulu bangunannya sederhana saja, tapi sekarang sudah semi permanen. Sajian utamanya gudeg. Pelanggannya warga sekitar sampai mahasiswa. Harga per porsinya berkisar antara Rp 1.500,- - Rp 2.500,-. Kalau malam menjadi warung bakmi goreng atau godok. Karena kesibukan yang bertambah, warung itu sekarang dijalankan oleh adik iparnya. Apa krisis ekonomi ini juga berdampak pada diri dan keluarganya? "Buat kami, rakyat kecil, krisis itu amat terasa. Sebelum krisis, warung kami dibantu oleh 15 tenaga pekerja. Sekarang tinggal lima orang karena daya beli (pelanggan) turun," katanya dengan nada prihatin. Honesty as the best policy Santai tapi serius adalah kesan yang bisa ditangkap dari sosok perempuan ini. Itu semua, menurut dia, tak lepas dari pengaruh suaminya. "Kalau ada masalah atau kesulitan, ya, diatasi. Tapi tidak semua pikiran jadi tersita oleh masalah itu saja. Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Saya banyak terpengaruh dengan style suami saya dalam menghadapi hidup ini. Maklum 30 tahun bergaul, jadi ketularan." Apa yang bisa ia petik dari Amien Rais yang menyukai tokoh wayang Kresna yang tegas dan Bima yang jujur itu antara lain adalah sikapnya yang sabar dan tidak mudah marah. Itu sebabnya saat naik haji tahun 1978, ia berdoa dan memohon agar ia bisa menjadi orang sabar, dan dikaruniai anak. Sementara kepada sang suami, ia juga menularkan kebiasaannya. "Yang berhasil saya tularkan tidak terlalu banyak. Misalnya, datang tepat waktu atau mengembalikan gunting atau alat potong kuku pada tempatnya agar mudah dicari; hal yang juga saya ajarkan pada anak-anak," kata Ny. Kus tanpa bermaksud menyindir suami sendiri yang pernah datang terlambat dalam sebuah acara debat calon presiden. Bicara soal
sabar, apakah ia juga cukup
"sabar" menghadapi para wanita penggemar suaminya?
"Alhamdulillah ada penggemarnya. Itu wajar. Banyak yang kirim surat. Tapi
saya tidak cemburu. Ya, kalau jadi langsing, bagus. Kalau malah bikin pening,
terus bagaimana? Saya menikah sudah 30 tahun, jadi melihat semua itu tidak
dimasukkan ke hati." Lantas apa yang dipersiapkan seandainya Amien Rais berhasil menjadi presiden RI ke-4? "Saya tidak suka berandai-andai sebenarnya. Tapi jika Allah s.w.t. mentakdirkan suami saya menjadi presiden, saya harus menyesuaikan diri dengan kedudukannya. Tapi yang penting, saya akan tetap mementingkan kejujuran. Honesty as the best policy akan saya pegang," katanya penuh semangat. "Seorang ibu negara tidak akan menyempitkan diri sebagai istri ketua partai saja. Dia harus bisa mendudukkan diri menjadi milik bangsa dan negara. Yang paling penting, dia harus lebih banyak belajar tentang bagaimana mengelola sebuah perbedaan. Jadi, saya harus banyak belajar untuk menjadi orang yang lebih bijak," lanjutnya. Soal penampilan diri
nanti, tampaknya
wanita ini tak terlalu ambil pusing. Menurut Ny. Kus, menjadi presiden di era
sekarang ini amat berat. Dana sudah minim sekali karena sudah dibawa kabur.
"Jadi, sebagai ibu negara mana saya tega cuma berkutat mempersoalkan
penampilan sementara rakyat kekurangan," kata penyuka minuman kopi ini. Tapi, bagaimana kalau Pak Amien yang suka lodeh terong dan sayur asam ini tidak terpilih? "Sebagai orang yang beriman, tidak boleh jatuh klemprek! Pak Amien 'kan sudah bilang, kalau tidak jadi presiden, ia akan jadi oposan. Nah, saya ya jadi istri oposan!" katanya ringan. Begitu ringannya ibu lima anak anak ini menghadapi semuanya sampai-sampai masalah penjagaan keamanan dirinya yang amat longgar tidak begitu mengganggu pikirannya. "Masyarakat kita ini baik-baik. Kita berusaha sebisa mungkin menghindari, kita juga berdoa agar dijauhkan dari niat orang yang tidak baik," kata ibu yang suka puasa sunat sama seperti suaminya ini. Ny. Kus Amien mengaku tidak merasa berbeda dengan orang lain. Ia merasa sama seperti umumnya para ibu lain. Kalau lagi terserang batuk, ia biasa minum perasan kunyit dan madu. Yang membedakannya, ia adalah istri ketua salah satu partai terbesar di era reformasi ini. (Anglingsari SI SK/Shinta Teviningrum) |