|
KEKURANGAN VITAMIN B12 HAMBAT PERTUMBUHAN
Ada sejumlah faktor penyebab
defisiensi vitamin B12. Misalnya karena asupan vitamin lewat makanan
kurang. Jumlah yang ditelan sedikit, atau kurang memenuhi standar yang
ditetapkan. Ini bisa terjadi pada mereka yang "alergi" makanan hewani, yang notabene merupakan sumber kobalamin
(nama lain vitamin B12). Pola makan vegetarian
(hanya makan
dari sumber nabati) juga dapat menjadi faktor penyebab kekurangan vitamin ini.
Sebab, vitamin B12 ditemukan dalam produk hewan, dan jarang terdapat pada
makanan nabati, kecuali kalau bahan itu berasal dari rumput laut atau yang
terkontaminasi oleh feses. Beberapa rumput laut mengandung kobalamin kecuali
spirulina karena hampir seluruh vitamin B12 pada spirulina merupakan
analog. Makanya, mereka yang menganut pola
makan vegetarian (pantang susu, telur, daging) menjadi berisiko kekurangan
vitamin ini. Hampir sepertiga vegetarian yang berusia di atas 60 tahun tidak
mampu lagi menyerap B12 ketika mereka makan daging dan produk susu.
Hal ini karena perut mereka tidak cukup menghasilkan asam lambung, bahan
pemecah bahan makanan supaya B12 dapat disimpan dalam tubuh (hati
dan ginjal) hingga diperlukan lagi. Tanpa asam lambung, orang yang menyantap
menu dengan B12 dalam jumlah cukup pun bisa mengalami defisiensi. Sumber utama kobalamin antara lain
daging beserta produk olahannya, ginjal, hati, kerang, ketam, kepiting, ikan
(salmon, tuna), berbagai makanan laut (seafood) lain, unggas, dan telur.
Juga susu dan produk olahannya. Sumber lainnya adalah miso
(produk fermentasi kedelai, semacam tauco) dan tempe (terutama yang dibuat
secara tradisional). Pada tempe buatan pabrik tidak ditemukan kobalamin. Bagi
kaum vegetarian yang akan meningkatkan jumlah vitamin B12, dapat
makan sereal ataupun susu kedelai yang diperkaya dengan vitamin dan mineral. Akibat kelebihan vitamin CKobalamin merupakan senyawa larut
dalam air dari keluarga vitamin B. Tidak seperti vitamin B lainnya yang tidak
dapat disimpan dan harus digantikan setiap hari, B12 dapat disimpan
cukup lama dalam hati dan ginjal. Kekurangan vitamin B12
tidak saja terjadi karena asupannya yang kurang. Asupan vitamin lain berlebihan
pun dapat mengakibatkan defisiensi B12. Misalnya, karena berlebihan
mengkonsumsi vitamin C. Kebiasaan makan vitamin C dosis
tinggi bisa mengubah sejumlah kobalamin menjadi analognya. Celakanya, di antara
analog vitamin B12 itu ada yang berdaya kerja antivitamin B12.
Kalau hal ini berlarut-larut, akan terjadi defisiensi kobalamin. Herbert
dkk. dalam penelitian
dampak kebiasaan makan vitamin C dosis tinggi, melaporkan bahwa mengkonsumsi
vitamin C sebanyak 500 mg sudah menunjukkan pengaruh negatif terhadap vitamin B12.
Sementara itu Hines menyebutkan, penggunaan vitamin C dosis tinggi (1 g sekali
makan), mudah sekali memicu terjadinya kasus defisiensi. Konsumsi zat besi dan zat gizi
lain yang bersifat antioksidan (vitamin A, vitamin E, selenium) dilaporkan juga
dapat mengubah vitamin B12 menjadi analognya. Sehingga secara
teoritis bisa pula memicu timbulnya defisiensi vitamin B12. Mudah marah dan tersinggungBanyak sekali fungsi kobalamin
dalam tubuh. Vitamin ini dikenal sebagai penjaga nafsu makan dan mencegah
terjadinya anemia (kurang darah) dengan membentuk sel darah merah. Karena
peranannya dalam pembentukan sel, defisiensi kobalamin bisa mengganggu
pembentukan sel darah merah, sehingga menimbulkan berkurangnya jumlah sel darah
merah. Akibatnya, terjadi anemia. Gejalanya meliputi kelelahan, kehilangan
nafsu makan, diare, dan murung. Defisiensi berat B12
potensial menyebabkan bentuk anemia fatal yang disebut Pernicious anemia.
Soalnya, vitamin B12 bisa disimpan dalam tubuh (hati dan ginjal),
dan hanya dibutuhkan dalam jumlah sedikit, timbulnya gejala defisiensi berat
itu perlu waktu lima tahun atau lebih. Ketika gejalanya muncul ke permukaan,
biasanya pada usia pertengahan, defisiensi itu lebih karena penyakit pencernaan
atau gangguan penyerapan daripada karena menu yang miskin B12,
kecuali bagi yang vegetarian berat. Vitamin B12 juga
merupakan koenzim penting yang dibutuhkan untuk sintesa DNA yang mengontrol
pembentukan sel-sel baru. Pun B12 vital dalam mencegah kerusakan
sistem saraf dengan membantu pembentukan mielin pada urat saraf. Karena berperan dalam melindungi
fungsi saraf, defisiensi kobalamin bisa menimbulkan pembentukan sel saraf
terganggu, dan mengakibatkan kerusakan sistem saraf. Gejalanya, kehilangan daya
ingat dan orientasi, gampang bingung, delusi (berkhayal), kelelahan, kehilangan
keseimbangan, refleks menurun, mati rasa, geli di tangan dan kaki, serta
pendengaran terganggu. Kekurangan vitamin ini juga sering
ditandai dengan timbulnya gejala kebodohan karena sistem saraf terganggu, dan
demielinasi (kerusakan asam lemak mielin pada akson saraf) yang menyebar dan
progresif. Pengaruh defisiensi B12 pada anak adalah terganggunya
pertumbuhan. Suatu penelitian membuktikan bahwa anak-anak yang vegetarian
mengalami gangguan pertumbuhan (kerdil) karena asupan B12 tidak
memadai. Selain meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan anak secara normal,
vitamin B12 juga memelihara kesuburan. Di samping mengganggu pertumbuhan
dan sistem saraf, kekurangan vitamin B12 juga menjadikan mereka
gampang marah dan tersinggung. Sementara itu penyebab kerusakan sistem saraf
kemungkinan karena defisiensi gugus metil lantaran tidak mampu mensintesis
metionin (salah satu asam amino) dan S-adenosil metionin. Lewat oral atau injeksiSesungguhnya tidak sulit untuk
memenuhi kebutuhan akan vitamin B12 dalam jumlah memadai dari sumber
makanan, karena tubuh hanya membutuhkannya dalam jumlah sedikit sekali. Karena
itu sesungguhnya tak perlu suplemen, kecuali kalau dokter menganjurkan. Dokter sering memberikan resep
bagi mereka yang mempunyai masalah dengan penyerapan vitamin B12.
Upaya untuk mengatasi kekurangan kobalamin dapat dilakukan dengan memberikan 1
mikrogram kobalamin (bentuk tablet atau cairan) per hari secara oral. Hal ini
dilakukan kalau mengalami defisiensi akibat asupan B12 dari makanan
kurang. Sedangkan kalau terjadinya
defisiensi gara-gara penyerapan tidak memadai, terapinya bisa lewat injeksi
dengan 1 mikrogram per hari. Dosis tunggal injeksi 100 mikrogram atau lebih
dapat menyembuhkan setiap defisiensi vitamin B12, dengan catatan
tidak ada komplikasi dengan penyakit nonsistemik atau faktor lain. Penyembuhan
dengan cara ini bisa bertahan selama hidup dengan menyuntikkan 100 mikrogram
vitamin B12 tiap bulan. Pemberian kobalamin dosis tinggi pun
dianggap aman, karena kelebihannya akan dikeluarkan dari tubuh lewat urine. Bagi ibu hamil atau
menyusui, ada
patokan tertentu yang mesti diikuti. Kebutuhan fisiologis normal untuk orang
dewasa sebanyak 2 mikrogram vitamin B12 per hari. Nah, sebagai pengganti
vitamin yang diambil oleh janin atau bayi, wanita hamil dan menyusui
membutuhkan asupan lebih tinggi. Selama akhir masa pertengahan hamil, janin
mengambil kira-kira 0,2 mikrogram per hari dari cadangan ibunya. FAO maupun WHO menyarankan penambahan asupan vitamin B12 bagi wanita hamil 0,3 mikrogram per hari (sehingga kebutuhannya menjadi 2,3 mikrogram/hari). Untuk wanita menyusui, asupan menjadi 2,5 mikrogram per hari, 0,3 mikrogram di antaranya akan pindah ke air susu ibu (ASI). (Ihda R Khamid/Rye) |