|
|
Bulan Agustus 2000
|
|
ABJAD JEPANG BIKIN KACAU
Pada zaman pendudukan Jepang, di kota tempat
saya bersekolah, ada peraturan yang mengharuskan tiap rumah dipasangi papan
nama pemiliknya dengan menggunakan huruf Jepang (katakana atau hiragana).
Tentu tidak seorang pun berani melanggar. Tentara Jepang 'kan terkenal
galak-galak.
Abjad huruf Jepang bukan huruf tunggal seperti abjad Latin, tetapi suku kata
seperti huruf Jawa. Juga tidak mengenal huruf yang berbunyi "el"
atau huruf mati, kecuali "en" yang diucapkan sebagai
"ng".
Tak heran kata Solo, misalnya, ditulis Soro, demikian juga
pengucapannya. Untuk huruf mati dipakai suku kata yang berbunyi
"u" sebagai tambahan di belakangnya. Misalnya, kata
"kabar" ditulis kabaru, "amal" ditulis amaru,
"Sragen" ditulis Suragen, dan seterusnya.
Dalam praktik, penulisan nama-nama Indonesia, khususnya Jawa, terpaksa
melanggar ketentuan itu. Jika mempertahankan patokan itu, bisa tidak
mengenakkan si empunya nama. Contohnya, "Asmoro" bisa menjadi A-su-mo-ro
dalam tulisan Jepang. Dalam bahasa Jawa kata itu berarti "anjing
datang". Terpaksalah ditulis menjadi A-sa-mo-ro atau A-se-mo-ro.
Lebih payah kalau ada orang yang bernama Askul. Menurut patokan, nama
itu harus ditulis A-su-ku-ru, yang dalam bahasa Jawa berarti
"anjing kurus". Kalau tak ingin diolok-olok, maka harus diubah
menjadi A-sa-ku-ra, misalnya! (Muhadiono) |
|||||
|
|
|||||