globetiny.gif (852 bytes)N THE NET

Bulan Agustus 2000

Nantikan Gebyar Sayembara Intisari Juli - Oktober 2000

Bulan Ini

Bulan Lalu

Buku Tamu

Mailing List

Di balik kisah

Info iklan

Email

ABJAD JEPANG BIKIN KACAU

Pada zaman pendudukan Jepang, di kota tempat saya bersekolah, ada peraturan yang mengharuskan tiap rumah dipasangi papan nama pemiliknya dengan menggunakan huruf Jepang (katakana atau hiragana). Tentu tidak seorang pun berani melanggar. Tentara Jepang 'kan terkenal galak-galak.

Abjad huruf Jepang bukan huruf tunggal seperti abjad Latin, tetapi suku kata seperti huruf Jawa. Juga tidak mengenal huruf yang berbunyi "el" atau huruf mati, kecuali "en" yang diucapkan sebagai "ng".

Tak heran kata Solo, misalnya, ditulis Soro, demikian juga pengucapannya. Untuk huruf mati dipakai suku kata yang berbunyi "u" sebagai tambahan di belakangnya. Misalnya, kata "kabar" ditulis kabaru, "amal" ditulis amaru, "Sragen" ditulis Suragen, dan seterusnya.

Dalam praktik, penulisan nama-nama Indonesia, khususnya Jawa, terpaksa melanggar ketentuan itu. Jika mempertahankan patokan itu, bisa tidak mengenakkan si empunya nama. Contohnya, "Asmoro" bisa menjadi A-su-mo-ro dalam tulisan Jepang. Dalam bahasa Jawa kata itu berarti "anjing datang". Terpaksalah ditulis menjadi A-sa-mo-ro atau A-se-mo-ro. Lebih payah kalau ada orang yang bernama Askul. Menurut patokan, nama itu harus ditulis A-su-ku-ru, yang dalam bahasa Jawa berarti "anjing kurus". Kalau tak ingin diolok-olok, maka harus diubah menjadi A-sa-ku-ra, misalnya! (Muhadiono)

Active Channel
© 1996 - 2000 Intisari Online
www.indomedia.com/intisari/


Counter by Pandawa


Jelang Milenia III

Click to add search to YOUR web site! sing tak go gawe hompej