globetiny.gif (852 bytes)N THE NET

Bulan Agustus 2000

Nantikan Gebyar Sayembara Intisari Juli - Oktober 2000

Bulan Ini

Bulan Lalu

Buku Tamu

Mailing List

Di balik kisah

Info iklan

Email

ARLOJI: FENOMENA QUARTZ

Dari dulu sampai kini, arloji fungsinya sama, sebagai penunjuk waktu. Pengembangan yang dilakukan, selain tenaga penggerak, lebih kepada fungsi-fungsi lain di luar sebagai penunjuk waktu. Penambahan fungsi inilah yang membuat arloji kini menjadi multifungsi.

Bagi si pemakai, arloji tak lagi sekadar penunjuk waktu. Ia juga jadi simbol rasa percaya diri. Sayang, tak semua lapisan bisa membeli simbol itu. Tapi mereka ingin memakainya. Sesuai dengan hukum ekonomi, maka produk asli tapi palsu pun muncul mengguyur dahaga mereka.

Kita mungkin masih ingat, awal tahun 1990-an marak sekali arloji Rolex palsu. Antara palsu dan asli sangat mirip meski harganya seperti bumi-langit bedanya. "Ada yang sampai menyembunyikan jam aslinya dan membeli yang palsu. Toh orang tidak begitu mempedulikan," kata Maisan Halim, general manager Division 5 Orient Indonesia, yang akrab dipanggil San San.

Ibarat kawat karatan

Bagaimanapun arloji itu teman keseharian kita. Karena kita tinggal di daerah tropis, otomatis banyak berkeringat, maka perlu dipertimbangkan pemilihan bahan arloji.

Di pasaran saat ini beredar arloji bermateri barbit (alloy), tembaga, stainless steel, serta titanium. Masuk kelas paling murah, barbit merupakan campuran besi cor yang mudah dibentuk. Setelah disepuh, dengan warna kuning atau putih, sekilas arloji berbahan barbit jadi terkesan wah.

Karena campurannya kurang padat, maka masih ada lubang-lubang kecil pada materi itu. Saat dipakai, keringat di pergelangan tangan menyusup ke pori-pori itu. "Karena keringat bersifat korosif, dalam waktu 1 - 3 bulan akan hancur karena karatan," kata San San.

Itu juga terjadi pada tembaga. Kualitasnya memang setingkat di atas barbit. Tapi, warna dasar tembaga yang kuning jika terkena udara, akan menghitam dalam beberapa hari. Itu sebabnya banyak yang kemudian disepuh. Kalau sepuhannya luntur, keringat akan membuat tembaga berjamur, berupa bercak-bercak hitam di belakang arloji. Lama-kelamaan akan berkarat juga, biasanya berwarna hijau. "Itu racun, lo! Jadi, kalau sudah karatan begitu, ibaratnya kita memakai kawat karatan," tutur San San.

Selain itu, arloji yang dulunya kedap air bisa jebol karena sistem jepitan membuat cashing back (penutup arloji bagian belakang) yang terbuat dari stainless steel memakan bodi arloji. Sebab, tembaga lebih lunak ketimbang

baja antikarat. Akibatnya, sambungan menjadi bolong-bolong dan air menembus masuk. Karena arloji pada dasarnya rangkaian elektronik, hal-hal tidak diinginkan seperti korsleting, tak terelakkan.

Arloji yang baik memang berbahan baja antikarat, baik bodi, tutup, maupun rantainya. Biasanya ditandai dengan tulisan "all stainless steel". "Tapi tidak menjamin, lo. Soalnya, banyak yang mengklaim begitu, nyatanya cuma sepuhan mirip stainless steel," kata San San. Jangan pula terkecoh dengan tulisan "stainless steel back". Sebab itu artinya, yang antikarat cuma tutupnya.

Ditemukan Swis, dipasarkan Jepang

Persoalan arloji memang persoalan bahan pembuat. Dengan mengenali karakteristik materi bahan arloji, kita bisa merawatnya hingga tahan lama. Untuk materi rentan keringat, menurut San San, hanya ada satu jalan: merendamnya dalam air, kemudian disikat untuk menghilangkan kadar garam yang tertinggal di bodinya. Atau dibasahi di bawah air mengalir.

Tapi itu untuk arloji kedap air. Untuk mengetahui kedap air atau tidak itu mudah. Kalau dipakai selama seminggu atau lebih kacanya berembun, berarti arloji Anda tidak kedap air.

Sementara untuk mesin sudah standar. Inovasi yang dilakukan sejak ditemukannya mesin mekanis oleh Peter Henlein dari Nuremberg, Jerman, awal abad XVI akhirnya menemukan mesin andal tapi murah, yaitu teknologi quartz. "Kini 80% arloji di pasaran menggunakan mesin quartz," tandas San San. Selain bisa murah, kualitasnya juga stabil. Satu tahun melencengnya sekitar 10 detik.

Arloji quartz didasarkan pada sifat piezoelectric dari kristal kuarsa. Sifat itu bisa menghasilkan tenaga listrik pada bidang yang berlawanan dari kristal tertentu bila mendapat tekanan. Kristal kuarsa akan berubah bentuk jika dikenai medan listrik. Jika kristal ditekan atau dilipat, akan menghasilkan medan listrik. Lalu kalau dipasang di sirkuit elektronik yang tepat, interaksi antara tegangan mekanis dan medan listrik menyebabkan kristal bergetar, menghasilkan sinyal listrik yang tetap. Sinyal ini kemudian digunakan, semisal dalam penampakan jam elektronik.

Anehnya, penetrasi ke pasar justru dilakukan oleh Jepang. Tahun 1969 Seiko meluncurkan jam quartz pertama di dunia. "Someday all watches will be made this way", begitu slogannya. Swis, negeri yang melahirkan dan mengembangkan teknologi quartz justru tidak melihat potensi teknologi itu.

Meski begitu, arloji mekanis bukan lalu tergusur. Tapi pengerjaannya sudah semakin canggih dan teliti. Selain itu, karena buatan tangan, sering menjadi eksklusif. Inilah yang membuat jam mekanis menjadi mahal dan lebih sekadar sebagai barang koleksi.

Revolusi teknologi kinetik

Dalam inovasi teknologi, Seiko patut dicatat dalam lembar tersendiri. Setelah menjadi pioner dalam teknologi quartz, tahun 1990-an mereka meluncurkan teknologi kinetik yang revolusioner. Kembali mereka mengeluarkan mantranya, "Someday ...." Akankah itu terjadi?

Teknologi kinetik mencoba mentransfer energi gerakan tangan menjadi generator jam. Ada lima komponen yang berperanan dalam teknologi ini: bandul osilasi (oscillating weight), rotor, generator, integrated circuit (IC), dan unit penyimpan energi kinetik.

Bandul osilasi bentuknya sebesar kuku jari dan bergerak karena gerakan tangan. Sekali berputar, gerakan itu akan diperkuat 100 kali lipat melalui gear train sebelum dipindah ke rotor. Rotor merupakan jantung teknologi kinetik. Secara magnetis, rotor menghasilkan energi setiap bandul osilasi bergerak. Tak lebih besar dari kepala pin, rotor mampu berputar (dalam rpm) lebih tinggi dibandingkan mobil balap Formula 1.

Hasil kerja rotor ditampung di dalam generator yang terdiri atas koil sangat rapat (high-density). Generator ini mengubah energi magnet rotor menjadi energi listrik untuk menggerakkan jam. Untuk menjaga akurasi quartz, IC mengatur dengan tepat sejumlah energi untuk disimpan, menjamin ketepatan quartz menjaga waktu sampai 100 kali lebih akurat daripada jam mekanis.

Komponen penting lainnya adalah unit penyimpan energi kinetik. Setelah koil di generator menghasilkan listrik, ia meneruskan energi itu ke penyimpanan energi. Meskipun ukurannya tipis, unit penyimpan ini sangat tahan lama dan bisa menyimpan energi lebih efisien daripada baterai normal lainnya.

Teknologi kinetik terbaru adalah kinetic autorelay. Adanya kapasitor dan microchip membuat arloji ini bisa tidur tapi tetap terjaga. Maksudnya, jika arloji tidak dipakai sampai tiga hari, mode Power Save-nya secara temporer akan menghentikan gerakan jarum jam dan mengurangi konsumsi energi pada level terendah. Kemudian, jika mau dipakai, mode Time Relay Function akan aktif dan segera menunjuk pada waktu saat itu.

"Perang Arloji"

Revolusi quartz selain membuat harga jam murah, juga membangkitkan industri arloji di Amerika. Maka terjadilah "Perang Arloji" antara Amerika, Swis, Jepang, dan si kuda hitam Hongkong.

Sebelum revolusi itu, industri arloji Amerika terpuruk ke jurang kehancuran. Meski Amerika merupakan kompetitor kuat dalam pasar arloji internasional sejak 1870-an, banyak perusahaan arloji bangkrut atau dibeli oleh perusahaan asing pada dekade 1960-an. Keadaan ini berubah sejak penemuan arloji quartz, 1969.

Amerika malah memimpin dalam pengembangan arloji baru berbasis quartz dengan melakukan penelitian mikroelektronik untuk militer dan program angkasa luar mereka. Perusahaan semikonduktor seperti Texas Instrument Fairchild dan National Semiconductor memulai memproduksi jam quartz digital secara massal. Kompetisi itu membuat harga turun. Di lain pihak, Amerika tidak memiliki buruh yang mau dibayar murah. Akibatnya, kepemimpinan mereka dalam bidang arloji mulai menurun.

Kalau revolusi quartz sempat mengangkat industri Amerika, Swis justru tertikam dengan revolusi itu. Mereka begitu terlena dengan "kekuasaan" yang mereka pegang sebagai pemimpin dunia dalam produksi dan pemasaran arloji. Dari yang murah sampai mewah, industri arloji Swis menikmati reputasi sebagai pembuat arloji yang baik.

Sayang, kedudukan tinggi tidak memberi sudut pandang luas bagi industri arloji Swis. Benar, mereka menemukan prototipe arloji quartz pertama di dunia. Tapi, mereka tidak melihat potensi pasar yang begitu besar bagi arloji ini. Swis justru memfokuskan pada pengembangan teknologi mekanis yang sudah mapan itu.

Jepanglah yang kemudian melihat ceruk pasar arloji quartz. Seiko 35SQ Astron merupakan langkah awal dalam upaya mereka menaklukkan raksasa Swis. Seiko memelopori pengembangan arloji kristal kuarsa pada 1958. Sebuah tim dibentuk setahun kemudian dengan tujuan utama merampingkan bentuk arloji mekanis dan mendapatkan harga yang masuk akal (Astron dijual seharga Y 450.000 atau setara dengan harga Toyota Corolla) melalui volume produksi.

Bersama perusahaan arloji lain seperti Citizen dan Casio, Seiko dengan cepat dan sukses beralih ke elektronik. Hasilnya, Jepang mengambil alih kekuasaan dalam produksi arloji di seluruh dunia pada 1978. Dari awal mereka sudah mengetahui permasalahan teknologi yang harus dipecahkan: bodi arloji yang besar dan masa pakai baterai yang pendek. Mereka juga membuat pasar baru sesuai keinginan pasar yang menginginkan arloji bukan sekadar penunjuk waktu. Muncullah arloji TV dari Seiko dan arloji radio yang dikontrol (radio-controlled) dari Citizen.

Tapi, kasus Amerika terulang di Jepang. Harga buruh Jepang tidak sepadan lagi dengan harga arloji yang murah. Muncullah kuda hitam Hongkong.

Industri arloji di Hongkong sendiri sudah dimulai tahun 1950-an dengan merakit arloji mekanis yang komponennya diimpor dari Rusia. Tahun 1974 mereka mulai merakit arloji LED dan LCD untuk ekspor. Dengan konsentrasinya pada pasar lapisan bawah, sejak 1978 Hongkong menjadi pengekspor terbesar arloji elektronik di dunia.

Indonesia? Cukup sebagai pasar dululah .... (Yds. Agus Surono)

Boks: Jam-jam Yang "Cool"

Active Channel
© 1996 - 2000 Intisari Online
www.indomedia.com/intisari/


Counter by Pandawa


Jelang Milenia III

Click to add search to YOUR web site! sing tak go gawe hompej