|
|
Bulan Agustus 2000
|
|
ARLOJI: FENOMENA QUARTZ Dari dulu sampai kini, arloji fungsinya sama, sebagai penunjuk waktu. Pengembangan yang dilakukan, selain tenaga penggerak, lebih kepada fungsi-fungsi lain di luar sebagai penunjuk waktu. Penambahan fungsi inilah yang membuat arloji kini menjadi multifungsi. Bagi
si pemakai, arloji tak lagi sekadar penunjuk waktu. Ia juga jadi simbol rasa
percaya diri. Sayang, tak semua lapisan bisa membeli simbol itu. Tapi mereka
ingin memakainya. Sesuai dengan hukum ekonomi, maka produk asli tapi palsu
pun muncul mengguyur dahaga mereka.
Kita mungkin masih ingat, awal tahun 1990-an marak sekali arloji Rolex
palsu. Antara palsu dan asli sangat mirip meski harganya seperti bumi-langit
bedanya. "Ada yang sampai menyembunyikan jam aslinya dan membeli yang
palsu. Toh orang tidak begitu mempedulikan," kata Maisan Halim, general
manager Division 5 Orient Indonesia, yang akrab dipanggil San San.
Ibarat kawat karatan
Bagaimanapun arloji itu teman keseharian kita. Karena kita tinggal di daerah
tropis, otomatis banyak berkeringat, maka perlu dipertimbangkan pemilihan
bahan arloji.
Di pasaran saat ini beredar arloji bermateri barbit (alloy), tembaga,
stainless steel, serta titanium. Masuk kelas paling murah, barbit
merupakan campuran besi cor yang mudah dibentuk. Setelah disepuh, dengan
warna kuning atau putih, sekilas arloji berbahan barbit jadi terkesan wah.
Karena campurannya kurang padat, maka masih ada lubang-lubang kecil pada
materi itu. Saat dipakai, keringat di pergelangan tangan menyusup ke
pori-pori itu. "Karena keringat bersifat korosif, dalam waktu 1 - 3
bulan akan hancur karena karatan," kata San San.
Itu juga terjadi pada tembaga. Kualitasnya memang setingkat di atas barbit.
Tapi, warna dasar tembaga yang kuning jika terkena udara, akan menghitam
dalam beberapa hari. Itu sebabnya banyak yang kemudian disepuh. Kalau
sepuhannya luntur, keringat akan membuat tembaga berjamur, berupa
bercak-bercak hitam di belakang arloji. Lama-kelamaan akan berkarat juga,
biasanya berwarna hijau. "Itu racun, lo! Jadi, kalau sudah karatan
begitu, ibaratnya kita memakai kawat karatan," tutur San San.
Selain itu, arloji yang dulunya kedap air bisa jebol karena sistem jepitan
membuat cashing back (penutup arloji bagian belakang) yang terbuat
dari stainless steel memakan bodi arloji. Sebab, tembaga lebih lunak
ketimbang
baja antikarat. Akibatnya, sambungan menjadi bolong-bolong dan air menembus
masuk. Karena arloji pada dasarnya rangkaian elektronik, hal-hal tidak
diinginkan seperti korsleting, tak terelakkan.
Arloji yang baik memang berbahan baja antikarat, baik bodi, tutup, maupun
rantainya. Biasanya ditandai dengan tulisan "all stainless steel".
"Tapi tidak menjamin, lo. Soalnya, banyak yang mengklaim begitu,
nyatanya cuma sepuhan mirip stainless steel," kata San San.
Jangan pula terkecoh dengan tulisan "stainless steel back". Sebab
itu artinya, yang antikarat cuma tutupnya.
Ditemukan Swis, dipasarkan Jepang
Persoalan arloji memang persoalan bahan pembuat. Dengan mengenali
karakteristik materi bahan arloji, kita bisa merawatnya hingga tahan lama.
Untuk materi rentan keringat, menurut San San, hanya ada satu jalan:
merendamnya dalam air, kemudian disikat untuk menghilangkan kadar garam yang
tertinggal di bodinya. Atau dibasahi di bawah air mengalir.
Tapi itu untuk arloji kedap air. Untuk mengetahui kedap air atau tidak itu
mudah. Kalau dipakai selama seminggu atau lebih kacanya berembun, berarti
arloji Anda tidak kedap air.
Sementara untuk mesin sudah standar. Inovasi yang dilakukan sejak
ditemukannya mesin mekanis oleh Peter Henlein dari Nuremberg, Jerman, awal
abad XVI akhirnya menemukan mesin andal tapi murah, yaitu teknologi quartz.
"Kini 80% arloji di pasaran menggunakan mesin quartz,"
tandas San San. Selain bisa murah, kualitasnya juga stabil. Satu tahun
melencengnya sekitar 10 detik.
Arloji quartz didasarkan pada sifat piezoelectric dari kristal
kuarsa. Sifat itu bisa menghasilkan tenaga listrik pada bidang yang
berlawanan dari kristal tertentu bila mendapat tekanan. Kristal kuarsa akan
berubah bentuk jika dikenai medan listrik. Jika kristal ditekan atau
dilipat, akan menghasilkan medan listrik. Lalu kalau dipasang di sirkuit
elektronik yang tepat, interaksi antara tegangan mekanis dan medan listrik
menyebabkan kristal bergetar, menghasilkan sinyal listrik yang tetap. Sinyal
ini kemudian digunakan, semisal dalam penampakan jam elektronik.
Anehnya, penetrasi ke pasar justru dilakukan oleh Jepang. Tahun 1969 Seiko
meluncurkan jam quartz pertama di dunia. "Someday all watches
will be made this way", begitu slogannya. Swis, negeri yang
melahirkan dan mengembangkan teknologi quartz justru tidak melihat
potensi teknologi itu.
Meski begitu, arloji mekanis bukan lalu tergusur. Tapi pengerjaannya sudah
semakin canggih dan teliti. Selain itu, karena buatan tangan, sering menjadi
eksklusif. Inilah yang membuat jam mekanis menjadi mahal dan lebih sekadar
sebagai barang koleksi.
Revolusi teknologi kinetik
Dalam inovasi teknologi, Seiko patut dicatat dalam lembar tersendiri.
Setelah menjadi pioner dalam teknologi quartz, tahun 1990-an mereka
meluncurkan teknologi kinetik yang revolusioner. Kembali mereka mengeluarkan
mantranya, "Someday ...." Akankah itu terjadi?
Teknologi kinetik mencoba mentransfer energi gerakan tangan menjadi
generator jam. Ada lima komponen yang berperanan dalam teknologi ini: bandul
osilasi (oscillating weight), rotor, generator, integrated circuit
(IC), dan unit penyimpan energi kinetik.
Bandul osilasi bentuknya sebesar kuku jari dan bergerak karena gerakan
tangan. Sekali berputar, gerakan itu akan diperkuat 100 kali lipat melalui gear
train sebelum dipindah ke rotor. Rotor merupakan jantung teknologi
kinetik. Secara magnetis, rotor menghasilkan energi setiap bandul osilasi
bergerak. Tak lebih besar dari kepala pin, rotor mampu berputar (dalam rpm)
lebih tinggi dibandingkan mobil balap Formula 1.
Hasil kerja rotor ditampung di dalam generator yang terdiri atas koil sangat
rapat (high-density). Generator ini mengubah energi magnet rotor
menjadi energi listrik untuk menggerakkan jam. Untuk menjaga akurasi quartz,
IC mengatur dengan tepat sejumlah energi untuk disimpan, menjamin ketepatan quartz
menjaga waktu sampai 100 kali lebih akurat daripada jam mekanis.
Komponen penting lainnya adalah unit penyimpan energi kinetik. Setelah koil
di generator menghasilkan listrik, ia meneruskan energi itu ke penyimpanan
energi. Meskipun ukurannya tipis, unit penyimpan ini sangat tahan lama dan
bisa menyimpan energi lebih efisien daripada baterai normal lainnya.
Teknologi kinetik terbaru adalah kinetic autorelay. Adanya kapasitor
dan microchip membuat arloji ini bisa tidur tapi tetap terjaga.
Maksudnya, jika arloji tidak dipakai sampai tiga hari, mode Power Save-nya
secara temporer akan menghentikan gerakan jarum jam dan mengurangi konsumsi
energi pada level terendah. Kemudian, jika mau dipakai, mode Time Relay
Function akan aktif dan segera menunjuk pada waktu saat itu.
"Perang Arloji"
Revolusi quartz selain membuat harga jam murah, juga membangkitkan
industri arloji di Amerika. Maka terjadilah "Perang Arloji" antara
Amerika, Swis, Jepang, dan si kuda hitam Hongkong.
Sebelum revolusi itu, industri arloji Amerika terpuruk ke jurang kehancuran.
Meski Amerika merupakan kompetitor kuat dalam pasar arloji internasional
sejak 1870-an, banyak perusahaan arloji bangkrut atau dibeli oleh perusahaan
asing pada dekade 1960-an. Keadaan ini berubah sejak penemuan arloji quartz,
1969.
Amerika malah memimpin dalam pengembangan arloji baru berbasis quartz
dengan melakukan penelitian mikroelektronik untuk militer dan program
angkasa luar mereka. Perusahaan semikonduktor seperti Texas Instrument
Fairchild dan National Semiconductor memulai memproduksi jam quartz
digital secara massal. Kompetisi itu membuat harga turun. Di lain pihak,
Amerika tidak memiliki buruh yang mau dibayar murah. Akibatnya, kepemimpinan
mereka dalam bidang arloji mulai menurun.
Kalau revolusi quartz sempat mengangkat industri Amerika, Swis justru
tertikam dengan revolusi itu. Mereka begitu terlena dengan
"kekuasaan" yang mereka pegang sebagai pemimpin dunia dalam
produksi dan pemasaran arloji. Dari yang murah sampai mewah, industri arloji
Swis menikmati reputasi sebagai pembuat arloji yang baik.
Sayang, kedudukan tinggi tidak memberi sudut pandang luas bagi industri
arloji Swis. Benar, mereka menemukan prototipe arloji quartz pertama
di dunia. Tapi, mereka tidak melihat potensi pasar yang begitu besar bagi
arloji ini. Swis justru memfokuskan pada pengembangan teknologi mekanis yang
sudah mapan itu.
Jepanglah yang kemudian melihat ceruk pasar arloji quartz. Seiko 35SQ
Astron merupakan langkah awal dalam upaya mereka menaklukkan raksasa Swis.
Seiko memelopori pengembangan arloji kristal kuarsa pada 1958. Sebuah tim
dibentuk setahun kemudian dengan tujuan utama merampingkan bentuk arloji
mekanis dan mendapatkan harga yang masuk akal (Astron dijual seharga Y
450.000 atau setara dengan harga Toyota Corolla) melalui volume produksi.
Bersama perusahaan arloji lain seperti Citizen dan Casio, Seiko dengan cepat
dan sukses beralih ke elektronik. Hasilnya, Jepang mengambil alih kekuasaan
dalam produksi arloji di seluruh dunia pada 1978. Dari awal mereka sudah
mengetahui permasalahan teknologi yang harus dipecahkan: bodi arloji yang
besar dan masa pakai baterai yang pendek. Mereka juga membuat pasar baru
sesuai keinginan pasar yang menginginkan arloji bukan sekadar penunjuk
waktu. Muncullah arloji TV dari Seiko dan arloji radio yang dikontrol (radio-controlled)
dari Citizen.
Tapi, kasus Amerika terulang di Jepang. Harga buruh Jepang tidak sepadan
lagi dengan harga arloji yang murah. Muncullah kuda hitam Hongkong.
Industri arloji di Hongkong sendiri sudah dimulai tahun 1950-an dengan
merakit arloji mekanis yang komponennya diimpor dari Rusia. Tahun 1974
mereka mulai merakit arloji LED dan LCD untuk ekspor. Dengan konsentrasinya
pada pasar lapisan bawah, sejak 1978 Hongkong menjadi pengekspor terbesar
arloji elektronik di dunia.
Indonesia? Cukup sebagai pasar dululah .... (Yds. Agus Surono)
Boks: Jam-jam Yang "Cool"
|
|||||
|
|
|||||