|
|
Bulan Agustus 2000
|
|
SEORANG RAJA DI KURSI RODA
Tak Ada Orang yang Sempurna. Itulah judul buku yang ditulis oleh
seorang pemuda Jepang bernama Hirotada Ototake. Oto lahir tanpa lengan
maupun tungkai. Namun, ia merasa hidup ini indah. Ia membuktikan bahwa kerja
keras, rasa humor, minat yang besar terhadap pelbagai bidang, dan kebesaran
hati bisa menanggulangi kekurangannya. Bukunya yang diterbitkan
Kodansha(1998), terjual empat juta eksemplar di Jepang saja. Belum lagi
edisi bahasa Inggris-nya yang diterbitkan Kodansha International.
Apa penyebabnya sampai sekarang tidak diketahui, tetapi bukan karena ibu
saya minum obat thalidomide.
Takut ibu pingsan
Bisa dibayangkan betapa terguncangnya ayah. "Kamu belum boleh
melihatnya sekarang. Ia agak lemah," katanya kepada ibu.
Tiga hari kemudian ayah memberi alasan bahwa saya kuning. Lama-kelamaan ibu
curiga, tetapi tidak berani mendesak. Baru tiga minggu kemudian, ayah berani
memberitahu ibu bahwa saya cacat, tetapi itu pun tanpa penjelasan yang
rinci.
Saat ibu akan melihat saya pertama kali, staf rumah sakit menyiapkan ranjang
kosong, untuk jaga-jaga kalau-kalau ia pingsan. Ternyata kekhawatiran itu
tidak perlu.
"Ia manis sekali," kata ibu ketika melihat saya yang waktu itu
berumur tiga minggu.
Kegembiraannya, karena bisa melihat anak yang dilahirkannya, rupanya
mengalahkan perasaannya yang lain. Hal itu penting sekali dalam hubungan
kami sebagai ibu dan anak, sebab kesan pertama biasanya menetap.
Berlainan dari kebanyakan orang yang memiliki anak cacat, ayah dan ibu tidak
menyembunyikan saya. Mereka bahkan selalu membawa saya ke mana-mana, supaya
semua tetangga kami di Kasai, pinggiran timur Tokyo, bisa mengenal saya.
Saat itu lengan dan tungkai saya cuma berupa pentolan seperti kentang.
Karena saya mirip boneka beruang, saya segera disukai tetangga.
Ternyata saya bayi yang cengeng. Saya selalu menangis sepanjang malam,
sampai saya dijuluki "Napoleon", karena jenderal Prancis yang
masyhur itu konon cuma perlu tidur sebentar setiap hari.
Saya juga cuma minum susu setengah dari jumlah yang normal. Tentu saja orang
tua saya risau.
"Sejak lahir ia sudah mempunyai kepribadian sendiri. Jadi, tidak heran
kalau kebutuhan tidur dan minumnya pun berbeda," begitu akhirnya
kesimpulan para dokter. "Jangan bandingkan dia dengan anak-anak
lain."
Mereka benar. Walaupun saya minum sedikit dan tidur sedikit, saya tumbuh
dengan pesat dan tidak pernah sakit.
Si Jago Ngoceh
Umur sembilan bulan saya bisa mengucapkan "Papa". Ibu kecewa,
karena yang saya ucapkan bukan "Mama". Sejak saat itu kata-kata
membanjir dari mulut saya, sehingga pada umur setahun saya dijuluki
"Hiro si Pengoceh".
Ayah saya, seorang arsitek, biasa menunjukkan gambar-gambar lalu bertanya,
ini apa, itu apa. Sementara itu ibu selalu membacakan saya cerita. Mereka
memang sangat mementingkan pendidikan.
Waktu saya berumur setahun, di dalam hati mereka tumbuh harapan bahwa saya
tidak akan terbaring seumur hidup di ranjang. Mereka memutuskan akan
mendidik saya menjadi orang yang kuat, yang tidak melarikan diri dari
kesulitan, yang tidak mempergunakan cacat sebagai dalih.
Saya dimasukkan ke Taman Kanak-kanak biasa waktu berumur empat tahun.
Siswa-siswi lain terpukau oleh kursi roda saya, yang dijalankan dengan
tenaga listrik. Ketika mereka mendekat, kelihatan pengendaranya tidak
memiliki lengan dan tungkai. Mereka merubung, meraba saya, dan bertanya,
"Kenapa? Kenapa?"
"Saya tergencet dalam perut ibu. Jadi, lengan dan tungkai saya tidak
tumbuh," jawab saya.
Cuma itu yang mereka perlukan dan setelah itu kami berkawan.
Selama kira-kira satu dua bulan pertama, saya sempat bosan dan lelah memberi
penjelasan kepada teman sekelas dan anak-anak lain. Ibu masih ingat, masa
itu saya selalu pulang sekolah dalam keadaan lunglai. Namun, hal itu rupanya
membantu saya untuk berkembang menjadi anak yang tahan banting.
Saya anak tertua di kelas, karena saya lahir April. Kalau saya lahir sebelum
bulan itu, saya boleh bersekolah setahun sebelumnya. Pada anak-anak TK,
perbedaan umur beberapa bulan sangat berarti dalam hal kematangan. Maka saya
lantas menjadi sok mengatur.
Kalau anak-anak lain sedang bermain petak lari, saya tidak bisa mengejar
mereka walaupun dengan kursi roda. Lama-lama saya bosan. Karena itu saya
berteriak, "Yang mau main di kotak pasir, ikuti saya!"
Anehnya semua berhenti main dan mengikuti kursi roda ke kotak pasir. Di sana
saya tidak bisa membuat istana pasir sebab tidak punya tangan. Jadi, saya
mengatur-atur mereka. Anak yang berani menyatakan ingin membuat terowongan
pada saat saya ingin membuat istana, artinya mencari gara-gara.
Karena waktu itu saya sudah bisa berbicara seperti geledek, tidak ada orang
yang bisa menang adu mulut dengan saya.
Walaupun keras kepala, saya tidak kehilangan kawan. Mungkin mereka pikir,
"Selama saya berada di pihak Oto-chan, saya tidak akan kekurangan
teman."
Belajar bekerja sama
Makin lama saya makin besar kepala sehingga merisaukan orang tua saya dan
guru-guru. Sifat itu hilang - walaupun bukan tanpa bekas - pada tahun
terakhir di Taman Kanak-kanak.
Waktu itu kelas kami akan mengadakan sandiwara. Ternyata tidak ada yang mau
memerankan montir. Selain kurang bergengsi, sebutan montir dalam bahasa
Jepang berkonotasi buruk.
Akhirnya, sahabat saya paling kental, Shingo, mengangkat tangan. "Saya
mau deh," katanya.
Saya merasa terkesan oleh sikapnya yang tidak mementingkan diri sendiri.
Saya jadi merasa malu terhadap sikap saya selama ini. Maka, saya memilih
peran kedua yang tidak populer, yaitu sebagai narator. Narator tidak tampak
di muka umum, padahal semua anak ingin tampil.
Narasi yang saya ucapkan dianggap mengesankan.
"Kalau besar nanti, kamu mestinya menjadi penyiar!" begitu
beberapa ibu menganjurkan. Buat orang yang suka diperhatikan seperti saya,
peristiwa itu menginsyafkan saya bahwa narator yang bekerja di belakang
layar pun bisa mendapat penghargaan besar.
Ditolak di pelbagai sekolah
Setamat TK, orang tua saya sulit sekali mendapat sekolah yang mau menerima
saya. Walaupun demikian, mereka tetap tidak mau memasukkan saya ke sekolah
luar biasa.
Ketika orang tua saya hampir putus harapan, datang undangan dari sebuah
sekolah negeri yang terletak tidak jauh dari tempat tinggal kami. Anak-anak
umur sekolah di kawasan itu dianjurkan mendaftar dan memeriksakan
kesehatannya.
Ibu menelepon ke sekolah itu, untuk menjelaskan keadaan saya. Mereka kaget
juga, tetapi mempersilakan kami datang.
Pada saat banyak anak lain menangis, dengan senang hati saya membiarkan diri
diperiksa. Ibu jadi berbesar hati. Kemudian Kepala Sekolah mengajak saya
bercakap-cakap dengan ramah.
"Makanan apa yang tidak kamu sukai?" tanyanya.
"Mmm ... roti," jawab saya.
"Untuk makan siang di sekolah, biasanya murid-murid diberi roti,
lo," katanya sambil tertawa.
Ibu menganggap ini isyarat bahwa saya diterima. Alangkah kecewanya kami
ketika ternyata Dewan Pendidikan menentang penerimaan saya. Orang tua saya
lalu berjuang untuk menunjukkan kebolehan saya di hadapan dewan itu.
Hari itu saya menulis sambil menjepit pensil dengan lengan dan pipi. Saya
juga makan pakai sendok dan garpu, menggunting kertas dengan menggigit salah
satu gagang gunting, berjalan sendiri dengan mempergunakan tungkai saya yang
pendek (setelah dewasa panjangnya cuma kira-kira 20 cm).
Dewan mengawasi dengan terpesona saat saya dengan gembira melakukan itu
semua. Akhirnya, saya diterima.
Kakek Guru yang bijaksana
Saya menyeringai kalau melihat foto saya bersama teman-teman sekelas pada
hari pertama di sekolah. Anak perempuan di sebelah saya tampak mengerutkan
badan untuk menghindar sejauh mungkin, sementara wajahnya mencerminkan rasa
ngeri. Padahal saya tersenyum lebar di sebelahnya.
Foto itu menunjukkan betapa semua orang repot padahal saya gembira saja.
Yang paling repot tentu saja Takagi Sensei (Pak Guru Takagi), guru saya
sejak kelas satu sampai kelas empat. Ia guru berpengalaman yang oleh
guru-guru lain dijuluki "Kakek Guru".
Ia dan seorang guru lain, Oka Sensei, menawarkan diri untuk mengajar saya.
Akhirnya, diputuskan Takagi Sensei yang akan menangani saya. Yang paling
dikhawatirkan Sensei adalah reaksi siswa-siswa lain.
Teman-teman segera terbiasa dengan kehadiran saya. Padahal, tanpa kursi
roda, tinggi saya cuma selutut mereka. Cuma saja muncul masalah baru. Mereka
cenderung menolong saya melakukan segala sesuatu. Apalagi anak-anak
perempuan. Sensei senang karena di kelas tumbuh semangat saling menolong,
tetapi ia juga tahu bahwa hal itu tidak baik akibatnya bagi saya.
"Biarkan Otokake melakukan semua yang bisa dilakukannya sendiri. Baru
kalau ia benar-benar tidak bisa melakukannya, kalian boleh menolong,"
katanya.
Sensei tahu, saya tidak menolak melakukan tugas-tugas yang berat, tetapi
tidak senang kalau tidak diikutsertakan dalam kegiatan. Sensei berusaha agar
kehidupan saya di sekolah sama dengan anak lain, walaupun hal itu sering
merepotkannya.
Diturunkan dari tahta
Saya senang menjadi pusat perhatian. Siswa-siswi lain mengikuti saya ke
mana-mana, dan saya merasa seperti raja yang diiringi rakyatnya. Namun, pada
suatu hari saya diturunkan dari tahta atas perintah Takagi Sensei.
"Mulai sekarang, kamu tidak boleh mempergunakan kursi roda tanpa izin
dari saya," katanya.
Ia mengambil keputusan drastis itu karena didorong pelbagai alasan. Pertama,
karena kursi itu memberi saya rasa superioritas. Saya sangat senang memiliki
banyak pengikut, tetapi Sensei tahu mereka bukan pengagum saya. Mereka cuma
tertarik pada kursi roda saya.
Sensei juga ingin menghapuskan pola pikir bahwa orang cacat mesti
diistimewakan. Ia ingin saya mampu bergerak leluasa tanpa alat. Kursi roda
akan mengalangi saya mengembangkan otot-otot sepenuhnya.
Mulanya saya merasa perintah itu sangat keras. Bayangkan, saya harus
bersusah payah berjalan beringsut-ingsut. Selain lama juga menguras tenaga.
Namun, kini saya sangat berterima kasih kepadanya. Kalau saat itu saya terus
bertengger di kursi roda, seumur hidup saya akan tergantung pada benda itu.
Kebebasan jiwa dan raga saya tidak akan seperti sekarang.
Memanjat gunung
Saya termasuk anak berkepala batu dan tidak ragu-ragu adu mulut dengan anak
lain. Bahkan juga adu fisik. Karena saya tidak bisa menjotos atau menyepak,
saya menggigit. Gigitan saya terkenal "maut". Mungkin rahang saya
berkembang lebih kuat daripada rahang kebanyakan orang, sebab saya sering
memanfaatkan mulut untuk melakukan hal-hal yang mestinya dilakukan dengan
tangan.
Saya tidak senang kalau ditinggalkan dalam pelbagai kegiatan. Jadi saya ikut
main pada saat istirahat maupun dalam kegiatan olahraga, termasuk baseball,
sepakbola, lari, lompat tali, dan bahkan basket ketika di sekolah menengah
atas.
Teman-teman membuat "Peraturan Oto-chan". Dalam permainan baseball
umpamanya, saya memukul bola dengan cara mengepit pemukul bola. Saya bisa
melakukannya, tetapi seorang teman akan mewakili saya berlari.
Dalam olahraga lari di jalan raya, teman-teman sekelas menentukan jarak yang
mesti saya tempuh. Mereka bergantian berlari di sekitar saya untuk mencegah
saya tertabrak dan terinjak-injak gelombang pelari lain.
Saya juga ikut dalam kegiatan seperti piknik dan bahkan naik gunung. Saat
naik gunung, saya mengendarai kursi roda. Kursi itu didorong bergantian oleh
teman-teman. Tidak jarang kursi itu mesti diangkat roda depannya dan dihela.
Bahkan wakil kepala sekolah turun tangan. Kami tiba dalam keadaan sangat
lelah, tetapi hati gembira. Kami berhasil mendaki Gunung Kobo!
Berkat bantuan mereka, saya bisa menikmati pemandangan yang menakjubkan dari
puncak Gunung Kobo di Kanagawa. Rasa terima kasih bercampur aduk dengan
keinginan untuk meminta maaf kepada semua orang dan frustrasi karena tidak
bisa mendaki sendiri, membuat saya tidak mampu berkata apa-apa.
Percaya atau tidak, mata pelajaran yang paling saya sukai adalah olahraga.
Dalam menentukan "peraturan Oto-chan", teman-teman saya bukan
didorong oleh perasaan "Mari kita main dengan anak cacat yang patut
dikasihani ini". Tampaknya, mereka menganggap sudah selayaknya saya
main, berjuang dan berkelahi dengan mereka, karena saya salah seorang teman
sekelas mereka. Saya sendiri pun merasa sudah selayaknya demikian.
Tanda V di punggung
Orang sering kaget melihat parut berbentuk V besar yang dimulai dari kedua
pundak saya dan berakhir di pantat. Parut ini berasal dari beberapa
pembedahan yang mesti saya jalani sejak saya berumur lima tahun.
Soalnya, ujung tulang lengan saya terus tumbuh dan mendesak daging yang
tumbuh lebih lambat, sehingga menyakitkan dan bisa memecahkan daging. Ahli
bedah mengambil tulang dari pinggul saya dan menyelipkannya di ujung tulang
lengan saya untuk mencegahnya tumbuh.
Umur sepuluh saya kesakitan lagi. Lengan saya yang tadinya seperti kentang
kini melancip. Setiap hari sakitnya bertambah. Tersentuh pakaian saja sudah
seperti ditusuk-tusuk.
Makin lama saya makin kesakitan. Olahraga adalah kegemaran saya dan kini
saya harus meninggalkannya, satu demi satu. Akhirnya saya harus dibedah lagi
pada saat libur besar.
Membedah orang yang tidak memiliki lengan dan tungkai menimbulkan masalah
sendiri pada dokter-dokter. Ahli anastesi harus hati-hati menentukan dosis
karena tubuh saya kecil. Kalau orang lain diambil darahnya atau diinfus dari
lengan atau kaki, saya harus dari leher. Bahkan denyut nadi saya pun
dihitung dari leher. Pembedahan makan waktu tiga jam.
Yang terutama membuat saya sengsara ialah saya mesti dibalut dengan gips dan
kesepian. Saya merajuk kalau jam bezoek berakhir karena ibu harus
meninggalkan saya.
Di bagian perawatan anak-anak di rumah sakit, memang ada anak-anak lain.
Namun, mereka boleh cepat pulang karena paling-paling menderita patah
tulang. Jadi, baru sebentar berkenalan, kami harus sudah berpisah.
Cacat saya juga menjadi masalah. Anak-anak lain sering sangat keget ketika
melihat saya untuk pertama kali. Saya yakin bisa berkawan dengan banyak anak
lain, kalau saja mereka terbiasa melihat saya seperti halnya anak-anak di
sekolah. Namun di sini tidak cukup waktu.
Rumah sakit juga melarang anak-anak di bawah 14 tahun untuk menjenguk
penderita, sehingga teman-teman saya tidak bisa datang. Saya betul-betul
murung dan kehilangan semangat.
Suatu hari seorang perawat mengajak bercakap-cakap. Karena sudah lama tidak
mengobrol, isi hati saya membanjir keluar. Saya bercerita tentang operasi
saya, sekolah, keadaan di rumah sakit, film kartun kesenangan, dan betapa
kesepiannya saya.
Ia mendengarkan dari awal sampai akhir sambil tersenyum. Ketika saya selesai
berbicara, ia mengusap bahu saya. Saya merasa mendapat semangat baru dan
tiba-tiba saja air mata yang selama ini tertahan membanjir keluar. Saya
bahkan menangis keras.
"Saya ingin pulang."
Saat itu saya menginsyafi betapa berharganya teman-teman dan guru-guru.
Takagi Sensei yang mendengar keadaan saya dari ibu merasa tidak sabar lagi
menunggu sekolah dimulai. Ia menawarkan kepada teman-teman saya, siapa yang
mau menulis surat. Jawabannya sungguh di luar dugaannya.
"Sensei, saya sedang mengedarkan buku tulis, meminta anak-anak menulis
kepada Ototake."
"Kami sedang membuat burung-burungan dari kertas lipat. Kami berdua
akan membuat seribu burung."
"Kemarin saya pergi ke rumah Ototake, meminta ibunya menyampaikan
permen."
Dua bulan kemudian, ketika gips dibuka, saya kaget sekali melihat parut
berbentuk huruf V besar di punggung saya, seperti bekas torehan pedang. Ayah
berkata bahwa parut V itu melambangkan "Victory", kemenangan.
Guru baru
Ketika Takagi Sensei pensiun, ia digantikan oleh Oka Sensei yang masih muda.
Pada awal tahun ajaran, siswa-siswi di Jepang wajib membersihkan kelas. Saya
tidak mau ketinggalan. Karena saya pendek, saya tidak bisa menyeka dinding
atau meja. Maka, saya mengepel lantai saja. Itu pun dengan lap kering,
karena kalau menyeret lap basah dengan tungkai, celana saya akan ikut basah.
Ketika melihat saya mengepel, Oka Sensei memanggil. Dengan bijaksana ia
menyadarkan saya bahwa ada hal-hal yang tidak bisa saya lakukan dengan baik
tanpa bantuan, tetapi ada juga hal-hal yang bisa saya lakukan dengan baik
untuk membantu orang-orang lain. Ia menawari saya belajar mengoperasikan
komputer, supaya bisa menolong orang lain dengan alat itu.
Keesokan harinya, Sensei meluncurkan "Perusahaan Percetakan
Otohiro". "Kamu presidennya," katanya.
Mulai hari itu saya menerima pekerjaan membuat buletin, pengumuman, dsb.
lengkap dengan hiasan. Semuanya saya kerjakan dengan komputer. Saya merasa
mempunyai misi yang dipercayakan oleh Sensei dan ingin melaksanakannya
dengan sebaik-baiknya.
Tidak lama kemudian guru-guru kelas lain ikut memberi order. Saya senang
melihat wajah mereka dan anak-anak lain, yang setengah percaya melihat hasil
yang saya serahkan.
"Wow, kamu yang buat, Oto?"
Berkat gagasan Oka Sensei pula saya menjadi juara dalam menguasai aksara
kanji. Walaupun demikian, saya tidak berhenti ikut kegiatan olahraga.
Sensei dan teman-teman berusaha keras agar saya bisa berenang, atau
sedikitnya mengambang, untuk mencegah saya mati tenggelam. Berenang sulit
sekali bagi orang yang tidak mempunyai lengan dan tungkai yang memadai.
Kalau saya menggerakkan anggota badan yang tidak sama panjangnya, saya
bukannya maju, melainkan berputar atau bahkan terbalik.
Mendapat surat cinta
Peralihan ke sekolah menengah pertama berlangsung lancar.
Saya ikut ambil bagian dalam Hari Olahraga dan Pesta Seni, yaitu dua
peristiwa paling besar setiap tahun di sekolah menengah. Saya memang senang
pesta dan perayaan, termasuk perayaan di sekitar kediaman kami.
Sampai-sampai saya dijuluki "Biang Pesta".
Saya bahkan menjadi ketua OSIS yang didahului pemilihan dan kampanye yang
seru. Jabatan ini menambah kegiatan dan teman-teman saya. Salah satu
kegiatan kami adalah mengumpulkan kaleng-kaleng minuman bekas, untuk
membersihkan kota dan mencari dana.
Pada awal kelas sembilan, untuk pertama kalinya saya menerima surat cinta,
dari gadis kelas tujuh yang belum pernah saya lihat. Wajah saya sampai merah
karena malu. Namun, saya merasa tersanjung.
Memang saya populer di kalangan siswa maupun siswi, sehingga mendapat banyak
coklat pada Hari Valentine. Namun saya tahu, saya bukan jenis siswa yang
ditaksir gadis-gadis. Kadang-kadang saya iri melihat gadis-gadis cantik
tergila-gila pada bintang sepakbola sekolah. Saya sadar, pemuda di kursi
roda tidak bisa berharap merebut hati gadis dengan penampilannya.
Selama ini saya cuma menjadi teman baik yang menyenangkan untuk diajak
bercakap-cakap bagi mereka. Sering terpikir, kalau saja saya mempunyai
lengan dan tungkai ....
Saya sempat menerima sejumlah surat lagi dari gadis itu dan beberapa cindera
mata dari tempat-tempat yang dikunjunginya. Namun, pada akhirnya saya sadar
bahwa saya tidak bisa membalas perasaannya.
Walaupun demikian, saya berterima kasih kepadanya karena ia telah membangun
semangat saya. Saya tidak tahu apakah ia masih menyimpan kancing kedua dari
jas sekolah saya. Kancing kedua biasanya diminta oleh siswi yang menaksir
siswa pada hari wisuda, karena kancing itu katanya paling dekat ke jantung.
Masuk SMU favorit
Cita-cita saya untuk diterima di SMU Toyama Metropolitan tercapai. Saya
lulus ujian masuk yang ketat di musim semi 1992. Orang tua saya memutuskan
pindah, supaya saya tidak terlalu sulit mencapai sekolah dengan kursi roda.
Saya aktif seperti biasa di sekolah dan mendapat kesempatan menjadi asisten
sutradara dalam membuat film. Film itu ingin menyampaikan pesan bahwa hidup
ini berharga dan manusia saling membutuhkan.
Saya tidak begitu pandai dalam matematika dan fisika. Nilai saya rata-rata
saja. Ketika saya tergila-gila mengurusi kegiatan sepakbola di sekolah,
nilai matematika saya merosot. Ibu guru matematika memberi semangat untuk
belajar lebih giat, tetapi ia juga mengancam.
"Kalau kamu mendapat nilai buruk pada ulangan yang akan datang, aku
akan melarang kamu mengurusi sepakbola," katanya.
Celaka! Sepakbola adalah darah daging saya. Saya pun belajar luar biasa giat
dan mendapat angka di atas rata-rata. Tapi, setelah ancaman hilang, nilai
matematika saya memble lagi.
Ingin jadi Presiden AS
Semasa kecil saya bercita-cita menjadi pemain shogi (catur Jepang)
profesional, sehingga Takagi Sensei mengajari saya dengan sungguh-sungguh.
Kemudian saya berganti haluan. Saya ingin menjadi pengacara, sebab pengacara
rasanya hebat sekali. Cita-cita itu pun tidak bertahan. Saya bahkan pernah
ingin menjadi Presiden Amerika Serikat!
Waktu itu saya tidak tahu kalau orang Jepang tidak bisa menjadi Presiden AS.
Saya diberi tahu bahwa jabatan tertinggi di pemerintahan Jepang adalah
Perdana Menteri. Namun saya tidak terkesan.
Lulus SMU saya ingin mengikuti bimbingan belajar untuk masuk perguruan
tinggi, tetapi tidak ada tempat kursus yang mau menerima. Alasannya
bermacam-macam: tidak menerima orang berkursi roda, tidak ada lift, dsb.
Akhirnya, ada juga tempat kursus yang mau menerima, tetapi tempatnya agak
jauh. Kalau hujan, sambil mengayuh kursi roda dengan lengan kanan, saya
menjepit payung dengan tungkai pendek saya. Kalau angin, wah susah sekali.
Namun, teman saya bertambah banyak. Kami sering keluyuran. Tidak heran kalau
tahun itu saya gagal diterima di universitas.
Saya tidak putus asa. Saya belajar sendiri untuk memghadapi ujian masuk
berikutnya. Akhirnya saya diterima di Universitas Waseda, salah satu
universitas terbaik di Jepang. Saya belajar politik dan ekonomi.
Waseda memiliki dua sampai tiga ribu perkumpulan. Saya memilih English
Speaking Society (E.S.S.) karena bahasa Inggris saya lumayan. Peminatnya
lebih dari dua ratus orang. Sebelum diterima, kami harus menyerahkan karya
tulis yang kemudian disaring. Seminggu kemudian, sepuluh finalis dipilih
untuk pidato di muka umum.
Saya terpilih. Saya segera berlatih mengucapkan kata-kata Inggris dengan
benar, supaya tidak menjadi bahan tertawaan. Hasilnya, saya menjadi juara
pertama. Waktu itu tahun 1996.
Mencari makna hidup
Saya menikmati hidup sebagai mahasiswa dengan segala pesta-pestanya. Namun,
suatu malam di musim gugur, saya mulai merenungkan masa depan saya. Ingin
jadi apa saya?
Di masa lampau tujuan saya selalu uang, status, dan prestis. Ketika masih
bercita-cita menjadi pengacara pun tujuan saya bukan untuk membela yang
benar, tetapi menjadi kaya dan termasyhur.
Kini saya insyaf bahwa ada yang lebih berharga dari itu semua. Uang dan
prestis tidak selalu membawa kebahagiaan. Saya ingin melakukan sesuatu untuk
orang lain, untuk masyarakat.
Saya ingin memahami orang lain. Sulit memang, tetapi kalau saya berhasil,
saya akan merasa bangga dan bahagia.
Selama ini saya tidak pernah menganggap diri "orang cacat", tetapi
sebagai "orang". Malam itu saya berpikir, mengapa saya dilahirkan
cacat padahal kebanyakan orang lain normal? Mestinya ada maksudnya.
Saya tidak mau menjadi orang yang sia-sia. Saya pikir, kalau ada hal-hal
yang tidak bisa dilakukan oleh orang cacat, mestinya ada hal-hal yang hanya
bisa dilakukan oleh orang cacat. Apa yang bisa saya lakukan?
Jawaban datang dengan cepat. Sebagai mahasiswa Waseda saya diajak bergabung
oleh suatu organisasi nirlaba yang mengusahakan kesejahteraan manusia.
Sebagai orang cacat, saya lebih sulit keluyuran, jadi saya mendapat tugas di
belakang komputer. Masa itu saya sudah berkenalan dengan Internet.
Kegiatan kami bukan hanya mengusahakan kebersihan lingkungan dan kesehatan,
tetapi juga menolong pengusaha kecil, mengusahakan kesiapan menghadapi gempa
bumi yang selalu mengancam Jepang, mengusahakan hubungan yang akrab dan
ikhlas antarmanusia, mengurusi orang cacat, memberi informasi, dan banyak
lagi.
Tahu-tahu enam bulan kemudian datang tawaran kepada saya untuk berceramah.
Mungkin karena kegiatan sosial kami pernah disorot media cetak dan TV. Tentu
saja saya menerima tawaran itu dengan segala senang hati.
Tidak disangka-sangka, tawaran untuk berceramah semakin banyak, sampai 10
kali sebulan. Pengundangnya terutama sekolah dasar dan menengah. Saya
berusaha agar ceramah-ceramah itu tidak mengganggu kuliah saya.
Saya paling suka berbicara dengan anak-anak. Saya cuma berbicara kira-kira
30 menit - 1 jam lalu kami bertanya-jawab. Suasananya menjadi hidup. Saya
sangat menikmatinya.
Kegiatan saya bertambah banyak dan Februari 1998 saya pergi ke Amerika
Serikat. Saya sungguh menikmati hidup saya. Saya ingin menyampaikan kepada
Anda bahwa Anda tidak perlu lahir normal untuk memperoleh kebahagiaan. (Helen
Ishwara)
|
|||||
|
|
|||||