globetiny.gif (852 bytes)N THE NET

Bulan Agustus 2000

Nantikan Gebyar Sayembara Intisari Juli - Oktober 2000

Bulan Ini

Bulan Lalu

Buku Tamu

Mailing List

Di balik kisah

Info iklan

Email

Detektif ponsel 

Jika ponsel kita hilang digondol maling atau copet, ternyata ada alternatif selain pasrah. Teknologi yang ada, asal tahu cara menggunakannya, bisa mengembalikan barang tadi. Pengalaman RM Roy Suryo, pakar multimedia dan konsultan teknologi informasi dari Yogyakarta, bisa menjadi cermin dan membuka wacana baru bagi para pemilik ponsel.

Peristiwa berawal ketika Roy mendapat undangan dari Badan Informasi Komunikasi Nasional (dulu Deppen) untuk memberikan presentasi di Denpasar, Bali, tanggal 2 - 4 Maret 2000. Karena berangkat berdua bersama istri, sementara pesawat ke Bali pada tanggal tersebut hanya menyisakan satu seat, maka ia memutuskan menggunakan bus.

Roy memesan ke Bus Jatayu. Sayang, untuk keberangkatan tanggal 1-3-2000 sudah tidak ada tempat. Mereka lalu memilih bus Safari Dharma Raya (SDR) yang menurut agen bus Jatayu tadi, kondisinya memang lebih baik dan memiliki kelas "Super Executive" (tempat duduk 2 - 1).

Laptop berubah menjadi jenang dan air minum

Rabu, 1-3-2000, pukul 14.30 WIB, Roy dan istri naik bus SDR dari terminal Jombor, Sleman. Mereka memperoleh tempat duduk di deretan kursi ke-4. Di belakang mereka sudah ada empat orang penumpang laki-laki yang bukan kru bus. Roy dan istri hanya membawa tiga tas, yakni tas laptop, tas tangan milik istri, dan tas makanan. Tas-tas itu mereka tempatkan di bawah, mepet jendela bus. Bukan di rak di atas kursi. Kopor berisi pakaian masuk ke bagasi.

Bus langsung berangkat menuju Terminal Umbulharjo, Yogya, untuk mengangkut penumpang, lalu disambung ke agen bus di Solo. Dari sini semua kursi terisi. Pukul 20.00 bus masuk Ngawi dan berhenti di RM Duta untuk memberi kesempatan penumpang makan malam. Roy pun turun sambil membawa tas laptop dan tas tangan. Sewaktu membeli minuman air mineral, ia merasa dikuntit oleh dua orang.

Setelah makan dan naik ke bus, tas ditaruh seperti semula. Penyakit habis makan pun menyerang sebagian besar penumpang. Tak terasa Roy dan istrinya tertidur sampai sekitar pukul 02.00. Tidak pulas memang, sesekali mereka mengecek barangnya. Ternyata masih ada di tempatnya.

Baru pukul 04.00 atau setelah sampai di Banyuwangi, sang istri ingin menelepon. Ternyata ponsel yang ada di dalam tas tangannya sudah tidak ada. Demikian juga dengan uang yang dimasukkan ke dalam amplop. Anehnya, dompet yang berisi KTP, SIM, kartu ATM, kartu kredit, dan sejumlah uang, serta kamera tidak ikut hilang.

Yang lebih mengagetkan, sisir dan spidol yang ada di tas laptop berpindah ke tas tangan sang istri. Mereka pun langsung membuka tas laptop dan ternyata isinya sudah berganti rupa. Laptop, HT, dan alat teknis lainnya berubah wujud menjadi dua buah botol Aqua dan dua kotak Jenang Dodol yang menurut labelnya dibeli dari RM Duta di Ngawi. Roy berinisiatif untuk mencarinya di dalam bus. Namun menurut sopir bus dan kenek, sekitar pukul 01.00 ada dua orang penumpang yang duduk di belakang Roy minta turun di Gempol. Mereka menenteng tas hitam.

Sebenarnya seorang ibu yang duduk di kursi ke-6 melihat aksi kedua orang tersebut. Sayang ia tidak berani lapor karena ia terbiasa naik bus itu. Jadi takut dikenali oleh pelaku. Ia berusaha memberitahu seorang bapak yang duduk di sebelahnya, namun bapak itu juga takut.

Roy akhirnya melaporkan kejadian itu ke Polres Badung, sesudah bus masuk Terminal Ubung, Denpasar. Karena isi laptop adalah data-data yang penting dan ada kaitannya dengan Polri, Roy langsung menghubungi Pusat Identifikasi Polri (pusident). Pejabat di sana langsung memerintahkan Satserse Polres Badung untuk membuatkan laporan kehilangan tersebut.

Memanfaatkan block diagram

Sabtu, 4 Maret 2000, pukul 13.00 WITA, ponsel Roy dihubungi seseorang yang menggunakan ponsel milik istrinya yang dicuri. Roy memang sengaja terus meninggalkan pesan ke ponsel tersebut agar menghubunginya. Penelepon minta uang tebusan atas barang-barang yang dicurinya sebesar Rp 10 juta. Roy menawar dan akhirnya menjadi Rp 9 juta. Ia minta ditransfer via rekening BCA saat itu juga. Berhubung Roy berdalih seolah-olah tidak memiliki rekening di BCA, mereka akan berkomunikasi lagi hari Senin (dengan pertimbangan Roy sudah di Yogya).

Senin pukul 10.00 WIB penelepon mengingatkan soal transaksi dan memberikan nomor account BCA yang akan digunakan. Ia berjanji akan mengirimkan barang terlebih dulu pada pukul 11.00 WIB dan Roy harus mentransfer uang tebusan sekitar pukul 12.00 WIB. Setelah diberi tahu oleh banyak pihak untuk tidak sekali-kali transfer karena modus penipuan tersebut sering dilakukan, terutama di BCA, Roy pun tidak mentransfer sampai lewat pukul 12.00 WIB. Penelepon marah-marah dan mengancam akan menjual barang tersebut ke orang lain. Dari sinilah, Roy mulai mengatur strategi untuk menjebaknya. Tidak lupa dosen di Fakultas Media Rekam/Multimedia ISI dan Komunikasi UGM ini merekam suara pencuri tadi sehingga bisa menjadi alat bukti.

Atas bantuan yang sangat baik dari pihak BCA, Roy bisa mendapatkan nama pemilik rekening yang digunakan oleh pencuri. Ternyata rekening tersebut terdaftar di BCA Cabang Jln. A. Yani, Bandung. Roy juga menghubungi pihak PT Telkomsel (operator kartu prabayar ponsel yang dicuri) untuk memantau aktivitas ponsel tersebut. Ini karena pihak Telkomsel tidak bisa memblokade kartu yang hilang. Seperti ditulis Tempo, kartu Simpati dianggap seperti "kartu tanpa pemilik". Begitu hilang, Telkomsel tidak bisa melacaknya.

Tapi apa benar begitu? Inilah yang membuat Roy tergelitik untuk mencari hal yang sebenarnya. Memang, tidak seperti kartu pascabayar (Kartu Halo) yang memiliki sistem pelacak dan perekam lalu lintas percakapan (Call Data Record Information, CDRI), atau pelanggan lebih mengenalnya sebagai print-out, kartu Simpati tidak memilikinya. Alhasil, lalu lintas percakapan kartu prabayar tidak bisa dilihat.

Tapi melihat fungsinya yang sama sebagai alat komunikasi tentu mekanismenya hampir sama. Hanya yang satu dilayani baru membayar, satunya membayar dulu baru dapat pelayanan. Roy pun mencari akal. Akhirnya ketemu juga celah itu, yakni block diagram. Block diagram merupakan cetak biru yang menjelaskan prinsip kerja kartu ponsel, termasuk sistem billing, mekanisme pengeblokan, dan perekaman lalu lintas percakapan. Ia pun mengontak Telkomsel untuk melihat mekanisme kartu prabayar. Hal tersebut mesti dilakukannya, karena proses yang terjadi pada kartu prabayar adalah otomatis melalui komputer.

Dengan mempelajari block diagram tersebut, Roy Suryo akhirnya bisa memberi ide buat Telkomsel yang memungkinkan untuk menyaring lalu lintas percakapan. Memanfaatkan fasilitas Caroline (Customer Care on-line) dari Yogya ke Grapari Semarang, ia bisa minta instruksi CDRI guna memantau aktivitas ponsel yang dicuri tersebut (call-to, call-in, location, existing pulse, dsb.). Dari situ, ketemulah beberapa nomor fixed phone (Telkom) maupun nomor-nomor lainnya. Ia pun lalu menghubungi PT Telkom. Berkat hubungan baik dengan Polri (kebetulan ia adalah narasumber dan konsultan di Pusident Mabes Polri dan Polda DIY), Roy bisa mendapatkan identitas nama pemilik, alamat, dan aktivitas komunikasi beberapa hari terakhir.

Lalu, Roy pun bermain logika. Jika si pencuri menghubungi nomor X dan kemudian di print out nomor X ada telepon balik ke ponsel pencuri, maka bisa diindikasikan bahwa mereka saling kenal. Atau setidaknya mengetahui antarsesamanya. Dengan cara ini akhirnya satu per satu Roy bisa mendapatkan nama-nama calon tersangka yang pantas untuk dicurigai. Nomor tersebut sengaja dibiarkan aktivitasnya selama sebulan untuk mengetahui sejauh mana jaringan pencuri yang ada.

Dari Yogyakarta juga

Selain menggunakan metode CDRI dan print out di atas, Roy juga menggunakan metode "Logging Monitoring". Kebetulan password login ke ISP langganannya tersimpan di laptop. Ternyata salah satu dari pencuri tersebut ada yang mahir berkomputer. Ia mengakses Internet dengan menggunakan nama dan password miliknya.

Dengan mengontak Indonet, Roy memperoleh login list. Dari sini ia bisa mengetahui tempat dan port berapa ia mengakses Internet. Ternyata pencuri berasal dari Yogyakarta saja! Sayangnya, di sini fungsi calling line identifier (CLI) untuk telepon Telkom belum bisa berfungsi sehingga ia belum bisa mengetahui dari nomor berapa laptopnya tersambung ke Internet. Tentu beda hasilnya kalau ia mengakses dari Jakarta atau Jawa Timur, yang memungkinkan aktifnya fungsi CLI sehingga pelanggan bisa mengerti ‘dari siapa’ telepon yang masuk.

Setelah sebulan memantau, Roy akhirnya merasa cukup memperoleh gambaran mengenai aktivitas mereka serta jaringannya. Ia harus mulai bergerak agar barang tidak berpindah tangan terlalu jauh. Kebetulan lokasi ponsel ada di Yogyakarta.

Senin, 6 Maret 2000, Roy "mengambil" pemegang ponsel yang dicuri, yang ternyata sekarang berada di tangan seorang dosen di UGM. Namun karena ibu tersebut membeli secara resmi dari sebuah toko ponsel di daerah Tamansiswa, maka Roy kemudian menyidik lebih jauh lagi ‘dari mana’ asal-muasalnya. Dengan bantuan petugas polisi, pemilik toko ponsel tersebut mengaku memperolehnya dari orang yang bekerja di sebuah agen bus, beralamatkan di Terminal Umbulharjo.

Atas kerja keras kepolisian Unit Tipiter Satserse Polresta Yogyakarta, nama-nama tersangka utama pun ketemu, meski sayangnya hingga informasi ini diperoleh Intisari, dua tersangka utamanya masih menjadi buron. Melalui tersangka penadah yang telah tertangkap, barang-barang Roy pun bisa kembali ke tangannya pada tanggal 18 dan 20 April 2000. Hanya saja data-data di laptopnya sudah (di)rusak.

Nah, pengalaman RM Roy Suryo ini bisa menjadi contoh bagi pelanggan lain yang terkena kasus serupa. Tentu saja sukses ini, seperti diakui Roy, memang tidak terlepas dari pendekatan yang persuasif dengan pihak-pihak terkait sebelumnya sehingga memungkinkannya melakukan penyelidikan bak seorang detektif swasta selama lebih dari sebulan. (Yds. Agus Surono)

Boks: Lacak Lawan Bicara Anda

Active Channel
© 1996 - 2000 Intisari Online
www.indomedia.com/intisari/


Counter by Pandawa


Jelang Milenia III

Click to add search to YOUR web site! sing tak go gawe hompej