|
|
Bulan Agustus 2000
|
|
SAKIT
JANTUNG GARA-GARA KUMAN
Suka bersarang di pembuluh darah jantung
Selama ini yang dianggap biang keladi penyumbatan pembuluh darah jantung
memang faktor ketidakberesan dalam tubuh si penderita, seperti
ketidakseimbangan kadar kolesterol, kebiasaan merokok, penyakit diabetes,
keturunan, dll. Ternyata hasil penelitian serologi positif tahun 1990-an
oleh Saikku dkk. asal Helsinki, Finlandia, menyatakan, ada hubungan erat
antara kuman Chlamydia pneumoniae dengan penyakit jantung koroner.
Kuman Chlamydia pneumoniae merupakan salah satu bakteri intraseluler
non-virus yang sering didapatkan pada manusia. Bakteri ini secara khusus
menjadi penyebab infeksi pada saluran napas bagian atas (seperti faringitis,
sinusitis, atau otitis) maupun infeksi saluran napas bagian bawah (seperti
bronkitis serta pneumonia). Belakangan Chlamydia pneumoniae banyak
diperbincangkan sebagai penyebab penting kasus infeksi saluran napas akut
(10%), bronkitis dan rinitis (5%), serts faringitis (sekitar 1%).
Insiden penyakit saluran napas akut tersebut tampaknya meningkat dari tahun
ke tahun, dan angka kejadiannya bervariasi di masing-masing negara,
rata-rata pada anak usia 10 - 12 tahun ke atas. Pada paru-paru infeksi kuman
ini bisa menjadi kronik karena sulit terdeteksi. Kejadian yang demikian
itulah yang bisa mempengaruhi pembuluh darah jantung dan otak.
Tahun 1993, ahli lain, Kuo dkk., melakukan otopsi pada pasien dengan
penyakit jantung koroner, dan dibuktikan pula bahwa pada daerah penebalan
pembuluh ditemukan kuman tersebut. Kuman penyebab utama penyakit pneumonia
ini memang suka bersarang pada pembuluh darah jantung dan membentuk plak
yang mudah menyumbat pembuluh sehingga akan mempercepat dan memperparah
proses kelainan pembuluh darah.
Konfirmasi terhadap infeksi kuman ini dilakukan melalui pemeriksaan respons
antibodi sistemik. "Sewaktu dilakukan pemeriksaan jantung lewat kateter
(kateterisasi), cairan diperiksa apakah ada faktor penyebab lain, misalnya
karena kuman ini," kata dr. Ariati Safiriani Ph.D., manajer medis pada
Aventis Pharma.
Sebab itu, begitu diketahui kuman ini menganggu tubuh kita, segeralah
bertindak sebelum ia menyerang pembuluh jantung. Di antara antibiotika yang
sering digunakan adalah golongan macrolides seperti roxithromycin
serta golongan quinolones seperti levofloxacin dan sparfloxacin.
"Antibiotika golongan penisilin tidak akan mempan," tambah Chandra
Galatia, seorang ahli farmasi pada perusahaan yang sama.
Dosis pemberian antibiotika pada infeksi saluran napas akut selama 7 - 14
hari, dua kali sehari. Harga per tablet sekitar Rp 5.000,-. Sedangkan pada
golongan kronis, di mana kuman ini telah membentuk plak-plak, diberikan
selama 30 hari. Antibiotika itu ternyata sangat efektif karena dapat segera
mengurangi gejala dan menghentikan penyebarannya. "Namun tentu saja
bila penderita telah mengalami penyumbatan pembuluh darah, tetap diperlukan
pengobatan khusus lain, seperti balonisasi atau pemberian obat pengencer
darah," tambah dr. Ariati.
Jarang ditemukan pada anak
Pemakaian antibiotika tersebut, menurut penelitian, ternyata dapat
mengurangi angka kematian akibat gagal jantung hingga 35%.
Prevalensi antibodi terhadap kuman ini bervariasi dan ternyata sangat erat
hubungannya dengan usia seseorang. Pada anak-anak di bawah 5 - 8 tahun,
rupanya jarang ditemukan antibodi terhadap kuman ini. Tetapi jumlahnya
meningkat tajam pada anak lebih tua, dewasa muda, dan mencapai puncaknya
pada usia di atas 40 tahun. Bahkan, pada orang di atas 70 tahun, semua
hampir pernah mengalami pemaparan kuman tersebut semasa hidupnya yang
panjang.
Penyakit jantung koroner yang disebabkan oleh kuman ini, menurut dr. Ariati,
tampak lebih parah pada penderita di atas usia 40 tahun. Di antara banyak
kasus yang ditemukan, acap kali dibarengi komplikasi berat, khususnya bila
sudah mempunyai penyakit lain.
Berdasarkan hasil penelitian medis, ternyata prevalensi antibodi terhadap
kuman ini cukup tinggi di daerah tropis seperti Indonesia, terutama pada
daerah berpenduduk padat. Sedangkan di negara-negara belahan Utara,
prevalensi masih pada tingkat rendah. Pada umumnya pria mempunyai titer
antibodi lebih tinggi daripada wanita. Banyak kasus penderita dewasa
menunjukkan sering terjadi infeksi berulang.
Karena kuman ini membentuk plak-plak penyumbat pembuluh, ngerinya, tidak
hanya pembuluh jantung yang bisa terkena, tapi juga pembuluh otak sehingga
diduga bisa juga sebagai penyebab stroke dan Alzheimer. Bahkan terakhir pada
tahun 1998, Miyashita dkk. di Jepang mengemukakan bahwa kuman tersebut juga
menjadi pemicu bertambahnya keparahan penyakit (eksaserbasi) pada pasien
asma dewasa. Seorang ahli lain, Chunningham, menduga karena adanya asosiasi
positif antara bertambah parahnya asma akut pada anak-anak dengan infeksi
kuman Chlamydia pneumoniae.
Penelitian di Indonesia oleh Yoga dkk. pada tahun 1996 menunjukkan bahwa
pada 21,05% pasien dengan bronkitis akut, menunjukkan uji serologi positif
terhadap kuman tersebut. Fakta ini didukung oleh ahli lain, Mangunnegoro
dkk. yang menyatakan bahwa pada 80% kasus asma akut ditemukan tes serologi
positif terhadap kuman ini. Namun, apakah kuman itu merupakan penyebab kasus
infeksi saluran napas utama dan memegang peranan penting dalam eksaserbasi
akut asma, masih perlu diteliti lebih lanjut.
Penularan kuman yang masa inkubasinya 3 - 4 minggu ini bisa terjadi dari
satu orang ke lain orang, melalui saluran napas. Sampai saat ini tidak
ditemukan bahwa binatang sebagai sumber penularan. Namun, penderita dengan
infeksi asimtomatis diduga mempunyai peranan penting dalam penularan kuman
tersebut.
Dikatakan asimtomatis karena gejala pneumonianya samar, paling hanya berupa
demam ringan dan batuk yang tidak berat.
Untuk membasmi kuman tersebut memang masih diperlukan penelitian lebih
lanjut terhadap para penderita pneumonia, asma akut, serta penyakit saluran
napas lain. Namun, perlu diingatkan, para penderita PJK hendaknya selalu
waspada terhadap kuman yang dapat memperburuk keadaan pembuluh darah
jantungnya! |
|||||
|
|
|||||